Archive for the ‘Heart Station’ Category

HS-Ori-PartBHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

Previewnya di sini:
https://binanandthecity.wordpress.com/category/heart-station/

SUKA CERITANYA DAN BERMINAT UNTUK DIKOLEKSI? PENASARAN SAMPAI AKHIR?
Novelnya sampai 10 BAB, bisa dibeli via online di nulisbuku.com
Klik http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

BONUS PART: IQBAL DAN TAHUN BARU – B

Ada yang penasaran sama Iqbal? Ini bonusnya untuk pembaca. (Tidak ada dalam novel)

Saat pagi hari tanggal tiga puluh satu, aku memutuskan tidak datang ke Plaza Semanggi melainkan ikut dengan adikku dan rombongan pacarnya pergi jalan-jalan di sekitar Tugu Kujang dengan mobil minibus carry yang sudah agak butut. Kami berangkat selepas maghrib. untunglah, jalur ke arah puncak sudah ditutup sejak jam dua siang tadi, sehingga arus kendaraan di jalan tol menuju kota Bogor masih terbilang lancar. Malam itu cukup cerah walau tetap berawan, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda akan turun hujan seperti malam sebelumnya. Daerah tugu belum terlalu ramai, oleh karena itu kami memutuskan untuk berjalan-jalan dulu di Botani Square Mall, mungkin menonton bioskop pertunjukan terakhir sehingga kita tidak menunggu terlalu lama menjelang detik-detik pergantian tahun. (more…)

HS-Bonus Part AHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

Previewnya di sini:
https://binanandthecity.wordpress.com/category/heart-station/

SUKA CERITANYA DAN BERMINAT UNTUK DIKOLEKSI? PENASARAN SAMPAI AKHIR?
Novelnya sampai 10 BAB, bisa dibeli via online di nulisbuku.com
Klik http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

BONUS PART: IQBAL DAN TAHUN BARU – A

Ada yang penasaran sama Iqbal? Ini bonusnya untuk pembaca. (Tidak ada dalam novel)

Mari aku ceritakan sedikit mengenai Iqbal dan keluarganya. Dilahirkan dengan nama M. Iqbal Ardiansyah pada tahun 1977, dia berayahkan orang Betawi dan ibu dari suku Sunda. Dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius, Iqbal sudah terbiasa mendalami pelajaran agama sejak dia kanak-kanak, termasuk kegiatan seninya seperti Marawis yang dia ikuti saat kelas tiga Sekolah Dasar. Anak bungsu dari dua bersaudara ini dari kecil dikenal pendiam, serius, dan agak sinis. Orangtua dan kakak perempuannya yang lima tahun lebih tua pun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sikap Iqbal yang perkataannya terlampau lugas dan hampir tak pernah berbasa-basi kepada sanak keluarga yang lebih tua. Prestasinya di sekolah termasuk biasa saja walau tak pernah terlempar dari peringkat sepuluh besar setiap tahunnya. Tak pernah membuat masalah, tidak pernah juga memperoleh penghargaan atas prestasi di suatu bidang. Yang pasti, dia sangat menyukai sepak bola sejak kecil. Iqbal pernah bilang, dia dulu tak pernah sekalipun melewatkan setiap akhir pekannya tanpa bermain sepak bola sore hari. “Kecuali kalau hujan badai Rem!” ujarnya. Karena aktif bermain sepakbola itulah, Iqbal tumbuh sebagai pemuda yang tinggi dan atletis pada saat memasuki masa remaja. Hanya saja, kulitnya yang seharusnya putih, menjadi legam karena aktifitasnya itu. (more…)

HS-5BHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 5B – SANG PENGUNTIT

Aku sendiri heran, mengapa buih-buih soda minuman rootbeer yang melayang-layang pada gelas kaca yang berada didepanku itu menjadi sangat menarik untuk kuperhatikan. Mungkin karena aku masih belum berani menatap Iqbal lama-lama yang kini sedang duduk dihadapanku. Aku tidak sedang berselera makan, bahkan saat memesan di kasir beberapa saat yang lalu, aku lupa meminta mbak pelayan untuk menukar rootbeer dengan seven up kesukaanku.

Sebelum turun dari kereta Iqbal meminta waktu untuk berbicara dengannya. Barusan aku menelepon kantor dan bilang kalau aku akan datang agak telat pagi ini. Sudah lima menit lebih kami berdua diam. (more…)

HS-5A

HEART STATION

By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

 

PART 5A – SANG PENGUNTIT

Sudah dua minggu sejak Iqbal memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan denganku. selama dua minggu itu pula aku mengungsi tinggal di rumah orang tua, berangkat dan pulang kerja dari sana dengan menggunakan busway. Benar-benar minggu yang berat buat aku untuk menjalaninya.

Sekarang aku mau cerita tentang jadwal berangkatku yang baru. Karena aku tidak ingin bertemu Iqbal, mulai senin itu aku berangkat mengikuti jadwal kereta berikutnya yaitu jam tujuh lewat sebelas menit. Dua puluh menit lebih lambat dari jadwal aku dan Iqbal biasa berangkat. Mundurnya jadwal seperti ini tidak membuatku terlambat masuk kantor, cuma kalau biasanya aku agak santai dulu di kantor sebelum jam kerja tiba dan bisa keluar untuk memilih-milih sarapan, kini aku terpaksa membuat sarapan sendiri di rumah.

Pak RT pun agak keheranan melihat aku yang berangkat lebih siang. “Rem.. kok tumben? kesiangan?” tanyanya ketika melihatku mendorong motorku keluar dari rumah.

“Enggak pak RT! sengaja kok.. bosen kepagian terus..” Jawabku.

“Fauzi nanyain Remy tuh… saya jawab aja lagi ngungsi ke rumah babenya..”

“Oh… dia kapan pindah ke mari pak?”

“Katanya sih enggak jadi, rumahnya mau dikontrakin dulu barang satu atau dua tahun..”

Itu artinya Fauzi batal menjadi tetanggaku setidaknya untuk saat ini.

Aku pun kemudian berangkat menuju stasiun. Aku memastikan tiba di stasiun setelah Kereta yang biasa dinaiki Iqbal telah berangkat. Matahari pagi sudah mulai terasa menyengat. Aku lupa karena terbiasa berangkat di pagi hari yang dingin, aku selalu mengenakan sweater atau kardigan vest selain jaket yang rutin aku pakai. Besok-besok aku tidak perlu memakainya lagi! pikirku. (more…)

HS-4HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 4 – SI CEPAK/SI BOTAK

SI CEPAK
Minggu pagi itu walaupun aku belum mandi aku sudah nongkrong di depan rumah calon tetangga baruku. Gimana enggak semangat? sejak aku tahu kalau calon tetangga baruku yang tentara itu segagah ini, aku jadi sering ke tempat dia. Apalagi dia yang sedang merapikan rumah barunya itu sering banget bekerja cuma mengenakan celana loreng hijau aja. Lumayan kan ada pemandangan bagus? enggak perlu ngintip! cukup ajak ngobrol.

Aku duduk diatas tumpukan batako sambil memain-mainkan pasir bahan bangunan. Sementara si Fauzi (Aku kasih nama itu ya, soalanya muka ama bodinya mirip banget Fauzi Baadila… itu kata aku lho…)

“Yonkes?” tanyaku.
Si Fauzi yang sedang mengaduk semen dengan cangkulnya menoleh, “Iya.. aku dinas di Batalyon Kesehatan….” Kemudian penjelasan lainnya seperti soal kepangkatannya di TNI tidak aku simak karena terpesona oleh bodinya.”… gitu mas”
Aku mengangguk-angguk pura-pura mengerti.
“Umur ente berapa sekarang?” tanyaku.
“26. Mas sendiri?”
“Ng.. taun ini 28.” jawabku.
“Kata Pak RT belum nikah ya mas?” tanyanya sambil tersenyum. Kini dia memindahkan adukan semen itu ke dalam ember. Kemudian si Fauzi masuk ke dalam dan tidak terlihat.
“Belum ada yang cocok… Ente sendiri? udah ada calon?” tanyaku dengan nada dikeraskan memastikan Fauzi mendengar pertanyaanku dari dalam.
“Belom mas! baru putus tiga bulan… katanya ndak tahan kalo jarak jauh. Dia tinggal di kampung mas…” Jawab Fauzi dari dengan suara keras juga. (more…)

HS-3HEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 3 – BRONIS GERBONG SATU

Seperti yang kubilang di awal cerita, pagi-pagi aku naik kereta express, sedangkan sore pulang kerja aku memilih menggunakan kereta kelas ekonomi. Selain menghemat ongkos, kereta ekonomi sore hari membuat Waktu tempuh sampai rumah malah lebih cepat kalau aku bisa mengejar jadwal jam setengah enam lewat sepuluh.
Iqbal hampir tidak pernah pulang naik kereta yang sama denganku. Karena dia pulang jam 6 sore, dia naik kereta ekspress jam 6:21. Paling-paling kalau kita habis jalan-jalan sepulang kerja, kita pulang menggunakan bus.
Pengalamanku naik kereta ekonomi, setiap gerbong itu pasti dipenuhi 3B alias Babun-babun Berisik. Julukan itu kuberikan kepada penumpang yang bergerombol, membentuk geng, dan janjian naik gerbong yang sama serta sangat ramai kalau berbicara. Satu geng disini bukan berarti harus orang yang seusia. Bisa saja satu kelompok 3B terdiri dari Cewek SPG yang selalu memakai jeans katrok plus kaus milik adiknya (kekecilan), bapak-bapak setengah baya yang genit dan suka mengambil kesempatan memegang-megang si cewek SPG, Cowok SPB yang kadang-kadang juga pacarnya si cewek SPG, atau kadang ibu-ibu yang kelihatan sudah berumur juga ikut gabung. Pokoknya dalam satu geng itu rupa-rupa deh bentuknya.
Hmm… ternyata penilaianku sedikit salah. Kalau kamu sedikit jeli ketika naik gerbong kereta ekonomi, diantara para 3B pasti terselip cewek-cewek bening dan brondong-brondong cakep yang masih fresh, walaupun termasuk golongan minoritas. Berbeda sekali dengan kereta ekspress dimana jarang sekali ada penumpang cewek bening dan brondong fresh. Karena kebanyakan sudah berumur, berkeluarga dan sudah bekerja lama (tidak termasuk aku lho….) dan mapan yang mampu membeli tiket express setiap hari. (more…)

HS-2Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

PART 2 – PANTAI ANYER

Jum’at pagi, rombongan besar terakhir sudah turun di Stasiun Juanda sehingga isi gerbong hanya tinggal kurang dari seperempatnya. Aku sedang sibuk membalas SMS teman dari kantor lama sementara Iqbal duduk disebelahku.
“Jadi kapan berangkatnya?” tanya Iqbal.
“Besok pagi jam 9,” aku menjawab sambil mengetik pesan singkat di ponsel.
“Sendirian?” tanya Iqbal lagi.
“Kayaknya sih sendirian. Ya.. kalo enggak paling sekamar ama yang masih singel juga,” jawabku sambil mengetik. Iqbal terdiam.
“Kira-kira kalo sekamar ama siapa?” tanyanya lagi.
Aku menghentikan kesibukanku mengetik dan langsung menutup flip ponselku. Kemudian aku menoleh ke arah Iqbal dengan sedikit kesal.
“Ente cemburu?” tanyaku pelan memastikan tidak terdengar oleh penumpang lain.
“Enggak!” kata Iqbal ketus.
“Ck..” aku mendecak kurang sabar lalu membuka flip ponselku dan mulai mencari-cari nomor kontak. (more…)