Archive for the ‘Perjaka Yang Terkoyak 1-7 (Tamat)’ Category

Perjaka-7Cerita sebelumnya: Deni, yang biasa dipanggil Asep, diajak tinggal di rumah Teh Lina, kakak sepupunya. Asep harus menghadapi keanehan Kang Ibra, suami dari kakak sepupunya yang seringkali mengajaknya bersetubuh. Tak disangka, Kang Ibra rupanya bersekongkol dengan mahluk gaib yang menyamar menjadi dirinya dan ikut menikmati tubuh Asep. Asep yang terlambat menyadari hal itu keburu disekap oleh Kang Ibra di sebuah rumah tua. Asep yang mencoba melarikan diri, justru dihalangi oleh Teh Lina sendiri.

“BANGUN! Ayo bangun!” hardik sebuah suara perempuan yang kukenali sebagai suara Teh Lina.

BYURR! aku megap-megap kesulitan bernafas saat wajahku mendadak tersiram oleh air dingin. Saat aku benar-benar telah siuman, aku bisa melihat jelas Teh Lina sudah berada di dekatku. Rambut panjangnya yang biasa terikat rapi kini terurai berantakan. Kurasakan ada sakit menyengat pada daerah tengkuk hingga aku sadar bahwa itulah penyebabku tak sadarkan diri. Saat aku mencoba bergerak, aku baru sadar jika kedua tangan dan kakiku terikat pada sebuah dipan kayu keras dan lembab. Aku mencoba menarik lenganku (more…)

Advertisements

1620607_1381021775498102_100211891_nAKU seperti baru saja terbangun dari tidur yang maha panjang. Rasanya baru kudengar teriakanku sendiri. AKu mengatur nafas. Mataku menatap langit-langit kamar yang terasa asing, dingin, dan lembab. Aku mencoba mengidentifikasi keberadaanku. Astaga! aku baru ingat. Aku baru saja disetubuhi oleh Kang Ibra dan kembarannya yang merupakan jelmaan mahluk gaib berwujud hitam besar dan berbulu. Dan.. mahluk itu mengoyak perutku. (more…)

Perjaka-5ACerita sebelumnya: Deni, yang biasa dipanggil Asep, diajak tinggal di rumah Teh Lina, kakak sepupunya. Tak disangka, diam-diam Kang Ibra, suami Teh Lina merayu Asep hingga mereka melakukan perselingkuhan. Keanehan mulai dirasakan Asep saat dia curiga ada sosok Kang Ibra lain yang juga mengajaknya bercinta. Bukan itu saja, dirinya pun selalu dihantui bayangan hitam mengerikan. Dan malam itu, setelah Asep bercinta dengan Kang Ibra, sosok hitam itu muncul di kamarnya.

MATAKU membelalak saat sosok hitam di sebelah Kang Ibra mulai nampak jelas. Besar, berbulu, dengan wajah bengis mengerikan, sama seperti yang kulihat sebelum kedatangan Kang Ibra ke kamarku. Giginya besar-besar hingga barisan atasnya terlihat menyembul keluar. Dua gigi yang sepertinya taring, mencuat lebih panjang dibanding yang lain. Kudengar hembusan udara dari mahluk itu yang seolah sedang bernafas. Dingin, bengis, penuh nafsu. (more…)

Per-4anHAMPIR enam jam aku tak sadarkan diri. Rupanya Kang Ibra dan Teh Lina curiga ketika sambungan telepon kami terputus dan memutuskan untuk kembali ke rumah. Mereka menemukanku tidur di atas sofa dan sudah berpakaian. Aneh, padahal setahuku aku pingsan di dapur dan hanya mengenakan handuk. Awalnya aku tak ingin bertanya bagaimana keadaanku saat ditemukan, karena aku malu bila mereka tahu aku terlihat baru saja ‘melakukan sesuatu’ dengan badanku sendiri. Tapi akhirnya aku tak tahan. (more…)

Perjaka -3SEPERTINYA aku tertidur lama sekali. Tiba-tiba aku terbangun sambil terbatuk-batuk. Keringat dingin membasahi tubuhku seolah aku kehabisan nafas. Ketika melihat jam di dinding, aku menjadi bingung. Ternyata sudah hampir setengah tiga pagi. Padahal setahuku, setelah aku bercinta dengan Kang Ibra, aku langsung terlelap dan merasa tidur lama. Aku memeriksa diriku sendiri yang sudah berpakaian dan spreiku yang agak berantakan. Apa mungkin dengan ‘tidak sopannya’ aku langsung tertidur setelah puas bercinta lalu Kang Ibra memakaikan kembali pakaianku sebelum dia kembali? (more…)

Perjaka-1SEPERTINYA Kang Ibra berusaha berpura-pura tidak terjadi apa-apa antara kami berdua sejak peristiwa terenggutnya keperjakaanku. Mungkin Kang Ibra tipikal pria brengsek yang setelah berhasil mendapatkan keinginannya, lalu dia kembali pada pernikahaannya yang bahagia. Terus terang, hal itu membuatku sedikit kecewa. Aku memang merasa tak enak dengan Teh Lina, tapi di sisi lain aku merindukan sentuhannya. Aku berusaha tak menunjukkan perasaanku sebenarnya walau setiap kali ada kesempatan aku berdua dengan Kang Ibra. Rupanya dia seperti sudah kehilangan minat terhadapku, dia pergi berangkat kerja dan pulang seperti biasa tanpa pernah menatapku buas seperti waktu itu. (more…)

996781_1392138864370466_557703377_nNANTI kamu bantu-bantu Teteh di rumah, ya Sep?” kata Teh Lina, sepupu jauhku yang tinggal di Bogor. Kami sedang berada di mobilnya ditambah seorang supir yang duduk di belakang kemudi dalam perjalanan dari Garut menuju Bogor.

“Iya Teh…” jawabku.

Namaku Deni. Karena aku anak lelaki satu-satunya di keluarga, orangtuaku lebih suka memanggilku dengan sebutan Asep. Dan itu menyebar hingga seluruh kerabatku hingga kadang mereka lupa nama asliku sebenarnya.

Aku baru saja lulus SMA. Teh Lina, saudara jauhku mengajakku untuk tinggal di rumahnya. Karena orangtuaku hidup pas-pasan, maka tawaran Teh Lina untuk membiayai kuliahku kuterima dengan suka cita. Sungguh. Aku tak keberatan bila harus membantu Teh Lina mengerjakan urusan rumah tangganya. Toh, aku sudah terbiasa membantu orangtuaku di rumah seperti mengepel, mencuci, merawat kebun, dan lain-lain. (more…)