BANG HAIDIR CALON SATPAM – 3 Tamat

Posted: September 8, 2016 in Bang Haidir Calon Satpam, Uncategorized
Tags: , , ,

image

BERTAMBAHNYA kedekatanku secara seksual berbanding terbalik dengan makin sedikitnya waktuku bersama Haidir sebelum pria calon satpam itu keluar dari rumahku dan tinggal di asrama. Aku sebenarnya tak perlu berharap lebih daripada sekadar hubungan intim dengan Haidir. Toh, mungkin dia menganggap bermesraan dengan pria hanya sebagai selingan sebelum kembali ke kehidupan lamanya sebagai seorang playboy penghajar memek wanita. Mana mungkin Haidir akan punya perasaan lain? Aku terlalu terbawa perasaan. Tapi terus terang, Haidir sudah mencuri hatiku. Belum pernah kutemui orang seperti dia. Terlebih dia tadinya seorang straight yang akhirnya dapat aku taklukkan.

Itu sebabnya keesokan harinya aku murung. Lusa, Haidir sudah pergi. Aku berusaha ceria namun tak bisa menyembunyikan keresahanku.

“Kamu kenapa, Don?” tanya Haidir.

“Enggak kenapa-napa, Bang..” kataku sambil mengaduk nasi yang ada di piring asal-asalan. Aku sampai tidak nafsu makan siang itu.

Haidir hanya mengangguk-angguk sambil bergumam.

“Abang nanti malam ke kamar kamu ya?” godanya.

Aku menggeleng. Haidir mungkin heran dengan tingkahku. Dia tampak kecewa dan murung. Aku sebenarnya tak tega. Tapi aku memang sedang tidak bersemangat.

“Doni masuk kamar dulu, bang..” kataku sambil meninggalkan Haidir di meja makan.

Aku mengurung diri di kamar seharian hingga malam. Haidir rupanya menuruti keinginanku untuk tidak diganggu. Padahal aku berharap dirinya nekad menerobos kamarku dan mengabaikan sikap tak peduliku seharian ini. Aku pasti akan luluh.

Tapi godaan Haidir begitu kuat. Aku seharunya tak terbawa perasaan. Biar saja beberapa hari ini menjadi kenangan terindah bersamanya sebelum kami berpisah. Apapun yang terjadi kelak, aku tak boleh sakit hati. Aku tak boleh kecewa. Jadi kuputuskan untuk membuat momen tak terlupakan terakhir kali untuk Haidir.

Perlahan aku keluar kamar mengendap menuju kamarnya. Sudah jam sebelas malam. Pintu kamarnya tak terkunci. Aku melihatnya tidur telentang dengan memakai kaus singlet hijau dan celana pendek. Sebagian wajahnya tertutup bantal sehingga hanya tampak hidung dan mulutnya yang sedikit terbuka. Tangan Haidir diletakkan di samping kepalanya sehingga bulu-bulu ketiaknya yang hitam rapi itu terlihat jelas dan menggoda.

Aku menghampiri ranjang Haidir. Kulihat torsonya naik turun seiring dia bernafas. Kuberanikan diri menggulung sedikit kaus singletnya hingga tampak perutnya yang kotak-kotak terlatih itu. Kudekatkan wajahku dan kucium lembut tepat pada kulit sekitar pusarnya. Kurasakan tubuh Haidir bergetar sedikit, namun tak terbangun dari tidurnya. Aku makin agresif. Kuhirup dalam-dalam wangi cologne pria bercampur aroma alami tubuhnya pada sekitar ketiaknya. Ini membuat nafsuku menggelegak. Aku lalu naik ke atas tubuh Haidir dan menjepit pinggangnya dengan kedua pahaku.

Aku merunduk dan mencium bibir Haidir cukup lama sampai memastikan pria itu bangun. Haidir gelagapan dan membuka bantal yang menutupi wajahnya. Dia terkejut melihatku sudah berada di atas tubuhnya.

“Don.. Doni?” tanyanya.

Aku tak menjawab. Kudekatkan lagi bibirku dan kucium bibir Haidir mesra. Haidir membalas ciumanku. Dia membiarkanku menarik lepas kaus singlet dari tubuhnya sementara kami terus berciuman.

“Umm… mmm…” gumam kami berdua.

Tiba-tiba Haidir menghentikan ciumannya.

“Kenapa berubah pikiran, Don? Kirain udah enggak mau ketemu abang lagi..”

Aku memeluk Haidir. “Doni sebenernya sedih abang bakalan pergi. Salah Doni kebawa perasaan padahal kita berdua cuma senang-senang aja bang… Tadinya Doni enggak mau lagi ketemu abang, tapi Doni putusin.. mau kasih kenangan terakhir sebelum abang pergi.”

Haidir tiba-tiba memelukku. “Maafin abang juga Don.. abang masih bingung harus bersikap gimana. Abang juga seneng bisa deket sama Doni. Tapi.. ada pacar abang di kampung yang…”

Aku menutup mulut Haidir tak ingin mendengar penjelasannya lebih lanjut. Kucium lagi bibirnya dengan mesra. Haidir lalu menarik bajuku hingga kami berdua sama-sama bertelanjang dada. Kuciumi leher Haidir yang tampak pasrah dan mendesah menikmati cumbuanku. Kujilati dadanya dan kumain-mainkan putingnya dengan rakus hingga Haidir mendesis sambil menggeliat. Aku bergeser semakin ke bawah. Dengan sigap kubuka celana Haidir dan celanaku. Batangnya yang sudah mengeras langsung kumasukkan dalam mulutku. Haidir mengerang sambil memegangi bahuku.

Kupaksa liurku berproduksi lebih banyak untuk membasahi kontol Haidir hingga dia mendesis keenakan. Aku lalu bangkit dan meletakkan kedua kakiku di sisi tubuh Haidir dan mengatur posisiku berjongkok. Aku menahan nafas ketika kuturunkan pantatku agar batang Haidir yang sudah tegak dan keras itu bisa menerobos anusku. Walaupun aku masih belum rileks, kucoba agar kontol itu masuk dengan mudah dan menahan rasa tak nyaman yang timbul karenanya. Demi Haidir.

“Ouuuh…” gumam Haidir.

“Nghh….” erangku mencoba menahan rasa sedikit perih ketika kontol Haidir menggelosor menekan dinding anusku.

“Nggh.. hhh.. mmmhhh…” eranganku bertambah keras karena aku merasa pedih namun sekaligus nikmat.

Saat kontol Haidir sudah berada sepenuhnya dalam anusku, aku membungkuk dan mencium bibir Haidir. Kuketatkan cengkeraman dinding anusku untuk menambah sensasi nikmat pada sekeliling kontol Haidir sambil bergumam dan menggit bibirku.

Haidir tampak takjub atas sensasi rasa yang ditimbulkan itu. Dia mengerang pelan sambil badannya sedikit menggeliat.

“Hmm.. enak bang?” Godaku

“Enak Don.. aah.. jepitan pantat kamu…” Haidir tak meneruskan pujiannya.

“Pantat Doni punya abang… Doni pengen bikin abang enak..” godaku sambil sekali lagi mengejan dan membuat kontol Haidir terremas keras.

Haidir menggeliat kembali merasakan kontolnya diperas anusku.

Plak! Haidir menampar pantatku.

“Pantat ini punya siapa?” Tanyanya sambil menampar pantatku sekali lagi dan meremasnya.

“Pantat Doni punya abang.. ” jawabku.

“Jawab yang keras! Punya siapa, hah?” Hardik Haidir galak sambil menampar kembali pantatku.

“Punya Abang… ahkk!!” Kalimatku terhenti saat Haidir memompa pantatnya naik turun hingga membuat kontolnya menyodok anusku naik turun berkali-kali dengan cepat dan ganas.

Haidir menggeram sambil menahan kedua pahaku yang terbuka lebar dalam posisi berjongkok. Aku mengerang panjang sambil memejamkan mataku.

“Nngggg… nggggh…..” tubuhku bergetar hebat. Kontol Haidir seperti piston yang bergerak sangat cepat naik turun keluar masuk anusku.

“Oooouuuu…. abaaaaaaaaaaanggg……” rengekku keenakan dengan suara yang terdengar bergetar.

“Haaaah…” Haidir menghentikan gerakannya. Pria ini benar-benar seperti pejantan dengan mesin seks yang bisa dipacu sangat tinggi.

Haidir lalu bangkit dan merangkul tubuhku. Dengan batang yang masih menancap di anus, Haidir tiba-tiba menggigit dadaku dan menjilati rakus putingku.

“Aaaaaarggh…” aku memekik tak berdaya dengan serbuan bertubi-tubi Haidir. Tubuhku sudah lemas melayani nafsu birahi calon satpam kekar ini. Tapi aku tak kuasa melawan dalam pelukannya.

“Ngg…abang… abaaang….” rengekku tak berdaya merasakan cumbuan nikmat di dadaku. Ini pastilah yang sering dilakukannya pada payudara pacar-pacarnya saat menyetubuhi mereka.

Haidir lalu beringsut ke pinggir ranjang. Dengan tenaganya yang kuat, dia menggendong tubuhku masih dengan kontol yang menancap di dalam anusku. Haidir membimbing tubuhku ke dinding. Tubuh kami telah bersimbah peluh. Aku mengaitkan kedua kakiku pada siku Haidir saat punggungku menempel pada dinding. Kurangkul leher Haidir ketika dia menjilati leherku dengan rakus dan mengulum daun telingaku nikmat.

Sodokan kontol Haidir masih berlanjut. Tenaganya seperti tak ada habis dan puasnya. Lubang anusku sudah terasa memar namun enak dan panas akibat sodokannya yang bertubi-tubi. “Oh yeah.. terusin bang… nggh…”

Gila! Kalau perempuan yang digauli Haidir seperti ini pastilah mereka juga akan menjerit-jerit keenakan melayani nafsu pria ini. Ketika Haidir menyemburkan spermanya pada mereka, pastilah mereka bakal langsung hamil oleh benihnya.

Aku tak tahan lagi. Tubuhku sudah lemas. Kenikmatan sodokan Haidir sudah sampai di ubun-ubun. Aku tak kuasa mengontrol batangku yang tanpa disentuh akhirnya menyemburkan isinya. Aku merengek seperti mau menangis saat beberapa kali kontolku menyemburkan sperma yang membasahi perut Haidir. Haidir menyeringai puas. Dipercepat gerakannya hingga tubuh lemasku terlonjak di dinding. Haidir lalu menggeram, dijepitnya tubuhku hingga tak kuasa bergerak dan kurasakan kontolnya menyemburkan cairan hangat di dalam tubuhku. Aku lemas dan pasrah menerima pancaran benih Haidir yang seolah sedang membuahiku.

Haidir gemetar sambil mengatur nafas. Sisa tenaganya dia gunakan untuk membopongku ke atas ranjang. Kami merebahkan tubuh yang bersimbah peluh. Mengistirahatkan birahi kami yang telah mencapai puncak. Aku tak sempat lagi membersihkan diri. Akhirnya aku terlelap dalam dekapan Haidir.

***

Keesokan harinya aku terbangun. Aku tak sadar kapan aku berpakaian. Kulihat sekeliling kamar. Tak ada siapa-siapa di sana. Haidir tak terlihat. Begitu pula tas dan pakaiannya. Haidir sudah pergi…

Follow IG saya ya: @bangremy kalau mau blog ini tetap aktif dan update

RUPANYA Haidir benar-benar menghilang dari kehidupanku. Papa sempat kesal karena dia pergi tanpa pamit seolah-olah tidak punya sopan santun setelah diberi kesempatan menumpang selama beberapa hari. Aku memang bertahan tak menghubungi nomornya, tapi sepertinya Papa sempat berniat mengontaknya namun rupanya nomor Haidir sudah tak aktif lagi.

Aku sudah kembali kuliah. Sebulan lamanya aku tak bertemu Haidir. suatu hari ponselku menerima sms dari nomor tak dikenal. “Halo Don.. apa kabar?”

Perasaanku berkata bahwa pengirim pesan ini adalah Haidir. Tapi aku mencoba memancingnya. “Siapa ini?” balasku.

“Ini abang, Don.. Haidir..” jawabnya beberapa saat kemudian.

Aku lalu menyimpan nomornya dan mengeceknya lewat whatsapp. Aku menunggu beberapa saat ketika akhirnya kontak Haidir muncul di layar whatsapp. Memang benar nomor ini miliknya. Fotonya gagah memakai seragam satpam. Sepertinya tubuhnya makin jadi. Tapi melihat fotonya yang memamerkan otot tubuh kekarnya berbalut seragam satpam membuatnya tampak seperti pria-pria yang mencari mangsa di aplikasi gay. Aku cemburu. Apakah Haidir sudah menyadari nikmatnya hubungan intim dengan pria? bahwa tipe sepertinya banyak diburu gay yang rela menyerahkan anusnya demi kepuasannya? Sudahkah dia mendapat “mangsa”? Memikirkan hal-hal seperti itu membuat pikiranku kesal. Aku harus melupakannya.

“Enggak nyangka abang kayak penjahat kelamin. Udah puas langsung ngilang.” balasku.

Cukup lama tak ada balasan dari Haidir. Awalnya aku puas sudah membalasnya dengan kata-kata itu. Tapi lama kelamaan aku merasa tidak enak dan gelisah melihat layar ponselku. Jangan-jangan Haidir benar tersinggung dan tak mau menghubungiku lagi. Bagaimanapun aku masih merindukan genjotan kontolnya.

Aku terkesiap saat Haidir meneleponku. Kubiarkan sampai beberapa lama sebelum kuangkat.

“Ya?” sapaku singkat. Aku berpura-pura malas padahal jantungku berdebar kencang.

“Don..? Doni. Abang pengen ketemu Doni. Maaf abang sibuk training. Enggak sempat hubungi Doni..”

Alasan yang terlalu dibuat-buat. Tapi aku membiarkannya.

“Iya bang. Doni ngerti..”

“Kalau kamu akhir minggu enggak ada acara, kapan-kapan main ke mess sini. Jalan-jalan lagi kayak dulu.”

“Iya. Kalau Doni enggak sibuk…” jawabku.

“Bener ya Don? abang SMS ini alamatnya deh. Kalau sabtu minggu di sini sepi Don..” kata Haidir terdengar antusias.

Aku mengiyakan tanpa terdengar bersemangat. Namun hal itu tidak membuat Haidir kehilangan minat. Dia tetap mengirimkan alamat messnya.

Setelah itu aku tidak pernah menghubunginya lagi selama hampir dua minggu. Saat Minggu tiba, aku memutuskan untuk mengunjungi mess tempat Haidir tinggal untuk memberi kejutan. Setelah aku berkeliling mencari alamatnya, aku menemukan juga tempat tinggal Haidir. Perusahaan pelatihan security itu ada di sebuah bangunan berlantai dua di sebuah komplek ruko. Sebenarnya perusahaan itu masih tergabung dengan bangunan lain, hanya saja empat buah ruko yang sejajar dibuat seragam dan disatukan. Lapangan parkirnya dipagari dan dimodifikasi menjadi tempat latihan. Beberapa palang besi (mungkin untuk latihan pull-up) dan peralatan simulasi pemadam kebakaran terlihat di sana.

Bangunan itu tampak sepi tak ada aktivitas. Apa mungkin benar yang dikatakan Haidir kalau hari Minggu kebanyakan penghuni mess ini pulang ke rumahnya masing-masing. Sambil meletakkan helm, Aku melihat ke sekeliling. Ada sebuah ruang kecil yang seperti pos di ujung kanan. Di dalamnya ada seorang pria paruh baya sedang duduk menonton televisi. Aku mendekatinya. Bapak yang memakai kaus singlet dan celana pendek itu tak menyadari kehadiranku.

Aku lalu berdeham dan mengucap salam.

“Ehm.. pagi pak..”

Bapak itu menoleh. Dia mengangguk sambil balik bertanya.

“Pagi. Cari siapa ya dek?”

“Saya mau ketemu abang saya.. Haidir. Messnya di sebelah mana ya pak?” Tanyaku.

“Oh.. Haidir. Mess nya di sana, belok kanan. Masuk aja. Cari aja kamarnya. Ada namanya kok…” tunjuknya.

“Terima kasih pak..” kataku.

“Ya..” jawab si bapak singkat. Kemudian dia kembali asyik menonton tv.

Aku mengikuti petunjuk arah yang diberikan oleh bapak tadi. Sebuah lorong agak gelap tepat beradda di sebelah dinding ruko. Ada sekitar 10 kamar yang saling berhadapan. Memang benar kata bapak tadi. Tiap kamar terdapat papan bertulis nama penghuninya.

Aku tersenyum mendapati nama Haidir di salah satu pintu. Baru saja aku hendak mengetuk pintunya, gagang pintu kamarnya membuka. Aku buru-buru menyembunyikan diri di balik sebuah pilar ketika kudengar dua orang berbicara.

Saat kuintip, aku melihat seorang perempuan muda cantik berambut sebahu berbicara pelan pada Haidir. Kemudian aku melihat Haidir ikut keluar. Dia hanya mengenakan handuk di pinggangnya. Badannya terlihat lebih kekar dan kulitnya lebih gelap. Mungkin akibat latihan fisik selama pelatihan menjadi personel keamanan. Aku menahan diri untuk menyapanya dan memutuskan untuk menunggu apa yang akan mereka lakukan.

“Enggak usah dianterin, bang.. nanti enggak enak diliat orang di luar..” kata gadis itu lembut.

Pikiranku mulai melayang. Apakah gadis itu pacar bang Haidir? Ataukah perempuan yang baru dikenalnya dan sudah berani diajak mampir untuk melepas syahwat?

Haidir mengangguk.

Aku melihat gadis itu berjalan menunduk meninggalkan Haidir sendirian. Haidir berdiri mematung di depan pintu melepas kepergian perempuan itu tanpa menyadari kehadiranku. Saat dia hendak berbalik masuk, aku sengaja menampakkan diri di lorong. Haidir terkejut melihatku.

“Don.. Doni? Kapan sampai? Kok enggak ngabarin?” tanya Haidir tampak gelagapan.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum kecut dan berjalan melewatinya.

“Doni pulang dulu, bang…” kataku.

“Eh.. Don.. Don.. nanti dulu…” cegah Haidir panik. Dia berusaha menarik lenganku. Tapi posisinya serba salah. Dia tak bisa jauh-jauh mengejarku karena dirinya hanya mengenakan handuk. Aku menepis lenganku dan berjalan menuju tempatku memarkir motor. Dadaku merasa sesak. Memangnya apa yang kau harapkan Don? Haidir yang lebih dulu menyukai wanita tentu tidak akan semudah itu melupakan kenikmatannya. Bahwa aku menawarkan kenikmatan yang lain, pasti dianggapnya tak lebih dari sekedar selingan memabukkan sesaat.

Aku memakai helmku dan segera meninggalkan mess tempat Haidir tinggal. Sesampainya di rumah, ada beberapa panggilan tak terjawab dari Haidir di ponselku. Sebuah pesan singkat juga dia kirimkan. Aku membacanya. “Don.. Abang mau jelasin. Tapi enggak bisa lewat telepon. Kita ketemuan ya?”

Aku mendengus. Kuabaikan pesan dari Haidir.

Malamnya, hujan deras turun. Dari dalam kamar aku bisa mendengar suara petir keras berkali-kali di luar sana meningkahi suara kucuran air yang tumpah dari langit.

Di antara suara hujan, aku bisa mendengar suara pintu gerbang dibuka. Kemudian aku mendengar ketukan di kamar orangtuaku. Selanjutnya aku mendengar papa bergumam seperti berbicara dengan seseorang.

Tak berapa lama, giliran pintu kamarku diketuk. “Mas.. Mas Don? Udah tidur? Dipanggil bapak..” suara Bi Suti terdengar dari luar kamar.

Aku segera menyahut. “Belum Bi.. bentar..”

Setelah kubuka pintu, Bi Suti menyuruhku ke ruang tamu. Aku sempat heran melihat Bi Suti membawa sebuah handuk di tangannya. Apa dia mau mandi?

Ternyata di ruang tamu sudah ada papa dan mama.. juga Bang Haidir yang basah kuyup kehujanan.

“Don.. ini Haidir dia bilang abis antar saudaranya ke terminal. Terus kehujanan. Karena enggak bawa payung dia jadi basah kuyup begini. Paling dekat dari stasiun ya rumah kita. Kalau dia pulang ke mess nanti dia sakit. Gapapa ya kalau dia nginap dulu di kamar kamu malam ini?” tanya Papa.

Aku tidak langsung menjawab. Kulirik Haidir yang tertunduk memelas menatapku. Rambut dan pakaiannya basah kuyup. Ini pasti akal-akalan dia saja supaya bisa bertemu aku. Tapi aku menyerah dan mengikuti keinginan papa.

“Iya pah.. enggak apa-apa.” kataku.

Bi Suti lalu menyerahkan handuk kepada Haidir.

“Nah.. karena sudah malam, saya pamit kembali tidur. Kalian semua langsung istirahat saja ya?”

“Maaf Om.. saya jadi ngerepotin…” ujar Haidir.

“Enggak apa-apa. Sudah sudah.. kalian semua istirahat dulu. Bi Suti tolong buatin teh panas buat Haidir. Sama bawain makanan juga..” perintah Papa.

“Bawa ke kamar Doni aja ya Bi? Si Abang nanti pakai baju Doni aja..” kataku.

“Baik Mas Don..” kata Bi Suti sambil kembali ke dapur.

Papa dan Mama kembali ke kamar. Aku berpamitan pada mereka dan masuk ke kamarku bersama Haidir. Sampai detik itu aku malas melihat wajahnya dan menyapanya.

Ketika aku menutup pintu, Haidir tiba-tiba memelukku.

“Don.. maafin abang.. abang kangen..”

“Ih.. apaan sih, bang? basah tau..” sahutku gusar sambil melepaskan diri dari pelukannya yang masih memakai kaus basah.

Haidir terpaksa melepaskan pelukannya melihat kemarahanku. Apalagi Bi Suti mengetuk kamarku tak lama kemudian.

“Mas.. ini teh manis panasnya. Ada roti juga kalau si abang lapar..” kata Bi Suti sambil menyerahkan nampan berisi gelas dan piring penuh roti padaku saat aku membuka pintu.

“Iya Bi, makasih ya..” kataku.

Setelah pintu kembali ditutup dan kuletakkan nampan itu di meja, aku berkata pada Haidir.

“Mandi dulu bang.. nanti Doni siapin baju sama celananya..”

Haidir mengangguk. Dia mencoba menggodaku “Temenin yuk Don?”

Aku memberikan pandangan mata sebal padanya tanpa tersenyum sedikitpun. Haidir menyerah dan berhenti menggodaku dan segera masuk ke kamar mandi.

Saat Haidir mandi, aku kembali ke ranjang dan meringkuk sambil berselimut. Kupandangi pintu kamar mandi selagi Haidir membasuh tubuhnya di dalam. Ah.. rasanya ingin masuk saja ke dalam dan ikut mandi bersamanya. Tapi rasa ego dan kesal lebih menguasai perasaanku sehingga aku menjaga sikap.

Ketika pintu terbuka, aku sekilas melihat Haidir keluar hanya memakai handuk. Buru-buru aku membalik tubuhku membelakanginya. Sial! kenapa Jantungku malah berdebar kencang?

Aku meneguk ludah saat kurasakan Haidir melepas handuknya dan sepertinya sedang memakai pakaian yang kusediakan di pinggir ranjang. Kemudian kudengar dia meneguk teh manis panasnya sampai tuntas.

“Kausnya sayang Don.. buat besok aja abang pakainya..” katanya.

Apa maksudnya? Apakah Haidir hendak tidur tanpa baju atasan? Padahal kalau untuk besok bisa saja dia pinjam bajuku yang lain. Aku tak merespon ucapannya.

Haidir berdeham dan naik ke atas ranjang rebahan di sebelahku. Di antara suara hujan, aku bisa mendengar nafasnya terdengar. Aku tak berani menoleh. Dia berbaring tanpa mengenakan kaus.

“Don.. abang mau jelasin sesuatu…” katanya. Tiba-tiba kurasakan usapan di punggungku. Haidir menyentuh punggungku dengan jarinya dan mengusapnya dari atas ke bawah selagi dia berbicara. Awalnya aku terkejut tapi kubiarkan dia melakukan itu.

“Kemarin itu.. sebenarnya pacar abang datang bawa undangan.. undangan pernikahan dia. Bapaknya dia enggak setuju kalau dia terus pacaran sama abang yang cuma calon sekuriti… makanya diam-diam dia dijodohkan dan setuju menikah dengan lelaki pilihan bapaknya…”

Aku terhenyak.

“Sungguh.. waktu itu abang emang abis mandi. Jadinya denger berita itu enggak sempet pakai baju. Abang enggak ngapa-ngapain sama dia Don…”

Haidir melanjutkan.

“Abang enggak tahu harus sedih apa enggak. Harusnya sih sedih ya.. tapi kenapa abang ngerasa lega juga ya? terus langsung keingetan sama Doni.. Artinya abang bisa lebih deket sama Doni kan?”

Aku menarik nafas dan menghembuskannya dengan bersuara.

“Maafin Doni bang… Doni ikut menyesal abang putus sama pacarnya..” kataku tanpa mau menoleh padanya.

Tiba-tiba Haidir merangkulku dan memeluk pinggangku. Aku merasakan aliran darahku mengalir lebih cepat. Aku berdesir merasakan tekanan dada bidangnya pada punggungku. Tubuhku serasa lumer dalam pelukannya.

“Sekarang abang bebas.. sekaligus sedih.. karena giliran abang sudah merasa lega, Doni malah ngambek sama abang..” gumamnya. Haidir berkata dekat sekali ke telingaku. Hembusan nafasnya terasa pada tengkukku sehingga aku luluh.

“Iya Bang.. Doni enggak ngambek lagi sama abang..” kataku.

“Doni.. mau enggak jadi pacar abang? abang kangen sama Doni..” ujar Haidir lagi sambil mendekapku lebih erat.

Mataku terasa panas. Aku tak langsung menjawab, tapi kemudian aku membalasnya dengan anggukan. Haidir lalu membalik tubuhku dan memaksaku menatap wajahnya. Aku melihatnya tersenyum penuh kebahagiaan menghiasi wajah tampannya.

Kudekatkan wajahku padanya dan kucium bibirnya. Haidir membalas ciumanku dengan lebih bersemangat sambil mendekap tubuhku lebih erat.

“Hmmpph…” aku luluh dalam dekapan otot tubuhnya dan ciumannya. Sehingga saat Haidir meloloskan kaus yang kupakai dari kepalaku, aku pasrah saja. Lengan Haidir menyapu putingku dan memaikannya dengan ujung jarinya. Aku mendesah sambil meraih jemarinya ke mulutku dan mengisapnya sehingga basah oleh ludahku. Kukembalikan telapak tangannya pada dadaku agar dia melanjutkan permainannya.

Aku merangkul Haidir dan kembali menciumnya sementara tangannya masih liar dan nakal memainkan puting dan dadaku.  Mungkin ini hal yang biasa dilakukannya jika bermesraan dengan wanita. Sesaat aku merasa minder karena dadaku rata tak seperti payudara wanita. Haidir pasti sedikit kecewa.

“Maaf ya bang.. Doni kan laki-laki.. gak ada susunya.. hehe..” ujarku.

“Ah.. abang suka kok punya Doni. Soalnya Doni keliatan keenakan kalau abang giniin…” ujarnya sambil mengulum salah satu putingku. Aku langsung memekik dan menggeliat saat Haidir melakukan itu.

Aku tertawa “Abang nakal…”

Haidir ikut terkekeh. Kembali kita saling bertatapan.

“Bang…”

“Ya?”

“Kalau Doni jadi pacar abang.. nanti dihajar genjotan super abang enggak?” Tanyaku.

Haidir tertawa. “Kenapa Don? Sakit ya? Abang bakal pelan-pelan deh..”

“Bukan bang..  justru.. enak. Ehehe..” sahutku tersipu.

Haidir kembali tertawa. “Oke deh.. tapi enggak malam ini ya.. abang pengen lepas kangen ama Doni. Doni jangan ngapa-ngapain.. biar abang aja yang…”

“Yang apa bang?” Tanyaku.

Haidir tak menjawab. Dia malah bergulir ke atas tubuhku dan mulai menindihku. Saat dia mencium bibirku, secara reflek aku merangkul kepalanya. Tapi Haidir menolak dan menahan kedua lenganku di kepala ranjang.

Cumbuan Haidir bergeser ke bawah. Aku mendesis saat leherku terkena sapuan bibirnya. Kembali secara reflek aku mendekap kepalanya. Sekali lagi Haidir menepis tanganku. Kali ini aku menurut. Kuangkat lenganku tinggi-tinggi sambil mencengkeram kayu pada kepala ranjangku dan mencoba bertahan dan menikmati secara pasif apapun yang akan dilakukan Haidir padaku.

Aku nyaris menangis dan mengeluarkan suara rengekan ketika lidah Haidir yang lembab menekan keras area ketiakku dan menjilatnya. Tubuhku menggeliat antara geli dan keenakan. Aku berharap suara hujan deras masih mengalahkan rengekanku sehingga tak terdengar dari kamar Papa.

“Ng… geli bang…” ujarku. Tapi Haidir tak menghentikan aksinya bergantian menyiksa dan melumat ketiakku yang hanya ditumbuhi bulu halus. Dia tampak menyukai bagian itu.

Setelah puas, dia kembali melumat puting dadaku hingga tubuhku makin liar menggelinjang. Kurasakan puting dadaku lembab dan sedikit memar akibat nafsu Haidir.

Nafasku makin memburu. Aku tak berani melepaskan pegangan tanganku dan bertahan menjadi pasif dalam permainan kali ini.

Aku tak tahan mengeluarkan pekikan keenakan saat Haidir sengaja melewati kontolku dan memilih untuk menjilati belahan pantatku hingga pangkal buah zakar. Tanpa ragu tanpa jijik Haidir melakukan itu. Mungkin dia biasa melakukannya pada mem*k wanita yang pernah ditidurinya. Aku membayangkan saat dia menjilati bagian sensitif wanita itu sampai basah dan kebas sehingga pasrah saat dikoyak kontol besar kokoh Haidir setelahnya. Aku tak peduli lagi dengan kerasnya suara eranganku. Haidir terpaksa membekap mulutku dengan tangannya untuk mengingatkanku. Lidahnya menekan-nekan buas lubang pantatku hingga terasa lembab dan basah. Tanpa sadar aku merenggangkan kedua pahaku sambil terus melenguh nikmat.

Aku sebenarnya ingin mengulum kontol Haidir tapi rupanya dia ingin memegang kendali permainan. Dia meraih laci meja di samping ranjangku. Dia masih tahu di mana aku meletakkan tube pelumas. Aku terengah-engah memerhatikan Haidir yang berlutut di antara kedua pahaku. Matanya menatapku bernafsu sambil mengolesi kontolnya yang sudah tegak dengan cairan pelumas.

Haidir mengangkat kedua kakiku ke bahunya yang sudah lemas akibat cumbuannya. Aku pasrah saja saat Haidir mengarahkan kepala kontolnya ke lubang anusku yang sudah kebas dan lembab itu.

Haidir menahan teriakan saat batang kontolnya melesak masuk pantatku. Walau aku merasa sedikit tak nyaman saat kepala kontol itu mencoba masuk, aku hanya bisa merintih pasrah. Kulengkungkan punggung sambil menggeliat membiasakan diri dengan kontol Haidir yang menjelajahi liang anusku.

Haidir menciumi betisku yang naik ke atas bahunya. Pinggulnya bergoyang-goyang membuat batang kontolnya melesak masuk lebih dalam dan semakin dalam.

“Ahk.. ssshh…” aku memekik saat kepala kontol Haidir berhasil menekan bagian prostatku dan menimbulkan sensasi menggelenyar ke seluruh tubuh. Kulihat kontolku menegang sendiri tanpa kusentuh.

Seperti mendapat angin dan menemukan rahasiaku, Haidir menyeringai. Dia mengulangi gerakan yang sama hingga kepala kontolnya memukul lagi titik pada prostatku. Bukan itu saja, dengan irama teratur dan sodokan berkali-kali yang pendek namun cukup kuat, Haidir menyiksa bagian sensitif dalam tubuhku itu. Aku nyaris menangis menahan sensasi nikmat yang diakibatkan gempuran kontol Haidir. Sambil tubuhku bergoyang aku memeluk bantal dan menggitnya untuk meredam teriakan kenikmatanku.

“Ngghh abang… ” aku tak tahan lagi. Kontolku semakin mengeras dan memaksa cairan spermaku mengumpul hendak keluar karena sensasi orgasme permainan itu.

Aku merengek panjang saat kontolku memuncratkan sperma dan membasahi perutku. Haidir yang merasa telah selesai menunaikan tugas memuaskanku, mempercepat genjotannya untuk kepuasannya sendiri. Tubuhku lemas terombang-ambing gerakan tubuhnya. Aku pasrah Haidir menggunakan lubang pantatku untuk mencapai klimaksnya sendiri.

Haidir mengerang. Dia membungkukkan tubuhnya. Dengan sisa tenaga aku bangkit dan dengan rakus mengulum putingnya yang berkeringat sambil mendesah dan menunggu dirinya mencapai puncak.

Genjotan Haidir semakin kuat, erangannya semakin keras, dan dengan hentakkan terakhir dia menyemburkan isi zakarnya yang cair dan panas di dalam pantatku. Aku ikut mendesah mengimbangi dahsyatnya puncak orgasme Haidir hingga dia ambruk di atas tubuhku. Aku memeluk tubuhnya yang terengah-engah dan mencium pipinya sebagai pujian atas kejantanannya.

Mulai malam itu, aku resmi menjadi miliknya dan Haidir menjadi milikku. Semoga kami bisa bersama selamanya.

****

Keesokan harinya, saat Haidir berpamitan pada Papa dan Mama, Papa berkata sesuatu yang mengejutkan.

“Dir.. om dengar kamu di mess itu sabtu minggu libur kan? Jangan karena kamu ngerasa enggak enak, walau enggak tinggal di sini lagi kamu malah enggak pernah main. Kalau di sana enggak ada kerjaan, main aja ke rumah ini..” kata Papa.

“I.. iya Om..” jawab Haidir.

“Om sama Tante seringnya kalau weekend itu ke villa di puncak. Doni hampir selalu enggak mau diajak. Berat sama main game online katanya. Kasian dia.. Om takut membusuk di rumah..”

“Ih Papa.. membusuk..” protesku pada Papa.

Papa dan Haidir tertawa.

“Iya. Kan Bi Suti Sabtu pagi pulang ke rumahnya dan Balik Minggu malem. Om enggak mau Doni macem-macem di rumah bawa anak gadis orang. Tolong mampir awasin dia kalau boleh. Anggap aja rumah sendiri…” lanjut Papa.

Haidir menyeringai lebar dan melirikku sambil mengedipkan mata. “Beres om…”

TAMAT

Advertisements
Comments
  1. Jerry Anjani says:

    Telah lama ku tuggu ukiran kisah barumu ini Bang.
    andaikata Tuhan berkehendak, semoga kau selalu diberkati.
    Terimakasih ku haturkan, berkat kisah-kisah mu ini, aku yakin dan tangguh bahwa setiap orang berhak bahagia dengan jalannya sendiri, selama ia tak membuat orang di sekelilingnya merugi.
    Tetap ukirkan karyamu, biar Tuhan yg membalas jasamu.
    salam hangat dari saudara Kota Kembang.
    Jerry

  2. Edward says:

    Karya” bang remy memang the best. Terus berkarya ya bang. Dan sukses selalu buat bang remy tercinta.

  3. ZEDSO JEREMY says:

    Koq ada tambahannya? Perasaan di Wattpad beda. Tapi thanks banget bang Remy, seru banget…. suka sekali. Apalagi endingnya, uhhh ulala…
    .
    Trus berkarya ya bang.
    Sehat sehat selalu.
    Kartu memorynya kapan lanjut bang?
    .
    Salam Anak Sulsel

  4. Sarelsast says:

    Tak disangka. Tak dinyana. Tak diduga. Abangku kembali. Huhuhuuuu. Kirain nggak bakal balik lagi ini blog. Syedih.

  5. Kimer says:

    Setelah lama Ku mencari, akhirnya APA yang kutunggu2 datang juga….Thks bang atas karya barunya…. selalu menunggu Dan menanti karya2 berikut nya….love

  6. theghoss says:

    wow bagus bingit sukses sll.

  7. jeje says:

    ditunggu karya karyanya ya bang..

  8. Eldwin Muhammad says:

    Extended ending my version

    Beberapa bulan kemudian, orang tua Doni meninggal karena kecelakaan. Bang Haidir memutuskan untuk tinggal bersama Doni. Setelah Doni lulus kuliah, dia dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 di Taiwan. Disaat yang sama, Bang Haidir yang merupakan satpam lepas telah menghabiskan masa kontrak kerjanya. Dia memutuskan ikut Doni ke Taiwan untuk kerja di sana. Pada tahun 2017, Taiwan menjadi negara Asia pertama yang melegalkan pernikahan sejenis. Bang Haidir dan Doni pun memanfaatkan momen tersebut untuk meresmikan hubungan mereka kedalam ikatan pernikahan. Bang Haidir dan Doni pun hidup bahagia selamanya. Tamat.

  9. Eldwin Muhammad says:

    Extended ending my version

    Beberapa bulan kemudian, orang tua Doni meninggal karena kecelakaan. Bang Haidir memutuskan untuk tinggal bersama Doni. Setelah Doni lulus kuliah, dia dapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 di Taiwan. Disaat yang sama, Bang Haidir yang merupakan satpam lepas telah menghabiskan masa kontrak kerjanya. Dia memutuskan ikut Doni ke Taiwan untuk kerja di sana. Pada tahun 2017, Taiwan menjadi negara Asia pertama yang melegalkan pernikahan sejenis. Bang Haidir dan Doni pun memanfaatkan momen tersebut untuk meresmikan hubungan mereka kedalam ikatan pernikahan. Bang Haidir dan Doni pun hidup bahagia selamanya. Tamat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s