KISAH NICO – Bagian 8 (TAMAT)

Posted: October 25, 2015 in Kisah Nico
Tags: ,

image

Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Setelah Nico menjadi liar, dia melabuhkan perasaannya pada Dokter Brian. Sayangnya, penolakan Nico membuat Brian mundur dan memilih kembali pada mantan kekasihnya. Suatu hari Nico diserang oleh seseorang. Nico mengenalinya sebagai Arga. Bagaimanakah nasib akhir Nico?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

CAHAYA yang menerpa mataku mulai membuatku tersadar. Aku mengerjapkan mata beberapa kali berusaha melihat dengan lebih jelas. Tiba-tiba rasa sakit menjalar di kepalaku dan membuatku kembali tersungkur ke lantai. Aku mengerang sambil memegangi pelipis kananku yang terasa sakit dan membengkak. Kukumpulkan kembali tenagaku sambil mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum aku tiba di tempat ini. Aku ingat sekarang. Aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Arga dalam perjalanan pulang.

Aku lalu berusaha bangkit dan memandang sekeliling mencoba mengidentifikasi tempat ini. Ruangan ini cukup sempit. Tak ada lubang udara kecuali sebuah pintu di sisi kamar. Di dalam kamar itu hanya ada sebuah dipan besi dengan kasur yang sepertinya sudah lama tak ditempati dari sprei kusut yang membungkusnya. Penerangan kamar ini hanyalah sebuah lampu pijar remang berwarna oranye, namun aku masih bisa melihat beberapa kertas menempel di dindingnya.

Kudekati salah satu sisi dinding yang tertempel potongan berita di koran dan mencoba membacanya. Aku terkejut saat membaca potongan kertas koran itu yang ternyata adalah kumpulan berita-berita tentang beberapa remaja yang tewas dibunuh selama beberapa bulan ini. Perasaanku menjadi tak enak. Aku mundur beberapa langkah dan langsung mencoba membuka pintu berusaha untuk keluar. Namun usahaku sia-sia. Pintu itu terkunci. Kugedor berkali-kali sambil berteriak.

“Hoiii!!! Buka pintunya!!”

Tak ada jawaban. Kugedor lagi lebih keras sambil terus berteriak. Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendekati pintu. Aku mundur menjauhi pintu dengan sikap waspada. Pintu terbuka dan seorang pria masuk. Kali ini aku yakin bahwa orang yang menyerangku sebelum aku tak sadarkan diri adalah Arga.

“Mas Arga?” tanyaku.

Wajah tirus Arga terlihat menegang. Aku belum pernah melihat kantung mata setebal itu di wajahnya. Kulitnya seperti tak pernah mendapat cukup banyak sinar matahari. Pucat. Rambutnya kusut dan dibiarkan memanjang melewati telinga. Beberapa helai rambut yang menggantung pada wajahnya membuatnya tampak lebih putus asa. Kudengar nafasnya ditarik dengan berat sambil menatapku.

“Ni..Nico? Kamu benar Nico” tanyanya dengan suara serak seperti ada gumpalan pada tenggorokannya akibat tidak pernah berbicara dalam jangka waktu lama.

“Iya Mas.. Mas Arga kenapa jadi begini? Mas pindah ke mana?” tanyaku tulus. Entah mengapa semua kekecewaan dan kemarahanku padanya kini lenyap.

Arga mulai menangis. Dia lalu memelukku sangat erat dan tiba-tiba sampai aku kesulitan bernafas. Tangisannya sangat memilukan seolah kesedihan yang sudah lama terpendam akhirnya tumpah bersama air mata.

“Maafin saya Nic.. Maafin…” ujarnya.

“Maafin buat apa mas?” tanyaku.

“Saya udah ngejebak kamu malam itu. Saya enggak bisa lupa tatapan mata kamu.. bukan marah.. tapi kecewa….”

Ya! aku memang kecewa karena rasa percaya dan sayang yang aku berikan dengan tulus kepada Arga telah dia sia-siakan. Tapi melihatnya kembali dalam keadaan seperti ini membuat semua perasaan itu hilang. Aku ingat lagi wajah Arga saat itu. Tampak penyesalan yang dalam di sana.

“Udahlah mas… Itu udah masa lalu. Saya udah bisa melanjutkan hidup dan harusnya Mas Arga juga bisa…” kataku berusaha menghiburnya. Sekilas aku melupakan potongan berita yang tertempel pada dinding karena sekali lagi aku percaya pada Arga.

Tangis Arga tiba-tiba terhenti. Tubuhnya sedikit bergetar. Nafasnya kembali terdengar sangat berat. Pelukannya berubah menjadi cengkeraman.

“Bohong.. kamu pasti cuma pura-pura aja, kan?” gumamnya.

“Pura-pura bagaimana, Mas?” tanyaku tak mengerti.

Arga menarik nafas. Dia tiba-tiba melepas pelukannya dan menatap wajahku.

“Kamu bukan Nico… kamu bukan Nico, kan? Kamu sebenarnya enggak bisa maafin saya, kan?” tudingnya.

“Mas Arga kenapa? Saya Nico, Mas..”

Arga kembali terisak. “Kamu sama aja sama yang lain.. awalnya mereka bilang bukan Nico.. lalu berubah pikiran.. Saya enggak suka sama pembohong… pembohong harus terima hukumannya…”

Tiba-tiba Arga meletakkan jari-jarinya pada leherku dan berusaha mencekik diriku. Aku mencoba melepaskan diri dari cengkeraman tangan Arga. Namun Arga seperti kesetanan. Matanya memerah melihatku dan bernafsu untuk membunuhku.

“Mas.. Ekh..” kataku sambil mencakar tangan Arga yang sangat kuat sambil kesulitan bernafas. Aku teringat lagi dengan korban-korban pembunuhan yang ditemukan tewas itu dan langsung curiga bahwa Arga adalah pelakunya.

“Akh..!” Sekuat tenaga aku menendang perut Arga dengan lututku. Arga mengaduh sambil memegangi perutnya. Tubuhnya terdorong ke belakang.

Baru saja aku hendak menguasai diri dan berniat meloloskan diri. Arga sudah bangkit lagi dan menggeram sambil menyerangku. Kali ini dia berhasil membuatku terjatuh hingga kepalaku terbentur keras di lantai. Aku mengaduh kesakitan. Kepalaku terasa pusing dan pandanganku mengabur. Kesempatan ini tak disia-siakan Arga untuk kembali berusaha mencekik leherku.

Aku tak berdaya saat Arga menahan pinggangku dengan kedua pahanya sementara cengkeramannya makin kuat melingkar pada leherku. Aku mulai terbatuk-batuk kehabisan nafas. Tanganku reflek berusaha mencakar-cakar lengannya agar terlepas.

“Kau bukan.. Nico…” geram Arga lagi. Di matanya ada kemarahan. Dia tak lagi mengenaliku.

Kemudian aku menyerah. Aku lemaskan tubuhku membiarkan Arga mencekik leherku semakin erat.

“Terusin Mas Arga.. Nico.. pasrah.. mati sekarang atau nanti sama saja…” kataku terbata-bata.

Ucapanku membuat Arga mengendurkan cengkeraman jemarinya.

“Ni.. Nico..? kamu bener Nico…?” tanya Arga lagi. Aku benar-benar bingung dengan emosinya yang mudah sekali berubah-ubah.

“Mas Arga tahu? Saya udah kena HIV! daripada nunggu ajal perlahan lebih baik sekarang aja saya mati ditangan Mas Arga…” kataku.

Arga tampak terkejut dengan perkataanku. Dia melepaskan tangannya yang gemetar dan beringsut menjauh. Aku terbatuk-batuk sambil memegangi leherku dan berusaha bangun.

“Kenapa? Kenapa enggak dilanjutin, mas? Sudah telanjur mas Arga bikin rusak mendingan saya mati sekalian!” Aku berteriak. Entah dari mana semangatku untuk menantangnya.

Tubuh Arga gemetar. Dia beringsut ke pojokan sambil meringkuk. Dia menggumam pelan. “Maafin Nic.. Maafin…”

Aku tak tahu lagi harus berbuat apa. Kutinggalkan Arga sendirian dan berusaha keluar dari ruangan itu. Aku sedikit khawatir Arga akan mengejarku. Aku mengumpulkan keberanian dan kekuatan tubuhku untuk mendorong pintu ruangan besar di luar kamar sempit itu. Kuturuni tangga dengan tergesa-gesa. Aku tertegun ketika kulihat ruang tamu kosong dengan debu dan sampah berserakan. Aku membuka pintunya dan menyadari ini adalah rumah Arga yang telah lama ditinggalkan pemiliknya. Aku menghela nafas. Aku melangkah terburu-buru ke pintu pagar. Kubuka selot besi panjangnya dan keluar ke jalan. Kekuatanku mendadak hilang. Aku terjatuh di tengah jalan sambil menahan tangis. Kucoba bangkit kembali dan berjalan semakin jauh. Pada satu titik aku tak kuat lagi. Aku pingsan di tengah jalan.

Tubuhku ditemukan orang-orang yang berlalu-lalang. Syukurlah ada orang yang mengenaliku karena memang rumah Arga dan aku berada di komplek yang sama. Aku diam saja ketika seisi rumah bertanya-tanya mengapa aku bisa sampai tak sadarkan diri di tengah jalan seperti itu. Aku berpikir keras apakah aku harus menceritakan keberadaan Arga kepada polisi ataukah tidak. Aku takut diriku akan terlibat terlalu jauh jika polisi menyelidiki kasus ini dan mengetahui kedekatanku dengan Arga sebelumnya.

Setelah berpikir lama, aku akhirnya memutuskan untuk memberitahu polisi.

“Nico.. Nico diserang sama Arga.. Kayaknya dia yang bunuh.. remaja-remaja itu, Mah…” kataku.

Mama menekap mulutnya terkejut mendengar ceritaku. Papa langsung bergegas keluar kamar dan menghubungi polisi yang waktu itu menangani kasus diserangnya Kak Harrel oleh seseorang.

***

Yang Nico tak tahu adalah, beberapa lama setelah Nico melarikan diri, Arga yang tak memiliki semangat hidup lagi, meraih tambang yang sudah lama dia simpan. Senjata yang dia gunakan untuk mengikat korbannya hingga tak berdaya. Dia terisak memandangi tali itu dan juga melihat beberapa foto Nico yang tergeletak di lantai.

Arga terkejut saat seseorang membuka pintu kamar kecilnya itu dan melihat seseorang melangkah masuk mendekatinya.

“Mau apa…? kamu mau apa?” kata Arga sambil gemetar.

Orang itu tak menjawab. Dia menarik Arga dari lantai dan dengan sigap melingkarkan tambang itu ke leher Arga. Arga memberontak ketakutan. Tapi dia tak kuasa melawan orang itu karena tenaganya yang melemah. Arga mencengkeram lehernya yang terikat kuat tali tambang itu berusaha melepaskan diri. Orang itu mendorong tubuh Arga keluar kamar. Diikatnya ujung tali satunya pada sebuah kayu pagar yang membatasi lantai dua rumah itu dengan ruang tamu di bawahnya. Arga menatap orang itu ngeri namun tak berdaya.

Tanpa ampun tubuh Arga didorongnya ke balik pagar kayu hingga tubuhnya tergantung di atas ruang tamu dengan leher terjerat. Selama beberapa saat tubuh Arga masih meronta-ronta. Ketika nafas sudah habis dari tubuhnya, tubuh Arga akhinya tak bergerak. Kakinya terayun-ayun beberapa puluh senti dari lantai. Orang itu lalu kembali ke kamar setelah memastikan Arga benar-benar telah tewas. Dia lalu memungut foto Nico dan menyimpannya.

***

Suasana di sekitar rumahku mendadak ramai sejak sore tadi. Berita mengenai laporanku bahwa Arga telah menculikku dan kemungkinan dirinya sebagai tersangka pembunuhan beberapa orang remaja telah diketahui berbagai media massa.

Awalnya polisi yang menangani kasus Kak Harrel mendatangiku dan meminta keterangan. Dia menyesalkan mengapa aku tak menceritakan lebih awal karena ada kemungkinan Arga akan melarikan diri. Tapi polisi itu salah. Setelah bergegas ke rumah Arga, mereka menemukan mayatnya telah tergantung pada seutas tambang. Polisi menduga Arga bunuh diri setelah mengetahui diriku lolos dan takut akan konsekuensi yang akan dia terima saat aku membeberkan kejahatannya.

Aku cemas menunggu-nunggu kemungkinan polisi menemukan hubungan antara aku dan Arga serta mengaitkannya dengan beberapa pembunuhan lainnya. Tapi rupanya polisi baru menganggap perbuatannya murni kriminal dengan latar gangguan kejiwaan dan Arga memilih korbannya secara acak. Termasuk salah satunya adalah penyerangan terhadap Kak Harrel.

Suasana baru bisa tenang setelah dua minggu kemudian. Selama waktu itu, rumahku berkali-kali didatangi wartawan dari berbagai media massa dan tentu saja polisi yang bolak-balik meminta keterangan dariku. Monster peneror remaja telah ditemukan tewas. Warga bisa merasa tenang sekarang. Akhirnya kedamaian bisa kudapatkan dan aku bisa beraktivitas kembali seperti biasa.

***

Petualanganku kembali dimulai. Aku mengenal pria bernama Dion ini di sebuah aplikasi pencarian gay. Pertemuan pertama kami di rumahnya langsung diwarnai oleh percintaan panas. Aku tak berharap bertemu dirinya lagi, tapi beberapa minggu kemudian dia menghubungiku lagi. Dia berusia sekitar tigapuluhan, tampan, berbadan bagus dan statusnya sudah menikah.(*)

“Kenapa musti di sini?” tanyanya saat aku menghampirinya di lobi sebuah hotel.

“Saya kan enggak ada tempat, Mas. Enggak ngekost juga. Dan mas Dion bilang, enggak mau main di rumah lagi.”

Dion mengangguk setuju. Tak ingin menarik perhatian, aku mengambil kunci di resepsionis sementara Dion duduk di lobi sambil membaca koran. Beberapa lama kemudian, Dion menyusulku menuju sebuah kamar.

“Kangen sama saya, enggak, Mas?” godaku. Aku menarik tangan Dion mengajaknya masuk.

Dion tak menjawab. Dia merangkul pinggangku dan menghimpitku ke dinding. Aku memekik bersemangat melihat gaya Dion yang sedikit kasar. Dion hanya ingin melampiaskan syahwatnya kepada lelaki saat itu. Tak lebih.

Aku memejamkan mata ketika Dion menciumi leherku. Sesekali dijilatnya hingga aku merinding keenakan. Tanganku berupaya melepas kemeja kerjanya sementara Dion tak sabar membuka kausku.

“Mmmmf..” gumamku ketika mulut Dion membekap mulutku dan menyelipkan lidahnya ke dalam mulutku. Tubuhku serasa meleleh dalam dekapan kekar otot tubuhnya yang menekan tubuhku di dinding.

Aku dan Dion sama-sama bertelanjang dada. Aku beringsut sedikit ke bawah untuk menjilati dadanya yang bidang dan mengulum putingnya. Dion menggeram dan menggenggam sebagian rambutku memaksa lidahku bergerak ke tempat yang disukainya. Aku memegangi pinggang Dion saat mulutku dengan rakus mengulum penisnya. Dion terus melenguh dan menggeliat.

“Bawa pelumas?” tanyanya.

Aku mengangguk. Dia lalu menyuruhku berdiri dan membiarkan aku mencari pelumas dan kondom yang sudah kupersiapkan. Saat aku menyerahkan kedua benda itu, Dion hanya mengambil pelumasnya.

“Saya lagi enggak mau pakai kondom..” gumamnya.

Aku mengangkat bahu seolah berkata “terserah.”

Dion lalu menarik lenganku dan menjatuhkanku ke ranjang. Dia menindihku sambil menciumiku dalam dekapannya. Wangi parfum bercampur aroma alami tubuhnya membuatku mabuk terangsang. Dipaksanya aku melebarkan pahaku. Kurasakan penisku yang tegang menekan perut Dion yang rata. Selama beberapa saat, Dion menggodaku dengan menggesek-gesekkan penisnya pada celah di kedua pantatku. Aku mendesah menikmati gerakan itu.

Tak lama Dion melumuri penisnya dengan pelumas. Dia bangkit dan membuka lebih lebar kedua kakiku. Wajahnya dingin menatapku yang berdebar mengantisipasi bahwa sekali lagi dia akan menghujamkan penisnya yang dulu pernah dia lakukan dalam permainan panas yang tak bisa kulupakan.

“Nggh.. ahk..” aku memekik sambil menegangkan kedua kakiku saat Dion mendorong penisnya masuk ke dalam anusku.

Kugigit bibirku untuk mengurangi rasa tak nyaman yang ditimbulkan oleh ukuran penis Dion yang besar. Kutahan nafas dan kuberikan pandangan memohon pada Dion untuk memperlambat gerakannya, tapi rupanya nafsu Dion sedang berada di ubun-ubun.

“Aargh..” erangku saat Dion akhirnya berhasil membenamkan seluruh batang penisnya. Dia ikut menggeram seperti orang yang sedang marah. Aku merasakan cengkeraman telapak tangannya pada dadaku dan dia meremasnya beberapa kali hingga tanganku secara reflek memegangi lengan kekarnya.

Aku melengkungkan punggung berusaha merasa rileks dan menikmati hentakan pinggul Dion. Akhirnya aku bisa mengimbangi keganasan pria top egois ini dan mengepit pinggangnya dengan kedua pahaku. Dion terus menggeram. Keringatnya mulai menetes dan membuat tubuhnya mengilat.

Aku mendesah sambil mengusap lekukan otot-otot pada tubuh Dion bertahan hingga dia menyelesaikan permainannya. Beberapa lama kemudian, hentakan tubuhnya semakin cepat. Dion membenamkan wajahnya pada dadaku dan menyedot putingku cukup keras pada detik-detik dia akan mencapai puncak. Dan pada dorongan terakhir, kurasakan cairan hangat menyemprot dan mengalir masuk di dalam anusku hingga tubuhku merinding menikmatinya. Dion melenguh dan menjatuhkan tubuhnya di atas tubuhku. Tak lama dia mengatur nafasnya dan bangkit kembali. Dion tahu, aku belum mencapai klimaks. Aku mulai berpikir menarik kembali penilaianku padanya soal keegoisan dirinya sebagai top ketika dia beringsut ke arah selangkanganku dan menggenggam penisku dan mulai mengocoknya.

Bukan itu saja, Dion mulai mengulum penisku hingga aku mendesis menikmatinya. Kulihat punggung kokoh Dion bergerak-gerak bersama kepalanya saat dia mengisap penisku dengan bernafsu. Aku mengerang tak menyangka Dion bisa memberikan seks oral padaku dengan enak.

“Mas.. udah.. aku.. mau keluar…” erangku berusaha menjauhkan kepalanya dari penisku.

Dion mengangkat wajahnya yang sedikit memerah. Dan dia mengocok penisku sampai akhirnya menyemburkan isinya dan mengenai sedikit wajahnya.

Dion mendengus. Aku terengah-engah masih terbaring di ranjang. Kuusap perutku yang lengket oleh ceceran cairan sperma. Dion lalu bangkit sambil mengusap wajahnya dan berjalan ke kamar mandi. Setelah kami membersihkan diri, aku dan Dion berpisah. Dia berkata, sebaiknya ini yang terakhir kali kita bertemu karena dia tak ingin terlalu sering bersama orang yang sama.

Dion salah.

***

“Ini yang terakhir kalinya…!” geram Dion sambil mendorong sebuah bungkusan padaku. Kami berdua sedang berada di foodcourt sebuah mall.

“Serahkan semua file yang kamu punya. Kalau saya masih kamu ancam juga, saya bunuh kamu.. ingat.. saya bunuh kamu…” ancam Dion menakutkan.

Aku tersenyum tanpa rasa takut. Kuraih bungkusan yang diserahkan Dion. Isinya sebuah ponsel mahal keluaran terbaru. Aku tersenyum senang. Dion tampak gugup. Dia melihat sekeliling seperti takut akan ada orang yang mengenalinya.

“Sebenernya sih… saya lebih suka menggunakan ini supaya kita sering-sering ML. Tapi karena Mas Dion enggak mau, ya…”

“Kamu udah saya kasih uang! Sekarang handphone! Mau apa lagi, hah?” kata Dion sambil membelalakkan matanya.

Aku mendengus. Kuambil sebuah barang kecil dari dalam tasku dan menyerahkan benda itu padanya.

Dion tampak ragu menerimanya. “Semua ada di sini? awas kalau kamu bohong…”

“Semua foto dan video ada di situ mas.. tapi saya ambil satu file. Yang muka mas Dion enggak keliatan. Buat kenang-kenangan kalau kita pernah ML dengan panas..”

Brak! Dion bangkit dengan kesal seperti hendak menyerangku. Aku berdiri reflek dan mengingatkan dirinya agar tak bertindak gegabah. Dion menghentikan gerakannya. Dia lalu pergi meninggalkanku dengan marah.

Aku kembali duduk melihat Dion menghilang di kerumunan orang. Kusedot minuman dinginku sambil menimang-nimang dus ponsel pemberian Dion dengan senang.

“Kayaknya dia enggak main-main, Nic.. orangnya kasar gitu..” kata seseorang yang bergabung denganku di meja.

“Biarin aja. Lagian gue juga udah selesai berurusan sama dia..” kataku sambil mendengus.

Dia adalah Ezra. Pegawai hotel yang bekerja sama denganku. Hari itu saat aku dan Dion bertemu di hotel, aku sebenarnya membuat jebakan. Erza memberikan aku kamar yang sudah dipasangi terlebih dahulu dengan kamera kecil di salah satu sudutnya. Diam-diam percintaanku dengan Dion sengaja direkam dan kugunakan untuk memerasnya. Dion marah, namun tak bisa berkutik saat kuancam untuk menyerahkan foto yang kuambil dari kamera itu kepada istrinya.

“By the way, waktu kemarin itu, orang yang gantiin gue enggak sengaja kasih kunci kamar keramat kita ke tamu.” kata Ezra.

“Terus?” tanyaku.

“Dan waktu paginya, gue lupa matikan setting timer sehingga kamera itu terus ambil foto.” kata Ezra lagi.

“Emang ada yang menarik? paling ngerekam orang ganti baju aja kan?” tanyaku lagi.

“Mending elo liat sendiri deh. Gue enggak kenal, tapi kayaknya lumayan seru..” kata pemuda kurus ini sambil nyengir.

Ezra lalu mengeluarkan ponselnya. “Ini gue copy sebagian ke HP..”

Lalu Ezra memperlihatkan padaku beberapa buah gambar. Seorang remaja mempersilakan seorang pria berbadan kekar berjaket masuk. Foto berikutnya memperlihatkan mereka berdua membuka baju dan berciuman. Aku tak yakin dengan pemuda itu. Tapi aku mengenal orang berbadan kekar itu sebagai Bima. Dia adalah tetanggaku yang berprofesi sebagai polisi. Aku pernah sekali bercinta dengannya ketika aku memergokinya sedang menggeledah kamar Kak Harrel. Entah mengapa sepertinya polisi itu sangat tertarik mengurusi Kak Harrel dan temannya. Aku jadi cemburu karena menurutku Bima sangat menarik dan akhirnya bisa kurayu dalam sebuah permainan seks. Tapi setelah itu sepertinya dia tak lagi tertarik padaku.

“Kalau dilihat ada lencana sama sarung pistolnya sih, kayak aparat atau polisi gitu ya?” kekeh Ezra. Dia tampaknya terangsang melihat adegan percumbuan antara Bima dan remaja itu.

“Mana yang lain?” tanyaku.

“Ada nih.. gue bawa memori card nya..” kata Ezra.

Aku langsung mengambil kartu memori kecil itu dari tangan Ezra. Kuraih ponselnya dan menghapus foto-foto itu.

“Hey! Kok dihapus?” Protes Ezra.

“Elo ada copy ke mana lagi?” cecarku.

“Enggak ada! cuma ke HP gue aja.. selebihnya masih di situ. Kenapa sih? elo kenal, Nic?” tanya Ezra.

Aku menggeleng. Kemudian aku mengambil dompetku dan menyerahkan beberapa lembar uang pada Ezra.

“Ini yang terakhir, Ez. Gue enggak mau lagi. Elu copot kamera itu dan sebaiknya permainan kita enggak usah diterusin lagi.”

“Eh? Kok gitu?” tanya Ezra heran.

Aku tak menjawab. Kutinggalkan Ezra di sana sendirian.

***

“Adek bisa kan? nih uang buat adek jajan..” kataku sambil menyerahkan sebuah amplop cokelat dan selembar uang pada seorang anak kecil yang tampak ragu menerimanya.

“Tapi aku takut kak.. dia kan pak polisi..” katanya.

“Ah.. pak polisi kan baik. Adek cuma kasih amplop ini aja, terus lari deh.. ngerti?” bujukku.

Anak kecil itu mengangguk dan berlari menghampiri Bima yang berdiri di depan rumahnya. Aku segera mencari tempat untuk bersembunyi tapi bisa mengawasinya dari jauh. Aku tersenyum ketika Bima menerima amplop itu. Aku tak bisa menahan tawa saat melihat ekspresi Bima ketika dia melihat isinya. Foto-foto dia bermesraan dengan Findra, sepupu istrinya yang sempat tinggal bersamanya beberapa minggu.

Aku tidak tahu akan berbuat apa dengan foto-foto itu. Tapi sementara ini aku sudah cukup puas melihatnya panik. Mungkin suatu saat hal ini bisa kugunakan untuk keuntunganku. Aku lalu menghela nafas tanpa bisa menyembunyikan senyum kemenangan dari wajahku. Aku berjalan sambil menikmati angin selama beberapa saat, namun aku dikejutkan oleh suara orang yang kukenal.

“Kalau kamu senyum gitu, kayaknya abis berbuat nakal, ya?” sahutnya.

Aku lalu menoleh. Dokter Brian sudah ada di sana berdiri bersandar di mobilnya sambil memperhatikanku.

“Dokter? lagi apa di sini?” tanyaku. Entah sudah berapa lama aku tak mendengar kabar Brian sejak dia bilang hendak kembali kepada mantan pacarnya yang datang dari luar negeri.

Brian tertawa. “Apa kabar, Nic? Saya terus terang kangen sama kamu. Saya sempet juga lihat berita kamu yang diculik kemarin di koran-koran…”

Aku tertawa. “Kangen kan bisa di simpen, Dok. Nanti pacar marah loh, kalau tahu dokter ke sini..”

“Saya udah putus. Saya enggak bisa lupain kamu.” kata Brian serius.

Aku terdiam. Entah berapa lama kami terdiam saling memandang satu sama lain.

-TAMAT-

*Apakah Nico benar telah terinfeksi HIV?
*Apakah Brian bisa mendapatkan kembali Nico yang pernah dia lepaskan?
*Apakah Nico memilih untuk menjerat Bima dalam pelukannya?
*Benarkah Dion akan tidak akan menuntut balas pada Nico?
*Siapakah yang membunuh Arga?

Kisah ini berlanjut dalam KARTU MEMORI SEASON 3 – PREMIERE JANUARI 2016

Advertisements
Comments
  1. regular walker says:

    Cliffhangernya kartu memory season2 udah selesai disini dong bang konfliknya? Dan kalo konflik yg belom selesai/Cliffhangernya tentang nico semua berarti judulnya kisah nico season2 dong? Hehehe maaf rese…thank you for updating anyway…

    • Aku juga bingung. Mau menyimpan siapa yang kirim atau langsung dijelaskan. Sampe pusing 4 bulan. Hahaha.. tapi dikasih tau aja. Karena season III berkutat pada memory card yg dipegang Nico serta misteri pembunuh Arga.

      • regular walker says:

        I see…it’s still about memory card…but another memory card haha…buku kedua kapan bang? Nunggu nih

  2. adinu says:

    Akhirnya setelah sekian lama dilanjut juga.

    Masih penasaran sama yang membunuh arga, bisa harrel atau ayahnya nico. yang pertama tahu kan cuma keluarga nico.

    • coc111094 says:

      harel emg rada licik :/ bs bela diri jg :/ cm kyny kl sampe ngbunuh imageny kg ad :v ane mlh mikirnya arga itu mantan si dokter :v wkwkk

  3. nununu says:

    Akhirnya setelah sekian lama dilanjut juga.

    Masih penasaran sama yang membunuh arga, bisa harrel atau ayahnya nico. yang pertama tahu kan cuma keluarga nico.

  4. coc111094 says:

    kl kisah nico d campur sm kartu memory kyny S3 bekal panjang ni :3 btw efek dr nyimpen file pribadi kartu memory serem amat yak :v

  5. Jhon says:

    Wow meneganggkan
    Setelah sekian lama akhirnya di update juga..
    Pasti seru juga untuk next story nih….
    Di tunggu ya untuk ” Kartu Memory S3 ”
    Oh ya, “HEART STATION” gak di update lagi ya bang,….??
    Proud to you for the story bang , like it ….(y) :3

  6. andre says:

    Season 3 nyaa percepat dong bangggg….seru bgt!!!!

  7. neo says:

    kayanya sih bener nico kena HIV
    soalnya klo di dlm cerita nico ini dia selalu berhubungan sama orang2 lain…
    klo yg ngebunuh arga..kyaknya sih pa roy..gurunya nico…mungkin aja…

  8. Muki mahessa says:

    Aduhhhh lama banget nunggu 2016 , yg tamat an ini aj lama

  9. Mr. Andy says:

    Cuma nebak nihh… yng ngebunuh arga bisa jadi dr. Brian !!!

  10. tit says:

    ahhh akhirnya muncul lggggg…

  11. Lorenzo Alfredo says:

    Yg gue kesel adalah knp email notif.a gak masuk??

    Ini perasaan gue aja atau alurnya sengaja dicepetin???Trus malah masih banyak lagi yang gantung2.Hmmm… Kartu memori season 3??? Enak sih dapet sequel tapi klo updatenya kelamaan ya takutnya org pada lupa. Yah minimal 2 minggu sekali updatelah 😀

    Btw gue udh ngikutin blog ini dari awal kelas 9 lho bang, skrng gue udh kelas X, udh lumayan lama juga ya #OmonganGakPenting wkwkwkwk

  12. Lorenzo Alfredo says:

    Oh iya… Yg di wattpad juga diupdate juga ya bang. Penasaran sama kelanjutan yg satpam

  13. Lee says:

    Jangan2 yang ngedorong arga itu si brian ya.. asikk nih ya bang remy kalo.bikin cerita terus berkesinambungan …
    Hwaiting bang …(งˆ▽ˆ)ง semangat!!!

  14. Rizky says:

    Min Januari tanggal berapa ? udah gak sabar 🙂

  15. efendi says:

    season 3nya kapan gan udah januari nihh

  16. ALF says:

    Akhirnya update juga 🙂 dengan memuaskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s