kartuuu_ori_II_6By: Abang Remy Linguini @bangremy

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 6

“Mas Bima lagi apa di kamar kak Harrel?” Tanya Nico lagi.

Bima berusaha menyembunyikan kamera digital milik Harrel di balik punggungnya.

“Eh, ehm.. tadi orangtua kamu bilang kakak kamu enggak pulang semalaman. Handphonenya juga enggak aktif,” terang Bima.

“Terus?” selidik Nico sambil berjalan mendekati Bima.

Bima buru-buru mengeluarkan kartu memori pada kamera digital itu dan meyelipkannya pada saku belakang celana jeansnya lalu diam-diam meletakkan kembali kamera itu di lemari Harrel.

“Sekarang orangtua kamu ke sekolah kakakmu.. cari tahu teman-temannya yang bisa dihubungi. Lantas ibu kamu titip kunci ke saya, jadi saya sekalian periksa kamar kakak kamu,” kata Bima.

Nico mendadak tampak tak bersemangat. Dia menjatuhkan ranselnya ke lantai.

“Semua pedulinya sama Kak Harrel. Mentang-mentang kakak itu anak baik dan pintar. Kalau aku pergi lama mana ada yang peduli?” keluh Nico.

“Masa begitu sih? mana ada orangtua ngebedain anak-anaknya?” hibur Bima.

“Ini juga.. Mas Bima.. Kirain kangen sama aku. Trus nyariin kamar aku…” Kata Nico sambil duduk di atas ranjang.

“Hahaha.. kamu ini ada-ada aja. Pake kangen-kangenan segala,” kata Bima.

Tapi rupanya Nico serius. “Pasti karena Kak Harrel lebih ganteng dari aku, makanya semua orang lebih suka kakak..”

Bima meneguk ludah. Dirinya memang agak lemah menghadapi remaja pria apalagi yang tampan. Mungkin seperti saat dia tertarik pada Findra, adik sepupu istrinya. Terus terang, Bima sudah berjanji pada Findra tak akan mencari “brondong” lain selain dirinya. Tapi tinggal cukup lama di samping rumah kedua remaja ini membuat dirinya tergoda.

Baik Harrel maupun Nico, Bima akui keduanya adalah remaja tampan yang menarik. Bila Harrel tampak tenang dan terkendali, Nico sebaliknya. Dia sadar dirinya tampan. Dia tak sungkan menebarkan pesonanya pada siapa saja termasuk tak canggung menggoda dirinya. Beberapa kali membonceng Nico, dia tak ragu melingkarkan tangannya di pinggang Bima. Bima tak mengerti apakah kedua orangtuanya tahu bahwa kedua anak remaja mereka memiliki kecenderungan menyukai sesama jenis. Yang pasti, Bima pernah melihat Harrel bercumbu dengan temannya yang bernama Bhayu. Sedangkan Nico? Bima tertantang untuk mencari tahu.

“Kata siapa kamu enggak ganteng?” ujar Bima pelan. Dia lalu duduk di sebelah Nico yang menatapnya takjub.

Keduanya bertatapan cukup lama sebelum Nico maju dan melumat bibir Bima sambil merangkul pundaknya. Bima tak mau kalah. Dia menarik tubuh Nico dan mendekapnya erat-erat hingga remaja itu merintih pelan sambil balas melumat bibirnya. Kerinduan Bima mencicipi tubuh remaja pria setelah lama tak berjumpa Findra rupanya tak bisa dia tahan lagi. Godaan dari tubuh remaja Nico membuatnya mabuk kepayang.

Bima menarik kaus Nico dan meloloskannya dari kepalanya. Dipegangnya lagi pinggang ramping pemuda itu dan diangkatnya ke pangkuannya. Terdengar gumaman tak jelas Nico dari mulutnya yang penuh oleh lidah Bima yang menyelusup ke dalamnya. Tangan Nico cekatan menarik jaket kulit Bima lalu gilirannya meloloskan kaus polo Bima dari kepalanya. Saat keduanya sama-sama bertelanjang dada, mereka berhenti bercumbu selama beberapa saat sambil terengah-engah dan bertatapan takjub. Nico masih merangkul pundak kekar Bima sementara pantatnya yang duduk di pangkuan paha Bima merasakan gundukan yang mengeras di balik celana jeans Bima. Nico tersenyum penuh arti.

Nico lalu menciumi leher Bima dan beringsut semakin ke bawah. Tak lupa dia mengagumi tubuh atletis polisi itu dan memberikan pujian yang cukup lama pada barisan sixpacknya dengan cara memberikan ciuman berkali-kali pada daerah itu. Bima mendesah sambil mengusap kepala Nico dan memain-mainkan rambutnya. Sesekali Bima mendesis sambil meremas rambut Nico ketika cumbuan remaja itu berhasil menemukan titik sensitif Bima. Kepala Nico kini berada di antara kedua belah paha Bima. Dia lalu membuka celana jeans Bima dan mengeluarkan gundukan keras yang sudah memberontak ingin keluar dan dipuaskan.

“Akh…” erang Bima ketika Nico tanpa ragu melahap penisnya ke dalam mulut hingga terasa lembab dan hangat oleh permainan lidahnya. Dia menatap wajah Nico yang seperti asyik mendapatkan mainan baru dan benar-benar menikmatinya. Nafas Bima naik turun dan terdengar berat. Penisnya kini sudah terasa sangat panas dan basah.

Kemudian Bima berdiri dan mengangkat Nico. Dibantingnya pemuda itu ke atas ranjang. Lengan Bima menarik celana panjang Nico hingga dirinya telanjang bulat. Sambil menggeram, Bima mulai menindih tubuh Nico. Nico menggeliat ketika tubuh Bima yang lebih besar darinya membuatnya sedikit sesak. Diangkatnya punggungnya agar dirinya lebih leluasa ketika giliran Bima menciumi tubuhnya. Nico menggelinjang hebat ketika rambut tajam dan pendek pada atas bibir dan dagu Bima menggesek kulitnya saat Polisi itu mencumbunya. Nico serasa terbang di awang-awang ketika lidah Bima secara bergantian menjilati rakus putingnya.

“Ngghh… ummmhh…” gumam Nico kegelian sekaligus merasakan enak.

Bima menggeram sambil terus mencumbu kulit mulus Nico semakin ke bawah. Nico terus mendesah nikmat. Sesekali tangannya berusaha meraih kepala Bima namun pria itu menepisnya untuk menggoda Nico. Bima lalu berlutut di atas lantai tepat di hadapan selangkangan Nico. Dibukanya paha Nico lebar-lebar dan mulai mengulum penisnya. Nico mendesis semakin kencang. Dia meraba-raba dadanya sendiri sambil memejamkan mata.

Tiba-tiba erangan Nico semakin kencang ketika lengan Bima mengangkat kedua paha Nico tinggi-tinggi dan mulut Bima dengan rakus menjilati pantat Nico.

“Ouuuuh….. Maaaaaaas…….” erang Nico panjang. Nafasnya terengah-engah bercampur rintihan kenikmatan ketika lidah Mas Bima bermain-main lincah pada pintu lubang anusnya. Sensasi itu semakin hebat dirasakan Nico ketika rambut wajah Bima yang tajam itu menggosok-gosok kulit sensitif Nico.

“Ah.. Mas.. Ngggh…” gumam Nico sambil terus menggelinjang.

Bima lalu menggeram dan meludah beberapa kali pada anus Nico dan memijatnya dengan jari beberapa lama. Nico menggigit bibirnya. Jantungnya berdegup kencang karena dia tahu tak lama lagi, anusnya akan dimasuki oleh penis Bima yang sudah sangat keras itu.

Bima lalu bangkit dan membuka paha Nico semakin lebar. Digenggamnya penisnya sambil menatap wajah Nico dengan tatapan tajam.

“Awh.. pelan-pelan ya, mas.. Akhh…!” pekik Nico ketika Bima mulai mendorong masuk penisnya ke dalam anus.

“Enggh.. Nngghh…” desah Nico yang kewalahan berusaha menyesuaikan diri dengan batang penis Bima yang perlahan terus melesak masuk ke dalam anusnya.

Nafas Nico yang awalnya tak beraturan mulai tenang. Bima menghentikan gerakannya ketika dirasakannya seluruh batang penisnya telah berada di dalam anus Nico. Otot dinding anus Nico yang berdenyut-denyut karena mencoba menyesuaikan diri dengan benda asing di dalamnya, membuat Bima serasa dipijat. Dia menggeram sesaat sambil menunduk. Diciuminya wajah dan leher Nico seolah memuji ketabahannya dan menyemangatinya agar bersiap dengan genjotan yang akan dilakukan berikutnya.

Perlahan Bima mengangkat kaki Nico dan melingkarkannya pada pinggangnya. Dimundurkannya pantatnya perlahan lalu dengan gerakan cepat dihentakannya kembali hingga penis itu melesak kembali ke dalam anus Nico.

Nico memekik namun Bima tahu, pekikan itu bukan karena kesakitan. “Ouuwhh..!” rintih Nico sambil mengetatkan rangkulan lengannya dan himpitan pahanya.

Menyadari Nico bisa bertahan dengan genjotannya, Bima mengulanginya lagi. Kali ini lebih cepat dan lebih ganas. Tubuh Nico terlonjak-lonjak di bawah tubuh Bima. Bima menggeram dan melenguh menikmati jepitan anus Nico pada penisnya yang tanpa ampun menghajar pemuda itu berkali-kali.

“Ngh! Ngh! Akhh! hhh..!” pekik Nico berulang-ulang. Pekik kesakitan bercampur nikmat tiada tara. Dia mengusap dada bidang Bima dan mencengkeram lengan pria itu yang terus menggeram sambil tanpa henti menggenjot penisnya keluar masuk pantat Nico.

Rintihan Nico semakin menjadi. Dia mencengkeram kuat-kuat lengan kekar Bima yang sudah basah oleh keringat. Tampak tak ada tanda-tanda Bima sudah akan mengakhiri “siksaan”nya pada Nico. Tubuh Nico gemetar. Tampaknya genjotan penis Bima berhasil menstimulasi prostat remaja itu dan juga gairahnya. Nico menatap wajah Bima seperti ingin menangis. Dia tak menyangka entotan Bima membuatnya segera mencapai orgasme tanpa harus menyentuh penisnya.

“Mas.. aku udah mau keluar…” rengeknya tak rela.

“Keluarin aja Nic.. Mas mau lihat..” kata Bima sambil terus bergerak di atas tubuh Nico.

“Ngggh….” tubuh Nico bergetar hebat. Desahan panjang yang keluar dari mulutnya mengiringi semprotan cairan sperma yang keluar dari penisnya dan membasahi perutnya dan juga perut Bima. Nico menggeliat tak nyaman sambil terus merintih. Karena dia mencapai orgasme terlebih dahulu, dia kini merasa sedikit sakit saat penis Bima terus menerus merojok anusnya.

“Mas… cepet keluarin mas.. sakit…” rengeknya.

Bima merasa tak tega mendengar keluhan Nico walau dia masih ingin menikmati permainan itu lebih lama. Lalu dia mempercepat gerakannya dan mengerang panjang sambil memegangi pinggang Nico. Tubuh Nico semakin kencang terguncang-guncang di atas ranjang. Dia ikut memekik ketika Bima menggeram panjang sambil menyemburkan cairan spermanya di dalam anus Nico. Tubuh Bima yang berpeluh ambruk di atas Nico. Keduanya mengatur nafas sambil berciuman lembut.

“Akhirnya datang juga hari yang aku tunggu sejak dibonceng pertama kali sama Mas Bima…” ucap Nico lirih.

Bima tersenyum sambil mengusap dahi Nico yang basah oleh peluh.

Keduanya lalu berpakaian dan cepat-cepat membereskan semua jejak pertempuran mereka di kamar Harrel. Nico tidak menyadari bahwa Bima sebenarnya berhasil mengambil kartu memori dari kamera digital Harrel. Karena Nico sudah ada di rumah, tak ada kewajiban bagi Bima untuk menyimpan kunci rumah keluarga Harrel. Dia lalu menyerahkan kunci rumah itu pada Nico.

“Kapan-kapan mainnya jangan di kamar Kak Harrel ya, Mas?” goda Nico.

Bima tersenyum rikuh.

“Langsung ke kantor, Mas?” tanya Nico.

“Mas titip motor sebentar di sini ya? mau balik ke rumah dulu. Ada yang ketinggalan.” kata Bima.

“Oke, Mas! Ketok aja kalau udah mau ambil motor,” kata Nico.

Bima lalu mengangguk dan bergegas kembali ke rumahnya. Dia hendak mengambil kopi berkas-berkas penyelidikan kematian Herlan yang dia simpan di rumah. Penemuan barunya itu seolah menambah kepingan petunjuk dibalik bunuh dirinya Herlan dan keterlibatan tetangganya itu.

Saat dia membuka pintu rumah, dia terkejut melihat seseorang telah duduk di sofa ruang tamu.

“Fin.. Findra? kapan datang?” tanya Bima.

Pemuda berkacamata bernama Findra itu lalu bangkit dan tersenyum sambil menyalami Bima.

Bima yang baru saja bercinta dengan Nico menjadi salah tingkah bertemu kembali dengan Findra.

“Halo Mas. Apa kabar? kan Findra udah janji mau nginap selama liburan kuliah,” sapa Findra.

“Eh.. i.. iya, ya? kamu udah bilang ya mau datang hari ini. Terus, tas kamu mana? sini Mas bawain ke kamar. Mbakmu pasti lagi belanja ya? gak ada di rumah..” lanjut Bima lagi. Perasaannya sungguh tak enak.

“Enggak usah, Mas. Findra enggak jadi nginep di sini…” tolak Findra. Suaranya berusaha tetap tenang namun terdengar ada kegetiran di dalamnya. Ini yang membuat Bima semakin merasa tak enak.

“Loh? kenapa?” tanya Bima. “Emangnya kamu nggak kangen sama mas?”

“Findra udah di sini cukup lama… cukup lama sampai bisa lihat perbuatan Mas di rumah sebelah sama anak itu dari kamar atas…” ucap Findra dingin.

Bima meneguk ludah. Tadi dia lupa diri bahwa jendela kamarnya bisa melihat apapun aktifitas yang ada di kamar Harrel.

“Fin… Bu.. bukan begitu. Mas bisa jelasin..” ujar Bima mencoba menahan Findra yang menenteng tasnya dan berjalan keluar rumah.

“Findra!” panggil Bima sambil mencengkeram lengan adik sepupu istrinya itu.

Tanpa berkata apa-apa Findra menepiskan lengannya hingga cengkeraman lengan Bima terlepas. Dia lalu berjalan meninggalkan rumah Bima dan menghilang di luar pagar.

“Sial!” maki Bima sambil mengepalkan tinju dan memukul dinding di dekatnya.

****

Harrel terbangun ketika kamar Ivan sudah terang oleh sinar dari luar jendela.

“Selamat pagi…” kata sebuah suara.

Harrel mengerjapkan matanya sambil bangkit dari ranjang. Dia melihat jam digital di meja sisi ranjang. Sudah jam delapan pagi dan dia melihat Ivan tampaknya baru selesai mandi. Dia sedang bercermin sambil mengatur rambutnya. Dia sudah mengenakan celana panjang bahan dan kaus dalam. Harrel bisa mencium bau cologne segar berbeda dari yang biasa dipakainya.

“Enggak pakai parfum Om Herlan lagi?” tanya Harrel.

Ivan menghentikan gerakannya dan menoleh pada Harrel.

“Jadi kamu tahu?” tanya Ivan.

“Ya. Bhayu yang bilang. Dia enggak akan lupa parfum orang yang sudah bikin dia trauma..” kata Harrel.

“Hmm… syukurlah saya enggak harus pakai parfum itu lagi. Kayak om-om…” gumam Ivan sambil tersenyum.

“Pantes kok, Kak.. sebentar lagi juga udah kayak Om-om..” goda Harrel. Dia lalu terkekeh.

“Sialan kamu…” kata Ivan gemas sambil melempar bantal pada Harrel.

Keduanya terkekeh.

“Kamu sendiri kenapa masih betah sama saya, hah? harusnya dari malam kamu udah bisa nyalain hape, bilang sama keluarga kamu atau apa.. tapi kayaknya malah senang menghilang begini?” tanya Ivan.

Harrel kemudian menunduk.

“Sebenernya.. saya memang agak malas pulang ke rumah…”

“Loh, kenapa?”

“Soal Bhayu. Saya lega kak, masalahnya telah selesai tapi… ini masalah lain.” kata Harrel.

“Mau cerita?” tanya Ivan sambil mendekati Harrel.

“Enggak deh, kak.. masalah ABG labil aja kok.. nanti kakak ketawain lagi..” tolak Harrel sambil terkekeh.

“Ah, kamu ini! ayo ceritain aja..” todong Ivan.

Harrel menghela nafas.

“Sebenernya.. saya dapat beasiswa di universitas yang saya mau. Tapi… Bhayu minta saya supaya kuliah satu kampus sama dia. Saya sayang Bhayu tapi ini soal masa depan saya…”

Ivan terdiam. Dia tidak menertawakan Harrel.

“Kakak enggak ngetawain?” tanya Harrel.

“Bagus kalau kamu punya rasa sayang sama orang. Tapi kadang… Tapi kadang kebahagiaan kamu sendiri lebih penting. Apalagi menyangkut masa depan…” ujar Ivan.

“Iya sih, Kak.. tapi kalau Bhayu sampai kecewa…”

“Kamu boleh anggap bahwa hal-hal seperti itu sangat penting seusia kamu. Kamu ingat saya cerita mengenai kebaikan Om Herlan dan Tante Linda pada saya? mereka membiayai sekolah saya hingga kuliah…”

Ivan terdiam sesaat.

“Sebenarnya saya ingin jadi arsitek. Tapi suatu hari, saat saya hendak mengutarakan keinginan saya.. saya dengar Om dan Tante bicara mengenai keinginan mereka bersantai di hari tua dan mencari penerus bisnis mereka yang bisa dipercaya. Mereka membicarakan saya. Saat itulah.. saya kubur dalam-dalam keinginan saya sendiri dan memutuskan kuliah bisnis dan mengambil master di luar negeri.. demi balas budi..”

Harrel tertegun mendengar cerita Ivan.

“Pikirkan baik-baik. Jangan sampai keputusan yang kamu ambil kelak bakalan kamu sesali nanti hanya karena mementingkan kebahagiaan orang lain…” kata Ivan lagi sambil duduk di sebelah Harrel.

“Iya kak..” kata Harrel tertunduk lesu.

“Lagipula.. kalau pacar kamu itu kecewa… berarti saya ada kesempatan…” ucap Ivan sambil tersenyum.

“M.. maksud kakak?” tanya Harrel.

Ivan tak menjawab. Dia malah mendekatkan wajahnya pada wajah Harrel dan mencium bibir remaja itu dengan lembut. Harrel tak kuasa menolak kecupan bibir Ivan. Tubuhnya terasa lemas. Ia teringat dengan Bhayu, tapi tak berdaya melawan pesona Ivan yang ada di dekatnya…

-bersambung-
(bagi yang belum membaca kisah Mas Bima dan Findra, silakan buka kategori ‘MAS BIMA POLISIKU’)

Advertisements
Comments
  1. oka says:

    ah update juga dan hmmm adegan nya baru ada di chap ini bang.. kurang bangg hehehhehe

  2. blackshappire says:

    kurang panjaaaaang….

    tuh kan nico lagi nico lagi, kesian si findra
    bang remy emang selalu bisa memainkan esmosi pembaca
    gemes bgt ma nico -jorokin nico ke kolam-

    ivan? dia humu juga?
    tambah seru euy, binan everywhere πŸ˜€

  3. Lorenzo Alfredo says:

    Kok semua tokohnya jadi aggresif sih bang remy?gak nico gak ivan aggressif semua
    Btw itu si nico udh umur brp bang?kok udh bisa cumshot sih bang?

  4. Tsu no YanYan says:

    Hayoloh mas Bima~~ lol

    Ihhhh dicium >\\<

    Bayu, jangan ngambek lama-lama, ntar Harrel diambil orang hihihi

  5. adamx says:

    hot banget mas bima. akankah semakin panjang bhayu-harrel-ivan?

  6. arif says:

    pingin tokoh om2 lagi..

    masukin bapaknya steve dong. siapa? bastian ya?

    atau tokoh baru. gadun yg sudah ubanan tapi masih tampan. jangan muscle. standar aja. lalu sexnya expert. kyaaa..!!

  7. Noki Prasetyo says:

    Finally. .
    Thank any way. ..

  8. AnakSulsel says:

    Findraaaaaaaaa… Kasian bgt kamu…

  9. bonbon says:

    aaaaaaaaaakkk :’)
    makasih bang
    great job

  10. Kyle says:

    keren nih bang
    gimana kalo yg top dijadiin bot jg biar ga trll mainstreem

  11. jajaka sunda says:

    cerita nya bagus tp alur nya jgn trlalu cpt kak santai aja spy enak bca nya

  12. jajaka sunda says:

    bang ada adegan ml di kolam renang donk supaya enak haha klo bisa antara ivan dan harel atau harel,nico dan bayu
    tolong ya bang

  13. jajaka sunda says:

    salah maksudnya bima tp sama bayu juga gpp keren tambah grepe” nya ditmbh ya haha

  14. rimjob says:

    bang, bikinin ceritanya Bima sama Findra yg bikin Bima nyesel tapi akhirnya mereka balikan lagi dong.

  15. BANG!!! ITU nasehat ivannya, berarti dia juga dulu kan lebih mementingkan kebahagiaan orang lain…. Maksudnya dia itu nyesel gitu sekarang gajadi arsitek ??? Kok nyaranin si harrel utk lebih memikirin kbhgiaan sndiri ??? Brsa ambigu deh disituu .

  16. Andra says:

    Jangan lama lama ya bang remy postingan ceritanya

  17. ibe says:

    Hahaha Nico Nico, jd Papanya Steve mau dikemanain? πŸ˜€

  18. AnakSulsel says:

    Bang Remy, coba skenarionya ada Mas Bima sama Harrel lagi bertengkar. Si Harrel mau ngelapor ke Mba Tika bhwa suaminya gay n tapi Mas bima ngacam balik ke Harrel bakal lporin juga ke Ortunya. Tapi Harrel gak peduli, krn yg lebih rugi Mas Bima, dia bakal kehilangan istri trus imagenya sebagai Polisi tercoreng. Lalu Mas Bima hendak menculik Harrel dan memperkosa n mengacam kalo dia mau lapor ke Mba Tika… Heheh gimn ya kalo gitu? Just my Opini.. Salam Binan Sulsel

  19. geryyaoi95 says:

    Wahhhh, emosinya dipermainkan seruu

  20. rimjob says:

    rasanya aneh, kan harrel doyan bima juga? masa ngancem2. mending ceritanya yg panjang. fokus ke bima sama findra aja dulu. ceritanya harrel mulu bosen.

  21. jajaka sunda says:

    bang ayo posting respone nya udh banyak dan kritik serta saran nya mungkin bisa dipertimbangkan

  22. arif says:

    rame bener..

  23. eka dwi pratama says:

    Bang rem, ceritanya makin keren cuman kok sisi romantisnya gag ada sih bang rem mas bima juga keliatan jadi terlalu nafsu gitu. Cuman aku suka ceritanya. Boleh dong ngikut dalam cerita.

  24. sugeng says:

    lanjut

  25. yudhi says:

    Nico binal ….,

    udh nikung tmnny sendiri steve d love my dad

    skrg smakn binal sama ms bima….

    pdhl ms bima udh ada findra…..

  26. Erfan says:

    Bang remy. Saya ada install wattpad. Di situ kok g ada story kartu memori ya bang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s