KARTU MEMORI – Season II – Bagian 3

Posted: January 3, 2015 in Kartu Memory - The Series I
Tags: , , , ,

kartuuu_ori_II_3By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 3

AKU terbangun pagi itu karena sulit bernapas. Rupanya salah satu lengan Bhayu menindih leherku. Aku berusaha membuka mata lebar-lebar. Rupanya di luar sudah terang. Aku semalam menginap di rumah Bhayu setelah pulang dari acara makan bersama teman-teman sekelas di salah satu restoran untuk merayakan kelulusan kami. Kutolehkan kepalaku dan melihat Bhayu yang masih tertidur. Wajahnya menggemaskan sekali dan kudengar dirinya mendengkur kecil. Dia tidur memakai celana pendek dan kaus tanpa lengan biru gelap sehingga lengannya yang lebih berotot dariku serta ketiaknya yang ditumbuhi bulu halus terlihat jelas. Semalam kami terlalu lelah untuk bermesraan dan memilih untuk langsung tidur karena kami baru tiba di rumah lewat dari tengah malam.

Aku berniat untuk bangun ke kamar kecil dan menggeser lengan Bhayu dari leherku. Badan Bhayu bergerak sedikit dan menggeram pelan tanda protes. Dia malah berbalik dan memeluk tubuhku sehingga wajahku terbenam di dadanya. Bhayu kembali tertidur.

Walau aku tak keberatan dengan pelukan Bhayu dan amat menyukai wangi sisa sabun mandi bercampur aroma tubuhnya saat wajahku menempel pada dadanya, tapi aku harus membangunkannya.

“Bhay.. bangun. Kita kan mau ke Sekolah..” kataku.

“Mmm…” Bhayu cuma bergumam tanpa mau membuka mata.

“Oke deh. Kalau nggak mau bangun, gue bangunin nih,” ancamku.

Kemudian kepalaku bergeser sedikit. Kuangkat kaus Bhayu sementara dia masih memelukku sambil tertidur atau pura-pura tertidur itu. Saat aku bisa melihat kedua putingnya yang berwarna coklat terang, kujulurkan lidahku dan mulai memain-mainkannya bergantian. Kurasakan tubuh Bhayu bergelinjang sedikit sambil mendesis namun dia tetap berusaha mendekapku.

Aku makin bersemangat menggarap puting Bhayu. Kugigit kecil dan kutekan dengan lidahku hingga basah. Bhayu mulai mengerang. Dia pun melengkungkan punggungnya hingga dadanya semakin mendekat pada wajahku. Kulumat puting Bhayu cukup lama bergantian hingga kurasakan sesuatu mulai mengeras pada bagian selangkangannya dan menekan perutku. Kugeser cumbuanku semakin ke bawah. Aku suka sekali dengan garis bulu halus pada bawah pusar Bhayu yang semakin melebat hingga ke selangkangannya. Kuusap dengan lidahku barisan bulu halus itu dan kuturunkan celana pendeknya. Kudengar nafas Bhayu semakin berat. Tubuhnya sesekali terlonjak saat aku mulai menjilati buah zakarnya. Kulanjutkan aksiku dengan mengulum penis Bhayu yang sudah sangat tegang itu sambil memegangi kedua pinggangnya. Erangan Bhayu semakin keras. Telapak tangannya meremas bahuku. Dibukanya pahanya lebar-lebar agara aku makin leluasa mengisap penisnya.

Saat Bhayu hendak keluar dan berpikir bahwa aku akan menelan semua lontaran spermanya, aku buru-buru melepaskan penis itu dari mulutku.

“Aaaahh…” erang Bhayu ketika penisnya menyemprotkan cairan kental berkali-kali yang gagal ditampung oleh mulutku sehingga mengenai perut, kaus dan celananya.

“AAAAHH! HARREEL! Jadi berceceran gini!” teriak Bhayu kesal.

Aku berusaha menahan tawa melihat wajah Bhayu yang akhirnya terbangun dan kesal akibat spermanya tumpah ke mana-mana.

“Sengaja! biar elo bangun dan mandi!” kataku kejam sambil menjauh darinya.

“Eh, awas ya!” tiba-tiba Bhayu bangun dan berusaha menarik tubuhku.

“Eits! gak kena! hahaha..” aku mengelak dari cengkeraman tangan Bhayu.

“Sini! Jangan lari!” ujar Bhayu sambil membuka kausnya dan melemparnya ke keranjang baju.

Aku tergelak berusaha menghindar dari tangkapan Bhayu. Namun akhirnya Bhayu berhasil menarik kakiku hingga aku tertawa-tawa geli. Ditariknya aku dari atas ranjang dan Bhayu mendekapku dari belakang. Aku masih tertawa-tawa saat Bhayu mencoba menarik bajuku dan membukanya. Tawaku berhenti saat Bhayu membalik badanku dan menciumku penuh perasaan. Bhayu kemudian melepaskan ciumannya namun tetap memelukku.

“Ayo bantu bersihin!” geramnya sambil bercanda dan memaksaku berjalan ke kamar mandi bersamanya.

“Hahaha.. ampun Bhay! Ampun..” kataku sambil tertawa.

***

Saat kami berdua tiba di sekolah, tempat itu cukup lengang. Hanya terlihat beberapa murid saja dan semuanya berpakaian bebas. Aku ke sekolah karena hendak mengambil beberapa dokumen yang dilegalisir.

“Oh, iya. Elo udh pasti kan, kuliah di tempat yang sama sama gue? ada jurusan DKV nya juga di situ,” tanya Bhayu.

Aku mengangguk sambil tersenyum. Sebenarnya aku sudah memiliki kampus pilihan sendiri, tapi rasanya tak tega
menolak keinginan Bhayu. Bukan apa-apa, aku ingin masuk jurusan Desain Komunikasi Visual, namun menurutku di kampus pilihan Bhayu bukanlah yang terbaik.

“Kok, kayak ragu gitu? elo nggak mau ya, kuliah bareng gue? enggak takut gue ntar selingkuh atau gimana, gitu?” selidik Bhayu.

“Enggak, kok Bhay. Tapi lagian masih ada beberapa bulan lagi kan, kita lihat dulu aja, ya?” kataku.

Bhayu diam namun wajahnya sedikit kecewa.

“Elo yakin, Bhay? Mau masuk jurusan Teknik. Elo kan gak gitu berbakat di Fisika?” godaku.

“Ah. Selama ada elo yang bisa gue tanya-tanya dan bantuin gue belajar sih, kayaknya oke-oke aja,” ujar Bhayu.

Aku tak dapat menahan haru. Ucapan Bhayu seolah-olah dia ingin terus bersamaku selama empat atau lima tahun ke depan.

“Loh, kenapa kayak mau nangis? cengeng!” hardik Bhayu.

Aku tersenyum sambil berusaha mengusap mataku yang agak basah. “Yaudah, gue ketemu walikelas dulu ya? elo mau ke mana?”

“Gue ke loker bentar. Mau kosongin isinya. Masih ada barang gue yang ketinggalan,” kata Bhayu.

“Oke. Nanti habis dari sini kita ke toko, kan? Jadi beli kenang-kenangan buat wali kelas?” kataku mengingatkan.

“Oh, iya. Kemarin nama tokonya apa ya?” tanya Bhayu.

“Sebentar.. kayaknya gue sempet foto alamat tokonya,” kataku sambil mengeluarkan ponsel dan mulai membuka folder gambar di dalamnya.

Saat aku mencari-cari foto yang dimaksud sambil Bhayu ikut melihat, Bhayu mendadak marah.

“Eh.. eh! itu foto kita lagi ciuman belum elo hapus? gimana sih? kan janjinya disimpen cuma sebentar aja!”

“Eh, maaf Bhay.. abis lucu banget. Nggak tega hapusnya..” kataku.

“Elo tahu, kan? gue udah trauma sama namanya foto yang disimpen di memory card gitu? gak inget sama Om Herlan?” bentak Bhayu.

“Iya Bhay.. maaf.. gue hapus ntar..” ujarku merasa bersalah.

Bhayu mengangguk dan kemudian kami berpisah.

***

Dengan perasaan tak enak hati, aku berjalan menuju ruang guru. Setelah bersalaman dan mengobrol sebentar dengan Pak Walikelas, dia tiba-tiba menyerahkan sebuah amplop.

“Ini kemarin tiba dari Universitas BBB. Khusus untuk kamu,” kata Pak guru.

“Apa ini, pak?” tanyaku bingung.

“Bapak enggak tahu, coba kamu buka,” saran Pak Guru.

Aku lalu membuka amplop tipis itu. Universitas BBB adalah kampus yang aku targetkan untuk kuliah di situ selepas SMA karena jurusan DKV nya paling bergengsi dan sulit untuk menembusnya karena persaingannya yang ketat.

Rupanya ada sebuah surat dan kubaca isinya.

“Saudara Harrel, kalau anda masih ingat, anda adalah juara pertama Lomba Desain Ilustrasi Buku Cerita Rakyat tingkat SMA yang pernah kami selenggarakan. Selamat! semoga hadiah dari kami bermanfaat.

Seperti yang anda tahu, kampus kami tak hanya mencari mahasiswa unggulan untuk belajar di jurusan Desain Komunikasi Visual melalui proses seleksi yang ketat. Kami juga mencari bakat-bakat unggul yang kami pikir bisa mengembangkan kreatifitasnya bersama kami. Oleh karena itu, kami menawarkan program beasiswa untuk satu tahun pertama kepada saudara Harrel, dan akan berlanjut pada tahun berikutnya apabila nilai-nilai anda memuaskan. Bila saudara tertarik, dimohon untuk menghubungi kami segera untuk bergabung bersama kami.”

Aku terkesiap tak percaya. Tak cuma kepastian masuk tanpa harus bersusah payah mengikuti tes, aku juga berkesempatan mendapatkan beasiswa.

“Berita bagus?” tanya Pak Guru.

Aku menyerahkan kertas itu kepada Pak Guru dan dia tersenyum senang.

“Selamat ya, Rel.. Pikirkan baik-baik dulu sebelum memutuskan,” saran Pak Guru.

“Iya, pak!” sahutku riang.

***

Ketika meninggalkan ruangan guru, aku senang sekaligus bimbang bagaimana menceritakan hal ini pada Bhayu. Apakah dia akan mengerti?

“Permisi.”

Lamunanku buyar saat seorang menyapaku. Aku menoleh. Seorang pemuda jangkung dan tampan kira-kira berumur 25 tahunan sudah berdiri di belakangku.

“Ya? ada apa, Kak?” tanyaku ramah. Terus terang senyuman pemuda ini membuatku sedikit terpesona.

“Ruang gurunya di mana ya? saya kebetulan ada keperluan urus dokumen adik saya di sini,” tanya pemuda itu ramah.

“Oh, lurus aja kak! lalu belok ke kanan. Oh iya, kakak ini kakaknya siapa ya? mungkin saya kenal?” tanyaku.

“Saya Ivan, kakaknya…” baru saja pemuda itu hendak meneruskan kalimatnya, tiba-tiba Bhayu datang.

“Ayo Rel! kita cabut!” kata Bhayu.

“Halo..” sapa Ivan ramah pada Bhayu.

Bhayu menatap Ivan dengan penuh selidik. Tiba-tiba wajah Bhayu berubah aneh. Dia mundur sedikit menjauh dari kami.

“Ah.. kayaknya kalian sudah mau pergi. Terima kasih ya sudah kasih tahu saya tempatnya. Omong-omong nama kalian siapa?” tanya Ivan lagi dengan nada super ramah dan tenang.

“Saya Harrel, kak! kalau teman saya ini Bhayu,” jawabku.

Kulihat Bhayu masih memandangi Ivan dengan tatapan kurang suka dan menolak uluran tangan Ivan yang mengajaknya bersalaman.

Ivan kemudian mendengus kecil dan tersenyum. “Oke. Sampai jumpa, ya?” katanya sambil berlalu.

***

Ketika sampai di parkiran, aku tak tahan untuk bertanya pada Bhayu akan sikapnya.

“Elo kenapa, Bhay? kenal sama orang itu?”

Bhayu menggeleng. “Enggak.. enggak kenal…”

“Terus kenapa sikap elo aneh gitu?” tanyaku lagi.

Bhayu lalu menoleh ke arahku.

“Elo inget kan? gue masih trauma sama perlakuan Om Herlan waktu dia maksa gue.. maksa gue..” Bhayu tak sanggup meneruskan kalimatnya.

“Iya.. gue paham.. terus?”

“Satu yang gue nggak bisa lupain adalah wangi parfum yang dia pakai. Gue enggak pernah nyium lagi wangi yang sama setelah kejadian itu, tapi orang itu tadi… orang itu tadi wangi parfumnya sama persis sama Om Herlan!” kata Bhayu.

Aku menghela nafas. “Mungkin cuma kebetulan kali, Bhay.. Coba deh buat lupain.”

Bhayu tak menjawab. Dia lalu memakai helmnya dan menyodorkan helm satunya padaku. Selama perjalanan kami tak membicarakan hal itu, namun aku memeluk pinggang Bhayu seolah berusaha menenangkannya. Karena perasaannya kurang enak, kami batal mengunjungi toko untuk membeli cinderamata untuk pak wali kelas hari itu dan Bhayu memilih untuk mengantarku pulang.

“Elo nggak apa-apa kan, Bhay?” tanyaku memastikan lagi sebelum kami berpisah di depan pagar rumahku.

Bhayu mengangguk. Tiba-tiba dia mengeluarkan ponselnya.

“Bentar.. handphone gue bunyi..” ujarnya.

“Kenapa? ada yang telepon?”

Bhayu menggeleng. “Bukan.. ada WhatsApp dari nomor nggak dikenal..”

“Siapa? temen elo kali?” tanyaku.

Bhayu memperlihatkan layar ponselnya padaku. Di situ tertulis.

‘Halo.. apa kabar Bhayu?’

“Nggak ada di kontak lo ya nomornya? tanya aja siapa, kalau cuma iseng diblokir aja..” saranku.

Bhayu kemudian mengetikkan pesan “siapa ini?” dan mengirimkannya.

Kami berdua menunggu balasan dari pemilik nomor. Tak berapa lama dia membalas. Bukan dengan tulisan tapi dia mengirimkan sebuah foto.

Aku dan Bhayu terkesiap ketika foto yang dikirimkan itu ternyata adalah foto Herlan yang sedang tersenyum, Papa Imel yang sudah meninggal karena bunuh diri.

Kami berdua langsung berpandangan dan menoleh ke sekeliling kami seolah merasa siapapun pemilik nomor itu sedang mengawasi aku dan Bhayu.

Di kejauhan tampak sebuah mobil yang dari tadi terparkir tiba-tiba menyala. Mobil itu berbalik memutar arah menjauh dari kami, tapi dari kacanya yang tak terlalu gelap, aku bersumpah mengenali orang yang mengemudikan mobil itu sebagai Ivan. Pemuda yang tadi kami temui di sekolah.

-bersambung-

Advertisements
Comments
  1. Lorenzo Alfredo says:

    Amazing….

  2. Youngxiao says:

    Hmm.. semua karakter di blog ini nyambung d tiap cerita yg berbeda y. Bagus ^^

  3. Youngxiao says:

    Linguini = nama dr film ratatouille… nice choice kk ~

    Can’t wait for the next ~

  4. Ray says:

    Suspense, ada treasure trail jugak 😀

  5. blackshappire says:

    woooohhh….

    makin kereen nih,
    hemmm jd curiga, ntar ivan bakalan jd orang 3 antara harrel ma bhayu

  6. Tsu no YanYan says:

    Deg-degan bacanya ><

    Si Ivan bakal jadi ancaman nih!…

  7. mrsc says:

    mana part 4nya bang udh ga sbar nih seru amat jd penasarn bgt gmn lnjtnnya

  8. adinu says:

    kalo abis ini ivan neror bhayu, berasa seperti film-film ‘i know what you did last summer’ dst.
    ga tau kok langsung nyambung kesitu…

  9. Anggara says:

    Konflik again, kasian bhayu hikss

  10. dennis says:

    Halo bisa bicara dengan bang remy?
    Bang remy sayang,mau usul nih.. bisa ga karakter om rendi temennya si bastian itu dimunculkan di season 2 ini sebagai ayahnya harrel dan nico. Thx 🙂

  11. arif says:

    eh bang.. ivan ini karakter dari story lain kah? yg mana?

  12. Kao says:

    Gilaaaaa keren abis sumpah (y) di tunggu cerita selanjutnya ya 🙂

  13. gmaadw says:

    Lama banget sumpah, sampe bosen nungguin cerita selanjutnyaa.

  14. gmaadw says:

    Nunggu cerita ke 4 nya lamaa sangat. Udah cape nunggunya nih. Kapan di rilis yang ke 4 nya?

  15. Opang says:

    Bang reemy kapan nih lanjutannya? Penasaran aku…

  16. fandy\ says:

    minggu kpn bang minggu bsk or minggu dpn??? klo bsk wah msti pntau trs nih udh pnsran bgt nih

  17. kazekage says:

    Kereeeen! Pengikut blog mu nih, tp komen skrg. Ceritanya seru, to the point tp juga ga kecepetan. Asiik lah. Lanjut bacaa..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s