KISAH NICO – Bagian 1

Posted: May 1, 2015 in Kisah Nico
Tags: , , ,

KISAH NICO 01By: Abang Remy Linguini

(Mari kita mundur jauh ke belakang sebelum semua keriuhan dalam kisah Kartu Memori dan Love My Dad terjadi)

BAGIAN 1

KAPAN lagi bisa menikmati tidur siang tanpa gangguan selain di hari Minggu, kan? tapi rupanya Papa sudah berniat mengganggu acara bermalas-malasanku di dalam kamar ketika beliau mengetuk-ngetuk pintu.

“Nic.. Nico.. keluar sebentar. Papa mau minta tolong..” sahut Papa dari balik pintu.

Aku melempar bantal yang dari tadi menutup wajahku dan segera turun dari ranjang untuk membuka pintu.

“Kenapa, Pa?” tanyaku.

“Motor Papa. Enggak tahu nih, kalau belok ke kanan stang nya agak berat. Kamu bisa tolong papa periksa motornya ke bengkel?” kata Papa sambil menyorongkan kunci motornya padaku.

Aku menghela nafas lalu melirik ke arah kamar kakak.

“Emang Kak Harrel ke mana?” tanyaku.

“Dia ada les. Makanya papa minta tolong kamu, Nic.”

Aku lalu mengambil kunci motor papa dari tangannya dengan rasa malas.

Entah mengapa Papa selalu saja menyuruhku pergi ke bengkel. Padahal Papa bisa pergi sendiri, kan? tapi, yah.. apa gunanya punya anak kalau bukan buat disuruh-suruh. Oh, iya. sebenarnya aku cuma pura-pura malas saja jika disuruh papa ke bengkel. Karena… nanti kuberitahu. Aku lalu turun dan menyalakan motor papa dan mengemudikannya dengan perasaan gembira.

Namaku Nico. Usia 16 Tahun. Kelas satu SMA. Cukup segitu saja perkenalannya? Enggak? Kalau begitu aku tambah. Aku anak kedua dari dua bersaudara. Aku mempunyai satu orang kakak yang usianya terpaut hanya setahun lebih dariku. Namanya Harrel. Kok bisa? itu karena Papa dan Mama terlalu bersemangat bikin anak padahal Kak Harrel waktu itu baru berusia beberapa bulan. Mungkin bisa dibilang kalau aku adalah anak yang tak diinginkan. Pasti mereka berpikir sambil mengeluh, yah.. padahal anak kita masih kecil, ini udah isi lagi. Hahaha..

Dibandingkan kakakku yang perfeksionis, pintar di sekolah, dan anak emas guru-guru, aku sedikit pemberontak. Nilaiku biasa saja. Aku tak pernah berusaha menjadi bintang kelas atau semacamnya. Santai sajalah. Itulah kadang aku dan Kak Harrel seringkali bertengkar. Dia tidak betah melihatku yang terlalu santai, sedangkan aku selalu mengoloknya karena terlalu serius. Akhirnya, aku si anak yang tak diinginkan ini, dibebaskan untuk melakukan apapun. Papa Mama rupanya sudah angkat tangan melihatku yang santai. Tidak.. aku tidak melakukan kenakalan remaja apapun kok. Aku juga bukan anak yang suka kabur dari rumah. Tapi untuk menjadi orang ambisius dan sempurna seperti kakak? aku tak sanggup. Bagi orangtuaku, cukup satu saja anak yang menjadi tumpuan harapan bagi mereka. Dan itu membuatku lega karena tak ada beban harapan berlebihan kepadaku.

Aku tahu ada sesuatu yang berbeda dariku sejak kecil. Aku lebih tertarik pada pria dibandinngkan kepada lawan jenis. Kapan aku bisa tahu? Hmm.. kamu pernah tidak diajak oleh orangtua ke toko baju? Aku ingat saat aku kecil, aku terpana melihat poster pria gagah di bagian pakaian pria. Koboi amerika, hanya memakai celana jeans tanpa atasan, yang memamerkan tubuh kekarnya yang jantan berbulu dan tersenyum penuh percaya diri padaku yang melihatnya. Saat itulah aku mulai mengagumi keindahan sosok tubuh lelaki. Belum lagi jika aku masuk ke area pakaian dalam. Mama selalu menyuruhku untuk menjauh dari area pakaian dalam wanita karena dia pikir anaknya akan berpikiran dan bertanya macam-macam tentang bra dan celana dalam wanita. Tapi itu tak masalah bagiku. Aku menjauh dan menempatkan diriku pada rak-rak yang memajang pakaian dalam pria. Aku lama berdiam diri di situ menunggu mama sambil menikmati deretan foto pria-pria tanpa busana yang hanya memakai celana dalam sambil berdebar. Ini adalah hiburan paling menyenangkan. Aku penasaran dengan tonjolan yang mereka sembunyikan. Akankah “milikku” akan sebesar milik mereka nanti saat aku dewasa?

Oh, iya. Aku belum cerita ya kenapa aku senang saat disuruh papa ke bengkel? Ya. Itu karena sebenarnya aku tak membawa motor papa ke bengkel. Tapi ke tempat ini.

Namanya adalah ALL SCOOT IN. Letaknya di garasi sebuah rumah di komplek perumahanku yang dimodifikasi menjadi sebuah toko dan tempat untuk mempercantik motor khusus jenis skuter. Pemiliknya bernama Arga. Usianya sekitar 23 atau 24 Tahun. Tampan, lulus diploma tiga tahun lalu dan memilih untuk membuka usaha permak motor skuter. Awalnya aku tak mengenal Arga walau aku tahu ada toko ini. Temankulah yang waktu itu memintaku mengantarnya ke tempat ini untuk mempercantik skuternya. Karena Arga dan aku kebetulan tinggal di komplek yang sama, aku menjadi akrab dengannya.

Pertama kali aku mencoba lebih dekat dengannya dengan sengaja membawa motor bebek Papa ke sini dan meminta Arga memeriksanya. Rupanya dia bisa membetulkannya. Dan sekitar dua kali lagi aku datang, diapun bisa membetulkannya kembali.

“Mas Arga!” panggilku sambil memarkir motorku di teras tokonya. Aku mengangguk sekilas pada dua orang pegawai Arga yang sedang asyik menempelkan hiasan dan sibuk mengecat bodi sebuah skuter.

“Tolong bilang kalau kamu ke sini, kamu mau beli sesuatu dan bukan mau benerin motor,” kata Arga dari dalam konter.

Aku terkekeh malu.

Dia lalu memberi isyarat padaku untuk menunggu sebentar sementara dia masih melayani seorang pembeli. Aku mengangguk dan duduk jongkok sambil bersiul-siul. Setelah Arga selesai bertransaksi dengan pembelinya, dia menghampiriku.

“Kenapa lagi motor babeh, hah?” tanyanya.

“Ini Mas, kalau belokin ke kanan agak berat,” kataku.

“Hmm.. mungkin kamu bisa pertimbangkan lagi supaya…”

“Jual motornya? Udah Mas! Aku udah bilang Papa supaya ganti aja motornya ama yang baru,” sambungku bersemangat.

“Bukan. Maksud saya, supaya kamu bawa motor ini ke BENGKEL. Bengkel beneran bukan toko skuter,” kata Arga pura-pura kesal.

Aku terkekeh lagi.

“Maaf mas, kan lumayan kalau Mas Arga bisa betulin, nanti uang dari papa kita jajanin bakso di depan, gimana?” tawarku.

Arga menatapku sambil mendelik kesal. “Kecil-kecil udah berani korupsi ni anak.. Umur berapa kamu? SIM juga belum boleh punya, kan?”

“Hehehe.. Mas Arga jangan gitu ah. Jadi malu,” kataku tersipu.

“Bukan apa-apa, Nic. Kalau orang tahu saya bisa benerin motor bebek, nanti orang ke sini bukan beli dagangan saya, tapi minta reparasi motor, hahaha..” ujar Arga geli.

Dia lalu bangkit dan memeriksa motor Papa. Arga menyuruh salah satu karyawannya untuk mengambil peralatan. Arga lalu dengan teliti memeriksa apa yang tak beres pada motor papa. Aku suka sekali memerhatikan Arga ketika dia serius membetulkan motor papa. Rambut ikalnya yang sedikit gondrong sesekali menutup wajahnya ketika menunduk. Wajahnya yang dihiasi kumis tipis makin tampan jika dia sedang serius. Rahangnya juga kadang dia tarik semakin tegas ketika sedang berpikir.

“Udah nih. Kamu coba aja..” kata Arga setelah beberapa lama asyik memperbaiki motor Papa.

“Eh, udah? Apanya yang rusak?” tanyaku basa-basi.

“Saya jelasin juga kamu gak bakalan ngerti, kan? ada yang diganti barusan. Karena sparepartnya murah dan kebetulan saya ada simpen, gak usah bayar.” kata Arga.

“Beneran, mas? jadi enggak enak,” kataku.

“Iya. Yang enak itu bakso Mas Somo di depan sana,” godanya.

Aku terkekeh. “Kalau gitu, makasih ya, mas.”

“Eh, ini bukan proyek tengkyu ya. Jangan lupa Promosiin tempat ini ke temen-temen kamu yang punya skuter,” kata Arga.

“Siap Mas! Pasti dipromosiin,” kataku sambil menyalakan motor dan pergi dari tokonya dengan perasaan senang.

***

Walaupun aku menyadari diriku penyuka sesama jenis, aku tak pernah berani mengeksplorasi keingintahuanku akan seks. Sampai sejauh ini, aku hanya bisa sebatas memuji pria-pria yang menurutku menarik seperti Arga dan.. salah satu guruku di sekolah. Aku sering berkhayal betapa senangnya jika salah satu dari pria-pria itu tiba-tiba berkata padaku, I love you.. dan mengajakku berpacaran. Wah, aku pasti akan senang sekali. Yang kutahu jika ada dua orang yang saling menyukai, seharusnya mereka berpacaran. Ada beberapa teman-temanku yang terang-terangan berpacaran setelah saling menyatakan suka. Aku ingin seperti mereka. Tapi tentu saja dengan imajinasi pria-pria yang kukagumi walau itu sepertinya mustahil.

Namanya Pak Roy. Dia guru Fisika. Aku memang tak berbakat dengan pelajaran ini. Susah payah aku belajar untuk sekedar tak mendapat nilai jelek. Tapi sepertinya susah. Apalagi sebentar lagi ujian akhir semester. Sekolahku cukup ketat untuk siswa yang nilainya di bawah rata-rata. Mereka akan memanggil orangtua ke sekolah. Apa jadinya Papa dan Mama melihat anak yang tak diharapkan ini membuat malu mereka dengan datang ke sekolah?

Pak Roy berusia sekitar tigapuluhan. Sudah berkeluarga. Aku sebenarnya suka memerhatikan dirinya mengajar. Suaranya yang berat dan gesturnya yang maskulin membuat jantungku berdebar. Apalagi dia suka sekali menggulung lengan kemejanya ketika semangat mengajar dan memperlihatkan lengan kekarnya yang berbulu. Aku sering membayangkan adegan romantis Pak Roy menatapku mesra sambil merangkulku dengan tangan kekar berbulu itu. Itu juga mungkin penyebab aku nyaris gagal di pelajaran Fisika semester ini. Hasil nilai tugas yang diharapkan bisa membantu nilai semesterku kurang memuaskan. Pak Roy akhirnya meyuruhku untuk datang ke ruangannya setelah sekolah usai.

“Nico. Bapak perlu bicara sama kamu. Ini soal nilai kamu. Bapak tunggu di ruangan setelah kamu pulang.” suruhnya sebelum meninggalkan kelas.

Aku mengangguk.

Setelah sekolah bubar, aku menuju ruangan Pak Roy. Dia menyuruhku masuk ketika aku mengetuk pintu.

“Duduk sini,” perintahnya.

Aku lalu duduk di kursi berhadapan dengannya.

“Kamu tahu, kalau nilai kamu enggak cukup menggembirakan semester ini?” tanyanya.

“Iya pak..” jawabku.

“Bapak lihat nilai ulangan kamu semuanya jelek. Satu-satunya harapan supaya nilai kamu terbantu itu ya tugas kemarin. Tapi hasinya juga jelek,” kata Pak Roy kecewa.

“Lantas saya harus gimana, pak?” tanyaku.

Pak Roy melipat kedua tangannya. Dia menunduk dengan wajah serius. Terus terang, berada di ruangannya dengan aura maskulinnya membuatku tak nyaman. Aku khawatir dia tahu kalau aku menyukainya.

“Sebenarnya ada cara lain, kalau kamu mau bantu bapak,” katanya.

“Baik pak. Bantuan apa?” tanyaku.

“Hmm.. bapak.. pernah pinjam buku teks kamu. Lalu di belakangnya bapak lihat ada tulisan dan gambar…” katanya.

Aku langsung terkesiap. Aku pernah iseng mencoret-coret halaman belakang buku pelajaran Fisika dengan gambar karikatur Pak Roy dan kalimat I Love You. Pasti Pak Roy sedang membicarakan hal itu.

“Eh.. itu.. itu saya cuma iseng pak. Maaf…” kataku khawatir.

“Oh, ya? cuma iseng? Sayang sekali, padahal bapak juga suka sama kamu..” kata Pak Roy mencurigakan.

Pak Roy lalu bangkit dan menghampiriku. Dia berdiri tepat di belakangku. Mendadak aku menjadi sangat takut dengan orang ini. Rasa kagumku padanya hilang.

“Kamu sayang sama bapak?” tanyanya sambil metetakkan telapak tangannya pada bahuku.

“Ng.. i.. iya pak. Saya kagum sama cara mengajar bapak,” kataku mencoba mengalihkan perhatian.

“Saya juga sayang sama kamu. Saya enggak mau kamu gagal di pelajaran ini. Makanya, kalau kamu sayang, kamu bantu tunjukkin ke bapak..” katanya lagi. Kudengar nafasnya semakin berat.

“Ca.. caranya?” tanyaku semakin khawatir.

“Buka seragam kamu.. bapak pengen lihat..”

“Jangan pak… saya.. enggak mau..”

“Ayolah.. bapak enggak akan macam-macam. Cuma pengen lihat kamu.. kalau enggak pakai seragam,” paksanya.

Aku menurut. Dengan ketakukan kubuka satu persatu kancing kemejaku dan membukanya.

“Kaus dalamnya juga,” perintah Pak Roy.

Aku menyanggupinya. Aku tertunduk malu dengan tubuh telanjang dada di depan Pak Roy yang tampak buas menatapku.

“Ah.. Kamu memang ganteng..” kata Pak Roy sambil berusaha mengelus pipiku.

Aku mengelak dan menjauhkan wajahku dari tangannya.

“Kamu diam di situ, sekarang kamu bantu bapak supaya saya bisa tambahkan nilai kamu,” kata Pak Roy.

“Bapak mau apa?” tanyaku khawatir.

“Sstt.. sst.. diam aja..” kata Pak Roy.

Kemudian Pak Roy melakukan sesuatu yang membuatku muak dan marah. Aku tak bisa berbuat apa-apa saat dia berdiri di hadapanku sambil meraba-raba tubuhku.

“Jangan pak..” tolakku lagi berusaha menghentikan kegilaan ini.

“Sshh.. sabar Nic..” katanya lagi.

Pak Roy lalu mulai meremas dadaku hingga aku mulai merasa kesakitan. Tangannya yang satu lagi bergerak membuka celananya dan mengeluarkan penisnya yang tampak sudah mengeras. Nafas Pak Roy memburu. Dia bergumam lirih “Oh…oh…”

Tangannya terus meremas-remas dadaku hingga aku harus menggenggam pergelangan tangannya agar dirinya tak terlalu bernafsu.

“Sakit pak.. Engh..” erangku.

Pak Roy semakin cepat mengocok penisnya. Desahannya berubah menjadi geraman yang lebih keras dan… tubuhnya gemetar seperti hendak jatuh ketika dia memuncratkan isi penisnya dan mengenai dada dan perutku. Pak Roy terengah-engah dan akhirnya menghentikan perbuatannya.

Aku hampir menangis melihat dadaku yang memar kemerahan. Kupungut kaus dalamku dan dengan jijik kulap bersih sperma Pak Roy yang berceceran pada dada dan perutku. Pak Roy mendengus dan merapikan kembali pakaiannya. Nafasnya masih terengah-engah.

“Nah. Sekarang nilai kamu sudah bapak tambah. Semoga ujian semester nanti kamu berhasil atau.. bapak panggil lagi kamu ke sini, mengerti?” katanya.

Aku tak menjawab. Buru-buru kujejalkan kaus dalamku yang bernoda sperma ke dalam tas dan kupakai lagi seragamku. Terus terang aku tak lagi peduli soal nilai sialan itu. Tanpa merapikan kemeja dan tak memasukkannya ke dalam celana, aku bergegas pergi dari ruangan Pak Roy.

Seharusnya aku langsung mencari angkutan umum untuk pulang. Tapi aku merasa sangat kotor. Aku khawatir orang-orang di dalam angkot nanti tahu apa yang telah terjadi padaku. Bagaimana kalau mereka bisa mencium bau sperma dari badanku? Aku merasa jijik dengan diriku sendiri. Tanganku tak bisa berhenti gemetar. Aku lalu berjalan gontai menjauhi sekolah tak tahu harus berbuat apa.

“Nic? Nico?” panggil seseorang sambil membunyikan klakson.

Aku menoleh sambil mengusap mataku yang sedikit basah. Kulihat Arga dengan skuter merahnya sudah ada di sebelahku.

“Lho, kamu kok baru pulang?” tanyanya.

“I.. iya mas. Tadi.. ada urusan di sekolah,” jawabku berbohong.

“Seragam kamu acak-acakan gitu. Abis berantem ya?” selidik Arga.

Aku menggeleng. Saat itu aku merasa sangat letih dan ingin segera pulang.

“Ayo Nic. Saya antar pulang, ya? kita bareng. Tadi saya abis dari bank,” tawar Arga.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Saat aku duduk di belakang Arga, aku meletakkan kepalaku pada punggungnya. Hal ini membuatnya bingung.

“Kamu kenapa, sih Nic?” tanyanya.

“Gapapa mas.. bisa jalan aja?” pintaku sambil menggelengkan kepala.

Arga tak bertanya lagi. Dia lalu menjalankan motornya membawaku pulang.

-bersambung-
Disclaimer:
a. Dilarang keras menyalin sebagian atau keseluruhan cerita ini dan cerita lainnya tanpa izin penulis baik mencantumkan nama penulis atau tidak. Kreatiflah. (share di fb atau share link dari blog binanandthecity diperbolehkan)

b. Dalam adegan intim terkadang tidak disebutkan penggunaan kondom untuk keperluan cerita. Jangan ditiru. Selalu gunakan kondom bila berhubungan seks.

c. Cerita ini fiktif belaka.

Advertisements
Comments
  1. Lorenzo Alfredo says:

    Keren bang Remy…
    Kasihan yah Nico, dilecehin sama guru sendiri
    Ditunggu bagian 2-nya bang ๐Ÿ™‚

  2. eka dwi pratama says:

    Pov nya niko ya, padahal q benci nico genit. Tapi ini menarik bgt abang remy emang jagonya deh, CAYOO kaka

  3. Bobby says:

    cerita x kerreen. bang remy emang kreatif. a clever writer …
    … cptan yh bagian2 berikutnya .
    dont long .. โค

  4. arko says:

    Semanagt bg remy. Note ny keren jg. Abis ni tampol aja yg nyalin crta ini. Dtunggu lnjutanny mas.siip

  5. chanchan says:

    Pake kondom ga enak,pak roy..wkwk..oops..bang remy mksdnya..ngikik dipojokan..

  6. Ray says:

    Wah parah banget tuh gurunya. Eh tapi ntar kok si Nico malah jadi cabul gitu pegimane ceritanya yak? #plaaak ๐Ÿ˜€

  7. jarwo says:

    jd inget pertama kali diapa2in sama guru juga

  8. Putra says:

    Boleh aku ksih cerita ku ke Bang Remy

  9. Sagara says:

    wiiihh…ceritanya sekarang fokus ke nico ya…kerenlah bang..cerita yg gk ada habisnya.. .sambung menyambung…seruuu…sukses bang…and dtunggu cerita selanjutnya

  10. arif says:

    *ngisi presensi*

  11. Tsu no YanYan says:

    Ooowww Nico masih polos *.*

  12. eyoonlee14 says:

    i can see another side of nico, #young #fresh #free #wild that’s my Nico :*

  13. beenimnida says:

    akhirnya mulai baca. bang remy pernah mempertimbangkan nyari softaware yg bikin tulisan di blog nggak bisa diklik kanan? nggak bisa diblok juga. mayan buat mencegah orang copy-paste. parah2nya kalo dia maniak plagiat banget ya ngetik ulang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s