KARTU MEMORI (Season 3) – Bagian 1

Posted: January 11, 2016 in Kartu Memory - The Series I
Tags: ,

image

By: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Harrel dan Bhayu awalnya tidak akur di SMA. Beberapa kejadian menyatukan mereka sebagai sepasang kekasih. Setelah selesai kasus kematian Om Herlan dan pembalasan dendam dari istrinya, apakah hubungan mereka bisa terus bertahan? Di lain pihak, tetangga Harrel yang seorang polisi mengetahui hubungan Harrel – Bhayu dan sempat mencurigai mereka terlibat kejahatan. Belakangan polisi itu menerima kiriman surat kaleng ancaman berisi fotonya yang sedang bercinta dengan pria.

*Baca juga: KARTU MEMORI I – II, KISAH NICO

Disclaimer:
Kisah ini hanya fiktif belaka. Jika ada kesamaan nama, cerita, dan tempat, murni hanya kebetulan. Beberapa adegan mungkin terlalu eksplisit dan tidak disarankan untuk pembaca di bawah umur. Dalam cerita mungkin digambarkan seks tanpa kondom semata demi kepentingan cerita. Namun saya selalu mendukung hubungan seks aman. Selalu gunakan kondom!

BAGIAN 1

BHAYU menepikan motornya di pinggir jalan. Saat itu semester baru perkuliahan sudah dimulai. Bhayu dan Harrel kini resmi tercatat sebagai mahasiswa. Harrel yang dibonceng, turun dari jok belakang lalu melepas helmnya. Dia tersenyum menatap Bhayu.

“Jadi… mulai sekarang kita belajar di tempat yang beda ya?” kata Harrel. Dia mencoba tersenyum lebih lebar tapi pikiran bahwa dirinya tak lagi satu sekolah dengan Bhayu ke depannya saja sudah membuatnya kembali sedih.

Bhayu mengangguk. “Gak usah sedih lah.. masih satu kota ini, kan? Gue enggak ke mana-mana,” ujarnya.

“Ya.. tapi tetap aja. Nanti kita mulai sama-sama sibuk. Kalau enggak satu kampus, kan..” ujar Harrel.

“Hey.. kan kita udah sepakat. Elo harus kuliah di kampus yang sesuai sama minat elo. Begitu juga gue…”

“Yah.. Gue juga udah bayangin kalau seminggu ini aja kita bakalan sibuk. Masa orientasi mahasiswa aja baru dimulai. Gue mungkin lebih enak karena gak jauh-jauh keluar kota. Tapi elo.. yang mau masuk tim basket kampus, pake acara mendaki gunung segala.” Keluh Harrel.

“Sabar dikit lah. Kita nanti cari waktu buat jalan-jalan, gimana? Deal?” tanya Bhayu.

Harrel mengangguk. “Jangan nakal, ya…” ancam Harrel.

Bhayu tergelak. “Harusnya gue yang bilang itu ke elo, Rel..”

Harrel cemberut. Dia lalu menepuk lengan Bhayu sebelum pemuda itu menjalankan motor menuju kampusnya meninggalkan Harrel di depan gerbang.

Harrel menghela nafas dan membetulkan letak ranselnya di pundak. Dia membalik badan setelah melihat motor Bhayu menghilang di tikungan. Hari ini dia telah sah menjadi seorang mahasiswa. Begitu banyak kejadian menimpanya saat dia duduk di bangku SMA. Harrel merasakan getirnya saat dia harus menghadapi semua masalah itu walau berbanding dengan kedekatannya dengan Bhayu. Pemuda yang dia sukai sejak lama dan sempat memusuhinya selama beberapa tahun. Harrel bahagia saat dia dan Bhayu menjadi sepasang kekasih. Kebahagiaan itu diwarnai berbagai konflik dan skandal hingga kematian.

Bayangan Imel, Om Herlan, Ivan, Tante Linda, Mas Bima, mendadak muncul dalam kelebatan-kelebatan pikirannya. Semoga tak ada lagi masalah. Semoga semua bisa melanjutkan kehidupan dengan normal dan berbahagia dengan jalannya masing-masing. Harrel berharap.

***

Sudah beberapa minggu sejak Bima, polisi tetangga Harrel mendapat surat kaleng berisi adegan perselingkuhannya dengan Findra, sepupu istrinya sendiri di sebuah hotel. Bima masih belum yakin apakah harus menunggu sampai orang itu menghubunginya lagi, ataukah dia harus memulai penyelidikannya sendiri. Tak mungkin dia meminta bantuan atau memberitahukan isi ancaman itu pada rekannya sesama polisi. Bima juga kesulitan melacak sidik jari pada foto tersebut tanpa konsekuensi berbuntut pertanyaan. Yang pasti, dia sudah mengamankan foto-foto itu terutama dari sepengetahuan istrinya.

Bima tak bisa menghilangkan kecurigaan kepada orang-orang di sekitarnya. Terutama pasangan remaja Harrel dan Bhayu yang diketahuinya sebagai sepasang kekasih. Masalah Herlan dan Linda yang melibatkan mereka sampai berujung terhadap penganiayaan Bhayu oleh Linda di hotel, sudah dianggap sebagai kisah yang harus ditutup buku oleh semua orang.

Apakah mungkin Harrel atau Bhayu yang mengirimkan surat itu? Bima agak ragu. Saat peristiwa di hotel itu terjadi, keduanya terjebak masalah pelik. Rasanya tak mungkin mereka sempat-sempatnya berbuat sesuatu untuk menjebaknya dan Findra di kamar hotel itu untuk menakut-nakutinya. Apakah mungkin Findra sendiri yang berbuat demikian? Mungkin karena dia marah sempat melihat Bima berhubungan intim dengan Nico adik Harrel. Dalam hal ini, Nico juga bisa saja melakukannya. Masalah ini membuat Bima menjadi sering melamun. Ujung-ujungnya, dia kembali mencurigai Harrel. Anak ini terlalu sering terlibat masalah. Mungkin saja inipun hasil perbuatannya. Pikir Bima.

Esoknya Bima mulai melakukan penyelidikan sendiri. Tentu saja tindak-tanduknya ini tak boleh sampai diketahui oleh rekan-rekannya. Urusan pribadi akan menuai pertanyaan bila dirinya pergi menyelidiki sesuatu yang tak ada hubungannya dengan pekerjaan atau kasus yang ditanganinya.

Bima memulainya dari hotel tempat dia dan Findra bercinta dan secara diam-diam direkam oleh seseorang. Dia meminta resepsionis yang bertugas untuk mengantarnya ke kamar tempat Findra pernah menginap.

“Kalau boleh saya tahu ada urusan apa ya pak? Saya enggak bisa gitu aja kasih izin sembarang orang tanpa sepengetahuan manajer saya…” kata resepsionis muda tampan yang melayani permintaan Bima.

“Kamu mau menghambat penyelidikan polisi?” Gertak Bima.

“Bukan begitu pak.. saya juga cuma kerja di sini..”

“Saya hanya mau lihat kamar itu sebentar. Apa ada tamu di sana atau bagaimana?” Tanya Bima.

“Kebetulan memang kamar itu sedang kosong..” resepsionis itu tampak menghela nafas pasrah. “Baik pak… saya antar ke sana. Sebentar..”

Pemuda itu menunduk sesaat sambil mencari-cari kunci kamar yang tersebut. Setelah mendapatkannya, dia mengajak Bima mengikutinya.

Setelah keduanya tiba di kamar, Bima langsung menyelidiki seluruh ruangan. Kamar hotel ini didesain simpel dan minimalis. Tak ada perabot ataupun pajangan tak penting apapun yang menghiasi kamar ini. Bima langsung mengingat-ingat posisi gambarnya dalam foto. Bila memang seseorang merekamnya saat dia memepet Findra di dinding itu, maka kamera itu haruslah berada di sudut kiri ruangan.

Bima menoleh ke kiri atas. Sepertinya ada bekas sesuatu benda tercerabut dari langit-langit. Ada dua lubang kecil di situ.

“Itu bekas apa?” Tanya Bima.

“Um.. sepertinya detektor asap. Sekarang sudah dipindah ke dekat pintu.” Kata resepsionis itu.

“Kamu yakin?” Tanya Bima lagi.

Pemuda itu mengangguk ragu.

“Siapa saja yang bisa keluar masuk kamar ini? Petugas kebersihan?”

Resepsionis itu menggeleng. “Kami pakai outsourcing untuk petugas kebersihan. Mereka tidak kami beri akses kunci. Hanya resepsionis yang bertugas saat itu yang membukakan pintu..”

“Kalau begitu saya bisa tahu siapa resepsionis yang bekerja pada tanggal tertentu?”

“Bisa pak. Lewat jadwal dan absensi kehadiran..” jawab pemuda itu.

Bima lalu menanyakan siapa orang yang bertugas saat dirinya dan Findra berada di hotel itu. Tampaknya yang saat itu bertugas adalah pemuda bernama Ezra. Biasanya resepsionis yang bertugas ada dua orang namun kebetulan hari itu hanya Ezra yang hadir.

“Saya bisa ketemu orang ini?” Tanya Bima.

Resepsionis itu menggeleng. “Maaf pak. Ezra sudah keluar dua minggu lalu…”

“Sudah keluar?”

Pemuda itu mengangguk.

“Ada nomor handphonenya?”

“Ada sih pak. Tapi saya pernah coba menelepon dia beberapa kali karena ada beberapa orang yang mencari dia juga tapi nomornya sudah tidak aktif..”

“Ada yang cari Ezra?” Tanya Bima.

“Benar pak. Ada yang cari dia sambil marah-marah beberapa kali setelah dia keluar. Kelihatannya dia terlibat masalah atau apa.. mungkin hutang. Saya sendiri tidak terlalu dekat dengan dia. Saya baru tiga bulan di sini.”

“Kamu tahu di mana dia tinggal?”

“Saya belum pernah ke kostan nya. Tapi saya ada alamatnya kalau bapak mau ke sana,” jawabnya.

“Baik. Saya minta nomor handphone dia dan alamatnya.” Pungkas Bima.

Pencarian Bima berlanjut ke tempat tinggal Ezra. Dia sudah mencobanya sendiri menelepon nomor yang diberikan resepsionis hotel dan memang ternyata tidak aktif.

Kost tempat tinggal Ezra berada di sebuah gang yang tak terlalu lebar. Di sisi kanan dan kirinya terdapat perumahan warga yang tak berteras sehingga penghuninya ada yang duduk-duduk di pinggiran gang. Bima yang memakai pakaian dinas diperhatikan beberapa warga saat dirinya berjalan menuju rumah kos tempat Ezra tinggal.

Setelah memastikan bahwa pemilik kos ada dari seorang warga yang mengantar Bima, dia mengetuk pintu dan menunggu pemilik kos keluar.

“Pak Wana?” Tanya Bima.

“Ya betul pak polisi.. saya sendiri. Bapak mau cari siapa ya?” Tanya Pak Wana.

“Saya mau ketemu dengan penyewa kos bapak yang bernama Ezra. Apa dia benar tinggal di sini?”

Pak Wana tampak berpikir sejenak. “Ezra ya? Maaf pak tapi dia sudah tidak kost di sini lagi. Dia pindah sekitar dua minggu lalu.”

Sial! Batin Bima. Seharusnya dia lebih awal memulai penyelidikan ini. Dia semakin merasa bahwa Ezra ada kaitannya dengan kasus surat kaleng itu.

“Apa dia bilang pindah ke mana?” Tanya Bima.

Pak Wana menggeleng. “Kecuali atas keinginan penghuni, saya tidak berkepentingan menanyakan alamat baru penghuni yang keluar. Tapi mungkin bapak bisa hubungi dia di handphonenya. Saya ada datanya. Sebentar…”

Pak Wana masuk ke dalam kamarnya dan keluar lagi membawa beberapa lembar kertas copy yang terlipat.

“Untuk kepentingan keamanan, saya wajibkan penghuni melampirkan fotocopy KTP dan Kartu Keluarga pak. Ini silakan..”

Bima mengamati foto yang terdapat pada copyan kertas KTP yang dibawa Pak Wana. Rupanya nomor ponsel yang dititipkan pada pak Wana sama saja dengan yang dia simpan. Nomor tidak aktif itu. Dan Ezra juga tak meninggalkan nomor lain yang bisa dihubungi seperti nomor keluarganya.

“Boleh saya minta?” Tanya Bima sambil menunjuk copy identitas Ezra.

“Oh silakan pak. Saya masih ada salinannya. Bapak ambil saja.” Kata Pak Wana.

Bima kemudian mengangguk sambil berterima kasih. Saat dia hendak pergi, Pak Wana menahannya. Rupanya dia seperti teringat sesuatu.

“Oh iya pak. Mungkin ini bisa jadi informasi tambahan. Minggu lalu juga ada orang yang mencari Ezra. Dia datang sambil marah-marah. Namanya… mm.. siapa ya? Di.. Dion sepertinya.”

“Dion? Apa dia bilang kenapa mencari Ezra?” Selidik Bima.

Pak Wana menggeleng. “Dia tidak bilang.”

“Pak Wana ada nomor telepon orang itu?”

“Dia enggak kasih pak. Tapi sepertinya dia tidak puas dan ada kemungkinan bakal datang lagi ke sini. Kalau bapak kasih nomor telepon bapak, saya bisa info kalau dia datang lagi ke sini.”

“Oke. Saya juga minta tolong informasinya kalau Ezra menghubungi bapak lagi.” Ujar Bima sambil menyerahkan kartu namanya.

Pak Wana mengambil kartu nama itu dan mengangguk setuju.

Bima meninggalkan rumah kost Wana dengan rasa tak puas. Tapi dia yakin bisa mendapat informasi lebih banyak karena dia sudah mengetahui identitas Ezra. Dan Dion.. siapakah orang itu? Apakah dia bernasib sama seperti dirinya? Menjadi korban pemerasan Ezra?

***

Linda sudah berada di tahanan khusus wanita sejak kasus penganiayaan terhadap Ivan keponakannya sendiri dan penculikan terhadap Bhayu bergulir di pengadilan. Dia tak banyak mendapat kunjungan tamu selain dari keluarga dan pengacaranya. Linda yakin hakim akan lunak terhadapnya mengingat Ivan telah memaafkannya dan kembali mengambil alih bisnis mendiang suaminya. Anak perempuannya Imel pun sudah mencoba berdamai dengannya. Seharusnya dia tak lagi merasa khawatir dan akan tenang menjalani hukuman atas perbuatannya.

Tapi hari itu dia kedatangan tamu. Orang itu mengaku sebagai sepupu suaminya. Seingat Linda, Herlan memang memliki sepupu yang seumuran dengannya. Dia menjalani kehidupan bebas dan pergi sesuka hati. Kadang dia menghubungi suaminya untuk meminjam uang dengan dalih hendak membuka usaha namun tak jelas dan tak pernah dikembalikan. Dia tak pernah menghubungi Herlan sejak 10 tahun lalu. Bahkan dia tak hadir di pemakaman suaminya. Dan kini dia mendadak muncul? Mau apa lagi dia? Batin Linda.

“Waktunya maksimal lima belas menit,” ujar sipir wanita yang mengantar Linda ke ruang kunjungan.

Linda mengangguk berterima kasih pada perempuan itu dan duduk di kursi. Di depannya ada seorang pria berkacamata dan bermasker yang menutupi sebagian wajahnya.

“Halo Lind, apa kabar? Masih ingat saya?” Sapa pria itu.

“Kamu.. kamu Wira kah?” Tanya Linda ragu. Dia mencoba mengenali wajah pria yang ada di depannya sebagai sepupu suaminya.

“Iya benar. Saya Wira. Kamu masih ingat juga, ya?” Katanya sambil melepas kacamata dan maskernya.

Wajah Linda mendadak pucat. Dia bangkit dari duduknya dan melangkah mundur. “Kamu! Gila.. apa-apaan…” kata Linda gemetar.

“Ssst.. tenang.. tenang.. jangan buat keributan di sini…” ujar Wira menenangkan Linda yang tampak sepucat mayat dan gemetar.

“Ya Tuhan.. bagaimana mungkin…” ujar Linda sambil menekap mulutnya.

“Saya mau berbisnis dengan kamu. Tapi kamu harus setuju. Ini akan melibatkan Ivan dan Imel juga..”

“Mau apa kamu??! Jangan dekati keluarga saya!” Teriak Linda yang mengundang tatapan beberapa orang di ruangan itu. Teriakannya itu mengundang sipir wanita tadi yang sedang berjaga agak jauh dan menghampiri Linda.

“Ayolah Linda. Kamu tahu kan, anak kecil itu tidak bisa menangani bisnis besar suami kamu…”

“Tidak! Pergi kamu dari sini! Pergi..! ibu Sipir.. saya mau kembali ke dalam!” Panggil Linda.

“Hari ini kamu mungkin masih kaget. Tapi kamu di dalam sini tidak bebas menjaga Ivan dan… terutama Imel kan?” Kekeh Wira sambil memasang kembali masker dan kacamatanya.

“Jangan dekati anak saya!” Ancam Linda serius.

Wira tak menjawab. Dia lalu pergi meninggalkan Linda.

“Saya akan kembali.” Ujarnya.

****

“Makasih ya udah ngejemput ke kampus. Gila acaranya sampai lewat tengah malem gini… ” keluh Harrel.

“Yaudah. Sekarang Elo istirahat dulu. Tidur. Besok pagi  bukannya harus ke kampus lagi, kan?” Tanya Bhayu.

“Thanks Bhay. Hati-hati di jalan ya… cepet istirahat juga,” ujar Harrel sambil mengusap bahu Bhayu.

Bhayu mengangguk dan menurunkan kaca helmnya. Dia berlalu dari rumah Harrel untuk kembali pulang ke rumahnya setelah diminta menjemput Harrel dari kampus.

Saat itu sudah hampir jam dua pagi. Bhayu berbelok di tikungan jalan perumahan yang menuju blok tempat rumahnya berada. Saat itu dia melihat seseorang berdiri di tengah jalan. Diam menghalangi jalan.

Bhayu membunyikan klakson beberapa kali meminta orang itu untuk minggir, namun orang itu mengacuhkannya.  Saat lampu motor Bhayu menyinari wajah orang itu, Bhayu terkejut bukan main. Dia langsung kehilangan keseimbangan sehingga motornya bergerak tak terkendali ke samping jalan. Bhayu berteriak saat motornya oleng dan terjatuh di aspal. Tubuhnya terpelanting beberapa meter dari tempat jatuhnya motor. Bhayu tak bergerak. Orang itu berjalan pelan menghampiri Bhayu dan tersenyum mengejek menatap wajah Bhayu yang tertutup helm. Dia buru-buru pergi saat kecelakaan itu mulai mengundang banyak orang menghampiri tubuh Bhayu.

***

-Bersambung-

Advertisements
Comments
  1. Ron says:

    Akhirnya bang remy update juga. Lama juga bang. Sibuk ya? Banyak tokoh baru kayaknya banyak konflik nih nanti. Keren bang. Tetap bekarya

  2. RamaConMattNick says:

    (>..<)

  3. Regular walker says:

    Pure suspense and no sexscene….this is worth the wait bang…thank u…keep up the good work

  4. Andro says:

    “Bhayu membunyikan klakson beberapa kali meminta orang itu untuk minggir, namun orang itu MENGACUHKANNYA.”

    Sorry, Bang Remy, sekedar mengingatkan jika kata ACUH sebenarnya berarti MENGINDAHKAN/PEDULI tapi mayoritas kita terbalik dlm penggunaanya. Akan lebih tepat jika digunakan kata ABAI/MENGABAIKANNYA.

  5. keynes says:

    kartu memori season 1 kok gk ada ya?
    saya baru nemu blog ini, pengen baca dari awal. tolong dibantu ya.tq

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s