KISAH NICO – Bagian 4

Posted: May 11, 2015 in Kisah Nico
Tags: , , ,

KISAH NICO 04Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga. Hubungan mereka yang tadinya dekat menjadi hancur karena Arga ternyata menjual Nico pada seorang rentenir. Bagaimana nasib Nico selanjutnya?

***

TAK ada hari yang kulalui tanpa bermuram durja dan murung sejak peristiwa di hotel itu. Orang di rumah menyadari itu tapi tak ada yang berhasil mengorek apapun cerita dari mulutku. Aku menyimpannya rapat-rapat. Kak Harrel pun sepertinya tidak ingin mencari masalah denganku dan memilih tak berurusan denganku. Sikapnya yang menganggap aku tak ada sedikit membuatku lega. Aku tak tahu harus bicara dengan siapa. Sempat terpikir untuk menelepon Dokter Brian, tapi untuk apa aku berkeluh kesah dengan orang yang baru pertama kali kutemui.

Aku tak mau tahu tentang Arga. Sejak hari itu dia tak pernah menghubungiku lagi. Aku juga tak tahu apakah dia masih tinggal di rumahnya atau tidak. Aku berusaha tak melewati rumahnya saat berangkat atau pulang ke rumah.

Aku seperti orang sakit. Wajahku pucat. Mama selalu bertanya apa penyebabnya namun aku selalu bilang kalau aku baik-baik saja. Semester baru dimulai. Untunglah pelajarannya belum begitu sulit dan tak ada tugas menumpuk. Terlalu banyak pikiran membuatku tak sadar bahwa awal semester ini ada anak pindahan yang baru masuk. Dia duduk tak jauh dariku. Namanya Steven, wajahnya tampan, bibirnya berwarna kemerahan dan rambutnya sangat kejur serta berkulit bersih. Sesekali saat aku menoleh padanya, dia menyeringai sambil melambaikan tangan. Sok akrab betul, pikirku.

Suatu hari, aku mendapatkan secarik kertas menyelip pada bukuku. saat kubuka, ada tulisan di situ: “Gue tau elo gay. Gue juga gay. Kita bisa berteman baik kalo gitu. -Steve-”

Kaget membaca tulisan itu, aku buru-buru meremasnya kecil-kecil dan membuangnya. Aku menoleh pada Steven. Lagi-lagi dia nyengir menatapku. Aku membuang muka.

Saat istirahat, aku makan sendirian di kantin. Tiba-tiba Steven duduk di sebelahku sambil menepuk bahuku.

“Hei. Jadi.. gimana tawaran gue tadi?” tanyanya sambil tersenyum.

“Tawaran apaan?” tanyaku pura-pura bego.

“Tawaran pertemanan lah.. Denger, ya! Kita ini baru kelas satu. Temen kita masih pada polos-polos. Nanti lama kelamaan mereka tau ada yang ‘lain’ sama kita. Mungkin mereka akan mulai ngebully atau apa, tapi selama kita punya teman yang bisa diandalkan, kita akan survive sampai kelulusan nanti. Ngerti?” cerocos Steven.

Aku menghela nafas tak menjawab.

“Kalau begitu, gue anggap iyes. Nanti kita pulang bareng ya?” katanya penuh semangat sambil menepuk kembali bahuku sebelum dia pergi.

Dan sore itu aku tak bisa menolak saat Steven mengajakku pulang bersama. Yah, tidak bisa dibilang sama-sama juga kalau ternyata kita berjalan hanya sampai di gerbang sekolah.

“Elo pulang naik apaan, Steve?” tanyaku.

“Dijemput Papa. Lu orang pulang naik apa?” tanyanya.

“Angkot.”

“Sebenernya gue mau ajak lu ikut. Tapi karena kita baru berteman sehari, besok-besok baru kita bareng, ya?” kata Steven riang.

“Nah, itu bokap gue,” kata Steven saat sebuah mobil menepi di seberang jalan.

Seorang pria berumur empatpuluhan namun masih terlihat muda dan gagah keluar dari mobil dan memberi isyarat tangan agar Steven menghampirinya.

“Keren juga bokap elo. ” kataku memuji.

“Ganteng ya? Bokap punya usaha pusat kebugaran. Masih sering latihan dan jaga badan supaya brand imagenya tetep tinggi dan tempat gymnya laku.” jelas Steven.

“Uh.. kalau dia mau apa-apain gue, gue sih rela..” candaku.

“ENGGAK BOLEH! Enak aja! Bokap gue cuma milik gue!” Steven tiba-tiba mendadak emosi dan seperti orang yang overprotektif.

“Ya ampun, Steve. Gue cuma bercanda…” kataku sambil tertawa.

“Pokoknya elu enggak boleh macem-macem sama bokap gue! Bahkan cuma dalam khayalan elu, ngerti?” hardik Steven.

“Iya.. iya.. udah sana pulang. Tuh bokap lu yang ganteng itu kelamaan nunggu,” godaku lagi.

Steven kembali tersenyum. Dia melambaikan tangannya padaku sebelum menyeberang jalan.

Pada kenyataannya, tak setiap hari Steven dijemput papanya. Dia lebih sering naik kendaraan umum bersamaku. Jika sudah begitu biasanya sifat manja anak ini muncul dan dia hanya bersungut-sungut sepanjang perjalanan.

“Ya, ampun Steve. Cuma karena bokap elo enggak jemput, elo langsung ngerasa jadi anak terbuang tak disayang gitu, sih?” ledekku.

“Tauk ah!” ujarnya.

“Emang kenapa sih?” tanyaku.

“Bokap itu… sok sibuk. Tapi yang bikin gue kesel sebenernya adalah.. banyak yang coba godain bokap gue di tempat gym. Hih! Banci-banci gatel!” ujarnya.

“Emang bokap elo bakalan tergoda, gitu?” tanyaku.

Steven mengangkat bahu. Wajahnya masih cemberut. Kemudian di sebuah perempatan dia turun dari angkot dan berganti kendaraan lain. Kamipun berpisah. Aku masih belum mengerti dengan Steven yang sepertinya menderita paranoid berlebihan tentang papanya. Rasa overprotektifnya cenderung aneh menurutku.

Minggu siang Steven meneleponku saat aku sedang mengurung diri seperti biasa di kamar.

“Oke. Berapa lama kita temenan? Kok kayaknya elu  masih mirip mayat hidup gitu sih? Pucet, tertekan. Gue mau tanya dari kemarin-kemarin tapi sungkan. Emang ada apaan?” tanyanya.

“Ah, masa? Gue biasa aja kali.” sanggahku.

“Udah deh.. mendingan cerita.”

Awalnya aku ragu. Tapi kemudian aku mulai bercerita.

“Gue.. baru ilang keperjakaan.” kataku.

“Hmm… depan apa belakang?” tanya Steven.

“Belakang…”

“Sama siapa? Pacar elu? Sakit?”

“Bukan. Gue.. diperkosa..” jawabku.

“Cukup. Gue ke rumah elo sekarang.” Kata Steven.

“Naik apa? Elo ada kendaraan?” tanyaku.

“Gue kan belum punya SIM, dodol. Naik taksi lah. Kirim alamat elu, nanti gue cari via GPS, okey?”

“Oke.” aku menutup percakapan.

***

Rupanya menceritakan masalahku pada Steven sedikit membuatku merasa lega. Aku menangis tersedu-sedu di kamar meluapkan perasaanku yang tak ada tempat untuk mengadu. Steven dengan sabar mendengarkan. Kali ini dia patut diacungi jempol sebagai sahabat, padahal kupikir selama ini dia anak yang manja dan egois serta tak sensitif dengan permasalahan orang sekitarnya.

“Mengurung diri begini udah enggak sehat lagi. Kita pergi sekarang. Anterin gue shopping,” ajak Steven.

“Gue males keluar, Steve.” tolakku sambil mengusap mataku yang sembab.

“Terus mau membusuk di kamar? Gue panggil taksi sekarang, dan elu mending cepetan mandi dan siap-siap,” kata Steven sambil mengambil ponselnya. Sepertinya dia menggunakan aplikasi pemanggil taksi dari ponselnya itu.

Setelah aku berpakaian rapi dan berpamitan pada orangtuaku, kami naik taksi yang sudah dipanggil Steven.

“Jalan pak!” perintahnya.

Ketika taksi sudah meninggalkan rumah, Steven langsung bertanya padaku.

“Oke. Di mana rumah si brengsek itu? Gue mau tahu.”

“Enggak usah, Steve. Gue udah enggak mau inget-inget soal dia lagi.” Pintaku.

“Di mana?” tanya Steven memaksa.

Aku tak punya pilihan lain. Kuminta sopir taksi untuk berbelok di sebuah pertigaan dan memperlambat jalannya saat kami melewati rumah Arga. Hatiku berdegup ketika kulihat rumahnya telah kosong dan ada tanda “DIJUAL” pada pagarnya yang terkunci.

“Yang itu rumahnya?” tanya Steven.

Aku mengangguk. “Kayaknya udah enggak tinggal di situ lagi..” ujarku pelan.

Steven menghela nafas. “Nah. Kalau udah tau begini, lega kan sekarang?”

“Lumayan,” jawabku.

“Sekarang saatnya bersenang-senang lupain masalah,” kata Steven.

Di mall, Steven benar-benar menghamburkan uang. Rupanya anak ini dimanja oleh orangtuanya dan bebas memakai kartu kredit yang dimilikinya. Kami berkeliling mall dan mencoba segala macam pakaian. Dari situ aku tahu kalau kami berdua menarik perhatian para gay yang ada di mall. Sebagian malu-malu mencuri perhatian ke arah kami, tapi ada juga yang terang-terangan memelototi kami berdua.

“Lihat, kan? di sini banyak homonya. Apalagi gadun-gadun mata keranjang jelalatan. Liat brondong kayak kita itu matanya kayak mau copot keluar. Hahaha..” kata Steven sambil susah payah menjinjing tas belanjaannya.

Karena lapar, kami berdua akhirnya menyerah dan menghentikan aktivitas belanja dan mengantri di sebuah restoran cepat saji.

“Duh, gawat!” kata Steven saat kami sedang mengantri.

“Kenapa?”

“Sweater gue ketinggalan di toko tadi. Harusnya udah dimasukkin tapi enggak ada,” keluh Steven.

“Jadi gimana?”

“Gue balik dulu, yak? takut keburu ilang,” kata Steven lansung melesat pergi meninggalkan antrian.

Aku menahan tawa melihat tingkah Steven. Saat aku kembali sabar mengantri, kulihat seseorang yang aku kenal berada di antrian sebelahku. Dokter Brian. Tampangnya agak lelah dan rambutnya sedikit kusut.

“Ngantri, dok?” sapaku.

Brian menoleh dan menatapku. Dia sepertinya masih ingat denganku hanya saja tak yakin dengan namaku.

“Oh.. kamu kan.. yang waktu itu..” ujarnya.

“Nico. Pasien jam sebelas malam,” sambungku sambil mengulurkan tangan padanya.

“Oh iya! Apa kabar? Gimana keadaan kamu sekarang?” tanyanya sambil menjabat tanganku.

“Baik dok. Udah sehat.” kataku.

“Oo.. syukurlah kalo gitu…” ujarnya terdengar ragu.

“Ah, sambung sebentar lagi ya, dok?” kataku memotong pembicaraan karena aku sudah tepat berada di depan kassa untuk memesan makanan.

Brian mengangguk mempersilakan aku untuk memesan duluan. Aku lalu memesan menu paket makanan untukku dan untuk Steven. Setelah semuanya beres, aku menuju salah satu bangku untuk menaruh makananku dan menunggu Steven kembali.

“Sendirian?” tanya Brian yang lewat di dekat mejaku.

Aku menggeleng. “Sama temen. Keliatannya capek banget, dok?”

“Iya nih. Piket dari malam di klinik. Harusnya pagi tadi pulang, cuma dokter yang harusnya gantian sama saya mendadak ada urusan, jadi baru bisa keluar sore gini,” kata Brian.

“Oo..”

“Jadi. Umm… gimana? Soal saran saya waktu itu? Kamu mau ikut tes VCT setelah tiga bulan?” tanya Brian.

“Aduh. Enggak tahu ya, dok. Enggak berani kayaknya ikut gituan. Malu..”

“Nanti saya antar kalau kamu mau. Kalau kebetulan saya off. Nomor saya masih kamu simpan, kan?”

Aku mengangguk.

“Um.. sori. Apa sejak kejadian itu kamu… ada lakuin lagi hubungan seks berisiko?” tanya Brian.

Merasa tak nyaman dengan pertanyaan Brian yang seperti menginterogasiku, aku melayangkan protes padanya.

“Dok. Apa-apaan sih? Aku enggak tahu kalau dokter itu bisa juga usil dan kepo,” kataku.

“Maaf Nic. Saya cuma berpikir kamu masih muda. Sehat atau tidaknya tubuh kamu, kamu sendirilah yang tentukan. Bisa dari pilihan gaya hidup, atau apapun pilihan yang kamu makan. Cuma.. kalau orang lain melakukan sesuatu terhadap badan kamu tanpa seizin kamu.. kamu harus tahu akibat apa yang bisa ditimbulkan, ngerti?” kata Brian sambil menggenggam lenganku.

Aku terdiam.

“Pikirin baik-baik..” kata Brian sambil menepuk bahuku sebelum pergi.

Tak lama setelah Brian berlalu, Steven datang sambil membawa tas belanjaannya.

“Siapa orang tadi?” tanyanya.

“Itu Dokter Brian. Yang waktu itu periksa gue setelah…. itu..” kataku menjelaskan.

“Oo… ganteng juga yak tu dokter?” kata Steven sambil menatap berbinar ke arah Brian yang duduk sendiri di pojokan sambil menyantap makanannya.

Aku menoleh dan ikut menatap Brian. Dia tak menyadari kami memerhatikannya dan terus saja makan. Tapi ucapannya tadi benar-benar membuatku memikirkannya kembali.

***

Sudah cukup menyebalkan tingkah Kak Harrel belakangan ini yang menganggapku tak ada di rumah, ditambah lagi, sikapnya makin jumawa sejak dia menjadi juara umum di sekolahnya semester lalu. Kelakuannya semakin menjadi-jadi seolah dialah anak satu-satunya mama dan papa di rumah. Orangtuaku sepertinya bangga berlebihan pada Kak Harrel dan meladeni ocehannya hampir setiap hari dan membuatku seperti kambing congek di rumah.

Hari itu sekolahku diliburkan karena sedang ada acara pertemuan guru-guru dengan rombongan guru dari salah satu sekolah di luar daerah untuk membahas sesuatu yang tidak aku pedulikan. Yang pasti aku senang hari ini tidak perlu masuk sekolah.

“Nic… tolongin Mama dong,” panggil Mama dari ruang tamu.

Aku keluar kamar dan menghampiri mama.

“Ada apa, ma?”

“Tugas sekolah kakak kamu ketinggalan. Dia minta dianterin ke sekolahnya. Kamu anterin, ya?” kata mama sambil menyerahkan sebuah tas jinjing berisi satu jilid kliping entah apa isinya padaku.

“Ih.. males banget deh.. Siapa suruh pake ketinggalan segala,” sungutku.

“Enggak boleh gitu. Tolongin mama anterin ke sekolah kakak kamu sana..” pinta mama.

Dengan setengah hati aku mengambil tas itu dari tangan mama dan bersiap pergi menuju sekolah Kak Harrel.

Saat aku turun dari bus, aku melapor pada satpam sekolah dan menjelaskan tujuanku datang. Satpam itu percaya padaku saat kuperlihatkan tugas buatan Kak Harrel lengkap dengan nama sekolahnya.

“Kelas XI-A ada di lantai dua gedung sebelah kanan. Sekarang masih jam istirahat, kamu ke sana sendiri ya?” ujar petugas satpam itu.

Aku mengucapkan terima kasih dan pergi menuju kelas Kak Harrel. Ketika sampai di lantai dua, aku melihat Kak Harrel sedang dikerubungi tiga orang siswa. Salah satunya yang paling besar dan tinggi, berbicara pada Kak Harrel yang tampangnya ketakutan.

“Elo boleh jadi juara umum di sini. Tapi gue lebih berkuasa, ngerti? Jangan macem-macem ama gue, lu homo!” kata murid pria itu sambil mengacak-acak rambut Kak Harrel.

Ketiga siswa itu tertawa sebelum akhirnya pergi meninggalkan Kak Harrel yang masih merapat di dinding ketakutan.

“Udah Bhay.. kita cabut. Nggak usah ladenin si cupu ini,” kata salah satu siswa itu mengajak si siswa bertubuh tinggi itu untuk pergi.

Kulihat Kak Harrel menghela nafas. Tapi tatapan matanya saat melihatku berdiri dan menyaksikan peristiwa itu sungguh tak ternilai. Kak Harrel terkejut karena tahu aku melihat bagaimana sesungguhnya dia di sekolah. Kesombongan di wajahnya yang selalu dia pertontonkan di rumah kini runtuh sudah.

***

“Dek? boleh masuk?” kata Kak Harrel sambil mengetuk pintu.

“Masuk aja kak!” sahutku. Aku masih menahan tawa mengingat kejadian di sekolahnya saat dia dibully oleh teman-temannya.

Kak Harrel kemudian membuka pintu. Dia tampak malu-malu berjalan ke arahku.

“Dek.. soal di sekolah tadi.. jangan cerita ke Mama sama Papa ya?” ujar Kak Harrel.

“Yang mana? Yang kakak dibully dan dibilang cupu dan homo? Yang ternyata jadi anak teladan cuma di rumah aja tapi di sekolah disiksa?” kataku sadis.

Kak Harrel terdiam.

“Yaudah kalau adek mau balas dendam sama kakak, sana bilang sama mama sama papa…” katanya setelah beberapa lama.

Aku tertawa. “Kak.. Nico tuh sayang sama Kak Harrel walau Kakak nyebelinnya minta ampun. Nico cuma pengen kalau kakak agak santai sedikit dan enggak kompetitif. Lagian mau saingan sama siapa sih, kak? Kakak tahu sendiri Nico kayak gimana orangnya. Enggak mungkin lah ngalahin Kakak kalau urusan pelajaran, sih..”

Kak Harrel kembali terdiam.

“Kak Harrel janji sama Nico sekarang…” kataku.

“Janji apa?”

“Janji.. supaya enggak cuekkin Nico lagi, enggak sering marah-marah lagi, dan tegur Nico kalau ada salah pake cara yang sopan…”

Harrel menghela nafas. Kemudian dia mengangguk.

“Terus gimana di sekolah? Kakak masih bisa tahan dibully begitu?” tanyaku.

“Tenang aja. Pasti suatu hari nanti dia bisa kakak dapetin…” kata Kak Harrel.

“Apaan kak?” tanyaku.

Kak Harrel gelagapan. “Eh, maksud kakak, suatu saat nanti Bhayu sama dayang-dayangnya itu bakalan dapet balasan setimpal..”

“Ooo..” kataku sambil mengangguk-angguk.

“Kalau gitu, istirahat dulu kak. Kalau emang ada masalah di sekolah, jangan ragu cerita ya, kak? Soalnya.. ada yang pernah bilang sama Nico.. Proses menjadi dewasa itu salah satunya dengan menghadapi masalah. Kalau butuh bantuan, kita selalu bisa cerita ke orang lain,” kataku.

Kak Harrel tersenyum. Dia lalu memelukku. “Maafin Kakak ya? tapi kita enggak harus langsung akrab kan? Kakak masih nganggap kamu nyebelin soalnya…”

Aku tertawa, “Ya. Gapapa kak. Tapi ngomel-ngomelnya dikurangin dikit ya?”

Kak Harrel kemudian keluar kamar. Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku lalu membuka laci meja belajarku dan mencari-cari sesuatu. Kartu nama Dokter Brian. Aku segera meraih ponselku dan menekan-nekan tombolnya sesuai dengan urutan nomor ponsel dokter tersebut. Aku sadar aku tak bisa menghadapi masalah ini sendirian seperti kata-kataku.

“Halo, selamat malam?”

“Malam dok.. ini aku.. Nico..” balasku.

“Oh, Nico? Ini nomor kamu?”

“Iya dok.. Umm. soal tes itu. Kalau dokter enggak keberatan, bisa temanin aku nanti?”

“Oke, Nic. Saya akan bantu kamu sebisanya. Kalau kamu udah siap, hubungi saya lagi..” kata Brian.

“Terima kasih dok..” balasku.

“Nic..?”

“Ya?”

“Saya senang kamu akhirnya telepon saya…” kata Brian di ujung sana.

Aku terdiam. Ada perasaan aneh yang sulit kuungkapkan menjalar di dadaku saat itu.

-bersambung-

NEXT UPDATE: Minggu, 17 Mei 2015
I Must say.. bagian ini agak membosankan.. Karakter NICO belum beralih dan masih mellow.  harap bersabar untuk chapter berikutnya ya.. >_<

Disclaimer:
a. Dilarang keras menyalin sebagian atau keseluruhan cerita ini dan cerita lainnya tanpa izin penulis baik mencantumkan nama penulis atau tidak. Kreatiflah. (share di fb atau share link dari blog binanandthecity diperbolehkan)

b. Dalam adegan intim terkadang tidak disebutkan penggunaan kondom untuk keperluan cerita. Jangan ditiru. Selalu gunakan kondom bila berhubungan seks.

c. Cerita ini fiktif belaka.

Advertisements
Comments
  1. Bobby Irawan says:

    Overall bagus… Saya tdk bosan sih…
    Selalu menunggu kelanjutanny… 😀

  2. Ray says:

    Arga ngilang kemana tuh?
    Padahal belom sempat bales dendam #ehh

  3. Klaysia says:

    Gak kok,,,aku lebih suka karakter nico yang sekarang, yang masih gimana gitu jadi keliatan cool daripada yang di Kartu Memori yang agak ”keganjenan”.

  4. NoName says:

    Soal karakternya nico gue sih fine2 aja, suka ko! Tapi yg paling gue suka di episot ini karakternya si steve, orangnya terlihat jujur apa adanya tapi agak tengil & agak gesrek and gue suka itu :p , ya kalo dirasa2 karakternya agak beda dikit sama yg di love my dad, gue sih lebih suka steve yg ini *just feedback 🙂

  5. Mr.Bayangan says:

    Bang, Remy. This is my first comment. I’ve read all of your stories. You are one of a great writer I ever know (at least by your stories). Your fiction is too fake to call it ‘fiction’, because I feel that I were there and see them that they were alive, they were real. Keep on fire, Bang! And don’t forget to finish everything that you have start. 😛

  6. adinu says:

    memang part ini datar, tapi ada fase hidup yang seperti itu. lebih membumi, malah wajar.

  7. arif says:

    lhaaaa.. ngebut update..

  8. Bagas_Iant says:

    duh,…g bsa komentar saya…
    critanya bang remy tuh jempol poenya masalahnya…
    Hhehehe ^^
    Be better and lanjut terus ya bang…

  9. Tsu no YanYan says:

    “Tenang aja. Pasti suatu hari nanti dia bisa kakak dapetin…” — Hihihi dari awal udah gitu niatnya, si Harrel bener-bener~ :))

    Dokter Brian sesuanu banget gak sih?… hmmmm

  10. ghee says:

    Hemm, kalo boleh sedikit menebak nih. Sepertinya ada sangkut pautnya dengan cerita yg ada lelakon harrel dan bhayu di Kartu Memori. Tebakan awal sih. Overall, ceritanya selalu mengejutkan, ga ngebosenin karena ceritanya ga hanya berbumbu esek esek saja. Buat penulisnya, tetap semangat dan ditunggu kelanjutannya. Thanks

    • arif says:

      lha kan memang saling terkait.

      kartu memori, mas bima, love my dad, lalu kisah nico ini.

      harrel (kartu memori) nyambung sama mas bima & nico. nico nyambung ke steven (love my dad). oh iya, steven & bastian (love my dad) nyambung dikiiit (atau lebih tepatnya disambung2in paksa. lol.) ke selir brondong kaisar.

  11. adimas reynard says:

    Cant wait for next episode 😍

  12. Rico says:

    Bang Remy…
    kalau bisa pas hari2 libur gini ada domg cerita lagi.

  13. budi says:

    bagus bang….enak dibaaca tapi…..bisa ngk bang karakternya tuh yg jgn yg udah dikenal di cerita yg ada disini nama boleh sama….jd agak menganggu soalnya bang…..masa kakak adek gay, satu sekolahan juga banyak yg gitu.

    • arif says:

      nooooooo!!

      this shishunki universe justru yg bikin menarik. dan sulit tauk bikin keterkaitan antar cerita gini.

      lagipula di dunia nyata juga kan binan saling kenal sama orang yg sama, mbulet.

      tidak aneh kalau terlalu banyak binan saling terkait di sini. karena memang fokus ceritanya di dunia perbinanan.

  14. Gay Jakarta says:

    Ah Nico… membayangkannya sih sexy abis

  15. Lee says:

    Bagusss.. ya ampun aku bru bs komen sekarang… 🙂
    Seneng banget sama nico …suka nyari sosok nico di gugle biar ada bayangan dia face nya kaya siapa …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s