kartuuu_ori_II_4By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 4

SIAPAPUN yang telah mengirimkan foto Om Herlan pada nomor Bhayu, telah berhasil membuat anak itu panik. Aku harus mengingatkan Bhayu untuk konsentrasi mengendarai motornya dan segera meneleponku setibanya di rumah.

“Udah sampe?” tanyaku.

“Kalau belum sampe, ngapain gue telepon?!” bentak Bhayu.

“Ih.. marah-marah aja,” sungutku kesal.

Aku tidak mau menceritakan pada Bhayu bahwa aku merasa telah melihat Ivan di dekat rumahku saat Bhayu dikirimi foto itu. Aku khawatir hal itu malah membuat Bhayu semakin panik.

“Ada yang tahu, Rel.. ada yang tahu!” ujar Bhayu panik.

Aku menghela nafas.

“Tapi kita belum tahu pasti apa yang dia mau. Gue udah cukup yakin enggak ninggalin sidik jari waktu gue hapus semua isi ponsel Om Herlan hari itu. Makanya, gue tenang-tenang aja polisi enggak akan nemuin sidik jari gue, kan?” kataku berusaha menenangkan.

“Kenapa enggak elo ambil aja sekalian sih, handphone Om Herlan?” kata Bhayu menyalahkanku.

“Terus biar dia bisa leluasa teriak maling ke kita, gitu? enggak, Bhay! gue waktu itu enggak mau ambil resiko. Dan sekarang kalau kita saling nyalahin, enggak ada gunanya..”

Bhayu terdiam. Kudengar tarikan nafasnya masih emosional.

“Oke. Berarti ada yang tahu masalah ini dan dia tahu nomor handphone gue. Menurut elo, gue harus ganti nomor atau blokir nomor itu?”

“Jangan, Bhay! gue belum tahu niat orang itu. Takutnya, kalau kita enggak ikutin permainan dia, dia bisa nekad. Kita emang enggak salah, tapi kalau keseret masalah ini ke polisi, gue enggak sanggup ceritain perbuatan Om Herlan ke elo…” ujarku.

Bhayu akhirnya berjanji untuk bersikap tenang. Aku sendiri sebenarnya dalam hati sangat khawatir walau tampak tenang diluarnya. Aku masih bisa bersyukur bahwa diriku sudah tidak direpotkan oleh masalah ujian dan pelajaran sekarang ini hingga pikiranku bisa kufokuskan pada permasalahan Bhayu.

Aku membanting tubuhku di atas ranjang dan tertidur. Aku terbangun dari tidur menjelang maghrib. Karena terbiasa takut terlambat sekolah, aku terlonjak dari ranjang dan buru-buru mengecek jam. Aku menghela nafas lega ketika aku melihat jam ternyata baru pukul enam sore lewat sedikit. Kamarku mulai gelap karena aku tak menyalakan lampunya.

saat aku berdiri dan memandang jendela samping kamarku, aku buru-buru menyembunyikan tubuhku ke balik jendela. Aku melihat Mas Bima dari lantai dua yang kamarnya sejajar dengan kamarku, sedang melihat ke arahku. Lama aku perhatikan Mas Bima berdiri lalu dia menghilang dari pandangan dengan menutup tirai jendelanya. Aku jadi berpikir, apakah Mas Bima juga ikut mengintaiku sekarang ini?

Tak ingin berpikir macam-macam, aku segera menutup jendela kamarku. Namun saat aku hendak menutup jendela satunya yang mengarah ke pinggir jalan, aku terkejut melihat sosok jangkung yang mirip Ivan sedang berdiri tepat di depan pagar rumahku. Kesabaranku habis. Aku segera turun tangga setengah berlari hingga menimbulkan sedikit kegaduhan di bawah.

“Rel? Rel! kamu mau ke mana buru-buru gitu?” tanya Mama yang kebingungan melihatku turun tangga dengan terburu-buru.

Aku tak menjawab dan segera membuka pintu depan rumahku dan berniat menuju pagar mengkonfrontir Ivan. Tapi rupanya Ivan sudah tak lagi berada di situ. Aku menengok ke kanan dan ke kiri namun tak ada Ivan di situ kecuali beberapa orang yang berlalu-lalang.

“Kenapa, Rel? ada tamu?” tanya Mama setelah beliau menyusulku keluar.

“Eh, enggak Ma.. tadi Harrel pikir ada teman Harrel di luar… salah lihat,” kataku gugup.

“Masa? kamu ngigau kali, Rel? makanya kalau sore itu jangan kebanyakan tidur! apalagi sampai maghrib gini,” kata Mama.

“Iya, Ma..” sahutku lemah dan kami berdua kembali masuk ke rumah.

***

Besoknya aku tak tahan untuk tak menceritakan pada Bhayu kecurigaanku terhadap Ivan. Pagi-pagi aku segera pergi ke rumahnya. Sengaja aku tak minta dijemput oleh Bhayu karena khawatir Ivan akan mengikutiku. Tapi aku heran, bila dia yang meneror Bhayu, mengapa dia malah terlihat sering mengintai rumahku? apakah dia secara bergantian mengawasi rumah Bhayu juga?

Sebelum masuk ke rumah Bhayu, aku secara naluriah memeriksa sekeliling rumahnya mencari tahu apakah Ivan dan mobilnya ada di sekitar situ. Tapi karena aku hanya mengawasi sekilas, aku tak menemukan apa yang kucari.

“Ivan? tapi ngapain dia pake neror gue segala? siapa dia?” tanya Bhayu. Kami berdua sedang mengobrol di kamarnya.

“Mungkin dia saudaranya Om Herlan, temannya, atau siapanya yang masih belum nerima kematian Om Herlan,” sahutku sekenanya.

“Tapi masuk akal juga sih. Buktinya dia seperti sengaja pakai parfum yang sama dengan yang dipakai Om Herlan. Dia pasti mau mengetes reaksi kita. Tapi guelah yang kena…” kata Bhayu.

Aku bangkit dan memeluk Bhayu. “Jangan lupain, Bhay. Kita ini korban Om Herlan. Dialah penjahatnya. Hal ini jangan sampai bikin kita hilang fokus.”

Bhayu balas memelukku. “Iya Rel, gue cuma khawatir aja apa yang sudah kita sembunyikan, semuanya nanti tetap terbongkar.”

“Enggak bakalan.. kita selesaikan lagi seperti kita hadapin Om Herlan waktu itu,” kataku mencoba bersemangat.

Bhayu mengangguk pelan. Aku lalu melepaskan pelukanku.

“Nah. Sementara ini elo harus awasin sekitaran rumah elo. Kalo elo ngelihat si Ivan itu ada, elo info ke gue. Kalau dia mulai kirimin elo macem-macem lagi, jangan lupa bilang ke gue juga,” kataku sambil menggosok lengan kekar Bhayu dengan telapak tanganku beberapa kali.

“Gue pulang dulu,” kataku.

“Maaf ya Rel, gue nggak bisa nganter,” ujar Bhayu.

Aku mengangguk. Ini memang permintaanku agar untuk sementara waktu aku dan Bhayu tak terlalu sering terlihat bersama-sama karena mungkin saja Ivan mengawasi kami berdua.

Setelah turun dari angkutan umum, aku berjalan menuju rumahku dari pertigaan. Aku mengamati setiap mobil yang terparkir di jalanan menuju rumahku, siapa tahu mobil Ivan ada di situ. Namun sampai depan rumah, aku tak melihat tanda-tanda adanya Ivan maupun mobilnya.

“Rel? kamu udah pulang?” tanya Mama dari dapur.

“Iya, Ma…” jawabku asal-asalan.

“Rel. Mumpung kamu belum ganti baju, tolong kamu ke rumah ibu Susan dulu ya? ambilin cetakan kue Mama yang dia pinjam. Kalau mama yang ke sana, adonannya enggak bisa ditinggalin… Enggak ada orang di rumah,” kata Mama sambil keluar dari dapur.

“Oke.. Tapi Harrel taro tas dulu..” kataku sambil menuju kamar.

Setelah melempar tasku ke ranjang dan meletakkan ponsel di atas meja, aku kembali turun dan keluar rumah bergegas menuju rumah Ibu Susan yang letaknya dua blok dari rumahku.

Dua puluh menit kemudian, aku kembali ke rumah sambil menjinjing kantung plastik berisi beberapa cetakan kue alumunium besar. Aku menghentikan langkahku ketika aku melihat mobil sedan abu-abu yang kukenali sebagai mobil Ivan terparkir di seberang jalan pintu rumahku.

Aku segera menghampiri mobil itu tak membiarkan Ivan kembali menghilang. Benar saja dia ada di dalam. Dia duduk di belakang kemudi sambil bersandar dan memejamkan mata. Kedua lubang telinganya terpasang earphone. Sepertinya Ivan sedang asyik mendengarkan musik.

Tok! tok! Aku mengetuk kaca mobil Ivan dengan emosi.

Perlahan Ivan membuka matanya dan tersenyum melihatku. Kaca mobilnya dia turunkan.

“Hey.. kamu.. Harrel kan? yang waktu itu ketemu di sekolah?” tanyanya ramah. Dia melepaskan earphonenya satu persatu.

“Enggak usah pura-pura, Kak! saya tahu Kakak dari kemarin-kemarin ada di sekitaran rumah saya, kan?” cerocosku marah.

“Hah? masa? Kamu salah lihat kali?” kata Ivan berlagak polos sambil melihat ke depan dan ke belakang mobilnya mencari-cari seseorang.

“Enggak ada yang perlu dilihat di sini, Kak! sebaiknya kakak pergi dari sini, atau saya laporkan ke Pak RT,” ancamku serius.

“Ada apa ini? Kenapa Rel? Kenalan kamu?” tanya sebuah suara di belakangku.

Aku menoleh dan melihat Mas Bima sudah berdiri di belakangku. Dia memakai kaus polo hitam dan jaket kulit coklat gelap dan celana jeans. Tampan sekali.

“Eh, ini Mas.. ini..” kataku tak bisa menjelaskan.

“Kenapa dia?” tanya Mas Bima lagi sambil menatap Ivan. Ivan yang ditatap Mas Bima malah menantangnya balik tanpa berkedip, tapi tetap tersenyum.

“Orang ini.. dia sering mondar-mandir dan parkir nggak jelas di sini, Mas. Mencurigakan..” tak ada pilihan lain selain mengadu pada Mas Bima.

“Benar itu, Mas?” tanya Mas Bima pada Ivan penuh selidik.

“Ah, Adik ini mungkin salah lihat.. saya baru aja parkir mobil di sini,” kata Ivan masih berlagak polos.

“Ada yang mau kamu jemput?” selidik Mas Bima lagi.

“Memangnya ada larangan parkir di sini, pak?” elak Ivan lagi.

Tiba-tiba Mas Bima menarik pegangan pintu mobil Ivan. Ivan yang mengira Mas Bima akan menyeretnya keluar, sempat terlonjak sesaat. Namun rupanya Mas Bima hanya berniat membantingnya saja untuk menggertak Ivan. BRAK!!

Harus kuakui, gaya Mas Bima menggertak Ivan dan menatapnya galak serta berkacak pinggang sambil menunjukkan lencana kepolisiannya itu membuatku kagum. Uh.. Mas Bima keren banget! pujiku dalam hati.

Ivan berdeham gugup. Akhirnya dia berpikir keras mencari jawaban.

“Eh.. Ehm, anu Pak… Saya lagi survey rumah yang mau dijual di sini, sekaligus lingkungannya. Klien saya yang suruh..” ujar Ivan gugup. Aku menahan geli melihatnya ketakutan.

“Kalau begitu, survey hari ini dan hari berikut cukup sampai di sini, mengerti?” tanya Mas Bima tajam.

“Mengerti, pak..” kata Ivan sambil menyalakan kembali mesin mobilnya.

“Oh, iya pak. Sebagai saran aja sih.. Bapak ini Polisi kan? konon justru yang dekat-dekat harus di awasi pak.. biasanya kriminal yang dekat di mata malah terlewat. Permisi…” ucap Ivan sambil mengemudikan mobilnya menjauh dari kami berdua.

Aku menghela nafas lega. Kulihat Mas Bima mengeluarkan ponselnya dan memotret mobil Ivan.

“Lain kali, kamu bilang saya kalau orang itu datang lagi. Untuk jaga-jaga, saya nanti cek pemilik plat mobil itu,” kata Mas Bima sambil mengembalikan ponselnya ke dalam saku.

Aku mengangguk dan mengucapkan terima kasih pada Mas Bima dengan gugup. Walau bagaimanapun, aku masih merasa Mas Bima juga mengawasiku. Dari sikapnya saja yang biasanya sering menyapa ramah, sekarang berubah lebih formal dan dingin. Apakah..? apakah..? Aku langsung terkesiap membayangkan bila Mas Bima pernah melihat aku bermesraan dengan Bhayu di kamar.

Saat aku melihat pintu depan rumahku terbuka, aku langsung masuk dan memanggil Mama.

“Ma..? Mama?” sahutku. Namun tak ada jawaban.

Aku terkejut ketika pintu depan berayun dan Mama masuk.

“Loh, Rel? udah balik?” tanya Mama.

“Mama dari mana? bukannya ada di dapur jaga adonan kue?” tanyaku.

“Oh, Mama dari tempat Tika di sebelah. Minta daun pandan suji. Tapi tadi ngobrol sebentar, hehe.. gak papa sih ditinggal sebentar,” jelas Mama.

“Kok pintunya kebuka?” tanyaku. Perasaanku menjadi tak enak.

“Ah, masa? mama tadi tutup rapet, kok!” jawab Mama.

Aku lalu meletakkan jinjinganku di dapur dan segera bergegas ke atas menuju kamarku. Aku bernafas lega ketika melihat ponselku masih ada di atas meja dan tasku ada di ranjang. Tadi sempat terpikir Ivan akan berani masuk ke dalam rumahku dan menggeledah kamarku.

Kemudian aku menelepon Bhayu dan menceritakan kejadian tadi.

“Diusir?” tanya Bhayu.

“Iya. Untuk sementara kita aman. Mas Bima juga mau cek plat nomor mobil orang itu..” jelasku.

“Oke Rel.. thanks infonya..” tutup Bhayu.

Baru saja aku menutup panggilan telepon dengan Bhayu, aku merasakan ada yang aneh pada pinggiran ponselku. Aku terbelalak ketika slot kartu memori yang ada pada pinggiran ponselku kini sudah kosong. Dengan panik aku mencoba membuka isi file dalam ponselku. Aku baru ingat belum menghapus foto-foto aku dan Bhayu yang sedang berciuman di dalamnya sesuai dengan permintaan Bhayu. Semua foto itu telah lenyap.

Aku mencoba mencari di lantai kamarku siapa tahu kartu memoriku terjatuh. Tapi aku tahu itu tidak mungkin. Aku hampir pasti yakin, seseorang telah mencuri kartu memori ponselku. Aku terduduk lemas.

***

Malamnya aku meminta bertemu dengan Bhayu untuk meminta maaf padanya. Karena aku tahu reaksinya mungkin akan sangat berlebihan, aku tak berani datang ke rumahnya dan meminta Bhayu menemuiku di taman bermain yang ada di area perumahannya.

Saat aku duduk di sebuah ayunan, kulihat Bhayu menghampiriku.

“Rel? kenapa enggak ke rumah aja?” tanyanya heran.

“Ng.. gini Bhay.. gue mau cerita sesuatu..” jelasku was-was.

“Apaan?”

“Kartu memori gue hilang, Bhay.. kayaknya ada yang ambil.. gue curiga Ivan yang ambil..”

“Hah? kok bisa? terus?” tanya Bhayu kaget.

“Masalahnya.. gue belom hapus foto-foto kita, Bhay..” ucapku takut setengah mati.

“BANGKE Lo, REL! kan udah gue bilang HAPUS SEMUANYA!” teriak Bhayu marah.

“Maafin Bhay.. maafin gue..” kataku sambil menunduk tak berani menatap wajahnya. Aku mulai terisak.

“LO ENGGAK NYANGKA BAKALAN BEGINI JADINYA, KAN? GEGABAH SIH!” hardik Bhayu mengerikan.

Aku tak menjawab. Tiba-tiba Bhayu terlonjak. Rupanya ponselnya bergetar.

Matanya membelalak marah ketika dia memeriksa sesuatu yang tampak pada layar ponselnya. Dia lalu memperlihatkannya padaku dengan emosi.

“NIH! LIHAT! GARA-GARA ELO!” makinya.

Aku mencoba fokus pada layar ponsel yang dipegang Bhayu. Aku terkesiap melihat sebuah foto yang menampilkan aku dan Bhayu yang sedang berciuman. Siapapun orang dekat kita yang melihat foto itu, pasti akan bisa mengenali kami berdua.

“BRENGSEK! Gue kecewa sama elo, REL!” hardiknya lagi.

“Maaf Bhay.. maaf..” rengekku merasa bersalah.

“Jangan temuin gue lagi! elo pulang sekarang!” sahut Bhayu sambil meninggalkanku. Wajahnya tampak sangat kecewa. Dan itu lebih menakutkan bagiku dibandingkan kemarahannya.

Aku berusaha keras menahan tangisku. Aku telah membuat Bhayu marah akibat kecerobohanku sehingga dipakai oleh si peneror itu untuk mengganggu kami. Dengan langkah gontai aku berjalan meninggalkan taman menuju pintu gerbang perumahan Bhayu untuk mencari taksi pulang.

Saat aku berjalan, tiba-tiba sebuah kendaraan mendekatiku dengan kecepatan tinggi sehingga hampir menabrakku. Aku yang kaget akhirnya terjatuh di pinggir jalan. Mataku silau oleh lampu mobilnya.

Seseorang keluar dari mobil sedan itu. Ivan.

“Ayo ikut saya..” katanya.

“Enggak!” teriakku.

“Ayolah.. kamu pasti pengen ikut kalau saya bilang saya punya kartu memori kamu…” kata Ivan sambil menyeringai.

Aku tak bisa berkata apa-apa saat Ivan membuka telapak tangannya dan memperlihatkan sebuah kartu memori yang persis sama dengan milikku…

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. bascha says:

    Oh my god ini ceritanya seru banget. Cant wait for next chapter.. Good job bang remy ❤

  2. arif says:

    ish!
    iya ih gegabah.
    sudah dari kemarin2 disuruh hapus, belum dihapus2 juga. tau awal masalahnya gara2 foto/video, kok ya tidak peka.

  3. Lorenzo Alfredo says:

    Dasar Harrel ceroboh…udah disuruh hapus foto2nya malah ngeyel,klo udh kayak beginikan masalahnya tambah ribet…

  4. marvel says:

    Makin penasaran lanjutannya

  5. Makin penasaran gimana klnjutannya… Akhir cerita per chapternya slalu buat penasaran…. Good job bang 🙂

  6. Segera di update ya bang ! Hehe. Buat ending yang membahagiakan !!! Dan makasih atas ceritanya yang sangat menghibur. 🙂 love u baang …

  7. funky says:

    bang kelanjutannya kapan diupdate lagi???

  8. Tsu no YanYan says:

    Hmmm Harrel mulu yang dikuntit.. Apa jangan-jangan…..?

    Hehehe balik ke judul… Kartu Memori oh Kartu Memori~

  9. ad1nu says:

    waw, jadi thriller nih.
    kalo ivan gay, palingan harrel cuma diperkosa.
    makin seru kalo ivan udah psikopat, homophobic pula. gimana nasib harrel & bhayu?

  10. Ray says:

    Jiah, si Ipan ternyata sekong juga. Demen ama Mas Bimbim. Jangan-jangan jangan tuh 😀

  11. bonbon says:

    ayo bang semangat nulisnya!
    makin greget aja ceritanya

  12. bonbon says:

    bang nggak sabar bagian 15, please bang 😥

  13. jiji says:

    Awalnya mengharap ada some spark of jealousy, bang. Si ivan deketi harrel buat mancing bhayu eh malah jd thriller yg bikin deg2an gini. Please give mercy to harrel, semoga ivan gak “sakit” kayak oomnya. Bisa2 ada istilah baru like uncle, like nephew dong, hehehe..,

  14. arif says:

    omg.

    tiba2 aku kepikiran ivan ini dulu sering “dipakai” sama herlan.

  15. DD says:

    Koq ceritanya jadi out of sense ya…?knp mereka takut ketahuan..? They aren’t criminals yet… Kenapa bayu gak cerita aj ke polisi ttg apa yg dialaminya, apa yg di lakukan om2 psyco itu kepadanya, toh bayu gak bakal rugi dia kan korban, apa lagi sampai dimata2in sm ivan(psyco part 2)… Kalau intinya mau menjaga hati imel supaya tidak terpukul oleh apa yang di lakukan ayahnya tapi, tanpa tau pun imel jg sdh depresi skrg sampai gagal ujian, so just make it real.. Suka ceritanya cuman rada gak masuk akal. 🙂 (maaf cuman pendapat saya)

    • arif says:

      beban mental lah.
      bakal ketahuan kalau pernah dilecehkan (disodomi) sama om2.
      tidak semua orang bisa berempati/bersimpati.
      pasti ada yg memandang jijik atau melecehkan.

      mana nantinya bakal ketahuan juga kalau bhayu pernah liveshow coli ke imel kan. jadi imagenya buruk sudah.

      • DD says:

        Baca lagi deh, sy rasa kalau dilecehkan iya sudah, tpi kalau sampai maaf disodomi kayaknya belum sempat, krna waktu mau kejadian yang ketiga kalinya bayu udh di bantu herrel…. Sooo dlm tanda kutip justru dgn menyimpan kejadian itu beban mental bayu malah tambah berat,, 🙂 hanya pendapat… Don’t take it personally

    • arif says:

      eh, belum ya? yg waktu di mobil itu ngapain aja ya? aku lupa.

      well gimanapun tetep saja itu sesuatu yg sangat memaluan bagi pemuda macho macam bhayu.

      tidak mudah lho mengatasi trauma psikis seperti itu.

    • beenimnida says:

      exactly. setuju banget sebenernya. tapi kadang orang kalo punya rahasia emang jadi berasa semua hal yg terjadi bisa membongkar rahasia dia. geregetan sama rasa takut dua orang ini yang kurang rasional, tapi emang bukan nggak mungkin sih orang yg nyimpen rahasia itu jadi cenderung parno.

      sekalian komen: dan saya salah membaca. saya pikir ini udah tamat. ternyata yang tamat cerita satunya. -__-

  16. thiarz says:

    amazing.,.,.,.,.saya tunggu kelanjutannya ya.,.,.,.,.,.,,.,.,.

  17. dufei dejavu dua says:

    oh my god. deg2 an nih…. mau diperkosa kali

  18. (not so) regular walker says:

    Kemudian harrel dipaksa….merawanin anak gadis orang…..horror….

  19. Noki Prasetyo says:

    Thanks so much for the new story. …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s