KISAH NICO 06Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

KETIKA hendak menyebrang jalan untuk kembali ke tempat karaoke itulah tiba-tiba seseorang menarik lenganku sampai aku terkejut.

“Elu kemana ajaaaa…”

Stevenlah yang menarik lenganku sambil merengek. Wajahnya kelihatan khawatir dan pakaiannya sedikit kusut.

“Loh? Elu ngapain di sini? bukannya karaokeannya sampe jam satu?”

Steven tak menjawab. Dia memegangi bahuku seolah hendak mencari tempat bersandar. Wajahnya seperti menahan rasa mual sementara tangannya yang satu memegangi perutnya.

“Mas Janu.. Mas Janu tadi bikin ulah.” katanya.

“Berulah gimana? Eh.. Elu mabok ya?” tebakku.

“Minuman yang tadi gue bawa, diem-diem gue campurin ke minuman yang dipesen… elu juga minum, kan? Nah.. Mas Janu minum kebanyakan. Dia enggak tahu kalau itu minuman udah gue campur miras punya bokap. Akhirnya dia mabuk dan panggil pelayan. Pas pelayan datang, Mas Janu mendadak marah-marah ajak berantem pelayan karaoke. Jadilah kami diusir satpam.. huhuhu..” cerocos Steven.

“Lantas yang lain kemana?”

“Mas Janu diantar dua temennya pulang, karena gue bareng sama elu, gue terpaksa nyari-nyari elu kayak anak ayam ilang…” kata Steven sambil duduk di salah satu pot besar trotoar.

“Jadi yang gue minum tadi…?” tanyaku memastikan.

Steven melirik padaku terlihat merasa bersalah. Saat itulah aku sadar mengapa ada perasaan aneh saat aku meminum dari botol yang seharusnya tidak sampai memabukkan. Apakah aku berhenti di waktu yang tepat sebelum benar-benar mabuk saat aku menjadi berani merayu Arwan di toilet tadi? Aku langsung menepuk dahiku. Pantas saja aku merasa tanpa beban dan rileks melakukan seks dengan Arwan.

“Yaudah.. gue anter elu pulang sekarang. Kita panggil taksi.”

“Jangan ke rumah.. gue nanti bisa digamparin bokap kalo pulang keliatan mabok.. ke rumah elu aja, plis. Gue nginep baru besok pulang..” pinta Steven.

“Terus jelasin ke bokap elu gimana?” tanyaku.

“Gampanglah..” Steven berkata sambil meraih ponselnya dan mulai mencari-cari sesuatu di layarnya. Wajahnya masih terlihat menahan mual dan akhirnya ponselnya jatuh karena tangannya seperti tak kuasa menggenggamnya dengan benar.

“Hape gue… Aduh!” kata Steven sambil merangkak di trotoar mencoba memungut ponselnya.

“Elu ngapain, sih?” tanyaku.

“Mau panggil taksi pake aplikasi… uhuk..” jelas Steven.

Aku menggelengkan kepala melihatnya bertingkah seperti orang linglung.

“Ayo bangun.. Kita panggil taksi pakai cara kuno aja..” kataku sambil mengangkat tubuh Steven dan memapahnya.

Selama perjalanan ke rumah, Steven tertidur pulas di mobil.Sebelum dia tertidur, dia menyuruhku menelepon Papanya dan mencari alasan untuk mengizinkan anaknya itu untuk menginap di rumahku. Sepertinya Papanya Steven tak keberatan setelah dia meminta alamat dan nomor telepon rumahku sebagai jaminan.

“Nico? Kenapa temen kamu? Kenapa pada pulang tengah malam gini sih?” tanya Mama khawatir saat aku tiba di rumah.

“Masuk angin.” kataku.

Kemudian mama membuatkan dua gelas teh manis panas untukku dan Steven. Setelah aku bisa meyakinkan mama bahwa Steven hanya butuh tiduran dan hendak menginap semalam, mama lalu meninggalkan kami di kamar. Aku lalu menyuruh Steven meminum teh panas itu dan dia langsung berlari ke kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.

Aku berganti pakaian saat Steven menyelesaikan ritualnya menguras isi perut di kamar mandi. Kemudian dia muncul sambil jalan perlahan. Wajahnya kepayahan dan basah oleh air. Sepertinya dia habis cuci muka.

“Udah mendingan?” tanyaku saat melihatnya duduk di atas ranjang dan menyerahkan baju ganti padanya.

Steven mengangguk. Dia lalu mengganti bajunya dengan kaus milikku yang lebih nyaman.

“Gue emang agak mabuk.. tapi gue tadi bisa nyium rambut elu yang wangi shampoo dan basah.. elu abis ngapain?” tanya Steven sambil rebahan di ranjang dan menarik selimut.

Aku menghela nafas. “Gue abis ngelakuin hal bodoh. Mungkin efek minuman, tapi… gue ngerasa lagi ngelakuin satu tantangan yang macu adrenalin gue..”

“Ganteng enggak, orangnya?” tanya Steven.

“Ih. Apaan sih? Kenapa langsung ke situ?” Kataku malu.

“Lah? lantas ngapain lagi? Gue sih enggak bakal maafin elu kalo ternyata ngilang buat maen sama yang kagak napsuin…” gumam Steven.

“Yah.. Oke sih…” kataku sambil mengingat permainan liarku dengan Arwan.

“Baguslah. Kalau gue sih, gue mau pertahanin keperawanan gue..”

“Emang elu masih perawan? Gue enggak percaya!”

“Sembarangan. Gue masih perawan, tauk! Gue simpen buat bokap…” kata Steven.

“Gila lu, Steve!” kataku sambil melempar bantal ke wajahnya dan tertawa.

“Udah, tidur sini.. Peluk gue..” kata Steven.

“Heh! Emang elu enggak takut terjadi apa-apa entar pas tidur?”

“Halah! Elu sama gue sama-sama baskom. Mana bisa saling napsu, ah!”

“Baskom? Apaan tuh?” tanyaku tak mengerti.

“Baskom, Battem, Bottom! gitu aja enggak tahu. Cepetan sini!” perintah Steven menyebalkan.

Aku lalu menuruti Steven dan tidur di sebelahnya sambil memeluk pinggangnya.

“Nic..?” tanya Steven.

“Mmm..?”

“Kapan-kapan kita cari cowok macho buat threesome, yuk?” gumam Steven.

“Boleh.. Threesome ama bokap elu juga, yak?” godaku.

“Mata elu belum pernah kelilipan obeng, yak?” ujar Steven gemas.

Aku tertawa dan mendorong kepala Steven dengan tanganku. Kami berdua lalu terlelap pulas.

***

Walaupun Steven masih terkantuk-kantuk dan bilang padaku kalau kepalanya masih sakit, pagi itu dia sudah ada di meja makan untuk sarapan. Awalnya dia masih menggelengkan kepala sambil menolak roti yang kubuatkan untuknya. Tapi akhirnya dia menurut padaku memakan roti itu setelah kuancam dengan pelototan mata.

Kak Harrel sudah pergi entah kemana Minggu pagi itu, sedangkan Papa sudah selesai makan sejak pagi dan kini ada di halaman depan mengurusi tanamannya. Mama menyeruput tehnya sambil menonton televisi. Rupanya berita semalam mengenai mayat remaja yang ditemukan yang kulihat di hotel tempat Arwan menginap masih berlanjut.

“…KL merupakan korban kedua yang ditemukan dalam keadaan tak bernyawa di pinggir jalan setelah dilaporkan hilang selama seminggu… Siswa kelas 1 SMA ini ditemukan masih memakai seragam sekolahnya dengan tanda-tanda penganiayaan dan pemerkosaan sama seperti korban sebelumnya yang juga berusia 16 tahun…”

“Tuh, kalian denger, ya! Jangan pulang malam-malam. Udah ada dua korban remaja seumuran kalian. Haduh.. jaman sekarang, ya.. Anak laki-laki aja diperkosa…” kata Mama miris sambil menggelengkan kepalanya.

Steven terbatuk-batuk kecil saat berusaha menelan rotinya. Aku melirik ke arahnya sebal.

Setelah sarapan, Steven mandi dan bersiap pulang. Dia bilang pasti Papanya tetap tahu kalau dia habis mabuk dan sudah siap dengan segala hukumannya.

“Gue harap sih, Papa ngehukum gue.. diseret ke kamar, baju gue dilucutin, lalu papa..” Steven tak berhasil menyelesaikan khayalan gilanya karena aku lebih dulu menimpuk wajahnya dengan bantal.

“Apaan sih? Jahat banget!” gerutu Steven sambil melempar balik bantal itu ke arahku.

“Udah pulang sana! Taksinya udah dateng tuh!” usirku kejam.

“Lain kali kalau mau main, ajak-ajak gue, ya?” kata Steve.

“Jangan lah.. elu kan masih perawan. Nanti kalo ilang perawan, nangis-nangis lagi nyalahin gue..” kataku mencoba bercanda, tapi topik seperti itu sebenarnya membuatku tak nyaman.

Steven menjulurkan lidahnya dan keluar dari kamar. Dia berpamitan pada Mama dan Papa sebelum naik ke dalam taksi.

Tapi peringatan Mama sepertinya tidak berhasil membuatku kapok. Sabtu depannya, aku sengaja berdandan dan jalan di pusat perbelanjaan dan nongkrong sendirian di sebuah foodcourt sambil memainkan ponsel. Aku menunggu siapapun yang berani mendekatiku.

Memang tak banyak orang yang terus terang seperti itu mendekati remaja pria di mall dan mengajaknya kenalan karena hal itu masih terlihat janggal. Tapi ada satu dua orang yang berani melakukannya. Dua orang pertama adalah pria paruh baya yang sangat tak menarik dan genit. Pria ketiga lah yang akhirnya menarik perhatianku. Namanya Robby. Usianya duapuluhan. Tinggi dan wangi. Ternyata dia kost tak jauh dari pusat perbelanjaan dan mengajakku mampir ke tempatnya.

“Kosannya bagus..” Kataku mencoba mencairkan suasana.

Robby tersenyum. Dia lalu melepas jaketnya dan aku melakukan yang sama dengan membuka bajuku.

Awalnya cumbuan kami begitu panas dan bersemangat. Robby berhasil membuatku terangsang dengan caranya menciumiku di ranjang. Saat memulai penetrasi, Robby dengan lihai dan tak terburu-buru melakukannya. Ini membuatku lebih nyaman karena tidak sedang dalam pengaruh alkohol seperti waktu melakukannya dengan Arwan.

Aku tersenyum ketika goyangan Robby di atasku membuatku merasa enak. Kuletakkan tanganku di bahunya yang kokoh sambil kuciumi lehernya untuk memberikan semangat.

“Uh..” desahku ketika Robby semakin cepat menggoyang pinggulnya.

Aku masih membiarkan dan menikmati permainan ini saat Robby mencengkeram bahuku sambil melakukan penetrasi cepat dan dalam pada anusku. Aku merasa yang dia lakukan sungguh jantan. Apalagi dengan geramannya yang penuh nafsu seolah benar-benar menikmati tubuhku. Namun aku mulai cemas ketika cengkeraman kedua telapak tangannya mulai bergeser ke arah leherku.

“Bang..?” tanyaku sambil masih terlonjak-lonjak di bawah tindihan tubuhnya.

Robby tak menjawab. Dia malah menggeram semakin kencang dan matanya menatapku buas.

“Bang! Lepasin! Aku enggak suka!” protesku ketika kedua telapak tangan Robby diletakkan tepat pada leherku seolah hendak mencekiknya.

Robby tak memedulikan protesku. Dia tetap meletakkan tangannya di leherku. Kali ini kurasakan cengkeramannya makin keras.

Dengan sekuat tenaga dan ketakutan, aku mendorong tubuh Robby.

“Loh? kenapa?” tanyanya.

“Apa-apaan, sih Bang? Abang mau cekik saya?” kataku sambil bangkit dan mencari-cari pakaianku.

“Siapa yang mau cekik kamu? Masa iya saya mau bunuh orang? saya cuma suka sedikit liar aja. Cuma naruh tangan di leher..” kata Robby sambil mendekatiku dengan tubuh yang masih telanjang.

Aku menghindar dan buru-buru memakai pakaianku. Aku tidak percaya pada penjelasannya.

“Loh..loh.. mau kemana? Tanggung nih Nico sayang..” cegah Robby.

Tapi aku tetap menepisnya sehingga dia tak bisa mengejarku. Buru-buru aku merapikan pakaian serta memakai sepatuku dan keluar dari tempat kostnya. Aku nyaris menangis ketakutan. Teringat lagi berita mengenai pembuhunan remaja yang sebelumnya diperkosa terlebih dahulu. Aku kembali ke mall dan duduk di sebuah bangku di luarnya ketika kurasakan kakiku menjadi lemas. Beberapa orang memerhatikanku aneh. Mungkin mereka heran melihatku seperti anak hilang yang menangis karena terpisah dari orangtuanya.

Aku lalu mengeluarkan ponselku dan menelepon Steven memintanya menjemputku.

Saat Steven datang dan aku ikut dengannya di dalam taksi, dia murka mendengar ceritaku.

“Elu cari mati? Gue sebenernya enggak setuju elu kenalan sama orang asing, terus ngewe.. tapi karena elu sahabat gue, dan kemarin enggak terjadi apa-apa, gue enggak begitu khawatir. Lah, sekarang? dengan adanya pembunuh berkeliaran? Tau enggak? udah tiga orang jadi korban!” cecar Steven.

Supir taksi yang mendengar kalimat Steven menatap kami melalui kaca spion ingin tahu.

“Liat ke depan aja, pak! perhatiin jalan..” tegur Steven kepada supir taksi.

Aku tertunduk malu.

“Sekarang elu mendingan kalem aja. Kalau elu horny, ngapain, kek! olahraga kek! jangan mikir jorok melulu. Sumpah deh.. kalau aja elu enggak usir si dokter itu..” gerutu Steven.

“Kenapa jadi nyambung ke dia?” protesku.

“Elu tuh.. ada coklat Toblerone di depan mata, malah ngeraup coklat koin-an…”

Aku tak membalas komentar Steven.

“Hubungin dia lagi, sana!” saran Steven.

“Percuma. Gue udah bilang enggak mau ketemu dia lagi.”

“Halah! Janji tinggal janji. Kalau dia disamber orang, baru nyesel deh,” kata Steven.

***

Kemudian aku berjanji pada Steven untuk memikirkannya. Entah bagaimana caranya memulai pembicaraan dengan Brian ketika aku sudah pernah menolaknya?

“Been naughty lately. Do you still want to talk with me?” Begitu bunyi pesan singkat yang kutujukan pada Brian untuk mengawali pembicaraan.

Aku memandangi layar ponselku. Cemas menunggu. Apakah Brian akan membalasnya? Beberapa lama kemudian ponselku berbunyi.

“Seberapa nakal?” balas Brian.

“Nakal sampai harus ikut VCT lagi saat libur kenaikan kelas.” jawabku.

Lama Brian tidak menjawab. Aku lalu rebahan di atas ranjang pasrah apabila Brian tidak lagi merespon pesan singkatku. Kuletakkan ponsel di sebelah kepala dan aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar.

Brian ternyata membalas kembali. “Kalau masih mau saya temani, bisa ditahan nakalnya sampai tiga bulan?”

Aku tersenyum dan membalas pesan Brian.

“Siap, pak Dokter. Pak dokter mau ketemuan sebelum tiga bulan?” pancingku.

“Ketemu aja pas tes.” tegas Brian.

Aku mendesah. Brian pastilah masih sebal padaku. Tapi baiklah. Aku memang pantas menerimanya. Dia pastilah punya harga diri. Sekarang aku harus bersabar menanti hingga ujian semester selesai dan menjaga diriku dari kenakalan sampai hari itu tiba.

***

Peristiwa pembunuhan berantai yang sudah memakan korban tiga siswa SMA itu cukup mempengaruhiku untuk menjadi anak baik-baik selama berminggu-minggu. Aku tak pernah pulang malam lagi dan memilih untuk tinggal di rumah. Pelaku belum tertangkap walau sejauh ini tampaknya tak ada korban baru yang ditemukan. Sekolahpun melarang kegiatan siswa hingga larut malam. Tapi hari itu, semua orang rumah cemas. Kak Harrel belum pulang dari sekolah sampai jam sepuluh malam. Ponselnya tak bisa dihubungi. Aku yang tertidur dari sore akhirnya terbangun ketika mendengar kecemasan Mama di luar kamar.

“Bagaimana ini? Tadi dia bilang ada kegiatan sama teman-teman sekelasnya buat latihan soal ujian, tapi Mama sudah telepon ke sekolah katanya acaranya selesai jam lima sore..” kata Mama cemas.

“Mama udah telepon temen-temennya yang ikutan acara tadi?” tanyaku.

“Sudah… mereka sudah sampai rumah masing-masing. Pisah jalan sama Harrel. Enggak ada yang bareng sama dia..” kata Mama.

“Udah tenang Ma.. mama tunggu di rumah.. biar papa keliling telusurin rute Harrel pulang dari sekolah siapa tahu ada yang lihat…” kata Papa sambil memeluk Mama.

Aku terdiam. Hatiku cemas juga memikirkan Kak Harrel. Biarpun dia menyebalkan, dia kakakku satu-satunya. Semoga tak terjadi apa-apa pada Kak Harrel, doaku.

Baru saja Papa bersiap hendak pergi, tiba-tiba ponsel mama berdering. Betapa terkejutnya saat dia lihat nama yang tertera adalah nama dan nomor ponsel milik Kak Harrel.

“Halo? Rel? Kamu di mana?” tanya Mama panik. Dia lalu mengaktifkan pengeras suara agar aku dan papa bisa ikut mendengarkan.

“Selamat malam ibu.. Apakah benar ini nomor telepon keluarga Harrel?” rupanya di sana ada suara seorang pria tak dikenal.

“Saya mamanya.. ini.. bapak siapa ya?” tanya Mama kebingungan dan makin cemas.

“Saya dari kepolisian. Tolong ibu tenang dulu. Anak ibu sekarang ada di rumah sakit dan terluka akibat penyerangan. Mohon ibu datang ke rumah sakit..”

“Harrel! Harrel kenapa? Harrel enggak apa-apa kan?” jerit mama panik. Aku belum pernah melihatnya histeris seperti itu.

“Ibu sebaiknya ke rumah sakit. Kami tunggu…”

Mama mendadak diam. Tubuhnya tiba-tiba merosot kehilangan tenaga dan ambruk. Aku dan papa buru-buru menangkap tubuh Mama.

“Mama! Mah! Bangun Mah!” teriakku khawatir.

-bersambung-
NEXT UPDATE: 1 JUNI 2015

Disclaimer:
a. Dilarang keras menyalin sebagian atau keseluruhan cerita ini dan cerita lainnya tanpa izin penulis baik mencantumkan nama penulis atau tidak. Kreatiflah. (share di fb atau share link dari blog binanandthecity diperbolehkan)

b. Dalam adegan intim terkadang tidak disebutkan penggunaan kondom untuk keperluan cerita. Jangan ditiru. Selalu gunakan kondom bila berhubungan seks.

c. Cerita ini fiktif belaka.

Advertisements
Comments
  1. adinu says:

    agak ngebut ceritanya.
    lagi bad mood ya bang?

  2. Rico says:

    abang remy selalu bqn penasaran…
    cerita selanjutnya jangan terlalu lama bang… 😀

  3. arif says:

    yaah.. 1 juni.. 😦

  4. Someone says:

    Selama menunggu sampai tanggal 1 Juni, apakah ada cerita one crot biar bang remy nya bisa rileks untuk melanjutkan cerita Nico nya ?

  5. arif says:

    ooh..

    hahaha.. semoga kali ini endingnya tidak fast-paced.
    :-*

  6. Tsu no YanYan says:

    Hihihihi dokter Brian ini bikin senyum-senyum~

    Aduh udah tiga deh yang nyoba Nico…

    Haaaaaa Harrel kenapa??? Digangguin Bhayu?

    Haaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa 1 Juni!! #syok

  7. Ray says:

    Wah ada serial killer berkeliaran :-O

  8. Atsuko100 says:

    Emang diserial “Kartu Memori” kalo si harel pernah diserang??
    Kurang Panas bang Rem :3
    tapi keren kok bang 🙂

  9. Klaysia says:

    Nico nya kok gtu ya…:( padahal aku suka nico yg di awal cerita…

  10. gemini66 says:

    punya firasat dr.brian pembunuhnya…tapi gw harap sih bukan…pliss bang remi jgn buat dr.brian jadi orang jahat gw suka banget sma dr.brian…

  11. Alex Pratama says:

    Woow Nico, gitu amat ya..
    tapi gua suka wktu Nico maen sma om² berkaos Polo 😀
    kenapa gk dikasih aja ya nomor teleponnya..

    baru buka BATC skrg, pas buka udh ada 4 update-an. mantaaap 😀
    kalo bisa selesai sebelum bulan puasa ya bang, biar abangnya gk banyak dosa krn ngasih “sesuatu” yang “berdosa” 😀 :p

  12. WNata says:

    Nico udah mulai terkontaminasi jadi binal!

  13. Jehun says:

    Wah lma bgt 1 juni
    Gk sbar dech bca crta slnjutny
    ceritanya bgs bgt

  14. Inul says:

    Ini ceritanya saling berkaitan ya… Nico dan Steven ini terkait cerita Love My Dad dan Harrel terkait cerita kartu Memory ya, benar kah?

  15. Rico says:

    abang Remy, masukin cerita lagi dong… 😥
    jgn jarak nya jauh. atau ada cerita one the crot, biar gak bete.

    Makasi abang ganteng 🙂

  16. Fian says:

    good story 🙂
    pelakunya brian mungkin? hhehe.

  17. MEIDIKA says:

    Grammar correction:
    It should be “Talk to me” not “talk with me”

    • arif says:

      kalau dari kalimat dan maksudnya bener “talk with me” deh..

    • Memang jawaban paling simpel adalah “orang sonoh aja gak peduli gramar apalagi anak sma yang sok nginggris” awalnya emang mau bikin talk to me, percayalah, saya udh riset. Tapi saya putuskan pakai talk with me. Ini penjelasannya, but thanks anyway. 🙂

      There is not much difference, but just a little difference in emphasis. When you say “talk to me” you are emphasizing just having a communication with a person without regard to a particular subject. When you say “talk with me” there is an inference that there is a particular subject in mind to talk about.

  18. Andriyani says:

    Harus nunggu lama….

  19. Andy says:

    Bang Remy, Novelnya ada gak Bang ???
    Pengen punya novelnya nih 🙂

  20. Lorenzo Alfredo says:

    Wah si nico udh kena virus binal nih

  21. supardi says:

    Gak sabar lagi nunggu cerita selanjut nya..

  22. Rico says:

    Bang Remy, jangan kelamaan lanjutin ceritanya domg…. 😥

  23. Dimas prasetya says:

    bng remy kpn dilnjut nih. ..???

    kok page di fb gk ada bang??…kmn tuh

  24. Randhy Saptha says:

    Bang Remi udah tutup FB nya ya??? sepertinya ini dibalik kisah nico pada cerita sebelumnya yg love my dad ya???? endingnya akan sama?

  25. Yah lama amat.. 1 juny…klo kartu memory season I nya mana…toh!?!?!?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s