KISAH NICO 03Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga, pemilik toko perlengkapan skuter. Hubungan mereka semakin dekat saat Arga menolong Nico dari pelecehan yang dilakukan oleh gurunya. Apakah yang akan terjadi selanjutnya?

***

TETAP saja perasaanku was-was saat pembagian nilai. Papalah yang datang sebagai wali murid menunggu laporan nilai dibagikan. Jantungku berdebar kencang menanti namaku dipanggil walikelas. Saat Papa dipanggil, aku heran beliau langsung melenggang keluar tanpa reaksi apa-apa. Padahal aku sudah mengira Papa akan diminta oleh guru membicarakan nilai Fisikaku yang jeblok.

“Ayo pulang Nic,” ajak Papa.

“Udah?” tanyaku kebingungan.

“Ya udah. Mau ngapain lagi? yang jelek cuma nilai Fisika kamu aja. Pas-pasan,” kata Papa.

Aku buru-buru merebut laporan nilai dari tangan papa dan membukanya. Seperti biasanya, nilai-nilai pelajaranku memang tak spektakuler. Tapi yang membuat lega, Pak Roy memberiku nilai di ambang batas yang masih bisa ditoleransi, padahal aku sudah yakin dia akan mengosongkan nilai Fisika pada raporku. Aku merasa sangat lega ternyata Pak Roy tidak mempersulit diriku semester ini. Buru-buru aku mengirim SMS pada Arga.

“Mas. Nilai Fisikaku selamat.”

“Oh ya? Mudah-mudahan dia enggak macam-macam lagi sama kamu.”

“Mudah-mudahan, Mas.”

“Berarti kalau gitu, kita rayain dong.”

“Hahaha. Aku traktir nonton aja gimana? maklum anak sekolahan.”

“Sip. Tapi saya senang. Berarti beban pikiran kamu udah lepas pas kita hiking nanti. :)”

“Iya Mas :)”

***

“Hey.. mau ke mana?” tanya Kak Harrel.

Sore itu aku baru saja hendak pergi ke rumah Arga dan mengajaknya nonton di mall. Pakaianku sudah rapi dan siap untuk berangkat.

“Mau jalan,” jawabku.

“Inget ya.. hari ini tugas elu cuci alat dapur. Jangan mangkir lagi kayak kemarin. Enak banget sengaja pulang telat supaya bebas dari tugas nyuci!” sahut Kak Harrel ketus.

“Iya Kak! tenang aja napa! enggak bakalan sampai malam ini,” sungutku.

“Besok pagi tuh si Mama ada pesenan katering lagi. Kalau enggak dicuciin, nanti jadwalnya berantakan!” cerocos Kak Harrel.

Kadang aku tak tahan dengan kebawelan Kak Harrel yang melebihi cerewetnya mamaku sendiri. Mama memiliki usaha katering kue. Kadang kala pesanannya begitu banyak hingga menyisakan lusinan peralatan memasak kotor yang harus dicuci bersih karena besok atau lusanya akan Mama gunakan kembali. Itulah sebabnya, kami berdua, anaknya, membantu secara bergiliran mencuci peralatan memasak itu. Tapi seringkali aku malas dan sengaja pergi dari rumah sehingga Kak Harrel yang terpaksa menggantikan tugasku mencuci. Itu yang membuat Kak Harrel semakin sebal padaku. Tapi aku cuek saja. Murid teladan memang harus dikerjai.

“Dek! Adek!” panggil Kak Harrel kesal melihatku pergi begitu saja.

Tapi aku tak memedulikan kemarahan Kak Harrel. Aku berjalan dengan santai sambil bersiul-siul riang menuju rumah Arga. Dia menyuruhku datang ke rumahnya dan menunggu dia tutup toko lebih awal. Saat aku tiba, Arga rupanya sedang berbicara dengan seseorang. Pria itu berumur sekitar empat puluhan, berbadan besar dan perut yang membuncit. Pakaiannya rapi dan memakai kacamata hitam. Aku memerhatikan rupanya ada seorang lagi di situ. Pria itu lebih muda dan berdiri agak jauh dari Arga dan hanya memerhatikan saja.

Arga tampak sungkan berbicara dengan orang itu. Dia juga membiarkan pipinya ditepuk oleh pria berumur itu sebelum dia pergi. Saat mereka berdua melewatiku, pria itu berhenti sejenak dan menatapku aneh. Aku sedikit risih ditatap seperti itu dan mencoba mengabaikannya.

“Siapa Mas?” tanyaku ketika kedua orang itu masuk mobil dan pergi.

“Um.. kenalan papa. Mereka cari papa tapi kan beliau di luar kota,” jelas Arga.

“Oo.. Udah siap berangkat, mas?” tanyaku.

“Ya. Bentar ya? tutup rolling door dulu,” kata Arga meninggalkanku.

Aku mengangguk dan menunggu Arga selesai menutup tokonya sambil duduk di teras.

“Yuk! Berangkat.” ajak Arga yang sudah memakai jaketnya dan mendorong skuter merahnya dari garasi.

Aku meraih helm yang disodorkan Arga dan naik ke jok belakang setelah Arga menutup pagar. Kami berdua lalu berkendara menuju Mall.

***

“Gapapa berduaan kayak kencan gini? Gimana kalau ada temen kamu yang liat?” tanya Arga.

Saat itu kami berada di lobi bioskop mall yang penuh dengan manusia. Arga bertanya begitu sambil menoleh ke kanan dan kiri dengan tampang agak cemas.

“Kan kita cuma nonton aja, Mas? Emang kencan beneran ya?” tanyaku.

Arga menjadi salah tingkah. Dia tak menjawab dan menyedot minuman dinginnya tak mau menatapku. Lalu terjadilah sesuatu yang membuatku kaget namun juga senang. Saat film diputar, Arga tiba-tiba menyelipkan tangannya dan meraih telapak tanganku dan menggenggamnya. Aku jadi tak bisa berkonsentrasi menonton. Jantungku berdebar. Kulirik Arga. Wajahnya tetap serius menatap layar. Kurasakan wajahku memanas namun aku balas menggenggam telapak tangan Arga erat-erat dan menikmati setiap momen ini sebelum film berakhir.

**

“Jadi.. udah siap naik gunung liburan besok?” tanya Arga saat aku turun dari skuternya di depan rumah.

“Ya. Tapi aku belum pengalaman kayak Mas Arga,” jawabku.

Arga tertawa. “Tenang aja. Kita cuma hiking ringan aja. Ada pondok di atas bukit punya teman. Bisa dibilang sih, enggak begitu berat tantangannya.”

“Oke deh, Mas. Kasih tau aja ya, apa yang musti dibawa. Maklum, suka lupaan,” kataku.

“Sip. Yaudah, kamu masuk dulu. Saya pulang dulu, ya?” pamit Arga sambil menggas kembali skuternya.

“Oke. Makasih ya, Mas!” kataku sambil menepuk bahu Arga sebelum dia pergi.

Aku berjalan masuk sambil kakiku melompat-lompat senang. Aku tak tahu bentuk hubunganku dengan Arga sekarang ini, tapi aku tak peduli. Berada dekat dengannya sudah membuatku bahagia.

“Anak bandel… katanya enggak bakalan pulang malem..” tiba-tiba seseorang menarik pipiku cukup keras saat aku baru menutup pintu hingga aku mengaduh kesakitan.

“Aduh… apaan, sih?” protesku kesal.

“Heh! kan gue lagi yang gantiin giliran elu nyuci!” semprot Kak Harrel yang sudah ada di sebelahku.

Aku mengusap-usap pipiku yang terasa panas oleh cubitan kakakku yang judes ini. “Siapa suruh enggak sabaran? Nyampe rumah juga pasti dicuci..” kataku sambil cemberut.

“Oh, ya? Gimana kalau pulangnya tengah malem terus elu capek enggak jadi nyuci, lalu besok subuh Mama udah mulai bikin kue?” cerocos Kak Harrel.

“Ah! makanya sabar dikit. Lagian juga pake gantiin nyuci segala. Biar dibilang rajin ya? Terus gue dicap anak durhaka, gitu?” sahutku tak mau kalah.

Kak Harrel kembali menarik pipiku. Aku mengaduh lagi kesakitan.

“Kalian ini kayak Tom and Jerry aja! Berantem mulu!” bentak Mama dari ruang tengah.

Aku mencibir pada Kak Harrel dan meninggalkannya masuk ke kamarku. Momen indah hari ini benar-benar dirusak olehnya. Tapi aku langsung berusaha melupakannya dan kembali membayangkan Arga. Tanganku masih merasakan genggamannya selama menonton tadi dan akupun memekik gembira.

Rasanya tak sabar menunggu hari Rabu. Aku sedang memasuki masa liburan. Setelah mendapat izin dari orangtua sehari sebelumnya, aku lalu pergi ke rumah Arga. Kami sengaja berangkat hampir tengah malam agar dapat bus terakhir menuju tempat yang Arga sebutkan dan kami bisa mulai pendakian menjelang fajar.

Memang benar yang Arga bilang, kami mendakit bukit yang tantangannya tak terlalu berat. Walaupun demikian, kami berdua tetap menempuh waktu yang cukup lama untuk sampai ke pondok di puncak bukit. Aku dan Arga tiba hampir tengah hari. Segala kelelahanku hilang saat melihat pemandangan dari atas bukit ini. Pondok itu walau sedikit kotor, masih layak ditempati. Toh, kami juga tak berniat tidur di dalamnya. Kami hendak mendirikan tenda dan semoga tidak sampai hujan dan terpaksa tidur di dalam pondok itu.

“Wuaaaaaaah… bagusnyaaa.. udaranya juga segaar..” kataku sambil berlari ke tepi tebing di sisi sebelah pondok dan melihat hamparan perbukitan berudara sejuk setelah menjatuhkan ranselku. Aku menarik nafas dalam-dalam agar udara segar pegunungan ini memenuhi rongga paru-paruku.

Arga tertawa melihat tingkahku. “Hey, kamu belum lihat hal bagus lainnya, loh.”

“Apaan tuh? di mana?” tanyaku tak sabar sambil menghampiri Arga.

“Saya kasih tau tapi setelah kamu bantu saya bikin tenda. Ayo, sini cepet!” ajaknya.

Aku sebenarnya malas mendirikan tenda dan tadinya hendak membiarkan Arga saja yang melakukan hal-hal sulit. Tapi karena aku ingin tahu tempat bagus yang Arga maksud, aku bersemangat membantunya.

Setelah selesai mendirikan tenda, Arga mengajakku pergi. Rupanya dia mengajakku ke sebuah tempat yang agak jauh dari pondok. Di balik rimbun pepohonan, ada sebuah kolam dangkal dengan air terjun yang tak begitu deras. Tak ada siapa-siapa di situ kecuali kami berdua. Ini rasanya seperti memiliki kolam air terjun pribadi.

“Waaaaaaa… kolamnya bening banget…” kataku takjub.

Arga tertawa. Dia segera melepas pakaiannya dan tinggal memakai celana pendek saja lalu menyebur ke dalam kolam.

Aku meneguk ludah melihat pemandangan itu. Arga terlihat begitu seksi dengan hanya memakai celana pendek saja.

“Hey! ayo nyebur sini!” ajaknya.

“Dingin nggak mas?” tanyaku ragu.

“Ya dingin lah! masa takut dingin? ayo! badan kamu udah bau keringet tuh! ahahah..” kata Arga sambil menyiram-nyiramkan air kolam ke arahku.

Aku yang tadinya sedikit ragu, akhirnya ikut membuka pakaianku dan terjun ke kolam. Kami berdua saling menyiram air dan tertawa riang. Ketika Arga meraih tubuhku, aku tiba-tiba terdiam. Arga menjadi salah tingkah ketika sadar dia sedang mendekapku dari belakang. Aku lalu memberanikan diri meraih kepala Arga dan mencium bibirnya yang basah. Arga mengeratkan pelukannya dan balas menciumku. Tak ada yang lebih indah dari momen yang kami alami saat itu.

***

Sorenya, Aku dan Arga membuat api unggun. Rupanya pondok itu menyediakan peralatan untuk membuat api unggun lengkap dengan potongan kayu yang siap untuk dibakar. Kami memasak air dan merebus beras untuk makan malam. Udara semakin dingin menggigit dan kami terpaksa memakai jaket yang tebal. Arga membuat kopi dan menuangkannya pada dua buah cangkir lalu memberikan salah satunya padaku.

“Makasih,” kataku.

Kami menyeruput kopi panas sambil menatap bintang-bintang di langit yang terlihat sangat jelas berkelap-kelip. Sunyi dan damai sekali. Hanya bunyi gemeretak kayu terbakar api, air dari ketel yang berdesis mendidih dan suara serangga.

“Apa Pak Roy nyakitin kamu?” tanya Arga tiba-tiba.

Aku menggeleng. “Udah enggak apa-apa Mas.. Lupain aja kejadian itu.”

Arga lalu merangkul bahuku dan mendekapku. “Kalau saja kamu minta, pasti saya akan bunuh orang itu.”

“Lalu Mas masuk penjara dan aku pasti bakalan sangat sedih,” kataku sambil tersenyum.

Arga mengecup ubun-ubunku dan menghirup rambutku sambil mengusap punggungku. Aku lalu menatapnya. Cukup lama agar dia mengerti bahwa aku menyukainya dan menyayanginya.

Aku lalu bangkit dan meraih tangan Arga dan menuntunnya masuk ke dalam tenda. Aku sudah siap untuk menyerahkan segalanya pada pria ini. Malam ini juga.

“Kamu yakin?” tanya Arga setelah aku membisikkan keinginanku. Kami berdua duduk bersila berhadapan di dalam tenda.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Arga tak menjawab dan mengecup bibirku lembut.

“Walau suasana mendukung, dan saya sayang sama kamu, tapi untuk yang satu itu, saya bisa nunggu. Terima kasih, Nic. Belum saatnya…”

Aku mendekap Arga. Rasa sayangku kepadanya semakin bertambah. Aku lalu melepas jaket dan pakaianku. “Kalau begitu, tindih aku aja, Mas…” pintaku.

Arga tak berkata apa-apa. Dia lalu melepas pakaiannya juga. Udara di dalam tenda terasa menghangat. Arga berhati-hati meletakkan tubuhku ke dasar tenda. Dia lalu mulai menciumku kembali. Kurangkul lehernya dan kubiarkan dia menciumi leher dan pundakku. Aku mendesah sambil memejamkan mata. Arga lalu mengangkat kedua tanganku dan menciumi lenganku. Aku mengerang ketika lidahnya menekan-nekan ketiakku dan lalu mulai mengulum puting dadaku bergantian.

“Ngh..” desahku sambil melengkungkan punggung. Arga lalu menciumku sambil menekan selangkanganku dengan penisnya. Aku membuka pahaku saat penis kami berdua mulai saling menggesek, menekan, berusaha meraih kenikmatan. Arga melenguh sambil memejamkan mata.

Kurangkul pinggangnya dengan kedua kakiku sambil terus bergerak seirama dengan goyangan pinggulnya.

“Akh..” aku memekik saat penisku yang tegang akhirnya memuncratkan cairan sperma bersamaan dengan Arga yang juga mencapai klimaks. Aku memeluk Arga erat-erat yang sedang terengah-engah dan mengecup pipinya.

***

Hubunganku dan Arga bisa dikatakan semakin mesra. Dia tak sungkan-sungkan meneleponku dan mengirimkanku pesan-pesan romantis. Aku dan Arga semakin sering jalan berdua. Tentu saja, aku sebenarnya penasaran ingin melakukan hubungan yang lebih intim dengan Arga tapi sepertinya dia tak merespon setiap kali aku menggodanya. Padahal aku sudah siap mengeksplor seksualitasku bersamanya. Bersama pria yang aku sayangi.

Dua minggu setelah hiking itu, tiba-tiba Arga meneleponku. Dia bertanya kalau aku memang ingin menyerahkan keperjakaanku padanya, dia akan mencari tempat yang bagus dan akan membuat terkesan.

“Mas mau booking kamar hotel?” tanyaku.

“Kalau kamu enggak keberatan sih.. Saya siapin semuanya, biar kamu nyaman,” jawab Arga.

“Iya Mas. Aku nurut aja,” kataku.

“Oke. Kalau begitu, nanti sore saya kabarin ya, sayang?

“Iya..” jawabku pelan sebelum mengakhiri pembicaraan.

Aku menjadi sangat berdebar tak sabar sekaligus khawatir. Akankah nanti rasanya sakit? Aku pernah melihat gambar-gambar porno dua pria berhubungan seks dan tampaknya mereka menikmati. Tapi aku juga sadar, yang aku hadapi bukanlah adegan dalam film porno. Menurut beberapa rumor yang kudengar, pertama kali akan terasa sakit. Tapi aku yakin Arga tak akan menyakitiku. Jika memang aku belum siap, aku akan memintanya untuk berhenti dan mencobanya lain kali.

Aku berdandan rapi malam itu dan menuju hotel yang disebut oleh Arga. Dia tidak menjemputku dan berkata akan menungguku di lobi. Benar saja, Arga sudah ada di sana sambil membaca koran. Ketika tahu aku datang, dia meletakkan koran itu dan mengajakku ke kamarnya. Malam itu dia terlihat sangat tampan. Berkemeja hitam dilengkapi dengan celana jeans.

Kamar yang dipesan Arga memang bagus dan luas. Sepertinya sangat mahal. Apalagi ada ranjang berukuran besar dengan sprei yang sangat indah.

“Tapi kalau aku kesakitan, Mas mau nunda, kan?” tanyaku.

“Iya, sayang… Kita coba aja dulu, ya?” kata Arga sambil merangkul dan menciumku. Dia lalu melepaskan pelukannya dan mengambil dua botol air mineral dan menyerahkannya satu padaku. Aku menerimanya dan meminumnya untuk meredakan keteganganku.

Arga lalu kembali merangkulku dan menciumku. Tiba-tiba aku merasa kepalaku terasa berat.

“Kamu enggak apa-apa?” tanya Arga.

“Maaf Mas.. kok aku tiba-tiba pusing ya?” tanyaku.

“Ya udah, kamu rebahan dulu aja,” saran Arga sambil menuntunku ke ranjang.

Aku tak bisa berkata apa-apa. Kepalaku terasa berkunang-kunang. Pandanganku mengabur dan otot-otot tubuhku terasa lemas.

“Mas? Mas Arga?” panggilku. Namun Arga tiba-tiba menjauh dari ranjang dan membelakangiku. Aku bisa melihat pintu kamar mandi terbuka dan seorang pria keluar mendekatiku. Aku sepertinya pernah melihat orang ini namun lupa di mana.

Aku merasa bingung saat Arga malah duduk di sebuah kursi sambil menutup wajahnya tak mau melihatku. Pandanganku semakin buram. Lebih bingung lagi ketika aku tak kuasa menolak saat pria itu mulai melucuti pakaianku dan meraba-raba tubuhku. Aku belum pernah merasa setakut dan sangat tak berdaya seperti sekarang ini. Ingin aku pergi dari ruangan itu tapi seluruh kemampuanku bergerak mendadak lenyap. Air mataku mulai meleleh ketika pria itu semakin buas menggarap tubuhku tanpa aku mampu melawannya. Beberapa lama kemudian aku tak sadarkan diri.

Saat aku terbangun, aku dalam kondisi telanjang. Kurasakan sakit dan lemas di seluruh tubuhku. Terlebih kurasakan nyeri pada anusku. Saat aku memeriksanya, ada sedikit noda darah dan cairan lain pada sprei putih hotel. Kulihat Arga sudah duduk di dekatku. Masih dengan pakaian yang sama. Wajahnya nampak merasa bersalah dan basah oleh airmata.

“Mas? Ada apa ini?” tanyaku bingung.

Arga menghela nafas. Dia lalu bercerita.

“Orang yang waktu itu kamu lihat. Sebenarnya mereka rentenir. Waktu itu saya bersemangat untuk membeli model skuter miniatur dari luar negeri untuk dijual pada skutermania dengan harga mahal. Enggak ada yang mau pinjami saya modal untuk hal begituan. Akhinya saya pinjam uang ke mereka beberapa puluh juta… Sayangnya, model skuter yang saya pesan ternyata tiruan buruk dan bukan orisinal. Rentenir itu minta saya kembalikan uang mereka. Tak mau dicicil. Lalu.. dia ngelihat kamu.. dan…” Arga tiba-tiba tercekat dan menunduk sambil menangis.

“Dan apa, Mas?” tanyaku.

“Dan.. dia tertarik sama kamu. Apalagi waktu saya bilang kamu masih perjaka… Lalu dia berjanji akan menghapus hutang saya kalau.. kalau saya serahin kamu ke dia…” jawab Arga pahit.

Aku tak tahu harus berkata apa. Tiba-tiba perasaanku terasa hancur mendengar penjelasan Arga. Segala rasa hormat dan sayangku pada pria ini runtuh seketika.

“Maafin saya Nic.. Maafin… Saya tetap sayang kamu walau kamu udah enggak lagi perjaka…” rengek Arga.

Dengan sekuat tenaga aku menamparnya. Aku sangat membencinya sekarang.

“Mas Arga.. Mas adalah orang paling menjijikkan yang pernah aku temuin…” kataku dingin.

Arga tak membalas. Wajahnya tetap menunduk tak mau melihatku. Dia mulai menangis dan bersimpuh di lantai.

Lalu dengan sisa tenaga yang ada, aku segera pergi ke kamar mandi dan sambil menangis kubersihkan tubuhku yang terasa sangat kotor. Setelah berpakaian, aku meninggalkan Arga yang seperti orang gila tersedu-sedu sambil duduk di kursi. Entah aku harus merasa benci atau kasihan padanya. Tak kusangka dia tega menjerumuskanku pada orang lain. Semua janjinya bahwa dia akan melindungiku hanyalah bualan semata.

Aku masih mencoba menahan tangis ketika aku berjalan keluar dari hotel. Aku tak mau memanggil taksi dan memilih untuk jalan kaki sambil mengatur emosiku.

Kemudian aku melihat sebuah klinik kecil duapuluh empat jam. Saat itu sudah jam sebelas malam. Klinik itu sepertinya sudah sepi dan pintunya tertutup rapat namun tanda BUKA masih menempel di pintunya.

Aku mendekat dan melihat selembar kertas bertuliskan “Buka 24 jam. Tekan bel saja” dan lalu memencet tombol bel. Tak lama kemudian terdengar seseorang membuka kunci pintu dan membukanya.

Seorang pria dengan wajah terkantuk-kantuk dan rambut kusut berusaha membuka matanya melihatku. Dia masih muda dan tampangnya cukup manis.

“Oh, sori. Lama nunggu? Saya Brian. Dokter yang piket malam ini. Ayo masuk,” ajaknya.

Aku mengangguk dan mengikutinya. Dia lalu bertanya apakah aku pernah berobat di sini dan aku menjawab belum pernah. Tampaknya tak ada yang membantunya dalam hal administrasi malam itu. Mungkin karena yang lain sudah pulang. Dokter bernama Brian itu mencatat identitasku pada sebuah kartu dan menyuruhku masuk ke dalam ruang periksa.

Aku menceritakan padanya apa yang terjadi. Dia tampak mendengarkan dengan seksama tanpa berkomentar apapun.

Dokter Brian lalu memeriksaku dan menuliskan beberapa resep obat pada kartu lalu dia menghilang sebentar ke dalam dan mengambilkan obat-obat itu sendiri.

“Ada lecet sedikit. Cuma sementara jangan terlalu dipaksakan kalau BAB, ya? Saya kasih obat buat lukanya.”

Aku mengangguk.

“Um.. Sebenarnya kamu lebih baik periksa di rumah sakit. Dari yang saya dengar, kamu baru saja mengalami tindak perkosaan dalam pengaruh obat bius. Kalau dari efeknya, kamu sudah sadar sekarang, mudah-mudahan tidak ada yang serius, tapi kalau kamu mau lapor ke polisi dan diperiksa untuk membuat laporan visum, saya bisa bantu..” kata Brian.

Aku menggeleng, “Enggak usah dok.. saya.. mau pulang aja..”

“Satu lagi.. apa orang itu memakai pengaman? maksud saya kondom?”

Aku kembali menggeleng, “Saya enggak ingat, dok..”

“Mungkin kamu bisa pertimbangkan ambil tes VCT. Saya bisa rekomendasikan ke kamu tempatnya,” kata Brian.

“VCT?” tanyaku tak mengerti.

“Ya. Itu.. tes untuk mengetahui apakah kamu terinfeksi HIV atau tidak, juga penyakit menular seksual lainnya. Karena saya khawatir kamu baru saja melakukan hubungan seksual beresiko tinggi,” kata Brian.

Mendadak aku menjadi sangat resah. Semua peristiwa ini ditambah lagi dengan saran dokter membuatku semakin tertekan.

“Oke. Kelihatannya emosi kamu masih belum stabil. Sementara ini enggak usah dipikirkan dulu. Tapi kamu bisa hubungi saya kapan aja kalau mau,” kata Brian sambil menyerahkan sebuah kartu nama padaku.

Aku menerimanya dan mengucapkan terima kasih sebelum pamit.

“Kamu bisa pulang sendiri? Saya bantu panggilin taksi?” tawar Brian simpatik.

Aku menolak dan mengucapkan terima kasih sekali lagi atas tawarannya. Brian mengantarku ke depan pintu dan menungguku hingga sampai mendapatkan taksi. Dia tersenyum sedikit sambil mengangguk padaku sebelum taksi yang kutumpangi pergi.

Aku merasa letih. Kulihat jam sudah lewat tengah malam saat tiba di rumah. Pintu depan belum terkunci dan aku membukanya perlahan agar tak mengganggu orang rumah yang mungkin sudah tertidur.

“Bagus, ya? pulang lewat tengah malam lagi. Mangkir lagi dari tugas nyuci ya?” kata Kak Harrel yang rupanya sudah menungguku di ruang tamu.

“Kak.. bisa besok aja? aku capek..” kataku.

“Enak aja. Sekarang Mama ama Papa lagi nginep di rumah Om. Besok jam 10 mama ada pesenan kue dan gue enggak mau nyuci lagi malam ini. Mana gue harus begadang nungguin elu lagi..” cerocos Kak Harrel.

Aku berusaha menahan tangis. Tubuhku sudah lelah. Kucoba berkompromi dengan Kak Harel. “Maaf kak.. besok pagi aku cuciin semua. Tapi malam ini aku mau tidur dulu ya, kak?”

PLAK! Kak Harrel menampar wajahku. “Denger ya dek! gue udah bosen sama kelakuan elu yang kekanak-kanakan. Mau sampe kapan bertingkah jadi anak enggak tau adat, hah? Seneng banget sih jadi biang kerok di rumah ini?” hardik Kak Harrel.

Aku tak menjawab.

“Pokoknya selesain tugas elu. Gue enggak mau tahu, ngerti?” ancam Kak Harrel sambil meninggalkanku dan naik ke kamarnya di atas.

Dengan tertunduk lesu aku berjalan menuju dapur. Awalnya aku mencoba menahan kesedihanku saat aku mulai mencuci. Tapi aku tak kuat lagi. Air mataku tumpah tak terbendung dalam tangisan sunyi malam itu…

-bersambung-

NEXT UPDATE: BELUM TAHU

Disclaimer:
a. Dilarang keras menyalin sebagian atau keseluruhan cerita ini dan cerita lainnya tanpa izin penulis baik mencantumkan nama penulis atau tidak. Kreatiflah. (share di fb atau share link dari blog binanandthecity diperbolehkan)

b. Dalam adegan intim terkadang tidak disebutkan penggunaan kondom untuk keperluan cerita. Jangan ditiru. Selalu gunakan kondom bila berhubungan seks.

c. Cerita ini fiktif belaka.

Advertisements
Comments
  1. Atsuko100 says:

    Dari Cerita2 yg gua baca yaa kirain guamah si nico ini binan nya luar biasa. tp cerita mengisahkan betapa berat menjadi dirinyaa😔 *Lebay😳😂
    Btw. keren bang cetitanya
    Oia mau koreksi nih bang. Bahasanya ato speech nyajngn terlalu bakulah. jd ngerasa aja gua bacanya😁

  2. Leo Aprinata says:

    Dari awal sudah curiga sama Arga. Responnya sedikit aneh.
    Ditunggu lanjutannya bang, semangat !

  3. Klaysia says:

    Ditunggu lo kelanjutannya

  4. Tsu no YanYan says:

    Dasar Arga brengsek! Rasain tuh Niko jadi lobang bergilir, sakit hati sakit hati deh, orang yg dicintai dipake banyak orang! KZL!

    Nico baby, malang nian nasibmu! T-T

  5. gejegeje says:

    Kesian banget nico,,
    udah dlecehin guru sendiri skarang yg jadi penolongnya malah lebih ngerusak

  6. arif says:

    katanya tanggal 10 -_-

  7. arif says:

    ada yg agak aneh bang. yg dari lobi lalu tau2 film diputar.
    kalau bacanya kurang cermat dan kurang cerna jadi kerasa janggal.
    ditambahin adegan masuk cinema dan/atau nyari seat.

  8. WNata says:

    kasian Nico #PukPukNico
    Harrel juga jahat disini suka main tangan.

  9. Ray says:

    Arga taeeeek lah -__-
    Huhuhu Nico, nyesek banget tuh pasti

  10. Den says:

    Neeexxxttt…..
    Sumpah keren2 ceritanya, gw emang baru, tp udah baca semua cerita yg ada d website ini…
    Love!
    Love!

  11. Lanang says:

    Di bagian2 sebelumnya gak ada narasi yang ngasih tau pembaca Nico sudah cerita tentang perlakuan Pak Roy sama Arga. Kok di bagian tiga ini tiba2 Arga sudah tau kejadian pelecehan yang dilakuin Pak Roy ya.
    Jadi gak greget aja ceritanya.

    Maaf ya Bang Remy. Hanya kritik dri pembaca setia.

  12. deni says:

    Kasian si Nico jd liar, g nyangka jg karakter nico jd binal. rasain tu si arga, salah sapa jual nico huh.. 😮

  13. dhio says:

    Bang Remy ,, sebagai pengikut setianya karya2 novel bang remy, saya mau kasih saran nih bang ,,
    Sepertinya bahasa nya masih kurang, jadi saat dibaca masih agak2 kurang masuk di otak, tdk seperti cerita2 lainnya, yg lainnya karya bang remy bagus2 kok ,, semangat ya bang ,,

    _2B079E20_

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s