Archive for February, 2015

kartuuu_ori_II_9By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 9

BIMA masih menduga-duga maksud dibalik foto Harrel dengan Herlan yang didapatkannya dari kamera digital milik Harrel. Apakah Herlan menjadi korban pemerasan pemuda itu sehingga dia menjadi malu dan memutuskan bunuh diri? apakah hari itu sebenarnya Herlan hendak mengkonfrontir Harrel di sekolahnya setelah tak tahan diperas terus-menerus namun sial baginya, Herlan malah tewas ditabrak mobil?

Pagi itu dia sengaja menunggu Harrel keluar dari rumahnya. Dicegatnya remaja itu dan sengaja memancing reaksinya. Benar saja. Harrel menjadi gusar dan melontarkan kata-kata tak enak padanya.

“Mas tolong kerja aja yang bagus. Banyak penjahat di luar sana. Mas digaji dari pajak buat nangkap perampok atau pembunuh! bukan buat nakut-nakutin tetangga!” umpat Harrel.

“Loh? kenapa ini, mas? mas berkelahi sama Harrel?” tanya Tika. Istri Bima keluar setelah mendengarkan perdebatan antara suaminya dengan Harrel.

Bima tidak menjawab. Dia mengawasi Harrel yang berlari menuju pertigaan dan akhirnya hilang bersama angkot yang ditumpanginya.

Setelah menenangkan isrtrinya bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan, Bima kembali ke dalam rumahnya. Tak lama ponselnya berdering.

“Halo?” sapanya.

“Pagi, pak! Kita sudah dapat laporan terbaru. Mobil atas nama Linda Sugandhi alias Linda Handoko itu dipakai oleh seorang pria. Kami sudah menyelidiki mobil itu dibawa ke sebuah apartemen yang sepertinya tempat tinggal pemuda itu.”

“Sudah dapat identitasnya?” tanya Bima. Pikirannya langsung tertuju pada pria yang mengaku sebagai tukang survey dan sering mengunjungi Harrel.

“Namanya Ivan. Sepertinya dia keponakan Ibu Linda dan Pak Herlan. Itu saja yang baru bisa kami dapat, pak!”

“Baik, terima kasih untuk laporannya,” tutup Bima. (more…)

kartuuu_ori_II_8By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 8
SUDAH satu jam perjalananku bersama Ivan dalam kendaraan namun aku masih belum menceritakan apa yang aku bicarakan dengan Mas Bima sebelum kami berangkat. Rupanya Ivan masih bersabar menunggu. Aku akhirnya bercerita.

“Tadi.. Mas Bima bilang dia sudah tahu keterlibatan saya dengan kematian Om Herlan,” kataku.

Ivan masih terus menyetir memandang lurus ke depan dan bergumam. “Hm… sudah sejauh mana yang dia tahu?” tanyanya.

Aku menggeleng. “Enggak tahu, kak.”

“Saya pikir sebaiknya kamu siap-siap ceritakan semua pada polisi itu daripada masalah ini makin runyam,” saran Ivan.

“Saya enggak mau semakin banyak orang yang tahu masalah ini, kak,” kataku.

“Saya juga bingung bagaimana cerita ini ke Tante Linda. Saya masih khawatir dengan reaksinya,” kata Ivan.

“Harus ya, kak? cerita ke Mamanya Imel?” tanyaku.

“Kamu mau sampai tante Linda penasaran terus-terusan dan nyuruh orang lain nyelidikin kalian?” tanya Ivan.

Aku terdiam. Ivan ada benarnya juga. Kasus ini ternyata masih meninggalkan petunjuk mengenai kematian Om Herlan. Bukan cuma Ivan, Tante Linda, kini Mas Bima pun ikut-ikutan curiga.

Dan sekarang, aku malah harus bertemu dengan Imel. Bagaimanapun aku masih menyimpan rasa bersalah. Bukan hanya kematian ayahnya yang mungkin disebabkan oleh perbuatanku menjebaknya di hotel, tapi lebih karena aku telah berani mendekati Bhayu ketika dia dan Imel masih berstatus pacaran. Aku lalu menoleh ke arah Ivan. Wajahnya memang terlihat tenang, tapi aku juga ingat kembali bahwa dia terpaksa mengambil alih bisnis om Herlan demi membalas budi dan melupakan keinginannya berpetualang keliling Indonesia. Dan itu membuatku semakin merasa bersalah.

Aku menutup wajahku sambil menghela nafas berkali-kali.

“Kenapa?” tanya Ivan.

“Semua ini enggak akan terjadi kalau saya enggak ngedeketin Bhayu…” kataku. (more…)

kartuuu_ori_II_7By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 7

“SAYA turun di sini aja, kak..” kataku ketika mobil Ivan sudah sampai di pertigaan jalan menuju rumah.

“Saya antar sampai rumah. Saya bantu jelasin kenapa kamu bisa enggak bisa dihubungi semalaman,” kata Ivan sambil terus mengemudikan sedannya.

“Kakak mau bilang apa emangnya? yang sebenernya? nanti mereka malah curiga, kak!” protesku.

Ivan tertawa. “Masa iya saya mau cerita begitu di depan orangtua kamu? belum apa-apa nanti saya udah diusir calon mertua..”

“Ca-calon mertua?” tanyaku kebingungan.

Ivan makin terbahak.

Kami tiba di depan rumah dan Ivan mengklakson dua kali sebelum mematikan mesin. Aku tercekat ketika melihat motor Bhayu terparkir di halaman rumah. Entah apa yang akan dia pikirkan bila melihat Ivan mengantarku.

“Harrel! Kamu dari mana aja? kenapa handphone kamu enggak bisa dihubungi? kamu enggak kayak biasanya!” sahut Mama ketika melihat kami keluar dari mobil.

“Ma.. maaf ma…” ujarku kebingungan mencari alasan. Aku makin gugup ketika papa juga ikut keluar menatap kami heran diiringi oleh Bhayu yang juga nampak terkejut melihat Ivan. Nico juga tak ketinggalan. Dia berdiri di pintu memandang kesal ke arahku.

“Biar saya jelasin, tante…” kata Ivan memotong pembicaraan.

Baik papa maupun mama menatap Ivan curiga. Bagaimanapun sungguh terlihat aneh melihat anak mereka kembali setelah tak bisa dihubungi semalaman dan diantar oleh orang asing.

“Boleh saya masuk?” tanya Ivan sopan memecah kekakuan di antara kami siang hari itu.

“Oh.. iya, nak. Silakan. Semoga penjelasan kamu bisa batalin niat saya menghukum anak ini…” kata mama sambil melirik tajam ke arahku.

Kulihat Bhayu. Wajahnya dilanda kebingungan yang amat sangat. Dia heran melihatku bersama Ivan setelah pertengkaran malam itu di rumahnya.

“Saya sampai terpaksa mencari alamat teman Harrel ke sekolah dan menghubungi nak Bhayu. Katanya Harrel sempat ke rumahnya semalam,” kata papa geram.

Aku melirik Bhayu dan melihat kekesalan di wajahnya. Dari tadi dia tak berbicara sepatah katapun. Nampaknya dia sedang menunggu-nunggu penjelasan dariku.

“Begini, Om.. Tante.. saya Ivan. Kakak sepupu dari Imel teman sekelas Harrel dan.. Bhayu..” jelas Ivan. Saat dia melirik ke arah Bhayu, anak itu mendadak gelisah.

“Imel.. bukannya dia itu…” tanya mama mencoba memastikan. (more…)