KARTU MEMORI – Season II – Bagian 11 A (TAMAT)

Posted: March 15, 2015 in Kartu Memory - The Series I
Tags: , ,

Kartu_M_11ABy: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

TAMAT (BAGIAN A)
MENGETAHUI bahwa Ivan dapat menggerakkan jari tangannya, Imel dan Bhayu langsung keluar dari kamar dan berusaha memanggil perawat. Polisi penjaga yang berada di luar bersama nenek Imel terkejut melihat Bhayu yang ikut keluar.

“Hei! Kamu siapa? saya cuma kasih izin anak perempuan ini masuk!” tegurnya.

“Pak, makasih udah izinin saya masuk demi nenek saya, tapi Kak Ivan.. barusan bisa gerakin tangannya! bisa lupain dulu sebentar urusan teman saya ini dan panggil perawat atau dokter?” cerocos Imel.

Sejenak petugas polisi itu agak bingung antara harus memarahi Bhayu ataukah segera memanggil petugas medis. Kemudian dia sadar bahwa kondisi Ivan lebih penting. Dia lalu berjalan menuju ranjang Ivan dan menekan tombol pemanggil yang ternyata tak jauh dari ranjang.

Tak lama seorang dokter ditemani perawat datang ke kamar Ivan. Imel dan neneknya menjauh dari ranjang diikuti oleh Bhayu. Sayangnya, harapan mereka bahwa Ivan akan segera tersadar rupanya harus pupus. Dokter mengatakan bahwa kondisi Ivan sudah lebih stabil namun belum mengetahui mengapa Ivan belum juga terbangun. Dokter bernjanji akan memantau kondisi Ivan lebih lanjut.

Beberapa lama kemudian, rupanya Bima muncul. Dia lalu memarahi petugas polisi yang sampai kecolongan tidak mengetahui Bhayu bisa menyelinap dan membiarkan Imel masuk.

“Maaf, pak! saya tadi sibuk dengan Ibu Linda yang memaksa ingin masuk!” kata petugas polisi itu beragumen.

“Malam Nak.. tadi Ibu memang meminta pak polisi ini buat izinin Imel masuk… Ibu minta maaf, tolong jangan salahin pak polisi baik ini..” bela Nenek.

Bima menarik nafas gusar. Dia rupanya lemah pada wanita tua seperti neneknya Imel. Diapun mengangguk setuju walau kurang ikhlas. Bima lalu bertanya kembali pada petugas polisi itu. “Apa yang kamu lihat dari gelagat Linda?”

“Ng.. sepertinya dia sangat penasaran bertemu dengan keponakannya, pak. Tapi… saya merasa bukan seperti orang yang khawatir pada kondisi korban. Agak mencurigakan sepertinya,” jawab polisi itu.

“Kamu yakin?” tanya Bima memastikan.

“Yakin, pak,” jawab petugas polisi itu.

Tiba-tiba Bima melirik pada Bhayu. Bhayu yang dari tadi berusaha menjauhi dari Bima akhirnya tak bisa mengelak ketika Bima dengan gemas menghampirinya dan menarik jaketnya.

“Kamu lagi! sudah saya bilang jauh-jauh kamu dari masalah ini atau saya tahan!” hardik Bima.

Bima mendorong Bhayu dengan tak sabar hingga keluar kamar. Imel tak bisa berbuat apa-apa untuk mencegah Bima mengusir Bhayu karena dia sendiri agak ngeri melihat kekasaran Bima.

Setelah itu Bima kembali ke kamar sambil menatap Bhayu dengan ancaman. Imel keluar dari kamar Ivan dan menghampiri Bhayu yang hendak pergi menuju lift.

“Bhay! polisi tadi kenapa, sih?” tanya Imel.

Bhayu berbalik dan menatap Imel. “Dia.. dia curiga kalo gue juga terlibat sama peristiwa pemukulan Kak Ivan,” kata Bhayu.

“Masa? terus?” tanya Imel lagi.

“Yah.. gue enggak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang selain berharap Kak Ivan bener-bener sadar dan cerita semuanya yang jelas supaya Harrel lepas dari tuduhan,” jawab Bhayu.

“Ng.. Oke. Gue akan kabarin terus perkembangan Kak Ivan ke elo, Bhay. Elo enggak usah khawatir. Mending sekarang elo jagain Harrel dan kasih semangat buat dia,” ujar Imel tulus.

Bhayu tersenyum dan memeluk Imel. “Makasih ya, Mel. Elo juga yang tabah, ya?”

Imel mengusap punggung Bhayu dan mengangguk. Keduanya lalu berpisah. Bhayu mempercepat langkahnya menuju lift. Saat dia masuk dan menekan tombol lantai basement parkir, tiba-tiba seseorang menahan pintu lift yang hendak tertutup.

“Oh, maaf..” kata Bhayu sambil menekan tombol buka agar orang tersebut masuk.

Betapa terkejutnya Bhayu ketika dia menyadari orang yang baru saja masuk mengikutinya ke dalam lift adalah Linda.

“Halo, nak Bhayu. Apa kabar?” tanya Linda sambil tersenyum.

“Eh.. Tante.. ba.. baik tante,” jawab Bhayu gelagapan.

“Ah… tante jarang lihat kamu lagi sejak putus sama Imel. Padahal dulu kamu sering mampir buat antar jemput,” gumam Linda.

Bhayu yang masih gugup berusaha tersenyum. Terus terang dia merasa agak takut melihat Linda malam itu. Bukan hanya perasaan bersalah karena mengetahui penyebab kematian suaminya saja, tapi karena dia merasa Linda juga bisa saja pelaku pemukulan terhadap Ivan. Toh peristiwa itu terjadi di rumahnya.

“Iya Tante. Maaf… saya permisi dulu,” kata Bhayu ketika akhirnya pintu lift terbuka di parkiran.

“Saya mau minta penjelasan, sebenarnya…” gumam Linda sambil menahan lengan Bhayu.

“Penjelasan? penjelasan apa, tante?” tanya Bhayu.

“Kamu bisa ikut saya sekarang?” Linda bertanya balik.

“Sudah lewat tengah malam, tante. Saya harus pulang. Bisa besok saja?” tawar Bhayu.

“Saya mau sekarang.” ucap Linda dingin. Tangannya yang satu yang sedari tadi tersembunyi di balik tasnya ternyata sudah menggenggam pistol dan mengarahkannya pada Bhayu.

“Tante! apa-apaan? jangan bercanda!” kata Bhayu memperingatkan. Bhayu mundur menjauhi lift sementara Linda maju mendekatinya. Parkiran bawah tanah yang remang-remang itu dalam keadaan sepi.

“Suami saya sudah meninggal. Anak saya satu-satunya membenci saya. Bisnis peninggalan suami saya diambang kehancuran. Dan semua orang sepakat berbohong pada saya. Kamu pikir saya enggak akan nekad?” ancam Linda.

Bhayu menelan ludah.

“Ikut saya ke mobil,” perintah Linda.

Bhayu terpaksa menuruti keinginan Linda.

“Serahin handphone kamu,” pinta Linda sambil mengacungkan pistolnya lagi.

“Tante… semuanya bisa dibicarakan,” kata Bhayu.

“Handphone…” ujar Linda lagi tak sabar.

Bhayu menyerahkan ponselnya pada Linda. Linda lalu mencabut baterainya dan membuang kartu simnya. Bhayu tak bisa berbuat apa-apa melihat kelakuan Linda.

“Masuk!” perintah Linda lagi. Keduanya lalu masuk ke dalam mobil. Sebelum Linda menyalakan mesinnya, dia kembali mengajak Bhayu berbicara.

“Awalnya, saya juga heran mengapa polisi menemukan foto anak muda telanjang di samping mobil suami saya. Saat Ivan cerita keterlibatan kalian dalam kematian suami saya…” Linda tidak meneruskan kalimatnya.

“Lalu Ivan cerita mengenai suami saya yang ngancam kamu, ngelecehin kamu, sampai-sampai kalian harus melancarkan aksi balasan agar suami saya berhenti..”

“Itu benar, Tante! semuanya benar! foto itu foto saya. Om Herlan yang diam-diam ambil lewat video call waktu dia pura-pura jadi Imel!” cerocos Bhayu.

“Diam kamu! diam! saya enggak percaya suami saya seperti itu! itu pasti ulah kalian yang memerasnya, kan?” teriak Linda.

“Tante.. saya cerita sebenernya Tante.. Kalau bukan karena pertolongan Harrel, saya pasti sudah diperkosa Om Herlan…”

Linda langsung menampar pipi Bhayu. “Jangan ngomong sembarangan soal suami saya..” kata Linda. Giginya gemeretak menahan amarah.

“Tolong tante.. kita selesaikan semuanya secara kekeluargaan. Kasihan Imel.. kasihan Kak Ivan.. Harrel.. jangan buat semua ini tambah rumit..” pinta Bhayu.

Linda masih menatap Bhayu galak. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Benda kotak segenggaman tangan itu mengeluarkan bunyi dengungan pelan saat Linda menekan sebuah tombol.

“Maaf Bhay, tapi saya akan selesaikan dengan cara saya sendiri..” gumam Linda.

“Tante mau apa? benda apa itu?” tanya Bhayu khawatir.

Linda tak menjawab. Bhayu yang bergidik ngeri tak bisa mengelak saat Linda menempelkan ujung benda itu pada lengannya dan membuat tubuh pemuda itu terlonjak hebat beberapa saat seperti terkena sengatan listrik sampai akhirnya terdiam tak sadarkan diri.

****

Paginya Bima kembali ke kantor polisi. Dia lalu melanjutkan jurus interogasi pada Harrel. Awalnya Bima tak ingin menunjukkan cetakan foto-foto yang berasal dari kartu memori kamera saku Harrel yang diambilnya diam-diam dari kamarnya. Tapi pagi ini dia memutuskan untuk blak-blakan di depan Harrel.

“Sudah mandi dan sarapan?” tanya Bima ketika dia masuk ke kamar tahanan Harrel.

Harrel mengangguk lemah.

“Nah, kalau kamu sudah kenyang, mungkin kamu bisa ingat soal foto-foto ini..” kata Bima sambil menarik kursi dan duduk di hadapan Harrel.

Bima menjejerkan tiga buah foto di mana terlihat jelas Harrel berada di ranjang bersama Herlan yang tampak gusar karena difoto.

Harrel membelalak kaget. “Dari mana mas bisa dapat foto-foto ini?”

“Jadi kamu mengakui kalau foto-foto ini punya kamu? denger ya! saya sudah bosan sama masalah ini. Lebih baik kamu cerita yang sebenernya. Semuanya. Paham?!” kata Bima sambil menggebrak meja.

Harrel tidak bereaksi. Dia kembali diam dan menunduk.

Bima menjadi gusar. Dia lalu bangkit dari duduknya dan menarik Harrel hingga wajahnya sangat dekat dengan wajah Bima.

“Entah apa yang kalian lakukan. Menggunakan seks menjebak korban-korban kalian seperti Herlan kan? saya tahu kamu sama Bhayu itu berpacaran sudah sejak lama. Modus kalian pasti menjebak orang-orang itu dan memerasnya kan?” ujar Bima sambil menatap wajah Harrel yang ketakutan.

“Enggak mas..” bela Harrel.

“Saya penasaran.. apa yang Herlan lihat dari kalian… sampai-sampai mereka terbuai sama pesona kalian..” kata Bima. Dia mulai mengendus-endus leher Harrel sementara Harrel berusaha menolak dan menjauhi Bima namun tak kuasa karena cengkeraman lengan Bima begitu kuat.

“Mas.. jangan…” tolak Harrel.

“Ayolah.. saya juga tahu kamu diam-diam suka perhatiin saya. Pasti bocah homo kayak kalian berdua itu suka berkhayal bisa ngentot sama saya kan? hah?” kata Bima kurang ajar.

Harrel langsung menampar Bima. Bima yang kesal mendorong Harrel ke ranjang.

“Aargghh..” Harrel memekik kesakitan ketika Bima membalik badannya hingga tertelungkup di ranjang sambil memelintir lengannya pada punggung.

“Jangan bergerak! ” perintah Bima. Dia lalu dengan cepat melepas jaket dan kemejanya. Bima lalu menarik kaus Harrel hingga pemuda itu bertelanjang dada dan kembali memelintir lengannya di belakang.

Bima menahan pinggang Harrel dengan menekannya ke ranjang. Dia mencondongkan badannya ke depan dan menindih tubuh Harrel hingga remaja itu semakin tak berkutik.

Harrel memekik kesakitan ketika Bima dengan kasar menarik rambutnya dan mulai bernafsu menciumi punggungnya. “Kamu maunya dipaksa dulu ya?” geram Bima.

“Ngg..” Harrel mengerang ketika Bima menarik rambutnya ke samping dan mulai menciumi lehernya. Harrel merasakan otot dada dan puting Bima yang keras menekan punggungnya. Tangan Bima yang satunya dengan cekatan melepas celana training Harrel dan menariknya hingga kedua belah pantatnya terekspos.

“Mas.. akh.. jangan..” protes Harrel lagi.

Bima tak menggubris keberatan Harrel. Dia lalu membuka pengait celana jeansnya dan mengerluarkan penisnya sambil terus menahan tubuh Harrel agar tetap telungkup di atas ranjang.

Bima meludah beberapa kali pada tangannya memastikan batang penisnya yang sudah keras itu cukup terlubrikasi. Kedua tangannya meremas pantat Harrel dan membukanya lebar-lebar sebelum Bima kemudian tanpa ragu menusukkan penisnya pada lubang anus Harrel yang belum siap.

Harrel memekik keras. “Ya.. teriak saja. Tak akan ada yang lewat di depan kamar ini sampai nanti siang…” geram Bima.

Tanpa menunggu kesiapan Harrel, Bima dengan bernafsu mulai menggoyang pinggulnya hingga penisnya semakin melesak masuk ke dalam anus Harrel.

Harrel menggeliat, memekik, sambil menahan perih. Tangannya meremas sprei. Melihat Harrel meronta. Bima mencengkeram pundak Harrel dan menahan tubuhnya. Sementara itu lengan satunya menahan pinggang Harrel. Sebenarnya Harrel juga pernah berkhayal bisa bercinta dengan Bima. Tapi tidak begini caranya.

“Ampun mas.. saya.. mau cerita semuanya.. saya mau ngaku… tolong mas.. berhenti..” pinta Harrel tak tahan. Dia mulai mengeluarkan air mata.

Bima akhirnya menghentikan perbuatannya. Dia mencabut kembali penisnya sambil mendengus. Bima bangkit meninggalkan Harrel yang setengah telanjang telungkup dan terengah-engah menahan sakit di atas ranjang. Di toilet Bima membersihkan penisnya dan kembali memakai pakaiannya. Harrel memungut kausnya dan perlahan mengenakannya kembali. Wajahnya masih memerah dan berkeringat. Rambutnya acak-acakan.

“Nah. Coba ceritakan semuanya.” ujar Bima dingin.

Sesaat Harrel menatap Bima. Akhirnya dia ceritakan semua. Bagaimana Herlan menjebak Bhayu dan mencabulinya. Kemudian Harrel membantu Bhayu untuk menghentikan pemerasan yang dilakukan Herlan.

“Awalnya.. kami pikir ancaman itu sudah cukup bikin Om Herlan kapok. Semua urusan ini enggak akan sampai ke pihak berwajib, atau guru dan orang tua. Enggak akan ada yang dipermalukan. Tapi rupanya Om Herlan malah bunuh diri di depan sekolah…” kata Harrel.

Bima mendengarkan dengan seksama seluruh cerita Harrel.

“Kak Ivan juga awalnya begitu. Dia disuruh tante Linda buat nyelidikin kematian Om Herlan. Kemudian saya mengaku ke dia. Cerita semuanya. Kak Ivan bilang dia akan jelasin semua ke tante Linda. Jadi mana mungkin saya yang pukul Kak Ivan kan, mas? buat apa?” lanjut Harrel.

Bima menghela nafas. Walau apa yang diceritakan Harrel itu seperti kisah dalam film, tapi Bima tak bisa merasakan kebohongan pada ceritanya. Semuanya terjalin dalam satu benang merah yang sama dan tampak masuk akal. Memang aneh bila Harrel berniat mencelakakan Ivan sementara dirinyalah yang bisa menjelaskan pada Linda keadaan sebenarnya.

“Tapi kamu ditemukan dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Saya belum tahu siapa pelakunya. Harapan terbesar supaya kasus ini selesai adalah kesembuhan Ivan..” kata Bima sambil bangkit dari duduknya.

“Jadi Mas Bima percaya saya?” tanya Harrel.

“Kita lihat saja apa yang bisa saya bantu buat keluarin kamu dari sini. Tapi selama pelakunya belum tertangkap, Ivan masih dalam bahaya,” jawab Bima.

“Makasih Mas..” ucap Harrel lega.

Saat Bima beranjak pergi, Harrel memanggilnya.

“Mas…”

“Ya?” tanya Bima.

“Soal itu beneran mas..”

“Soal apa?”

“Kalau saya emang pernah berkhayal ML sama Mas Bima..” goda Harrel.

“Beneran? dasar nakal kamu..” kata Bima sambil terkekeh.

“Kalau soal tadi beneran gak mas?” tanya Harrel lagi.

“Yang mana lagi?”

“Beneran enggak bakal ada yang lewat depan kamar sampai siang?” tanya Harrel penuh arti.

Bima kemudian tersenyum. Dia menghampiri Harrel dan mengangkat tubuhnya. Diciumnya pemuda itu penuh nafsu. Bukan nafsu kemarahan seperti tadi. Tapi nafsu ingin melampiaskan syahwatnya pada Harrel.

Bima lalu melepas pakaiannya. Dibimbingnya kembali Harrel ke atas ranjang. Harrel melepas kembali kaus dan celana trainingnya dan berbaring di ranjang. Kali ini dia akan bermain pasrah. Pasrah apa yang akan dilakukan Bima padanya. Itu sebabnya Harrel hanya berpegangan dengan kedua telapak tangannya pada besi ranjang di atas kepalanya. Sementara itu Bima kembali mencumbunya. Harrel menggeliat. Kali ini tanpa perlawanan. Dia biarkan Bima melumat bibirnya, menciumi lehernya dan menindihinya. Harrel mendesah ketika sekali lagi dia bisa merasakan liatnya otot-otot tubuh polisi itu menekan tubuhnya.

Harrel menggelinjang saat dada Bima menekan dadanya. Harrel lalu membuka pahanya lebar-lebar seolah mengizinkan kembali penis Bima untuk menjelajah masuk ke dalam anusnya. Bima kembali melubrikasi batang penisnya dengan saliva. Perlahan kembali dia tusukkan penisnya pada anus Harrel. Desahan Harrel semakin mengeras. Dia memejamkan mata menikmati pergeseran penis keras Bima yang melesak masuk semakin dalam hingga otot pada dinding anusnya berkontraksi hebat. Harrel menggunakan kedua tumitnya mendorong pantat Bima agar penisnya masuk semakin dalam. Dijepitnya pinggang Bima dengan kedua belah pahanya.

Harrel mengerang semakin kencang. Bima menggeram sambil terus mendekap tubuh Harrel dan menciumi tubuhnya. Harrel terus membimbing Bima agar sampai di puncak kenikmatan. Digoyangnya tubuhnya agar Bima makin leluasa meggerakan pinggulnya semakin cepat. Ketika keduanya hampir sampai di puncak orgasme, gerakan Bima semakin cepat. Harrel memeluk Bima seperti bayi dan mencium bibirnya ketika Bima menyemburkan isi buah zakarnya pada anus Harrel. Harrel mendesah panjang ketika dia juga menyemprotkan spermanya dan membasahi perut Bima dan perutnya. Keduanya terengah-engah dan menjatuhkan diri di atas ranjang.

***

“Mbak.. bukannya ini kasus yang ditanganin sama Mas Bima ya?” tanya Findra dari depan televisi ketika dirinya sedang menonton berita. Saat itu sedang diberitakan sebuah kasus pemukulan yang terjadi di lingkungan perumahan elit kota mereka.

“Iya. Itu yang ditangkap si Harrel. Tetangga sebelah..” kata Tika istri Bima saat dia muncul dari kamar dan ikut menonton berita bersama Findra.

Keduanya mendengarkan kronologis kejadian yang disampaikan di televisi. Saat layar televisi menampilkan wajah Linda sebagai keluarga korban sekaligus pemilik rumah, tiba-tiba Findra merasa mengenalinya.

“Itu..” kata Findra.

“Kenapa, Fin? kamu kenal?” tanya Tika.

“Eh, enggak mbak.. enggak..” ralat Findra. Tapi mau tak mau otaknya kembali mengingat kejadian itu. Tak salah lagi. Pemukiman elit yang disebutkan oleh pembawa berita adalah perumahan yang dia datangi saat membuntuti Bima dengan motor.

Wanita yang bernama Linda itu, Findra yakin adalah wanita yang dilihatnya keluar dari mini market dan membuang sesuatu di tempat sampah. Perasaan Findra menjadi tak enak. Dia lalu menjauh dari televisi dan menelepon Bima.

“Halo, Mas?” sapa Findra.

“Ya, Fin? ada apa?” tanya Bima di ujung sana.

“Mas.. mau tanya.. kasus yang mas tanganin itu.. apa pelakunya sudah ketemu?”

“Kita masih minta keterangan Harrel tetangga kita. Sementara dia masih tersangka utama sampai korban sembuh. Sulit juga soalnya senjata buat mukulnya belum ketemu.”

Nah! itu dia! Pikir Findra.

“Mas… kayaknya saya tahu senjatanya ada di mana..”

“Yang bener kamu Fin! jangan mengada-ada.”

“Beneran Mas! Kalau mas Bima mau tahu, saya bisa tunjukkin,” kata Findra.

“Oke. Mas pulang sekarang. Kita ke tempat yang kamu bilang sama-sama.”

Limabelas menit kemudian Bima datang dengan motornya dan menjemput Findra. Findra menjelaskan bagaimana dia cemburu dan membuntuti Bima hingga ke perumahan tempat Linda tinggal.

“Kamu yakin perempuan yang kamu lihat itu Linda?” tanya Bima saat mereka mengendarai motor.

“Yakin, mas. Cantiknya sama. Dia kayak abis nangis gitu pas lempar sesuatu di bak sampah.”

“Bak sampah ini?” tanya Bima.

Findra mengangguk. Saat itu ada sebuah truk pengangkut sampah hendak mengeruk isinya untuk dibawa.

“Tahan sebentar! Polisi!” kata Bima pada dua petugas pengangkut sampah.

“Ada apa pak?” tanya salah satu petugas kebersihan itu.

“Sampah di sini diambil berapa hari sekali?” tanya Bima.

“Tiga hari sekali pak,” jawabnya.

Tiga hari. Berarti kalau yang dikatakan Findra benar, seharusnya benda itu masih ada di tempat ini.

“Oke. Tahan sebentar. Saya mau cari sesuatu,” kata Bima.

“Bisa kami bantu, pak?” tawar kedua petugas kebersihan itu sambil mengangkat garu yang mereka pegang.

“Boleh. Tolong cari benda dari logam seperti pajangan. Berat dan dibungkus koran..” kata Bima.

Kedua petugas kebersihan itu mengangguk. Ketiganya mulai mencari di antara tumpukan sampah. Lima menit kemudian salah satu petugas kebersihan itu berteriak.

“Pak Polisi! kayaknya ketemu nih!”

Bima lalu menghampiri petugas itu dan melihat benda yang ditemukannya. Pajangan perunggu berkilat terbungkus koran yang sudah kotor. Tapi di ujungnya tampak noda merah kehitaman. Ini dia! Bima lalu menoleh pada Findra dan mengangguk senang.

Dibawanya benda itu setelah dibungkus kantung plastik yang diberikan petugas kebersihan tersebut. Bima mengucapkan terima kasih pada mereka.

“Ke kantor polisi sekarang, mas?” tanya Findra.

“Enggak. Kita langsung ke rumah Linda. Dia harus ke kantor polisi buat jelasin semuanya,” kata Bima bersemangat.

Sayangnya, rumah Linda kosong. Bima lalu mencoba meneleponnya namun nomor ponselnya mati. Kemudian dia bertanya pada petugas keamanan yang menjaga cluster perumahannya.

“Ibu Linda? dari semalam belum kembali, pak. Saya tahu karena saya yang jaga dari malam..” katanya.

Bima menghela nafas. Dia lalu berpikir keras. Saatnya kembali ke rumah sakit. Mungkin Linda masih penasaran ingin bertemu keponakannya. Dan itu artinya Ivan dalam bahaya.

***

Setibanya di rumah sakit, Bima langsung memerintahkan agar kamar Ivan dijaga ketat. Jika mereka melihat Linda, petugas itu diinstruksikan agar menahannya.

“Ibu Linda belum datang lagi ke sini sejak semalam pak,” kata polisi penjaga itu.

“Oke. Tapi pastikan pasien terus diawasi. Bagaimana anak perempuannya?” tanya Bima.

“Dia masih ada sama neneknya pak. Semalam menginap di sini.”

Bima mengangguk.

“Pak.. Pak Polisi.. anu..” kata suara seorang gadis memanggil Bima.

“Ya, kenapa dik?” tanya Bima ramah.

“Bapak kenal Bhayu kan? saya coba telepon dia pagi ini nomornya enggak aktif. Lalu saya telepon orangtuanya.. mereka bilang dari malam Bhayu belum pulang..” jelas Imel.

“Belum pulang? kapan terakhir kamu lihat dia?” tanya Bima.

“Semalam pak. Dia bilang mau pulang setelah pamit. Saya janji hubungi dia kalau ada perkembangan dari Kak Ivan.. tapi nomornya enggak aktif…”

Bima mendengus. Masalah apa lagi ini?

“Oke. Kita coba tanya ke tempat parkir dulu di bawah. Siapa tahu mereka ada yang tahu.”

Imel mengangguk.

Bima dan Imel lalu menuju tempat parkir motor di basement dan bertanya pada petugas parkir.

“Parkir motor buat tamu di sebelah sana pak. Memang saat saya aplusan sama temen tadi pagi, ada beberapa motor yang nginep dari malam. Biasanya sih keluarga pasien yang nemenin. Mungkin pak polisi mau lihat?” tawarnya.

Bima mengangguk. Ketiganya menuju tempat parkir motor.

“Kamu inget motor Bhayu?” tanya Bima pada Imel.

Imel mengangguk. “Kalau belum ganti sih saya inget pak. Misalnya enggak adapun saya pasti tanya nomor platnya sama papa mama Bhayu nanti… eh, itu motornya ada pak!”

“Kamu yakin?” tanya Bima sambil mengikuti Imel yang berlari ke arah sebuah motor.

“Yakin pak! Bhayu belum ganti motor. Saya ingat soalnya saya pernah pacaran sama Bhayu pak..” cerocos Imel.

“Kalau begitu, Bhayu pergi enggak bawa motornya,” gumam Bima.

Sadar ada sesuatu yang tak beres, Imel menjadi panik. “Berarti pas pamitan kemarin, Bhayu enggak sempat ke sini ambil motornya dong, pak? aduuuh…” rengek Imel.

“Kamu tenang dulu. Bisa aja dia pergi pakai kendaraan lain..” kata Bima.

Imel semakin panik. Bima berpikir keras. Dia lalu terpikir untuk memeriksa plat mobil Linda yang semalam juga terparkir di sini.

“Saya minta data parkir in dan out dari kemarin malam, bisa?” tanya Bima.

“Oh, bisa pak. Mari saya antar ke ruang engineering…”

Bima lalu meminta petugas administrasi parkir memeriksa kapan mobil milik Linda masuk dan keluar dari rumah sakit.

“Plat nomor itu masuk pukul 22.47 dan keluar pukul 00.35, pak,” jelasnya.

“Mama pulang setengah satu malam? itu kan barengan sama Bhayu pamitan pak!” kata Imel.

Bima menoleh ke arah Imel. Dia lalu bertanya pada petugas keamanan yang ada di situ. “Ada rekaman CCTV di pintu parkir jam setengah satu tadi malam?”

“Ada pak. Saya tunjukkan..” katanya.

Bima memerhatikan rekaman CCTV dengan seksama. Saat mobil Linda keluar, dia meminta petugas menghentikan gambarnya. “Kayaknya dia sama seseorang di kursi depan,” kata Bima. “Bisa diperbesar?” pintanya.

Saat gambar diperbesar dan semakin jelas, Imel memekik dan menekap mulutnya. “Bhayu? Ngapain Bhayu pergi sama Mama??” tanya Imel tak percaya. Bima semakin khawatir ketika melihat Bhayu seperti tertidur pulas di sebelah Linda.

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. Gagah Perwira Amar says:

    Pertamax… Dasar Linda bego

  2. Gagah Perwira Amar says:

    Pertamaxxxx

  3. arif says:

    yah gagal pertamax..

  4. blackshappire says:

    thanks bang rem udah dilanjutin
    bhayu diapaiiiiin ituuu

    jiah tetep ye mas bima dapet brondongnya gampang banget, mana maennya di kantor polisi pula, mau ahh *kedip2 ke bang remy

  5. satu-satunya yg janggal di cerita ini adalah saat Linda menodongkan pistol. seolah-olah di Indonesia senjata api begitu mudah didapatkan kaya di Barat.

    • Anonim aja says:

      Kayaknya dlu emang ada bagian, kalo si Herlan punya pistol yah? jd mungkin aja si Linda pake pistol mantan suaminya
      *CMIIW

  6. Calvin Tham says:

    Agak2 lupa cerita sebelumnya krn lumayan lama jedanya. Tapi tetap menarik. Apalagi ada cerita Bhima yg memuaskan birahinya. Jadi pengen dientotin cowo kaya Bhima.. Hahaha

  7. Dion25 says:

    uda ngerasa, nanti mesti cerita endingnya dipecah entah jd berapa bagian. dan ternyata benarrr.. #akurapopo.

  8. verrel says:

    Si harrel nyebelin banged, tu bhayu mo di apain yah

  9. verrel says:

    Bang remy kalo nanti tamat, cerita harrel bayu di tampilin juga di cerita nico yah biar gak kangen ma bhayu

  10. Tsu no YanYan says:

    Ih mas Bima curi-curi kesempatan!!!

    Si Harrel malah keenakan … Jadi pengen liat~ wkwkw *pasangcctv*

    Bhayu, diculik!><

  11. Andriyani says:

    Lanjut Bang Remi…. Duh makin penasaran nih Bhayu apa di nebak atau gimana sih kok bisa tidur bersama Mama Nya Imel…tinggal satu lagi kan part Tamatnya …

  12. vigo says:

    Oh mas remy, ternyata masih di gantung…
    Udah penasaran tingkat dewa ini mas..

    Smg d lanjutin segera y mas., ane tunggu.

  13. arif says:

    harrel, you bitch.. -_-

  14. arif says:

    next episode bhayu diperkosa linda.
    kyaaaa..

  15. Ray says:

    Buset dah, itu sempet-sempetnya si Harrel ama Mas Bimbim malah pake acara ncus-ncusan segala. Mas Bimbim menang banyak, harus digangbang tuh, wkwkwk 😀

    Wah dah mau tamat, dan semakin menegangkan. Thanks 🙂

  16. oka says:

    yeayyy baru bisa baca sekarang,,,, btw harrel mauan ya… endingnya jangan lam2 ya banggg

  17. joe says:

    cool!! bikin penasaran banget bang.
    harrel duh 😦 bima menang banyak daaaah. haha mau dong jadi harrel dianuin mas bimbim

  18. ibe says:

    Iya Bang Rem, Harrelnya kok agak kayak “slut” gitu. Abis dikasarin kok malah pengen dilanjutin :/

  19. eka dwi pratama says:

    Abang Remi, kirain dah kelar ni si herrel ama bhayu taapi knpa masih bikin penasaran udah gitu lama amat postingnya keburu nenggak baygon gua….! Good story

  20. fhey says:

    Bang Remy emang pling pinter buat aku penasaran…
    Bagian B nya donk.. Gag sabar nihhh

  21. Exosehun says:

    Kereeeeeeeeeen, ga sabar nunggu kelanjutan ceritanya ini ^^

  22. Lorenzo Alfredo says:

    Jadi pengen….

  23. Batistuta sauru says:

    Lanjutin lgi donk,,???!!!

  24. kenji says:

    si harrel kok gitu, parah, sempat sempatnya godain si bima ckck

  25. yashin says:

    mas Bima kok kayak James Bond versi gay..semua yg beninI diembat,mana smua di bwh umur lagi haha

  26. yashin says:

    itu snjata pribadi ada sertifikatnya,biasanya org kaya dan pengusaha gede yg mampu beli..mungkn itu punya suaminya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s