Posts Tagged ‘Cerita gay binan and the city’

image

BERTAMBAHNYA kedekatanku secara seksual berbanding terbalik dengan makin sedikitnya waktuku bersama Haidir sebelum pria calon satpam itu keluar dari rumahku dan tinggal di asrama. Aku sebenarnya tak perlu berharap lebih daripada sekadar hubungan intim dengan Haidir. Toh, mungkin dia menganggap bermesraan dengan pria hanya sebagai selingan sebelum kembali ke kehidupan lamanya sebagai seorang playboy penghajar memek wanita. Mana mungkin Haidir akan punya perasaan lain? Aku terlalu terbawa perasaan. Tapi terus terang, Haidir sudah mencuri hatiku. Belum pernah kutemui orang seperti dia. Terlebih dia tadinya seorang straight yang akhirnya dapat aku taklukkan.

Itu sebabnya keesokan harinya aku murung. Lusa, Haidir sudah pergi. Aku berusaha ceria namun tak bisa menyembunyikan keresahanku.

“Kamu kenapa, Don?” tanya Haidir.

“Enggak kenapa-napa, Bang..” kataku sambil mengaduk nasi yang ada di piring asal-asalan. Aku sampai tidak nafsu makan siang itu.

Haidir hanya mengangguk-angguk sambil bergumam.

“Abang nanti malam ke kamar kamu ya?” godanya.

(more…)

image

RUMAH TRANSIT. Itu julukan yang kuberikan pada rumahku sendiri. Bukan apa-apa. Orangtuaku, terutama Papa memang membiarkan rumah yang cukup luas ini menjadi tempat penampungan sementara keluarga atau kerabat baik dekat maupun jauh yang hendak mengadu nasib di Jakarta. Lalu menurutmu aku tidak suka? Ah.. jangan salah sangka. Aku sendiri tidak pernah keberatan. Orangtuaku tidak mendidik aku supaya menjadi orang yang congkak. Senang rasanya jika ada teman di sini walau cuma sementara waktu karena aku terbiasa sendiri sebagai anak tunggal. Kadang-kadang kalau aku sempat, aku pasti akan mengajak jalan-jalan saudara jauhku yang biasanya datang ke sini dalam rangka transit itu keliling kota dengan motorku.

“Ingat ya, Doni… Kita harus bantu mereka. Dulu bapak dibantu orang saat baru merintis usaha di sini. Kalau kamu tolong mereka, enggak harus dari mereka, pertolongan akan datang buat kamu kelak jika kesusahan. Paham?” kata papa.

Tentu saja aku paham maksud papa. Jika kita berbuat baik, tentu kita juga akan mendapatkan pertolongan jika kesulitan. Seperti minggu lalu, aku kedatangan sepupu perempuan jauh dari desa. Dia menumpang sementara beberapa hari sampai dapat tempat kosan di dekat kampusnya karena memang sekarang sedang liburan akhir tahun ajaran sekolah dan kampus. Senang rasanya ada dia. Aku mengajaknya jalan-jalan dengan motorku dan kini dia sudah pindah ke tempat kost barunya. Tapi masa liburanku masih panjang. Saatnya aku menikmati ‘me-time’ ku di rumah. Papa dan mama akan pergi keluar kota selama seminggu, dan aku ditinggal di rumah hanya dengan Bi Suti, asisten rumah tangga kami.

Asyik! Itu artinya aku bebas mengurung diri seharian di kamar, nonton koleksi bokepku sampai masa liburanku berakhir dan aku kembali ke kampus untuk semester 3. Kupikir rencanaku akan terlaksana, namun rupanya Papa membawa berita baru. Ada yang akan menginap di sini selama orangtuaku pergi.

(more…)

KISAH NICO 07Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

SETELAH telepon dari petugas polisi yang memberitahukan bahwa Kak Harrel berada di rumah sakit akibat penyerangan yang dilakukan seseorang, Mama sempat pingsan beberapa saat. Setelah bisa menguasai diri dan mendapat informasi yang lebih jelas, Mama tersadar dan kami bertiga cepat-cepat pergi menuju rumah sakit.

Kak Harrel berada masih berada di ruang IGD. Seorang perawat memberitahukan pada kami bahwa kondisinya baik-baik saja. Petugas polisi yang menelepon kami bercerita bahwa Kak Harrel sepulang dari sekolah entah mengapa memilih untuk singgah di sebuah toko untuk membeli sesuatu. Saat berjalan menuju halte terdekatlah, seseorang menariknya ke sebuah lorong. Orang tersebut membawa sebuah pisau dan mengancam Kak Harrel. Untunglah ada dua orang yang melihat kejadian itu sehingga pelaku penyerangan kabur walau sempat melukai bahu Kak Harrel dengan pisaunya.

Luka Kak Harrel tak seberapa parah, namun dia gemetar dan shock akibat penyerangan itu.

“Lukanya tidak serius dan tidak perlu jahitan. Pendarahannya juga sudah berhenti. Tapi yah.. seragam sekolahnya memang jadi penuh darah,” kata Polisi itu sambil menyerahkan kemeja sekolah Kak Harrel pada Mama yang sesenggukan.

“Kak Harrel harus dirawat?” tanyaku.

Petugas polisi itu menggeleng. “Kami masih minta keterangan dari Harrel mengenai ciri fisik penyerangnya. Kami belum tahu apakah penyerangan terhadap Nak Harrel ini berhubungan dengan kasus pembunuhan akhir-akhir ini, oleh karena itu informasi sekecil apapun harus kita proses. Harap ibu bersabar dan menunggu.”

Mama kembali terisak dan menyandarkan kepalanya pada bahu Papa. Aku lalu berinisiatif untuk melihat keadaan Kak Harrel. Dari jendela kaca ruang IGD aku bisa melihat Kak Harrel duduk di ranjang. Dia tampak lancar berbicara kepada seorang petugas polisi. Kak Harrel memakai piyama rumah sakit untuk mengganti sementara bajunya yang ternoda darah. Aku bisa melihat dia memegangi bahunya yang tampak menonjol oleh balutan perban. Aku bernafas lega melihat Kak Harrel baik-baik saja.

Setelah petugas polisi itu menanyai Kak Harrel, kami dipersilakan masuk untuk menemui Kak Harrel. Dia langsung menangis sambil memeluk mama dan papa dan terbata-bata menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia tampak ketakutan.

“Syukur kamu enggak apa-apa, Rel.. mama udah cemas..” kata Mama sambil menyerahkan kaus pada Kak Harrel. Tadi sebelum berangkat, Polisi yang menelepon kami memang meminta kami membawa pakaian Kak Harrel yang masih bersih.

“Sini adek bantu, kak,” kataku sambil menolong Kak Harrel mengganti piyama rumah sakit dengan kaus yang dibawa Mama. Dia agak kesulitan memakainya karena bahunya yang masih sakit. (more…)

KISAH NICO 06Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

KETIKA hendak menyebrang jalan untuk kembali ke tempat karaoke itulah tiba-tiba seseorang menarik lenganku sampai aku terkejut.

“Elu kemana ajaaaa…”

Stevenlah yang menarik lenganku sambil merengek. Wajahnya kelihatan khawatir dan pakaiannya sedikit kusut.

“Loh? Elu ngapain di sini? bukannya karaokeannya sampe jam satu?”

Steven tak menjawab. Dia memegangi bahuku seolah hendak mencari tempat bersandar. Wajahnya seperti menahan rasa mual sementara tangannya yang satu memegangi perutnya.

“Mas Janu.. Mas Janu tadi bikin ulah.” katanya.

“Berulah gimana? Eh.. Elu mabok ya?” tebakku.

“Minuman yang tadi gue bawa, diem-diem gue campurin ke minuman yang dipesen… elu juga minum, kan? Nah.. Mas Janu minum kebanyakan. Dia enggak tahu kalau itu minuman udah gue campur miras punya bokap. Akhirnya dia mabuk dan panggil pelayan. Pas pelayan datang, Mas Janu mendadak marah-marah ajak berantem pelayan karaoke. Jadilah kami diusir satpam.. huhuhu..” cerocos Steven.

“Lantas yang lain kemana?”

“Mas Janu diantar dua temennya pulang, karena gue bareng sama elu, gue terpaksa nyari-nyari elu kayak anak ayam ilang…” kata Steven sambil duduk di salah satu pot besar trotoar.

“Jadi yang gue minum tadi…?” tanyaku memastikan.

Steven melirik padaku terlihat merasa bersalah. Saat itulah aku sadar mengapa ada perasaan aneh saat aku meminum dari botol yang seharusnya tidak sampai memabukkan. Apakah aku berhenti di waktu yang tepat sebelum benar-benar mabuk saat aku menjadi berani merayu Arwan di toilet tadi? Aku langsung menepuk dahiku. Pantas saja aku merasa tanpa beban dan rileks melakukan seks dengan Arwan. (more…)

KISAH NICO 05Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

AKU tidak pernah lagi menghubungi Dokter Brian sejak teleponku yang terakhir. Kupikir toh memang tak ada urusan selain perjanjian bahwa dia akan menemaniku ikut tes VCT di salah satu rumah sakit saat genap tiga bulan setelah peristiwa pemerkosaan terhadap diriku terjadi. Tentu aku khawatir dengan hasilnya. Ini adalah sebuah ironi ketika misalnya banyak orang secara serampangan berhubungan intim berganti-ganti pasangan tapi sama sekali tak tertular penyakit, sedangkan aku yang baru pertama kali melakukannya, malah langsung terkena.

Syukurlah kekhawatiran itu tak terlalu mengganggu keseharianku. Steven melakukan tugasnya yang baik sebagai sahabat. Kak Harrel sikapnya pun sudah melunak walau kebanyakan lebih karena tidak ingin berurusan denganku, tapi itu memberiku rasa tenang karena berimbas pada orangtuaku yang tak lagi ikut marah-marah terpancing hasutan Kak Harrel seperti dulu.

Agak sulit untuk mencari waktu di tengah kesibukan sekolah untuk mengunjungi rumah sakit dan melakukan tes VCT. Untunglah, ada hari libur tanggal merah yang bisa kugunakan untuk pergi ditemani oleh Dokter Brian yang saat itu berhasil menukar jadwal piketnya dengan dokter lain.
(more…)

KISAH NICO 04Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

TAK ada hari yang kulalui tanpa bermuram durja dan murung sejak peristiwa di hotel itu. Orang di rumah menyadari itu tapi tak ada yang berhasil mengorek apapun cerita dari mulutku. Aku menyimpannya rapat-rapat. Kak Harrel pun sepertinya tidak ingin mencari masalah denganku dan memilih tak berurusan denganku. Sikapnya yang menganggap aku tak ada sedikit membuatku lega. Aku tak tahu harus bicara dengan siapa. Sempat terpikir untuk menelepon Dokter Brian, tapi untuk apa aku berkeluh kesah dengan orang yang baru pertama kali kutemui.

Aku tak mau tahu tentang Arga. Sejak hari itu dia tak pernah menghubungiku lagi. Aku juga tak tahu apakah dia masih tinggal di rumahnya atau tidak. Aku berusaha tak melewati rumahnya saat berangkat atau pulang ke rumah.

Aku seperti orang sakit. Wajahku pucat. Mama selalu bertanya apa penyebabnya namun aku selalu bilang kalau aku baik-baik saja. Semester baru dimulai. Untunglah pelajarannya belum begitu sulit dan tak ada tugas menumpuk. Terlalu banyak pikiran membuatku tak sadar bahwa awal semester ini ada anak pindahan yang baru masuk. Dia duduk tak jauh dariku. Namanya Steven, wajahnya tampan, bibirnya berwarna kemerahan dan rambutnya sangat kejur serta berkulit bersih. Sesekali saat aku menoleh padanya, dia menyeringai sambil melambaikan tangan. Sok akrab betul, pikirku.

Suatu hari, aku mendapatkan secarik kertas menyelip pada bukuku. saat kubuka, ada tulisan di situ: “Gue tau elo gay. Gue juga gay. Kita bisa berteman baik kalo gitu. -Steve-”

Kaget membaca tulisan itu, aku buru-buru meremasnya kecil-kecil dan membuangnya. Aku menoleh pada Steven. Lagi-lagi dia nyengir menatapku. Aku membuang muka.

Saat istirahat, aku makan sendirian di kantin. Tiba-tiba Steven duduk di sebelahku sambil menepuk bahuku.

“Hei. Jadi.. gimana tawaran gue tadi?” tanyanya sambil tersenyum.

“Tawaran apaan?” tanyaku pura-pura bego.

“Tawaran pertemanan lah.. Denger, ya! Kita ini baru kelas satu. Temen kita masih pada polos-polos. Nanti lama kelamaan mereka tau ada yang ‘lain’ sama kita. Mungkin mereka akan mulai ngebully atau apa, tapi selama kita punya teman yang bisa diandalkan, kita akan survive sampai kelulusan nanti. Ngerti?” cerocos Steven.

Aku menghela nafas tak menjawab.

“Kalau begitu, gue anggap iyes. Nanti kita pulang bareng ya?” katanya penuh semangat sambil menepuk kembali bahuku sebelum dia pergi.

Dan sore itu aku tak bisa menolak saat Steven mengajakku pulang bersama. Yah, tidak bisa dibilang sama-sama juga kalau ternyata kita berjalan hanya sampai di gerbang sekolah.

“Elo pulang naik apaan, Steve?” tanyaku.

“Dijemput Papa. Lu orang pulang naik apa?” tanyanya.

“Angkot.”

“Sebenernya gue mau ajak lu ikut. Tapi karena kita baru berteman sehari, besok-besok baru kita bareng, ya?” kata Steven riang.

“Nah, itu bokap gue,” kata Steven saat sebuah mobil menepi di seberang jalan.

Seorang pria berumur empatpuluhan namun masih terlihat muda dan gagah keluar dari mobil dan memberi isyarat tangan agar Steven menghampirinya.

“Keren juga bokap elo. ” kataku memuji.

“Ganteng ya? Bokap punya usaha pusat kebugaran. Masih sering latihan dan jaga badan supaya brand imagenya tetep tinggi dan tempat gymnya laku.” jelas Steven.

“Uh.. kalau dia mau apa-apain gue, gue sih rela..” candaku.

“ENGGAK BOLEH! Enak aja! Bokap gue cuma milik gue!” Steven tiba-tiba mendadak emosi dan seperti orang yang overprotektif.

“Ya ampun, Steve. Gue cuma bercanda…” kataku sambil tertawa. (more…)

KISAH NICO 03Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga, pemilik toko perlengkapan skuter. Hubungan mereka semakin dekat saat Arga menolong Nico dari pelecehan yang dilakukan oleh gurunya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

***

TETAP saja perasaanku was-was saat pembagian nilai. Papalah yang datang sebagai wali murid menunggu laporan nilai dibagikan. Jantungku berdebar kencang menanti namaku dipanggil walikelas. Saat Papa dipanggil, aku heran beliau langsung melenggang keluar tanpa reaksi apa-apa. Padahal aku sudah mengira Papa akan diminta oleh guru membicarakan nilai Fisikaku yang jeblok.

“Ayo pulang Nic,” ajak Papa.

“Udah?” tanyaku kebingungan.

“Ya udah. Mau ngapain lagi? yang jelek cuma nilai Fisika kamu aja. Pas-pasan,” kata Papa.

Aku buru-buru merebut laporan nilai dari tangan papa dan membukanya. Seperti biasanya, nilai-nilai pelajaranku memang tak spektakuler. Tapi yang membuat lega, Pak Roy memberiku nilai di ambang batas yang masih bisa ditoleransi, padahal aku sudah yakin dia akan mengosongkan nilai Fisika pada raporku. Aku merasa sangat lega ternyata Pak Roy tidak mempersulit diriku semester ini. Buru-buru aku mengirim SMS pada Arga.

“Mas. Nilai Fisikaku selamat.”

“Oh ya? Mudah-mudahan dia enggak macam-macam lagi sama kamu.”

“Mudah-mudahan, Mas.”

“Berarti kalau gitu, kita rayain dong.”

“Hahaha. Aku traktir nonton aja gimana? maklum anak sekolahan.”

“Sip. Tapi saya senang. Berarti beban pikiran kamu udah lepas pas kita hiking nanti. :)”

“Iya Mas :)”

*** (more…)