Posts Tagged ‘Cerita gay polisi’

kartuuu_ori_II_9By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 9

BIMA masih menduga-duga maksud dibalik foto Harrel dengan Herlan yang didapatkannya dari kamera digital milik Harrel. Apakah Herlan menjadi korban pemerasan pemuda itu sehingga dia menjadi malu dan memutuskan bunuh diri? apakah hari itu sebenarnya Herlan hendak mengkonfrontir Harrel di sekolahnya setelah tak tahan diperas terus-menerus namun sial baginya, Herlan malah tewas ditabrak mobil?

Pagi itu dia sengaja menunggu Harrel keluar dari rumahnya. Dicegatnya remaja itu dan sengaja memancing reaksinya. Benar saja. Harrel menjadi gusar dan melontarkan kata-kata tak enak padanya.

“Mas tolong kerja aja yang bagus. Banyak penjahat di luar sana. Mas digaji dari pajak buat nangkap perampok atau pembunuh! bukan buat nakut-nakutin tetangga!” umpat Harrel.

“Loh? kenapa ini, mas? mas berkelahi sama Harrel?” tanya Tika. Istri Bima keluar setelah mendengarkan perdebatan antara suaminya dengan Harrel.

Bima tidak menjawab. Dia mengawasi Harrel yang berlari menuju pertigaan dan akhirnya hilang bersama angkot yang ditumpanginya.

Setelah menenangkan isrtrinya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Bima kembali ke dalam rumahnya. Tak lama ponselnya berdering.

“Halo?” sapanya.

“Pagi, pak! Kita sudah dapat laporan terbaru. Mobil atas nama Linda Sugandhi alias Linda Handoko itu dipakai oleh seorang pria. Kami sudah menyelidiki mobil itu dibawa ke sebuah apartemen yang sepertinya tempat tinggal pemuda itu.”

“Sudah dapat identitasnya?” tanya Bima. Pikirannya langsung tertuju pada pria yang mengaku sebagai tukang survey dan sering mengunjungi Harrel.

“Namanya Ivan. Sepertinya dia keponakan Ibu Linda dan Pak Herlan. Itu saja yang baru bisa kami dapat, pak!”

“Baik, terima kasih untuk laporannya,” tutup Bima. (more…)

kartuuu_ori_II_8By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 8
SUDAH satu jam perjalananku bersama Ivan dalam kendaraan namun aku masih belum menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Mas Bima sebelum kami berangkat. Rupanya Ivan masih bersabar menunggu. Aku akhirnya bercerita.

“Tadi.. Mas Bima bilang dia sudah tahu keterlibatan saya dengan kematian Om Herlan,” kataku.

Ivan masih terus menyetir memandang lurus ke depan dan bergumam. “Hm… sudah sejauh mana yang dia tahu?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Enggak tahu, kak.”

“Saya pikir sebaiknya kamu siap-siap ceritakan semua pada polisi itu daripada masalah ini makin runyam,” saran Ivan.

“Saya enggak mau semakin banyak orang yang tahu masalah ini, kak,” kataku.

“Saya juga bingung bagaimana cerita ini ke Tante Linda. Saya masih khawatir dengan reaksinya,” kata Ivan.

“Harus ya, kak? cerita ke Mamanya Imel?” tanyaku.

“Kamu mau sampai tante Linda penasaran terus-terusan dan nyuruh orang lain nyelidikin kalian?” tanya Ivan.

Aku terdiam. Ivan ada benarnya juga. Kasus ini ternyata masih meninggalkan petunjuk mengenai kematian Om Herlan. Bukan cuma Ivan, Tante Linda, kini Mas Bima pun ikut-ikutan curiga.

Dan sekarang, aku malah harus bertemu dengan Imel. Bagaimanapun aku masih menyimpan rasa bersalah. Bukan hanya kematian ayahnya yang mungkin disebabkan oleh perbuatanku menjebaknya di hotel, tapi lebih karena aku telah berani mendekati Bhayu ketika dia dan Imel masih berstatus pacaran. Aku lalu menoleh ke arah Ivan. Wajahnya memang terlihat tenang, tapi aku juga ingat kembali bahwa dia terpaksa mengambil alih bisnis om Herlan demi membalas budi dan melupakan keinginannya berpetualang keliling Indonesia. Dan itu membuatku semakin merasa bersalah.

Aku menutup wajahku sambil menghela nafas berkali-kali.

“Kenapa?” tanya Ivan.

“Semua ini enggak akan terjadi kalau saya enggak ngedeketin Bhayu…” kataku. (more…)

kartuuu_ori_II_7By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 7

“SAYA turun di sini aja, kak..” kataku ketika mobil Ivan sudah sampai di pertigaan jalan menuju rumah.

“Saya antar sampai rumah. Saya bantu jelasin kenapa kamu bisa enggak bisa dihubungi semalaman,” kata Ivan sambil terus mengemudikan sedannya.

“Kakak mau bilang apa emangnya? yang sebenernya? nanti mereka malah curiga, kak!” protesku.

Ivan tertawa. “Masa iya saya mau cerita begitu di depan orangtua kamu? belum apa-apa nanti saya udah diusir calon mertua..”

“Ca-calon mertua?” tanyaku kebingungan.

Ivan makin terbahak.

Kami tiba di depan rumah dan Ivan mengklakson dua kali sebelum mematikan mesin. Aku tercekat ketika melihat motor Bhayu terparkir di halaman rumah. Entah apa yang akan dia pikirkan bila melihat Ivan mengantarku.

“Harrel! Kamu dari mana aja? kenapa handphone kamu enggak bisa dihubungi? kamu enggak kayak biasanya!” sahut Mama ketika melihat kami keluar dari mobil.

“Ma.. maaf ma…” ujarku kebingungan mencari alasan. Aku makin gugup ketika papa juga ikut keluar menatap kami heran diiringi oleh Bhayu yang juga nampak terkejut melihat Ivan. Nico juga tak ketinggalan. Dia berdiri di pintu memandang kesal ke arahku.

“Biar saya jelasin, tante…” kata Ivan memotong pembicaraan.

Baik papa maupun mama menatap Ivan curiga. Bagaimanapun sungguh terlihat aneh melihat anak mereka kembali setelah tak bisa dihubungi semalaman dan diantar oleh orang asing.

“Boleh saya masuk?” tanya Ivan sopan memecah kekakuan di antara kami siang hari itu.

“Oh.. iya, nak. Silakan. Semoga penjelasan kamu bisa batalin niat saya menghukum anak ini…” kata mama sambil melirik tajam ke arahku.

Kulihat Bhayu. Wajahnya dilanda kebingungan yang amat sangat. Dia heran melihatku bersama Ivan setelah pertengkaran malam itu di rumahnya.

“Saya sampai terpaksa mencari alamat teman Harrel ke sekolah dan menghubungi nak Bhayu. Katanya Harrel sempat ke rumahnya semalam,” kata papa geram.

Aku melirik Bhayu dan melihat kekesalan di wajahnya. Dari tadi dia tak berbicara sepatah katapun. Nampaknya dia sedang menunggu-nunggu penjelasan dariku.

“Begini, Om.. Tante.. saya Ivan. Kakak sepupu dari Imel teman sekelas Harrel dan.. Bhayu..” jelas Ivan. Saat dia melirik ke arah Bhayu, anak itu mendadak gelisah.

“Imel.. bukannya dia itu…” tanya mama mencoba memastikan. (more…)

kartuuu_ori_II_6By: Abang Remy Linguini @bangremy

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 6

“Mas Bima lagi apa di kamar kak Harrel?” Tanya Nico lagi.

Bima berusaha menyembunyikan kamera digital milik Harrel di balik punggungnya.

“Eh, ehm.. tadi orangtua kamu bilang kakak kamu enggak pulang semalaman. Handphonenya juga enggak aktif,” terang Bima.

“Terus?” selidik Nico sambil berjalan mendekati Bima.

Bima buru-buru mengeluarkan kartu memori pada kamera digital itu dan meyelipkannya pada saku belakang celana jeansnya lalu diam-diam meletakkan kembali kamera itu di lemari Harrel.

“Sekarang orangtua kamu ke sekolah kakakmu.. cari tahu teman-temannya yang bisa dihubungi. Lantas ibu kamu titip kunci ke saya, jadi saya sekalian periksa kamar kakak kamu,” kata Bima.

Nico mendadak tampak tak bersemangat. Dia menjatuhkan ranselnya ke lantai.

“Semua pedulinya sama Kak Harrel. Mentang-mentang kakak itu anak baik dan pintar. Kalau aku pergi lama mana ada yang peduli?” keluh Nico.

“Masa begitu sih? mana ada orangtua ngebedain anak-anaknya?” hibur Bima.

“Ini juga.. Mas Bima.. Kirain kangen sama aku. Trus nyariin kamar aku…” Kata Nico sambil duduk di atas ranjang.

“Hahaha.. kamu ini ada-ada aja. Pake kangen-kangenan segala,” kata Bima.

Tapi rupanya Nico serius. “Pasti karena Kak Harrel lebih ganteng dari aku, makanya semua orang lebih suka kakak..”

Bima meneguk ludah. Dirinya memang agak lemah menghadapi remaja pria apalagi yang tampan. Mungkin seperti saat dia tertarik pada Findra, adik sepupu istrinya. Terus terang, Bima sudah berjanji pada Findra tak akan mencari “brondong” lain selain dirinya. Tapi tinggal cukup lama di samping rumah kedua remaja ini membuat dirinya tergoda. (more…)

HS-3HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. :D

PART 3 – BRONIS GERBONG SATU

Seperti yang kubilang di awal cerita, pagi-pagi aku naik kereta express, sedangkan sore pulang kerja aku memilih menggunakan kereta kelas ekonomi. Selain menghemat ongkos, kereta ekonomi sore hari membuat Waktu tempuh sampai rumah malah lebih cepat kalau aku bisa mengejar jadwal jam setengah enam lewat sepuluh.
Iqbal hampir tidak pernah pulang naik kereta yang sama denganku. Karena dia pulang jam 6 sore, dia naik kereta ekspress jam 6:21. Paling-paling kalau kita habis jalan-jalan sepulang kerja, kita pulang menggunakan bus.
Pengalamanku naik kereta ekonomi, setiap gerbong itu pasti dipenuhi 3B alias Babun-babun Berisik. Julukan itu kuberikan kepada penumpang yang bergerombol, membentuk geng, dan janjian naik gerbong yang sama serta sangat ramai kalau berbicara. Satu geng disini bukan berarti harus orang yang seusia. Bisa saja satu kelompok 3B terdiri dari Cewek SPG yang selalu memakai jeans katrok plus kaus milik adiknya (kekecilan), bapak-bapak setengah baya yang genit dan suka mengambil kesempatan memegang-megang si cewek SPG, Cowok SPB yang kadang-kadang juga pacarnya si cewek SPG, atau kadang ibu-ibu yang kelihatan sudah berumur juga ikut gabung. Pokoknya dalam satu geng itu rupa-rupa deh bentuknya.
Hmm… ternyata penilaianku sedikit salah. Kalau kamu sedikit jeli ketika naik gerbong kereta ekonomi, diantara para 3B pasti terselip cewek-cewek bening dan brondong-brondong cakep yang masih fresh, walaupun termasuk golongan minoritas. Berbeda sekali dengan kereta ekspress dimana jarang sekali ada penumpang cewek bening dan brondong fresh. Karena kebanyakan sudah berumur, berkeluarga dan sudah bekerja lama (tidak termasuk aku lho….) dan mapan yang mampu membeli tiket express setiap hari. (more…)

bangzaki-2SEJAK kejadian malam itu, saat aku memaksa Fendi mengoral kontolku di toilet, aku jadi sering melamun. Entah kulakukan secara naluri atau tidak, aku seperti mencoba menjauh dari pemuda itu sehingga sulit sekali bertemu dengannya. Padahal aku sering melewati butik tas tempat dia bekerja, namun saat aku mencoba mencarinya, sosok Fendi tak pernah kulihat. Mungkin juga dia yang menjauhiku setelah trauma dengan kejadian malam itu. Trauma? tapi anak itu bilang terima kasih! terima kasih karena sudah kupaksa menelan pejuh? yang benar saja! pasti dia cuma basa-basi. Aku langsung membayangkan Fendi yang keluar dari toilet langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu.

“Bro…? bro… dumbelnya dipake nggak?” pertanyaan Abdul membuyarkan lamunanku.

“Oh? eh? enggak. Gue udah selesai,” jawabku sambil bangkit dan mengusap keringatku dengan handuk. (more…)

1479417_475010889283088_301489638_nAKU masih menunggu Mas Bima menjelaskan soal kabar kurang bagus yang hendak dia ceritakan.

“Kabar apaan sih, Mas?” tanyaku lagi.

“Mas mau… ehm, Mas ada rencana ditugasin untuk pendidikan selama setahun di kota lain…” ujar Mas Bima pelan.

“Apa? bukannya Mas Bima baru ditugasin di sini ya?”

“Secara teknis, Mas masih ditugasin di sini. Tapi Mas ditunjuk untuk ikut pendidikan, otomatis Mas enggak tugas di sini sementara, tapi tinggal di mess selama pendidikan.”

“Jadi, Mas mau pergi gitu?” tanyaku hampir menangis.

“Iya, Fin…” jawab Mas Bima lemah. (more…)