Archive for October, 2015

image

Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Setelah Nico menjadi liar, dia melabuhkan perasaannya pada Dokter Brian. Sayangnya, penolakan Nico membuat Brian mundur dan memilih kembali pada mantan kekasihnya. Suatu hari Nico diserang oleh seseorang. Nico mengenalinya sebagai Arga. Bagaimanakah nasib akhir Nico?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

CAHAYA yang menerpa mataku mulai membuatku tersadar. Aku mengerjapkan mata beberapa kali berusaha melihat dengan lebih jelas. Tiba-tiba rasa sakit menjalar di kepalaku dan membuatku kembali tersungkur ke lantai. Aku mengerang sambil memegangi pelipis kananku yang terasa sakit dan membengkak. Kukumpulkan kembali tenagaku sambil mengingat-ingat kejadian terakhir sebelum aku tiba di tempat ini. Aku ingat sekarang. Aku bertemu dengan orang yang mirip dengan Arga dalam perjalanan pulang.

Aku lalu berusaha bangkit dan memandang sekeliling mencoba mengidentifikasi tempat ini. Ruangan ini cukup sempit. Tak ada lubang udara kecuali sebuah pintu di sisi kamar. Di dalam kamar itu hanya ada sebuah dipan besi dengan kasur yang sepertinya sudah lama tak ditempati dari sprei kusut yang membungkusnya. Penerangan kamar ini hanyalah sebuah lampu pijar remang berwarna oranye, namun aku masih bisa melihat beberapa kertas menempel di dindingnya.

Kudekati salah satu sisi dinding yang tertempel potongan berita di koran dan mencoba membacanya. Aku terkejut saat membaca potongan kertas koran itu yang ternyata adalah kumpulan berita-berita tentang beberapa remaja yang tewas dibunuh selama beberapa bulan ini. Perasaanku menjadi tak enak. Aku mundur beberapa langkah dan langsung mencoba membuka pintu berusaha untuk keluar. Namun usahaku sia-sia. Pintu itu terkunci. Kugedor berkali-kali sambil berteriak.

“Hoiii!!! Buka pintunya!!”

Tak ada jawaban. Kugedor lagi lebih keras sambil terus berteriak. Tak lama kemudian terdengar suara langkah mendekati pintu. Aku mundur menjauhi pintu dengan sikap waspada. Pintu terbuka dan seorang pria masuk. Kali ini aku yakin bahwa orang yang menyerangku sebelum aku tak sadarkan diri adalah Arga.

“Mas Arga?” tanyaku.
(more…)