kartuuu_ori_II_8By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 8
SUDAH satu jam perjalananku bersama Ivan dalam kendaraan namun aku masih belum menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Mas Bima sebelum kami berangkat. Rupanya Ivan masih bersabar menunggu. Aku akhirnya bercerita.

“Tadi.. Mas Bima bilang dia sudah tahu keterlibatan saya dengan kematian Om Herlan,” kataku.

Ivan masih terus menyetir memandang lurus ke depan dan bergumam. “Hm… sudah sejauh mana yang dia tahu?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Enggak tahu, kak.”

“Saya pikir sebaiknya kamu siap-siap ceritakan semua pada polisi itu daripada masalah ini makin runyam,” saran Ivan.

“Saya enggak mau semakin banyak orang yang tahu masalah ini, kak,” kataku.

“Saya juga bingung bagaimana cerita ini ke Tante Linda. Saya masih khawatir dengan reaksinya,” kata Ivan.

“Harus ya, kak? cerita ke Mamanya Imel?” tanyaku.

“Kamu mau sampai tante Linda penasaran terus-terusan dan nyuruh orang lain nyelidikin kalian?” tanya Ivan.

Aku terdiam. Ivan ada benarnya juga. Kasus ini ternyata masih meninggalkan petunjuk mengenai kematian Om Herlan. Bukan cuma Ivan, Tante Linda, kini Mas Bima pun ikut-ikutan curiga.

Dan sekarang, aku malah harus bertemu dengan Imel. Bagaimanapun aku masih menyimpan rasa bersalah. Bukan hanya kematian ayahnya yang mungkin disebabkan oleh perbuatanku menjebaknya di hotel, tapi lebih karena aku telah berani mendekati Bhayu ketika dia dan Imel masih berstatus pacaran. Aku lalu menoleh ke arah Ivan. Wajahnya memang terlihat tenang, tapi aku juga ingat kembali bahwa dia terpaksa mengambil alih bisnis om Herlan demi membalas budi dan melupakan keinginannya berpetualang keliling Indonesia. Dan itu membuatku semakin merasa bersalah.

Aku menutup wajahku sambil menghela nafas berkali-kali.

“Kenapa?” tanya Ivan.

“Semua ini enggak akan terjadi kalau saya enggak ngedeketin Bhayu…” kataku.

“Semua ini enggak akan terjadi kalau Om Herlan bisa menahan nafsunya. Saya hormati almarhum, tapi tetap enggak bisa menolerir kesalahannya. Itu dua hal berbeda,” ujar Ivan.

“Bagaimana saya bisa sanggup ketemu Imel nanti? sementara saya adalah orang yang merebut pacarnya..” tanyaku.

“Gampang. Bersikaplah jadi temannya. Itu sudah cukup,” kata Ivan.

Aku tertegun.

Rumah nenek Ivan dan Imel berada di pinggiran kota. Letaknya agak jauh dari keramaian dan harus menempuh jarak sekitar tiga kilometer lagi menanjak ke arah perbukitan. Ketika kami tiba, Ivan mengklakson beberapa kali. Tak sampai semenit, seorang wanita muda berlari ke arah gerbang dan menggeser pintunya hingga sedan Ivan bisa masuk.

Setelah kami turun, Ivan bertanya ramah pada wanita muda itu. “Nenek ada, mbak?”

“Ada, Mas… lagi temanin mbak Imel nonton tv,” jawab wanita muda itu.

“Oke, makasih..” kata Ivan.

“Saya permisi dulu, mas.. mau lanjut masak. Mas masuk aja,” ujar wanita itu.

Ivan mengangguk. Aku masih merasa cemas berada di rumah ini dan hendak bertemu wajah dengan Imel. Ivan mengajakku ikut masuk.

“Assalamualaikum…” sapa Ivan sambil membuka pintu depan.

Kulihat seorang wanita tua sedang duduk di sofa bersama gadis cantik yang kukenal: Imel. Keduanya sesekali tertawa menonton adegan yang mereka lihat di layar televisi.

“Ivan!” pekik wanita tua yang sudah pasti nenek Ivan dan Imel itu ketika melihat sosok jangkung di dekatku. Dia lalu bangkit dan berjalan menuju Ivan.

“Nenek kira masih lama sampainya, jadi nenek gak balas sms kamu,” katanya.

Ivan lalu mencium tangan neneknya.

“Eh, ini siapa? temen kamu, Van?” tanya Nenek ramah sambil melihatku

“Ini.. Harrel, Nek. Temannya Imel…” kata Ivan memperkenalkanku. Aku ikut mencium tangan Nenek.

Saat itulah aku sadar Imel telah berdiri menatapku.

***

Ivan memang pandai mencairkan suasana. Nenek dan Ivan asyik mengobrol di ruang tamu. Sedari tadi Imel dan aku hanya diam menyaksikan obrolan mereka, tapi akhirnya Ivan menyuruh Imel berbicara denganku. Imel mengalah dan mengajakku menuju kamarnya.

“Masuk, Rel..” kata Imel pelan.

“Eh.. ehm.. iya,” kataku gugup.

“Gimana teman-teman? katanya kelas kita semuanya lulus ujian ya, kecuali gue?” tanya Imel.

“Um.. iya, Mel. Alhamdulillah semua lulus..” jawabku.

Kami lalu terdiam kembali. Imel duduk di atas ranjangnya. Dia memakai kaus longgar dan celana sebetis. Rambutnya masih tergerai panjang. Wajahnya juga masih cantik walau terlihat lebih pucat dan tirus.

“Semua kangen sama elo, Mel.. pengen tahu kabar elo..” kataku.

Imel mendengus. “Gue kok agak susah percaya, ya Rel? pasti mereka sih pengen tahu aja gosip selanjutnya dari skandal yang menimpa seorang siswi yang ayahnya secara tragis bunuh diri..”

“Mel!” ujarku.

“Gue bukan orang yang paling disukain di sekolah, Rel.. gue sadar kok. Bahkan ke elo aja gue jarang nyapa, kan?”

Aku tak menjawab. Imel memang gadis populer di sekolah. Populer bukan berarti disukai semua orang. Imel memilih selalu berkelompok dengan geng-nya di sekolah dan terkenal memilih-milih teman dan tak sembarangan menyapa orang.

“Soal itu sih…” kataku mencoba membesarkan hatinya.

“Gue bahkan ikut-ikutan ngetawain setiap kali Bhayu ngebully elo di sekolah… dan sekarang, gue malu sama sikap gue selama ini kalau inget-inget itu lagi,” lanjut Imel sambil tangannya memain-mainkan bantal berbentuk hati.

“Tapi itu bukan alasan elo jadi enggak semangat sekolah kan, Mel? masa iya elo mau nyia-nyiain masa depan elo gitu aja?”

“Gue belum siap. Mungkin tahun depan gue akan ikut home schooling… tapi gue lagi suka begini. Oh iya, gimana kabar Bhayu sekarang?” tanya Imel sambil tersenyum.

“Dia.. baik-baik aja…” kataku gugup.

“Gue seneng kalian bisa damai di sekolah. Entah kenapa, gue lihat Bhayu kelihatan bahagia sejak berteman dekat sama elo. Walaupun Bhayu bukan pacar gue lagi, gue tetep seneng lihat dia bahagia,” kata Imel.

Aku mengangguk pelan.

“Maafin gue Rel, gue sebenernya tahu elo orang baik. Lo enggak kayak temen-temen yang lain, yang baik di depan gue, tapi di belakang ngomongin gue. Maafin kalo gue sama Bhayu dulu enggak bersikap baik ke elo… padahal gue tahu, elo care sama temen-temen elo. Enggak pilih-pilih..” ujar Imel.

Kemudian dia membungkuk dan membuka laci mejanya mencari-cari sesuatu.

“Waktu gue pindah, gue bawa sebagian kenang-kenangan tentang temen-temen gue juga ke sini…” kata Imel sambil mengambil sebuah kartu berwarna pink dan menyerahkannya padaku.

Aku mengambil kartu itu. Aku tersenyum karena mengingat cerita di baliknya.

“Masih inget? waktu awal-awal kita sekelas, gue pernah sakit dan temen-temen ngejenguk gue. Elo yang bikin kartu ucapan Semoga lekas sembuh dan ngegambar karikatur temen-temen juga karikatur gue. Bagus dan lucu banget… Gue sering lihat kalau senggang, elo suka ngegambar. Elo berbakat, Rel.. jangan sia-siain bakat elo…” kata Imel sambil tersenyum.

Aku tak kuasa menahan airmata. Aku bersedih karena duka yang dirasakan Imel. Aku tak menyangka kematian Om Herlan begitu kuat pengaruhnya kepada orang-orang di sekitarnya.

“Udah ah, jangan cengeng. Harusnya kan elo yang ngehibur gue di sini,” goda Imel.

Aku terkekeh malu.

“Mel, lo masih sayang sama Bhayu? kalau iya.. gue bakalan bantu elo balikan lagi sama dia..” kataku tiba-tiba. Entah dorongan apa yang membuatku berkata seperti itu pada Imel. Tapi aku benar-benar tak tega melihat dirinya. Seharusnya di saat seperti ini, Imel ditemani orang yang dia sayang.

Imel melihatku takjub. Kemudian dia tertawa. “Rel.. perasaan itu enggak bisa dipaksain. Gue tahu Bhayu udah enggak punya rasa lagi ke gue waktu kita masih pacaran. Kalau itu enggak bikin buat dia bahagia, ngapain lanjut?”

“Tapi Mel.. Kan semuanya bisa dicoba lagi…” kataku meyakinkan.

“Udahlah, Rel.. makasih. Gue baik-baik aja kok. Doain aja. Apalagi sekarang Kak Ivan udah balik ke Indonesia. Harusnya gue enggak gitu cemas lagi,” ujar Imel sambil tersenyum.

Aku diam walau masih merasa kurang puas.

Baik Ivan, Neneknya, maupun Imel rupanya adalah pembujuk ulung. Awalnya Ivan bilang tidak akan sampai menginap di rumah nenek. Rupanya situasi berubah. Nenek memaksaku menginap walau sudah kubilang bahwa aku tak membawa baju ganti. Ivan pun tak menolong, dia malah memanyun-manyunkan bibir membujukku untuk tidak memaksanya pulang dan berkata dia sudah membawa kaus cadangan untukku tidur. Tentu saja nenek berpikir akan sangat berbahaya bila aku tidur sekamar dengan Imel, dan menyiapkan kamar tidur untukku dan Ivan. Padahal, jauh lebih berbahaya bila aku sekamar dengan Ivan. Hehehe..

Setelah kami kenyang makan malam dengan ikan gurame goreng serta sambal buatan nenek yang lezat, kami pamit untuk tidur. Suasana hati Imel jauh lebih baik setelah kedatangan kami. Wajahnya terlihat semakin ceria.

Aku dan Ivan kini berada di kamar yang sama. Baru saja aku mengganti baju dengan kaus dan celana yang dia bawa.

“Sengaja ya? kok Kakak udah bawa baju lebih segala?” tanyaku.

Ivan terbahak. “Udah, ah! mending kita tidur. Gapapa kan seranjang? udah pernah kan?” godanya.

Aku dan Ivan sama-sama naik ke ranjang. Ranjang ini lebih kecil ukurannya dari ranjang yang ada di apartemen Ivan. Kami harus berbagi selimut karena udara malam itu cukup dingin.

Berada di samping Ivan di ranjang yang sama membuatku sulit tidur. Sesekali aku melirik ke arahnya yang sedang memejamkan mata, entah sudah tidur atau belum. Wajahnya yang tampan terlihat amat tenang. Mungkin ketenangan dan kedewasaan Ivan yang membuatku, atau siapapun yang berada di dekatnya terpesona. Aku terkejut ketika Ivan membalik tubuhnya menghadapku dan melingkarkan lengannya pada pinggangku. Aku meneguk ludah. Lengan Ivan yang panjang dihiasi bulu-bulu halus itu menimpa perutku hingga tubuhku menjadi kaku. Hembusan nafasnya terasa mengenai telinga dan pipiku.

Tiba-tiba Ivan menggerakkan lengannya dan menyelusupkannya ke dalam kausku.

“Kak..” protesku.

Ivan tidak merespon. Matanya masih terpejam sementara jemari tangannya mulai bergerak-gerak meraba dada dan perutku. Aku bingung harus berbuat apa. Tangan Ivan semakin nakal. Dia menyelipkan telapak tangannya ke dalam celana pendekku. Aku terlonjak saat Ivan mulai meraba penisku dan mengurutnya perlahan.

“Kakak..” protesku sambil menggeliat. Kulihat Ivan masih memejamkan matanya, namun nafasnya semakin berat. Aku tak tahan. Genggaman tangan Ivan pada penisku membuatku luluh dan akhirnya kucoba untuk menikmatinya.

“Ngh…” gumamku sambil menggeliat.

Ivan lalu membuka matanya dan bangkit dengan menopang tubuh pada sikunya. Dia lalu mengangkat kausku dengan lengan satunya hingga dadaku terekspos.

“Kakak mau apa?” tanyaku bingung.

Ivan tak menjawab. Dia malah mendekatkan wajahnya pada dadaku dan… aku mengerang saat lidah Ivan mulai menekan-nekan putingku. Sadar tak ingin membuat kegaduhan, aku menggigit bibir bawahku sambil menahan nafas ketika merasakan sentuhan basah dan lembab lidah Ivan yang sedang memain-mainkan putingku.

“Kakak..”

Ivan terus mengulum putingku bergantian kanan dan kiri. Tangannya yang satu terus mengocok penisku hingga semakin keras. Aku tak tahan dan menekan kepala Ivan dengan jemariku sambil melenguh. Kulengkungkan punggung sehingga tubuhku sedikit naik dan Ivan semakin buas mengulum putingku. Kurasakan penisku berdenyut-denyut hendak memuntahkan isinya.

“Kak Ivan…” desahku ketika akhirnya aku tak tahan lagi bersamaan dengan keluarnya cairan sperma yang mengalir pada perutku. Aku mencoba mengatur nafas dan tubuhku menggigil. Ivan tanpa bicara membuka kausnya. Awalnya aku terkejut bahwa Ivan akan berbuat lebih lanjut. Tapi rupanya dia hanya menggunakan kausnya untuk mengelap ceceran sperma pada perutku, dan ketika dirasanya sudah cukup bersih, Ivan melempar kausnya ke atas kursi.

Dia tersenyum melihatku. Kurasakan wajahku memanas melihatnya bertelanjang dada di sebelahku. Tak lama dia mengecup pipiku sekilas dan kembali memelukku. Kali ini dia benar-benar tertidur pulas.

Beberapa lama aku tak bisa memejamkan mata dipeluk Ivan seperti ini namun aku lalu berusaha untuk terlelap.

Paginya aku dan Ivan tak membicarakan kejadian semalam. Kami bersiap-siap untuk pulang ke kota. Imel setuju untuk terus menjalin kontak denganku dan berjanji secara pelan-pelan akan menghubungi teman-temannya kembali. Aku memeluk Imel dan memintanya tetap tabah.

“Salam sama Bhayu, ya? bilang sama dia. Gue enggak kenapa-napa,” kata Imel sambil tersenyum.

Aku mengangguk berusaha terlihat tegar di depan Imel. Kamipun berpamitan pada Imel dan Nenek. Sebelum naik mobilnya, Ivan memasukkan sekardus oleh-oleh dari Nenek titipan untuk Mama Imel.

“Hati-hati di jalan, ya?” pesan nenek.

Perjalanan kembali ke kota terasa cepat. Ivan dan aku bercanda dan mengobrol sepanjang jalan. Sama sekali tak membahas kejadian semalam. Aku tak mengerti dengan Ivan. Apakah dia melakukan itu karena tertarik padaku, ataukah dia hanya sedang menggodaku saja? Memang selama ini ucapan-ucapannya seperti perayu yang sedang mendekatiku. Tapi aku masih menganggapnya sebagai candaan belaka.

“Yang udah terjadi, ya biarlah jadi masa lalu… kamu harusnya udah enggak perlu merasa bersalah. Sekarang tinggal gimana caranya kita yang masih ada supaya terus melanjutkan kehidupan dan memperbaikinya. Paham?” kata Ivan.

Aku mengangguk.

“Kita mampir ke rumah tante Linda dulu ya? lebih dekat ke sana sebelum saya antar kamu ke rumah,” tawar Ivan.

“Eh, tapi.. saya belum siap ke sana, Kak…” pintaku.

“Enggak usah turun. Saya antar oleh-oleh sebentar lalu pergi lagi,” kata Ivan.

“Iya, kak.”

Jantungku berdegup kencang. Bertemu Imel kembali memang cukup melegakanku. Tapi pergi ke rumah Om Herlan itu lain perkara. Rumah Om Herlan berada di pemukiman elit. Jarak antara rumah satu dengan rumah lainnya cukup jauh dan dipisahkan oleh halaman yang luas. Seluruh rumah yang ada di cluster ini tak memiliki pagar. Jalan di perumahan ini pun banyak terdapat polisi tidur yang cukup tinggi. Aku jadi teringat Bhayu yang pernah cerita betapa kesalnya dia jika harus mengantar-jemput Imel ke rumahnya karena banyaknya polisi tidur yang ada. Tapi perumahan tanpa pagar ini juga menjelaskan bagaimana Imel bisa sering kabur tanpa sepengetahuan orangtuanya di malam hari. Selain itu, aku juga masih ngeri memikirkan reaksi Mama Imel jika Ivan jadi menjelaskan kejadian sebenarnya mengenai kematian Om Herlan.

Aku sabar menunggu Ivan yang turun dari mobil dan menenteng oleh-oleh pemberian nenek dalam kardus. Dia mengetuk pintu beberapa kali, dan Tante Linda pun keluar rumah. Dia tampak berbicara beberapa lama dengan Ivan. Saat Ivan menunjuk ke arahku, Tante Linda mengawasiku dengan curiga hingga aku buru-buru memalingkan wajahku. Tak lama Ivan pun selesai mengobrol dan kembali ke mobil. Tante Linda masih mengawasi kami. Wajahnya tampak kurang ramah.

“Yuk, saya antar kamu pulang,” kata Ivan.

“Kak.. saya jadi enggak enak, masa sudah datang malah pergi lagi?”

“Gapapa. Saya udah janji setelah antar kamu, saya balik ke sini.” kata Ivan santai.

Rupanya Mama dan Papa memang sudah sangat percaya pada Ivan. Mereka sama sekali tidak keberatan anak sulungnya ini dibawa pergi menginap keluar kota. Apalagi ternyata nenek juga menitipkan oleh-oleh untukku dan diterima dengan senang hati oleh Mama.

***

Keesokan harinya aku meminta Bhayu untuk bertemu denganku. Awalnya Bhayu menolak, tapi saat kuberitahu ini masalah Imel, dia akhirnya setuju. Sejak Mas Bima memberitahuku bahwa dia mengetahui keterlibatanku dengan kematian Om Herlan, aku jadi berusaha menghindari agar tak bertemu dengannya. Saat aku hendak berangkat bertemu Bhayu, aku memastikan dulu bahwa Mas Bima sedang tak ada di rumahnya. Tapi aku salah. Rupanya dia sudah menungguku keluar rumah.

“Wah, sekarang kamu sering jalan-jalan, ya?” tanyanya dari pintu gerbang rumahnya.

“Wah, sekarang Mas Bima lebih sering enggak ke kantor, ya? malah merhatiin tetangga..” balasku.

Mas Bima terkekeh. Entah apakah dia tersinggung dengan perkataanku atau tidak.

“Oh.. saya cuma inget kata-kata tukang survey yang sekarang jadi teman kamu itu. Dia bilang… yang dekat-dekat harus diawasi karena biasanya kriminal yang dekat di mata malah terlewat,” ujar Mas Bima dingin.

“Jadi Mas Bima nuduh saya pelaku kriminal, gitu?” tantangku.

“Saya enggak bicarain kamu, kok? apa kamu merasa?” ejek Mas Bima.

Aku mendengus dan meninggalkan dirinya. Tapi tiba-tiba Mas Bima menyambar lenganku dan mencengekeramnya.

“Sekarang kamu sudah punya calon korban baru ya? si tukang survey itu? lebih baik kamu urungkan niat kamu supaya enggak ada korban lagi seperti Herlan,” kata Mas Bima.

“Lepasin! Mas tolong kerja aja yang bagus. Banyak penjahat di luar sana. Mas digaji dari pajak buat nangkap perampok atau pembunuh! bukan buat nakut-nakutin tetangga!” tukasku tajam.

Wajah Mas Bima memerah. Dia tak bisa menahanku pergi lagi ketika Mbak Tika keluar rumah mendengar percakapan kami berdua. cepat-cepat aku berlari menuju pertigaan untuk menyetop angkot dan pergi secepatnya.

Walau masih sedikit kesal oleh perlakuan Mas Bima, aku bisa mengendalikan emosiku ketika berbicara dengan Bhayu di sebuah restoran cepat saji. Rupanya ideku untuk mempersatukan kembali Imel dan Bhayu membuatnya gusar.

“Gue emang kasihan sama Imel. Tapi lagi-lagi elo nentuin apa yang musti gue sama Imel lakuin! enggak bosen-bosen, ya?”

“Bukan gitu, Bhay.. gue merasa bersalah sama Imel. Kalian kan pernah dekat. Gue berharap kalau ini yang terbaik, gue rela kalau kalian kembali bersatu,” kataku.

Bhayu diam. Dia memandangi wajahku mencoba menyelidiki sesuatu.

“Bhay?”

Tiba-tiba Bhayu tertawa. “Ini bukan tentang gue atau Imel.. ini tentang elo gimana caranya supaya bebas dari gue, dan tanpa merasa bersalah elo bisa deket sama Ivan itu, kan?”

“Kok bawa-bawa Ivan sih?”

“Udah jelas elo tertarik sama dia, kan? kalau emang elo mau ngedeketin Ivan, fine! gue enggak bakal ngehalangin elo..”

“Bhay! bukan gitu! mana mungkin gue deket sama Ivan? apalagi dia keponakan Om Herlan!”

“Lah? Elo sekarang maksa gue balik lagi pacaran sama anaknya OM HERLAN? aneh!” bentak Bhayu.

Baru saja aku hendak mendebat Bhayu, ponselku berdering. Ivan meneleponku di saat yang kurang tepat.

“Halo, kak?”

“Rel? saya mau bicara sama tante Linda hari ini. Tapi saya perlu kamu juga di sana. Enggak usah bicara apa-apa kalau takut sama reaksinya, kamu bisa ke sini naik taksi?”

“Eh.. ehm.. kakak mau cerita sekarang?” tanyaku gugup. Terus terang aku takkan pernah siap menghadapi situasi seperti ini.

“Ya. Saya enggak mungkin ajak Bhayu walau dia terlibat. Saya enggak mau nimbulin trauma kembali buat teman kamu itu. Semakin cepat masalah ini selesai, semakin bagus kan?” tanya Ivan.

“Baik Kak.. saya ke sana,” ujarku pasrah.

“Nah! silakan elo datang ke rumah pacar baru elo! gue pergi…” kata Bhayu sambil mengambil jaketnya dan beranjak meninggalkanku.

“Bhay!” panggilku.

Namun Bhayu tak menggubris dan terus berjalan ke parkiran motor. Aku menghela nafas. Setelah Bhayu pergi, aku memanggil taksi. Kuberitahu sopir taksi alamat Tante Linda dan dia mengangguk.

Kurang lebih setengah jam kemudian aku tiba di rumah tante Linda. Setelah turun dari Taksi, aku mencoba menelepon Ivan. Lama menunggu nada sambung terdengar, Ivan tak juga menjawab teleponku. Aku mulai merasa cemas. Harusnya Ivan masih ada di rumah ini, pikirku sambil mengawasi rumah Tante Linda dari pinggir jalan. Kemudian aku melihat hal aneh, pintu rumah Tante Linda tampak terbuka separuh dan tampak kosong. Aku memberanikan diri mendekati rumah Tante Linda dan kembali menelepon Ivan.

Kubuka perlahan pintunya sambil mendengarkan nada sambung pada ponselku.

“Permisi… Kak Ivan? Tante?” panggilku. Namun tak ada jawaban.

Jantungku serasa mencelos saat kudengar nada dering ponsel Ivan berbarengan dengan nada sambung yang kudengar pada telingaku. Aku menoleh ke sekeliling rumah tante Linda mencari sumber bunyi itu berasal. Ketika kupastikan suara ponsel Ivan berasal dari sebuah ruangan, aku menghampirinya. Betapa terkejutnya aku melihat Ivan tergeletak di lantai tak jauh dari sebuah lemari. Beberapa barang yang nampaknya berasal dari lemari pajangan tersebut berserakan di sekeliling Ivan. Ivan tak bergerak.

“Kak! Kak Ivan!” panggilku sambil menghampiri tubuh Ivan yang terbujur kaku.

Aku bergidik ngeri ketika melihat darah mengalir cukup banyak dari belakang kepala Ivan dan mengenai telapak tanganku.

“Kak! bangun kak!” panggilku cemas.

“Jauhi orang itu!” ujar sebuah suara yang berasal dari pintu.

Aku menoleh. “Ma.. Mas Bima…?” tanyaku heran melihat dia sudah berada di rumah ini.

“Lepasin tangan kamu dan menjauh dari orang itu, CEPAT!” perintah Mas Bima sekali lagi. Kali ini dia menodongkan pistolnya.

“Bu.. bukan saya, mas.. bukan saya..” kataku ketika menyadari bahwa Mas Bima menyangka dirikulah yang menyebabkan Ivan terluka.

“Jelaskan nanti saja, sekarang angkat tangan kamu dan jangan bergerak…” kata Mas Bima sambil menghampiriku.

Aku tak bisa berbuat apa-apa dengan ancaman Mas Bima. Aku mulai menangis dan berharap sesuatu yang buruk tak menimpa Ivan…

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. oka says:

    ya elah bang masa ivannya matii,, baru juga nongol jadi beneran bhayu harrel ya… btw fbnya msh ke blokir ya.. hahh

  2. hydrilla22 says:

    Aduh kapannn nihh lanjutannyaa ga sabarr!
    Great storry bang remmyyy. Coba aja crita crita bang remy di angkat jadi film
    Jadi mantep banget tu
    Lanjutannya segera yaa!

  3. eka dwi pratama says:

    Semakin rumit, untuk kali ini susah ditebak, ditunggu deh bang kejutan berikutnya? Tapi kayaknya si bhayu tuh pelakunya gara2 cemburu ma ivan, salam kenal bang Rem…

  4. oka says:

    q curiganya sih bang remy yang bunuh ivan gara2 cembokur.. jhahahaha becanda bang bisa jadi kan pelakunya tante linda sekaligus orang yang nabrak suaminya sendiri. *pernah denger mas bima ngomong ma temennya soal mobil si* kkk q sotoy but klo tebakan q benar q dikasih apa bang

  5. kazekage says:

    Adoooh salah paham terus.. Salah apa ivan kok bisa ada yg jahatin gitu? Paraaah. Rumit dah.

  6. Mas says:

    Kayaknya harel dijebak oleh Ivan…
    Karena Ivan kayaknya pura2 baik sama harel..

  7. wawan kurniawan says:

    Ceritanya semakin seru dan menenggankan banyak kejadian”yg tak terduga

  8. oka says:

    bang yg mukul itu bhayu gara2 kartu memori apa tante linda yg udah tau soal bhayu ma lakinye “Bima semakin “heran. Apakah istri Herlan juga curiga dengan kematian suaminya dan menyuruh seseorang untuk memata-matai anak itu?” tebakan q yg td salah bang jd gak usah di cium,,, kli ini klo bnr q dpt doorprize ya..

  9. Tsu no YanYan says:

    Mas Bima.. Idih amit-amit! Bikin darah naek ke kepala!! Kezel!

    Aduh Harrel kena masalah lagi/.-

  10. arif says:

    paling sebel sama tokoh yg kurang pikir panjang lalu kena jebak atau jadi korban salah paham.

    hm. prediksiku, tidak berurutan (acak) :
    – sebelum harrel sampai, ivan cerita ke linda. entah sebelum atau sesudah nelpon harrel.
    – linda murka, ivan belain harrel.
    – linda & ivan terlibat perseteruan fisik.
    – linda nelpon bima.
    – linda kabur dan membiarkan pintu terbuka.

  11. Ray says:

    Nah lho nah lho, suspense
    Mangkin seru aja nih Mang Emy. Makasih buat apdetnya #cipokbasah :*

    Masbim ama si Baybay apaan dah :p

  12. dufei dejavu dua says:

    oh my god. Harrell terjebak

  13. blackshappire says:

    ehmm kyknya yg jahat disini ivan deh
    dia sengaja ngejebak harrel
    pasti adegan ivan ‘ngocok’in harrel itu direkam buat bukti ngejatuhin harrel

    kesian harrelnya 😦

    -edisi sok tau :v –

  14. bonbon says:

    gak sabar bagian 9 😥
    apa yg harus aku lakuin biar bag 9 ferbit besok bang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s