KARTU MEMORI – Season II – Bagian 5

Posted: January 18, 2015 in Kartu Memory - The Series I
Tags: ,

kartuuu_ori_II_5By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Selain itu, muncul Ivan, keponakan dari Herlan yang mengawasi keduanya. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 5
HARREL berusaha untuk bangkit dari duduknya dan mundur beberapa senti menjauhi Ivan. Ivan lalu menarik tangan Harrel agar dia bangun. Aktivitas mereka rupanya dipergoki oleh seorang petugas keamanan di kompleks perumahan Bhayu.

“Hey! Hey! ada apa ini?” tanya Satpam itu mendekati mereka setengah berlari.

Ivan menghentikan gerakannya mencengkeram lengan Harrel yang kelihatan meronta. Dia sedikit kaget namun berhasil menguasai diri.

“Ini, pak. Saya jemput adik saya pulang. Dia enggak mau,” ujar Ivan tenang.

“Benar begitu?” tanya Satpam itu pada Harrel.

Karena Harrel tak menjawab, Ivan lalu meremas lengan Harrel untuk memaksanya bicara.

“Eh.. I.. Iya pak.. dia kakak saya..” kata Harrel sedikit meringis.

“Kalau begitu kami permisi dulu, pak..” kata Ivan sambil tersenyum. Dia lalu menyeret Harrel dan memaksanya masuk ke dalam mobil.

Keduanya lalu terdiam di joknya masing-masing sesaat. Setelah Ivan memastikan satpam itu sudah menjauh, dia mulai menjalankan mesin mobilnya. Pintu gerbang utama perumahan Bhayu masih cukup jauh. Ivan tak bisa memacu kendaraannya dengan cepat karena masih berada dalam lingkungan perumahan yang jalannya tak terlalu lebar dan banyak terdapat polisi tidur.

Ivan tidak bicara. Dia sedang berkonsentrasi mengemudikan sedannya. Sementara itu Harrel melirik ke arah Ivan, enggan memulai percakapan.

Tiba-tiba Harrel menyerbu Ivan dan berusaha mengambil kartu memori miliknya yang tadi dilihatnya kembali dimasukkan ke dalam saku kemeja Ivan.

“Eh! Eh! Apa-apaan?” Protes Ivan saat Harrel menarik kemejanya sehingga membuat pemuda jangkung itu kehilangan konsentrasi menyetir.

PLAK! Ivan menampar wajah Harrel cukup keras hingga remaja itu terjengkang kembali ke tempat duduknya dan dahinya membentur kaca mobil. Harrel mengaduh kesakitan. Rupanya Harrel masih belum menyerah. Dia kembali menyerang Ivan dan membuatnya kehilangan kendali.

“KAMU MAU MATI, HAH?” Teriak Ivan berusaha melepaskan diri dari serangan Harrel.

“Biar! Biar mati sekalian daripada harus nurut sama penjahat!” sahut Harrel.

“Siapa yang penjahat? Kamu dan teman kamu yang penjahat!” sergah Ivan.

“Kakak, kan? yang nyuri kartu memori saya dan neror Bhayu?”

Ivan akhirnya menyerah dan menghentikan mobilnya setelah keluar dari gerbang utama perumahan tempat tinggal Bhayu.

“Oke. Saya kasih tahu kamu. Saya ini keponakan Om Herlan. Saya sedang menyelidiki penyebab Om saya bunuh diri, ngerti?” kata Ivan.

Harrel sedikit terkesiap mendengar nama Herlan dan menyadari bahwa dia sedang berurusan dengan salah satu anggota keluarganya.

“Nah, Kan! tampang kamu kaget dan ketakutan! dasar Abege nggak tahu malu! masih muda udah berbuat kriminal!” cerocos Ivan.

Harrel tidak bisa menyanggah serangan Ivan.

“Saya tahu Bhayu terlibat karena saya berhasil menemukan jejak nomornya dari barang peninggalan Om Herlan. Tapi entah kenapa saya curiga otak kriminal kamu yang ada di balik semua kejadian ini setelah ngelihat tampang licik kamu pas ketemu di sekolah,” sahut Ivan lagi.

Bertampang licik… Harrel merasa seperti ditusuk punggungnya karena disebut demikian oleh Ivan.

“Tapi semua itu ada penyebabnya, Kak!” protes Harrel.

“Makanya. Kamu ikut saya sekarang karena saya butuh penjelasan. Dan kamu pasti akan ikut saya karena kartu memori kamu masih saya pegang.” ancam Ivan.

Sebenarnya Harrel khawatir juga dengan ancaman Ivan. Tapi dia berusaha tenang dan mengikuti kemauan Ivan. Dia yakin, ini hanyalah kesalahpahaman saja. Semoga Ivan bersedia mendengar penjelasannya. Tetapi bukan itu saja. Sepertinya Harrel memang tak bisa menolak pesona pemuda jangkung keponakan Om Herlan itu. Dalam perjalanan, sesekali Harrel melirik Ivan yang serius mengemudi. Harrel tahu bahwa Ivan adalah pemuda yang tampan. Namun karena pikirannya selama ini kalut oleh terornya, hal itu baru benar-benar dia sadari sekarang. Jantungnya kini berdebar.

“Kita makan dulu,” kata Ivan tiba-tiba. Dia membelokkan mobil ke sebuah restoran cepat saji.

Harrel menurut ketika Ivan menyuruhnya ikut turun. Dia melirik jam pada ponselnya dan waktu sudah menunjukkan jam sembilan malam.

“Matiin handphone kamu,” perintah Ivan.

Harrel enggan melakukannya karena dia berharap bisa menelepon orang rumahnya atau sekedar memberi kabar dirinya akan pulang larut malam.

“Matiin! Awas kalau kamu coba-coba hubungi siapapun!” kata Ivan lagi.

Harrel lalu mematikan ponselnya dan memasukkannya pada saku dalam jaket denimnya.

Mereka pun memesan makanan. Harrel yang tak bersemangat, makan hidangan yang ada di depannya dengan seadanya. Ivan tak bicara atau menanyakan apapun selama mereka makan. Dia hanya diam saja sambil memerhatikan Harrel dengan tatapan tajam. Harrel yang dilihat seperti itu menjadi salah tingkah.

Empat puluh menit kemudian mereka pergi meninggalkan restoran. Ivan membawa Harrel ke sebuah gedung apartemen. Keduanya naik hingga tiba di lantai yang dituju dan Harrel mengikuti kemana Ivan melangkah.

“Gara-gara kalian, saya jadi harus tinggal di tempat seperti ini,” keluh Ivan.

Harrel menekap mulutnya mencoba menahan tawa. “Hmmffh..”

“Kakak ini lagi nyombong ya? masa iya enggak mau tinggal di apartemen bagus begini?”

Ivan mendelik tajam pada Harrel dan menyuruhnya masuk. Ruang dalam apartemen itu lumayan bagus dan luas. Ada sebuah kamar tidur utama dan ruang tengah tempat diletakkannya satu set kursi tamu. Tempat seperti ini memang cocok dengan Ivan yang belum berkeluarga.

Ivan menyuruh Harrel duduk. Dia lalu menyalakan televisi.

“Kamu tahu? impian saya setelah menyelesaikan kuliah adalah pergi berpetualang ke banyak tempat. Backpackeran. Barulah saya rela berpusing diri dengan pekerjaan dan mencari uang. Tapi.. sejak Om Herlan meninggal.. saya harus tinggal di sini mengurus tante.”

Harrel meneguk ludah mendengarkan cerita Ivan. “Mmm… bagaimana keadaan mamanya Imel?”

Ivan menghela nafas.

“Enggak bagus. Imel juga begitu. Saya ini yatim piatu. Kebaikan Tante Linda sama Om Herlan lah yang membuat saya bisa meneruskan sekolah dan kuliah di luar negeri. Sekarang saya terpaksa melepaskan impian saya berkarir sesuai kemauan dan mengambil alih bisnis Om Herlan.”

“Nah. Sekarang saya mau tahu kenapa kalian bisa terlibat dalam kematian Om Herlan?” kata Ivan sambil duduk menyilangkan kaki dan melipat lengannya di dada dan menatap Harrel.

Harrel berdeham. “Kakak tahu kalau Imel pernah pacaran sama Bhayu?”

Ivan mengangguk.

“Bhayu… dulu pernah dijebak sama Om Herlan. Videonya sedang.. ehm.. ngocok direkam Om Herlan dan digunakan buat memeras Bhayu…”

“Terus?”

“Bhayu… dilecehkan Om Herlan.. dan diancam supaya tidak bilang..” lanjut Harrel.

“Bohong!” sahut Ivan.

“Kakak pikir buat apa Om Herlan punya handphone itu?”

Ivan terdiam dan membiarkan Harrel melanjutkan.

“Lalu… Om Herlan berniat memerkosa Bhayu di sebuah hotel. Waktu itu saya bantu Bhayu menjebak Om Herlan. Kita foto dia di kamar hotel dengan perjanjian bahwa Om Herlan berhenti mengganggu Bhayu. Lalu saya hapus semua bukti yang ada di ponsel Om Herlan…”

Harrel diam sesaat lalu melanjutkan.

“Kita enggak nyangka Om Herlan bakalan bunuh diri di depan sekolah kami. Di depan Imel… Kita pikir.. Om Herlan sudah cukup kami buat jera dan kita semua melupakan kejadian itu. Kita enggak bisa cerita ke Polisi karena pasti akan menjadi skandal. Kakak pikir kita bisa hidup dengan tenang walau cuma jadi korban? Apa kata orang-orang kalau mereka tahu Bhayu pernah dilecehkan oleh Om Herlan?”

“Kalau kakak enggak percaya.. kamera yang berisi foto Om Herlan di kamar hotel masih ada sama saya. Saya enggak berani hapus karena masih belum merasa aman…”

Ivan bangkit dari duduknya. “Kalau yang kamu ceritakan itu benar… Sepertinya memang Om Herlan yang bersalah. Kamu tahu? foto Bhayu ditemukan di samping mobil Om Herlan oleh polisi. Untungnya bagian wajahnya terpotong sehingga enggak ada yang curiga.”

“Foto Bhayu?” tanya Harrel.

“Iya. Foto teman kamu yang lagi ngocok itu dicetak di kertas. Sepertinya Om Herlan membuang kertas itu sebelum bunuh diri…”

Harrel terdiam.

Kemudian Ivan tertawa. “Bagaimana caranya saya bisa ceritakan ini ke Tante Linda dan Imel, ya?”

“Tolong Kak.. jangan cerita…” pinta Harrel.

“Kamu pikir yang minta saya buat menyelidiki ini semua siapa? Entah bagaimana reaksi tante kalau dia tahu penyebab suaminya meninggal… Bikin repot saja,” keluh Ivan.

“Satu-satunya cara menghentikan rasa penasaran tante ya dengan cerita semua ini ke dia. Tapi.. biar itu jadi masalah kita besok saja. Saya capek hari ini..” lanjut Ivan sambil menggosok-gosok keningnya dengan jari.

“Tapi kak.. Saya mau pulang… Naik taksi juga enggak apa-apa. Kembalikan kartu memori saya…” pinta Harrel.

“Besok saya antar pulang. Saya udah enggak sanggup nyetir lagi. Memori card kamu saya balikin besok. Kamu boleh telepon bilang orang rumah kalau kamu enggak pulang. Saya mandi dulu. Kalau haus, ambil minum sendiri di kulkas.” kata Ivan sambil berjalan menuju kamarnya.

Harrel kemudian mengambil ponselnya. Awalnya dia hendak menyalakan ponselnya dan memberitahu orangtuanya bahwa malam itu dia tidak pulang. Tapi entah mengapa dia membatalkan niatnya. Rasa penasaran Harrel pada Ivan membuatnya tetap tinggal.

Kemudian Ivan memanggil Harrel ke kamarnya. Dia menawarkan Harrel untuk mandi namun Harrel menolak. Kemudian Ivan meminjamkan kaus dan celana pendek untuk dipakai oleh Harrel.

“Muat?” tanya Ivan.

Tentu saja muat karena ukuran tubuh Ivan yang jangkung lebih besar dari tubuh Harrel. Harrel mengangguk.

“Rel.. atas nama Om Herlan saya minta maaf dengan semua yang sudah dia lakukan pada temen kamu itu. Kamu bisa bilang ke dia, dia sudah bisa tenang sekarang.” Kata Ivan. Dia mengatakan itu sambil duduk di atas ranjang. Rambutnya masih basah dan dia hanya memakai kaus putih pas badan dan celana pendek sehingga Harrel bisa melihat jelas tubuh atletis pemuda itu.

“Iya Kak.. saya dan Bhayu hanya ingin meneruskan kuliah dengan tenang. Saya harap Imel dan Mamanya bisa mengerti..” kata Harrel.

Ivan tiba-tiba berdiri dan menghampiri Harrel. Dia mendekatkan wajahnya pada Harrel seolah hendak menciumnya. Harrel menjadi salah tingkah.

“Kak Ivan…?” tanya Harrel gugup.

“Kepala kamu enggak apa-apa? maaf tadi saya tampar kamu sampai kebentur kaca,” kata Ivan menyesal sambil memeriksa dahi Harrel dengan mengusap kepalanya.

“Eh.. enggak.. enggak apa-apa kak.. udah enggak sakit, kok..” jawab Harrel.

“Kalau begitu kita tidur dulu,” kata Ivan cuek sambil membalik badannya. Dia lalu merebahkan tubuhnya dan menarik selimut.

Harrel dengan ragu mengikuti Ivan. Jantungnya berdebar kencang. Selama berpacaran dengan Bhayu, dirinya belum pernah tidur dengan orang lain semalaman. Harrel naik ke atas ranjang dan menarik selimutnya. Dia melirik ke arah Ivan yang memunggunginya. Terlihat jelas punggungnya bergerak naik turun mengikuti alunan nafasnya.

Yakin Ivan telah tidur, Harrel kemudian beringsut memunggungi Ivan. Baru saja dia memejamkan matanya, tiba-tiba Ivan berbalik dan memeluk dirinya. Harrel terlonjak kaget namun dia tak menolak. Didengarnya dengkuran Ivan yang sedang memeluk dirinya. Jantungnya kembali berdebar.

Selama beberapa saat Harrel tak bisa memejamkan matanya. Tapi akhirnya dia pasrah dipeluk Ivan yang sedang tertidur. Matanya sudah lelah menahan kantuk dan Harrelpun ikut tertidur.

***

Harrel yang tak pulang ke rumah tanpa memberikan kabar membuat kedua orangtuanya cemas. Pagi itu Bima yang hendak pergi ke kantor polisi melihat ayah dan ibu Harrel sedang bersiap pergi. Bima menghampiri mereka berdua yang berada di atas motor.

“Pergi ke mana bu? tumben pagi-pagi udah mau berangkat?” tanya Bima ramah.

“Mau ke sekolah Harrel, nak… semalam dia enggak pulang. Enggak biasanya kalau nginap di mana-mana gak kasih kabar. Mana handphonenya sampai sekarang nggak aktif..”

“Loh.. mungkin dia di rumah temannya yang suka main ke sini itu, loh..” kata Bima.

“Itulah salahnya kita.. kita enggak pernah tahu nomor telepon temen-temen Harrel. Termasuk Bhayu itu. Jadi kita mau ke sekolah cari alamat teman-temannya Harrel. Anak itu.. bikin cemas saja!” kata ayah Harrel.

“Adiknya ke mana? biar dia suruh cari temen kakaknya siapa tahu kenal..”

“Nico lagi tour keluar kota. Belum pulang. Lagipula dia enggak satu sekolah sama Harrel. Nak Bima bisa bantu ibu?” tanya Ibu Harrel.

“Iya bu. Boleh..” kata Bima.

“Titip kunci rumah dulu. Takut Nico datang. Nanti kalau Nak Bima berangkat kerja, tolong titip ke Tika saja ya?”

“Iya, mari titip saya saja,” kata Bima sambil menerima kunci rumah dari tangan Ibu Harrel.

“Kita pergi dulu, Nak..” pamitnya.

“Semoga Harrel cepat ketemu ya, bu!” sahut Bima.

Motor mereka pun menghilang di tikungan. Tiba-tiba Bima mendapat ide untuk memeriksa kamar Harrel. Diam-diam dia memarkirkan motornya masuk ke pekarangan rumah Harrel dan membuka pintu depan rumahnya.

Bima tahu letak kamar Harrel di atas dan dia menuju ke sana. Kamar itu memang tampak tidak ditiduri semalam. Bima merasa dia harus mencari petunjuk di kamar Harrel yang bisa menjelaskan kecurigaannya pada sikap Harrel terkait kematian Herlan.

Dengan hati-hati Bima memeriksa seluruh laci di kamar Harrel. Tak menemukan apapun yang mencurigakan, dia beralih pada lemari pakaian Harrel. Dibukanya setiap pintu dan laci di kamar itu. Tiba-tiba dia menemukan sebuah benda yang sepertinya sengaja dijejalkan di pojok lemari dibalik tumpukan pakaian.

Bima menarik benda itu. Rupanya sebuah kamera saku. Dia menyalakan kamera itu dan mulai mengamati setiap foto yang ada di dalamnya.

Betapa terkejutnya Bima melihat sosok Harrel yang sedang tidur di atas ranjang sementara tak jauh darinya adalah Herlan yang sedang berlutut dengan wajah terkejut ke arah kamera sementara celananya terbuka.

“Apa ini…?” gumam Bima tak percaya melihat rangkaian gambar tak senonoh antara Harrel dan Herlan.

Jadi benar.. anak ini terlibat pada kematian Herlan… pikir Bima.

“Mas Bima lagi apa di sini?”

Sebuah suara mengagetkan Bima. Ketika dirinya berbalik, Nico, adik Harrel sudah berdiri di pintu kamar menatapnya curiga.

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. erry says:

    Sumpah keren ini cerita, bang remy kalo bikin tulisan pasti ok.. Bikin orang penasaran aja, btw bikin scene love sex ivan sama bima dong.. =D

  2. blackshappire says:

    hoh akhirnya…

    nico lagi nico lagii huh

  3. arif says:

    kyaaaaaaaa..!!

  4. dikiiiii says:

    thx 4 update bang remy… tapi ada yang kurang deh rasanya… biasanya ditiap update selalu ada sex scenenya tapi kali ini gak ada… kek ada yang ilang gitu hehehehehe

  5. Tsu no YanYan says:

    Aiihhh mas Bima kepo kepo kepo!! Ihhhhh gregetan

    Akhhh Nico muncul lagi><

  6. Ray says:

    Wah kakak adek pada dapet mangsa baru neh. Lols 😀

  7. dufei dejavu dua says:

    gue kira si Harrel sampe disiksa. Alhamdulillah gak jadi. tapi. selalu ada kejutan di akhir cerita

  8. Noki Prasetyo says:

    Finally. ….
    Hai I’m noki. ..
    Thanks for the great story. .
    I’m far away from indo for a while. .
    But your story make me feel I’m in indo…
    Thank Bro and keep good work. .

    Muchas gracias …

  9. ibe says:

    Hahaha, setuju sama Arif. Ini pasti Nico yg di I Love my Dad 😀

  10. bonbon says:

    gak sabar bagian 6 😥

  11. ndra ndri says:

    Lanjutttt..kereenn

  12. ghee says:

    Seriuss!!! Cerita nya seperti pertama kali bercinta. Mendebarkan tapi nagih dan ngarepin buat petualangan selanjutnya. #lol. Ceritanya saling terkait, dan bikin orang penasaran. Semacam cerita detektif. Untuk karakter bima dan findra kalo boleh nebak nih, kaya nya ada sangkut pautnya dgn cerbung yang berjudul “Mas bima pak polisi”. Masukin juga aja biar nambah panjang plus penasaran. Baru kali ini baca cerbung yang bikin menebak”. Sukses terus deh buat writer nya. Semoga bisa dijadikan novel kaya yang sudah” (the sweet sins, lelaki terindah dkk). Ditunggu cerita selanjutnya, jangan lama” udah ga nahaaaaaan. Hahahahahaha. Eniwei salam kenal.

  13. Rizky Finusa says:

    Mas Bima, ingat pesan Findra, jgn selingkuh 😀

  14. oka says:

    kenapa di blokir bang,,q gak bsa koment lwt fb.. jd disini z ya.. bag 6 q tunggu

  15. thiard says:

    lanjuuuuuuuuuuuttttt bang remy,,,,,,
    tak tunggu kelanjutannya.,.,.,.,.,.,.,..,.,.,.,.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s