Archive for the ‘Bang Rosyid ditinggal Istri (Series)’ Category

Rosyid-ori-10(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Setelah mengetahui istri Rosyid hamil, yang ternyata bukan anaknya, Karim memilih ikut ibu kandungnya ke kota meninggalkan Rosyid. Masalah kembali muncul saat ayah tiri Karim berusaha mendekatinya. Rosyid kemudian menyusul Karim dan malah masuk ke dalam jebakan Pak Arman. Keduanya berusaha meloloskan diri dibantu Ibu Karim namun sayang, Bang Rosyid tertembak dalam sebuah perkelahian.

“BANG ROSYID!” Teriakku.

Sadar telah memakan korban, buru-buru Pak Arman memanfaatkan situasi dengan menodongkan pistolnya ke arah Ibu. Melihat pistol di tangan suaminya, Ibu menjerit ketakutan.

“LEPASKAN SENJATANYA!” teriak seseorang.

Rupanya ada beberapa petugas polisi yang menerobos ke dalam rumah. Melihat petuga polisi yang menodongkan senjata padanya membuat Pak Arman bingung sesaat. Tapi rupanya dia makin kalap. Ketika dia hendak meletuskan pistolnya ke arah Ibu, Polisi itu lebih dulu menembak Pak Arman dan mengenai kakinya.

Pak Arman berteriak kesakitan namun dirinya masih penasaran hendak menembak Ibu. Akibat usahanya itu, Petugas Polisi tanpa ampun menembak kembali Pak Arman. Kali ini tepat pada dadanya hingga pria itu kemudian ambruk.

Ibu berteriak histeris sambil menendang-nendang kakinya di atas lantai. Begitu sadar Pak Arman tak lagi berkutik, aku segera menghambur ke arah Bang Rosyid. Di tengah hiruk-pikuk, aku memanggil-manggil nama Bang Rosyid yang pakaiannya berlumuran darah sambil menangis.

**** (more…)

Rosyid-ori-9(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Setelah mengetahui istri Rosyid hamil, yang ternyata bukan anaknya, Karim memilih ikut ibu kandungnya ke kota meninggalkan Rosyid. Masalah kembali muncul saat ayah tiri Karim yang  berusaha mendekatinya. Rosyid kemudian menyusul Karim dan keduanya hendak kembali ke Desa. Sayangnya, Rosyid tidak muncul di tempat yang telah dijanjikan.

AKU masih melirik ke atas meja tamu di ruang kerja Pak Arman dan bertanya-tanya mengapa topi berladang milik Bang Rosyid bisa ada di situ. Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Sepertinya Pak Arman memang sengaja memancing reaksiku dengan meletakkan benda itu di atas meja.

“Kenapa? Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kamu mau ke mana?” Tanya Pak Arman.

Aku mengangkat wajahku berusaha tegar menantangnya. “Karim mau pergi dari rumah ini sama orang yang punya topi itu,” kataku sambil menunjuk topi Bang Rosyid.

Pak Arman menghentikan kegiatannya memeriksa dokumen dan perlahan menutup map yang berada di depannya. Dia lalu bangkit dari kursinya dan tiba-tiba menggebrak meja.

Aku terlonjak karena terkejut dan takut. Pak Arman lalu menghampiriku dan menarik kausku.

“Kalian berdua berani ngentot di rumah saya, hah?” geramnya.

Aku mengetatkan gigiku sambil gemetar. Akan tetapi mataku tetap menantang tatapan mata Pak Arman dengan berani.

“Masuk ke kamar kamu!” perintah Pak Arman.

Aku tidak menggubris perintah Pak Arman dan bertanya balik, “Di mana Bang Rosyid?”

“Kalau kamu masih mau lihat dia hidup, turuti perintah saya. Masuk kamar!” kata Pak Arman.

Aku tak punya pilihan lain selain menurutinya. Saat aku melewati sebuah lorong dan melihat ada troli dorong berisi piring bekas makan, aku mendekati troli itu dan mengambil sebuah pisau dari atasnya.

*** (more…)

Rosyid-ori-8(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Setelah mengetahui istri Rosyid hamil, yang ternyata bukan anaknya, Karim memilih ikut ibu kandungnya ke kota meninggalkan Rosyid. Masalah kembali muncul saat ayah tiri Karim yang  berusaha mendekatinya.

AKU tak perlu menunggu waktu lama untuk melabrak ibuku sendiri. Rasanya aneh bila semalam dia tidak mengetahui kelakuan suaminya yang diam-diam masuk ke dalam kamarku dan melecehkanku secara seksual.

Pagi itu, saat kami sarapan, aku mencoba beradu pandang dengan Pak Arman, ayah tiriku yang juga seorang Bupati. Anehnya, Pak Arman seolah tak terganggu dengan pandangan mataku yang yang menatapnya lekat-lekat. Setelah dia pergi, aku segera menghampiri ibuku. Rupanya dia seperti menghindariku setelah menyadari aku ingin berbicara dengannya.

“Ibu tahu kalau suami ibu berbuat enggak pantas sama anak ibu sendiri tadi malam?” tanyaku.

“Maksud kamu apa?” tanya ibu. Kedua alisnya tampak bertaut.

“Semalam Pak Arman masuk ke kamar Karim… dia..” aku menarik nafas panjang mencoba mengontrol kemarahanku dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi semalam.

“Dia gerayangin badan Karim.. dia paksa Karim ngelayanin nafsu bejat dia..” lanjutku geram.

Anehnya, wajah ibu terlihat biasa saja. Tak ada perubahan mimik pada wajahnya mendengar sesuatu yang seharusnya sangat mengejutkan itu.

“Kalau ini cara kekakan-kanakan kamu supaya bisa kembali ke desa, percuma…” ucap ibu dingin.

“Maksud ibu, Karim ngarang cerita, gitu?” tanyaku tak percaya.

“Jelas sekali kamu belum dewasa dan berkhayal yang enggak-enggak. Pak Arman itu pria baik!” semprot Ibu.

“Memangnya Ibu enggak denger suara dari kamar Karim, hah?” tanyaku.

Ibu menghela nafas. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan membalik badannya.

Aku yang tak puas, kemudian menarik lengan Ibu. Tiba-tiba ibuku memekik kesakitan. Aku heran, padahal aku tak terlalu keras memegang tangannya.

“Lho, ibu? kenapa?” tanyaku.

Kulihat ibu mengelus pergelangan tangannya yang tertutup blus lengan panjang berwarna putih. Ibuku memang hobi berpakaian tertutup sejenis blus lengan panjang sehari-hari. Dia tak menjawab. Kudekati dirinya dan kutarik lengan ibuku dan menggulung blusnya hingga siku.

Aku terkejut melihat lebam biru cukup besar pada lengannya. Terlihat seperti bekas pukulan yang sudah didiamkan beberapa lama. Aku mundur dua langkah dari ibu dan menatap matanya.

“Apa Pak Arman yang bikin ini ke ibu?” tanyaku memastikan. (more…)

Rosyid-ori-7(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Masalah timbul ketika istri Rosyid kembali ke Tanah Air dan kemudian diketahui sedang hamil. Karim memilih menjauhi Rosyid. Sayangnya, saat Rosyid mengetahui bahwa anak yang dikandung istrinya bukan anaknya, Karim memilih pergi dari desa.

RASANYA berat bagiku untuk pergi dari desa. Terlebih aku berjanji pada nenek untuk tidak menuruti keinginan ibu kandungku yang tiba-tiba datang setelah sekian lama tak peduli pada kami. Rupanya ibu tak patah semangat. Walau sempat diusir nenek, beberapa hari kemudian beliau datang kembali ke rumah dan mengutarakan maksudnya.

Ibuku masih tampak cantik di usianya yang nyaris empat puluh tahun. Setelah bercerai dari ayah, Ibu rupanya berkenalan dengan seorang politikus muda ambisius. Suami barunya memiliki karir yang menjanjikan untuk menjadi anggota legislatif dan masa lalu istrinya akan menjadi suatu hal yang mungkin akan menghambat karirnya apabila media mengetahui bahwa istrinya pernah menikah dan memiliki anak.

Kudengar suami baru ibu akhirnya terpilih menjadi Bupati. Setelah itu barulah kebenaran bahwa Bupati memiliki istri yang pernah menikah terungkap media. Rupanya keluarga suami baru ibuku tak keberatan lagi sekarang. Oleh karena itu, Ibu yang setiap bulannya mengirimkan uang pada nenek akhirnya berani menunjukkan wajahnya kembali ke rumah.

“Ibu enggak nyangka punya anak seambisius kamu, Er.” kata Nenek.

“Ini semua demi Karim, demi ibu juga..” kata ibuku dengan sikap tegak dan dingin berusaha seperti layaknya seorang istri pejabat terhormat. (more…)

Rosyid-ori-6(Terinspirasi film pinoy bertema gay)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Perasaan Karim bersambut. Rosyid bahkan telah mengambil keperjakaan Karim. Masalah muncul saat tiba-tiba istri Rosyid kembali ke Tanah Air dan belakangan ternyata hamil. Sementara itu, Karim yang baru saja lulus SMA terkejut mendengar kabar itu.

“KAMU mau ke mana, Yus?” tanyaku ketika melihat istriku seperti hendak keluar rumah sore itu sambil menenteng ponselnya.

“Eh, Bang.. mau isi pulsa dulu ke sebelah…” kata Yus. Tampaknya dia agak terkejut tak menyangka aku melihatnya keluar.

“Kayaknya sering amat beli pulsa, Yus?” tanyaku.

“Iya, Bang.. Yus kan sering telepon ibu.. buat tanya-tanya kehamilan,” kata istriku.

Aku menggumam sambil mengangguk.

“Makanan ada di meja ya, bang. Yus udah panasin tadi,” katanya lagi sebelum keluar dari rumah.

Aku mengangguk lagi sambil mengawasi Yus pergi. (more…)

Rosyid-ori-5(Terinspirasi film pinoy bertema gay)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Perasaan Karim bersambut. Rosyid bahkan telah mengambil keperjakaan Karim. Masalah muncul saat tiba-tiba istri Rosyid kembali ke Tanah Air…

JANGAN sms-an dulu ya rim?”

Begitu kalimat yang tertera pada layar ponselku. Itu adalah peringatan dari Bang Rosyid agar aku tak menghubunginya dulu. Kekhawatirannya dimulai sejak Kak Yus, istrinya yang bekerja sebagai TKI di luar negeri mendadak kembali tanpa pemberitahuan. Padahal aku sudah merasa bahwa Bang Rosyid sepenuhnya milikku. Tentu saja itu sebuah pemikiran yang bodoh. Bang Rosyid selamanya akan menjadi suami Kak Yus bila mereka tak berpisah. Kalaupun tak sekarang, suatu saat juga Kak Yus tetap akan kembali.

“Rim.. Karim.. sini keluar sebentar. Yus bawa oleh-oleh nih,” panggil Nenek dari ruang tamu.

Aku meletakkan ponselku di meja dan menarik kausku agar lebih rapi sebelum keluar kamar. Aku tidak terlalu dekat dengan Kak Yus. Dulu, sebelum dia pergi keluar negeri kami jarang bertegur sapa. Itu karena Kak Yus berasal dari kecamatan lain. Mungkin sesekali dia dan nenek mengobrol, tapi aku lebih tertarik memerhatikan Bang Rosyid daripada memedulikan istrinya.

Aku tiba di ruang tamu. Kak Yus sudah duduk dan sedang mengobrol sambil tertawa-tawa dengan nenek. Di atas meja ada kantung kertas tebal dengan tulisan bagus berwarna emas. Aku mengangguk pada Kak Yus sambil tersenyum. Aku menghampirinya lalu meraih tangannya dan menempelkan punggung tangannya pada dahiku. Kak Yus terlihat makin cantik. Mungkin di luar negeri dia rajin merawat diri. Rambutnya yang lewat sebahu tampak hitam mengilat. Kulitnya bersih dan mulus seperti sudah tersentuh perawatan mahal.

(more…)

Rosyid-ori-4(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim berkesempatan mengoral penis Rosyid dua kali. Rasa suka Karim bertambah dan menyerahkan keperjakaannya kepada Rosyid. Akankah mereka bersama?

SUARA azan subuh membangunkanku yang tertidur di atas meja. Aku mengucek mataku beberapa saat untuk mengembalikan penglihatanku yang memburam. Kulihat layar laptopku sudah menghitam. Saat kugoyangkan tetikusnya hingga layarnya kembali aktif, aku kembali kecewa karena setelah menunggu dari tengah malam, istriku yang berjanji akan melakukan panggilan video online, lagi-lagi tidak menepati janjinya.

Aku menghela nafas. Belakangan ini memang istriku yang bekerja di luar negeri sudah jarang menghubungiku melalui sambungan internet. Macam-macam saja alasannya. Sambungan kurang bagus lah, tertidur, atau banyak pekerjaan. Awalnya aku memang kesal, karena semua ide ini untuk memasang perangkat komputer lengkap dengan penunjang sambungan internetnya berasal dari istriku. Akupun mengiyakan usulnya karena ingin hubunganku dengan istriku berjalan mulus walau terpisah oleh jarak. Tapi pagi ini? rasa kesalku berkurang karena kejadian semalam. (more…)