KARTU MEMORI – Season II – Bagian 10

Posted: March 1, 2015 in Kartu Memory - The Series I
Tags: , , , ,

Kartu_M_10By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 10

PENANGKAPAN Harrel oleh pihak kepolisian membuat seluruh keluarganya terkejut. Di kantor polisi, kedua orangtua Harrel dan Nico, adiknya, beradu argumen dengan Bima. Harrel berada di sebuah ruangan untuk dimintai keterangan.

“Nak Bima kan sudah kenal anak-anak saya! kenapa Nak Bima langsung menuduh anak saya terlibat kasus ini, hah?” raung ayah Harrel.

Sementara itu ibu Harrel menangis di sebuah bangku panjang dan dihibur oleh Nico.

“Maaf pak. Tapi Harrel kedapatan berada di samping Ivan saat saya datang. Saya harus meminta keterangan dari anak bapak,” jelas Bima.

“Enggak mungkin anak saya mau membunuh nak Ivan! mereka berteman akrab!” ujar ayah Harrel lagi.

“Tante korban memastikan bahwa sebelum dirinya pergi, Ivan masih baik-baik saja. Itu sebabnya saya harus menyelidiki apakah ada keterlibatan Harrel dalam hal ini. Berdoa saja agar Ivan bisa selamat. Selama dia belum bisa memberikan keterangan, Harrel terpaksa menginap di kantor. Permisi,” kata Bima lagi sambil pamit.

“Saya mau ketemu anak saya!” panggil ayah Harrel.

“Nanti pak. Bapak bersabar saja,” ujar Bima.

“Nak Bima! Nak Bima!” teriak ayah Harrel.

Sebenarnya Bima tidak tega melihat kekhawatiran anggota keluarga tetangga rumahnya itu. Tapi situasi membuatnya terpaksa menahan Harrel untuk dimintai keterangan. Linda pun memberikan keterangan yang memberatkan Harrel. Dia bilang saat dirinya pergi menggunakan mobil Ivan, keponakannya itu masih baik-baik saja.

“Ibu Linda. Mengapa ibu menggunakan mobil keponakan anda untuk belanja waktu itu?” tanya Bima.

“Saya.. waktu itu pembantu di rumah saya sedang libur. Saya hendak memasak sesuatu untuk Ivan. Mobil saya masih di garasi, jadi saya gunakan mobil Ivan. Lagipula itu sebenarnya mobil saya juga,” jelas Linda.

“Kenapa anda tidak mengajak Ivan pergi makan siang saja di luar?” tanya Bima.

Linda tertawa kecil. “Ivan itu sudah seperti anak saya. Anak laki-laki yang tidak pernah saya miliki. Saya biasa masak sesuatu untuknya kalau dia datang.”

“Menurut Harrel, dia datang ke rumah anda karena diundang saudara Ivan untuk membicarakan sesuatu. Apakah anda tahu tentang masalah ini?”

“Mm.. Ivan tidak bilang apa-apa soal mengundang anak itu ke rumah…” kata Linda.

“Terkait pemakaian mobil anda oleh saudara Ivan, apakah Ibu Linda tahu bahwa Ivan sempat menggunakan mobil itu untuk memata-matai Harrel selama beberapa hari? apakah ibu tahu mengenai hal ini?”

“Soal itu.. soal itu saya sama sekali tidak tahu. Saya pikir Ivan berusaha membujuk teman-teman Imel untuk menjenguknya. Ivan itu sayang sekali pada Imel seperti adiknya sendiri…”

“Jadi anda tahu bahwa Ivan sudah mengajak Harrel menemui anak anda Imel?”

“Y..ya.. saya tahu..” kata Linda.

Bima menghela nafas. “Baik. Untuk sementara, saya catat keterangan dari Ibu.”

“Apakah saya boleh menjenguk keponakan saya?” tanya Linda.

“Maaf Ibu Linda. Saudara Ivan tidak kami perbolehkan untuk dijenguk oleh siapapun dulu. Apalagi anda juga ada di tempat kejadian.” kata Bima.

“Ivan itu keponakan saya! masa saya tidak boleh menjenguknya?” protes Linda.

“Sebaiknya tunggu kabar dari dokter sampai kondisinya pulih. Dengan begitu, siapa pelakunya akan menjadi jelas,” kata Bima.

Linda kemudian mengangguk dan pamit untuk pergi.

“Ibu Linda,” panggil Bima.

Linda menoleh dengan raut wajah kebingungan.

“Saya turut menyesal dengan segala kejadian yang menimpa keluarga anda. Semoga anda bisa tabah,” ujar Bima.

Linda kembali mengangguk lemah dan bergumam sedikit mengucapkan terima kasih sebelum keluar dari ruangan Bima.

Bima bangkit dari duduknya setelah Linda pergi. Dia meregangkan kedua lengannya. Dilihatnya jam dinding. Sudah jam sepuluh malam. Tapi dia belum berniat pulang. Masih ada yang mengganjal dalam pikirannya mengenai kasus ini. Jika benar bahwa Harrel dan Ivan sudah akrab, untuk apa Harrel mencoba membunuh Ivan? sesuatu yang mudah dia lakukan kapan saja di mana saja tanpa harus menunggunya di rumah Linda.

Bima menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Dia lalu menuju pantry untuk membuat kopi. Malam begini tak ada yang bisa dia suruh-suruh. Ketika Bima sedang menuangkan air panas pada cangkirnya, dia dikejutkan oleh kemunculan seseorang.

“Mas Bima. Saya harus bicara sama Harrel.” kata Bhayu.

“Kamu? bagaimana kamu bisa masuk ke sini?” sahut Bima kesal.

“Mas! Tunggu! izinkan saya ngomong sama Harrel, Mas!” pinta Bhayu.

Bima tidak memedulikan permintaan Bhayu. Dia meletakkan cangkir kopinya dengan gusar dan mencengekeram lengan Bhayu hendak menyeretnya keluar.

“Kamu mau saya tahan juga karena bersekongkol dengan Harrel, hah?” ancam Bima.

“Mas mau tahu yang sebenarnya, kan? mengenai kematian Om Herlan juga? kalau Mas izinkan saya ngomong sama Harrel, dia pasti akan jelaskan. Karena kalau saya yang bilang tapi Harrel nyangkal, semuanya sia-sia, mas!” kata Bhayu.

Bima terdiam. Kemudian dia melepaskan cengkeramannya pada Bhayu.

“Baik. Saya kasih kamu waktu bicara sama Harrel.” ujar Bima mengalah.

Harrel tidak ditahan di dalam sel seperti para pelaku kriminal yang tertangkap basah lainnya. Rupanya Bima masih mengupayakan agar Harrel tidak sampai menginap di dalam sel bersama yang lain dan menempatkannya pada sebuah ruangan yang lebih mirip sebuah kamar barak namun jauh lebih manusiawi daripada sel tahanan.

Di dalam kamar itu terdapat sebuah kasur tingkat dengan sprei putih dan kamar mandi. Di dekatnya ada sebuah meja dan dua buah kursi yang saling berhadapan. Ada kotak berisi sisa makanan dan beberapa botol air mineral di atasnya.

Bima membuka kunci kamar itu dan membiarkan Bhayu masuk.

“Sepuluh menit saya beri waktu kamu bicara sama anak itu. Coba bujuk dia supaya cerita yang sebenarnya,” kaa Bima.

Bhayu mengangguk dan masuk. Kemudian Bima mengunci kembali kamar itu.

Harrel tampak sudah tertidur di ranjang bawah berselimut kain tipis. Ruangan itu rupanya terdapat sebuah jendela tinggi berteralis dan langsung berhubungan dengan udara luar. Malam itu hawa cukup dingin sehingga anginnya masuk melalui jendela itu.

“Rel?” panggil Bhayu hati-hati sambil mengusap dahi pemuda itu.

Harrel kemudian terkesiap dan terbangun. Matanya berusaha menyesuaikan diri dengan cahaya temaram kamar tersebut.

“Bhay? Bhayu?” tanya Harrel.

Bhayu mengangguk dan tersenyum. Senyumnya berubah menjadi kemuraman ketika Bhayu mengingat kejadian yang menimpa Harrel.

“Elo kenapa sih, Rel? kenapa bisa kena masalah kayak gini sih?” tanya Bhayu.

Harrel mendesah panjang dan menutup wajahnya dengan tangan dan bangkit untuk duduk di pinggir ranjang. Bhayu duduk disebelahnya sambil merangkul bahu Harrel.

“Elo percaya kalo gue yang mukul kak Ivan?”

“Ya enggak, lah! tapi semua keterangan tante Linda ngeberatin posisi elo, Rel!”

Harrel mendengus.

“Semua ini enggak akan terjadi kalau kak Ivan enggak niat cerita ke tante Linda mengenai kematian suaminya.”

“Enggak Rel.. semua ini enggak akan terjadi kalau kita enggak gegabah nyelesain masalah gue sama Om Herlan sendirian..” sahut Bhayu.

“Gue enggak nyesel, Bhay! Gue bantu elo karena gue sayang sama elo,” timpal Harrel.

“Tapi ini mungkin udah saatnya kita cerita semuanya pada polisi.. pada Mas Bima… biar semua jelas,” kata Bhayu.

“Enggak Bhay! gimana dengan masa depan elo? gimana kalau misalnya ini jadi skandal yang dimuat di koran-koran? elo akan dihantui masalah ini seumur hidup elo, Bhay! termasuk masa depan elo!” kata Harrel.

“Dan ngebiarin elo semua nanggung sendirian dari hal yang sebenernya bukan perbuatan elo?” tanya Bhayu.

Harrel mengangguk.

“Gila. Gue akan cerita semuanya ke Mas Bima. Dan elo harus cerita juga atau semua yang gue bilang bakalan dianggap kebohongan sama dia.”

“Jangan, Bhay! Gue mohon!”

“Elo kenapa sih, Rel?” tanya Bhayu heran.

“Please.. gue minta waktu Bhay. Jangan dulu.. harapan gue cuma kak Ivan.. gue berharap dia segera sembuh..”

“Oke. Gue ikutin mau elo. Tapi kalau misalnya terjadi apa-apa sama kak Ivan dan elo makin susah, gue akan cerita semuanya…” sahut Bhayu.

Harrel mengangguk setuju.

Bhayu lalu memeluk Harrel. Harrel terisak di pundak Bhayu. Berada dalam pelukan Bhayu membuat Harrel merasa lebih lega. Setelah sepuluh menit, Bima membuka pintu ruangan kembali.

“Udah pacarannya?” sindir Bima.

Bhayu mendengus dan bangkit dari duduknya.

“Gue pamit dulu Rel. Elo jaga kesehatan di sini, ya?” ujar Bhayu.

“Iya Bhay. Trims ya..” balas Harrel.

“Jadi kalian sudah mau cerita yang sebenarnya?” tanya Bima.

“Cerita apa ya, mas?” tanya Bhayu pura-pura polos.

Sadar dirinya dipermainkan oleh kedua remaja itu, Bima menjadi marah.

“Heh! kalian ini ngeledek saya, ya?” tanya Bima sambil menarik lengan Bhayu dan mendorongnya keluar.

“Lepasin!” tukas Bhayu sambil melepaskan diri dari cengkeraman Bima.

“Kamu mau saya tahan juga?” ancam Bima.

“Mas jangan main-main sama ancaman Mas. Atas dasar apa nahan saya?” balas Bhayu tak kalah galak.

“Keluar sekarang! keluar!” ujar Bima sambil menyeret Bhayu keluar dari kantor polisi.

“Sebaiknya kamu enggak cari gara-gara di depan saya, atau saya akan cari alasan buat kamu nemenin pacar kamu di dalam sana,” kata Bima sambil mendorong Bhayu di pintu belakang kantor polisi.

Bhayu mendengus kesal sambil membetulkan jaketnya. “Makasih ya, mas. Udah ngasih waktu kita pacaran,” kata Bhayu sambil berlalu ke tempat parkir motor.

***

Suasana di rumah sakit malam itu cukup sepi. Jam besuk sudah lewat sejak pukul tujuh malam. Tapi seorang wanita nekad menyelinap di lorong rumah sakit menuju sebuah kamar. Dia menghela nafas khawatir ketika melihat kamar yang dia tuju rupanya dijaga oleh seorang petugas polisi yang tertidur di dekat pintu. Wanita itu lalu memberanikan diri menghampiri kamar tersebut. Dia sungguh penasaran dengan kondisi pasien di dalamnya. Pasien yang tak sadarkan diri akibat perbuatannya.

Polisi yang tertidur itu rupanya terusik dengan kedatangan wanita itu sehingga terbangun.

“Oh.. eh.. maaf, anda siapa?” tanyanya sambil bangkit dari duduknya.

“Saya Linda. Saya tante dari pasien yang ada di dalam kamar ini. Saya mau bawakan makanan dan buah..” kata wanita itu sambil mengangkat bungkusan plastik.

Petugas polisi ini sudah mendengar bahwa pasien di dalam kamar yang bernama Ivan memiliki seorang tante bernama Linda. Dia memerhatikan wanita cantik ini dari kepala sampai ujung kaki.

“Ada kartu tanda pengenal?” tanya polisi itu.

Linda mendesah dan membuka tas jinjingnya. Dia mengeluarkan KTP nya dari dalam dompet dan memberikannya pada petugas polisi.

Polisi itu memeriksa sesaat dan menyerahkan kembali KTP itu pada Linda.

“Maaf Ibu Linda, jam besuk sudah lewat. Lagipula pasien dalam kondisi koma. Percuma saja dibawakan makanan. Sebaiknya Ibu pulang dulu dan beristirahat, lalu kembali besok pagi. Mari saya antar ke lift,” kata polisi itu.

“Tapi saya mau lihat kondisi keponakan saya!” protes Linda yang lengannya diarahkan petugas polisi itu dan menuntunnya ke arah lift.

“Maaf Ibu.. Ibu kembali besok saja…” ujar polisi itu sopan mengusir Linda.

Saat polisi itu menuntun Linda kembali ke lift, diam-diam seorang pemuda memanfaatkan situasi dan masuk ke dalam kamar yang tak dijaga. Perlahan dia menutup kamar pasien VIP itu dan berjalan pelan menuju ranjang.

Di situ Ivan terbaring di dalam kamar yang penerangannya redup. Bunyi peralatan medis samar-samar terdengar di kamar yang hanya dihuni satu pasien ini. Wajah Ivan pucat. Kepalanya terbalut perban. Di hidungnya terdapat selang oksigen. Ivan seperti sedang tertidur pulas.

Pemuda itu lalu menutup tirai yang ada di sekeliling ranjang IvanΒ  dan membuat dirinya tak terlihat dari jendela luar. Lalu dia menarik sebuah kursi dan duduk sambil menggenggam lengan Ivan.

“Kak.. Kak Ivan bisa dengar saya? Saya Bhayu kak… sahabat Harrel…” panggil Bhayu pelan.

“Kak.. saya percaya bukan Harrel yang bikin kakak begini.. tapi kalau kakak enggak segera bangun.. Harrel bisa dipenjara kak.. Kakak sayang Harrel kan?”

Tak ada reaksi dari Ivan. Bhayu mendesah sedih.

“Kak Ivan.. saya sayang sama Harrel, Kak.. saya enggak bisa bayangin kalau Harrel sampai menderita gara-gara hal ini. Saya mohon kakak segera sembuh.. Bangun kak..” pinta Bhayu sambil menangis. Tangan Ivan dia sentuhkan ke wajahnya.

“Elo… sayang Harrel, Bhay?” tanya sebuah suara lirih yang mengagetkan Bhayu.

“I.. Imel?” tanya Bhayu kaget. Dia segera melepas tangan Ivan dan berdiri dari kursi.

“Maaf.. gue baru datang sama nenek dan minta izin masuk. Jadi Elo percaya kalau bukan Harrel yang bikin Kak Ivan kayak gini?” tanya Imel memastikan.

Bhayu mulai terisak dan menggeleng.

Imel tak berkata apa-apa. Dia lalu memeluk Bhayu dan berusaha menenangkannya.

“Waktu gue pisah sama elo, gue sedih banget Bhay. Tapi gue enggak nyangka kalau elo sama Harrel.. musuh bebuyutan akhirnya bisa berteman dan..” Imel tak meneruskan kalimatnya. Dia menatap mata Bhayu sambil tersenyum.

“Maafin gue ya, Mel? Maaf gue enggak bisa berada di deket elo waktu elo ngalamin masa-masa sulit…” ujar Bhayu.

“Gapapa, Bhay. Gue kuat kok. Gue ngerti.. Kak Ivan adalah saudara gue selain nenek yang bisa bikin gue semangat lagi. Bahkan gue sendiri enggak begitu peduli sama Mama,” sahut Imel.

“Sekarang gue enggak tahu lagi gimana caranya buat nolong Harrel…” kata Bhayu sedih.

“Kita berdoa aja, Bhay.. biar Kak Ivan cepat sadar dari komanya,” ucap Imel.

Tiba-tiba suara peralatan medis berubah sedikit. Imellah yang menyadari pertama kali saat melihat jari tangan kanan Ivan mulai bergerak.

“Bhay.. tangan Kak Ivan..” sahut Imel sambil melepaskan pelukannya.

“Kenapa Mel?” tanya Bhayu.

“Tangan Kak Ivan bergerak Bhay..” sahut Imel gembira.

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. arif says:

    ninggal jejak dulu.

    pertamaaaax!!

  2. arif says:

    wkwk.. aku kecele’.

    ini tuh lanjutan setelah break. jadi kesannya kayak chapter final yg ditunggu2. taunya masih bersambung.

  3. Ezey says:

    Akhirnya rilis juga yg ke 10 😊
    Hahaa.., bkin pnasaran lgi lnjutannya πŸ˜„
    Sukses buat bng Remy ceritanya keren (y)

  4. Tsu no YanYan says:

    Yeiiii kak Ivan bangun!! Akhirnya! ><

  5. Tsu no YanYan says:

    Kak Ivan komanya lama banget sih! Dari 8 Februari sampai 1 Maret… wkwkwkwwk

    Akhh penasaran lagih><

  6. oka says:

    ahhh makin galau bacanya.. abang diem2 bae update nye sampe gak sengaja buka emaill

  7. Marvel says:

    Fokus bacanya pas bagian harrel ma bayu tok, akhirnya mereka baikan juga

  8. Anto O says:

    Hollywood style….bikin European style dong. Biar binan2 tau klo life is a bitch in its the nastiest form

  9. SaepulR says:

    Haaa.. Cpt dipost lg lanjutannya kak,,

  10. blackshappire says:

    hore dilanjut lagii,
    kirain bakal langsung tamat ternyata belon
    gpp dah makin panjang makin enak *eh lho πŸ˜€

  11. Yuzalby says:

    Haishhhhhh…. Keren makin gregetan nih d tunggu chapter slanjutnya

  12. Lorenzo Alfredo says:

    Ditunggu kelanjutannya bang Rem

  13. Ray says:

    Wah si Baybay udah gak PMS, wah kirain si Melmel mo drama queen, kak Ipan cepet sadar. Si Pipin mana nih? Dia kunci dari segala kunci πŸ˜€

  14. betmen12 says:

    lama banget postingnya -_-…
    Gpp lah, menunggu satu minggu lagi ~

  15. Mikhael says:

    yahhh to be continue -_-“

  16. eka dwi pratama says:

    Bang rem jahaaaat bgt gua nunggu lamaaa binggo dan pastingnya tanggung bgt… Gag kasian bgt ama para penggemar yg udah nungguin bang rem,,,

  17. Dun says:

    Pesen satu yang kayak bhayu bisa harrel bisa ngga??

  18. ibe says:

    Btw Imel sama neneknya kok bisa diijinin masuk sih Bang? Bukannya td petugasnya bilang kalau jam besuk udah lewat?

  19. likalikulakilaki says:

    Udah Pacarannya? Sindir Bima :v

  20. masih berlanjutkan ceritanya
    semangat!!!
    {Β°-Β°}β™‘

  21. fhey says:

    Ya ampun bang Remi mah paling bsa bikin orang penasaran dech… Ditunggu bang episod ke 11 nya…

  22. Iant14^^ says:

    ninggal jejak dulu…

    .Lanjuttt bang…bang remy sukses buat ku jadi penasaran…^^
    slalu menunggu postingan” bang remy…Ditunggu juga kisah adiknya harreL a.k.a nico….gimana story ny tuh… *^_^*

  23. beenimnida says:

    tapi aku mau harrel ama ivan… hiks..they’re just..more click together.

    bang remy bikin cerita dewasa (bukan nc lho maksudnya) dong, jangan remaja mulu.. eh, kok malah request.

  24. Batistuta Sauru says:

    Kapan d teruskan?? Jdi penasaran banget ni!!!!!!!!!!!!!!

  25. Erah beton says:

    Bang remy,miss u bang..

  26. S haryanto says:

    Pasti ivan sembuh …..dan si findra sebagai dewa penolong harrel dan bayu….

  27. l says:

    Sminggu lebih ni

  28. kenji says:

    bagus ceritanya bang, tapi saya merasa cetitanya rada2 kek sinet bang…
    dan harrel pacaran dan sayang sama bhayu tapi kok mudah di goda sama ivan…
    apa nanti harrel akan tergoda lagi sama ivan dan mereka melakukannya lagi, dan bhayu marah, mereka bertengkar lalu pisah karena harrel sudah terjerat pesona ivan dan kemudia harrel pacaran dengan ivan??

    *maafkan saya jika berpendapat seperti ini bang, saya tidak bermaksud memberikan komentar yang buruk,,,
    tapi saya cukup suka dan menunggu kelanjutannya…

  29. Leo says:

    mna nh lanjutannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s