TERGODA BIYAN (One Shot)

Posted: March 23, 2015 in Cerita XXX
Tags: ,

IMG_6187By: Shishunki
Bonus story – one crot.

SAAT pamanku menelepon, aku mengiyakan permintaannya untuk menampung sementara anaknya yang sedang mengikuti sebuah perlombaan fisika antar SMA di kotaku. Aku sudah lama tinggal di sini sejak meninggalkan kampungku. Sepupuku itu bernama Biyan. Terakhir kali aku melihatnya tujuh tahun lalu saat dia masih sepuluh tahun. Usiaku terpaut sepuluh tahun dengannya. Aku tinggal di sebuah rusun bertingkat sendirian sejak mendapatkan pekerjaan. Pamanku tak mengizinkan anaknya tinggal di hotel.

Namaku Erick. Seorang gay. Selama aku tinggal jauh dari keluargaku, aku menjalin hubungan dengan beberapa pria. Entah itu sebatas bersenang-senang, atau menjalin hubungan serius. Sekarang statusku sendirian dan belum berniat kembali berpacaran. Kuhabiskan banyak waktuku untuk olahraga dengan teman kantor seperti bermain futsal, atau melatih tubuh di pusat kebugaran.

Malam itu Biyan datang. Aku terkejut melihat perubahan fisiknya. Dia jauh lebih jangkung dari terakhir kulihat. Dia tumbuh menjadi remaja rupawan. Rambutnya yang ikal lebat membingkai wajah ovalnya yang tampan. Garis alisnya sempurna melengkapi matanya yang tajam.

“Mas Erik? apa kabar?” sapanya sambil menenteng ransel.

“Biyan? sudah gede ya kamu sekarang? ayo masuk!” ajakku gembira.

Terus terang, walau Biyan masih sepupuku, ketampanannya membuat naluri gayku bangkit. Aku memang menyukai kesegaran pria muda atau yang biasa disebut “brondong” itu.

“Maaf ya, kamu enggak bisa tinggal di hotel sama temen-temen satu grup kamu. Malah dipaksa tinggal di sini,” kataku.

“Enggak apa-apa, mas. Aku juga seneng kok. Aku kan udah lama enggak ketemu mas Erik. Kangen. Heheh..” ujarnya.

GLEK! Kangen? “Ah, kamu bisa aja. Di hotel kan enak, ada kolam renangnya. Sarapan juga enak-enak,” kataku.

“Gapapa mas. Aku masih inget dulu Mas Erik paling baik sama aku. Suka izinin main game di komputer Mas,” kata Biyan sambil memelukku dari belakang. Aku pun menjadi salah tingkah.

“Eh.. kalau gitu kamu mandi dulu sana. Mas udah beliin makan malam. Nanti habis makan, kamu istirahat biar bisa bangun pagi,” usulku.

Biyan mengangguk dan melepaskan pelukannya. Tanpa sadar aku memerhatikan dirinya agak lama.

“Kenapa mas?” tanya Biyan.

“Ah, enggak. Kamu udah gede ya sekarang? jangkung. Pasti kamu dikejar-kejar cewek ya?” godaku.

“Mas juga sekarang keren. Pengen deh punya badan bagus kayak Mas Erik. Aku juga mau mulai ngegym ah..” katanya sambil mengambil handuk dari tasnya dan berlalu menuju kamar mandi.

Setelah Biyan selesai mandi dan kemudian makan bersamaku, aku baru sadar harus berbagi ranjang dengan brondong ini.

“Kasurnya sempit, gapapa?” tanyaku.

“Gapapa, mas. Asal muat buat tidur aku gak masalah,” kata Biyan.

Akhirnya kami berdua berbaring di ranjang. Biyan memunggungiku. Sepertinya dia langsung tertidur. Aku telentang menatap langit-langit kamar tak bisa memejamkan mata. Aku menoleh ke samping. Punggung Biyan begitu menggoda untuk kupeluk. Aku ikut memiringkan tubuh menghadap punggungnya namun tak berani untuk lebih dekat. Tiba-tiba Biyan mengulurkan tangannya dan menarik tanganku untuk merangkulnya.

Aku terkejut namun menuruti keinginan remaja ini. Jantungku berdebar semakin cepat dan gelisah. Kurasakan kontolku mulai mengeras sehingga kujauhi selangkanganku agar tak menyentuh bongkahan pantatnya yang terbungkus celana pendek itu.

Biyan lalu bergerak pelan. Rupanya dia sengaja memundurkan pantatnya hingga menyentuh selangkanganku yang kontolnya sedang mengeras. Seperti mendapat sebuah kode, aku menggerakkan tanganku dan mulai meraba-raba dada pemuda itu. Kuberanikan diri menyelipkan telapak tanganku ke dalam kausnya dan mencari-cari putingnya untuk kuraba dengan jariku. Kudengar nafas Biyan semakin berat. Dadanya mengembang kempis lebih cepat. Dia lalu menggerakkan pantatnya menggoda kontolku yang berada di dalam celanaku. Aku tahu Biyan sedang berpura-pura tidur, tapi aku terus mengikuti permainannya.

Kutarik kausnya hingga Biyan bertelanjang dada. Kubuka juga kausku dan lebih berani memeluknya sambil kuciumi lehernya. Biyan menggumam, menggeliat, dan menekan punggungnya pada dadaku sambil menikmati cumbuan mulutku pada pundaknya serta permainan tanganku pada putingnya.

“Engh..” gumamnya sambil terus menekan-nekan pantatnya pada selangkanganku.

Aku lalu mengikuti nafsuku. Kuturunkan celana pendek Biyan hingga kedua pantatnya terlihat. Kuremas bongkahan kenyal putih itu sambil menggeram. Biyan mendesah panjang saat kulakukan itu. Nafasku semakin berat dan bernafsu saat kuremas pantat Biyan beberapa lama. Kemudian aku melepas celana pendekku dan mengambil pelumas dari laci meja dan kembali memeluknya. Kubuka hati-hati pelumas itu dan kuoleskan pada jari-jariku.

Tubuh Biyan menegang dan menekan punggungnya pada dadaku semakin rapat ketika aku mulai mengolesi belahan pantatnya dengan cairan gel pelumas. Aku meraba lubang anus Biyan dan mengira-ngira ukurannya dengan ujung jariku. Kecil sekali. Aku sempat ragu apakah lubang anus sesempit itu bisa menerima kontol kerasku yang tak tahan melihat brondong ranum ini?

Aku lalu mengolesi seluruh batang kontolku dengan pelumas dan mulai menggesek-gesekkannya pada belahan pantat Biyan. Biyan melenguh namun masih tetap berpura-pura tidur. Kupegangi pinggannya dan kuangkat sebelah pahanya agar aku leluasa saat memulai untuk menerobos lubang anus sempit itu dengan kontolku.

“Sssh.. shh..” desisku sambil mengusap kepala Biyan ketika kulihat wajahnya meringis saat kepala kontolku perlahan mulai mencoba memasuki anusnya.

“Hmmfff…” gumamnya sambil menggigit bibir. Aku sebenarnya tak tega, namun aku sudah bernafsu ingin menyetubuhi adik sepupuku yang tampan ini.

Kujilati putingnya dan kuciumi lehernya agar Biyan lebih rileks. Kurasakan pinggulnya mengejan ketika aku berusaha memasukkan batang kontolku lebih dalam dan lebih dalam lagi.

“Engggh…. Mas….” desahnya sambil tangannya meremas pahaku memintaku untuk tak terburu-buru.

Aku mendesah sambil memejamkan mata ketika perlahan kurasakan batang kontolku melesak semakin dalam dan mulai menikmati sensasi pijatan otot-otot dinding anus Biyan.

“Arrggh…” erangku. Tak peduli apakah Biyan sudah mulai terbiasa ataukah tidak dengan adanya kontol pada anusnya.

Nafas Biyan semakin berat. Aku terpaksa menahan tubuhnya agar tak terlalu liar menggeliat. Kuangkat lebih tinggi pahanya. Akhirnya seluruh batang kontolku berhasil masuk ke dalam anus Biyan. Nafas Biyan semakin memburu. Dia mulai mengocok kontolnya untuk membuat dirinya semakin rileks. Aku menciumi Biyan dengan lembut untuk membuatnya tetap tenang dan membiasakan diri dengan kontolku sebelum aku mulai menggenjotnya.

Tanpa kusangka, Biyanlah yang pertama kali memulai. Digerakkannya pantatnya hingga perlahan kontolku kaluar dari anusnya. Saat tinggal kepala kontolku yang masih tertanam di dalam, Biyan menghentakkan pinggulnya sehingga kontolku melesak kembali ke dalam dengan cepat.

“Araagh..” Erang Biyan sambil menarik lenganku untuk semakin erat mendekapnya.

Perlakuannya menjadi isyarat bagi diriku untuk bisa mulai mengentot remaja ini tanpa ampun, kasar, dan buas.

Kuangkat tinggi-tinggi sebelah pahanya. Ketika aku menghujamkan kontolku kembali, Biyan memekik sambil melengkungkan punggungnya.

Kupejamkan mata menikmati ketatnya anus Biyan yang menjepit nikmat kontolku. Tanpa sadar akupun ikut mengerang. Kupukul dan kuremas-remas pantat Biyan beberapa kali sambil terus menggenjot kontolku keras-keras.

Biyan mulai merintih, pinggulnya ikut bergerak. Sesekali dia menggoyangkan pinggulnya seperti berusaha mencari titik di mana dia bisa menggunakan kontolku untuk meraih titik kenikmatannya sendiri.

Saat dia menemukan posisi yang membuat kontolku menekan syaraf nikmat di dalam anusnya, Biyan merintih menyuruhku mendorong kontolku kuat-kuat. Aku mengikuti permintaannya.

“Ouw.. Iya mas.. Di situ.. Lebih kenceng.. Ouwh!” Pekik Biyan berkali-kali. Jepitan dan geliat tubuhnya membuatku semakin terangsang. Kubalik sedikit tubuh Biyan agar aku leluasa mengulum putingnya. Kujilat dan kukulum keras-keras hingga Biyan merintih panjang. Kusodok dan kusodok lagi pantat Biyan.

“Mas.. Keluarin di dalem… ” pintanya.

“Ya. Mas mau keluar nih..” Geramku.

Biyan lalu menggerakan tubuhnya hingga aku dalam posisi telentang sementara tubuh Biyan tidur di atasku dan aku bisa melihat belakang kepala Biyan.

Aku mendekap Biyan erat-erat dan kontolku merojok anusnya semakin cepat. Biyan melebarkan kedua pahanya, menggoyang pinggulnya semakin cepat, mengetatkan cengkeraman anusnya sambil terus merintih dan mengerang berusaha membuatku sampai di puncak kenikmatan.

Aku tak tahan lagi. Kutekan kontolku dalam-dalam sanbil mendekap Biyan erat. Aku menggeram saat aku menembakkan cairan spermaku di dalam anus Biyan. Biyan memekik panjang saat dirasakannya cairan spermaku mengalir ke dalam ususnya. Dia mulai menggeliat kembali sambil mengocok kontolnya dan “Ahk.. Ngh…” Tubuhnya gemetar dan menegang ketika gilirannya memancarkan sperma yang membasahi perut dan dadanya.

Biyan terengah-engah. Tubuhnya terkulai lemas di atas badanku. Kami sama-sama berkeringat. Kupeluk Biyan dan menciumi pundaknya.

“Mas…” Panggilnya.

“Ya?”

“Besok kesiangan deh..” Ujarnya sambil terkekeh.

Aku ikut tertawa dan memeluknya semakin erat.

-Tamat-

Advertisements
Comments
  1. Lorenzo Alfredo says:

    Seru pisan euy

  2. Pepeboys says:

    Aaah kak remmy hish kenapa bisa keren banget sihπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜

  3. blackshappire says:

    bang aku juga mau dibuat bangun kesiangan kayak biyan sama bang remy :v

  4. Tsu no YanYan says:

    Hihihi Biyan nakal ;;) ;;)

  5. Ray says:

    Wogh panas dan nakal #kipaskipas πŸ˜€

  6. spicy says:

    serius keren

  7. Dewa says:

    Bang remy, knp kartu memory belum di update juga

    oiya, apa stock novel Heart Station udah abis ya bang… aq pngin beli mmpung punya penghasila sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s