Archive for the ‘Kartu Memory – The Series I’ Category

image

By: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Harrel dan Bhayu awalnya tidak akur di SMA. Beberapa kejadian menyatukan mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah selesai kasus kematian Om Herlan dan pembalasan dendam dari istrinya, apakah hubungan mereka bisa terus bertahan? Di lain pihak, tetangga Harrel yang seorang polisi mengetahui hubungan Harrel – Bhayu dan sempat mencurigai mereka terlibat kejahatan. Belakangan polisi itu menerima kiriman surat kaleng ancaman berisi fotonya yang sedang bercinta dengan pria.

*Baca juga: KARTU MEMORI I – II, KISAH NICO

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, cerita, dan tempat, murni hanya kebetulan. Beberapa adegan mungkin terlalu eksplisit dan tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Dalam cerita mungkin digambarkan seks tanpa kondom semata demi kepentingan cerita. Namun saya selalu mendukung hubungan seks aman. Selalu gunakan kondom!

BAGIAN 2

HARREL baru saja hendak menutup matanya untuk tidur saat ponselnya berbunyi. Nomor ponsel Bhayu. Mungkin dia mau bilang kalau sudah sampai di rumah. Tadi Harrel sempat mengirimkan pesan menanyakan apakah Bhayu sudah sampai di rumah atau belum tapi belum ada balasan.

“Halo Bhay?” Sapa Harrel.

“Harrel.. ini mamanya Bhayu… maaf tante telepon kamu…”
Jantung Harrel langsung berdegup kencang. Mama Bhayu meneleponnya dini hari begini dan memakai ponsel Bhayu. Ini pasti ada yang tidak beres. Batin Harrel.

“Iya Tante… kenapa ya?” Tanya Harrel waswas.

“Bhayu.. kecelakaan. Enggak jauh dari rumah. Sekarang ada di rumah sakit…”

Mendadak tubuh Harrel terasa lemas. Dia langsung bangkit dari ranjang lantas menanyakan secara detail kondisi Bhayu dan rumah sakit tempatnya dirawat.

Limabelas menit kemudian, Harrel diantar ayahnya menuju rumah sakit. Di sana dia bertemu dengan mamanya Bhayu. Wajahnya sembab tampak habis menangis. Di ruang gawat darurat, terlihat Bhayu berbaring di ranjang. Seorang perawat sedang membalut kakinya.

“Tante.. gimana Bhayu? Maafin saya tante. Seharusnya tadi saya pulang sendiri gak perlu diantar Bhayu kalau akhirnya begini…”

Mama Bhayu menatap Harrel dingin. Biasanya dia sangat ramah terhadapnya. Entah mengapa malam ini dia terlihat sangat kesal.

“Nah.. kamu tahu kan akibatnya kalau pulang larut? Apalagi Bhayu sampai kecelakaan begini. Kamu gak usah repot-repot ke sini Rel, sebaiknya kamu pulang..” ujar Mama Bhayu dingin.

“Mah! Ini bukan salah Harrel! Orang itu nyeberang tiba-tiba. Bhayu mau ngomong dulu sama Harrel!” Sahut Bhayu dari atas ranjang.
(more…)

Advertisements

image

By: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Harrel dan Bhayu awalnya tidak akur di SMA. Beberapa kejadian menyatukan mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah selesai kasus kematian Om Herlan dan pembalasan dendam dari istrinya, apakah hubungan mereka bisa terus bertahan? Di lain pihak, tetangga Harrel yang seorang polisi mengetahui hubungan Harrel – Bhayu dan sempat mencurigai mereka terlibat kejahatan. Belakangan polisi itu menerima kiriman surat kaleng ancaman berisi fotonya yang sedang bercinta dengan pria.

*Baca juga: KARTU MEMORI I – II, KISAH NICO

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, cerita, dan tempat, murni hanya kebetulan. Beberapa adegan mungkin terlalu eksplisit dan tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Dalam cerita mungkin digambarkan seks tanpa kondom semata demi kepentingan cerita. Namun saya selalu mendukung hubungan seks aman. Selalu gunakan kondom!

BAGIAN 1

BHAYU menepikan motornya di pinggir jalan. Saat itu semester baru perkuliahan sudah dimulai. Bhayu dan Harrel kini resmi tercatat sebagai mahasiswa. Harrel yang dibonceng, turun dari jok belakang lalu melepas helmnya. Dia tersenyum menatap Bhayu.

“Jadi… mulai sekarang kita belajar di tempat yang beda ya?” kata Harrel. Dia mencoba tersenyum lebih lebar tapi pikiran bahwa dirinya tak lagi satu sekolah dengan Bhayu ke depannya saja sudah membuatnya kembali sedih.

Bhayu mengangguk. “Gak usah sedih lah.. masih satu kota ini, kan? Gue enggak ke mana-mana,” ujarnya.

“Ya.. tapi tetap aja. Nanti kita mulai sama-sama sibuk. Kalau enggak satu kampus, kan..” ujar Harrel.

“Hey.. kan kita udah sepakat. Elo harus kuliah di kampus yang sesuai sama minat elo. Begitu juga gue…”

“Yah.. Gue juga udah bayangin kalau seminggu ini aja kita bakalan sibuk. Masa orientasi mahasiswa aja baru dimulai. Gue mungkin lebih enak karena gak jauh-jauh keluar kota. Tapi elo.. yang mau masuk tim basket kampus, pake acara mendaki gunung segala.” Keluh Harrel.

(more…)

Kartu_M_Tamat BBy: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

Bantulah penulis blog untuk terus berkarya dengan membeli novelnya yang berjudul Heart Station di nulisbuku.com
http://nulisbuku.com/books/view/heart-station

TAMAT (BAGIAN B)

KEADAAN di Rumah Sakit menjadi sedikit gaduh. Bukan karena Ivan sudah sadarkan diri, tapi karena info mengenai hilangnya Linda dan kemungkinan besar dirinya sebagai tersangka pemukulan terhadap Ivan, keponakannya sendiri.

Imel menangis tersedu-sedu di pelukan neneknya. Neneknya Imel pun tak kalah cemas mendengar berita bahwa Linda diketahui membawa Bhayu pergi bersamanya. Dia berpesan pada Bima untuk membawa kembali Linda.

“Ibu punya dua anak perempuan. Yang pertama, mamanya Ivan sudah meninggal bersama menantu ibu. Sekarang keluarga ibu sedang diberi cobaan. Linda itu anak ibu yang agak sulit. Kelihatannya saja tenang, tapi dalamnya rapuh. Tolong pak polisi bantu selesaikan masalah keluarga ibu…” pinta nenek.

“Baik Nek. Tapi saya mau minta keterangan dari Imel kira-kira ke mana kemungkinan anak ibu pergi. Saya perlu  data properti yang dimiliki anak ibu,” kata Bima.

Nenek mengangguk. Dia lalu membujuk Imel untuk memberikan keterangan rumah yang dimiliki oleh ayah dan ibunya.

“Makasih Mel. Saya janji akan cari ibu kamu secepatnya,” ujar Bima ketika selesai mencatat keterangan dari gadis itu.

Bima kemudian pergi dan berpesan pada petugas polisi yang menjaga Bhayu.

“Kamu kabari saya kalau ada perkembangan di sini. Minta bantuan dan waspada kalau-kalau Linda kembali ke sini, mengerti?” kata Bima.

“Siap, pak!” jawab petugas polisi itu.

“Saya balik ke markas dulu,” kata Bima lagi sambil pergi. (more…)

Kartu_M_11ABy: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

TAMAT (BAGIAN A)
MENGETAHUI bahwa Ivan dapat menggerakkan jari tangannya, Imel dan Bhayu langsung keluar dari kamar dan berusaha memanggil perawat. Polisi penjaga yang berada di luar bersama nenek Imel terkejut melihat Bhayu yang ikut keluar.

“Hei! Kamu siapa? saya cuma kasih izin anak perempuan ini masuk!” tegurnya.

“Pak, makasih udah izinin saya masuk demi nenek saya, tapi Kak Ivan.. barusan bisa gerakin tangannya! bisa lupain dulu sebentar urusan teman saya ini dan panggil perawat atau dokter?” cerocos Imel.

Sejenak petugas polisi itu agak bingung antara harus memarahi Bhayu ataukah segera memanggil petugas medis. Kemudian dia sadar bahwa kondisi Ivan lebih penting. Dia lalu berjalan menuju ranjang Ivan dan menekan tombol pemanggil yang ternyata tak jauh dari ranjang.

Tak lama seorang dokter ditemani perawat datang ke kamar Ivan. Imel dan neneknya menjauh dari ranjang diikuti oleh Bhayu. Sayangnya, harapan mereka bahwa Ivan akan segera tersadar rupanya harus pupus. Dokter mengatakan bahwa kondisi Ivan sudah lebih stabil namun belum mengetahui mengapa Ivan belum juga terbangun. Dokter bernjanji akan memantau kondisi Ivan lebih lanjut.

Beberapa lama kemudian, rupanya Bima muncul. Dia lalu memarahi petugas polisi yang sampai kecolongan tidak mengetahui Bhayu bisa menyelinap dan membiarkan Imel masuk.

“Maaf, pak! saya tadi sibuk dengan Ibu Linda yang memaksa ingin masuk!” kata petugas polisi itu beragumen.

“Malam Nak.. tadi Ibu memang meminta pak polisi ini buat izinin Imel masuk… Ibu minta maaf, tolong jangan salahin pak polisi baik ini..” bela Nenek.

Bima menarik nafas gusar. Dia rupanya lemah pada wanita tua seperti neneknya Imel. Diapun mengangguk setuju walau kurang ikhlas. Bima lalu bertanya kembali pada petugas polisi itu. “Apa yang kamu lihat dari gelagat Linda?”

“Ng.. sepertinya dia sangat penasaran bertemu dengan keponakannya, pak. Tapi… saya merasa bukan seperti orang yang khawatir pada kondisi korban. Agak mencurigakan sepertinya,” jawab polisi itu.

“Kamu yakin?” tanya Bima memastikan.

“Yakin, pak,” jawab petugas polisi itu.

Tiba-tiba Bima melirik pada Bhayu. Bhayu yang dari tadi berusaha menjauhi dari Bima akhirnya tak bisa mengelak ketika Bima dengan gemas menghampirinya dan menarik jaketnya. (more…)

Kartu_M_10By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 10

PENANGKAPAN Harrel oleh pihak kepolisian membuat seluruh keluarganya terkejut. Di kantor polisi, kedua orangtua Harrel dan Nico, adiknya, beradu argumen dengan Bima. Harrel berada di sebuah ruangan untuk dimintai keterangan.

“Nak Bima kan sudah kenal anak-anak saya! kenapa Nak Bima langsung menuduh anak saya terlibat kasus ini, hah?” raung ayah Harrel.

Sementara itu ibu Harrel menangis di sebuah bangku panjang dan dihibur oleh Nico.

“Maaf pak. Tapi Harrel kedapatan berada di samping Ivan saat saya datang. Saya harus meminta keterangan dari anak bapak,” jelas Bima.

“Enggak mungkin anak saya mau membunuh nak Ivan! mereka berteman akrab!” ujar ayah Harrel lagi.

“Tante korban memastikan bahwa sebelum dirinya pergi, Ivan masih baik-baik saja. Itu sebabnya saya harus menyelidiki apakah ada keterlibatan Harrel dalam hal ini. Berdoa saja agar Ivan bisa selamat. Selama dia belum bisa memberikan keterangan, Harrel terpaksa menginap di kantor. Permisi,” kata Bima lagi sambil pamit.

“Saya mau ketemu anak saya!” panggil ayah Harrel.

“Nanti pak. Bapak bersabar saja,” ujar Bima.

“Nak Bima! Nak Bima!” teriak ayah Harrel.

Sebenarnya Bima tidak tega melihat kekhawatiran anggota keluarga tetangga rumahnya itu. Tapi situasi membuatnya terpaksa menahan Harrel untuk dimintai keterangan. Linda pun memberikan keterangan yang memberatkan Harrel. Dia bilang saat dirinya pergi menggunakan mobil Ivan, keponakannya itu masih baik-baik saja.

“Ibu Linda. Mengapa ibu menggunakan mobil keponakan anda untuk belanja waktu itu?” tanya Bima.

“Saya.. waktu itu pembantu di rumah saya sedang libur. Saya hendak memasak sesuatu untuk Ivan. Mobil saya masih di garasi, jadi saya gunakan mobil Ivan. Lagipula itu sebenarnya mobil saya juga,” jelas Linda.

“Kenapa anda tidak mengajak Ivan pergi makan siang saja di luar?” tanya Bima.

Linda tertawa kecil. “Ivan itu sudah seperti anak saya. Anak laki-laki yang tidak pernah saya miliki. Saya biasa masak sesuatu untuknya kalau dia datang.”

“Menurut Harrel, dia datang ke rumah anda karena diundang saudara Ivan untuk membicarakan sesuatu. Apakah anda tahu tentang masalah ini?”

“Mm.. Ivan tidak bilang apa-apa soal mengundang anak itu ke rumah…” kata Linda. (more…)

kartuuu_ori_II_9By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 9

BIMA masih menduga-duga maksud dibalik foto Harrel dengan Herlan yang didapatkannya dari kamera digital milik Harrel. Apakah Herlan menjadi korban pemerasan pemuda itu sehingga dia menjadi malu dan memutuskan bunuh diri? apakah hari itu sebenarnya Herlan hendak mengkonfrontir Harrel di sekolahnya setelah tak tahan diperas terus-menerus namun sial baginya, Herlan malah tewas ditabrak mobil?

Pagi itu dia sengaja menunggu Harrel keluar dari rumahnya. Dicegatnya remaja itu dan sengaja memancing reaksinya. Benar saja. Harrel menjadi gusar dan melontarkan kata-kata tak enak padanya.

“Mas tolong kerja aja yang bagus. Banyak penjahat di luar sana. Mas digaji dari pajak buat nangkap perampok atau pembunuh! bukan buat nakut-nakutin tetangga!” umpat Harrel.

“Loh? kenapa ini, mas? mas berkelahi sama Harrel?” tanya Tika. Istri Bima keluar setelah mendengarkan perdebatan antara suaminya dengan Harrel.

Bima tidak menjawab. Dia mengawasi Harrel yang berlari menuju pertigaan dan akhirnya hilang bersama angkot yang ditumpanginya.

Setelah menenangkan isrtrinya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Bima kembali ke dalam rumahnya. Tak lama ponselnya berdering.

“Halo?” sapanya.

“Pagi, pak! Kita sudah dapat laporan terbaru. Mobil atas nama Linda Sugandhi alias Linda Handoko itu dipakai oleh seorang pria. Kami sudah menyelidiki mobil itu dibawa ke sebuah apartemen yang sepertinya tempat tinggal pemuda itu.”

“Sudah dapat identitasnya?” tanya Bima. Pikirannya langsung tertuju pada pria yang mengaku sebagai tukang survey dan sering mengunjungi Harrel.

“Namanya Ivan. Sepertinya dia keponakan Ibu Linda dan Pak Herlan. Itu saja yang baru bisa kami dapat, pak!”

“Baik, terima kasih untuk laporannya,” tutup Bima. (more…)

kartuuu_ori_II_8By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 8
SUDAH satu jam perjalananku bersama Ivan dalam kendaraan namun aku masih belum menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Mas Bima sebelum kami berangkat. Rupanya Ivan masih bersabar menunggu. Aku akhirnya bercerita.

“Tadi.. Mas Bima bilang dia sudah tahu keterlibatan saya dengan kematian Om Herlan,” kataku.

Ivan masih terus menyetir memandang lurus ke depan dan bergumam. “Hm… sudah sejauh mana yang dia tahu?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Enggak tahu, kak.”

“Saya pikir sebaiknya kamu siap-siap ceritakan semua pada polisi itu daripada masalah ini makin runyam,” saran Ivan.

“Saya enggak mau semakin banyak orang yang tahu masalah ini, kak,” kataku.

“Saya juga bingung bagaimana cerita ini ke Tante Linda. Saya masih khawatir dengan reaksinya,” kata Ivan.

“Harus ya, kak? cerita ke Mamanya Imel?” tanyaku.

“Kamu mau sampai tante Linda penasaran terus-terusan dan nyuruh orang lain nyelidikin kalian?” tanya Ivan.

Aku terdiam. Ivan ada benarnya juga. Kasus ini ternyata masih meninggalkan petunjuk mengenai kematian Om Herlan. Bukan cuma Ivan, Tante Linda, kini Mas Bima pun ikut-ikutan curiga.

Dan sekarang, aku malah harus bertemu dengan Imel. Bagaimanapun aku masih menyimpan rasa bersalah. Bukan hanya kematian ayahnya yang mungkin disebabkan oleh perbuatanku menjebaknya di hotel, tapi lebih karena aku telah berani mendekati Bhayu ketika dia dan Imel masih berstatus pacaran. Aku lalu menoleh ke arah Ivan. Wajahnya memang terlihat tenang, tapi aku juga ingat kembali bahwa dia terpaksa mengambil alih bisnis om Herlan demi membalas budi dan melupakan keinginannya berpetualang keliling Indonesia. Dan itu membuatku semakin merasa bersalah.

Aku menutup wajahku sambil menghela nafas berkali-kali.

“Kenapa?” tanya Ivan.

“Semua ini enggak akan terjadi kalau saya enggak ngedeketin Bhayu…” kataku. (more…)