Posts Tagged ‘cerita gay dengan om’

image

Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Setelah Nico menjadi liar, dia melabuhkan perasaannya pada Dokter Brian. Sayangnya, penolakan Nico membuat Brian mundur dan memilih kembali pada mantan kekasihnya. Suatu hari Nico diserang oleh seseorang. Nico mengenalinya sebagai Arga. Bagaimanakah nasib akhir Nico?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

CAHAYA yang menerpa mataku mulai membuatku tersadar. Aku mengerjapkan mata beberapa kali berusaha melihat dengan lebih jelas. Tiba-tiba rasa sakit menjalar di kepalaku dan membuatku kembali tersungkur ke lantai. Aku mengerang sambil memegangi pelipis kananku yang terasa sakit dan membengkak. Kukumpulkan kembali tenagaku sambil mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum aku tiba di tempat ini. Aku ingat sekarang. Aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Arga dalam perjalanan pulang.

Aku lalu berusaha bangkit dan memandang sekeliling mencoba mengidentifikasi tempat ini. Ruangan ini cukup sempit. Tak ada lubang udara kecuali sebuah pintu di sisi kamar. Di dalam kamar itu hanya ada sebuah dipan besi dengan kasur yang sepertinya sudah lama tak ditempati dari sprei kusut yang membungkusnya. Penerangan kamar ini hanyalah sebuah lampu pijar remang berwarna oranye, namun aku masih bisa melihat beberapa kertas menempel di dindingnya.

Kudekati salah satu sisi dinding yang tertempel potongan berita di koran dan mencoba membacanya. Aku terkejut saat membaca potongan kertas koran itu yang ternyata adalah kumpulan berita-berita tentang beberapa remaja yang tewas dibunuh selama beberapa bulan ini. Perasaanku menjadi tak enak. Aku mundur beberapa langkah dan langsung mencoba membuka pintu berusaha untuk keluar. Namun usahaku sia-sia. Pintu itu terkunci. Kugedor berkali-kali sambil berteriak.

“Hoiii!!! Buka pintunya!!”

Tak ada jawaban. Kugedor lagi lebih keras sambil terus berteriak. Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendekati pintu. Aku mundur menjauhi pintu dengan sikap waspada. Pintu terbuka dan seorang pria masuk. Kali ini aku yakin bahwa orang yang menyerangku sebelum aku tak sadarkan diri adalah Arga.

“Mas Arga?” tanyaku.
(more…)

Advertisements

KISAH NICO 07Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

SETELAH telepon dari petugas polisi yang memberitahukan bahwa Kak Harrel berada di rumah sakit akibat penyerangan yang dilakukan seseorang, Mama sempat pingsan beberapa saat. Setelah bisa menguasai diri dan mendapat informasi yang lebih jelas, Mama tersadar dan kami bertiga cepat-cepat pergi menuju rumah sakit.

Kak Harrel berada masih berada di ruang IGD. Seorang perawat memberitahukan pada kami bahwa kondisinya baik-baik saja. Petugas polisi yang menelepon kami bercerita bahwa Kak Harrel sepulang dari sekolah entah mengapa memilih untuk singgah di sebuah toko untuk membeli sesuatu. Saat berjalan menuju halte terdekatlah, seseorang menariknya ke sebuah lorong. Orang tersebut membawa sebuah pisau dan mengancam Kak Harrel. Untunglah ada dua orang yang melihat kejadian itu sehingga pelaku penyerangan kabur walau sempat melukai bahu Kak Harrel dengan pisaunya.

Luka Kak Harrel tak seberapa parah, namun dia gemetar dan shock akibat penyerangan itu.

“Lukanya tidak serius dan tidak perlu jahitan. Pendarahannya juga sudah berhenti. Tapi yah.. seragam sekolahnya memang jadi penuh darah,” kata Polisi itu sambil menyerahkan kemeja sekolah Kak Harrel pada Mama yang sesenggukan.

“Kak Harrel harus dirawat?” tanyaku.

Petugas polisi itu menggeleng. “Kami masih minta keterangan dari Harrel mengenai ciri fisik penyerangnya. Kami belum tahu apakah penyerangan terhadap Nak Harrel ini berhubungan dengan kasus pembunuhan akhir-akhir ini, oleh karena itu informasi sekecil apapun harus kita proses. Harap ibu bersabar dan menunggu.”

Mama kembali terisak dan menyandarkan kepalanya pada bahu Papa. Aku lalu berinisiatif untuk melihat keadaan Kak Harrel. Dari jendela kaca ruang IGD aku bisa melihat Kak Harrel duduk di ranjang. Dia tampak lancar berbicara kepada seorang petugas polisi. Kak Harrel memakai piyama rumah sakit untuk mengganti sementara bajunya yang ternoda darah. Aku bisa melihat dia memegangi bahunya yang tampak menonjol oleh balutan perban. Aku bernafas lega melihat Kak Harrel baik-baik saja.

Setelah petugas polisi itu menanyai Kak Harrel, kami dipersilakan masuk untuk menemui Kak Harrel. Dia langsung menangis sambil memeluk mama dan papa dan terbata-bata menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia tampak ketakutan.

“Syukur kamu enggak apa-apa, Rel.. mama udah cemas..” kata Mama sambil menyerahkan kaus pada Kak Harrel. Tadi sebelum berangkat, Polisi yang menelepon kami memang meminta kami membawa pakaian Kak Harrel yang masih bersih.

“Sini adek bantu, kak,” kataku sambil menolong Kak Harrel mengganti piyama rumah sakit dengan kaus yang dibawa Mama. Dia agak kesulitan memakainya karena bahunya yang masih sakit. (more…)

KISAH NICO 06Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

KETIKA hendak menyebrang jalan untuk kembali ke tempat karaoke itulah tiba-tiba seseorang menarik lenganku sampai aku terkejut.

“Elu kemana ajaaaa…”

Stevenlah yang menarik lenganku sambil merengek. Wajahnya kelihatan khawatir dan pakaiannya sedikit kusut.

“Loh? Elu ngapain di sini? bukannya karaokeannya sampe jam satu?”

Steven tak menjawab. Dia memegangi bahuku seolah hendak mencari tempat bersandar. Wajahnya seperti menahan rasa mual sementara tangannya yang satu memegangi perutnya.

“Mas Janu.. Mas Janu tadi bikin ulah.” katanya.

“Berulah gimana? Eh.. Elu mabok ya?” tebakku.

“Minuman yang tadi gue bawa, diem-diem gue campurin ke minuman yang dipesen… elu juga minum, kan? Nah.. Mas Janu minum kebanyakan. Dia enggak tahu kalau itu minuman udah gue campur miras punya bokap. Akhirnya dia mabuk dan panggil pelayan. Pas pelayan datang, Mas Janu mendadak marah-marah ajak berantem pelayan karaoke. Jadilah kami diusir satpam.. huhuhu..” cerocos Steven.

“Lantas yang lain kemana?”

“Mas Janu diantar dua temennya pulang, karena gue bareng sama elu, gue terpaksa nyari-nyari elu kayak anak ayam ilang…” kata Steven sambil duduk di salah satu pot besar trotoar.

“Jadi yang gue minum tadi…?” tanyaku memastikan.

Steven melirik padaku terlihat merasa bersalah. Saat itulah aku sadar mengapa ada perasaan aneh saat aku meminum dari botol yang seharusnya tidak sampai memabukkan. Apakah aku berhenti di waktu yang tepat sebelum benar-benar mabuk saat aku menjadi berani merayu Arwan di toilet tadi? Aku langsung menepuk dahiku. Pantas saja aku merasa tanpa beban dan rileks melakukan seks dengan Arwan. (more…)

KISAH NICO 05Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

AKU tidak pernah lagi menghubungi Dokter Brian sejak teleponku yang terakhir. Kupikir toh memang tak ada urusan selain perjanjian bahwa dia akan menemaniku ikut tes VCT di salah satu rumah sakit saat genap tiga bulan setelah peristiwa pemerkosaan terhadap diriku terjadi. Tentu aku khawatir dengan hasilnya. Ini adalah sebuah ironi ketika misalnya banyak orang secara serampangan berhubungan intim berganti-ganti pasangan tapi sama sekali tak tertular penyakit, sedangkan aku yang baru pertama kali melakukannya, malah langsung terkena.

Syukurlah kekhawatiran itu tak terlalu mengganggu keseharianku. Steven melakukan tugasnya yang baik sebagai sahabat. Kak Harrel sikapnya pun sudah melunak walau kebanyakan lebih karena tidak ingin berurusan denganku, tapi itu memberiku rasa tenang karena berimbas pada orangtuaku yang tak lagi ikut marah-marah terpancing hasutan Kak Harrel seperti dulu.

Agak sulit untuk mencari waktu di tengah kesibukan sekolah untuk mengunjungi rumah sakit dan melakukan tes VCT. Untunglah, ada hari libur tanggal merah yang bisa kugunakan untuk pergi ditemani oleh Dokter Brian yang saat itu berhasil menukar jadwal piketnya dengan dokter lain.
(more…)

KISAH NICO 03Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga, pemilik toko perlengkapan skuter. Hubungan mereka semakin dekat saat Arga menolong Nico dari pelecehan yang dilakukan oleh gurunya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

***

TETAP saja perasaanku was-was saat pembagian nilai. Papalah yang datang sebagai wali murid menunggu laporan nilai dibagikan. Jantungku berdebar kencang menanti namaku dipanggil walikelas. Saat Papa dipanggil, aku heran beliau langsung melenggang keluar tanpa reaksi apa-apa. Padahal aku sudah mengira Papa akan diminta oleh guru membicarakan nilai Fisikaku yang jeblok.

“Ayo pulang Nic,” ajak Papa.

“Udah?” tanyaku kebingungan.

“Ya udah. Mau ngapain lagi? yang jelek cuma nilai Fisika kamu aja. Pas-pasan,” kata Papa.

Aku buru-buru merebut laporan nilai dari tangan papa dan membukanya. Seperti biasanya, nilai-nilai pelajaranku memang tak spektakuler. Tapi yang membuat lega, Pak Roy memberiku nilai di ambang batas yang masih bisa ditoleransi, padahal aku sudah yakin dia akan mengosongkan nilai Fisika pada raporku. Aku merasa sangat lega ternyata Pak Roy tidak mempersulit diriku semester ini. Buru-buru aku mengirim SMS pada Arga.

“Mas. Nilai Fisikaku selamat.”

“Oh ya? Mudah-mudahan dia enggak macam-macam lagi sama kamu.”

“Mudah-mudahan, Mas.”

“Berarti kalau gitu, kita rayain dong.”

“Hahaha. Aku traktir nonton aja gimana? maklum anak sekolahan.”

“Sip. Tapi saya senang. Berarti beban pikiran kamu udah lepas pas kita hiking nanti. :)”

“Iya Mas :)”

*** (more…)

IMG_4259(Terinspirasi film x straigt berjudul “American Daydream” with Taylor Rain)

by: SHISHUNKI

SEJAK kepindahan tetangga baru, aku sering berkhayal yang tidak-tidak. Sudah lama aku menahan keinginan dan fantasiku berhubungan dengan pria. Itu karena aku memang berkomitmen untuk tidak melakukannya lagi demi keluargaku. Namaku Gustav, aku menikah sejak usia 30 dan kini pernikahanku menginjak tahun ke lima. Orang bilang lima tahun pertama adalah tahun penuh godaan. Aku biasanya bisa mengabaikan setiap godaan, tapi godaan itu kini terpampang nyata dan berada di rumah sebelah.

Namanya Alfi. Usianya sekitar 16 atau 17 tahun dan masih SMA. Keluarganya pindah ke rumah sebelah dua bulan lalu. Hampir semua rumah di sini dibangun di tanah yang luas. Biasanya halaman belakang rumah yang ada di sini dibiarkan terbuka dan menjadi kebun. Aku sering melihatnya saat minggu sore sedang bermain dengan anjingnya di halaman belakang. Karena pemisah halaman di perumahan kami cukup rendah, aku bisa bebas memerhatikannya hanya memakai kaus singlet yang sedikit menutupi kulitnya yang mulus. Alfi adalah remaja tampan, ramping namun atletis.

Aku sering berpura-pura melakukan sesuatu di halaman belakang seperti menyiram kebun dan merapikan taman hari minggu sore. Padahal tujuan utamaku adalah memerhatikan Alfi yang sedang bermain-main di halaman belakang rumahnya. Ketika dia membungkuk, aku melihat bongkahan pantatnya dan langsung berpikiran untuk menariknya dan memerkosanya tanpa ampun untuk memuaskan kontolku. Aku meneguk ludah jika membayangkan itu. Terkadang Alfi suka menyapaku dan melambaikan tangan sambil tersenyum, dan membuatku semakin mengkhayal yang tidak-tidak.

Minggu sore itu aku kesal karena rutinitasku mengamati Alfi terganggu oleh telepon dari kawan lama. Padahal istri dan anakku sedang tak ada di rumah. Aku sudah membayangkan bisa asik mengamati Alfi sambil meremas-remas kontol dan menuntaskannya hingga ngecrot mungkin. Saat kulihat jam, ternyata sudah pukul empat sore. Biasanya Alfi sudah selesai bermain dengan anjingnya dan pergi entah ke mana. Aku melongok ke halaman belakang dan.. “Om Gustav! Om!” panggil seseorang.

Ternyata Alfi sudah melongok di pagar. “Om. Sori.. tadi bola aku kelempar ke halaman om..” katanya cemas.

“Oh? masa? di sebelah mana?” kataku. (more…)

kartuuu_ori_II_9By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 9

BIMA masih menduga-duga maksud dibalik foto Harrel dengan Herlan yang didapatkannya dari kamera digital milik Harrel. Apakah Herlan menjadi korban pemerasan pemuda itu sehingga dia menjadi malu dan memutuskan bunuh diri? apakah hari itu sebenarnya Herlan hendak mengkonfrontir Harrel di sekolahnya setelah tak tahan diperas terus-menerus namun sial baginya, Herlan malah tewas ditabrak mobil?

Pagi itu dia sengaja menunggu Harrel keluar dari rumahnya. Dicegatnya remaja itu dan sengaja memancing reaksinya. Benar saja. Harrel menjadi gusar dan melontarkan kata-kata tak enak padanya.

“Mas tolong kerja aja yang bagus. Banyak penjahat di luar sana. Mas digaji dari pajak buat nangkap perampok atau pembunuh! bukan buat nakut-nakutin tetangga!” umpat Harrel.

“Loh? kenapa ini, mas? mas berkelahi sama Harrel?” tanya Tika. Istri Bima keluar setelah mendengarkan perdebatan antara suaminya dengan Harrel.

Bima tidak menjawab. Dia mengawasi Harrel yang berlari menuju pertigaan dan akhirnya hilang bersama angkot yang ditumpanginya.

Setelah menenangkan isrtrinya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Bima kembali ke dalam rumahnya. Tak lama ponselnya berdering.

“Halo?” sapanya.

“Pagi, pak! Kita sudah dapat laporan terbaru. Mobil atas nama Linda Sugandhi alias Linda Handoko itu dipakai oleh seorang pria. Kami sudah menyelidiki mobil itu dibawa ke sebuah apartemen yang sepertinya tempat tinggal pemuda itu.”

“Sudah dapat identitasnya?” tanya Bima. Pikirannya langsung tertuju pada pria yang mengaku sebagai tukang survey dan sering mengunjungi Harrel.

“Namanya Ivan. Sepertinya dia keponakan Ibu Linda dan Pak Herlan. Itu saja yang baru bisa kami dapat, pak!”

“Baik, terima kasih untuk laporannya,” tutup Bima. (more…)