Archive for the ‘Bang Zaky Satpam Mall (1-4 Tamat)’ Category

Bangzaky4ABDUL menyerahkan selembar kertas berisi wajah orang yang diduga sebagai pelaku penguras rekening bank memakai ATM palsu. Gambarnya tidak terlalu terang memang. Tapi wajah yang tercetak cukup bisa untuk memberikan ciri-ciri spesifik bila bertemu dengan orang yang dicurigai sebagai pelaku.

“Sudah ada tiga laporan. Semua rekening yang dikuras diambil di ATM mall ini. Ini tandanya kemungkinan ada orang dalam mall atau pekerja yang terlibat. Mungkin juga karena pengawasan kita di anjungan ATM kurang karena areanya gelap, dan tidak buka 24 jam, sehingga pelaku leluasa menguras isi ATM saat keadaan sudah sepi,” kata Pak Hario, pimpinan satuan kami saat kami memberikan briefing harian dan menyebarkan kertas bergambar wajah itu.

“Jadi, ada kemungkinan pelaku akan beraksi kembali. Tolong kerjasamanya untuk lebih ketat mengawasi pengunjung terutama orang yang memiliki ciri-ciri fisik tersebut. Demikian,” pungkas Pak Hario.

Kamipun bubar barisan.

“Semoga kita bisa nangkap orangnya, bro. Geregetan gue..” kata Abdul.

Aku mengangguk.

*** (more…)

Bangzaky3Cerita Sebelumnya: Zaky, seorang satpam yang bertugas di mall berkenalan dengan Fendi, pemuda 19 tahun karyawan sebuah toko. Zaky yang kesepian karena jauh dari istri dan anaknya, memanfaatkan Fendi untuk memuaskan syahwatnya. Sementara itu, karena sesuatu hal, kasus rekening orang yang terkuras di ATM mall membuat Zaky mencurigai Fendi.

KALAU saja kasus yang terjadi di mall ini adalah bobolnya ATM secara paksa, pastilah seluruh orang yang bertugas sebagai keamanan di gedung ini akan diperiksa satu persatu atau bahkan dipersalahkan karena kelalaian. Masalahnya, kasus tersebut adalah pembobolan rekening pribadi perorangan dengan teknik penggandaan kartu ATM. Dan pelaku bisa saja berbuat hal itu saat ramai hingga tidak mencurigakan. Itulah sebabnya, satuan keamanan hanya diperingatkan untuk lebih waspada sampai hasil rekaman dari CCTV keluar.

“Kenapa lu sepanjang briefing tadi ngelamun?” tanya Abdul sambil menepuk bahuku.

“Ah, masa sih?” kataku menyangkal.

“Iya. Apa ada orang yang elu curigain, bro?” selidik Abdul.

Aku menggeleng. “Enggak.. enggak.. cuma mikir aja. Lihay betul penjahatnya nyamar jadi pengunjung pura-pura ambil uang di ATM..”

Walaupun aku berkata demikian, tetap saja pikiranku tak bisa lepas dari bayangan Fendi. (more…)

bangzaki-2SEJAK kejadian malam itu, saat aku memaksa Fendi mengoral kontolku di toilet, aku jadi sering melamun. Entah kulakukan secara naluri atau tidak, aku seperti mencoba menjauh dari pemuda itu sehingga sulit sekali bertemu dengannya. Padahal aku sering melewati butik tas tempat dia bekerja, namun saat aku mencoba mencarinya, sosok Fendi tak pernah kulihat. Mungkin juga dia yang menjauhiku setelah trauma dengan kejadian malam itu. Trauma? tapi anak itu bilang terima kasih! terima kasih karena sudah kupaksa menelan pejuh? yang benar saja! pasti dia cuma basa-basi. Aku langsung membayangkan Fendi yang keluar dari toilet langsung berlari sambil menangis tersedu-sedu.

“Bro…? bro… dumbelnya dipake nggak?” pertanyaan Abdul membuyarkan lamunanku.

“Oh? eh? enggak. Gue udah selesai,” jawabku sambil bangkit dan mengusap keringatku dengan handuk. (more…)

BangZakyKATA Orang, tinggal di Jakarta itu susah. Apalagi buat orang yang pendidikannya pas-pasan, atau modal uangnya tidak cukup. Seperti aku ini. Terpaksa meninggalkan istri dan anak yang masih balita demi menjalani profesi baru sebagai petugas keamanan di sebuah perusahaan penyalur tenaga keamanan (outsourcing). Gajinya memang lumayan, tapi belum cukup banyak untuk bisa kutabung dan menyewa kontrakan yang lebih layak agar anak dan istriku bisa dekat bersamaku di sini.

Untunglah, aku bisa sedikit berhemat. Selain menyediakan mess yang cukup layak ditinggali (setiap orang mendapat satu kamar), untuk urusan menjaga kebugaran juga sudah disediakan oleh perusahaan sasana gym dan jadwal futsal rutin atau badminton setiap minggunya. (more…)