kartuuu_ori_II_7By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 7

“SAYA turun di sini aja, kak..” kataku ketika mobil Ivan sudah sampai di pertigaan jalan menuju rumah.

“Saya antar sampai rumah. Saya bantu jelasin kenapa kamu bisa enggak bisa dihubungi semalaman,” kata Ivan sambil terus mengemudikan sedannya.

“Kakak mau bilang apa emangnya? yang sebenernya? nanti mereka malah curiga, kak!” protesku.

Ivan tertawa. “Masa iya saya mau cerita begitu di depan orangtua kamu? belum apa-apa nanti saya udah diusir calon mertua..”

“Ca-calon mertua?” tanyaku kebingungan.

Ivan makin terbahak.

Kami tiba di depan rumah dan Ivan mengklakson dua kali sebelum mematikan mesin. Aku tercekat ketika melihat motor Bhayu terparkir di halaman rumah. Entah apa yang akan dia pikirkan bila melihat Ivan mengantarku.

“Harrel! Kamu dari mana aja? kenapa handphone kamu enggak bisa dihubungi? kamu enggak kayak biasanya!” sahut Mama ketika melihat kami keluar dari mobil.

“Ma.. maaf ma…” ujarku kebingungan mencari alasan. Aku makin gugup ketika papa juga ikut keluar menatap kami heran diiringi oleh Bhayu yang juga nampak terkejut melihat Ivan. Nico juga tak ketinggalan. Dia berdiri di pintu memandang kesal ke arahku.

“Biar saya jelasin, tante…” kata Ivan memotong pembicaraan.

Baik papa maupun mama menatap Ivan curiga. Bagaimanapun sungguh terlihat aneh melihat anak mereka kembali setelah tak bisa dihubungi semalaman dan diantar oleh orang asing.

“Boleh saya masuk?” tanya Ivan sopan memecah kekakuan di antara kami siang hari itu.

“Oh.. iya, nak. Silakan. Semoga penjelasan kamu bisa batalin niat saya menghukum anak ini…” kata mama sambil melirik tajam ke arahku.

Kulihat Bhayu. Wajahnya dilanda kebingungan yang amat sangat. Dia heran melihatku bersama Ivan setelah pertengkaran malam itu di rumahnya.

“Saya sampai terpaksa mencari alamat teman Harrel ke sekolah dan menghubungi nak Bhayu. Katanya Harrel sempat ke rumahnya semalam,” kata papa geram.

Aku melirik Bhayu dan melihat kekesalan di wajahnya. Dari tadi dia tak berbicara sepatah katapun. Nampaknya dia sedang menunggu-nunggu penjelasan dariku.

“Begini, Om.. Tante.. saya Ivan. Kakak sepupu dari Imel teman sekelas Harrel dan.. Bhayu..” jelas Ivan. Saat dia melirik ke arah Bhayu, anak itu mendadak gelisah.

“Imel.. bukannya dia itu…” tanya mama mencoba memastikan.

“Betul, tante. Imel teman anak tante yang ayahnya bunuh diri di depan sekolah. Tante pasti pernah dengar cerita itu kan? saya keponakan ayahnya Imel,” kata Ivan.

Mama menekap mulut. Dia tahu peristiwa itu karena aku yang menceritakannya dan menjadi salah satu kejadian tragis yang menjadi pembicaraan di kota kami.

“Saya kenal Harrel waktu ketemu di sekolah. Terus terang.. kondisi sepupu saya tidak bisa dibilang baik secara psikologis. Malam itu saya hendak ke rumah Bhayu. Karena saya tahu dia dulu pernah dekat dengan Imel. Mereka dulu pacaran..” lanjut Ivan.

“Benar gitu, nak Bhayu?” tanya papa pada Bhayu. Mama ikut menoleh ke arahnya.

“Eh, ehm.. benar, Om. Dulu saya dan Imel pernah pacaran…” kata Bhayu gugup.

“Waktu itu saya lebih dulu ketemu Harrel dan saya bertanya padanya mengenai hubungan Imel dan Bhayu. Setelah mendengar penjelasan Harrel, saya putuskan untuk tidak mengajak Bhayu menemui Imel.” kata Ivan.

“Memang bagaimana kondisi nak Imel, Van?” tanya mama penasaran.

“Dia terkena depresi.. Malu.. tertekan sama kejadian itu. Akhirnya dia tidak mau sekolah, menarik diri, dan gagal ikut ujian akhir… Saya pikir, bila saya ajak temannya ketemu dia, mungkin semangatnya akan ada lagi. Harrel semalam langsung setuju ikut. Saya sudah minta kabari ke rumah, tapi Harrel bilang dia akan jelasin semuanya kalau sudah sampai di rumah saja,” kata Ivan.

“Benar gitu, Harrel?” tanya papa.

“Benar, Pa.. maaf.. Harrel bingung mau bilang apa dan Harrel terlalu fokus buat ketemu Imel jadi lupa bilang ke mama papa…” ujarku berbohong.

Kulihat Nico mendengus. Dia pasti tak percaya dengan penjelasanku.

Mama menghela nafas. “Ya sudah.. kalau memang begitu ceritanya… Makasih ya, nak Ivan. Sudah antar Harrel pulang. Semoga keadaan Imel bisa lebih baik juga.”

“Justru saya yang minta maaf sudah bawa Harrel ikut tanpa beritahu orangtuanya,” kata Ivan dengan nada penuh penyesalan. Dia kemudian memasang senyuman andalannya hingga kulihat orangtuaku pun luluh pada pria tampan itu.

“Kalau begitu, kita makan siang dulu sama-sama, ya?” tawar mama. Dia sudah lebih tenang sekarang.

“Maaf tante, terima kasih.. tapi saya harus segera pergi,” tolak Ivan. Kulihat Mama sedikit kecewa.

“Oh.. kalau begitu, kapan-kapan mampir ya, nak.. kalau perlu sama Harrel buat ketemu Imel, jemput saja kemari,” tawar Mama.

“Iya tante, pasti. Oh iya, nomor handphone kamu berapa?” tanya Ivan padaku.

Ini pemerasan! aku sebenarnya tak ingin memberi nomorku pada Ivan. Kulihat Bhayu kembali menatapku kesal. Tapi aku tak punya pilihan lain. Masa iya aku menolak memberitahu nomorku di depan papa dan mama?

Aku menghela nafas. “Kosong delapan satu…” ujarku sambil menyebutkan nomor ponselku sementara Ivan memencet-mencet layar ponselnya sesuai dengan angka yang kusebutkan.

“Thanks..” kata Ivan sambil mengedipkan matanya padaku.

“Kalau begitu saya permisi dulu, Om.. tante..” sahut Ivan ramah sambil sedikit membungkuk sebelum pamit.

“Iya nak.. hati-hati nyetir mobilnya..” sahut papa.

Setelah Ivan pergi, kami berlima makan siang bersama. Aku terpkasa mendengarkan omelan mama tentang betapa dirinya sudah membuat orangtua cemas dan pentingnya memberi kabar jika hendak pergi. Aku cuma bisa diam mendengarkan.

Bhayu tidak langsung pulang. Aku tahu sedari tadi dia menunggu penjelasanku dan saat itu tiba ketika kami sudah berada di kamarku.

“Nah.. sekarang lo cerita yang bener. YANG BENERR!” hardik Bhayu.

Aku mendengus. Terus terang aku masih kesal padanya setelah dia memarahiku malam itu.

“Bisa enggak sih, kalau apa-apa itu enggak usah pake marah-marah?” balasku.

“Oh.. jadi gitu? sekarang tiba-tiba masalahin gaya gue yang suka marah-marah? Ivan itu udah ngasih apa ke elo, sih?” ujar Bhayu sinis.

“Bhay! Ivan itu keponakan Om Herlan! dia yang selama ini neror elo! sekarang dia udah ngerti masalahnya dan janji bakal berhenti neror kita!”

“Jadi elo cerita semua masalah kita ke orang asing?” tanya Bhayu.

“Memang mau elo gimana? terus diteror dia, gitu? padahal bilang terima kasih aja udah cukup… lagi-lagi gue yang harus beresin masalah elo…” kataku tanpa sadar.

Bhayu terdiam. Tampaknya dia terluka dengan perkataanku. Diamnya dia jauh lebih menakutkan daripada teriakan kemarahannya.

“Oh, jadi begitu? maaf kalau selama ini gue selalu ngerepotin dan nyeret elo ke masalah gue…” ucap Bhayu dingin.

“Bhay… maksud gue bukan gitu…”

“Elu gegabah… enggak ada yang minta elo selesain masalah gue sendirian,” ucap Bhayu.

“Gue terpaksa cerita! Ivan nyulik gue sepulang dari rumah elo.” kataku membela diri.

“Elo anak pintar, Rel! gue yakin elo pasti bisa cari cara buat lolos dari Ivan kalau mau. Setelah itu kita bicarain lagi,” kata Bhayu.

Aku diam.

“Lagipula kayaknya ada sesuatu yang elo nggak ceritain ke gue sejak kita ke sekolah hari itu,” selidik Bhayu.

“Mau bilang sekarang?” tagihnya.

“Sebenernya.. gue dapet beasiswa di Universitas BBB. Mereka suka dengan karya gue waktu jadi pemenang lomba ilustrasi,” ucapku.

“Gue sebenernya pengen ambil beasiswa itu.. tapi gue khawatir elo kecewa kita enggak sekampus… makanya gue enggak bilang,” lanjutku.

Bhayu kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya. “Dari mana elo tahu gue kecewa apa enggak kalau elo aja enggak mau cerita?”

“Tapi, Bhay…”

“Coba deh berhenti mutusin sendiri pendapat atau reaksi orang lain dan biarin mereka sendiri yang nilai… Ya ampun, Rel…” cerocos Bhayu.

“Bhay! gue ngelakuin ini buat kita! gue pengen elo seneng!”

“Enggak. Elo ngelakuin ini karena keinginan elo sendiri. Walau gue pengen kita kuliah di kampus yang sama, Lo pikir gue bakalan bahagia kalau tahu elo ngorbanin keinginan lo demi ngejaga perasaan gue? Bagaimana kalau gue tahunya dua atau tiga tahun lagi? lo pikir gue bakalan seneng dihantuin perasaan bersalah, hah?” ujar Bhayu.

Aku terhenyak mendengar perkataan Bhayu.

“Mulai sekarang. Tentuin keputusan elo sendiri. Gue enggak perlu orang lain lagi buat nyelesain masalah gue.. termasuk elo..” ucap Bhayu dingin.

Aku tak bisa mencegah Bhayu pergi. Dia lalu menghilang dari kamarku. Kudengar dia berpamitan pada orangtuaku dan semenit kemudian suara motornya berbunyi.

Aku berjalan menuju jendela. Kulihat Bhayu menggas motornya dan melihat ke arahku sekilas sebelum pergi dari halaman rumah.

Aku menjatuhkan diri ke ranjang. Kututup wajah dengan bantal dan berteriak kencang-kencang. Setelah puas melampiaskan kemarahan, aku mencari ponselku dan menghidupkannya. Rentetan SMS dari orangtuaku, Nico, Bhayu, serta pemberitahuan adanya panggilan telepon, memenuhi layar ponselku. Ada satu nomor tak kukenal yang mengirimkan pesan paling akhir.

Isi pesannya “Wah, sudah dapat lampu hijau nih dari calon mertua buat mampir antar jemput.. hehe… -Ivan-”

Walau masih sedih Bhayu pergi begitu saja, aku masih bisa tersenyum membaca pesan dari Ivan.

***

“Lapor Pak! hasil dari ruang printing sudah keluar,” kata seorang petugas polisi sambil menyerahkan satu buah amplop kertas
pada Bima.

“Baik. Terima kasih,” kata Bima.

“Oh iya, sudah ada kabar mengenai plat mobil yang saya kirimkan? siapa nama pemiliknya?” tanya Bima.

“Mobil sedan yang bapak foto itu nomor platnya tercatat atas nama Linda Sugandhi, pak..” kata petugas polisi itu.

“Linda Sugandhi?” tanya Bima. Dia rasanya pernah mendengar nama itu.

“Benar, pak. Linda Sugandhi alias Linda S. Handoko. Dia istri dari Herlan Handoko yang tewas dalam kasus bunuh diri itu,” jawabnya.

Bima semakin heran. Apakah istri Herlan juga curiga dengan kematian suaminya dan menyuruh seseorang untuk memata-matai anak itu?

“Saya permisi dulu, pak!” Petugas polisi berseragam itu lalu memberi hormat dan pergi meninggalkan ruangan.

Bima membuka amplop kertas itu. Isinya beberapa lembar foto. Tak salah lagi. Itu adalah foto Harrel dan Herlan di atas ranjang. Tampaknya Herlan geram seseorang memotretnya dalam keadaan setengah telanjang. Sementara Harrel tiduran di ranjang. Separuh badannya yang tampak tak memakai baju, tertutup seprai putih hingga dadanya.

Bima mencoba memutar otak. Apa yang terjadi dengan anak ini dan Herlan? apakah Herlan tewas karena perbuatannya? Jelas ada seorang lagi dalam ruangan itu. Dia yang memotret Herlan dan Harrel. Apakah siswa SMA dalam sobekan kertas itu adalah Harrel?

Untuk memastikan lagi, Bima mengambil kopian kertas bergambar pemuda yang sedang bermasturbasi itu dan mencoba membandingkannya dengan foto Harrel. Tidak, Tidak sama. Tubuh pemuda yang wajahnya terpotong itu lebih besar dari Harrel. Ada kemungkinan bahwa orang itu adalah Bhayu, teman dekat Harrel.

Bima menggebrak meja. Ini pasti kasus pemerasan. Dua anak itu memeras Herlan dan membuatnya malu sehingga dia memutuskan untuk bunuh diri. Bukan kebetulan kalau Herlan bunuh diri di depan kedua anak itu. Pantas saja reaksi Harrel datar-datar saja mengetahui ayah dari teman sekelasnya tewas. Brengsek! kedua remaja itu berbahaya… pikir Bima.

Lamunan Bima terganggu oleh suara ponselnya yang berdering. Rupanya Tika, istrinya yang menelepon.

“Ya, Ma?” jawab Bima.

“Mas! Saya tadi telepon Findra, dia udah dateng kok malah sekarang tinggal di hotel? Kenapa dia Mas?” tanya Tika.

“Eh.. euh.. masa?” tanya Bima gelagapan.

“Iya. Tolong jemput dia Mas, mungkin tadi dia datang enggak ada orang. Anak itu bukannya telepon saya malah nginep di hotel…”

Setelah mengiyakan dan mencatat nama hotel tempat Findra menginap, Bima segera meluncur menuju tempat itu. Bukan perkara sulit bagi Bima menemukan kamar tempat Findra menginap. Lencana polisinya membuat resepsionis dengan senang hati memberitahu Bima nomor kamar Findra.

Hotel itu bukanlah hotel yang mewah, namun cukup bersih. Kamar-kamarnya berderet rapi mengelilingi sebuah taman. Kunci-kuncinya masih memakai kunci biasa, tidak seperti hotel modern yang memakai kunci otomatis.

Tok!Tok!

Tak lama seseorang membuka pintu kamar. Melihat Bima yang berdiri di luar, Findra hendak menutup kembali pintu kamarnya, namun tenaga Bima yang lebih besar menahan dan mendorongnya hingga terbuka.

“Kenapa kamu malah tinggal di sini?” tanya Bima.

“Tiket kereta api mahal, saya mau balik naik bus besok pagi…” ujar Findra yang akhirnya mengalah dan membiarkan Bima masuk.

“Ayo.. kita ke rumah aja Fin.. liburan kamu kan masih lama…” bujuk Bima.

“Setelah Findra lihat apa yang Mas lakukan di rumah sebelah?”

“Oke.. Oke.. maafin Mas.. Mas memang sudah janji, mas akuin Mas salah… harusnya Mas lebih sabar nunggu kamu datang,” rayu Bima sambil memegang pundak Findra.

“Findra juga sebenernya enggak bisa larang Mas Bima.. toh, Findra juga sempet deket sama Mas Juna,” kata Findra.

“Oh, masih lanjut? bagaimana hubungan kalian?” tanya Bima.

“Kita bubar Mas, terus terang Findra enggak bisa ngelupain Mas Bima walau Mas Juna baik banget,” jawab Findra.

Bima lalu memeluk Findra. “Mas juga kangen sama kamu. Walau kamu masih marah sama Mas, kamu ikut Mas ke rumah ya?”

“Mas ngerayu karena kangen, atau susah ngejelasin ke mbak Tika kalau dia nanya kenapa Findra gak jadi nginep?” tanya Findra.

“Dua-duanya… tapi lebih banyak ke kangennya sih…” ujar Bima sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Findra dan mencium bibirnya.

Findra tak kuasa menolak dan membalas ciuman Bima.

“Mas.. masih jam kerja ini.. lagian mas abis main sama anak itu tadi pagi, belum mandi kan?” tolak Findra.

“Kalau gitu, kita bikin cepet aja ya? sambil mandi..” kata Bima sambil melepas jaketnya, lalu kaus dan celananya hingga telanjang bulat. Dia lalu membantu Findra membuka bajunya sambil sesekali menggelitiknya hingga Findra tertawa geli.

Keduanya lalu kembali berciuman dan menuju kamar mandi. Bima dan Findra melanjutkan cumbuan mereka di bawah shower. Bima menekan tubuh Findra ke dinding sambil menciumi leher dan pundaknya. Findra menggeliat dan mendesah menikmati cumbuan Bima. Dia lalu balas mencium Bima dan berlutut hendak memberikan servis oral. Namun Bima menolak. Dia mengangkat kembali Findra lalu membalik badannya dan menghimpitnya kembali ke dinding.

Findra merintih ketika telapak tangan Bima menggosok belahan pantatnya berulang kali di bawah guyuran air. Setelah merasa Findra cukup rileks, Bima lalu memutar keran shower hingga alirannya mengecil. Kemudian Bima berlutut dan membuka belahan pantat Findra dan meludah beberapa kali tepat pada pembukaan anusnya. Findra mendesis ketika Bima meremas-remas bongkahan pantatnya dan kembali berdiri.

Setelah itu, Bima kembali menciumi pundak Findra dan menggenggam penisnya, lalu mengarahkannya tepat pada anus Findra yang sudah licin oleh liurnya.

“Aaahh…” erang Findra ketika kepala penis Bima mulai memasuki anusnya. Matanya masih terpejam sementara tangannya menekan dinding keramik kamar mandi mencoba menahan dirinya agar tak bergerak.

Sambil terus mendorong penisnya masuk semakin dalam, Bima menjilati telinga Findra yang basah oleh air. Dipeluknya pemuda itu sambil meremas dadanya. Findra serasa lumer dalam dekapan Bima dan menikmati setiap lekukan otot polisi itu.

Setelah berhasil membuat seluruh batang penisnya masuk dalam anus Findra, Bima mulai menggenjotnya perlahan lalu semakin cepat.

“Mass….” gumam Findra saat tubuhnya bergoyang-goyang akibat desakan tubuh Bima yang masih menghimpitnya pada dinding kamar mandi.

Tusukan demi tusukan penis Bima membuat Findra lemas sambil mencengkeram lengan kekar Bima yang melingkari tubuhnya. “Hh.. mas… hhh….” desahnya.

Bima menggeram. Sudah lama dia kangen ingin menyetubuhi anak ini. Tak disia-siakan kesempatan itu untuk melampiaskan keinginannya dan kerinduannya pada Findra.

Bima lalu menurunkan salah satu lengannya dan mulai mengocok penis Findra. Findra memekik panjang ketika kocokan tangan Bima membuat penisnya yang tegang itu akhirnya tak tahan lagi menyemburkan isinya.

Melihat Findra yang sudah mencapai orgasme, Bima menggenjot penisnya semakin cepat. Dia meremas lengan Findra kuat-kuat saat tubuhnya bergetar hendak melontarkan peluru cair panas ke dalam tubuh Findra.

Bima menggeram dan melenguh ketika mencapai orgasme. Keduanya lalu terengah-engah dan menyandarkan diri ke dinding. Findra menciumi lengan Bima yang masih memeluknya sementara Bima berterima kasih pada Findra dengan menciumi lehernya dengan lembut.

“Ikut mas ke rumah ya?” tanya Bima pelan.

Findra mengangguk.

****

Pagi itu masih liburan sekolah. Aku sudah selesai mandi. Tak ada kegiatan apapun hari ini. Biasanya Bhayu akan mengajakku main keluar, atau menjemputku ke rumahnya seperti biasa kalau liburan akhir pekan. Tapi karena kami sedang bertengkar, Bhayu sama sekali tidak menghubungiku atau sekedar mengirim kabar.

Ponselku tiba-tiba berbunyi. Ivan yang menelepon.

“Halo, kak?” sapaku.

“Pagi, Rel!”

“Pagi, Kak..”

“Ucapan saya soal menjenguk Imel itu sebenarnya serius loh. Kamu mau ikut saya hari ini?” kata Ivan.

“Imel? bukannya dia tinggal sama neneknya Kak? terus terang saya belum berani ke rumah Om Herlan kalau Imel ada di sana…”

“Iya. Imel di rumah nenek. Jaraknya sekitar tiga jam dari sini, kalau kita berangkat pagi, kita enggak perlu nginep,” kata Ivan.

“Ngg… ngg…” sahutku ragu.

“Oke. Memang saya rasa kamu pasti masih canggung ketemu Imel setelah semua kejadian ini, tapi saya minta bantuan kamu supaya dia ngerasa masih ada temannya yang peduli. Bagaimanapun dia temen sekelas kamu kan? mau?” bujuk Ivan.

“Iya deh kak… saya siap-siap dulu ya?” kataku.

“Bagus. Udah mandi, kan?”

“Udah kak..”

“Sip. Cepetan ganti baju, saya udah ada di dekat rumah kamu…” kata Ivan. Tak lama suara klakson mobil terdengar. Aku membuka jendela dan Ivan sudah ada di depan gerbang berdiri di samping mobilnya sambil menggenggam ponsel.

Aku tersenyum dan melambaikan tangan padanya. Segera aku berganti pakaian dan mengambil tasku. Aku berpamitan pada Mama sebelum pergi dan melihat Ivan yang menjemputku, Mama tak keberatan aku pergi bersamanya.

“Kasih kabar kalau sampai nginep, ya?” kata Mama mengingatkan.

Aku mengangguk. Kami berdua lalu masuk ke dalam mobil. Ivan tertawa. “Nah, mama mertua udah ngizinin saya bawa kamu nginep tuh.. harus dimanfaatkan nih,” ujarnya nakal.

“Ish! kakak sembarangan!” sungutku.

Baru saja Ivan hendak menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba sebuah suara menyapanya dari samping mobil.

“Wah.. ada apa ini? kamu sekarang akrab sama tukang survey rumah yang kemarin ganggu kamu?” tanya Bima. Wajahnya tersenyum tapi tak bisa menghilangkan tatapannya yang mengejek.

“Selamat pagi pak Polisi…” kata Ivan ramah.

“Tau nggak, Rel? kemarin seisi rumah panik nyari kamu, loh…” kata Bima.

“Iya Mas.. kemarin memang saya ada urusan dan baru balik siang…” kataku gugup.

Bima lalu mengangguk-angguk. “Jadi… masalah di antara kalian sudah selesai? kamu sudah enggak survey lagi?”

“Selesai, pak. Ini cuma salah paham saja. Kalau bapak izinkan, kita mau segera pergi…” ujar Ivan tenang.

“Saya mau bicara dulu dengan Harrel, boleh?” tanya Bima ramah namun ada nada paksaan di situ. Akupun tak punya pilihan lain selain menurut.

“Sebentar ya, Kak,” kataku sambil keluar dari mobil.

Bima lalu melangkah menjauhi mobil Ivan dan aku mengikutinya. Tiba-tiba setelah kami cukup jauh, Bima mencengkeram lenganku.

“Denger, ya! mulai sekarang saya akan awasin kamu. Saya yakin kamu terlibat dalam kematian Herlan. Sebaiknya sebelum semua jadi semakin susah, kamu mengaku saja,” ucap Bima.

“Mas..! apa-apaan sih?” protesku kesal. Terus terang aku agak khawatir melihat Mas Bima yang tampaknya mencurigai keterlibatanku pada kasus itu.

“Dibalik wajah polos kamu saya yakin ada otak jahat di dalamnya…” ujar Bima lagi.

“Mas! aku enggak ngerti mas ngomong apa!”

“Eh, Harrel… mau berangkat pagi-pagi?” tanya suara Mbak Tika yang baru saja datang membawa belanjaan.

Melihat istrinya datang, Bima terpaksa melepaskan cengkeraman lengannya padaku. Kesempatan ini tak kusia-siakan.

“I.. iya mbak.. saya sudah ditunggu teman.. pergi dulu ya, mbak, mas..” kataku sambil berlari kembali ke mobil Ivan.

Kulirik Mas Bima. Dia menatapku galak mengawasiku yang pergi menjauh. Sesampainya di mobil, aku mengelus lenganku yang terasa sakit akibat cengkeraman Mas Bima.

“Polisi itu mau apa?” tanya Ivan.

“Nanti saya ceritain kak.. kita jalan cepetan…” pintaku.

Ivan menuruti saranku dan segera menyalakan mesin mobilnya. Aku memandang keluar mobil. Terdiam dan bertanya-tanya. Apa saja yang sudah diketahui Mas Bima tentangnya….?

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. adamx says:

    runyam ya.

  2. Lorenzo Alfredo says:

    Aduh…mas Bima mulai curiga.Gawat!!!

  3. blackshappire says:

    pertamax gak yaa…

    ohh ceritanya bertambah pelik, makin suka deh ma bang remy, eh maksudnya ma cerita ini :v

    moga2 cerita BhaRel ini kelar sebelom maret, pan klo maret bang remy sibuukkkk

  4. oka says:

    terkadang q merasa tiap bagiannya itu kurang panjang bang… soalnya q pengen baca terus.. jangan lama2 update nya ya

  5. Marvel says:

    Paling menyentuh pas bagian harel bertengkar sama bayu, bayu sensi juga ternyata
    Kalo bisa mereka jangan di pisain donk bang

  6. arif says:

    kok rasa2nya mamanya harrel sudah tau anaknya binan ya..

  7. AnakSulsel says:

    Wah makin suka ceritanya. Tunggu konflik selanjutnya dari Bima n Harrel. Thanks Bang Remy,
    Salam Penulis!!! Salam Anak Sulsel!!!

  8. Tsu no YanYan says:

    Ihh mas Bima nyolot banget! Kezel kezel

    Findra baik banget ckckck #peluk

  9. blackshappire says:

    hapal donk, pan aku penggemarnya bang remy
    jd musti tau apa apa soal bang remy

    ftonya abang pun ada di hape ku *upsss
    :3 :v

  10. Yuzalby says:

    Wah seru yahh, di tunggu part slnjut Ñýά, suka dgn cerita ini 🙂

  11. jul says:

    waaaah runyam sekali!
    tapi aku kalo jadi harrel bakal milih ivan hahaha bikin senyum2 sendiri tuh kalo ivan bilang “calon mertua” haha

  12. Anonim aja says:

    ini ceritanya keren!
    genrenya beda, romantis tpi gk melankolis. kalo yg ahli dalam “perceritaan” mungkin cerita cinta gini dikasih bumbu misteri, detektif dsb yg saya gk tau namanya.

    di bagian ini, Bima & Findra memulai debut lg ya? hmm oke sih, mungkin TS gk mau bagian Bima & Findra mengambil terlalu banyak tempat di cerita ini ya? soalnya “persoalan” Bima & Findra cpt bgt selesainya, jdi si Findra keliatan gampangan :p

    saya sih berharapnya Harrel sma Ivan, hahaha..
    cuman apa boleh buat, si TS berkata lain.
    mending kita tunggu saja ya 😀

  13. Ray says:

    Mas Bima modus tuh, pasti pengen nyicipin Harrell juga kan? Hayo ngaku 😀
    Findra oh Findra, udah maen derama-deramaan, ujung-ujungnya tetep aja ya kagak bisa menolak pesona mas polkis. Ah elah 😀

    Blow, eh good job bang emy :*

  14. genre says:

    bang remy harrel sm ivan aja aku lbh sk harrel sm ivan ktimbang sm bhayu ini cm saran aja sih bang :):)

  15. dufei dejavu dua says:

    semakib cetarrrr membahenol

  16. nando says:

    keren binggo niih cerita, mlai chapter 1 sampe sekarang aku bacain trus jalan ceritanya. kapan niih chapter 2 bag 8 ???

  17. mike andrean says:

    lanjutannya jgan lama2 ya bang remy

  18. jajaka sunda says:

    keren ka hadh konfliknya makin memanas aja nih ditunggu ya selanjutnya jgn lama” hehe
    love u bang remy
    berharap juga bang remy mw lanjutin “cinta sekedr ping” ksh 10 eps aja bang buat the end

    • regular walker says:

      Bang itu si mas bima mo nyelidikin kasus kok pakek kasih peringatan gitu ke tersangkanya? Tambah susah dong diselidikinya…

  19. kiem cuemy says:

    ih bima hrz dperkosa rame rame kyakny to bkn emosi j…jd makin seru crtny lanjt dnk jgn kelamaan

  20. ardi john says:

    akhirnya nanti saling tahu. trus gang bang deh…. *otak ngeres*

  21. marco69 says:

    keren.. Seru banget ceritanya

  22. Fei says:

    uyeeee…

  23. ibe says:

    Dasar polisi, sifat arogan sama sok tahunya keliatan banget. Pas banget Bang buat Mas Bima.
    Keep writing Bang Remi :*

    • Anonim aja says:

      itulah kenapa gw males pacaran sma polisi, mau menang sendiri, egois dn terlalu mendominasi atas semuanya? #eh? kok jadi #Curhat??

  24. riurio says:

    bagus bang ceritanya
    ditunggu selanjutnya tpi jangan lamalama yaah 🙂

  25. ahmad doank says:

    penasaran dengan nasib bayu

  26. vrans says:

    Kapan lanjutan nya,udah gx sabar ne,kak

  27. jajaka sunda says:

    bang ayo bang lanjut

  28. arif says:

    pada mojokin mas bima.

    ketahuan sensi sama polisi.

    pada sering kena tilang ya? lol.

  29. arif says:

    lanjutannya (biasanya sih) minggu malam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s