KISAH NICO – Bagian 7

Posted: May 31, 2015 in Kisah Nico
Tags: , , ,

KISAH NICO 07Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

Wattpad: @AbangRemy (mungkin di sana ada cerita lain)

***

SETELAH telepon dari petugas polisi yang memberitahukan bahwa Kak Harrel berada di rumah sakit akibat penyerangan yang dilakukan seseorang, Mama sempat pingsan beberapa saat. Setelah bisa menguasai diri dan mendapat informasi yang lebih jelas, Mama tersadar dan kami bertiga cepat-cepat pergi menuju rumah sakit.

Kak Harrel berada masih berada di ruang IGD. Seorang perawat memberitahukan pada kami bahwa kondisinya baik-baik saja. Petugas polisi yang menelepon kami bercerita bahwa Kak Harrel sepulang dari sekolah entah mengapa memilih untuk singgah di sebuah toko untuk membeli sesuatu. Saat berjalan menuju halte terdekatlah, seseorang menariknya ke sebuah lorong. Orang tersebut membawa sebuah pisau dan mengancam Kak Harrel. Untunglah ada dua orang yang melihat kejadian itu sehingga pelaku penyerangan kabur walau sempat melukai bahu Kak Harrel dengan pisaunya.

Luka Kak Harrel tak seberapa parah, namun dia gemetar dan shock akibat penyerangan itu.

“Lukanya tidak serius dan tidak perlu jahitan. Pendarahannya juga sudah berhenti. Tapi yah.. seragam sekolahnya memang jadi penuh darah,” kata Polisi itu sambil menyerahkan kemeja sekolah Kak Harrel pada Mama yang sesenggukan.

“Kak Harrel harus dirawat?” tanyaku.

Petugas polisi itu menggeleng. “Kami masih minta keterangan dari Harrel mengenai ciri fisik penyerangnya. Kami belum tahu apakah penyerangan terhadap Nak Harrel ini berhubungan dengan kasus pembunuhan akhir-akhir ini, oleh karena itu informasi sekecil apapun harus kita proses. Harap ibu bersabar dan menunggu.”

Mama kembali terisak dan menyandarkan kepalanya pada bahu Papa. Aku lalu berinisiatif untuk melihat keadaan Kak Harrel. Dari jendela kaca ruang IGD aku bisa melihat Kak Harrel duduk di ranjang. Dia tampak lancar berbicara kepada seorang petugas polisi. Kak Harrel memakai piyama rumah sakit untuk mengganti sementara bajunya yang ternoda darah. Aku bisa melihat dia memegangi bahunya yang tampak menonjol oleh balutan perban. Aku bernafas lega melihat Kak Harrel baik-baik saja.

Setelah petugas polisi itu menanyai Kak Harrel, kami dipersilakan masuk untuk menemui Kak Harrel. Dia langsung menangis sambil memeluk mama dan papa dan terbata-bata menceritakan kejadian yang menimpanya. Dia tampak ketakutan.

“Syukur kamu enggak apa-apa, Rel.. mama udah cemas..” kata Mama sambil menyerahkan kaus pada Kak Harrel. Tadi sebelum berangkat, Polisi yang menelepon kami memang meminta kami membawa pakaian Kak Harrel yang masih bersih.

“Sini adek bantu, kak,” kataku sambil menolong Kak Harrel mengganti piyama rumah sakit dengan kaus yang dibawa Mama. Dia agak kesulitan memakainya karena bahunya yang masih sakit.

“Aduh.. duh… makasih, dek..” kata Kak Harrel.

Aku lalu memeluk Kak Harrel sambi berkata sungguh-sungguh, “Syukur Kak Harrel enggak kenapa-napa.”

Kak Harrel balas memelukku. “Kakak masih ingat betul.. orang yang coba nyerang kakak dari belakang itu ngomong sambil berbisik “maafin saya.. maafin saya..” kayak mau nangis, tapi tetep bikin takut…” ujarnya.

“Udah Rel.. udah.. enggak usah dibahas dulu. Mending kita pulang sekarang dan istirahat, ya?” usul Papa.

Kak Harrel mengangguk. Kami semua malam itu kembali ke rumah masih dengan perasaan tak menentu namun bersyukur hal buruk tak menimpa Kak Harrel jika memang dia diserang orang yang sama dengan pelaku pembunuhan beberapa remaja belakangan ini.

***

Berminggu-minggu kemudian, tak ada perkembangan berarti dari kasus yang menimpa Kak Harrel. Lukanya pun sudah lama sembuh, dan kukira trauma kakak juga sudah hilang. Polisi hanya dua atau tiga kali menghubungi Kak Harrel sejak kejadian itu. Tak satupun dari mereka berani menarik kesimpulan bahwa penyerangan Kak Harrel berhubungan dengan peristiwa pembunuhan tiga remaja itu.

Tak terasa waktu untuk kembali ke rumah sakit memeriksakan diri dengan diantar oleh Dokter Brian sudah hampir tiba. Aku meneleponnya untuk mengingatkan dirinya kembali.

“Kamu tiga bulan ini enggak nakal, kan?” tanya Brian lewat telepon.

“Enggak, Dok. Aku jaga diri dari pengaruh buruk lingkungan sekitar,” candaku.

Brian tertawa. Untunglah aku tak perlu bolos atau meminta izin dari sekolah karena sekarang bertepatan dengan libur semester kenaikan kelas. Aku senang Pak Roy, guru Fisikaku tak mempersulit nilaiku sehingga aku bisa naik kelas tanpa nilai yang rendah untuk mata pelajaran tersebut dan… aku tak harus bertemu dengannya lagi di kelas dua nanti.

Brian menjemputku pagi-pagi sekali dengan mobilnya. Entah mengapa tes VCT yang akan kujalani hari ini tak membuatku takut. Perasaan takut itu rupanya kalah dengan rasa gembiraku bertemu lagi dengan Dokter Brian. Aku melihatnya di dalam mobil melambaikan tangannya sambil tersenyum. Rambutnya kini agak gondrong dan sepertinya dia sedang berusaha menumbuhkan kumis.

“Sejak kapan kumisan gitu, dok?” tanyaku sambil terkekeh.

“Hmm.. udah beberapa minggu sih. Pantes, enggak?” tanya Brian sambil berkaca di spion dan membelai-belai kumisnya yang tak terlalu tebal itu.

“Makin ganteng,” pujiku.

Brian tertawa sambil menggelengkan kepalanya sebelum menyalakan mesin mobil. Saat kedua kalinya aku mengikuti tes VCT ini, aku merasa jauh lebih santai. Aku tak memedulikan orang-orang yang berada di sana karena seluruh perhatianku hanya tertuju kepada Brian. Aku menoleh padanya dan menatapnya cukup lama. Brian yang asyik dengan tablet elektroniknya, membalas tatapanku sebentar lalu tersenyum manis.

Rasa senangku bahkan membuatku tetap tenang saat hasil tes kedua ini aku terima. Aku bersyukur ketika hasil tesnya masih menyatakan diriku negatif dari virus HIV. Aku hampir saja ingin memeluk Brian di ruang tunggu saking gembiranya, namun tentu saja aku tahan.

“Oke?” tanya Brian.

“Oke..” jawabku mantap sambil menganggukan kepala.

“Ayo kita pulang,” ajak Brian.

Aku menghentikan langkah.

“Dok… kita rayain dulu, ya? Aku hutang perayaan terakhir kali kita ikut tes,” kataku.

“Oh.. oke. Mau rayain di mana? Kamu pilih deh restorannya,” ujar Brian.

“Mm.. rayainnya jangan makan-makan, dok..” kataku.

“Terus?” tanya Brian sedikit bingung.

Aku tak menjawab. Kudekatkan mulutku ke telinganya dan kubisikkan sesuatu. Wajah Brian berubah memerah dan salah tingkah.

“Ehm.. kalau perayaannya begitu sih.. eh.. jangan buang-buang waktu lagi di sini..” ujar Brian.

Aku tertawa. Kami kembali ke parkiran menuju mobil Brian dan segera menuju ke rumahnya. Di sepanjang perjalanan kami tak banyak bicara. Kuletakkan telapak tanganku pada salah satu pahanya. Setibanya di rumah Brian, kami langsung masuk ke kamarnya dan berangkulan. Kurangkul leher Brian dan mencium bibirnya sementara dia memeluk pinggangku. Aku ingin berlama-lama menikmati momen ini dan Brianpun menginginkan hal yang sama.

Kami terus berciuman. Kupagut bibir Brian dan menariknya mesra dengan bibirku. Brian membalas ciumanku dan dengan penuh perasaan. Dia menciumku seolah bibirku sebuah makanan yang tak ada habisnya. Diselipkannya lidahnya ke dalam mulutku dan aku hanya bisa pasrah menikmatinya saat lidah itu menggulung lidahku sambil sesekali mengusap gigiku.

Brian membimbing tubuhku ke atas ranjang. Direbahkannya tubuhku sambil terus mencium bibirku. Brian membantuku melepas pakaianku dan aku membantunya melepas deretan kancing kemejanya.

“Hmm…” gumamku.

“Kenapa?” tanya Brian.

“Enggak apa-apa.. Dokter rajin work-out juga ya?” pujiku saat melihat tubuh Brian yang selama ini tertutup kemeja longgar yang biasa dia kenakan. Kuusap lengan kokoh Brian yang berotot serta dadanya yang bidang penuh kekaguman.

“Yah.. saya emang enggak suka pamer,” candanya sambil kembali mencium bibirku.

Brian mengangkat kedua lenganku ke atas kepala dan mengunci pergelangan tanganku dengan telapak tangannya. Dia membuatku tak berdaya saat mulai mendominasi permaian ketika cumbuannya bergeser ke bagian leher dan telingaku. Aku mendesah, menggeliat namun tanganku tak bisa berbuat apa-apa. Kubenamkan wajahku pada bahu Brian dan kuhirup dalam-dalam kulitnya hingga aku bisa menikmati wangi cologne pria bercampur aroma alami tubuhnya dalam-dalam.

Cumbuan Brian bergeser semakin ke bawah dan dia melepaskan kedua tanganku. Desahanku semakin keras saat Brian mengulum putingku bergantian. Aku mengerang dan menggeliat ketika dia mengusap pusarku dengan sapuan lidahnya. Begitu pula ketika Brian mulai mengoral penisku. Kugigit bibirku sambil menikmati perlakuannya. Aku nyaris menjerit keenakan ketika lidah Brian menekan-nekan lubang anusku bercampur dengan kumisnya yang terasa menggesek kulit sensitifku di bagian itu. Tubuhku gemetar keenakan. Kedua tangan Brian mencengkeram pahaku. Kucoba meraih kepalanya dengan tanganku saat dia melakukan itu, namun dengan sengaja dia menghindarinya sehingga membuatku gemas.

Tak tahan, aku lalu bangkit dari posisi tidurku dan berniat membalas perbuatannya. Kudorong tubuh Brian dan dia tertawa ketika aku memaksanya untuk gantian  berbaring di ranjang. Kukerahkan seluruh kemampuanku mengoral penis Brian yang membuatku berpikir sejenak apakah aku bisa “mengatasinya” nanti jika benda ini ingin menjelajahi anusku?

Brian mengerang sambil jemarinya meremas sprei. Tubuhnya menegang. Itu artinya aku sudah melakukan hal yang benar saat kukulum batang penisnya. Aku mengocoknya perlahan dan kuusap kepala penisnya dengan lidahku sehingga kudengar lenguhan Brian semakin berat . Cukup lama aku melakukan itu dan Brian lalu bangkit dan kami sama-sama duduk di atas ranjang berhadap-hadapan dan kembali berciuman. Brian lalu duduk sambil melipat lututnya. Penisnya yang mengilap oleh liurku berdiri tegak menantangku untuk mendudukinya.

“Safe sex?” tanya Brian.

Aku mengangguk.

Brian lalu membungkuk ke arah meja dan mengeluarkan kondom serta sebotol pelumas dari dalam lacinya. Hal ini membuatku tak tahan ingin bertanya.

“Dokter kan ganteng.. pasti banyak yang suka. Udah berapa cowok yang jatuh ke pelukan dokter?” tanyaku berusaha bersikap biasa namun tak kuasa menyembunyikan nada kecemburuan pada kalimatku.

“Kamu bener pengen tau?” tanya Brian sambil tertawa.

“Enggak.. enggak mau tau..” jawabku sambil membekap mulutnya dengan bibirku. Brian lalu tergelak.

Dengan berhati-hati kupasang kondom pada batang penis Brian. Brian memerhatikanku dan tersenyum saat kulakukan itu. Perlahan aku mendekatinya dan merangkulnya. Setelah kuberi pelumas yang cukup, kubiarkan penis kami saling beradu beberapa saat sambil berciuman. Aku mengangkat tubuhku dan menggenggam penis Brian dan mengarahkannya tepat pada lubang anusku. Kuturunkan pinggangku perlahan. Aku memekik pelan sambil menatap wajahnya ketika perlahan kepala penis Brian mulai masuk ke dalam anusku. Ini terasa lebih mudah karena aku pasrah ingin membuat dokter tampan ini senang. Walau demikian, sedikit perasaan tak nyaman masih kurasakan mengingat ukurannya yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.

“Sakit?” tanya Brian sambil mengusap rambutku dan mengecup pipiku saat hampir seluruh batang penisnya melesak ke dalam anusku.

Aku menggeleng sambil tersenyum. Aku tak ingin membuat pria ini khawatir dengan perasaan tak nyaman yang masih kurasakan dan berusaha terbiasa demi dirinya.

“Enak?” tanyaku.

Brian mengangguk sambil menciumi bibirku dan mengusap punggungku dengan telapak tangannya.

“Biarin begini dulu, ya? sampai kamu nyaman…” kata Brian perhatian.

Justru karena sikapnya yang tak terburu-buru dan mementingkan perasaanku itu membuatku cepat merasa rileks dan bertekad untuk memuaskannya. Aku meletakkan kedua telapak tanganku pada wajahnya dan mencium mulutnya sambil kuangkat pinggulku dan menghentakkannya ke bawah sehingga penis Brian kembali melesak dengan cepat.

“Hoooh..” kami berdua mendesah.

“Nakal kamu.. enggak bilang-bi.. Haah.. aaah.. Oouhh..” kalimat Brian terputus ketika aku kembali menaik-turunkan pinggangku sambil kuketatkan otot-otot anusku berusaha memberikan kenikmatan pada batang penis Brian. Kulihat dia mengerang keenakan. Matanya terpejam dan mulutnya sedikit terbuka. Kulumat bibirnya sambil terus bergerak naik turun pada pangkuannya.

“Hooh.. uuuh..” erang Brian sambil tubuhnya ikut sedikit bergoyang.

“Enak, dok? Enak..?” tanyaku sambil mendekap kepalanya.

Brian mengangguk sambil terus mendesah. Cukup lama aku bergerak naik turun sampai Brian lalu meremas kedua belah pantatku dan menghentikan gerakan tubuhku. Kini giliran dia yang menggerakkan pinggulnya dan tanpa ampun dengan gerakan cepat dia membuat penisnya keluar masuk lorong anusku.

“Hooouh..” kini giliranku yang mendesah hebat. Kucengkeram bahu Brian sambil kulengkungkan punggungku . Brian menggeram sambil terus merojok anusku dengan batangnya yang keras. Ini membuatku seperti hilang akal dan penisku semakin mengeras.

“Nggh… nggh..” rintihku ketika perbuatan Brian membuat penisku tak tahan ingin memuntahkan isinya. Brian melakukan tiga penetrasi akhir yang dalam dan keras sambil menggeram dan aku mengeluarkan isi zakarku berkali-kali dan mengenai perutku dan Brian. Aku juga merasakan Brian telah mencapai klimaks walau aku tak bisa merasakan semburan spermanya, aku bisa merasakan penisnya berkedut-kedut saat dorongan terakhir berbarengan dengan desahannya.

Tubuh kami yang bersimbah peluh ambruk di atas ranjang. Aku memeluk Brian dan mencium bibirnya. Aku merasa sangat bahagia.

“Dok…?”

“Ya?” tanya Brian.

“Saya suka sama Dokter.. boleh enggak kalau aku minta dokter jadi penjaga aku supaya enggak nakal?” tanyaku.

Brian mengusap rambutku dan mengecupnya.

“Saya juga suka sama kamu, Nico..” katanya.

“Kalau begitu, aku maunya nakal sama dokter Brian aja untuk seterusnya, gimana?” tanyaku lagi.

Brian tak menjawab. Hal ini membuatku sedikit khawatir. Apakah mungkin Brian tidak mengerti keinginanku? Apakah aku terlalu berharap sehingga menganggap Brian menyukaiku juga seperti aku menyukainya?

“Maaf Nic.. saya enggak nyangka kalau kamu punya perasaan yang sama. Saya pikir kamu sudah menolak saya  ketika di rumah sakit itu dan… sudah bisa menerima kalau kali ini aku cuma sebagai teman yang kasih support kamu untuk ikut tes..”

“Maksud dokter?”

“Waktu pertama kali kita ketemu di klinik itu, saya baru putus dengan pacar saya padahal saya masih sangat mencintainya. Selama beberapa minggu saya kehilangan semangat. Lalu malam itu saya bertemu kamu di klinik. Tepat disaat saya ingin nekat menenggak belasan pil penghilang rasa sakit dengan minuman keras..”

“A..pa?”

Brian mengangguk. “Kalau saja kamu tidak menekan bel klinik malam itu.. entah apa yang terjadi. Mendengar cerita kamu.. melihat keadaan kamu.. saya merasa kasihan pada diri sendiri. Orang lain mengalami hal buruk namun tetap bertahan. Sedangkan saya? cengeng sekali..” kata Brian sambil tertawa getir.

Aku tak bisa berkata apa-apa.

“Lalu saat itu saya putuskan untuk tetap hidup. Berharap bisa bertemu kamu lagi walau kamu enggak pernah menghubungi saya. Menunggu kamu… itu yang bikin saya tetap hidup. Tapi rupanya kamu enggak memiliki perasaan yang sama dengan saya. Saya sudah senang akhirnya bisa ketemu kamu lagi, tapi kamu dengan jelas menolak saya…” lanjut Brian.

Aku mulai menangis.

“Seharusnya saya ikutin permintaan kamu untuk ketemuan saat kamu hubungi saya tiga bulan lalu.. tapi saya tak ingin terbawa perasaan dan.. taruh harapan tinggi menyangka kalau akhirnya kamu berubah. Bulan lalu mantan saya tiba-tiba menelepon dan akan pindah ke sini secepatnya.. Saya.. saya enggak bisa nolak waktu dia mengajak saya kembali menjadi pacarnya..” tutur Brian. Suaranya tercekat dan tampak sulit baginya untuk melanjutkan kalimatnya.

Aku menangis tanpa bersuara. Brian terisak dan mendekapku. Dibenamkannya wajahnya pada punggungku.

“Maafin saya karena sampai tadi saya menganggap kamu melakukan ini cuma karena ingin berterima kasih..” kata Brian pedih.

Ah.. aku tak menyangka bisa merasakan kembali patah hati sepedih ini setelah yang kualami dengan Arga…

***

Sekarang aku duduk di kelas Dua SMA. Aku tak pernah mendengar lagi kabar dari Dokter Brian sejak terakhir kali kami bertemu. Banyak peristiwa kulalui sejak saat itu. Termasuk akhirnya aku berselingkuh dengan Papanya Steven dan diam-diam bercinta dengannya tanpa sepengetahuan sahabat terbaikku itu. Steven akhirnya memang menangkap basah kami dan aku berjanji padanya tak akan mendekati lagi ayahnya jika aku masih ingin bersahabat dengannya.

Tapi janji tinggallah janji. Secara sembunyi-sembunyi aku masih menemui Bastian, ayah Steven yang hot itu dan bercinta dengannya beberapa kali.

“Pulang dulu, Om..” kataku sambil mencium bibir Bastian dan merapikan pakaianku. Kami berdua sedang berada di kantor Bastian setelah melakukan sesi bercinta yang panas sehabis pulang dari mall malam itu dan kuputuskan mampir ke tempatnya.

“Jangan bilang-bilang Steve ya?” kata Bastian mengingatkan.

“Loh.. kan Om sendiri bilang kalau Steven diam-diam juga ketemuan sama temen Om yang namanya.. siapa itu? Rendi? Ya anggap aja impas..” kataku.

“Ya… tapi enggak perlu bilang-bilang juga, kan Nico sayang?” bujuk Bastian sambil merangkul pinggangku.

“Iya.. iya.. apa sih yang enggak buat Om ganteng?” kataku sambil mencium lagi bibirnya.

Aku lalu berpamitan. Aku keluar lewat pintu belakang gedung tempat pusat kebugaran milik Bastian menuju jalan raya tempat halte kendaraan. Aku masih tersenyum-senyum mengingat permainan seru kami barusan. Bastian memang hot dan hebat dalam bercinta.

Menyusuri lorong temaram dan sepi lama kelamaan menimbulkan perasaan tak enak. Aku menoleh ke belakang. Tak ada siapa-siapa. Tiba-tiba aku teringat kembali peristiwa penyerangan dan pembunuhan remaja berbulan-bulan silam.

Ayolah Nico! Jangan mikir macem-macem! Sejak peristiwa Kak Harrel, sudah tidak ada lagi korban berikutnya, kan? Pasti penjahatnya sudah berhenti! kataku dalam hati mencoba menenangkan diri. Aku menarik nafas dan kembali berjalan. Tapi tanpa peringatan sebelumnya, sebuah bayangan keluar menghampiriku dengan cepat. Tadinya dia bersembunyi di balik bayangan gelap sebuah dinding. Aku hendak berteriak namun orang itu keburu menekap mulutku. Aku bergerak memberontak. Kudorong pria itu yang tenaganya sangat kuat mendekapku. Aku bergidik saat dia tiba-tiba mendekatkan mulutnya dan berbisik di telingaku. “Maafin saya.. Maafin saya…”

Dengan sekuat tenaga aku mendorong tubuhnya ke belakang sehingga punggungnya membentur dinding. Dia mengaduh kesakitan tapi segera menguasai diri dan menarik lenganku. Di bawah lampu yang menempel di dinding, aku bisa melihat wajahnya. Tirus, pucat, namun aku mengenalinya…. Arga.

“Ma.. mas Arga?” tanyaku tak percaya.

Dia tak menjawab dan malah mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Sebuah pukulan di wajahku membuat pandanganku gelap dan akhirnya tak sadarkan diri…

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. Bobby says:

    Emng wattpad bang remy apa siih? yg tau jawab!
    teruss cerita2 apa aja?
    GUA MAU FOLLOW

  2. nico nico says:

    Kapan di lanjut?cerita nya asyik

  3. nico nico says:

    Please,di lanjut sih

  4. shahreeza says:

    kapan mau diupdate bang remy??

  5. Bobby says:

    kagak bakal lanjutt… :/

  6. coc111094 says:

    kg lanjut ya min? ini si nico idupny kg lovey dovey ky si harrel :v btw itu yg dipoto bibirny sexy :3

  7. ALF says:

    Aku suka bgt baca cerita di sini, sukaaa banget.. jadinya aku juga pengen bikin cerita.. kapan-kapan jalan jalan ke blog ku yah,, baca semua ceritanya.. lumayan kok 🙂
    http://khusus-cowok.blogspot.co.id/2015/08/rian-behind-rain.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s