KARTU MEMORI (Season 3) – Bagian 2

Posted: January 11, 2016 in Kartu Memory - The Series I
Tags: ,

image

By: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Harrel dan Bhayu awalnya tidak akur di SMA. Beberapa kejadian menyatukan mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah selesai kasus kematian Om Herlan dan pembalasan dendam dari istrinya, apakah hubungan mereka bisa terus bertahan? Di lain pihak, tetangga Harrel yang seorang polisi mengetahui hubungan Harrel – Bhayu dan sempat mencurigai mereka terlibat kejahatan. Belakangan polisi itu menerima kiriman surat kaleng ancaman berisi fotonya yang sedang bercinta dengan pria.

*Baca juga: KARTU MEMORI I – II, KISAH NICO

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, cerita, dan tempat, murni hanya kebetulan. Beberapa adegan mungkin terlalu eksplisit dan tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Dalam cerita mungkin digambarkan seks tanpa kondom semata demi kepentingan cerita. Namun saya selalu mendukung hubungan seks aman. Selalu gunakan kondom!

BAGIAN 2

HARREL baru saja hendak menutup matanya untuk tidur saat ponselnya berbunyi. Nomor ponsel Bhayu. Mungkin dia mau bilang kalau sudah sampai di rumah. Tadi Harrel sempat mengirimkan pesan menanyakan apakah Bhayu sudah sampai di rumah atau belum tapi belum ada balasan.

“Halo Bhay?” Sapa Harrel.

“Harrel.. ini mamanya Bhayu… maaf tante telepon kamu…”
Jantung Harrel langsung berdegup kencang. Mama Bhayu meneleponnya dini hari begini dan memakai ponsel Bhayu. Ini pasti ada yang tidak beres. Batin Harrel.

“Iya Tante… kenapa ya?” Tanya Harrel waswas.

“Bhayu.. kecelakaan. Enggak jauh dari rumah. Sekarang ada di rumah sakit…”

Mendadak tubuh Harrel terasa lemas. Dia langsung bangkit dari ranjang lantas menanyakan secara detail kondisi Bhayu dan rumah sakit tempatnya dirawat.

Limabelas menit kemudian, Harrel diantar ayahnya menuju rumah sakit. Di sana dia bertemu dengan mamanya Bhayu. Wajahnya sembab tampak habis menangis. Di ruang gawat darurat, terlihat Bhayu berbaring di ranjang. Seorang perawat sedang membalut kakinya.

“Tante.. gimana Bhayu? Maafin saya tante. Seharusnya tadi saya pulang sendiri gak perlu diantar Bhayu kalau akhirnya begini…”

Mama Bhayu menatap Harrel dingin. Biasanya dia sangat ramah terhadapnya. Entah mengapa malam ini dia terlihat sangat kesal.

“Nah.. kamu tahu kan akibatnya kalau pulang larut? Apalagi Bhayu sampai kecelakaan begini. Kamu gak usah repot-repot ke sini Rel, sebaiknya kamu pulang..” ujar Mama Bhayu dingin.

“Mah! Ini bukan salah Harrel! Orang itu nyeberang tiba-tiba. Bhayu mau ngomong dulu sama Harrel!” Sahut Bhayu dari atas ranjang.

Mama Bhayu tampak ragu mengizinkan Harrel mendekati anaknya. Tapi akhirnya dia berjalan keluar ruangan.

“Sementara luka kamu diperban dulu. Kelihatannya tidak ada yang patah. Tapi sampai hasil rontgen keluar, jangan banyak bergerak dulu,” kata perawat itu.

Bhayu mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Perawat itu pergi dan meninggalkan Bhayu berdua dengan Harrel. Harrel menatap Bhayu sedih.

“Sorry Bhay.. gara-gara jemput sama nganterin gue, elo jadi luka begini…” sesal Harrel.

“Enggak Rel.. ini bukan salah elo. Gue mau cerita…”

“Tapi gimana dengan try out klub basket kampus elo? Gimana elo bisa gabung klub basket kampus kalau cidera begini?” Ujar Harrel.

“Jangan pikirin itu dulu. Gue.. sebenernya masih belum tahu apakah gue cuma berkhayal atau… ah..!” Umpat Bhayu kesal.

“Kenapa Bhay?” Tanya Harrel khawatir.

“Gue celaka gini karena kaget. Gue lihat ada orang… yang sengaja ngehalangin jalan gue. Dan dia.. dia mirip sekali sama Om Herlan.” Kata Bhayu.

Harrel membelalak. “Elo yakin, Bhay? Bagaimana mungkin? Om Herlan kan sudah meninggal..”

“Itu dia! Gue juga tahu si bejat itu udah mati! Tapi gue kaget betul saat lihat wajahnya.. bener-bener mirip Om Herlan!” Ujar Bhayu kebingungan.

Harrel menghela nafas. Dia sendiri tak bisa berkomentar atas penglihatan Bhayu yang membuatnya celaka.

“Yaudah Bhay. Elo istirahat dulu aja. Kita pikirin ini besok hari. Gue enggak bisa juga bilang kalau yang elo lihat cuma imajinasi aja…” kata Harrel.

Bhayu mengangguk. “Kamu pulang ya.. jangan sampai besok terlambat..” ujarnya sambil mengusap lengan Harrel.

Harrel tersenyum menahan tawa.

“Kenapa?” Tanya Bhayu.

Harrel menggeleng. “Enggak.. seneng aja.. kalau panggilan kita jadi kamu-aku…”

Bhayu tertawa. “Iya Rel. Gak enak ah kalau ke kamu mangglnya elo-gue terus…”

Harrel ikut tertawa. “Yah. Sekarang kamu.. istirahat ya Bhay. Semoga lukanya enggak ada yang serius. Aku pulang dulu..”

Saat Harrel hendak pergi, Bhayu menahan lengannya.

“Rel…”

“Ya, Bhay?”

“Tolong tutup tirainya. Aku mau cium kamu..”

Harrel terkekeh. Dia menuruti keinginan Bhayu. Setelah bilik ranjang Bhayu tertutup tirai, Bhayu menarik lengan Harrel sehingga wajahnya mendekat. Bhayu kemudian mencium lembut bibir Harrel dan membuat Harrel menikmatinya sambil memejamkan mata. Setelah beberapa lama, pagutan mereka terlepas. Bhayu mengusap pipi Harrel. “I love you..” gumamnya.

“Love you too.. cepet sembuh ya.. kamu-nya-aku…” kata Harrel sambil tersenyum lebar dan mengecup pipi Bhayu.

Harrel meninggalkan ruang IGD dengan perasaan senang. Tapi di luar ternyata Mama Bhayu sudah menunggunya.

“Harrel.. tante mau bicara sama kamu..”

“Ya Tante?” Tanya Harrel tak paham.

Mama Bhayu mengajak Harrel duduk di sebelahnya. Dia mulai berbicara.

“Kamu tahu kan kalau Bhayu itu anak tante satu-satunya. Tante sayang dia dan selalu mengkhawatirkannya…”

Harrel mengangguk.

“Tante juga tahu… kamu udah jadi teman yang baik buat Bhayu. Sejak dekat sama kamu, emosinya jauh lebih stabil. Tidak pernah meledak-ledak dan marah-marah lagi. Belajar lebih rajin, olahraga lebih semangat.. Tante senang kalian berdua jauh dari hal-hal negatif. Tapi…”

“Tapi kenapa tante?”

“Tante juga enggak bisa menutup mata kalau Bhayu hampir saja tewas oleh wanita gila itu. Tante enggak tega anak semuda itu sudah bolak-balik ke pengadilan buat bersaksi. Menghilang berhari-hari saat kamu ditahan.. tante.. tante enggak sanggup kalau akhirnya Bhayu ikut-ikut terlibat masalah yang ada di sekitar kamu..” kata mama Bhayu mulai terisak.

“Tante enggak adil.. masalah ini bukan saya penyebabnya.. tante enggak bisa nyalahin saya atas semua kejadian yang menimpa kami…” ujar Harrel tak suka.

“Bhayu sekarang kecelakaan dan kamu masih mengelak kamu enggak terlibat?” Kata Mama Bhayu tajam.

Harrel terdiam.

“Kalau kamu memang teman yang baik untuk Bhayu. Biarkan dia istirahat dulu. Biarkan dia menjalani kuliahnya dengan tenang. Tante hanya mau lihat dia hidup dengan normal…”

“Tapi tante…”

“Jauhi Bhayu dulu. Setidaknya sampai dia sembuh. Tante cuma minta pengertian dari kamu. Belum ada tiga bulan sejak anak itu diculik dan sekarang dia sudah kecelakaan lagi. Toleransi tante ada batasnya…” kata Mama Bhayu.

Harrel tak sanggup membantah perkataan Mama Bhayu. Hatinya hancur. Entah apa yang bisa diperbuatnya bila pertemuan mereka harus dibatasi. Harrel mengangguk dengan sangat terpaksa. Dia menelan ludah dan terasa sangat sakit di tenggorokannya.

Harrel kemudian bangkit dan berpamitan pada Mama Bhayu. Dia berjalan keluar dari rumah sakit dengan mata yang terasa panas.

***

Linda benar-benar tak ingin bertemu lagi dengan Wira, sepupu suaminya itu. Tapi tadi dia berpesan pada sipir bahwa dia membawa pesan dari Imel anaknya. Linda tahu. Itu adalah semacam kode ancaman dari Wira agar dia bisa memaksanya bertemu muka kembali.

Linda tak berhenti menatap wajah Wira sambil duduk. Tangannya gemetar. Walau Wira menutup wajahnya dengan masker dan kacamata, Linda bisa mengenali bahwa orang di depannya ini sudah nekad mengganti wajahnya dengan wajah Herlan.

“Kenapa kamu mencatut nama Imel untuk bertemu saya?” Ujar Linda dingin.

“Dengar. Saya dalam kesulitan. Orang-orang mengejar saya karena hutang…”

“Itu kan kesalahan kamu sendiri! Orang sembrono tak bertanggung jawab yang bisanya merongrong Herlan dan menghamburkan uang…” semprot Linda.

“Diam kamu.. ini satu-satunya jalan saya bisa lolos dari mereka. Saya habiskan sisa uang saya buat ubah wajah ini. Untung kami mirip jadi proses operasinya tak begitu sulit. Kau bantu saya jadi Herlan, lalu saya akan menghilang setelah satu tahun…bagaimana?”

“Gila… bagaimana mungkin orang akan percaya suami saya yang sudah dinyatakan tewas ternyata masih hidup?!” Desis Linda.

“Mereka tidak akan percaya. Kecuali istrinya sendiri yang bersaksi membenarkan… bukan begitu?” Kata Wira.

Linda menggeleng tak suka dengan rencana Wira.

“Saya sudah selidiki kelakuan suami kamu. Sepertinya Dia sama brengseknya dengan saya. Bedanya Herlan itu doyan lelaki muda ya…” ejek Wira.

Sebuah tamparan mendarat di pipi Wira. “Jangan bicara sembarangan tentang suami saya!” Kata Linda.

Wira menatap galak Linda. “Oke.. mungkin sekarang kamu keras hati. Tapi saya kasih kamu sadar… akan sulit menjaga Imel dari dalam penjara, kan?”

Bibir Linda bergetar ketakutan. Dia menatap sosok Wira yang meninggalkannya. Ancaman orang ini tidak main-main.

“Ibu sipir! Ibu sipir! Tolong… saya butuh ketemu pengacara saya.. saya butuh ketemu Ivan keponakan saya…” pinta Linda memelas.

“Jadwal kunjungan pengacara ibu baru besok!” Ujar sipir wanita itu galak.

“Saya mohon.. saya harus ketemu Ivan…” tangis Linda putus asa.

***

Sebagai penyelidik di bagian kriminal, Bima kadang memakai berbagai cara dalam proses penyelidikan suatu kasus. Maraknya kejahatan online, membuatnya harus memiliki akun media sosial palsu untuk menjebak pelaku kejahatan atau menyelidiki suatu kasus.

Biasanya dengan profil wajah tampan, nama samaran, dan tentu saja tak memakai seragam kepolisian, membuatnya mudah menjebak pelaku kejahatan atau mengorek informasi. Kali ini dia menggunakannya untuk mencari pemuda bernama Ezra, si mantan pegawai hotel yang kini menghilang. Dengan teliti Bima memeriksa satu persatu nama yang ada di media sosial dan mencocokkannya dengan profil Ezra pada salinan KTP yang dimilikinya. Setelah beberapa lama, ketemu!

Tampaknya akun yang terproteksi itu sudah lama tak diupdate. Wajah Ezra di foto profil sangat mirip dengan yang ada di KTP. Bima menyelidiki semua hal yang ada di akun Ezra. Dari hal-hal yang terposting di sana, Bima yakin kalau Ezra adalah seorang penyuka sesama pria. Entahlah, mungkin Bima memang sudah memiliki radar yang kuat untuk menemukan orang-orang seperti Ezra akibat bergaul dengan Harrel dan lain-lain.

Walaupun peluangnya kecil, Bima tetap mengirimkan permintaan pertemanan dengan Ezra dan mengirimkannya pesan.

“Mudah-mudahan dia respon…” gumam Bima sambil menutup jendela browser di laptopnya. Ketika itu dia mendengar suara mesin mobil berhenti tak jauh dari rumahnya. Dia lalu melihat dari jendela dan mengawasi seorang pemuda turun dari mobil. Dia adalah Nico, adik Harrel. Tapi Bima belum pernah melihat orang yang mengantar Nico sebelumnya. Bima mencoba merekam wajah orang itu di pikirannya. Ah, Nico… walau dia sudah berjanji pada Findra untuk tak lagi mendekatinya, pesona remaja itu dan permainan seksnya masih membekas dalam ingatan Bima. Seandainya dia punya kesempatan lagi untuk mencicipi tubuh muda itu… pikir Bima.

***

Ivan, keponakan Linda yang hampir tewas akibat perbuatan Linda sendiri itu kini sedang berada di ruang kunjungan penjara karena dipanggil oleh tantenya. Ivan sudah berusaha meyakinkan hakim agar memperingan hukuman tantenya dengan alasan kesehatan mental yang kurang baik akibat ditinggal suaminya sehingga tanpa sadar melukai Ivan. Namun keputusan tetap berada di tangan hakim.

“Ivan.. Ivan…” panggil Linda sambil menghampiri Ivan.

“Tante? Apa kabarnya? Kenapa tante sekarang kurusan dan pucat? Tante sakit di sini?” Tanya Ivan.

Linda menggeleng gugup. “Van, tolong tante jaga Imel.. Imel dalam bahaya…”

“Loh, kenapa tante?” Tanya Ivan tak mengerti. Pemuda jangkung dan tampan itu mencoba menenangkan tantenya agar dia bisa menjelaskan semuanya.

Kemudian Linda bercerita mengenai kemunculan Wira yang ingin mengambil alih identitas Herlan dan menguasai bisnisnya. Ivan nyaris tak percaya ketika Linda mengatakan bahwa Wira nekad mengubah wajahnya agar mirip sekali dengan Herlan.

“Bagaimana kalau tante buat kesepakatan dengan dia? Beri dia uang yang dia minta supaya dia enggak kembali, tante..” usul Ivan.

“Kamu enggak mengerti Van. Wira tidak ingin uang sekarang ini. Dia ingin menjadi Herlan!” Ujar Linda.

Ivan terdiam.

“Dan sekarang dia mengancam akan menggunakan Imel untuk memaksa tante ikutin kemauannya. Tante minta tolong kamu jaga Imel, Van… Imel mungkin masih nyaman tinggal sama neneknya. Tapi kamu harus bujuk dia supaya tinggal sama kamu. Dengan begitu tante bisa tenang…”

Ivan menghela nafas. “Baik Tante, nanti saya bujuk Imel supaya tinggal di kota.”

Linda mengangguk lega. “Kamu juga jaga diri Van. Wira kelihatannya orang yang nekad…”

“Iya Tante..” ujar Ivan sambil menggengam tangan Linda yang mulai terisak.

***

Dalam perjalanan pulang, Ivan mencoba menelepon Imel berkali-kali. Namun gadis itu tak menjawab teleponnya. Ivan lalu menelepon neneknya.

“Halo Nek.. Nek.. saya bisa minta tolong bicara sama Imel nek? Dari tadi Ivan telepon nggak diangkat…”

“Van.. Imel pergi ke rumah mamanya tadi pagi. Dia berangkat pakai mobil barunya. Belum ada kabar dari Imel apa dia sudah sampai atau belum…” kata Nenek di ujung sana.

“Baik Nek.. Ivan langsung ke rumah tante Linda. Siapa tahu Imel sudah di sana..” tutup Ivan.

Perasaan was was mendadak menyergap Ivan. Dia memacu mobilnya menuju rumah Linda. Sesampainya di sana, dia melihat mobil Imel sudah terparkir. Ivan menghampirinya dan memeriksa mobil yang kosong itu. Tak ada Imel. Lalu Ivan masuk ke dalam rumah dan memanggil namanya.

“Mel? Imel? Kamu di mana?”

Betapa terkejutnya Ivan ketika melihat seseorang duduk di ruang tamu. Ivan membelalak seperti melihat hantu. Orang yang mirip Herlan berada di situ. Menatapnya dengan seringai penuh.

-Bersambung-

Advertisements
Comments
  1. coc1234 says:

    pertamax..

  2. Erfan says:

    Nggak sabar ke bagian 3. Kapan rilis bagian 3 bang remmy

  3. lili says:

    Makasiih bang ud update, baru baca dari wattp, balik lg ke wp reunian lg baca yg kmrn2…dtunggu teruus karyanya bang Remy.

  4. Revan_AD says:

    ceritanya sangat menarik bang remy,, di tunggu bagian 3nya….

  5. Ceritanya seru banget bang Remy,, di tunggu bagian 3nya.. kapan di rtilis?

  6. Yovan says:

    Udah lama baca cerita2 bang remmy tapi baru berani muncul sekarang hehehe enggak abis pikir sama cerita2 bang remmy yg saling kesinambungan dan bener2 tersusun rapih 👍👍👍 aku harap sih cerita kartu memori season 3 ini updatenya enggak lama2 hehehe…… Keep writing bang 👌

  7. Yovan says:

    Salut sama semua cerita bang remmy semua nya saling berkesinambungan dan tersusun rapih good job bang keep writing… 👍👍👍 buat kartu mempri season 3 nya jangan lama2 ya buat update kelanjutannya terus 😁

  8. gila ceritanya nagih banget….

  9. rikenman says:

    wahhh seru bangeet ceritanya bg remy.
    tpi kpn rilis bagian 3nya

  10. Rozak reynaldi says:

    Kpn yg bagian 3 rilis bang!?
    pengen baca cerita.a mas bima yg di sadomocis 😁😁😁😁😁!!
    pasti seru polisi gagah di sadomocis 😂😂

  11. Hadi Kusumo says:

    ayo dunk kelanjutannya udah ga sabar nich

  12. ALF says:

    Keren Keren Keren.. Pengen deh bisa bikin cerita sekeren itu 🙂 Bang remi, ajarin aku dong, aku juga punya cerita, di blogku, tp gk tahu gimana bagus apa gk nya. kata teman2 ku yang udah baca sih enak banget, katanya bikin penasaran. Tapi aku penasaran respon orang yang emang suka baca/nulis cerita yang sebenarnya gimana. sekali-sekali ajarin aku yaah bang. Ke sini..

    http://khusus-cowok.blogspot.co.id/2015/08/rian-behind-rain.html

    • Yos Johan Utama says:

      cerita ini brkmbang sgt luas…., kisahnya msbima polisi & love my dad msuk….. tdk menutp kmungkinan cerita bang rosyd, bang zaki & bang haidir juga akn msuk….

      memang knyataan d dunia ‘g’ sprt itu…
      untuk pnglmn pribdi…
      byk org prnh dkat dg sya…
      – kuli bngunan
      – tukang las
      – nelayan
      – buruh tani
      – satpam
      – polisi
      – polapas
      – tni
      – ank gym

      sdg yg hny tmn biasa tp ‘g’
      polisi lbh dr 5 org
      tni 2 org
      satpam 3 org
      polapas 2 org
      brimob 1 org
      ank gym 3 org

      byk yg sdh sdh ada ank istri….
      smakin sya dwasa smakin sya mngrti klo dunia itu memang panggung sandiwara….

  13. ali wijaya says:

    Bang aq nunggu kartu memory slanjutnya ko di fb menghilang y?

  14. gold says:

    menghela nafas baca cerita ini, hahahaha….
    seru banget, sip banget bang remy

  15. Hadi Kusumo says:

    ayo dunk bang kelanjutanya

  16. Dwi says:

    Kang kpn lanjutannya??

  17. Keren lah pokoknya. Yang Fujoshi nggak lanjut bang?

  18. Elvan says:

    Abang lanjutannya kok ga ada bang. Fp d fb udh ga ada juga. Di wattpad juga ga ada lanjutannya. Kapan dilanjut?

  19. Hugo says:

    Bang Remmy mau nanya kalo buku yang heart station masih ada ngga ya mau beli

  20. TrueLove___ says:

    Kapan nih next chapter nya !!
    Btw . ampek brpa season bang ? 4 ato 5 season ?

  21. Yos Johan Utama says:

    cerita ini brkmbang sgt luas…., kisahnya msbima polisi & love my dad msuk….. tdk menutp kmungkinan cerita bang rosyd, bang zaki & bang haidir juga akn msuk….

    memang knyataan d dunia ‘g’ sprt itu…
    untuk pnglmn pribdi…
    byk org prnh dkat dg sya…
    – kuli bngunan
    – tukang las
    – nelayan
    – buruh tani
    – satpam
    – polisi
    – polapas
    – tni
    – ank gym

    sdg yg hny tmn biasa tp ‘g’
    polisi lbh dr 5 org
    tni 2 org
    satpam 3 org
    polapas 2 org
    brimob 1 org
    ank gym 3 org

    byk yg sdh sdh ada ank istri….
    smakin sya dwasa smakin sya mngrti klo dunia itu memang panggung sandiwara….

  22. Agha says:

    Bener2 bikin penasaran… br liat blog ini seminggu yg lalu, nyaris tiap malam baca sampe menjelang pagi.
    Bikin imaginasi keliaran kemana2 … luar biasa

  23. ini nama says:

    lanjutannya ga ada ya kak? owh iya cerita “merantau” kyknya juga udah hilang pdhl saya sangat suka

  24. blacklist says:

    ga ada lanjutannya kah???

  25. fino says:

    gan .. kapan kelanjutannya .. penasaran banget gan ..
    please ya ceritanya di lanjutin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s