KARTU MEMORI – Season II – Bagian 11 B (TAMAT)

Posted: March 22, 2015 in Kartu Memory - The Series I
Tags: ,

Kartu_M_Tamat BBy: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

Bantulah penulis blog untuk terus berkarya dengan membeli novelnya yang berjudul Heart Station di nulisbuku.com
http://nulisbuku.com/books/view/heart-station

TAMAT (BAGIAN B)

KEADAAN di Rumah Sakit menjadi sedikit gaduh. Bukan karena Ivan sudah sadarkan diri, tapi karena info mengenai hilangnya Linda dan kemungkinan besar dirinya sebagai tersangka pemukulan terhadap Ivan, keponakannya sendiri.

Imel menangis tersedu-sedu di pelukan neneknya. Neneknya Imel pun tak kalah cemas mendengar berita bahwa Linda diketahui membawa Bhayu pergi bersamanya. Dia berpesan pada Bima untuk membawa kembali Linda.

“Ibu punya dua anak perempuan. Yang pertama, mamanya Ivan sudah meninggal bersama menantu ibu. Sekarang keluarga ibu sedang diberi cobaan. Linda itu anak ibu yang agak sulit. Kelihatannya saja tenang, tapi dalamnya rapuh. Tolong pak polisi bantu selesaikan masalah keluarga ibu…” pinta nenek.

“Baik Nek. Tapi saya mau minta keterangan dari Imel kira-kira ke mana kemungkinan anak ibu pergi. Saya perluΒ  data properti yang dimiliki anak ibu,” kata Bima.

Nenek mengangguk. Dia lalu membujuk Imel untuk memberikan keterangan rumah yang dimiliki oleh ayah dan ibunya.

“Makasih Mel. Saya janji akan cari ibu kamu secepatnya,” ujar Bima ketika selesai mencatat keterangan dari gadis itu.

Bima kemudian pergi dan berpesan pada petugas polisi yang menjaga Bhayu.

“Kamu kabari saya kalau ada perkembangan di sini. Minta bantuan dan waspada kalau-kalau Linda kembali ke sini, mengerti?” kata Bima.

“Siap, pak!” jawab petugas polisi itu.

“Saya balik ke markas dulu,” kata Bima lagi sambil pergi.

Kemudian Bima menelepon seseorang untuk mendatangi rumah-rumah yang disebutkan oleh Imel.

“Tolong hubungi personel di dekat rumah ibunya Linda. Suruh cek juga ke sana. Lalu terus awasi rumahnya,” ujarnya.

Rupanya Bima kembali ke kantor polisi untuk membebaskan Harrel.

“Kamu saya antar pulang. Kita sudah punya tersangka baru yang mukul Ivan. Linda. Dia juga kemungkinan menculik teman kamu Bhayu,” kata Bima.

“Tante Linda nyulik Bhayu? Saya mau ikut, Mas! saya ikut!” ujar Harrel cemas.

Awalnya Bima ragu apakah hendak mengajak Harrel. Tapi kemudian dia setuju dengan ide itu.

“Oke. Kita pakai mobil. Sementara kita tunggu kabar dulu dari anak buah saya,” kata Bima.

Harrel mengangguk dan mengikuti Bima menuju parkiran mobil. Di dalam mobil, berkali-kali Bima menerima laporan dari anak buahnya yang mencari keberadaan Linda. Karena Bima menggunakan pengeras suara, Harrel bisa mendengar pembicaraan mereka.

“Kamu yakin tidak ada Linda di rumah itu?” tanya Bima.

“Tidak ada, pak! Rumah itu disewakan ke orang lain. Penghuninya ada di rumahnya.”

“Kalau rumah orangtuanya di desa bagaimana? sudah ada laporan?”

“Kosong pak! personel kita terus berjaga. Di kediaman Nyonya Linda juga tidak ada tanda-tanda yang bersangkutan datang.”

“Oke terima kasih. Kabari saya terus,” pungkas Bima.

Bima berdecak dan menggebrak dasbor mobil kesal. Tiba-tiba Harrel teringat sesuatu.

“Sudah cek ke apartemen kak Ivan, mas?”

“Tempat tinggal Ivan?” tanya Bima.

Harrel mengangguk. “Kak Ivan pernah bilang dia terpaksa tinggal di situ karena dekat dengan kantor Om Herlan yang bisnisnya dia ambil alih. Katanya dulu Om Herlan sering menginap di situ kalau sedang lembur. Mungkin apartemen itu punya keluarga Imel, mas.”

“Kenapa Imel sampai lupa papanya punya apartemen dan enggak bilang, ya?” tanya Bima.

Harrel mengangkat bahu. “Mungkin lupa, mas…”

“Kamu tahu tempatnya?” tanya Bima.

“Tahu Mas, enggak jauh dari jalan ini,” jawab Harrel.

“Oke. Kita langsung ke sana!”

Bima lalu menghubungi kembali anak buahnya memberitahu bahwa dia akan menuju apartemen tempat tinggal Ivan dan meminta beberapa personel untuk menyusulnya.

Harrel kemudian kembali merasa cemas dengan keberadaan Bhayu. Mungkinkah Linda sudah tahu bahwa Bhayu dan dirinya terkait dengan skandal dan kematian Om Herlan? apakah Linda akan berbuat nekad terhadap Bhayu?

***

“Bangun! Bangun!” hardik Linda.

Bhayu perlahan membuka matanya. Tubuhnya terasa lemas dan sakit. Dia mencoba mencari tahu di mana dia berada. Ketika dia berusaha menggerakkan lengan dan kakinya, dia sadar dirinya terikat pada sebuah kursi. Bhayu melihat ke sekelilingnya. Sepertinya dia berada di sebuah kamar hotel atau apartemen. Di salah satu dindingnya, terdapat jendela dengan pemandangan ujung-ujung gedung bertingkat. Bhayu bisa menyimpulkan bahwa dirinya dan Linda sedang berada di atas ketinggian dalam sebuah gedung.

“Tante?” tanya Bhayu.

Linda mendengus sambil menggenggam pistol kecil. Dia lalu melemparkan pistol itu ke dinding dan terjatuh ke lantai.

“Dasar anak ingusan. Kalian ini bisa punya ide jahat tapi sama pistol model koleksi suami saya saja sudah takut,” ejek Linda.

“Tante Linda.. tolong.. saya udah jelasin ke tante.. Om Herlan yang…” sahut Bhayu.

“Diam kamu! diam!” jerit Linda sambil kembali menampar Bhayu.

Linda terengah-engah. Wajahnya yang biasanya terlihat cantik kini terlihat kusut.

“Bukan itu saja. Bahkan keponakan saya sudah kemakan omongan kalian sampai saya terpaksa…” Linda tak bisa melanjutkan kata-katanya dan kemudian menangis tersedu-sedu.

“Sudahlah Tante.. lepasin saya.. ini cuma bakal bikin tambah rumit semuanya…” bujuk Bhayu. Tangannya berusaha melepaskan ikatannya.

Linda lalu bangkit dan menghentikan tangisnya. “Saya akan buat perhitungan dengan kalian satu persatu. Pertama saya akan bereskan kamu dulu..” ucapnya dingin.

“Tante? Tante mau apa?” tanya Bhayu ngeri.

Linda tidak menjawab. Dia lalu membuka pintu yang ternyata adalah pintu kamar mandi dan menyalakan kerannya. Bhayu bisa mendengar bath tub yang ada di kamar itu sedang dialiri air yang memenuhinya.

Linda lalu keluar dari kamar mandi. Dengan kasar dia menyeret kursi di mana Bhayu terikat padanya. “Tante? Tante! jangan tante!” pinta Bhayu.

“Suami saya meninggal dengan cara menyakitkan. Kalian juga harus ngerasain hal yang sama..” gumam Linda.

Bhayu semakin berusaha meronta dari kursi dan tali yang mengikatnya kuat-kuat ketika Linda mendorongnya menuju bath tub yang sudah hampir penuh terisi air.

“Tante jangan!” teriak Bhayu saat Linda dengan sekuat tenaga mendorong kursi yang terikat pada tubuhnya ke dalam bath tub.

Bunyi jeburan air terdengar saat tubuh Bhayu bersama kursinya masuk ke dalam bath tub. Tubuh Bhayu gelagapan ketika kepalanya terendam air dan mengakibatkan dirinya sulit bernafas. Bhayu berteriak di dalam air yang merendamnya sementara Linda hanya berdiri menyaksikan kejadian itu.

***

Rupanya apartemen tempat Ivan tinggal memang tercatat atas nama Herlan. Untunglah tak butuh waktu lama bagi Bima untuk mencari mobil milik Linda yang ternyata memang terparkir sejak dini hari di apartemen mewah ini. Ditemani oleh teknisi, Bima dan Harrel menuju tempat tinggal Ivan yang rupanya berada pada lantai paling atas.

“Saya kenal almarhum Pak Herlan sama istrinya. Mereka kadang suka tinggal di sini kalau Pak Herlan ada kesibukan. Lima lantai paling atas ini unit premium pak polisi. Hanya ada dua unit per lantainya. Saya juga kenal Pak Ivan yang sekarang tinggal di sini,” jelas teknisi itu.

Ketika mereka sampai di lantai yang di tuju, Bima bergegas keluar dari lift dan menggedor pintu apartemen.

“Ibu Linda! tolong keluar kamar! Ibu Linda dengar saya?” sahut Bima keras-keras.

Tak ada jawaban. Lalu Bima menyuruh teknisi itu membuka pintu apartemen Ivan dengan kunci cadangan.

“Kamu tetap di luar! Bapak tolong turun dan kabari rekan saya di bawah kalau mereka datang!” perintah Bima.

Harrel berdiri cemas di luar kamar sementara petugas teknisi kemudian bergegas menuju lift untuk turun setelah membuka pintu kamar Ivan.

Bima lalu masuk dan bersiap dengan senjatanya. Tak ada siapapun di ruang tamu, tapi dia bisa mendengar suara erangan pelan dan gemercik air dari dalam kamar. Bima lalu berlari menuju asal suara dan mendapati Linda sedang berdiri menyaksikan Bhayu yang meronta tenggelam di bath tub.

“Ibu Linda!” teriak Bima dan meringkusnya.

Linda yang seperti baru tersadar dengan kehadiran Bima menjerit histeris berusaha lepas dari cengkeraman tangan Bima. Bima kewalahan menghadapi perempuan itu sendirian sementara dia harus menolong Bhayu. Bima lalu berteriak memanggil Harrel.

“Harrel! Harrel!”

Mendengar panggilan Bima, Harrel menyusul ke dalam. Awalnya dia takjub melihat Linda yang meronta histeris mencoba lepas dari sergapan Bima. Tapi Harrel segera tersadar melihat Bhayu yang tenggelam di dalam bath tub.

“Bhayu!” pekik Harrel sambil menghampiri bath tub dan buru-buru mengangkat kursi tempat Bhayu terikat. Tubuh Bhayu basah kuyup. Wajahnya pucat kebiruan seperti kehabisan nafas. Sepertinya Bhayu menelan banyak air.

Harrel kemudian buru-buru melepaskan tali yang mengikat Bhayu hingga dia ambruk ke lantai. Harrel lega ketika akhirnya Bhayu terbatuk-batuk dan memuntahkan air yang terminum olehnya. Tubuhnya terengah-engah.

“Bhay.. Bhayu! elo enggak apa-apa?” tanya Harrel cemas.

Bhayu mengangguk pelan. Harrel memeluk Bhayu sambil menangis. Sementara itu Linda masih saja berontak ketika dibawa oleh Bima.

“MEREKA yang penjahat! mereka sudah bunuh suami saya! pak polisi salah tangkap!” jerit Linda.

“Sudah ibu! SUDAH! Kita ke kantor polisi!” teriak Bima kesal menghadapi Linda dan berusaha menyeretnya keluar kamar.

Rupanya Bima lengah. Linda yang kalap lalu mendorong Bima ke belakang hingga kepalanya membentur dinding. Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Linda mengambil stungun miliknya dari atas meja dan menghujamkannya pada Bima.

“Aarrgghhh!” erang Bima saat tubuhnya tersengat listrik yang disebabkan oleh senjata milik Linda.

“Mas Bima!” jerit Harrel melihat Bima terkapar. Dia sendiri tak bisa meninggalkan Bhayu yang masih lemas.

Melihat Linda pergi setelah membuang stun-gun nya, Harrel tak bisa tinggal diam. Sia-sia Bhayu mencegahnya untuk mengejar Linda.

“Rel! jangan..” cegah Bhayu.

Tapi Harrel tak menggubris larangan Bhayu. Dia berlari menuju pintu mengejar Linda. Di luar kamar, Harrel menoleh ke kiri dan kanan. Lift tidak bergerak, akan tetapi pintu darurat berbunyi seperti ada yang membukanya. Harrel lalu mengejar Linda yang rupanya pergi ke atap gedung apartemen. Saat Harrel membuka pintu atap, dia melihat Linda sudah berdiri di atas dinding pembatas gedung bersiap untuk melompat.

“Tante! Jangan nekad…” panggil Harrel.

Linda menoleh sambil terisak. “Mereka sudah tahu kan? kalau saya yang pukul Ivan? Buktinya kamu sudah bebas…”

“Iya Tante. Tapi tante enggak perlu begini… kasihan Imel…”

“Sejak kapan kamu peduli sama anak saya?” tanyanya.

“Tante. Saya ketemu Imel di rumah nenek. Saya ngerti betapa hancurnya dia pas… pas papanya meninggal. Imel bisa ngelewatin semuanya. Apa tante tega ngelihat Imel hancur lagi? apa tante enggak sayang sama Imel?”

Linda lalu menangis histeris. Harrel agak ngeri melihat Linda yang tak mau turun dari dinding pembatas atap gedung.

“Maafin saya tante.. maafin Bhayu juga…” bujuk Harrel.

“Saya sudah menyakiti keponakan saya sendiri… Kalau Ivan sampai mati, saya pasti akan membusuk di penjara… lebih baik sekarang saya bunuh diri saja..” tangis Linda.

“Keponakan anda sudah sadar..” sahut sebuah suara. Harrel menoleh. Dilihatnya Bima tertatih berjalan pincang mendekatinya. Nafasnya terengah-engah kelelahan. Sepertinya efek setruman listrik itu masih dirasakannya namun karena tubuh Bima lebih kuat, Bima bisa segera pulih.

Bima lalu menyodorkan ponselnya dan memasang pengeras suara sehingga ketiganya bisa mendengar suara Imel yang terisak.

“Ma.. maafin Imel.. Imel janji bakal temenin mama.. mama jangan nekad ya? Imel udah enggak punya siapa-siapa lagi selain Mama, Kak Ivan sama Nenek. Kak Ivan udah sadar ma.. Kak Ivan enggak nyalahin mama… Kak Ivan udah maafin Mama…”

Mendengar Ivan yang sudah sadarkan diri, Harrelpun tak bisa membendung tangis kelegaannya. Suara anak gadisnya membuat Linda luluh. Perlahan dia turun dari atas dinding pembatas atap gedung dan bersimpuh sambil menangis tersedu-sedu. Harrel menangis lega melihat Linda tak jadi melanjutkan kenekadannya melompat dari atap gedung. Bima lalu menghampiri Linda dan memapahnya berdiri. Tak lama beberapa personel polisi tiba di atas atap. Bima memberi kode pada mereka agar membawa Linda. Dirinya yang masih kepayahan bersandar di dinding dan menoleh ke arah Harrel. Harrel tersenyum pada Bima dan Bima membalas senyumnya.

Harrel kemudian turun kembali menuju kamar. Dilihatnya Bhayu yang masih pucat dan menggigil sudah duduk di atas sofa dan sudah diselimuti. Harrel menghampirinya dan memeluknya lega. Bhayu membalas pelukan Harrel dan keduanya berciuman, tak memedulikan perbuatan mereka bisa dilihat oleh petugas polisi yang sedang berada di luar.

***

Seminggu kemudian kondisi Ivan berangsur membaik. Kasus Linda diteruskan oleh pihak kepolisian. Karena Bhayu dan Ivan memaafkan Linda, walau proses hukum terus berjalan, tampaknya kemungkinan bisa membuat hukuman inda dikurangi. Keluarga Harrel lega melihat anak itu bebas. Untungnya Bima menjelaskan kepada media dengan menutupi bagian di mana Herlan pernah melecehkan Bhayu sehingga kasusnya menjadi terkonsentrasi pada masalah pemukulan Ivan dan penculikan Bhayu. Linda pun tak ingin nama baik suaminya tercemar dan memilih ikut bungkam mengenai masalah tersebut.

Harrel dan Bhayu kembali berbaikan dan melanjutkan hubungan mereka. Hari itu keduanya sedangΒ  berada di lift rumah sakit hendak menjenguk Ivan.

“Soal elo di terima di kampus itu.. gue ngerti Rel. Lo harus ambil beasiswa itu demi masa depan elo. Dan gue.. gue janji bakal dukung elo sepenuhnya,” janji Bhayu.

Harrel tersenyum senang. “Makasih Bhay.. gue juga putusin bahwa gue harus kejar impian gue sendiri. Tapi gue juga pengen tetap sama-sama elo dan saling dukung.”

Bhayu mengangguk dan merangkul pundak Harrel. Mereka lalu keluar lift dengan riang menuju kamar Ivan. Rupanya Ivan sedang menolak disuapi oleh Imel yang memaksanya menelan makanan dengan suapan besar.

“Udah Mel.. kebanyakan tuh sendokinnya.. ntar Kakak tambah gendut..” protes Ivan. Kepalanya masih terbalut perban.

“Ayo kak.. satu suap lagi. Biar cepet sembuh…” paksa Imel.

Keduanya menoleh ketika Harrel dan Bhayu muncul di pintu sambil membawa jinjingan buah.

“Eh, kalian.. ayo masuk..” ajak Imel.

“Gimana keadaannya kak? udah baikan?” tanya Harrel.

“Udah gak sabar pengen keluar dari sini, Rel,” kekeh Ivan.

“Nah, makanya Kak.. makan yang banyak,” paksa Imel lagi.

Ivan menggeleng sambil cemberut. Tapi akhirnya dia tak kuasa menolak ketika Imel menyorongkan sendok berisi nasi ke dekat mulutnya.

Bhayu dan Harrel menyaksikan itu sambil tersenyum geli.

“Makasih Bhay.. kalau kamu enggak datang malam itu, mungkin saya enggak bakalan sadar..” kata Ivan.

“Kakak denger omongan saya?” tanya Bhayu takjub.

Ivan mengangguk sambil tersenyum. “Saya seperti ada yang memanggil-manggil ketika kamu bilang kalau kamu sayang sekali sama Harrel..”

Wajah Bhayu bersemu merah dan kepalanya tertunduk. Harrel menatap penuh sayang pada Bhayu.

“Nah, supaya saya enggak ganggu hubungan kalian, setelah saya sembuh, saya akan konsentrasi buat jaga Imel dan urus kasus Tante Linda. Kalian bisa ngerti, kan?” tanya Ivan.

Harrel mengangguk sedih. Dia sebenarnya suka bersahabat dengan Ivan yang baik dan dewasa. Tapi dia mengerti bahwa urusan yang ditanggungnya sangat banyak dan sudah menantinya.

“Kabarin kita kalau Kak Ivan mau kumpul-kumpul lagi, ya?” tanya Bhayu.

“Pasti Bhay.. Rel.. pasti. Setelah semua masalah ini selesai, saya juga ingin berteman dengan kalian seterusnya,” kata Ivan lagi.

Imel menatap ketiganya sambil tersenyum. Air matanya mulai menitik.

Setelah dari rumah sakit, Bhayu mengantar Harrel ke rumahnya. Di depan pintu rumahnya, Harrel melihat Bima dan Tika istrinya sedang berdiri di depan rumahnya melepas Findra yang pergi menggunakan taksi.

“Salam sama bapak, kabarin kalau sudah sampe..” pesan Tika.

“Iya Mbak,” kata Findra sambil melambaikan tangannya.

Bhayu dan Harrel melihat adegan itu dan mengangguk pada pasangan suami istri itu. Walau semua masalah sudah jelas, rupanya ketegangan masih ada di antara keluarga Harrel dan Bima. Ayah dan ibu Harrel masih tak terima Bima pernah menangkap anaknya. Harrel hanya bisa berharap bahwa hubungan bertetangga mereka bisa seakrab sedia kala. Bima membalas dengan anggukan pada mereka berdua sambil tersenyum sekilas mengawasi mereka masuk.

“Aku masuk dulu, ya Mas..” ujar Tika pelan sambil mengusap punggung suaminya.

Bima mengangguk. Dia masih ingin berdiri di depan rumahnya. Menghela nafas, dirinya Berpikir tentang seluruh kejadian yang dialaminya dan oleh keluarga tetangganya. Dia tersenyum nyaris tertawa ketika membayangkan kembali bahwa selama peristiwa itu berlangsung, dia bisa berkesempatan mencicipi tubuh-tubuh remaja tetangannya tersebut: Nico dan Harrel.

Ketika Bima hendak masuk, tiba-tiba dia dikejutkan oleh suara anak kecil.

“Om polisi.. om polisi..” panggil seorang bocah berumur sekitar enam tahun.

Bima menoleh ke bawah. “Iya, dek? kenapa?” tanyanya.

“Ada yang suruh adek kasih ini buat om..” katanya sambil menyerahkan sebuah amplop pada Bima.

Bima menerima amplop itu dengan heran. “Buat om? siapa yang kasih dek?” tanya Bima.

Anak kecil itu mengangkat bahu lalu segera berlari dari depan Bima dan menghilang bersama teman-temannya yang lain.

Bima lalu membuka amplop lebar berwarna cokelat itu dan mengeluarkan isinya. Nafasnya terasa berhenti ketika dia melihat sesuatu di dalamnya. Dia lalu menggulung amplop itu dan berlari menyusul anak kecil tadi dan mencari tahu siapa orang yang menyuruhnya memberikan amplop itu. Saat dilihatnya tak ada siapapun di jalanan komplek perumahannya, Bima langsung mengumpat. “Brengsek!”

Kemudian Bima mengeluarkan isi amplop itu kembali. Dia meneguk ludah ketika dilihatnya kembali beberapa foto yang ada di dalamnya. Foto yang mengambil adegannya sedang membuka pakaian dan berciuman dengan Findra di kamar hotel saat dia menjemputnya. Siapapun pelakunya, orang itu sudah memasang kamera di kamar hotel tempat Findra menginap dan merekam kejadian itu. Bima lalu membalik foto itu dan terkejut melihat catatan yang ditulis dengan spidol pada salah satu fotonya.

“Sabar saja. Saya hubungi lagi nanti.” tulisnya.

Bima meremas kertas itu sambil menghela nafas marah. Dia masih berdiri di jalan tak tahu harus berbuat apa.

-TAMAT-

Advertisements
Comments
  1. 1 says:

    Pertama lgy

  2. arif says:

    “Bima kemudian pergi dan berpesan pada
    petugas polisi yang menjaga Bhayu.”

    ivan bang bukan bhayu.

  3. arif says:

    omg mas bima..
    sukurin..
    gatel sih.. πŸ˜€

  4. blackshappire says:

    hayo sapa yg kirim fto bima ma findra….
    ehmm juna mungkin, ato ivan, ato papanya harrel?
    makin ngaco nih

    but thanks ya bang rem uda ditamatin
    ❀

  5. Lorenzo Alfredo says:

    Kok aku ngerasa feel di cerita ini jadi kurang dapet yah???aku gk tau knp tapi kayaknya bang Remy lagi capek trus jenuh gmn gitu.Tetap semangat ya bang Remy πŸ™‚

  6. maree says:

    Binix neh pasti

  7. Tsu no YanYan says:

    Hahaha mas Bima… Siapa tuh yang ngirim, Findra kali ya, biar jera mas Bimanya wkwkwk

    Akhirnya balikan lagi Bhayu-Harrel πŸ™‚

  8. kenji says:

    sepertinya abang menjawab komentar readernya melalui ceritanya hihihi…

    semoga ada cerita baru lagi..

  9. Zha nugraha says:

    Hmmm… Tamat jg thx’s bang remy berkarya terus yo!

  10. Calvin Tham says:

    Akhirnya Bhayu dan Harrel menikah di Belanda. Bima yang semakin ketagihan ngentotin brondong akhirnya menceraikan istrinya dan meninggalkan pekerjaannya krn kasus foto dengan Findra dan menjadi model porno untuk menyambung hidupnya dan hidup bersama dengan Findra dan Nico. Ivan menjadi sahabat dekat Bhayu dan Harrel untuk segala urusan termasuk memberikan variasi di ranjang. Sesekali Bima juga datang dalam kehidupan rumah tangga mereka untuk mengentoti Bhayu dan Harrel. Dan saat Bima menginap di rumah Bhayu dan Harrel dia meminta Ivan untuk menjaga dan memuaskan kedua istrinya : Findra dan Nico.

  11. MT says:

    Ciyeh, tau kok bang remy pasti yang foto bima ciuman sama findra.. hahahaa..

  12. Andriyani says:

    Akhirnya update juga…

  13. Anonim aja says:

    Waaah, punya sekuel lagi nih dri cerita ini πŸ˜€

  14. Gagah Perwira Amar says:

    Yah gak pertamax, soalnya ketiduran semalam…

    Btw, koq endingnya gini sih, di ending malah muncul masalah baru, bikin tergantung Bang Remy, ntar tak laporin Papaku, hehehehe

  15. SaepulR says:

    Ending nya gantung lg.. pasti ada season III nya.. gk sbr..

  16. eka dwi pratama says:

    Okey aku koment dulu nie, kemungkinan yg foto adalah nico, soalnya.tuh anak kan ganjen and serng buntutin bima terobsesi bged gtu, hehehe maaf bang remy aku benci aja ma anak yg kyak gtu kegatelan + ganjen.

  17. Ray says:

    Makasih Mamang Emy, as always ceritanya mantap
    Keren, ada twist yang mengejutkan di ujung cerita. Mampus tuh si Mas Bimbim, sekarang giliran dia yang kena blackmail. Mamam noh, abisnya nakal sih, hehe πŸ˜€

    Ditunggu season berikutnya Mang, mangat mangat!

  18. ^matoki^ says:

    Haduh deg-degan bacanya.. Takut ada tokohnya yg mati.. Tp syukurlah ternyata tdk ada ehehe

    endingnya bikin penasaran ihh.. Apa aku harus nunggu tahun depan lgi biar bisa baca kelanjutan crita ini bang? Ehehe

    Semangat yaa bang! Ditunggu kelanjutan critanya! ^^

  19. beenimnida says:

    Good lord it’s done! Puasss beut waktu baca akhirnya: rasain lu, Bim! Menyelidiki kejahatan kok pake kejahatan. Perkosaan itu, namanya, apa yang dia lakukan pada Harrel!

    Tapi Harrelnya juga ih, gatel… *manyun*.

  20. Steven says:

    kapan lanjutan nya?

  21. Sagara says:

    Ceritanya bagus..membuat gw terhanyut didalamnya…gak sangka juga BIMA dan FINDRA bisa masuk ke dalam cerita ini…sukses terus gan….dtunggu karya2 selanjutnya……#Biseks

  22. Dufei Dejavu Dua says:

    Spin Off baru ΒΏΒΏΒΏΒΏ

  23. tapalsite says:

    Abang.. Ajarin nulis ya πŸ’. Tulisan Babang wonderful kabeh. Assik pisan kalo buka blog abang ni.

  24. deni says:

    Baru tau trnyata cerita bang remi ini saling berkaitan ya sama cerita yg lain e

  25. Edd says:

    Saya ngebayangin yg jadi Bhayu itu Rizky Nazar, coba search aja..wajahnya cocok jd pemain basket galak hihi
    Semangat buat penulis nya πŸ˜€

  26. Gusti S.M says:

    Yahh, endingnya kurang dapat
    Kurangnya pada bagian bhayu sama harrel
    *buat kisah lagi tentang mereka berdua dong πŸ˜€

  27. Gusti S.M says:

    Buat Cerita Tentang Kedua Tokoh Tersebuat Yaa πŸ™‚ πŸ˜€
    Bhayu & Harrel, Kelanjutannya Gimana :3 πŸ˜€

  28. Kapan Merilis KARTU MEMORI Season 3 πŸ˜€
    Apakah Hubungan Bhayu & Harrel Akan Menjalani LDR karna Beda kuliah πŸ˜€

  29. ibam zebran says:

    Sebenre cerita awale tu bagus bgt, antusias bgt aku bacanya, tp smakin ke berikutnya kok rada ngga nyambung, tp salutt buat adminnya smga ttp terus bisa mnciptakan karya2 terbaiknya

  30. Monokey says:

    Satu hal yg bikin cerita di sini menarik, sekali baca nagih buat baca lagi. Padahal aku gak hobi baca, jadi mendadak nerd gara2 bang remy πŸ˜₯πŸ”«

  31. Awan-medan says:

    malam abg remy,,
    Really like your stories,,, salah satunya seri kartu memori, batu tau ttg blog ini setelh baca2 cerita lo di BF,, really enjoy reading ur writing,, terus berkaya,,,, cara penulisan dan penggunaan bahasa mu bagus bingit dan enak dibaca…. Thanxxxxzzz

  32. Radi Kamiki says:

    Hmmm spertinya gw tau siapa yang meneror mas bima itu…. seperti dirasakan findra pas lagi di gunung sama mas bima, dia mencurigakan si bapak2 yang menjaga warung dan kamar di sana. Saat mengantarkan pesanan mereka dan saat mas bima menanyakan kamar kosong. Hmmm gw baru baca soalnya ceritanya… lumayan bikin terharu juga…. walaupun sempet ada komedi nya. Tapi tetep aja ada rasa romantis nya…. dan mendalami sekali rasa itu….

  33. ardiana says:

    lanjut dong ceritanya MISAL ivan kembali menghubungi harrel dan … . . . ..? agggghh

  34. fujodanshi says:

    aku sih nyangka nya, yang neror mas bima itu findra. findra sengaja ngerekam dia sama mas bima yg lagi have sex, buat balas dendam. soalnya dia marah dan jealous sama mas bima yang udah sex sama nico. so dia kirim foto itu ke mas bima deh. biar si findra bisa manfaatin foto-foto itu buat keinginannya si findra. bener ga hipotesa aku bang remy ? please reply

  35. coc111094 says:

    Ini Gayfiction yg pertama ane baca, keren, nunggu season 3ny min :3 btw Harel itu hebat yakk smua ke jaring :v kl Season 3ny LDR meragukan ni ke setiaanny :/

  36. heru says:

    Kak remy cerita kartu memory 3 nya buat endingnya niko sma ivan aja… Cerita sma mas bima dikit aja terlalu bosan kalu harus kebanyakan mas bima nya

  37. heru says:

    Kak remy cerita kartu memori 3 nya bikin endingya nico sma ivan aja.. Cerita sma mas bima nya dibuat dikit aja… Bosan kalu ceritanya sma mas bima terus

  38. yur fenz says:

    aku tau yg neror nico.. ya kan bang?
    bang remi lanjutin stori abot NICO yah, plis..
    .
    bat eniwey aQ suka bgt sama tulisan2 bang remi pake bgt, bahasa.y indah n mudah dimengerti ga bikin aku bingung.
    n 1 lg, minta pin bbm bang rem dong?? * aQ pun mengatupkan kedua tangan sambil berjongkok memohon dg menatap bang remi dg tatapan popi eyes*

  39. Rozak says:

    Gk kerasa… Udah 2 kli baca tetep terbelalak , kaget , senyum sndri & ngakak sndiri ampek di kira orang gila di tempat kerja.

  40. Samy says:

    Mas bima jadi tukang icip brondong. Dah gak kagum lagi sama sosok bima…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s