Archive for March, 2015

IMG_6187By: Shishunki
Bonus story – one crot.

SAAT pamanku menelepon, aku mengiyakan permintaannya untuk menampung sementara anaknya yang sedang mengikuti sebuah perlombaan fisika antar SMA di kotaku. Aku sudah lama tinggal di sini sejak meninggalkan kampungku. Sepupuku itu bernama Biyan. Terakhir kali aku melihatnya tujuh tahun lalu saat dia masih sepuluh tahun. Usiaku terpaut sepuluh tahun dengannya. Aku tinggal di sebuah rusun bertingkat sendirian sejak mendapatkan pekerjaan. Pamanku tak mengizinkan anaknya tinggal di hotel.

Namaku Erick. Seorang gay. Selama aku tinggal jauh dari keluargaku, aku menjalin hubungan dengan beberapa pria. Entah itu sebatas bersenang-senang, atau menjalin hubungan serius. Sekarang statusku sendirian dan belum berniat kembali berpacaran. Kuhabiskan banyak waktuku untuk olahraga dengan teman kantor seperti bermain futsal, atau melatih tubuh di pusat kebugaran. (more…)

Advertisements

Kartu_M_Tamat BBy: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

Bantulah penulis blog untuk terus berkarya dengan membeli novelnya yang berjudul Heart Station di nulisbuku.com
http://nulisbuku.com/books/view/heart-station

TAMAT (BAGIAN B)

KEADAAN di Rumah Sakit menjadi sedikit gaduh. Bukan karena Ivan sudah sadarkan diri, tapi karena info mengenai hilangnya Linda dan kemungkinan besar dirinya sebagai tersangka pemukulan terhadap Ivan, keponakannya sendiri.

Imel menangis tersedu-sedu di pelukan neneknya. Neneknya Imel pun tak kalah cemas mendengar berita bahwa Linda diketahui membawa Bhayu pergi bersamanya. Dia berpesan pada Bima untuk membawa kembali Linda.

“Ibu punya dua anak perempuan. Yang pertama, mamanya Ivan sudah meninggal bersama menantu ibu. Sekarang keluarga ibu sedang diberi cobaan. Linda itu anak ibu yang agak sulit. Kelihatannya saja tenang, tapi dalamnya rapuh. Tolong pak polisi bantu selesaikan masalah keluarga ibu…” pinta nenek.

“Baik Nek. Tapi saya mau minta keterangan dari Imel kira-kira ke mana kemungkinan anak ibu pergi. Saya perlu  data properti yang dimiliki anak ibu,” kata Bima.

Nenek mengangguk. Dia lalu membujuk Imel untuk memberikan keterangan rumah yang dimiliki oleh ayah dan ibunya.

“Makasih Mel. Saya janji akan cari ibu kamu secepatnya,” ujar Bima ketika selesai mencatat keterangan dari gadis itu.

Bima kemudian pergi dan berpesan pada petugas polisi yang menjaga Bhayu.

“Kamu kabari saya kalau ada perkembangan di sini. Minta bantuan dan waspada kalau-kalau Linda kembali ke sini, mengerti?” kata Bima.

“Siap, pak!” jawab petugas polisi itu.

“Saya balik ke markas dulu,” kata Bima lagi sambil pergi. (more…)

Kartu_M_11ABy: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

TAMAT (BAGIAN A)
MENGETAHUI bahwa Ivan dapat menggerakkan jari tangannya, Imel dan Bhayu langsung keluar dari kamar dan berusaha memanggil perawat. Polisi penjaga yang berada di luar bersama nenek Imel terkejut melihat Bhayu yang ikut keluar.

“Hei! Kamu siapa? saya cuma kasih izin anak perempuan ini masuk!” tegurnya.

“Pak, makasih udah izinin saya masuk demi nenek saya, tapi Kak Ivan.. barusan bisa gerakin tangannya! bisa lupain dulu sebentar urusan teman saya ini dan panggil perawat atau dokter?” cerocos Imel.

Sejenak petugas polisi itu agak bingung antara harus memarahi Bhayu ataukah segera memanggil petugas medis. Kemudian dia sadar bahwa kondisi Ivan lebih penting. Dia lalu berjalan menuju ranjang Ivan dan menekan tombol pemanggil yang ternyata tak jauh dari ranjang.

Tak lama seorang dokter ditemani perawat datang ke kamar Ivan. Imel dan neneknya menjauh dari ranjang diikuti oleh Bhayu. Sayangnya, harapan mereka bahwa Ivan akan segera tersadar rupanya harus pupus. Dokter mengatakan bahwa kondisi Ivan sudah lebih stabil namun belum mengetahui mengapa Ivan belum juga terbangun. Dokter bernjanji akan memantau kondisi Ivan lebih lanjut.

Beberapa lama kemudian, rupanya Bima muncul. Dia lalu memarahi petugas polisi yang sampai kecolongan tidak mengetahui Bhayu bisa menyelinap dan membiarkan Imel masuk.

“Maaf, pak! saya tadi sibuk dengan Ibu Linda yang memaksa ingin masuk!” kata petugas polisi itu beragumen.

“Malam Nak.. tadi Ibu memang meminta pak polisi ini buat izinin Imel masuk… Ibu minta maaf, tolong jangan salahin pak polisi baik ini..” bela Nenek.

Bima menarik nafas gusar. Dia rupanya lemah pada wanita tua seperti neneknya Imel. Diapun mengangguk setuju walau kurang ikhlas. Bima lalu bertanya kembali pada petugas polisi itu. “Apa yang kamu lihat dari gelagat Linda?”

“Ng.. sepertinya dia sangat penasaran bertemu dengan keponakannya, pak. Tapi… saya merasa bukan seperti orang yang khawatir pada kondisi korban. Agak mencurigakan sepertinya,” jawab polisi itu.

“Kamu yakin?” tanya Bima memastikan.

“Yakin, pak,” jawab petugas polisi itu.

Tiba-tiba Bima melirik pada Bhayu. Bhayu yang dari tadi berusaha menjauhi dari Bima akhirnya tak bisa mengelak ketika Bima dengan gemas menghampirinya dan menarik jaketnya. (more…)

Kartu_M_10By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 10

PENANGKAPAN Harrel oleh pihak kepolisian membuat seluruh keluarganya terkejut. Di kantor polisi, kedua orangtua Harrel dan Nico, adiknya, beradu argumen dengan Bima. Harrel berada di sebuah ruangan untuk dimintai keterangan.

“Nak Bima kan sudah kenal anak-anak saya! kenapa Nak Bima langsung menuduh anak saya terlibat kasus ini, hah?” raung ayah Harrel.

Sementara itu ibu Harrel menangis di sebuah bangku panjang dan dihibur oleh Nico.

“Maaf pak. Tapi Harrel kedapatan berada di samping Ivan saat saya datang. Saya harus meminta keterangan dari anak bapak,” jelas Bima.

“Enggak mungkin anak saya mau membunuh nak Ivan! mereka berteman akrab!” ujar ayah Harrel lagi.

“Tante korban memastikan bahwa sebelum dirinya pergi, Ivan masih baik-baik saja. Itu sebabnya saya harus menyelidiki apakah ada keterlibatan Harrel dalam hal ini. Berdoa saja agar Ivan bisa selamat. Selama dia belum bisa memberikan keterangan, Harrel terpaksa menginap di kantor. Permisi,” kata Bima lagi sambil pamit.

“Saya mau ketemu anak saya!” panggil ayah Harrel.

“Nanti pak. Bapak bersabar saja,” ujar Bima.

“Nak Bima! Nak Bima!” teriak ayah Harrel.

Sebenarnya Bima tidak tega melihat kekhawatiran anggota keluarga tetangga rumahnya itu. Tapi situasi membuatnya terpaksa menahan Harrel untuk dimintai keterangan. Linda pun memberikan keterangan yang memberatkan Harrel. Dia bilang saat dirinya pergi menggunakan mobil Ivan, keponakannya itu masih baik-baik saja.

“Ibu Linda. Mengapa ibu menggunakan mobil keponakan anda untuk belanja waktu itu?” tanya Bima.

“Saya.. waktu itu pembantu di rumah saya sedang libur. Saya hendak memasak sesuatu untuk Ivan. Mobil saya masih di garasi, jadi saya gunakan mobil Ivan. Lagipula itu sebenarnya mobil saya juga,” jelas Linda.

“Kenapa anda tidak mengajak Ivan pergi makan siang saja di luar?” tanya Bima.

Linda tertawa kecil. “Ivan itu sudah seperti anak saya. Anak laki-laki yang tidak pernah saya miliki. Saya biasa masak sesuatu untuknya kalau dia datang.”

“Menurut Harrel, dia datang ke rumah anda karena diundang saudara Ivan untuk membicarakan sesuatu. Apakah anda tahu tentang masalah ini?”

“Mm.. Ivan tidak bilang apa-apa soal mengundang anak itu ke rumah…” kata Linda. (more…)