KISAH NICO 02Oleh: Abang Remy Linguini

Cerita sebelumnya: Mari kita mundur ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi. Nico, siswa SMA kelas 1 berusaha menghadapi keadaannya yang ‘berbeda’. Diam-diam dia menyukai tetangganya yang bernama Arga, pemilik toko perlengkapan skuter. Kejadian buruk menimpanya ketika dia dilecehkan oleh salah satu gurunya. Apakah yang akan terjadi setelahnya?

***

TAK biasanya aku mandi sangat lama seperti sore ini. Rasanya tak puas bila seluruh bagian tubuhku tidak terbilas oleh air. Kugosok berkali-kali seolah-olah kotoran akibat perlakuan Pak Roy menempel lekat pada kulitku. Setelah puas, aku berganti pakaian dan tiduran menatap langit-langit. Aku pernah mendengar berita pelecehan seks yang dilakukan oleh guru kepada muridnya, hanya saja tak kusangka bahwa itu akan terjadi padaku.

Aku tak tahu apa yang tadi kulakukan bila Arga tak mengantarku pulang. Mungkin aku akan jalan kaki sampai tiba di rumah, atau hilang konsentrasi sehingga ditabrak mobil, misalnya. Amit-amit. Aku tak paham mengapa Pak Roy yang sepertinya ramah, berwibawa, disukai murid-murid, dan memiliki keluarga yang bahagia, bisa sampai hati melakukan pelecehan padaku. Apakah tidak ada orang yang benar-benar baik di dunia ini? apakah semua orang sebenarnya memiliki sifat bejat dan tak lebih dari monster bertopeng keramahan?

Aku menghela nafas dan bangkit dari ranjang. Kubuka kausku sambil bercermin. Semua orang yang mengenal aku dan kakakku pasti setuju kalau kami berdua terlahir dengan fisik rupawan. Aku dan Kak Harrel tidak terlalu mirip. Kak Harrel lebih tegap dan berkulit lebih gelap. Sedangkan aku lebih ramping dari Kak Harrel. Walau bekas kemerahan akibat perbuatan Pak Roy sudah tak nampak, tapi masih bisa kurasakan kasarnya remasan tangannya di dada. Aku berpikir, apakah ini salahku yang bisa membuat orang santun seperti Pak Roy hilang akal?

Tapi ultimatum dari Pak Roy agar aku tetap berusaha semaksimal mungkin pada ujian semester membuatku semakin sulit berkonsentrasi belajar. Dua minggu sisa pertemuan sebelum ujian malah membuat konsentrasiku buyar. Aku sama sekali tak bisa menangkap pelajaran yang diterangkan oleh Pak Roy. Seolah-olah telingaku sudah tertutup oleh kebencian padanya.

“Kamu ke mana aja?”

Saat aku sedang istirahat, tiba-tiba Arga mengirimkan sms. Aku memang tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak peristiwa itu.

“Ada Mas.” jawabku singkat.

Arga tak membalas lagi. Mungkin karena jawabanku kurang memuaskan, Arga meneleponku.

“Ya, Mas? ada apa? Kok tumben nelepon?”

“Enggak. Habisnya sejak saya anterin itu kayaknya kamu ngilang. Ada masalah ya?” Tanya Arga.

Aku tertawa. “Motor Papa kan baik-baik aja, Mas. Hehehe..”

“Oh, jadi saya cuma dimanfaatin buat betulin motor gratis aja ya? Okelah kalau begitu..” sahut Arga kesal.

“Sori, Mas.. Enggak lah.. lagi sibuk belajar mau ujian aja.” kataku.

“Kalau begitu, nanti kabarin kalau pulang. Kamu kan janji mau traktir saya makan bakso Mas Somo,” kata Arga.

“Sip, Mas. Nanti kalau udah sampe tempat Mas Somo, aku kabarin,” kataku.

“Oke. Ditunggu.” sahut Arga menutup pembicaraan.

Aku menatap ponsel sambil tersenyum kecil. Ah, Arga. Rasanya saya tak sanggup bertemu dia. Aku ingin bila bertemu dengannya suasana hatiku sedang dalam keadaan gembira. Tapi sekarang? entah apa yang dia pikirkan bila bertemu denganku yang sedang tertekan ini.

***

Aku sudah menghabiskan separuh porsi bakso saat Arga datang dengan skuter merahnya.

“Woo.. makan duluan aja enggak nungguin,” protesnya.

Aku tertawa. “Maklum mas, laper pulang sekolah.”

“Bakso satu, Mas! taugenya banyakan dikit.” kata Mas Arga sebelum duduk di depanku.

Aku terdiam sambil terus menyantap bakso tak mau menatap Mas Arga.

“Kamu kenapa? ada masalah di sekolah?” tanya Arga.

Aku menggeleng. “Biasa aja mas. Cuma lagi stress aja mau ujian. Makasih udah perhatian, hehe..”

Arga diam. Sepertinya dia masih belum puas dengan jawabanku. Tak lama diapun angkat bicara.

“Saya itu enggak punya adik laki-laki. Kalau aja ada yang bisa saya anggap adik, lalu bisa saya ajak jalan, backpackeran misalnya, atau hiking, pasti asyik. Entah kenapa.. saya ngerasa kalau kamu tuh asyik buat diajak jalan.”

“Hmm.. wah. Aku emang seneng jalan sih, Mas. Apalagi naik gunung.” ujarku senang.

“Nah, makanya. Kalau kamu murung terus, mana enak diajak jalan,” ujar Arga.

Aku terdiam.

“Denger ya, Nic. Proses menjadi dewasa itu salah satunya adalah menghadapi masalah. Kalau kamu ada masalah, selesaikan sendiri. Tidak bisa? ceritakan ke orang lain supaya bisa bantu masalah kamu. Kalau cuma dipendam, enggak akan selesai-selesai,” ujar Arga.

Aku tak meresepon. Kuaduk kuah bakso perlahan-lahan mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Arga. Perlahan aku mendapatkan semangat baru.

“Oke. Aku mau coba selesain masalah ini sendiri, Mas.”

“Nah, gitu dong. Gimana mau saya ajak jalan-jalan pas liburan semester nanti?” kata Arga.

“Serius, mas? mau ngajak jalan?”

“Emang ada rencana sih mau hiking. Pas kamu bilang suka naik gunung, ya ayo ikut aja,” kata Arga.

“Asik..” kataku antusias.

Percakapan dengan Arga membuatku sedikit lebih lega walau aku belum berani menceritakan kejadian sebenarnya di sekolah. Jiwa pemberontakku muncul, jika Pak Roy sudah menyeretku dalam pelecehan ini, aku harus bertindak. Demi diriku sendiri.

Ketika ujian Fisika, aku membuat kehebohan karena mengumpulkan lembar jawaban hanya sepuluh menit setelah ujian dimulai. Ya. Aku memang hanya mengisi kolom nama dan mengosongkan lembar jawaban. Ini pasti akan membuat Pak Roy meradang. Itu sebabnya aku sudah mengantisipasi hal itu terjadi.

Aku menghubungi Evelyn. Dia adalah anggota klub majalah sekolah.

“Jadi elo mau pinjem alat perekam, Nic?” kata gadis berambut kepang dan berkacamata itu.

“Iya. Gue mau pinjam buat.. um.. nulis di blog,” kataku.

“Oh, ya? blog apa? gue enggak tahu kalau elo hobi nulis?” tanya Evelyn.

“Sebenernya sih baru mau mulai. Kadang-kadang ada ide di kepala yang mau gue tulis, tapi kalau enggak gue rekam suka hilang. Kadang bait puisi juga, cuma kalau pakai fungsi rekording di hape suaranya enggak jelas,” kataku.

“Wih.. nanti gue boleh baca ya? Kalau oke, elo juga bisa gabung di majalah sekolah.”

“Ya, tapi.. boleh pinjam alat rekamnya enggak?”

“Maaf Nic, enggak boleh. Itu inventaris klub sumbangan dari sekolah. Enggak boleh sembarangan,” jawab Evelyn.

Aku menghela nafas kecewa. “Okelah kalau begitu. Thanks anyway,” kataku sambil berniat beranjak pergi.

“Tapi elo bisa pinjem punya gue, Nic.” Ujar Evelyn sambil nyengir.

Aku pun ikut melebarkan senyum senang.

***

Minggu ujian telah selesai. Menjelang pembagian laporan nilai, tidak ada kegiatan berarti di sekolah. Pak Roy sekarang pasti sudah melihat lembar jawaban ujianku yang kosong. Tinggal menunggu saatnya aku dipanggil kembali menghadapnya.

“Kamu ke tempat saya nanti sore,” kata Pak Roy yang sengaja mencariku ke kelas. Kulihat wajahnya seperti menahan amarah.

Jantungku berdebar. Tapi aku tak bisa mundur lagi. Sore itu aku mempersiapkan diri dengan menyembunyikan alat rekam di dalam tas dan menyalakannya tepat sebelum masuk ruangan Pak Roy.

“Sore pak..” sapaku bersopan santun.

“Masuk!” perintah Pak Roy.

“Apa maksudnya ini? kamu mau ngeledek saya?” tanya Pak Roy sambil membanting lembar jawaban ujian ke atas meja.

Aku terlonjak kaget. Tapi segera bisa menguasai diri kembali.

“Ke sini!” hardik Pak Roy sambil berjalan ke arahku.

Pak Roy lalu menarik lenganku dan menyeretku ke dekat kursinya.

“Kamu memang sengaja minta ya? Baik. Kalau gitu, hukuman kamu supaya semester ini nilai kamu enggak saya kosongin harus lebih berat dari kemarin,” kata Pak Roy.

“Pak? Pak mau apa?” tanyaku.

Pak Roy tak menjawab. Dia lalu mendorong tubuhku agar berlutut di depannya yang kini sudah duduk.

“Buka baju kamu. Buka!” kata Pak Roy sambil menampar pipiku beberapa kali. Tidak terlalu keras, namun cukup membuatku merasa terhina.

Aku menuruti perintah Pak Roy. Pria itu mulai terangsang dan dengan berani kembali meraba tubuh dan meremas-remas dadaku. Pak Roy kemudian membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang tampak mengeras.

“Ayo isep Nic.. isep punya bapak..” desisnya sambil menarik kepalaku mendekat ke selangkangannya.

Aku yang belum pernah meraba penis orang lain apalagi sampai mengisapnya, tentu saja menolak. Tapi Pak Roy semakin memaksa. Ditariknya rambutku dan dipaksanya mulutku untuk membuka. Pak Roy lalu menggenggam penisnya dan memasukkannya ke dalam mulutku.

Aku memberontak namun tenaga Pak Roy lebih besar. Kurasakan wajahku memanas dan tanganku meremas pinggiran kursi saat penis Pak Roy tanpa ampun terus menohok ke dalam mulutku. Aku mengerang sambil terbatuk-batuk kehabisan nafas. Pak Roy sepertinya tak memedulikan aku dan berkonsentrasi pada kenikmatannya sendiri.

“Ayo terus.. isap yang bener!” perintah Pak Roy lagi sambil terus menampar-nampar pipiku. Aku sudah nyaris menangis, tapi protesku nampakanya malah akan membuat Pak Roy semakin semena-mena.

“Ohokk..” aku nyaris muntah ketika Pak Roy menyemprotkan spermanya saat penisnya masih berada dalam mulutku. Dengan sekuat tenaga, aku melepaskan diri dari cengkeraman Pak Roy dan terbatuk-batuk mencoba mengeluarkan cairan kental itu dari dalam mulutku seluruhnya.

Pak Roy terengah-engah. Dia lalu mengambil handuk dari dalam tasnya dan membersihkan tubuhnya seadanya.

Dengan perasaan malu, jijik dan terhina, aku memungut seragamku. Aku mengusap wajahku yang basah oleh airmata dan keringat. Tapi aku mencoba tetap tegar. Aku sudah mendapatkan apa yang aku mau.

“Masih ada satu semester lagi saya ketemu kamu. Saya sih senang-senang aja kalau kamu terus-terusan bertindak bodoh, ngerti?” ejek Pak Roy.

Aku mengusap hidungku dan balas menatap Pak Roy dengan berani.

“Saya juga senang, pak. Perbuatan bodoh bapak sudah saya simpan,” kataku.

“Apa maksud kamu?” tanya Pak Roy bingung.

Aku mengeluarkan alat perekam yang sedari tadi kusembunyikan dalam tas dan menunjukkannya pada Pak Roy sambil tersenyum.

Mengerti apa yang terjadi, Pak Roy lalu bangkit dari tempat duduknya dan mencoba mengejarku. “Kamu!” teriaknya. Aku buru-buru keluar dari ruangan dan lari dari ruangan Pak Roy sejauh mungkin.

***

Malamnya aku mengunjungi rumah Arga. Arga membuka pintu rumahnya dan menatapku heran. Di rumah ini Arga tinggal sendiri. Orangtuanya memercayakan rumah ini padanya untuk dijaga sementara mereka berada di luar kota karena tugas.

“Loh? kamu kenapa, Nic?” tanyanya.

“Aku boleh masuk, mas?”

Arga membuka pintu rumahnya lebih lebar. Akupun masuk.

“Ke kamar saya aja,” ajaknya.

Aku menuruti ajakan Arga dan mengikutinya naik tangga. Kamar Arga berada di lantai dua. Cukup luas. Sesuai kegemarannya dengan motor skuter, beberapa poster skuter menghiasi dinding kamarnya. Satu lemari dia dedikasikan untuk memajang miniatur skuter berbagai macam model dan warna.

“Ada yang mau diceritain?” tanya Arga.

Aku mengangguk.

“Soal masalah yang aku mau selesain sendiri, Mas. Udah saya coba.. tapi sepertinya belum selesai…”

“Sekarang kamu mau cerita dan minta bantuan?” tanya Arga.

Kemudian aku mulai bercerita mengenai perlakuan Pak Roy. Anehnya Arga tidak bereaksi berlebihan. Hanya saja tatapan matanya tak bisa dibohongi. Dia tampak marah dan kepalan tangannya tampak mengeras seperti hendak meninju seseorang.

“Ini pelecehan serius… kenapa kamu malah biarkan dia berbuat yang kedua kali?” tanya Arga.

“Maaf Mas.. aku bingung. Sekarang aku takut. Takut Pak Roy berbuat nekad walau sudah aku ancam dengan bukti rekaman itu,” kataku.

“Bara api tidak bisa dilawan dengan bara api juga, Nic.”

“Aku enggak tahu lagi musti bikin apa, Mas. Tapi aku masih ketemu dia satu semester lagi…”

Arga menghela nafas dan memelukku. Aku bingung sekaligus senang. Pelukannya terasa menenangkanku.

“Apa… Pak Roy berbuat sampai.. eng…” tanya Arga ragu-ragu saat dia melepaskan pelukannya.

“Sodomi? Enggak Mas. Aku masih perawan,” kataku polos.

Wajah Arga mendadak memerah dan dia menjadi salah tingkah sambil terbatuk-batuk. Aku tertawa melihatnya.

“Yaudah. Sekarang kamu coba jalanin aja seperti biasa. Masih ada berapa hari lagi sampai pembagian nilai?” tanya Arga.

“Tiga hari lagi, Mas.”

“Oke. Kamu coba pikirin hal-hal lain. Lagipula liburan ini kan kita mau jalan-jalan, kan?”

“Mas Arga masih mau jalan-jalan sama aku walau udah tahu cerita itu? Mas enggak jijik sama aku?” tanyaku.

“Ngomong apa sih kamu, Nic? Ya enggak lah. Itu kan salah guru kamu.” kata Arga.

Aku mengucapkan terima kasih pada Arga dan memeluknya sekali lagi. Arga berjanji untuk menjemputku besok sepulang sekolah karena minta diantar membeli model skuter antik di sebuah mall. Akupun pamit pulang pada Arga.

***

Keesokan harinya, aku berjalan meninggalkan sekolah sendirian menuju halte. Aku sengaja tak ingin menunggu Arga menjemputku di sekolah. Tapi rupanya hal ini dimanfaatkan Pak Roy untuk melabrakku.

Saat aku berjalan, mobil Pak Roy menepi dan dia keluar dari dalam mobil.

“Nico! ayo ikut saya!” hardiknya.

Aku mencoba menghindar namun Pak Roy berhasil menahan tanganku.

“Lepasin, Pak! saya enggak mau ikut!” protesku.

Keributan kami mengundang perhatian beberapa orang yang berada di situ. Dua orang pria mendekati kami dan menanyakan ada masalah apa.

“Tolong bapak jangan ikut campur. Dia murid saya yang lagi bolos. Saya guru anak ini,” katanya sambil menunjuk stiker nama sekolahku yang menempel pada kaca mobilnya.

Dua orang itu lalu menjauh dan tak ingin ikut campur. Aku tak berdaya menolak ketika tak ada orang yang mendukungku saat itu.

“Lepasin dia!” teriak sebuah suara.

Aku dan Pak Roy menoleh. Arga ternyata sudah turun dari motornya dan berjalan ke arah kami.

“Kamu.. kamu jangan ikut campur! ini masalah antara guru dengan murid. Orang lain tolong mundur!” ancam Pak Roy.

“Saya kakaknya!” teriak Arga. Pak Roy tampak terkejut. Keterkejutannya hanya sebentar ketika Arga melayangkan tinjunya pada wajah Pak Roy hingga pria itu tersungkur di tanah.

“Mas Arga! udah.. udah mas..” cegahku ketika kulihat wajah Arga penuh amarah dan gelap mata hendak menghajar Pak Roy lagi.

“Kamu macam-macam lagi sama adik saya, saya kirim kamu ke rumah sakit! ngerti!” teriak Arga.

Pak Roy tampak kebingungan. Dia lalu melihat ke sekelilingnya di mana orang-orang mulai berkerumun melihat keributan ini. Pak Roy buru-buru bangkit dan masuk kembali ke dalam mobilnya. Cepat-cepat dia menghidupkan mesin mobilnya dan pergi menjauh.

Aku dan Arga lalu berjalan menuju skuter merahnya. Wajah Arga masih tampak marah. Dia menghidupkan motornya dengan kasar dan memacu motornya kencang-kencang.

Aku memeluk pinggang Arga berusaha menenangkannya.

“Makasih ya, Mas…” ucapku.

“Mulai sekarang saya akan jaga kamu, Nic! ngerti? Saya akan jaga kamu!” katanya tegas.

Aku tak menjawab. Kueratkan pelukanku pada pinggang Arga seolah sedang berterimakasih dengan rasa yang tak bisa kuungkapkan.

-bersambung-

NEXT UPDATE: 10 Mei 2015

Disclaimer:
a. Dilarang keras menyalin sebagian atau keseluruhan cerita ini dan cerita lainnya tanpa izin penulis baik mencantumkan nama penulis atau tidak. Kreatiflah. (share di fb atau share link dari blog binanandthecity diperbolehkan)

b. Dalam adegan intim terkadang tidak disebutkan penggunaan kondom untuk keperluan cerita. Jangan ditiru. Selalu gunakan kondom bila berhubungan seks.

c. Cerita ini fiktif belaka.

Advertisements
Comments
  1. Lorenzo Alfredo says:

    Jadi kasihan gue sama nico #SaveNico
    Btw kok tumben bang remy udh janjiin tgl updatenya?

  2. Rico says:

    aaaahhh…
    Mas Remmy maahhh, lagi asik2 baca malah bersambung.
    bikin penasaran aja 😦
    jgn lama2 ya mas sambunganya

  3. jarwo says:

    yah knp dibikin jahat guru nya 😦

  4. Ray says:

    OMG, parah banget si Royco Molester -__-
    Peluk Niko, eh btw itu si Arga mupeng yak? LOL 😀

  5. Tsu no YanYan says:

    Waduh si Arga ini, salah satu pemicu kebinalan Nicokah? Hmmmmm….

    Tanggal 10… Okehhh! #catet

  6. eyoonlee14 says:

    Niko sama Harel sama-sama cerdik buat nyelesain masalah, tapi keliatanya yang lebih cerdik Bang Remy deh. He’s make the matter in this story and he’s resolving the matter so :))) jempol deh buat bang Remy jadi pengen nulis juga :”

  7. WNata says:

    aku suka! aku suka! 10 mei updatenya ditunggu.

  8. eka dwi pratama says:

    Wiiiih asyik bgt nie abang remy, tapi kok pendek bgt sieh, kurang puas. Arga keren tuh… Jadi kangen sama “____” semangat abang remy

  9. arif says:

    *ngisi presensi*

  10. arko says:

    yahhh..telat bacanya. But Its ok. Lanjutkan bg remy. Penasaran nih,, ssemoga melibatkan banyk tokoh lagi kaya kartu memori.

  11. ismail fahmi sone says:

    Ditunggu lanjutannya. Keren banget. Tapi tetep kartu memori paling the best hahaha, sukse terus !!

  12. astan says:

    Gimana cara mengirim cerita ke blog ini admin?

  13. Sagara says:

    late to ready this story….tapi meski begitu….gw terhanyut dlm ceritanya…..sukses terus…

  14. Rahmanto says:

    Krrenn 👍👍👍👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s