Posts Tagged ‘Cerita gay satpam’

image

BERTAMBAHNYA kedekatanku secara seksual berbanding terbalik dengan makin sedikitnya waktuku bersama Haidir sebelum pria calon satpam itu keluar dari rumahku dan tinggal di asrama. Aku sebenarnya tak perlu berharap lebih daripada sekadar hubungan intim dengan Haidir. Toh, mungkin dia menganggap bermesraan dengan pria hanya sebagai selingan sebelum kembali ke kehidupan lamanya sebagai seorang playboy penghajar memek wanita. Mana mungkin Haidir akan punya perasaan lain? Aku terlalu terbawa perasaan. Tapi terus terang, Haidir sudah mencuri hatiku. Belum pernah kutemui orang seperti dia. Terlebih dia tadinya seorang straight yang akhirnya dapat aku taklukkan.

Itu sebabnya keesokan harinya aku murung. Lusa, Haidir sudah pergi. Aku berusaha ceria namun tak bisa menyembunyikan keresahanku.

“Kamu kenapa, Don?” tanya Haidir.

“Enggak kenapa-napa, Bang..” kataku sambil mengaduk nasi yang ada di piring asal-asalan. Aku sampai tidak nafsu makan siang itu.

Haidir hanya mengangguk-angguk sambil bergumam.

“Abang nanti malam ke kamar kamu ya?” godanya.

(more…)

image

BANG Haidir tak nampak keesokan harinya. Aku masih menebak-nebak apa yang dipikirkan oleh Haidir setelah kejadian semalam. Mungkinkah dia shock karena membiarkan aku, seorang pria, mengoral kontolnya dan dia menyukainya? Ah.. pasti dia sedang kebingungan sekarang. Jiwa straightnya terkoyak ketika menyadari dirinya menikmati isapan mulut pria. Aku berkeliling rumah mencarinya. Namun Haidir tak kelihatan. Setelah menyerah, aku bertanya pada Bi Suti.

“Si abang Haidir? Tadi pagi sih dia bilang mau cari baju satpam terus pamit keluar rumah,” kata Bi Suti.

“Loh? Ngapain pake beli? Orang dia bilang sendiri seragamnya bakalan dikasih selama training, kok..”

(more…)

image

RUMAH TRANSIT. Itu julukan yang kuberikan pada rumahku sendiri. Bukan apa-apa. Orangtuaku, terutama Papa memang membiarkan rumah yang cukup luas ini menjadi tempat penampungan sementara keluarga atau kerabat baik dekat maupun jauh yang hendak mengadu nasib di Jakarta. Lalu menurutmu aku tidak suka? Ah.. jangan salah sangka. Aku sendiri tidak pernah keberatan. Orangtuaku tidak mendidik aku supaya menjadi orang yang congkak. Senang rasanya jika ada teman di sini walau cuma sementara waktu karena aku terbiasa sendiri sebagai anak tunggal. Kadang-kadang kalau aku sempat, aku pasti akan mengajak jalan-jalan saudara jauhku yang biasanya datang ke sini dalam rangka transit itu keliling kota dengan motorku.

“Ingat ya, Doni… Kita harus bantu mereka. Dulu bapak dibantu orang saat baru merintis usaha di sini. Kalau kamu tolong mereka, enggak harus dari mereka, pertolongan akan datang buat kamu kelak jika kesusahan. Paham?” kata papa.

Tentu saja aku paham maksud papa. Jika kita berbuat baik, tentu kita juga akan mendapatkan pertolongan jika kesulitan. Seperti minggu lalu, aku kedatangan sepupu perempuan jauh dari desa. Dia menumpang sementara beberapa hari sampai dapat tempat kosan di dekat kampusnya karena memang sekarang sedang liburan akhir tahun ajaran sekolah dan kampus. Senang rasanya ada dia. Aku mengajaknya jalan-jalan dengan motorku dan kini dia sudah pindah ke tempat kost barunya. Tapi masa liburanku masih panjang. Saatnya aku menikmati ‘me-time’ ku di rumah. Papa dan mama akan pergi keluar kota selama seminggu, dan aku ditinggal di rumah hanya dengan Bi Suti, asisten rumah tangga kami.

Asyik! Itu artinya aku bebas mengurung diri seharian di kamar, nonton koleksi bokepku sampai masa liburanku berakhir dan aku kembali ke kampus untuk semester 3. Kupikir rencanaku akan terlaksana, namun rupanya Papa membawa berita baru. Ada yang akan menginap di sini selama orangtuaku pergi.

(more…)

Bangzaky4ABDUL menyerahkan selembar kertas berisi wajah orang yang diduga sebagai pelaku penguras rekening bank memakai ATM palsu. Gambarnya tidak terlalu terang memang. Tapi wajah yang tercetak cukup bisa untuk memberikan ciri-ciri spesifik bila bertemu dengan orang yang dicurigai sebagai pelaku.

“Sudah ada tiga laporan. Semua rekening yang dikuras diambil di ATM mall ini. Ini tandanya kemungkinan ada orang dalam mall atau pekerja yang terlibat. Mungkin juga karena pengawasan kita di anjungan ATM kurang karena areanya gelap, dan tidak buka 24 jam, sehingga pelaku leluasa menguras isi ATM saat keadaan sudah sepi,” kata Pak Hario, pimpinan satuan kami saat kami memberikan briefing harian dan menyebarkan kertas bergambar wajah itu.

“Jadi, ada kemungkinan pelaku akan beraksi kembali. Tolong kerjasamanya untuk lebih ketat mengawasi pengunjung terutama orang yang memiliki ciri-ciri fisik tersebut. Demikian,” pungkas Pak Hario.

Kamipun bubar barisan.

“Semoga kita bisa nangkap orangnya, bro. Geregetan gue..” kata Abdul.

Aku mengangguk.

*** (more…)

Bangzaky3Cerita Sebelumnya: Zaky, seorang satpam yang bertugas di mall berkenalan dengan Fendi, pemuda 19 tahun karyawan sebuah toko. Zaky yang kesepian karena jauh dari istri dan anaknya, memanfaatkan Fendi untuk memuaskan syahwatnya. Sementara itu, karena sesuatu hal, kasus rekening orang yang terkuras di ATM mall membuat Zaky mencurigai Fendi.

KALAU saja kasus yang terjadi di mall ini adalah bobolnya ATM secara paksa, pastilah seluruh orang yang bertugas sebagai keamanan di gedung ini akan diperiksa satu persatu atau bahkan dipersalahkan karena kelalaian. Masalahnya, kasus tersebut adalah pembobolan rekening pribadi perorangan dengan teknik penggandaan kartu ATM. Dan pelaku bisa saja berbuat hal itu saat ramai hingga tidak mencurigakan. Itulah sebabnya, satuan keamanan hanya diperingatkan untuk lebih waspada sampai hasil rekaman dari CCTV keluar.

“Kenapa lu sepanjang briefing tadi ngelamun?” tanya Abdul sambil menepuk bahuku.

“Ah, masa sih?” kataku menyangkal.

“Iya. Apa ada orang yang elu curigain, bro?” selidik Abdul.

Aku menggeleng. “Enggak.. enggak.. cuma mikir aja. Lihay betul penjahatnya nyamar jadi pengunjung pura-pura ambil uang di ATM..”

Walaupun aku berkata demikian, tetap saja pikiranku tak bisa lepas dari bayangan Fendi. (more…)

bangzaki-2SEJAK kejadian malam itu, saat aku memaksa Fendi mengoral kontolku di toilet, aku jadi sering melamun. Entah kulakukan secara naluri atau tidak, aku seperti mencoba menjauh dari pemuda itu sehingga sulit sekali bertemu dengannya. Padahal aku sering melewati butik tas tempat dia bekerja, namun saat aku mencoba mencarinya, sosok Fendi tak pernah kulihat. Mungkin juga dia yang menjauhiku setelah trauma dengan kejadian malam itu. Trauma? tapi anak itu bilang terima kasih! terima kasih karena sudah kupaksa menelan pejuh? yang benar saja! pasti dia cuma basa-basi. Aku langsung membayangkan Fendi yang keluar dari toilet langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu.

“Bro…? bro… dumbelnya dipake nggak?” pertanyaan Abdul membuyarkan lamunanku.

“Oh? eh? enggak. Gue udah selesai,” jawabku sambil bangkit dan mengusap keringatku dengan handuk. (more…)

BangZakyKATA Orang, tinggal di Jakarta itu susah. Apalagi buat orang yang pendidikannya pas-pasan, atau modal uangnya tidak cukup. Seperti aku ini. Terpaksa meninggalkan istri dan anak yang masih balita demi menjalani profesi baru sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan penyalur tenaga keamanan (outsourcing). Gajinya memang lumayan, tapi belum cukup banyak untuk bisa kutabung dan menyewa kontrakan yang lebih layak agar anak dan istriku bisa dekat bersamaku di sini.

Untunglah, aku bisa sedikit berhemat. Selain menyediakan mess yang cukup layak ditinggali (setiap orang mendapat satu kamar), untuk urusan menjaga kebugaran juga sudah disediakan oleh perusahaan sasana gym dan jadwal futsal rutin atau badminton setiap minggunya. (more…)