Archive for the ‘Cerita Abang Ipar’ Category

Brother_ori_2_6AKU membangunkan Shep dengan mengulum penisnya penuh nafsu. Aku tak bisa menahan diri. Aku terbangun sedang memeluk Shep. Dia tidur telentang, satu tangannya menutup matanya sedangkan lengannya yang satu menjadi bantal buat kepalaku. Mulutnya terbuka dan dia mendengkur. Kuangkat kepalaku dari atas dadanya yang berbulu. Aku bisa melihat jelas tonjolan ereksi paginya di balik selimut. Kuangkat selimut itu dan aku tak bisa menahan diri.

Aku bergeser ke dalam selimut dan mengulum penisnya dalam-dalam semampuku ke dalam mulut hingga pangkalnya. Sementara aku mengisap penisnya, kuusap jemariku pada bulu-bulu halus di perut dan dadanya.

Aku tahu Shep sudah bangun dari perubahan napasnya, tapi aku tak menghentikan perbuatanku. Dia mendorong selimut itu sehingga dia bisa melihatku. Aku menatap matanya mesra dan Shep balas menatapku dengan mata setengah tertutup dan mulut yang terbuka.

“Fuck, sayang… kau kelihatan seksi sekali dengan kontol di mulutmu. Oh, Sial.. ya.. hisap terus kontolnya, sayang…”

Aku memejamkan mata dan terus ‘bekerja’ pada selangkangan Shep, membuatnya semakin dekat pada puncak kenikmatan.

“Oh, sial! aku mau keluar!” Shep mendengus sementara tangannya memegangi kepalaku erat-erat. (more…)

Advertisements

Brother_ori_2_5INI benar-benar enak,” erang Shep senang.

Dia memakan segigit besar kue kering berbentuk keping salju berwarna hijau. Semua lampu di ruang tamu dipadamkan, kecuali lampu-lampu yang ada pada pohon Natal. Seluruh ruangan disinari kelip sinar redup lampu-lampu kecil.

Kami duduk bersandar di lantai sambil menyandarkan punggung kami ke sofa dan hanya menatap pohon sambil menyantap kue Natal.

“Mm-hmm,’ gumamku setuju saat aku menelan potongan terakhir kue berbentuk pohon dengan hiasan merah muda buatan Shep. Kuhabiskan susu dalam gelasku dan menaruhnya di meja kopi.

Aku menyandarkan kepalaku pada bahu Shep dan ia mengangkat lengannya dan meletakannya di sekeliling bahuku.

“Kau benar,” katanya pelan.

“Tentang apa?”

“Kita tak butuh siapapun selama kita bersama. Ada di sini denganmu, seperti ini… semua omong kosong lainnya jadi tak berarti. Kau keluargaku sekarang, Billy. Aku merasa menjadi diri sendiri.”

Aku duduk di atas pangkuan Shep. Kupegangi wajahnya yang brewokan itu dengan telapak tanganku, dan kuusap kumisnya dengan kedua ibu jariku hingga janggutnya. Cara dia menatapku mengirimkan desiran pada tulang belakangku dan membuat penisku mengeras.

“Aku menginginkanmu, Shep,” bisikku parau.

“Ingin kau juga.”

Kutekan pantatku pada tonjolan yang menyembul keras di celana pendek Shep.

Aku meraih ujung kaus singlet Shep dan menariknya serta melemparnya ke samping. Kuangkat tubuhku sedikit dan Shep melepas celana boxernya dan menendangnya jauh-jauh. Kuusap jemariku pada tubuhnya yang kekar. Kutelusuri dadanya yang berbulu kemudian menjalar hingga lengannya yang bertato.

“Kau seksi sekali, Shep. Aku sangat mencintaimu.” (more…)

Brother_ori_04HEY, coba tebak?” tanya Shep.

Aku mengambil sebungkus daging beku dan menutup pintu kulkas. Aku mengawasi Shep yang sedang mencuci tangannya yang penuh oli dengan sabun aroma jeruk kesukaannya. “Apa?”

“Bosku mengundang kita ke rumahnya untuk makan malam Natal.”

“Benarkah?”

“Yeah, kita ngobrol banyak, sambil betulin mobil klasik Torino tahun 70. Cantik sekali, aku dan Mac sudah lama mengerja-”

“Oke, tapi apa katanya?” potongku, sadar bahwa Shep tak akan berhenti bicara bila mengenai mobil klasik.

“Oh, maaf. Kita membahas masalah ‘coming out’. Dia bilang, aku harus memberi waktu pada orangtuaku. Dia bilang juga, butuh 32 tahun untuk orangtuanya sadar bahwa dirinya gay. Aku pikir aku harus memberikan waktu pada orangtuaku sebagai pertimbangan.”

Kuperhatikan Shep yang masih terus menggosok tangannya. “Mm.. aku tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Tapi kurasa itu masuk akal. Kau bilang apa padanya soal undangan makan malam itu?”

“Yeah, dia cukup cerdas ngasih saran soal beginian. Pertamanya sih agak canggung, tapi dia mudah diajak bicara. Kubilang padanya, aku akan bertanya dulu pada kau.”

“Aku sudah memikirkannya. Kurasa kita harus makan malam di rumah, hanya kita berdua. Itu akan jadi tradisi Natal kita pertama.”

Shep membilas tangannya dan menatapku. Dia menarik tisu dan mengangguk sambil mengelap tangannya. “Kau tahu, boleh juga. Kurasa aku suka ide itu.”

Aku menghampirinya dan merangkul pinggang Shep dan terpaksa berjinjit untuk memberinya ciuman.

“Mm,” gumamku di bibirnya. “Kau tinggi sekali.” (more…)

59724_334659596651552_1569220991_n“Kau yakin soal ini?” tanyaku, sesaat setelah keluar dari dalam truk milik Shep.

“Aku yakin. Sudah waktunya, Billy. Aku tak bisa terus-terusan sembunyi.”

Shep menutup pintu mobil dan aku menjajari langkahnya menuju teras depan rumah milik orangtua Shep. Aku tak pernah pergi ke rumah di mana Shep tumbuh. Daerah tempat tinggal Shep terdiri dari beberapa blok. Semua rumah di situ terlihat sama.

Aku menatap Shep, menghentikan langkahnya di trotoar sebelum kami tiba di teras. “Shep, aku tak mau kalau kau melakukannya karena terpaksa. Aku tak bermaksud untuk memaksamu.”

“Aku tahu, sayang. Malah sebenarnya, hubungan kita sudah bukan rahasia lagi. Makin banyak orang yang tahu soal kita. Keluargamu, teman kantor… Ayah dan Ibu akan tahu juga cepat atau lambat, itu kalau Wendy belum memberitahu mereka.”

“Mungkin lebih baik kalau hanya kau dan orangtuamu saja.”

“Dasar penakut.”

“Benar! aku penakut!”

Aku menarik nafas dalam-dalam saat berdiri di depan pintu rumah. Rumah itu bergaya pedesaan dengan banyak nuansa biru. Keramik bergaya lama di lantai depan pintu menarik perhatianku saat aku berusaha mengendurkan syaraf-syarafku yang tegang.

Shep mengetuk pintu dan mendorongnya. “Halo?”

Ibunda Shep bergegas menuju pintu menyambut kami. “Shep, sayang.” Dia mencium pipi Shep dan menoleh kepadaku. “Halo.”

“Ma, kau ingat dengan Billy Harper?”

“Tentu. Si anak tengah.” (more…)

1012440_420667948050716_1098220233_nHARI Jumatnya sepulang kerja, aku pergi ke bengkel tempat Shep kerja. Aku parkirkan mobilku di pelataran Midtown Auto. Kudengar diriku sendiri menghela nafas gugup. Ini akan menjadi kali pertama aku nongkrong bareng dengan Shep dan teman-temannya, jadi aku agak gugup. Teman-teman Shep ingin merayakan perceraiannya. Shep ingin aku ikut dan aku tak bisa menolak.

Aku melangkah masuk ke lobi sebelum jam tujuh. Bel pintu berdenting dan Dirk melangkah keluar dari kounter toko. “Hai, Billy,” ujarnya sambil menurunkan risleting seragam birunya setengah hingga kaus putihnya terlihat.

“Hai,” balasku sambil membuka jas.

Pria besar itu melewatiku dan mengunci pintu depan dan memasang tanda “TUTUP”. Aku pernah bertemu Dirk sekali, saat aku datang dan mempermalukan diriku sendiri setelah Shep putus denganku. Dirk adalah asisten manajer toko ini. Tubuhnya besar dan berjanggut lebat. Dia mirip sekali dengan beruang grizzly. Tampaknya dia pria yang ramah, Shep tak pernah berbicara buruk tentangnya. (more…)

1382423_1393419477557203_1247078967_nAKU bisa merasakan Shep memerhatikanku saat aku melepas pakaian hingga hanya mengenakan kaus dan celana pendek saja. Kutarik selimut lalu merangkak ke atas ranjang.

Shep melucuti pakaiannya hingga tersisa celana boxernya saja yang dia kenakan. Dia terdiam sesaat, kemudian melepasnya dan melempar celana itu ke keranjang. Aku tak bisa menahan diri untuk tak mengintip sekilas penisnya, tergantung lemas di antara kedua pahanya, kulupnya menutupi seluruh kepalanya. Pandanganku menjalar ke arah perutnya yang berbulu, lalu dada, dan terakhir wajahnya. Shep memandangiku saat dia memanjat ke atas ranjang dan berbaring di sebelahku.

“Kenapa pake baju?” dia bertanya pelan sambil menarik kausku.

“Aku agak capek,” jawabku malas, mengalihkan pandangan dari matanya. Melihat cara Shep menatapku membuatku merasa bersalah telah menggunakan alasan yang klise.

“Ah, baiklah,” katanya sambil menghela nafas dan berbaring telentang. Shep menatap langit-langit kamar sejenak, lalu menoleh ke arahku. “Aku akan menandatangani surat perjanjian perceraian besok, dan kemudian ada sesi dengar pendapat juga.”

“Baiklah, aku ikut denganmu.”

“Gak usah.”

“Tapi aku mau ikut. Terutama karena Wendy akan datang juga.”

Shep terdiam sesaat sebelum akhirnya dia bertanya pelan, “Kau tidak percaya padaku, ya?” (more…)

ImageAKU hanya mampu memacu mobilku hingga sekitar satu mil saja sebelum akhirnya harus menepi. Aku sangat gemetaran sampai-sampai tak mampu menyetir. Kuparkir mobilku dan terhenyak, menyandarkan dahiku pada stir mobil.

Aku terlonjak saat ponselku berdering. Kuangkat dan terlihat nama Wilson di layarnya.

Suaraku gemetar saat menjawab telepon itu. “Halo?”

“Hey, Billy, Ini aku. Kau baik-baik saja?”

“Um… Yeah, aku tak apa-apa,” kataku berbohong.

Hening cukup lama, lalu Wilson bertanya, “Apa itu benar?”

“Apanya yang benar?”

“Kau telah menggoda Shep?”

“Aku… bukan seperti itu, Wilson.” (more…)