image

By: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Harrel dan Bhayu awalnya tidak akur di SMA. Beberapa kejadian menyatukan mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah selesai kasus kematian Om Herlan dan pembalasan dendam dari istrinya, apakah hubungan mereka bisa terus bertahan? Di lain pihak, tetangga Harrel yang seorang polisi mengetahui hubungan Harrel – Bhayu dan sempat mencurigai mereka terlibat kejahatan. Belakangan polisi itu menerima kiriman surat kaleng ancaman berisi fotonya yang sedang bercinta dengan pria.

*Baca juga: KARTU MEMORI I – II, KISAH NICO

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, cerita, dan tempat, murni hanya kebetulan. Beberapa adegan mungkin terlalu eksplisit dan tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Dalam cerita mungkin digambarkan seks tanpa kondom semata demi kepentingan cerita. Namun saya selalu mendukung hubungan seks aman. Selalu gunakan kondom!

BAGIAN 1

BHAYU menepikan motornya di pinggir jalan. Saat itu semester baru perkuliahan sudah dimulai. Bhayu dan Harrel kini resmi tercatat sebagai mahasiswa. Harrel yang dibonceng, turun dari jok belakang lalu melepas helmnya. Dia tersenyum menatap Bhayu.

“Jadi… mulai sekarang kita belajar di tempat yang beda ya?” kata Harrel. Dia mencoba tersenyum lebih lebar tapi pikiran bahwa dirinya tak lagi satu sekolah dengan Bhayu ke depannya saja sudah membuatnya kembali sedih.

Bhayu mengangguk. “Gak usah sedih lah.. masih satu kota ini, kan? Gue enggak ke mana-mana,” ujarnya.

“Ya.. tapi tetap aja. Nanti kita mulai sama-sama sibuk. Kalau enggak satu kampus, kan..” ujar Harrel.

“Hey.. kan kita udah sepakat. Elo harus kuliah di kampus yang sesuai sama minat elo. Begitu juga gue…”

“Yah.. Gue juga udah bayangin kalau seminggu ini aja kita bakalan sibuk. Masa orientasi mahasiswa aja baru dimulai. Gue mungkin lebih enak karena gak jauh-jauh keluar kota. Tapi elo.. yang mau masuk tim basket kampus, pake acara mendaki gunung segala.” Keluh Harrel.

Read the rest of this entry »

Advertisements

image

By: Abang Remy Linguini

Reminder:
Jika anda di bawah umur, tinggalkan akun ini.
Berisi konten seksual eksplisit. Diharapkan kebijaksanaan pembaca.
Beberapa adegan seksual digambarkan tanpa menggunakan kondom demi kepentingan cerita. Selalu gunakan kondom dan dukung hubungan seks yang aman!
Update tak tentu.

Part 1

KEHIDUPAN rumah tanggaku dan Vio bisa dibilang sangat bahagia. Kami hidup tak kekurangan, aku punya istri cantik dan hebat yang bisa kubanggakan. Kami menikah hampir 5 tahun dan belum dikaruniai anak. Kami sengaja menundanya karena istriku merasa belum siap. Usia kami terpaut 10 tahun. Vio menikah denganku di usia 20 sementara aku sudah berumur 30 waktu itu. Merasa sedikit bersalah karena Vio kehilangan masa mudanya, aku menyetujui keinginannya menunda punya momongan sampai dia menyelesaikan studinya.

Aku tak penah merasakan keanehan pada Vio. Dia seperti wanita lainnya. Gemar berdandan dan belanja. Tapi suatu hari, aku pernah menemui hal aneh pada ponselnya. Waktu itu aku hendak meminta video yang dia rekam saat aku berpidato pada sebuah resepsi pernikahan teman kami. Vio menyuruhku mencari sendiri di ponselnya karena dia sedang mandi.

Aku menemukan sesuatu yang aneh. Dia tergabung pada sebuah forum khusus fujoshi. Dengan menggunakan akun fujo_2626, istriku memposting fotoku di forum itu dan dikomentari banyak akun lain. Read the rest of this entry »

image

Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Setelah Nico menjadi liar, dia melabuhkan perasaannya pada Dokter Brian. Sayangnya, penolakan Nico membuat Brian mundur dan memilih kembali pada mantan kekasihnya. Suatu hari Nico diserang oleh seseorang. Nico mengenalinya sebagai Arga. Bagaimanakah nasib akhir Nico?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

CAHAYA yang menerpa mataku mulai membuatku tersadar. Aku mengerjapkan mata beberapa kali berusaha melihat dengan lebih jelas. Tiba-tiba rasa sakit menjalar di kepalaku dan membuatku kembali tersungkur ke lantai. Aku mengerang sambil memegangi pelipis kananku yang terasa sakit dan membengkak. Kukumpulkan kembali tenagaku sambil mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum aku tiba di tempat ini. Aku ingat sekarang. Aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Arga dalam perjalanan pulang.

Aku lalu berusaha bangkit dan memandang sekeliling mencoba mengidentifikasi tempat ini. Ruangan ini cukup sempit. Tak ada lubang udara kecuali sebuah pintu di sisi kamar. Di dalam kamar itu hanya ada sebuah dipan besi dengan kasur yang sepertinya sudah lama tak ditempati dari sprei kusut yang membungkusnya. Penerangan kamar ini hanyalah sebuah lampu pijar remang berwarna oranye, namun aku masih bisa melihat beberapa kertas menempel di dindingnya.

Kudekati salah satu sisi dinding yang tertempel potongan berita di koran dan mencoba membacanya. Aku terkejut saat membaca potongan kertas koran itu yang ternyata adalah kumpulan berita-berita tentang beberapa remaja yang tewas dibunuh selama beberapa bulan ini. Perasaanku menjadi tak enak. Aku mundur beberapa langkah dan langsung mencoba membuka pintu berusaha untuk keluar. Namun usahaku sia-sia. Pintu itu terkunci. Kugedor berkali-kali sambil berteriak.

“Hoiii!!! Buka pintunya!!”

Tak ada jawaban. Kugedor lagi lebih keras sambil terus berteriak. Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendekati pintu. Aku mundur menjauhi pintu dengan sikap waspada. Pintu terbuka dan seorang pria masuk. Kali ini aku yakin bahwa orang yang menyerangku sebelum aku tak sadarkan diri adalah Arga.

“Mas Arga?” tanyaku.
Read the rest of this entry »

KISAH NICO 07Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

SETELAH telepon dari petugas polisi yang memberitahukan bahwa Kak Harrel berada di rumah sakit akibat penyerangan yang dilakukan seseorang, Mama sempat pingsan beberapa saat. Setelah bisa menguasai diri dan mendapat informasi yang lebih jelas, Mama tersadar dan kami bertiga cepat-cepat pergi menuju rumah sakit.

Kak Harrel berada masih berada di ruang IGD. Seorang perawat memberitahukan pada kami bahwa kondisinya baik-baik saja. Petugas polisi yang menelepon kami bercerita bahwa Kak Harrel sepulang dari sekolah entah mengapa memilih untuk singgah di sebuah toko untuk membeli sesuatu. Saat berjalan menuju halte terdekatlah, seseorang menariknya ke sebuah lorong. Orang tersebut membawa sebuah pisau dan mengancam Kak Harrel. Untunglah ada dua orang yang melihat kejadian itu sehingga pelaku penyerangan kabur walau sempat melukai bahu Kak Harrel dengan pisaunya.

Luka Kak Harrel tak seberapa parah, namun dia gemetar dan shock akibat penyerangan itu.

“Lukanya tidak serius dan tidak perlu jahitan. Pendarahannya juga sudah berhenti. Tapi yah.. seragam sekolahnya memang jadi penuh darah,” kata Polisi itu sambil menyerahkan kemeja sekolah Kak Harrel pada Mama yang sesenggukan.

“Kak Harrel harus dirawat?” tanyaku.

Petugas polisi itu menggeleng. “Kami masih minta keterangan dari Harrel mengenai ciri fisik penyerangnya. Kami belum tahu apakah penyerangan terhadap Nak Harrel ini berhubungan dengan kasus pembunuhan akhir-akhir ini, oleh karena itu informasi sekecil apapun harus kita proses. Harap ibu bersabar dan menunggu.”

Mama kembali terisak dan menyandarkan kepalanya pada bahu Papa. Aku lalu berinisiatif untuk melihat keadaan Kak Harrel. Dari jendela kaca ruang IGD aku bisa melihat Kak Harrel duduk di ranjang. Dia tampak lancar berbicara kepada seorang petugas polisi. Kak Harrel memakai piyama rumah sakit untuk mengganti sementara bajunya yang ternoda darah. Aku bisa melihat dia memegangi bahunya yang tampak menonjol oleh balutan perban. Aku bernafas lega melihat Kak Harrel baik-baik saja.

Setelah petugas polisi itu menanyai Kak Harrel, kami dipersilakan masuk untuk menemui Kak Harrel. Dia langsung menangis sambil memeluk mama dan papa dan terbata-bata menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia tampak ketakutan.

“Syukur kamu enggak apa-apa, Rel.. mama udah cemas..” kata Mama sambil menyerahkan kaus pada Kak Harrel. Tadi sebelum berangkat, Polisi yang menelepon kami memang meminta kami membawa pakaian Kak Harrel yang masih bersih.

“Sini adek bantu, kak,” kataku sambil menolong Kak Harrel mengganti piyama rumah sakit dengan kaus yang dibawa Mama. Dia agak kesulitan memakainya karena bahunya yang masih sakit. Read the rest of this entry »

KISAH NICO 06Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

KETIKA hendak menyebrang jalan untuk kembali ke tempat karaoke itulah tiba-tiba seseorang menarik lenganku sampai aku terkejut.

“Elu kemana ajaaaa…”

Stevenlah yang menarik lenganku sambil merengek. Wajahnya kelihatan khawatir dan pakaiannya sedikit kusut.

“Loh? Elu ngapain di sini? bukannya karaokeannya sampe jam satu?”

Steven tak menjawab. Dia memegangi bahuku seolah hendak mencari tempat bersandar. Wajahnya seperti menahan rasa mual sementara tangannya yang satu memegangi perutnya.

“Mas Janu.. Mas Janu tadi bikin ulah.” katanya.

“Berulah gimana? Eh.. Elu mabok ya?” tebakku.

“Minuman yang tadi gue bawa, diem-diem gue campurin ke minuman yang dipesen… elu juga minum, kan? Nah.. Mas Janu minum kebanyakan. Dia enggak tahu kalau itu minuman udah gue campur miras punya bokap. Akhirnya dia mabuk dan panggil pelayan. Pas pelayan datang, Mas Janu mendadak marah-marah ajak berantem pelayan karaoke. Jadilah kami diusir satpam.. huhuhu..” cerocos Steven.

“Lantas yang lain kemana?”

“Mas Janu diantar dua temennya pulang, karena gue bareng sama elu, gue terpaksa nyari-nyari elu kayak anak ayam ilang…” kata Steven sambil duduk di salah satu pot besar trotoar.

“Jadi yang gue minum tadi…?” tanyaku memastikan.

Steven melirik padaku terlihat merasa bersalah. Saat itulah aku sadar mengapa ada perasaan aneh saat aku meminum dari botol yang seharusnya tidak sampai memabukkan. Apakah aku berhenti di waktu yang tepat sebelum benar-benar mabuk saat aku menjadi berani merayu Arwan di toilet tadi? Aku langsung menepuk dahiku. Pantas saja aku merasa tanpa beban dan rileks melakukan seks dengan Arwan. Read the rest of this entry »

KISAH NICO 05Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

AKU tidak pernah lagi menghubungi Dokter Brian sejak teleponku yang terakhir. Kupikir toh memang tak ada urusan selain perjanjian bahwa dia akan menemaniku ikut tes VCT di salah satu rumah sakit saat genap tiga bulan setelah peristiwa pemerkosaan terhadap diriku terjadi. Tentu aku khawatir dengan hasilnya. Ini adalah sebuah ironi ketika misalnya banyak orang secara serampangan berhubungan intim berganti-ganti pasangan tapi sama sekali tak tertular penyakit, sedangkan aku yang baru pertama kali melakukannya, malah langsung terkena.

Syukurlah kekhawatiran itu tak terlalu mengganggu keseharianku. Steven melakukan tugasnya yang baik sebagai sahabat. Kak Harrel sikapnya pun sudah melunak walau kebanyakan lebih karena tidak ingin berurusan denganku, tapi itu memberiku rasa tenang karena berimbas pada orangtuaku yang tak lagi ikut marah-marah terpancing hasutan Kak Harrel seperti dulu.

Agak sulit untuk mencari waktu di tengah kesibukan sekolah untuk mengunjungi rumah sakit dan melakukan tes VCT. Untunglah, ada hari libur tanggal merah yang bisa kugunakan untuk pergi ditemani oleh Dokter Brian yang saat itu berhasil menukar jadwal piketnya dengan dokter lain.
Read the rest of this entry »

KISAH NICO 04Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

TAK ada hari yang kulalui tanpa bermuram durja dan murung sejak peristiwa di hotel itu. Orang di rumah menyadari itu tapi tak ada yang berhasil mengorek apapun cerita dari mulutku. Aku menyimpannya rapat-rapat. Kak Harrel pun sepertinya tidak ingin mencari masalah denganku dan memilih tak berurusan denganku. Sikapnya yang menganggap aku tak ada sedikit membuatku lega. Aku tak tahu harus bicara dengan siapa. Sempat terpikir untuk menelepon Dokter Brian, tapi untuk apa aku berkeluh kesah dengan orang yang baru pertama kali kutemui.

Aku tak mau tahu tentang Arga. Sejak hari itu dia tak pernah menghubungiku lagi. Aku juga tak tahu apakah dia masih tinggal di rumahnya atau tidak. Aku berusaha tak melewati rumahnya saat berangkat atau pulang ke rumah.

Aku seperti orang sakit. Wajahku pucat. Mama selalu bertanya apa penyebabnya namun aku selalu bilang kalau aku baik-baik saja. Semester baru dimulai. Untunglah pelajarannya belum begitu sulit dan tak ada tugas menumpuk. Terlalu banyak pikiran membuatku tak sadar bahwa awal semester ini ada anak pindahan yang baru masuk. Dia duduk tak jauh dariku. Namanya Steven, wajahnya tampan, bibirnya berwarna kemerahan dan rambutnya sangat kejur serta berkulit bersih. Sesekali saat aku menoleh padanya, dia menyeringai sambil melambaikan tangan. Sok akrab betul, pikirku.

Suatu hari, aku mendapatkan secarik kertas menyelip pada bukuku. saat kubuka, ada tulisan di situ: “Gue tau elo gay. Gue juga gay. Kita bisa berteman baik kalo gitu. -Steve-”

Kaget membaca tulisan itu, aku buru-buru meremasnya kecil-kecil dan membuangnya. Aku menoleh pada Steven. Lagi-lagi dia nyengir menatapku. Aku membuang muka.

Saat istirahat, aku makan sendirian di kantin. Tiba-tiba Steven duduk di sebelahku sambil menepuk bahuku.

“Hei. Jadi.. gimana tawaran gue tadi?” tanyanya sambil tersenyum.

“Tawaran apaan?” tanyaku pura-pura bego.

“Tawaran pertemanan lah.. Denger, ya! Kita ini baru kelas satu. Temen kita masih pada polos-polos. Nanti lama kelamaan mereka tau ada yang ‘lain’ sama kita. Mungkin mereka akan mulai ngebully atau apa, tapi selama kita punya teman yang bisa diandalkan, kita akan survive sampai kelulusan nanti. Ngerti?” cerocos Steven.

Aku menghela nafas tak menjawab.

“Kalau begitu, gue anggap iyes. Nanti kita pulang bareng ya?” katanya penuh semangat sambil menepuk kembali bahuku sebelum dia pergi.

Dan sore itu aku tak bisa menolak saat Steven mengajakku pulang bersama. Yah, tidak bisa dibilang sama-sama juga kalau ternyata kita berjalan hanya sampai di gerbang sekolah.

“Elo pulang naik apaan, Steve?” tanyaku.

“Dijemput Papa. Lu orang pulang naik apa?” tanyanya.

“Angkot.”

“Sebenernya gue mau ajak lu ikut. Tapi karena kita baru berteman sehari, besok-besok baru kita bareng, ya?” kata Steven riang.

“Nah, itu bokap gue,” kata Steven saat sebuah mobil menepi di seberang jalan.

Seorang pria berumur empatpuluhan namun masih terlihat muda dan gagah keluar dari mobil dan memberi isyarat tangan agar Steven menghampirinya.

“Keren juga bokap elo. ” kataku memuji.

“Ganteng ya? Bokap punya usaha pusat kebugaran. Masih sering latihan dan jaga badan supaya brand imagenya tetep tinggi dan tempat gymnya laku.” jelas Steven.

“Uh.. kalau dia mau apa-apain gue, gue sih rela..” candaku.

“ENGGAK BOLEH! Enak aja! Bokap gue cuma milik gue!” Steven tiba-tiba mendadak emosi dan seperti orang yang overprotektif.

“Ya ampun, Steve. Gue cuma bercanda…” kataku sambil tertawa. Read the rest of this entry »