Posts Tagged ‘cerita panas gay’

image

BANG Haidir tak nampak keesokan harinya. Aku masih menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Haidir setelah kejadian semalam. Mungkinkah dia shock karena membiarkan aku, seorang pria, mengoral kontolnya dan dia menyukainya? Ah.. pasti dia sedang kebingungan sekarang. Jiwa straightnya terkoyak ketika menyadari dirinya menikmati isapan mulut pria. Aku berkeliling rumah mencarinya. Namun Haidir tak kelihatan. Setelah menyerah, aku bertanya pada Bi Suti.

“Si abang Haidir? Tadi pagi sih dia bilang mau cari baju satpam terus pamit keluar rumah,” kata Bi Suti.

“Loh? Ngapain pake beli? Orang dia bilang sendiri seragamnya bakalan dikasih selama training, kok..”

(more…)

Advertisements

Rosyid-ori-5(Terinspirasi film pinoy bertema gay)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Perasaan Karim bersambut. Rosyid bahkan telah mengambil keperjakaan Karim. Masalah muncul saat tiba-tiba istri Rosyid kembali ke Tanah Air…

JANGAN sms-an dulu ya rim?”

Begitu kalimat yang tertera pada layar ponselku. Itu adalah peringatan dari Bang Rosyid agar aku tak menghubunginya dulu. Kekhawatirannya dimulai sejak Kak Yus, istrinya yang bekerja sebagai TKI di luar negeri mendadak kembali tanpa pemberitahuan. Padahal aku sudah merasa bahwa Bang Rosyid sepenuhnya milikku. Tentu saja itu sebuah pemikiran yang bodoh. Bang Rosyid selamanya akan menjadi suami Kak Yus bila mereka tak berpisah. Kalaupun tak sekarang, suatu saat juga Kak Yus tetap akan kembali.

“Rim.. Karim.. sini keluar sebentar. Yus bawa oleh-oleh nih,” panggil Nenek dari ruang tamu.

Aku meletakkan ponselku di meja dan menarik kausku agar lebih rapi sebelum keluar kamar. Aku tidak terlalu dekat dengan Kak Yus. Dulu, sebelum dia pergi keluar negeri kami jarang bertegur sapa. Itu karena Kak Yus berasal dari kecamatan lain. Mungkin sesekali dia dan nenek mengobrol, tapi aku lebih tertarik memerhatikan Bang Rosyid daripada memedulikan istrinya.

Aku tiba di ruang tamu. Kak Yus sudah duduk dan sedang mengobrol sambil tertawa-tawa dengan nenek. Di atas meja ada kantung kertas tebal dengan tulisan bagus berwarna emas. Aku mengangguk pada Kak Yus sambil tersenyum. Aku menghampirinya lalu meraih tangannya dan menempelkan punggung tangannya pada dahiku. Kak Yus terlihat makin cantik. Mungkin di luar negeri dia rajin merawat diri. Rambutnya yang lewat sebahu tampak hitam mengilat. Kulitnya bersih dan mulus seperti sudah tersentuh perawatan mahal.

(more…)

Rosyid-ori-2(Terinspirasi film pinoy bertema gay)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Suatu malam, saat menginap untuk menonton di rumah Bang Rosyid, Karim berkesempatan mengoral penisnya. Apakah yang terjadi selanjutnya?

PAGI harinya, setelah kejadian menyenangkan dengan Bang Rosyid semalam, aku harus kecewa. Aku terbangun sekitar setengah enam. Tenggorokanku sakit akibat lapisan sperma Bang Rosyid yang mengering di kerongkongan akibat tak minum air setelah menservisnya. Sambil berdeham-deham, aku melihat Bang Rosyid sudah tak lagi ada di sebelahku.

Aku berjalan menuju dapur sambil berdeham-deham dan kemudian meminum segelas air hingga kerongkonganku terasa lega. Aku mengetahui bahwa Bang Rosyid sedang di kamar mandi berdinding kayu di belakang rumahnya dari suara air pancuran yang mengalir dan pakaiannya yang tersampir. Yang membuatku kecewa, Bang Rosyid pura-pura tak mendengar ketika aku memanggil namanya dan mengetuk pintu kamar mandinya.

“Bang? Bang Rosyid?” panggilku.

Tak ada jawaban. Yang terdengar hanyalah suara air pancuran yang mengalir.

“Bang?” panggilku sekali lagi. (more…)

HS-4HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 4 – SI CEPAK/SI BOTAK

SI CEPAK
Minggu pagi itu walaupun aku belum mandi aku sudah nongkrong di depan rumah calon tetangga baruku. Gimana enggak semangat? sejak aku tahu kalau calon tetangga baruku yang tentara itu segagah ini, aku jadi sering ke tempat dia. Apalagi dia yang sedang merapikan rumah barunya itu sering banget bekerja cuma mengenakan celana loreng hijau aja. Lumayan kan ada pemandangan bagus? enggak perlu ngintip! cukup ajak ngobrol.

Aku duduk diatas tumpukan batako sambil memain-mainkan pasir bahan bangunan. Sementara si Fauzi (Aku kasih nama itu ya, soalanya muka ama bodinya mirip banget Fauzi Baadila… itu kata aku lho…)

“Yonkes?” tanyaku.
Si Fauzi yang sedang mengaduk semen dengan cangkulnya menoleh, “Iya.. aku dinas di Batalyon Kesehatan….” Kemudian penjelasan lainnya seperti soal kepangkatannya di TNI tidak aku simak karena terpesona oleh bodinya.”… gitu mas”
Aku mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
“Umur ente berapa sekarang?” tanyaku.
“26. Mas sendiri?”
“Ng.. taun ini 28.” jawabku.
“Kata Pak RT belum nikah ya mas?” tanyanya sambil tersenyum. Kini dia memindahkan adukan semen itu ke dalam ember. Kemudian si Fauzi masuk ke dalam dan tidak terlihat.
“Belum ada yang cocok… Ente sendiri? udah ada calon?” tanyaku dengan nada dikeraskan memastikan Fauzi mendengar pertanyaanku dari dalam.
“Belom mas! baru putus tiga bulan… katanya ndak tahan kalo jarak jauh. Dia tinggal di kampung mas…” Jawab Fauzi dari dengan suara keras juga. (more…)

HS-3HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 3 – BRONIS GERBONG SATU

Seperti yang kubilang di awal cerita, pagi-pagi aku naik kereta express, sedangkan sore pulang kerja aku memilih menggunakan kereta kelas ekonomi. Selain menghemat ongkos, kereta ekonomi sore hari membuat Waktu tempuh sampai rumah malah lebih cepat kalau aku bisa mengejar jadwal jam setengah enam lewat sepuluh.
Iqbal hampir tidak pernah pulang naik kereta yang sama denganku. Karena dia pulang jam 6 sore, dia naik kereta ekspress jam 6:21. Paling-paling kalau kita habis jalan-jalan sepulang kerja, kita pulang menggunakan bus.
Pengalamanku naik kereta ekonomi, setiap gerbong itu pasti dipenuhi 3B alias Babun-babun Berisik. Julukan itu kuberikan kepada penumpang yang bergerombol, membentuk geng, dan janjian naik gerbong yang sama serta sangat ramai kalau berbicara. Satu geng disini bukan berarti harus orang yang seusia. Bisa saja satu kelompok 3B terdiri dari Cewek SPG yang selalu memakai jeans katrok plus kaus milik adiknya (kekecilan), bapak-bapak setengah baya yang genit dan suka mengambil kesempatan memegang-megang si cewek SPG, Cowok SPB yang kadang-kadang juga pacarnya si cewek SPG, atau kadang ibu-ibu yang kelihatan sudah berumur juga ikut gabung. Pokoknya dalam satu geng itu rupa-rupa deh bentuknya.
Hmm… ternyata penilaianku sedikit salah. Kalau kamu sedikit jeli ketika naik gerbong kereta ekonomi, diantara para 3B pasti terselip cewek-cewek bening dan brondong-brondong cakep yang masih fresh, walaupun termasuk golongan minoritas. Berbeda sekali dengan kereta ekspress dimana jarang sekali ada penumpang cewek bening dan brondong fresh. Karena kebanyakan sudah berumur, berkeluarga dan sudah bekerja lama (tidak termasuk aku lho….) dan mapan yang mampu membeli tiket express setiap hari. (more…)

HS-2Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 2 – PANTAI ANYER

Jum’at pagi, rombongan besar terakhir sudah turun di Stasiun Juanda sehingga isi gerbong hanya tinggal kurang dari seperempatnya. Aku sedang sibuk membalas SMS teman dari kantor lama sementara Iqbal duduk disebelahku.
“Jadi kapan berangkatnya?” tanya Iqbal.
“Besok pagi jam 9,” aku menjawab sambil mengetik pesan singkat di ponsel.
“Sendirian?” tanya Iqbal lagi.
“Kayaknya sih sendirian. Ya.. kalo enggak paling sekamar ama yang masih singel juga,” jawabku sambil mengetik. Iqbal terdiam.
“Kira-kira kalo sekamar ama siapa?” tanyanya lagi.
Aku menghentikan kesibukanku mengetik dan langsung menutup flip ponselku. Kemudian aku menoleh ke arah Iqbal dengan sedikit kesal.
“Ente cemburu?” tanyaku pelan memastikan tidak terdengar oleh penumpang lain.
“Enggak!” kata Iqbal ketus.
“Ck..” aku mendecak kurang sabar lalu membuka flip ponselku dan mulai mencari-cari nomor kontak. (more…)

Rosyid-ori-1(Terinspirasi film pinoy bertema gay)

SETIAP sore aku punya kebiasaan baru: duduk di teras depan rumah sambil membaca buku pelajaran. Sebenarnya niatku bukan agar aku semakin menguasai pelajaran sekolah. Aku selalu mendapat rangking tiga besar di sekolah sejak SD hingga kelas dua SMU sekarang ini. Aku juga bisa membuat bangga nenekku dengan mendapatkan beasiswa. Maklum saja. Aku tinggal dengan nenek yang seorang pensiunan janda dengan keadaan ekonomi kurang mampu. Orangtuaku bercerai sejak aku SD dan tak ada satupun yang mau mengasuhku sejak mereka masing-masing memiliki keluarga baru. Jadilah Nenek dari pihak ibuku yang menampung aku di rumahnya. Aku membantu Nenek berjualan di warung kecil depan rumah sejak pulang sekolah hingga sore hari.

(more…)