Andro -2Bagian 2

RIZAL tak bisa menyembunyikan keterkejutan di wajahnya melihat Andro yang sudah ada di dekat rumahnya. Dia menduga-duga apa saja yang sudah dilihat pengemudi ojek itu. Begitupun Andro. Dia bingung bagaimana menjelaskan kepada Rizal akan keberadaannya di sana. Selama beberapa saat mereka berada dalam situasi yang canggung. Akhirnya Andro berinisiatif menyapa Rizal terlebih dahulu.

“Hey!” ujarnya sambil mendorong motornya mendekati Rizal.

“Eh.. Bang.. tumbenan? Erm.. maaf ya hari ini saya diantar pulang..” ujar Rizal mengulang pemberitahuan sebelumnya lewat SMS.

“Iya. Enggak apa-apa. Erm.. ini tadi saya lihat Mas lewat jadi sekalian saya ikutin. Soalnya mau.. mau… ambil boneka buat Naura yang kemarin mas Rizal bilang sudah belikan..” Andro lega akhirnya bisa menemukan sebuah alasan dia datang ke rumah Rizal dengan merujuk pada nama anaknya.

Rizal pun tampak menerima alasan Andro. Dia juga ikut lega. “Ah.. iya. Saya belum sempat kasih bonekanya. Maaf ya…” katanya. “Panggil Rizal aja bang.. enggak enak sama abang yang lebih tua. hehe.” lanjutnya.

“Oh.. iya Zal..” kata Andro.

“Sori Zal.. jadi ngerepotin. Maklumlah kalau anak kecil kan enggak bisa dijanjiin. Begitu cerita dibelikan boneka sama Om Rizal, dia tanyain terus tiap hari. Hehe..” ujar Andro lagi.

Masih sedikit canggung, Rizal mempersilakan Andro masuk ke pekarangan rumahnya. Andro memarkir motornya di teras dan kemudian duduk di kursi teras sementara Rizal membuka pintu rumahnya yang terkunci.

“Masuk aja Bang ke dalam.. Ngopi dulu, mau?” tawar Rizal simpatik.

Awalnya Andro ragu masuk ke kediaman rumah Rizal yang besar dan cukup mewah itu. Tapi dia penasaran dengan masalah yang menimpa pemuda itu, Andro menurut, walau entah harus bagaimana dia menyinggungnya nanti.

“Oke..” kata Andro.

“Mau ngopi mas? saya panasin air dulu..” tawar Rizal lagi.

“Enggak usah, Zal. Air biasa aja.” tolak Andro.

Rizal mengangguk. Kemudian dia beranjak ke dapur dan kembali lagi sambil membawa sebotol air mineral dan memberikannya kepada Andro.

“Sebentar ya bang. Saya ambil bonekanya dulu di atas.” kata Rizal.

Andro menjawab dengan anggukan.

Dua menit kemudian Rizal turun dengan membawa sebuah boneka beruang besar berwarna merah muda.

“Wah.. bagus banget, Zal. Duh.. nanti Naura minta mainannya yang mahal-mahal kalau dikasih kayak begini..” kata Andro.

Rizal tersenyum sambil menyerahkan boneka itu pada Andro. “Enggak lah, bang. Justru awet. Dia enggak bakal minta beli mainan lagi dalam waktu lama… aduh..”

Tiba-tiba Rizal meringis seperti kesakitan. Boneka yang dia pegang nyaris tergelincir.

“Kamu kenapa, Zal?” tanya Andro.

“Enggak apa-apa..” jawab Rizal.

Tapi Andro keburu melihat sesuatu pada kemeja Rizal. Bagian lengan atasnya nampak kusut dan ada koyakan memanjang dengan noda merah mengotori warna biru mudanya.

“Kenapa itu?” tanya Andro sambil menarik lengan Rizal.

“Eh.. enggak apa-apa bang..” elak RIzal.

Andro tak berkata apa-apa. Agak sulit melihat apa yang terjadi di balik kemeja lengan panjang Rizal. Menggulungnya pun hanya sampai siku.

“Ayo buka kemeja kamu..” perintah Andro.

Rizal menunduk seperti sungkan dan malu. Dia tidak langsung menuruti keinginan Andro. Walaupun dia sempat pergi ke pusat kebugaran dengan Andro, Rizal tidak pernah benar-benar berganti pakaian di depan abang ojek ini. Selain itu, Rizal memakai kaus yang tertutup

“Kenapa? Malu? Sama cowok ini.. Pantesan kalau ganti baju di gym suka ngumpet. Pemalu ternyata…” kata Andro lagi sambil terkekeh.

Akhirnya Rizal membuka kemejanya. Tubuhnya yang tak terlalu berotot seperti Andro serta berkulit bersih itu kini terekspos. Jelaslah sudah ada luka seperti cakaran dengan darah yang mulai mengering dan sempat merembes ke kemeja kerjanya.

“Ini kenapa? Kayak abis dicakar?” selidik Andro.

“Cuma kesangkut aja, bang..”

“Parah loh ini..” kata Andro. Sebenarnya pikirannya langsung mencurigai bahwa ini adalah perbuatan orang yang mengantar Rizal tadi. Tapi dia menahan diri untuk tidak menanyakannya langsung. Khawatir Rizal menjadi tak enak hati.

“Saya bantu obatin. Duduk di sini. Disimpen di mana plester sama obat luka?” tanya Andro

“Di.. di laci bawah TV..” jawab Rizal sambil menunjuk ke arah yang dia sebutkan.

Andro beranjak dan mengambil sebuah kotak berisi plester dan obat cair antiseptik. Dengan cekatan Andro mengambil kapas, membersihkan luka pada lengan Rizal dan menutupnya hati-hati.

“Baru sadar. Mulus banget sih badan kamu..” kata Andro spontan.

Rizal menatap Andro heran hingga pria itu salah tingkah.

“Eh, um.. maksudnya. Pasti orang tua kamu bangga ya punya anak ganteng. Tinggal cari menantu aja…” kata Andro.

“Orangtua saya udah meninggal dua-duanya bang..” sahut Rizal pelan.

“Oh.. maaf. Saya enggak tahu..” sesal Andro.

“Gapapa bang…”

Setelah selesai mengobati luka, Andro menepuk bahu Rizal.

“Beres! kalau mandi usahakan jangan kena air dulu ya?” kata Andro sambil membereskan kemasan kotak obat.

“Makasih Bang..” kata Rizal.

“Nah.. mendingan sekarang kamu istirahat aja. Saya pamit pulang dulu. Umm.. makasih ya bonekanya..” kata Andro sambil berdiri.

Rizal tersenyum sambil mengangguk.

Rizal lalu mengantar Andro sampai ke teras. Dia masih berdiri di sana sampai Andro menghilang di jalanan dengan motornya.

Dalam perjalanan pulang, entah mengapa senyum Andro mengembang. Sesampainya di rumah, dia menceritakan kejadian tadi pada istrinya. Tentu saja menyembunyikan bagian di mana Rizal hampir dicium paksa oleh seorang pria.

“Kayak kesengsem kamu, bang.. sama dia..” goda istri Andro.

Andro terbahak.Dia kemudian memejamkan mata sambil menikmati pijitan pada punggung oleh istrinya.

“Ssst.. jangan kenceng-kenceng, bang. Naura baru tidur.” protes istrinya. Andro melirik ke arah ranjang melihat wajah putrinya. Ah, pasti dia senang melihat mainan barunya besok.

“Kasihan si Rizal itu. Yatim piatu. Cari uang buat sendiri. Tinggal sama famili jauh malah ditinggalin. Abang bersyukur masih punya keluarga walau enggak hidup mewah…”

Istri Andro tersenyum. “Neng juga bersyukur punya suami kayak abang. Susah seneng kita jalanin berdua ya, bang?”

“Insya Allah neng…” ujar Andro sambil menarik lengan istrinya dan menciumnya mesra.

“Nah kan.. abang mulai genit nih..”

“Biarin lah.. kan Nauranya udah tidur.. yuk?”

“Yuk kemana?” tanya Istri Andro pura-pura polos.

“Ah, kamu Neng.. berapa tahun sih udah jadi istri abang?” Tanya Andro sambil meraih istrinya dan menggelitiknya.

Istrinya tertawa geli. Kemudian keduanya beranjak masuk ke kamar.

***

Beberapa hari ke depan, Rizal kembali menjadi penumpang setia Andro. Walaupun Rizal mencoba ceria, tapi lewat kaca spion, Andro bisa melihat jika Rizal lebih banyak muram dan wajahnya diliputi kesedihan.

Suatu malam Rizal mengirim SMS. “Bang, saya diantar, tapi tolong tungguin ya. Dari pangkalan saya mau naik ojek.”

Andro tak tahu harus membalas apa. Diantar tapi tetap naik ojek? Kenapa tak sekalian saja sampai rumah? Tapi Andro tetap menunggu sampai dia melihat kembali mobil yang pernah mengantar Rizal kemarin ke rumahnya keluar dari gerbang tol dan menepi.

Andro bisa melihat Rizal dan pria yang kemarin itu kembali berdebat. Tampaknya pengantar Rizal bersikukuh ingin mengantarnya pulang, tapi Rizal memaksa turun. Ketika perdebatan itu semakin sengit, Rizal memaksa keluar dan mobil itu mulai berjalan. Akibatnya Rizal tersungkur di aspal.

“Hey!” melihat kejadian itu hati Andro menjadi panas. Dia menggas motornya dan menghampiri Rizal. Melihat Andro datang, pengemudi mobil yang mengantar Rizal tampak panik. Dia kemudian melajukan kendaraannya cepat-cepat dan pergi dari sana. Andro sempat menggedor badan mobilnya dengan kepalan tangannya dengan keras. Kemudian dia menghampiri Rizal yang masih terduduk di aspal.

“Zal! kamu enggak apa-apa? ada yang luka?” sahut Andro sambil membantunya bangkit.

Rizal meringis sambil memegangi bahunya. “Enggak bang.. enggak apa-apa..”

Beberapa pengojek yang ada di pangkalan mulai mendekati mereka ingin tahu ada kejadian apa. “Ada apaan Dro? Kenapa?” tanya seorang pengojek.

“Enggak apa-apa.. Udah.. udah.. bubar.. saya antar dia pulang..” usir Andro tegas. Kemudian dia membantu Rizal naik motor dan meletakkan ranselnya di depan motor.

“Pegangan..” kata Andro.

Kemudian motor Andro pun melaju pergi. Keduanya tak sempat memakai helm.

Gigi Andro terkatup rapat karena marah. Dia sebenarnya tak tahan ingin bertanya siapakah orang itu. Tapi Dia hanya bisa diam selama perjalanan. Tiba-tiba Rizal tersenyum.

“Kenapa nyengir?” tanya Andro heran.

“Rambut abang wangi shampo. Seger..” kata Rizal.

Andro memang baru saja keramas dan keluar agak malam setelah mandi. Khusus untuk menjemput Rizal.

Tiba-tiba Rizal merangkul pinggang Andro dan meletakkan kepalanya di punggung. Andro heran namun dia membiarkan. Mungkin Rizal sakit sehingga dia harus berpegangan erat.

Setelah sampai, Rizal turun dan mengambil tas ranselnya dari tangan Andro. Dia mengulurkan uang pada Andro.

“Udah enggak usah!” tolak Andro.

“Ck! pekerjaan abang kan ngojek. Masa enggak mau terima?” ujar Rizal sambil memaksa memasukkan uang pada kantung jaket Andro. Andro tak kuasa menolak.

“Abang boleh mampir?” tanya Andro.

Rizal tak menjawab. Dia tampaknya sadar kalau Andro akan menyelidiki kejadian tadi. Dia pura-pura melihat jam tangannya, tapi dia tahu.. Andro tidak bisa dilarang.

“Boleh bang.. yuk masuk..” ajaknya.

“Siapa itu tadi?” tanya Andro tajam ketika mereka sudah berada di dalam rumah.

“Temen…” jawab Rizal.

“Temen macam apa? Kok maksa-maksa? Belum lagi maksa mau cium segala!” teriak Andro.

“Jadi abang ngeliat ya? Enggak sopan!” balas Rizal.

“Iya! Sekarang jelasin ke abang..”

“Saya musti jelasin apa sama abang? Ngaku dia pacar gitu? lalu pas abang tahu saya pacaran sama laki-laki, abang langsung jijik, gitu? Langsung pura-pura enggak kenal, gitu?” teriak Rizal.

Andro tertegun.

“Pacar..?” tanyanya pelan.

“Iya. Pacar! Abang puas? Sekarang abang pergi sana.. enggak usah ketemu saya lagi..” usir Rizal.

Andro terdiam. Tapi dirinya juga tak beranjak dari tempat itu. Dia tampak kebingungan. Kalau dari tuntutan moral dan lingkungan, rasanya dia ingin pergi dari rumah HOMO itu dan meneriakinya sambil menghinanya. Tapi dia tidak bisa. Tidak bisa karena dia sudah mengenal Rizal cukup dekat. Tak mungkin dia menghinanya.

Andro terhenyak. Lalu dia terduduk di sofa. Matanya menatap kosong suatu titik di hadapannya.

“Bang?” tanya Rizal.

“Kenapa kamu jadi homo?” Entah mengapa pertanyaan konyol begitu yang keluar dari mulut Andro.

Rizal mau tak mau harus menahan tawanya.

“Ya.. saya juga enggak tahu, bang…”

“Kamu kan belum tahu kalau belum nyoba sama cewek. Abang kenalin ya ke kenalan abang? seksi-seksi bohay bohay.. kamu.. kamu pasti.. euh..” Andro tak bisa melanjutkan kalimatnya.

Rizal tertawa pelan. “Percuma bang. Ini Rizal yang sebenarnya. Kalau abang enggak bisa terima keadaan saya, ya… saya paham kalau abang gak mau lagi temenan.”

Andro menghela nafas.

“Tapi kenapa.. kenapa musti pacaran sama orang kasar kayak gitu? luka cakaran kemarin itu dia juga kan yang bikin?” tanya Andro geram.

Rizal tanpa sadar memegang kembali bekas luka yang pernah diobati Andro.

“Abang enggak tahu. Di dunia homo pilihannya buat cari pasangan itu sedikit. Mas Fadli baik orangnya. Yah, emang kadang-kadang kalau dia lagi banyak kerjaan.. meeting yang enggak berjalan lancar.. deal proyek enggak tembus.. dia kadang lampiasin kemarahannya sama saya…”

“Nah, kan!” sahut Andro kesal.

“Tapi dia baik Bang.. dia minta maaf kalau udah marah-marah. Saya tahu dia sayang sama saya. Saya cuma bisa bersabar supaya dia bisa berubah lebih baik..”

“Sampai kamu koma dihajar dia gitu?” sindir Andro.

“Dia enggak pernah ngehajar saya!” bela Rizal.

“Cuma masalah waktu!” teriak Andro.

“Mendingan abang pulang… dan jangan usil sama kehidupan saya..” usir Rizal sambil membuka pintu rumahnya.

Andro mendengus. Dia lalu keluar menuju motornya. Rizal menutup pintunya tanpa menunggu Andro menghilang di jalan.

***

Tiga hari berikutnya Andro tak pernah mendapat kabar dari Rizal. Walaupun dia sudah menunggu sampai malam, Rizal tak pernah muncul dari bus, ataupun diantar pacarnya. Paling-paling dia menginap sama pacarnya lagi! gerutu Andro yang entah kenapa seperti pria yang sedang cemburu.

Di hari ke empat, Andro melihat Rizal turun dari bus. Tapi dia melengos begitu saja tanpa mau menghampiri motor Andro. Beberapa pengojek lain berusaha menawarkan jasa pada Rizal namun dirinya tak peduli dan terus berjalan.

Andro lalu menjalankan motornya dan mensejajarkannya dengan langkah Rizal.

“Mas..? ojek, mas?” tawar Andro sambil menahan tawa.

“Enggak bang. Makasih..” kata Rizal sambil tetap berjalan dan matanya lurus menatap ke depan.

“Kayak cewek lagi ngambek aja, mas.. jauh loh kalau jalan..” goda Andro.

Rizal tetap tak menjawab dan terus berjalan.

“Saya juga bisa mijit lho.. mas kelihatannya capek. Boleh lah.. ojek plus..” goda Andro lagi.

Langkah Rizal tiba-tiba berhenti.

“Beneran bang?” tanyanya.

“Huuu… mesum! enak aja. Ayo naek ah. Udah malem..!” sahut Andro sambil mentoyor kepala Rizal. Rizal tertawa sambil tersipu malu. Dia lalu naik juga ke boncengan motor Andro.

“Bang… masih boleh peluk gak?” kata Rizal selama dalam perjalanan.

“Boleh.. tapi jangan macem-macem ya.. apalagi kitik-kitik..” kata Andro memperingatkan.

Rizal tersenyum. Lalu dia melingkarkan tangannya pada pinggang Andro.

Sesampainya di rumah, Andro langsung membuka percakapan.

“Zal.. um.. Abang mau minta maaf. Kalau udah campurin urusan Rizal… Soalnya hal itu bikin abang teringat peristiwa dulu..”

“Peristiwa apa bang?”

Andro menarik nafas panjang. Kemudian dia melanjutkan ceritanya.

“Abang punya adik perempuan. Dulu waktu SMA dia kepincut sama laki-laki. Sampai akhirnya adik abang rela dinikahi selepas lulus SMA. Keluarga.. terutama abang sempat menentang karena abang lihat calon suami adik ini temperamennya kasar. Tapi adik abang memaksa minta restu atau dia bakalan kabur… akhirnya semua keluarga menyetujui.”

“Terus?” tanya Rizal.

“Awalnya kayak enggak ada apa-apa. Sampai adik abang mulai jarang ke rumah. Mulai jauh. Mulai tidak pernah bisa dihubungi.. sampai suatu hari.. ada telepon dari suaminya kalau adik abang sakit dan dirawat. Ternyata.. waktu abang lihat, muka adik abang sudah penuh memar. Bersyukur dia bisa selamat. Rupanya temperamen suaminya makin parah dan mulai menghajar adik abang. Awalnya minta maaf dan dimaafkan tapi lama kelamaan pukulannya makin sering..” Andro mengepalkan tangannya dan meninju jok motornya dengan geram.

“Abang hajar laki-laki bangsat itu dan minta dia menceraikan adik abang kalau tidak, abang laporkan ke polisi. Dia setuju. Adik abang masih muda, tapi statusnya sudah janda cerai..” Andro tercekat.

“Maaf bang…” Rizal merangkul pundak Andro.

“Makanya. Abang ngelihat pacar kamu itu bikin teringat lagi peristiwa tadi. Lelaki temperamen tidak akan ada kapoknya. Kamu itu harus hati-hati..”

Rizal tersenyum. “Makasih udah peringatin saya, bang.. saya janji bakal hati-hati..”

Andro balas tersenyum.

“Nah.. sekarang abang pulang dulu, ya? selamat istirahat..”

Keduanya saling mengucapkan perpisahan. Andro sedikit lebih tenang mendengar janji Rizal. Dia sudah menganggap anak itu seperti adik lelaki yang tidak pernah dia miliki.

Suatu malam, Andro seperti biasa menunggu Rizal. Tidak seperti biasanya, Rizal memakai topi dan menunduk. Dengan terburu-buru dia naik ke boncengan motor.

“Jalan bang..”

“Eh.. kamu kenapa? Kenapa pakai topi?” selidik Andro.

“Gapapa bang..” jawab Rizal.

Andro langsung membuka topi Rizal dan melihat lebam biru di bawah mata kirinya.

“Apa ini? Dia mukul kamu?” tanya Andro geram.

Rizal tak menjawab.

“Ck!” dengan perasaan marah, Andro menggas motornya kencang-kencang dan membawa Rizal di belakangnya. Rizal tampak ketakutan dengan ngebutnya motor Andro dan memeluk pinggangnya erat-erat. Andro bisa merasakan degup jantung Rizal yang menempel pada punggungnya.

Andro menghentikan motornya dengan mendadak di depan rumah Rizal. Rizal buru-buru turun. Dia ketakutan melihat reaksi Andro.

“Nah kan? Berikutnya kamu sms abang dari rumah sakit bilang abis dihajar sama orang itu!” ujar Andro.

Rizal menunduk. Kelihatan hampir menangis.

Tak berapa lama sebuah mobil menghampiri mereka. Mobil pacar Rizal. Pengemudinya keluar.

“Jadi ini pacar baru kamu, Zal?” katanya sambil menghampiri mereka.

“Mas Fadli? Bu.. bukan mas..” ujar Rizal ketakutan.

Andro yang sudah tak bisa menahan amarah, langsung turun dari motornya dan berjalan ke arah Fadli. Dia langsung melayangkan bogem mentahnya ke wajah pria itu hingga dia tersungkur.

“Apa-apaan ini?” teriaknya.

“Saya laporkan kamu ke polisi, ya!” ancamnya.

“Udah bang.. jangan.. jangan..” tahan Rizal sambil memegangi bahu Andro. Dirinya makin panik ketika lampu-lampu ruang tamu tetangganya mulai menyala. Sepertinya mereka terbangun dengan keributan ini.

“Oh, ya? lapor saja! Sekarang juga saya teriakin kamu HOMO! HOMO yang coba-coba ganggu adik saya! ngerti?” raung Andro.

Fadli gentar juga dengan ancaman Andro. Dia lalu berusaha bangkit dan bergegas menuju mobilnya. Kemudian Fadli menyalakan mesin mobilnya dan berlalu dari hadapan mereka.

“Ada apa ini? Kenapa Zal?…” tegur seorang pria paruh baya.

“Eh.. pak RT..” sahut Rizal gugup. Beberapa pria berjalan menghampiri mereka juga.

“Pak RT. Saya Andro. Abangnya Rizal. Saya tiap hari jemput dia pulang karena dia merasa terancam..”

“Bang…” ujar Rizal. Dia takut Andro menceritakan yang sebenarnya.

“Rizal ini pacaran sama anak pejabat. Ada pengusaha yang tidak suka kalau Rizal pacaran sama dia dan mengancam Rizal supaya menjauh. Dia ingin perempuan itu jadi istrinya. Makanya Rizal takut… kalau dia dibuntuti sampai rumahnya. Dan malam ini kejadian..” jelas Andro.

“Benar gitu Zal?” tanya Pak RT.

Rizal mengangguk takut-takut.

“Lantas bagaimana? Saya tidak ingin ada keributan di lingkungan ini. Kalau nak Rizal tidak bisa menjaga nama baik Pak Purwa sebagai pemilik rumah ini, dia harus cari tempat tinggal lain.” kata Pak RT.

“Jangan khawatir pak. Saya sudah peringatkan dia. Kalau dia masih macam-macam, saya ada kenalan di kepolisian untuk perkarakan masalah ini.” kata Andro tenang.

Pak RT terdiam sesaat. Lalu dia mengangguk dan meminta warga yang keluar untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Pak RT lalu berpamitan dan menyalami keduanya. Rizal mengucapkan terima kasih.

Andro mengantar Rizal sampai dalam rumah. Tadinya Andro hendak pulang, tapi tangan Rizal masih gemetaran. Sepertinya dia masih terguncang.

“Abang nginap di sini..” kata Andro sambil melepas jaketnya.

“Eh? nanti bilang apa sama istri abang?”

“Naura sama bundanya lagi nginep di rumah nenek. Abang ambil es dulu. Pipi kamu perlu dikompres..” kata Andro.

Di dapur dia mengambil handuk kecil bersih untuk membungkus beberapa butir batu es dari dalam freezer. Andro berjalan menuju kamar Rizal. Dia sudah duduk di pinggir ranjang. Andro mendekatinya. Dengan hati-hati ditekannya wajah Rizal dengan kompresan itu hingga pemuda itu meringis.

“Nah terusin… abang numpang mandi ya..” kata Andro.

Rizal memegangi kompresan itu sambil menunjuk tempat handuk bersih dan pakaian ganti berupa kaus dan celana pendek. Kemudian Andro menuju kamar mandi.

Setelah selesai, dia muncul dengan kaus dan celana pinjaman Rizal. Celananya tampak baik-baik saja, tapi kaus yang dipinjamkan agak kekecilan sehingga tonjolan otot Andro tampak sesak terbungkus.

Andro berdeham. “Gantian gih..” katanya. Melihat tubuh Andro, Rizal sedikit salah tingkah. Dia berusaha bersikap wajar dan buru-buru ke kamar mandi.

Andro lalu naik ke atas ranjang dan menutup tubuhnya dengan selimut. Matanya menatap kosong langit-langit. Sebenarnya dia ingin tidur di sofa saja. Namun dia takut Rizal tersinggung karena menganggapnya jijik sebagai homo dan tak mau berdekatan dengannya.

Saat Rizal selesai mandi, dia bertanya pada Andro. “Bang? gapapa tidur berdua? Saya di sofa aja?”

“Kenapa emangnya? kamu geli sama abang?” tanya Andro.

“Bukan bang.. kirain abang yang gak mau deket sama homo.. Kalau gitu ya sudah..” ujar Rizal sambil naik ke atas ranjang.

Selama beberapa menit keduanya terdiam sambil menatap langit-langit.

“Zal..”

“Ya bang?”

“Pacaran homo itu gimana sih? itunya.. maksud abang.. euh..” tanya Andro rikuh.

“Saya bottomnya bang.. yang dimasukkin pantatnya sama.. euh..” jelas Rizal tak kalah rikuh.

“Itu aja?”

“Saya.. sukanya sih ngoral bang.. itu.. ngemut.. umm.. lumayan jago lah.. tapi Mas Fadli gak suka dioral… eh.. maaf bang.. jadi ngelantur..” kata Rizal salah tingkah.

Andro terdiam. Dia meneguk ludah. Ah! di saat seperti ini kenapa batangnya malah mengeras? Sudah beberapa hari ini memang dia tidak mendapat jatah dari istrinya.

“Bang… makasih ya udah ngebelain saya…” kata Rizal. Awalnya dia hendak menepuk pundak Andro, akan tetapi saat tangannya tak sengaja ke arah selangkangan Andro, dia menyentuh benda keras di dalamnya.

“Bang..? kok tegang..?” tanya Rizal.

Andro menggeleng. “Udah lama ga ketemu istri.” jawabnya singkat.

Rizal terdiam.

“Bang.. biarin Rizal berterima kasih sama abang, ya?” katanya. Dengan hati-hati Rizal beringsut ke arah Andro dan menurunkan selimutnya. Perlahan dia meletakkan telapak tangannya di atas gundukan yang ada di selangkangan Andro.

“Zal.. jangan main-main.. Abang marah nih. Abang bukan homo..” kata Andro. Tapi dia tak bergerak atau melawan perbuatan Rizal.

“Iya bang.. saya yang homo. Makanya abang diam aja ya.. Rizal mau terima kasih ama abang…” kata Rizal pelan.

Kemudian Rizal menarik celana pendek Andro perlahan. Dan Voila! batang Andro yang tebal dan mengeras itu tersembul keluar dan berdiri hampir tegak.

Nafas Andro menjadi berat melihat kepala Rizal beringsut mendekati batang miliknya. Dengan lembut, digenggamnya batang Andro dan mengusapnya perlahan. Rizal sesaat mengagumi daging tebal dengan tonjolan urat yang berwarna kecoklatan itu. Rizal menjulurkan lidahnya dan mulai menjilati batang Andro dari pangkal sampai kepalanya. Andro berjengit dan nafasnya mulai tak beraturan. Dirasakan oleh Rizal paha tukang ojek itu mulai menegang. Mulutnya mulai mengeluarkan desahan.

“Bang…?”

“Hmm?” sahut Andro.

“Udah pernah nonton bokep kan? Adegan crot di mulut.. Rizal pengen abang crot di mulut Rizal nanti ya..?”

“Ditelen?” tanya Andro spontan. Terus terang dia terangsang dengan adegan oral sampai crot di mulut saat menonton bokep.

“Kalau itu mau abang…” sahut Rizal. Tanpa mengulur waktu. Dia mulai mengulum batang Andro. Andro menahan erangan sambil mencengkeram sprei ketika mulut Rizal mulai bekerja.

“Aaah..” desah Andro merasakan lembab dan hangatnya batang kont0lnya di dalam mulut Rizal. Kepala Rizal naik turun sambil tangannya menggenggam zakar Andro. Dia bertekad memberikan pengalaman tak terlupakan untuk pria kekar pengemudi ojek ini. Lebih hebat dari istrinya. Itu sebabnya, Rizal memamerkan kemampuannya mengulum batang Andro sampai seluruhnya masuk ke dalam mulutnya dan menahannya beberapa lama.

“Ouh.. Anjiii…” racau Andro takjub saat melihat batangnya masuk semua di dalam mulut Rizal dan merasakan nikmat gumulan lidahnya di dalam. Rizal mengeluarkan batang Andro yang telah mengilap basah itu sambil terengah-engah. Liurnya menetes di ujung bibirnya. Dia menatap Andro bangga. Andro tak tahu harus melakukan apa pada Rizal. Dia sungkan memegang kepalanya jadi akhirnya dia memilih untuk bersikap pasif dan membiarkan Rizal menservisnya.. maksud Andro, “berterima kasih” padanya.

Isapan mulut Rizal semakin ganas. Rangsangan itu membuat Andro merasakan benih sel-sel spermanya mulai menggeliat aktif di dalam zakarnya seolah-olah bergembira tuannya sedang melakukan tugas dan akan mengeluarkan mereka ke dalam liang vag1n4 istrinya seperti biasa. Rizal mengatupkan bibirnya rapat-rapat agar sensasi jepitannya bisa dirasakan batang Andro dengan sempurna.

Andro melenguh tak tahan lagi. Otot-ototnya mulai menegang. Semburan demi semburan cairan sperma keluar dari batangnya dan mengalir di dalam mulut Rizal. Andro merasa bersalah dengan calon-calon anaknya yang biasanya membanjiri peranakan istrinya kini mereka berakhir di dalam mulut seorang pria yang dengan rakus menelan mereka. Andro menggeliat sambil mengerang. Nafasnya tersengal-sengal. Batangnya kini menjadi sangat sensitif hingga saat Rizal menyapukan lidahnya untuk membersihkan kepala kont0lnya, Andro mengejang beberapa kali sambil gemetar.

Saat Rizal mengusap mulutnya. Andro buru-buru bangkit dan menghambur ke kamar mandi. Dia mencuci wajahnya berkali-kali dengan air yang sangat banyak dan membersihkan batangnya yang masih mengeras dengan semprotan dan membilasnya cukup lama.

“Apa yang baru saja dia lakukan? Ya Tuhan!” pikirnya merasa bersalah sambil melihat wajahnya di cermin. Apakah dia harus merasa bersalah karena menikmatinya? Menikmati permainan Rizal?

Perlahan dia kembali ke kamar. Dilihatnya Rizal sudah meringkuk dan tertidur. Dia heran anak itu sama sekali tidak membersihkan diri atau mulutnya. Dilihatnya botol air mineral di meja sebelahnya sudah hampir habis.

Andro memperbaiki letak celana dan kausnya dan perlahan berbaring di samping Rizal. Matanya tak bisa terpejam hingga pagi…

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. adrian_syah says:

    Bang remy, kenapa explore karakter n konflik si rizal kurang dalem. Jadi ketebak deh arahnya kemana.

  2. minho says:

    Kira-kira besok paginya ngapain ya?

  3. ArieWidya says:

    Yeeeee, akhirnya update juga. Happy ending dong. Besok pagi ngapain lagi ya. ???

  4. rio says:

    Suka karakter andro lelaki sejati ditunggu lanjutannya!!!!!!

  5. ali says:

    Emang ya bang remy selalu cetar dalam membuat sebuah karya sastra di tunggu kelanjutan nya

  6. hdmo08 says:

    Tulis yg banyak bang πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜ suka bgt

  7. Gusto says:

    Bang, pengen cerita yg ga pake adegan syur nya, yg perasaan atau persahabatan n pake hati, bukan nafsu.

  8. Vicky says:

    Bang remy ditunggu banget kelanjutannya. Tambahin adegan hot nya bang andro sm rizal. Jangan kelamaan sedih2annya. Uda terlalu sering yg sedih2 ato kentang2. Ga sabar mereka making love

  9. icebender says:

    Ceritanya keren! Gak sabar nunggu updatenya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s