Archive for the ‘Menatap Bintang di Langit Luwuk’ Category

Luwuk----PUTRA terkejut saat ada yang merangkulnya dari belakang. Secara reflek dia mencoba melepaskan diri dan menepiskan tangan itu. Putra mundur beberapa langkah dan mencoba mencari tahu siapa yang baru saja memeluknya.

Butuh waktu agak lama mengenali orang yang berdiri tak jauh dari Putra di kegelapan malam ditambah padamnya listrik. Putra pikir orang itu adalah Nemanja, tapi tubuh Nemanja lebih jangkung dari sosok itu. Orang itu ternyata… Dewo.

“De..Dewo?” tanya Putra tak yakin.

“Iya Put, ini gue..” sahut Dewo.

“El.. Elo nyusul?” tanya Putra.

Dalam kegelapan, Putra bisa melihat Dewo mengangguk. Rambutnya bergerak-gerak tertiup angin laut.

“Kenapa…?” tanya Putra.

“Gue nyusul elo karena… karena…” ucapan Dewo terhenti saat perhatian dia dan Putra teralihkan oleh seseorang di kegelapan yang menyalakan rokoknya.

Dari korek api yang menyala, Putra bisa mengetahui bahwa orang yang merokok itu adalah James. Dia tak menyadari kehadirannya selain kehadiran Dewo dari tadi. (more…)

Luwuk-99Cerita Sebelumnya: Setelah Putra dikecewakan oleh Dewo, sahabat baik yang diam-diam dicintai olehnya, Putra menerima tawaran Nemanja, pria asing yang baru saja dikenalnya di kota Palu, untuk menemaninya ke kota Luwuk. Dewo yang menyesal berusaha mengejar Putra namun terlambat. Akankah Dewo menyusul Putra? sementara itu Nemanja tampaknya tak akan menyia-nyiakan kesempatan romantis bersama Putra di kota yang indah itu.

PESAWAT akan segera mendarat di Bandar Udara Syukuran Aminuddin Amin di Luwuk sebentar lagi. Baik Putra maupun Nemanja keduanya sudah menegakkan sandaran kursinya kembali. Nemanja tertawa kecil saat Putra mengambil biskuit Oreo kemasan mini miliknya dan milik Nemanja serta memasukkannya ke dalam tas.

“You’ll find plenty of that kalau kita sampai..” kata Nemanja sambil terkekeh.

“Ah, enggak kok.. saya memang suka simpan makanan dari pesawat kalau memang enggak termakan,” sahut Putra malu.

Putra memang agak aneh dengan maskapai penerbangan lokal ini. Waktu tempuh ke Luwuk memang tidak terlalu lama, tetapi mereka tetap memberikan komplimen berupa air mineral, roti kecil, dan sebungkus Oreo mini. Dan Oreo yang tidak sempat dimakan oleh Nemanja dan dirinya, dia simpan baik-baik ke dalam tas. (more…)

Luwuk-8Cerita sebelumnya: Putra bersahabat dengan Dewo cukup lama. Diam-diam Putra mencintai sahabatnya sendiri namun tak berani mengutarakan perasaannya hingga dia memilih mundur. Suatu hari, Dewo mengajak Putra menemaninya ke Palu untuk mengejar pria idaman Dewo yang bernama James. Dalam perjalanan, seorang pria asing bernama Nemanja jatuh hati pada Putra. Sayangnya, Dewo menjebak Putra dalam permainan James yang melibatkan mereka pada permainan bertiga. Putra yang menolak, memilih meninggalkan Dewo.

AIR MATA Putra yang meleleh membuat Nemanja menghentikan cumbuannya.

“Maaf.. saya enggak bisa,” kata Nemanja sambil bangkit dari ranjang.

“Why?”

“Saya enggak bisa melakukan ini sementara dalam bayangan kamu, you are with someone else…” jelas Nemanja.

Putra mengusap airmatanya. Dia merasa bersalah karena memang itulah yang dia lakukan: memanfaatkan Nemanja untuk menghibur sisi hatinya yang kosong, yang terluka karena perlakuan Dewo padanya.

“Maaf.. kalau begitu saya pergi saja…” kata Putra sambil ikut bangkit hendak mengambil kopernya.

“No..no..no… tinggal di sini. Please!” larang Nemanja.

“Besok saya mau pulang ke Jakarta.” kata Putra. (more…)

MBDLL - 6SUDAH hampir jam dua pagi dan Dewo yang malam itu benar-benar terbuai oleh pesona James benar-benar melupakan Putra. Keduanya mengambil tempat di sebuah sofa yang terletak di sudut. Saling berangkulan.

“Putra kemana?” tanya James.

“Hmm… gak tau. Udah balik ke hotel pasti,” Jawab Dewo sekenanya.

“Gitu ya? padahal sayang kalau gak diajak. Kita kan bisa bertiga,” kata James tersenyum.

Dewo agak kaget mendengar perkataan James. “Wh-what?”

“Aku bilang… sayang kalau-”

“ya-ya.. gue denger elo bilang apa. Elo serius?” potong Dewo.

“Why not? menurut aku sayang aja sudah sejauh ini datang tapi enggak bisa bersenang-senang? iya kan?” ucap James sambil berusaha merangkul Dewo.

Masih mencoba mencerna kata-kata James dan sedikit dilanda perasaan aneh, Dewo kembali bertanya pada James.”Elo suka sama Putra?” (more…)

MBDLL - 5JAMES benar-benar datang menjemput satu setengah jam dari waktu yang dia janjikan. Dewo kelihatan sekali sangat bersemangat.

“Mau ke mana kita?” tanya Dewo antusias ketika mereka bertiga naik ke dalam mobil.

“Lihat aja nanti. Bakal ada pertunjukan seru,” kata James nyengir.

“Gay bar?” tanya Putra.

“Hmm… sebenarnya bukan. Cuma memang hari-hari tertentu, orang kayak kita yang datang jauh lebih banyak. Lama-lama yang lain tersingkir dengan sendirinya,” jelas James sambil terkekeh. (more…)

MBDLL - 4WAKTU sudah menunjukkan pukul sembilan malam lewat duapuluh menit. Dewo memutar-mutar arlojinya untuk menyesuaikan dengan waktu Palu yang satu jam lebih awal daripada waktu Jakarta. Putra dan Dewo sedang menunggu kopor mereka muncul di tempat klaim bagasi pesawat. Putra mencari-cari sosok Nemanja, tapi sepertinya dia tidak membawa barang yang di simpan dalam bagasi sehingga dia dapat langsung pergi keluar dari Bandara Mutiara. Tadinya sempat terpikir oleh Putra bahwa dia bisa sedikit saja memanfaatkan Nemanja untuk membuat Dewo cemburu. Hah! tapi kau sendiri tidak tahu kan Put kalau dia gay? kecam Putra pada diri sendiri.

“Dijemput?” tanya sebuah suara dengan logat asing yang sudah dikenal Putra. Suara Nemanja. Tanpa disadari Putra, rupanya orang itu sudah berdiri dibelakangnya

“Hah? Oh-eh.. iya. Kita dijemput.” Jawab Putra gugup tak menyangka kalau orang yang dicarinya mendadak sudah ada di sebelahnya. (more…)

MBDLL - 3SUDAH setengah jam lebih Dewo menunggu Putra di Bandara. Dia memain-mainkan kopernya di pelataran terminal 1-B Bandara Soekarno-Hatta. Sesekali dia memanjangkan lehernya menatap ke jalan berharap taxi yang ditumpangi Putra muncul. Udara sore itu cukup panas. Sebenarnya Dewo sudah sangat ingin buru-buru check in dan menunggu di ruang tunggu yang berpendingin udara. Namun Putra sudah mengkonfirmasikan bahwa ada kemungkinan dia akan terlambat dari jadwal yang sudah disepakati karena mendadak terjebak macet.

“Adik mau ke mana? Makassar juga seperti saya?” tanya seorang ibu gemuk berkerudung dengan ramah.

“Eh? oh.. saya mau ke Palu bu..” jawab Dewo. Dewo melihat di depan si Ibu itu ada dua buah troli dengan beberapa tas kopor dan kardus-kardus besar.

“Palu ya? saudara ibu juga banyak di sana.”

“Banyak banget bawaannya bu? oleh-oleh?” tanya Dewo penasaran.

“Bukan dik.. Ibu mau jualan di sana. Isinya baju-baju.” jawab si Ibu. (more…)