KISAH NICO 05Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

AKU tidak pernah lagi menghubungi Dokter Brian sejak teleponku yang terakhir. Kupikir toh memang tak ada urusan selain perjanjian bahwa dia akan menemaniku ikut tes VCT di salah satu rumah sakit saat genap tiga bulan setelah peristiwa pemerkosaan terhadap diriku terjadi. Tentu aku khawatir dengan hasilnya. Ini adalah sebuah ironi ketika misalnya banyak orang secara serampangan berhubungan intim berganti-ganti pasangan tapi sama sekali tak tertular penyakit, sedangkan aku yang baru pertama kali melakukannya, malah langsung terkena.

Syukurlah kekhawatiran itu tak terlalu mengganggu keseharianku. Steven melakukan tugasnya yang baik sebagai sahabat. Kak Harrel sikapnya pun sudah melunak walau kebanyakan lebih karena tidak ingin berurusan denganku, tapi itu memberiku rasa tenang karena berimbas pada orangtuaku yang tak lagi ikut marah-marah terpancing hasutan Kak Harrel seperti dulu.

Agak sulit untuk mencari waktu di tengah kesibukan sekolah untuk mengunjungi rumah sakit dan melakukan tes VCT. Untunglah, ada hari libur tanggal merah yang bisa kugunakan untuk pergi ditemani oleh Dokter Brian yang saat itu berhasil menukar jadwal piketnya dengan dokter lain.

Ruangan di Rumah Sakit tempat melakukan tes VCT itu sebenarnya cukup nyaman. Ada seorang perawat berwajah ramah yang memintaku mengisi biodata dan menyuruhku menunggu untuk dipanggil konseling sebelum tes. Dokter Brian menegaskan dirinya tidak memposisikan sebagai dokter yang sedang mengantar pasien, tapi sebagai teman. Saat dipanggil konseling awal, sebenarnya berat rasanya menceritakan kembali kejadian itu pada dokter yang baru saja kutemui. Tapi aku berusaha bercerita selancar mungkin setiap detilnya. Berikutnya darahku diambil oleh seorang perawat. Hasil tes baru akan keluar sekitar satu hingga dua jam lagi. Inilah yang membuatku semakin merasa resah. Waktu dua jam terasa sangat lama. Aku dan Brian duduk di ruang tunggu. Brian santai saja membaca majalah sementara aku duduk di dekatnya dengan perasaan cemas. Bukan hanya itu, aku juga tak nyaman dengan beberapa orang yang datang hari itu dan juga ikut melakukan tes VCT. Ada seorang pria yang tampak tegang dan sepertinya enggan menampakkan wajahnya sehingga selama menunggu dia tetap mengenakan masker mulutnya. Selain dia, ada dua pria berdandan rapi dan bergestur gemulai dan tampaknya mereka menemukan korban untuk dibicarakan: Aku dan Brian.

“Cucok..” Aku mendengar salah satu dari mereka berbisik pada temannya.

“Em. Cakep. Gadun jaman sekarang ya bo? sebelum dipake brondongnya disuruh tes dulu.. hihihi..” timpal temannya.

“Yaiyalah… hihih..”

Aku menghela nafas dan bangkit dari tempat duduk. Kemudian aku meninggalkan Brian yang terheran-heran.

“Mau ke mana?” tanya Brian.

Aku tak menjawab dan berjalan menuju pintu keluar.

Brian menyusulku. “Hei.. hei.. kamu kenapa?”

“Dokter tahan gitu sama ocehan mereka? Dibilang gadun yang nganter brondong segala?” tanyaku saat kami berdua berada di lorong Rumah Sakit.

Bukannya ikut kesal, Brian malah tertawa. “Ya ampun, Nico… Biarin aja orang mau ngomong apa. Enggak usah dipeduliin lah..”

“Tapi dok..” protesku.

“Nic. Kalau kamu enggak ngerasa nyaman nunggu di situ, kita tunggu di tempat lain aja, gimana? Atau kita mau cari tempat makan dulu sambil nunggu, terus kita balik ke sini dua jam lagi?” tawar Brian.

Aku menggeleng. “Perut aku keram, dok. Enggak nafsu makan. Kita tunggu di luar sini aja.”

“Ya udah… kita tunggu di sini,” kata Brian sambil merangkul bahuku.

Kami berdua duduk di sebuah bangku panjang di lorong itu. Brian mulai memainkan tabletnya sementara aku mengeluarkan ponselku untuk bermain game. Untunglah, di situ ada sebuah televisi juga yang bisa membuat kami menunggu tanpa terasa selama hampir dua jam. Brian tersenyum padaku, dan aku membalas senyumannya. Berada di dekatnya saat ini entah mengapa membuat perasaanku sedikit lebih tenang.

Ketika kami kembali ke tempat konseling, rupanya hasil tesku sudah keluar. Seorang dokter memanggilku dan bertanya apakah aku sudah siap mengetahui hasilnya? Aku mengangguk dan meminta dokter itu membuka amplop berisi hasil tes. Perasaanku lega tak terkira saat melihat hasil tesnya ternyata non-reaktif yang berarti aku negatif terinfeksi HIV. Dokter menyarankan aku supaya berhati-hati apabila suatu saat hendak melakukan hubungan seks, dan untuk memastikan kembali, aku disarankan mengulang tes ini tiga bulan kemudian.

“Gimana hasilnya?” kata Brian saat melihatku keluar dari ruang dokter.

Aku memberi isyarat padanya agar keluar dari ruangan. Di luar aku tersenyum senang “Negatif,” kataku.

Kulihat Brian bernafas lega, “Syukurlah..” ujarnya.

Aku mengangguk-angguk masih tersenyum lega.

“Nah. Enggak tahu kalau kamu, tapi sekarang saya jadi laper. Kayaknya boleh juga kalau kita makan-makan untuk ngerayain,” saran Brian.

Baru saja aku hendak mengiyakan ajakan Brian, sesuatu merasuk ke dalam pikiranku saat melihat mata Brian yang memancarkan antusiasme itu. Pancaran mata yang sama yang membuatku jatuh hati pada Arga dulu. Seketika itu aku mendadak murung.

“Dok.. Aku pulang aja..” kataku.

“Loh, kenapa?” tanya Brian.

“Enggak apa-apa. Tugas dokter udah selesai. Makasih udah temanin Aku. Kita pisah di sini aja ya, dok?”

“Kamu kenapa? Kok tiba-tiba begini?” Brian menghampiriku dan aku mundur menjauhinya.

“Enggak apa-apa. Aku butuh support dokter buat ngelakuin ini semua, dan tugas dokter udah selesai. Jadi, aku enggak mau ngebahas lagi masalah ini, dan.. dokter enggak perlu lagi hubungin aku..” kataku mencoba bersikap biasa namun terasa pedih di ulu hati untuk setiap kata yang kuucapkan.

Ada keheranan dan kekecewaan pada tatapan Brian saat itu yang membuatku merasa bersalah.

“Oh.. baiklah kalau begitu.. tapi biar saya antar kamu pulang dulu..” ujar Brian pelan.

Aku menggeleng sambil tersenyum. “Enggak perlu dok. Terima kasih, ya?” Aku lalu mengulurkan tanganku dan menjabat tangan Brian. Kemudian aku berbalik membelakangi Brian meninggalkan dirinya yang masih mematung di lorong rumah sakit.

***

“Jadi elu ninggalin dokter ganteng itu begitu aja? Sadis amat?” tanya Steven di ujung sana ketika aku meneleponnya malam itu.

“Gue harus lakuin itu, Steve. Gue udah mulai suka sama dia… Males banget kalau ujung-ujungnya nanti kayak si Arga brengsek..”

“Enggak semua orang sejahat Arga, Nico. Kalau gitu tu dokter buat gua aja, gimanah?”

“Ambil gih. Tapi bokap elu buat gue, yak?” godaku.

“Heh… Elu mau gue cabik-cabik pake cakar Wolverine ya?” ancam Steven.

“Hahaha… gede enggak, sih, punyanya bokap elu? kayaknya gede ya? Puas banget deh kalo di..”

“Bener-bener minta dikubur di sumur tua, ya ni anak?” kata Steven geregetan.

Aku kembali terbahak.

“Oke. Kita harus rayain hasil tes elu yang ternyata baik-baik aja. Malam minggu ini, elu ikut gue karaokean sama temen-temen,” ujar Steven.

“Asyik..”

Ternyata Steven membawa tiga orang temannya yang usianya lebih tua dari kami. Malam itu kami sudah menunggu antrian di sebuah tempat karaoke. Steven sudah memesan ruangan selama tiga jam karaoke.

“Siapa mereka?” tanyaku pada Steven saat mereka mengobrol di kursi depan kami.

“Kakak-kakak mahasiswa lah. Nanti kita manfaatin buat beli minuman alkohol, hehehe..” jawab Steven.

“Dasar otak kriminal,” kataku terkekeh.

Saat itu di ruang tunggu, di ujung sana ada lima orang pria berusia tigapuluhan memakai kaus polo yang sama. Sepertinya mereka baru menghadiri acara dan hendak melepas lelah di sini. Kelimanya terbahak-bahak bercanda. Ada seorang pria yang mencuri-curi pandang ke arah kami. Dibandingkan empat lainnya, pria ini lebih menarik. Rambutnya pendek, badannya tegap. Dari otot lengannya yang terlihat sesak di kaus polo, aku bisa tahu dia sepertinya rajin melatih tubuhnya.

Kami masuk lebih dulu. Steven tak membuang waktu dan menyuruh salah satu dari kakak mahasiswa itu untuk memesan minuman beralkohol.

“Enggak mungkin mabuk lah.. orang alkoholnya sedikit,” kata Steven.

Aku manggut-manggut.

“Itu sebabnya gue bawa ini! Gue ambil koleksi miras bokap yang dia beli di luar negeri..” lanjut Steven nyengir sambil mengeluarkan sebuah botol berisi cairan gelap dari dalam tasnya.

Aku yang belum pernah mencoba minuman beralkohol walau hanya berkadar sedikit, merasakan sensasi aneh saat meminumnya. Steven tampak gembira berlebihan, dia menyanyi bersama ketiga kakak mahasiswa itu. Sepertinya itu efek minuman yang dia bawa sedangkan aku tak berani mencobanya walau aku ikut tertawa-tawa senang.

Setengah jam kemudian aku pamit pada Steven untuk pergi ke toilet. Saat kencing, pria yang tadi mencuri perhatian ke arahku ternyata menyusulku dan kencing di urinal sebelah.

Aku menoleh padanya. Dia berdeham dan mengeluarkan penisnya tanpa sungkan dan tanpa berusaha dia sembunyikan dari pandanganku. Aku lalu selesai lebih dulu dan keluar dari toilet dan berdiri menunggunya di sebuah lorong. Ketika kulihat dia celingak-celinguk mencari seseorang, aku langsung menyapanya.

“Cari siapa, om? saya?” tanyaku.

Dia tampak gelagapan. Tapi dia memang tak bisa menyembunyikan ketertarikannya padaku.

“Bosen Om di sini, kira-kira ada tempat gitu buat nyantai? Om bosen nggak karaokean?” godaku.

“Eng.. sa.. saya sih tinggal di hotel enggak jauh dari sini. Kamu mau mampir?” tanyanya gugup.

“Boleh..” kataku. Entah keberanian dari mana yang muncul saat itu apalagi berhadapan dengan orang yang baru kukenal.

Kemudian kami berjalan keluar dari gedung tempat karaoke itu. Aku mengikuti pria yang memperkenalkan dirinya sebagai Arwan itu ke sebuah hotel yang memang letaknya berseberangan.

“Mm.. saya lagi ada seminar di sini. Tadi bubaran jam sembilan dan.. eh.. kita putusin buat karaokean sementara yang lain jalan entah ke mana. Saya dapat kamar sendiri…” jelasnya. Pantas saja mereka semua memakai kaus polo yang sama.

“Nah.. ayo masuk,” katanya setelah membuka pintu kamar hotel.

“Mau.. minum dulu?” tawarnya gugup.

Aku menggeleng, “Kayaknya enggak usah buang waktu, Om. Nanti teman-teman kita nyari.”

“Ng.. iya juga sih..” katanya.

“Om udah nikah?” tanyaku sambil melirik cincin di jari manisnya.

Arwan berdeham gugup. “Eh.. itu..”

“Udah juga enggak apa-apa, Om. Cuma nanya aja,” kataku sambil merangkul leher tegap Arwan dan mulai menciumnya.

Arwan membalas ciumanku dengan bernafsu. Dia lalu memasukkan lengannya ke dalam kausku dan mulai meraba-rabanya. Aku mendesah saat Arwan juga mulai menciumi leherku. Kubuka kaus polonya dan.. memang Arwan memiliki tubuh yang seksi. Walau ototnya tak terlalu kering dan masih ada lapisan lemak di beberapa  tempat, justru itu yang membuatnya menarik untuk pria seumurannya.

Kemudian aku berlutut dan tersenyum menatapnya. Aku tahu pria suka dioral sejak Pak Roy, Guru Fisikaku memaksaku melakukannya. Sekarang aku akan mengoral Arwan dengan kemauanku sendiri.

“Ngh..” erang Arwan sambil meraba-raba dadanya sendiri. Otot perutnya berkontraksi saat aku mulai mengisap batang penisnya yang berukuran besar itu.

“Enak, Om?” tanyaku menggoda.

Arwan mengangguk sambil mengusap kepalaku. Kemudian dia kembali mengerang ketika kusedot penisnya kembali dan memain-mainkannya dengan lidahku. Setelah beberapa lama, Arwan mengangkat tubuhku dan membaliknya menghadap dinding. Dia lalu melepas seluruh celananya dan menelanjangiku sebelum berlutut.

Wajahnya kini tepat berada sejajar dengan kedua belah pantatku. Awalnya dia meremas-remasnya dengan tangan sambil menggeram, lalu menamparnya gemas. “Ah..” aku mendesah saat dia melakukan itu. Kemudian kedua bongkahan itu dia remas dan dia buka dan kurasakan lidahnya menekan lubang anusku.

“Akh..” Erangku saat Arwan mulai me-rimming anusku dengan lidahnya. Tekanan-tekanan lidahnya membuatku keenakan. Sesekali dia jilat belahan pantatku dan memasukkan jarinya pada anus memainkannya. Arwan memukul-mukul kembali pantatku dengan mesra yang membuat nafsuku membuncah.

Arwan lalu membalik badanku sehingga punggungku bersandar ke dinding. “Ouh.. Om.. Om….. nggh…” aku mulai meracau ketika mulut Arwan mulai mengulum penisku. Dia mengoral penisku seperti orang yang sudah berpengalaman. Beberapa kali aku harus menahan kepala Arwan ketika servisnya membuatku terkena arus bertegangan tinggi.

“Hhh.. Om.. enak banget om..” kataku sambil meremas rambut Arwan.

Arwan lalu menghentikan kegiatannya. Dia pamit sebentar untuk mengambil sesuatu. Sebuah kondom dan sebotol kecil pelumas. Aku menawarkan diri untuk membuka pembungkus kondom itu dan Arwan menyerahkannya padaku. Tanpa dia sangka, aku malah melempar kondom itu jauh-jauh dan meraih botol pelumas dari tangannya.

“Loh, kok dibuang?” tanya Arwan.

Aku tak menjawab dan tetap tersenyum. Kubuka botol pelumas itu dan kukeluarkan isinya pada telapak tangan. Arwan mendesah pelan saat aku melumuri batang penisnya yang sudah keras itu dengan pelumas. Kukeluarkan lagi isinya dan kuoleskan pada belahan pantatku dan aku berbalik kembali menghadap dinding.

“Masukin om..” pintaku.

Arwan menurut. Batang yang sudah licin oleh pelumas itu kemudian dia genggam dan diarahkan pada lubang anusku. Arwan merangkul tubuhku dengan satu tangannya yang kekar dan telapak tangannya dia letakkan tepat pada dadaku. Kusandarkan kepalaku pada bahunya sambil mendesah ketika sedikit demi sedikit Arwan berhasil memasukkan penisnya ke dalam anusku.

“Mmmh..” gumamku sambil memejamkan mata dan menggigit bibirku.

“Arrrgh..” geram Arwan di telingaku ketika akhirnya dia berhasil memasukkan seluruh batang penisnya.

“Hmmpphh..” gumamku saat menahan perasaan kurang nyaman akibat anusku yang dimasuki oleh benda asing. Akibatnya dinding anusku berkontraksi dan aku berusaha membiasakan diri.

“Sakit?” tanya Arwan sambil menjilat daun telingaku.

Aku menggeleng. “Biarin dulu sebentar om..” pintaku.

Arwan menurut. Setelah aku mulai terbiasa, kugerakkan pinggulku perlahan sehingga penis Arwan menggelosor keluar. Kemudian aku mundurkan kembali pantatku sehingga penis Arwan menghentak masuk kembali ke dalam.

“Akh..” aku memekik. Arwan kembali menggeram.

Kulakukan hal yang sama kembali berikutnya. Semakin cepat dan semakin cepat lagi pinggulku bergerak maju dan mundur hingga terasa nikmat.

“Hmmph.. nggh.. nghh..” gumamku keenakan menikmati gerakan keluar-masuk batang penis Arwan di dalam anusku.

Arwan mengetatkan pelukannya dan meremas dadaku. Aku membuka mulutku sambil mendesah memberitahukan padanya bahwa aku merasakan nikmat. Arwan semakin bersemangat. Dia lalu mengambil alih gerakan dan mulai menggenjot pinggulnya semakin cepat.

Aku mengerang sambil mendekap lengan kekar Arwan. Rupanya Arwan ingin berganti posisi. Dibimbingnya aku ke ranjang dan dibukanya pahaku lebar-lebar sebelum dia menindihku dan kembali melesakkan penisnya ke dalam anusku.

Kurangkul tubuh kekar Arwan sambil menikmati persetubuhan itu. Kubuka kakiku lebar-lebar agar Arwan leluasa menyenggamai anusku. Kuangkat wajahku dan kuraih kepalanya dengan telapak tanganku agar dia menatap wajahku.

“Keluarin di dalam om.. keluarin.. om jantan banget..” godaku sengaja ingin membuatnya hilang akal dalam nafsu.

Dan itu berhasil. Gerakan Arwan semakin cepat. Dia melengkungkan punggungnya sambil mengerang panjang ketika penisnya memuntahkan peluru cair hangat di dalam anusku. Pada saat yang bersamaan, aku juga mencapai klimaks. Kubuka tanganku lebar-lebar sambil meremas sprei ranjang dan aku melenguh sambil mataku menatap langit-langit merasakan penisku berkedut dan memancarkan cairan sperma yang mengenai perut dan dadaku.

Tubuh Arwan ambruk di atasku. Dia menggeliat pelan sambil menciumi tubuhku. Aku mengatur nafasku sambil merangkul tubuhnya ke dalam dekapanku. Pria gagah ini mendadak seperti bayi yang manja setelah mencapai puncak kenikmatan. Aku mencium bibirnya berkali-kali. Senang rasanya melihatnya puas menikmati tubuhku.

Aku menunggu Arwan membersihkan tubuhnya sambil menunggu giliranku dengan menyalakan televisi. Kupindahkan pada saluran berita.

“…remaja berusia 16 tahun siswa kelas 1 SMA yang dilaporkan hilang minggu lalu, ditemukan dalam keadaan tewas di sebuah gedung tak terpakai. Polisi menemukan luka akibat tindakan penganiayaan dan kekerasan seksual. Pihak kepolisian sampai saat ini belum memberi keterangan resmi mengenai..”

“Ini handuknya,” kata Arwan sambil menyerahkan sebuah handuk padaku. Dia sudah selesai berpakaian.

Aku mengangguk dan menerimanya. Kumatikan televisi dan segera beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai merapikan pakaian, aku berpamitan pada Arwan dan bilang padanya bahwa sebaiknya aku keluar kamar terlebih dahulu kembali ke tempat karaoke.

“Boleh minta nomor hp kamu?” tanya Arwan saat aku hendak keluar.

Aku menggeleng.

“Plis.. yang tadi asyik banget. Kapan-kapan bisa kita ulang lagi kan?” pinta Arwan.

Saat itulah aku menyadari. Tatapan mata Arwan yang mengiba membuatku sadar bahwa aku bisa memanfaatkan seks untuk mengendalikan pria. Jika aku bisa membuat mereka merasa puas, tampaknya tak akan sulit membuat mereka bertekuk lutut pula padaku.

Aku tertawa pelan. “Kalau jodoh aja ya, om? mudah-mudahan papasan lagi..”

“Tapi kenapa? kita bisa terus berhubungan kalau kamu mau! Kamu mau minta apa dari saya? Kita pacaran?” tanya Arwan lagi.

“Ya, ampun, Om. Baru sekali ngewe udh minta pacaran? bukannya harusnya senang kalo fun semalaman aja?” ledekku.

“Tapi saya suka kamu. Belum pernah saya lihat remaja setampan dan semenarik kamu..” kata Arwan sambil meraih lenganku.

“Maaf Om. Enggak..” kataku tegas sambil melepaskan cengkeraman tangannya.

Aku lalu keluar kamar dan Arwan membanting pintu dengan keras sambil mendengus.

Saat aku berjalan kembali menuju tempat karaoke, aku berpikir apakah yang aku lakukan sudah benar? Tiba-tiba terlintas lagi bayangan wajah Dokter Brian. Dia pasti kecewa padaku kalau dia tahu apa yang aku perbuat barusan. Tapi peduli setan dengan Brian. Buat apa aku memikirkan apa reaksinya?

Saat aku hendak menyeberang jalan untuk kembali ke tempat karaoke tiba-tiba seseorang menarik lenganku hingga aku terkejut.

-bersambung-

NEXT UPDATE: Secepatnya (Mudah-mudahan) 😀

Disclaimer:
a. Dilarang keras menyalin sebagian atau keseluruhan cerita ini dan cerita lainnya tanpa izin penulis baik mencantumkan nama penulis atau tidak. Kreatiflah. (share di fb atau share link dari blog binanandthecity diperbolehkan)

b. Dalam adegan intim terkadang tidak disebutkan penggunaan kondom untuk keperluan cerita. Jangan ditiru. Selalu gunakan kondom bila berhubungan seks.

c. Cerita ini fiktif belaka.

Advertisements
Comments
  1. arif says:

    teeet!
    pertamax!
    #komendulubarubaca

  2. arif says:

    hm.. di awal bagian ini sempat memprediksi motif nico membinal.

    tapi setelah baca pertengahan ke belakang kayaknya prediksiku salah.

  3. regular walker says:

    You’re on fire lagi bang remy…me likey….

  4. Fhell says:

    oke aku mendadak jadi fujoshi setelah baca ini, terimakasih bang remy hahaha

  5. Fhell says:

    oke aku jadi fujoshi setelah baca cerita ini, terimakasih bang remy hahaha

  6. Tsu no YanYan says:

    Aduh Nico hiksu hiksu 😦 uhhh Brian kurang hot apa, Nic? Seengganya dicobalah sekali dua kali, itung2 ongkos nganterin~~ #dijambak

    Itu beritanya sesuanu banget!! Hih sereeemmm

  7. gejegeje says:

    Itu yg narik tangan nya nico siapa tuh? Jangan2 dokter brian lg,,

  8. Ray says:

    Nico… Ish ish ish

  9. Lorenzo Alfredo says:

    Dasar Nico, udh diperingatin malah begituan lagi. Ckckck

  10. lee says:

    Ya elah nic kok malah milih nyari om om sehhh..
    Kurang apa dr. Brian… -__________-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s