KARTU MEMORI – Season II – Bagian 2

Posted: January 1, 2015 in Kartu Memory - The Series I
Tags: , , ,

kartuuu_ori_II_2By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 2

BIMA benar-benar dalam kondisi serba salah. Dia sendiri belum bisa menemukan hubungan antara foto bergambar seorang siswa yang sedang bermasturbasi yang wajahnya tak nampak dengan kematian Herlan, suami Linda yang kini sedang berada di depannya.

“Jadi? Apa penjelasan anda mengenai gambar ini?” tanya Linda lagi sambil mengacungkan selembar kertas terbungkus plastik yang ada ditangannya.

“Ibu Linda.. tolong tenang dulu. Kami sendiri belum menemukan adanya hubungan gambar ini dengan kematian suami anda. Lagipula, anda yang memutuskan untuk tidak memperpanjang kasus ini,” kata Bima.

Linda tampak tidak puas dengan penjelasan Bima.

“Apa.. ini benar milik suami saya?” tanya Linda.

“Kertas itu kami temukan tak jauh dari mobil almarhum. Awalnya kami pikir itu tak ada hubungannya, tapi sidik jari suami ibu ada di kertas itu,” jawab Bima.

“Jadi.. maksud anda.. suami saya..” Linda bergidik. Dirinya tak sanggup melanjutkan pertanyaannya sendiri.

“Kami dari kepolisian tidak dalam kapasitas menjawab mengenai masalah ini. Karena kasus ini telah ditutup, kami kembalikan lagi kepada anda sebagai ahli waris korban,” kata Bima.

Wajah Linda berubah merah. Dia tampak salah tingkah. Pandangan matanya dia alihkan dari Bima dan tampak sedang berpikir keras.

“Ibu Linda? Anda tidak apa-apa?” tanya Bima khawatir.

Linda menghela nafas mencoba menguasai dirinya kembali dan berdiri dengan tegak. “Saya tidak apa-apa. Baik.. terima kasih sudah menjaga barang-barang almarhum suami saya. Saya mau pulang saja,” katanya.

Linda mengangkat kardus berisi barang-barang peninggalan suaminya setelah menandatangani formulir penyerahan barang. Dia tampak sedikit terhuyung saat berjalan keluar.

“Ibu Linda. Perlu saya bantu?” tawar Bima simpatik.

Linda menggeleng sambil tersenyum lemah. Dia kemudian mengangguk kepada Bima sekali lagi.

“Saya minta tolong Bu. Jangan bertindak gegabah. Jika ada hal apapun yang bisa kami bantu, lebih baik lapor pada kami,” kata Bima lagi.

Sekali lagi Linda mengucapkan terima kasih dan segera berlalu. Di luar, seorang petugas polisi mengantar Linda ke lapangan parkir. Mobil suaminya berada di sana. Dalam kondisi yang agak kotor walau ditutupi oleh kain pelindung mobil selama kendaraan itu terparkir di sana.
Linda agak ragu bahwa mesin mobil suaminya bisa menyala setelah sekian lama tak dipanaskan. Awalnya dia sengaja datang ke kantor polisi dengan menggunakan taksi karena dia pikir bisa kembali ke rumah sambil membawa mobil suaminya. Tapi setelah melihat kondisi mobil itu, Linda menjadi ragu.

“Saya bantu panaskan mobilnya, bu?” tawar petugas itu.

Linda mengangguk setuju. Syukurlah, saat distarter, mesin mobil itu menyala tanpa gangguan. Linda merasa lega.

“Ibu bawa sendiri mobil ini? perlu kami antar?” tanya petugas polisi itu menawarkan bantuan ketika melihat wajah Linda yang muram.

“Tidak perlu, pak.. saya bisa setir sendiri,” tolak Linda ramah.

Petugas polisi itu kemudian mengangguk dan pamit pergi. Linda lalu memacu kendaraannya keluar dari pelataran parkir markas Kepolisian. Tangannya memegang setir dengan gemetar. Rasanya sungguh tak nyaman mengendarai mobil suaminya yang sudah meninggal ini dan dia ingin cepat-cepat sampai ke rumah. Di tengah perjalanan, dirinya mulai terisak.

Saat tiba di rumah, Linda yang masih menangis keluar dari mobil. Dia membuka seluruh pintu mobil milik suaminya dengan marah. Seperti kesetanan, dia yang sudah tak sabar ingin mencari tahu sendiri alasan suaminya bunuh diri, mulai membongkar mobil itu. Diangkatnya seluruh karpet mobil, dibukanya bagasi, digesernya seluruh kursi hingga dia membuka setiap kompartemen yang ada di dalam mobil itu hingga tempat sampah mungil yang ada di bagian tengah mobil, namun hasilnya nihil.

Linda tak kuasa membendung tangisnya. Imel anak satu-satunya kini dalam kondisi depresi. Sedangkan dia harus berjuang sendirian agar kehidupannya berjalan normal tanpa ada bantuan dari suaminya. Dia lelah menghadapi pertanyaan banyak orang. Dia lelah harus mengurus semua pekerjaan yang ditinggal suaminya. Dia lelah harus mendengarkan gunjingan orang-orang di sekitarnya yang di hadapannya berpura-pura simpati. Semua tangisnya dia tumpahkan di teras rumahnya.

Seorang pelayan yang melihat Linda menangis histeris, berusaha menenangkannya. Dibopongnya Linda ke dalam sambil terus berkata-kata hal yang menenangkan. Di dalam kamar, Linda menatap lagi kotak yang berisi barang-barang peninggalan suaminya.

Dia mengelurkan dompet, jam tangan, cincin kawin suaminya satu persatu dengan sedih. Saat dia melihat sebuah ponsel, Linda baru sadar bahwa dia tak pernah melihat ponsel itu sebelumnya. Dia tahu suaminya punya satu ponsel yang biasa dia pakai sehari-hari. Ponsel itu sudah dikembalikan jauh-jauh hari setelah selesai diperiksa polisi dan tak ditahan sebagai barang bukti karena kepentingan bisnis dan keluarga.

Linda melihat ponsel yang tampaknya belum lama digunakan itu. Dia membuka isinya namun tak ada kartu SIM apapun di dalamnya. Begitu pula slot kartu memorinya kosong. Linda mencoba menyalakan ponsel itu namun rupanya baterainya sudah lemah. Penasaran, dia lalu mencari pengisi baterai ponsel itu di dalam kardus. Tak ada. Lalu tiba-tiba Linda teringat sesuatu. Dia kemudian beranjak menuju meja kerja suaminya. Dengan harap-harap cemas dia membuka laci meja itu dan benar saja. Pengisi baterai ponsel misterius itu ada di dalamnya.

Linda bersabar sebentar menunggu hingga ponsel itu bisa dinyalakan ketika kabel dayanya sudah terpasang ke ponsel. Perasaannya sungguh cemas. Ketika ponsel itu menyala, Linda mencoba menyelidiki konten yang ada di dalamnya. Nihil. Tak ada rekaman nomor ponsel siapapun yang dihubungi. Tak ada pesan teks tertinggal. Tak ada foto ataupun file lain di dalam ponsel itu seperti seseorang sudah menghapus isinya. Buat apa suaminya menyimpan sebuah ponsel bila tidak pernah dia gunakan? tanya Linda dalam hati.

Dia kemudian kembali mengambil sobekan foto itu. Diperhatikannya baik-baik gambar seragam sekolah yang tergantung di belakang foto pemuda telanjang dada itu. Ya! tak salah lagi. Ini adalah seragam SMA yang sama dengan anak gadisnya. Otak Linda berpikir keras. Apakah Imel ada hubungannya dengan kasus ini? Mungkinkah suaminya sebenarnya tak berniat bunuh diri? Apakah suaminya saat itu hendak menanyakan Imel mengenai foto itu karena sebagai seorang ayah tentu saja dia akan sangat marah jika anak gadisnya berbuat hal yang tidak pantas? lalu.. saat menuju sekolah, suaminya tertabrak mobil. Tapi mengapa semua saksi bilang suaminya sengaja berdiri di tengah jalan membiarkan dirinya tertabrak kendaraan? Kepala Linda terasa sakit memikirkan semua kemungkinan itu.

Tiba-tiba seseorang mengetuk ruang kerja suaminya. Pelayan yang tadi mengantar Linda.

“Ibu… ada Kak Ivan cari ibu…” kata gadis muda itu.

“Oh.. Ivan? Masuk Van..” kata Linda buru-buru bangkit sambil mengelap airmatanya.

Sesosok pemuda jangkung dan tampan melongok masuk ke dalam. “Tante?”

“Apa kabar, Van?” sapa Linda sambil berusaha tersenyum.

“Baik, Tante. Apa kabar? Maaf Ivan baru bisa datang sekarang…” kata pemuda bernama Ivan itu sambil memeluk Linda.

“Iya. Tante ngerti, Van. Waktu Om meninggal, kamu masih sibuk selesain kuliah. Tante ngerti kamu susah buat balik ke Indonesia.”

Ivan mengangguk sedih.

“Imel kabarnya gimana, tante?” tanyanya.

“Depresi. Susah belajar. Tidak mau kembali ke sekolah dan ikut ujian akhir. Terpaksa tante arahkan ke home schooling supaya tahun depan bisa lulus ujian…”

“Imel di rumah nenek sejak kejadian itu?” tanya Ivan memastikan.

Linda mengangguk.

“Om dan Tante adalah orang yang paling berjasa buat Ivan. Waktu Papa Mama meninggal, Om Herlan sama Tante yang nolongin Ivan sampai bisa lanjut kuliah di luar negeri. Jadi sekarang, apapun yang tante minta, Ivan siap bantu..” ujar Ivan.

Linda kembali menangis, “Makasih Van.. maaf tante merepotkan kamu. Tapi tante enggak tahu lagi harus minta bantuan siapa yang bisa tante percaya. Semua bisnis Om kamu kacau balau sejak dia meninggal. Keuangan.. pembukuan.. hutang jatuh tempo.. tante kewalahan..”

“Iya. Tante tenang saja. Kalau tante percaya sama Ivan, biar Ivan yang urus semuanya, ya?”

Linda mengangguk sambil masih terus terisak di pelukan Ivan.

“Ada hal lain lagi tante?”

Linda awalnya menatap ragu Ivan. Dia ragu apakah harus bercerita tentang kecurigaannya kepada keponakannya itu.

“Sebenarnya… tante masih ingin tahu penyebab Om kamu bunuh diri, Van.. tapi tante sama sekali enggak punya petunjuk kecuali barang-barang peninggalan om kamu.”

Setelah Linda menceritakan perihal ponsel misterius dan sobekan foto gambar telanjang yang dicurigai masih satu sekolah dengan Imel, Ivan meminta izin agar semua hal itu diserahkan padanya untuk diselidiki.

“Kira-kira tante kenal teman laki-laki Imel di sekolahnya?” tanya Ivan.

“Tante.. cuma tahu dua orang. Yang satu namanya Harrel. Dia jadi saksi waktu Om kamu tewas. Satu lagi yang juga jadi saksi namanya Bhayu. Kalau dia tante cukup kenal, dia pernah jadi pacar Imel. Agak heran juga. Mereka berdua jadi saksi tewasnya Om kamu, tapi mereka seperti menghindar dari tante. Padahal… biarpun Imel sudah tidak lagi pacaran dengan anak itu, bukankah seharusnya mereka datang waktu acara pemakaman?” ujar Linda.

“Hm.. begitu ya? tante ada foto mereka berdua?”

“Kalau foto Bhayu, tante rasa masih Imel simpan di kamarnya. Sebentar,” kata Linda sambil berlalu.

Tak berapa lama, Linda kembali dan menyerahkan selembar foto Imel berdua dengan seorang remaja laki-laki. “Itu yang namanya Bhayu.”

“Boleh saya pinjam, tante?” tanya Ivan.

Linda mengangguk. Wajahnya masih tampak murung.

“Ya sudah. Tante sekarang istirahat, ya? Sekarang Ivan sudah di sini. Semua bisnis Om Herlan biar Ivan yang tangani. Termasuk masalah ini…” kata Ivan menenangkan Linda kembali sambil memeluknya.

***

Malam itu Ivan masih berada di ruang kerja Herlan. Di hadapannya tergeletak barang peninggalan Herlan yang dia curigai berhubungan dengan kematiannya. Ivan menghela nafas. Bagaimanapun, dia berhutang budi pada Linda dan Herlan. Orangtuanya tewas dalam sebuah kecelakaan sehingga dia dirawat oleh Linda, adik perempuan ibunya. Bagaimanapun juga, melihat gambar pemuda telanjang itu membuatnya berpikiran bahwa Herlan seorang homoseksual. Atau barangkali biseks. Tapi seumur hidupnya dia mengenal Herlan, sama sekali tak pernah dia mencurigai Herlan menyembunyikan sesuatu.

Paginya, Ivan mengunjungi teman sekolahnya di sebuah pusat perbelanjaan. Saat itu dia hendak membeli tablet untuk keperluan pekerjaannya mengurus bisnis Herlan yang terbengkalai.

“Wooi.. apa kabar lu, bro? hebat lu sekarang! kuliah di Luar Negeri, terus balik-balik langsung jadi eksekutif muda.” kata Rocky temannya.

Ivan tersenyum. “Kuliah di luar negeri sih biasa aja, bro. Apalagi balik juga malah ngurusin bisnis Om yang udah meninggal. Lebih hebat elu, lah! jadi juragan elektronik.”

“Hahaha.. bisa aja lu, bro! ya udah. Lu mau yang mana? gue kasih harga temen dah!” kata Rocky lagi sambil mendorong naik gagang kacamatanya.

Setelah memutuskan tablet yang hendak dia beli. Ivan lalu mengeluarkan ponsel Herlan yang sengaja dia bawa.

“Lu tahu nggak, cara balikin semua yang udah dihapus di dalam handphone?” tanya Ivan sambil menyerahkan ponsel itu pada Rocky.

Rocky mengamati ponsel itu. “Punya siapa nih, bro? elu?”

Ivan menggeleng. “Bukan. Itu punya almarhum Om gue. Kebetulan ada kontak bisnisnya yang ilang. Mungkin dia simpen di situ.”

“Hmm.. setahu gue sih, yang dihapus di handphone, belum tentu bener-bener kehapus. Gue bukan ahlinya, tapi kalo elo izinin, gue kasih temen gue di belakang supaya diperiksa,” tawar Rocky.

“Silakan,” kata Ivan sambil tersenyum.

Ivan lalu menunggu sekitar tiga menit sampai Rocky akhirnya kembali.

“Sayang Bro.. kayaknya memang isinya semua sudah dihapus permanen. SMS juga kosong, tapi… ada nomor telepon terakhir yang dihubungi tercatat di situ berkali-kali,” kata Rocky sambil menyerahkan kembali ponselnya.

“Eh, beneran?” tanya Ivan tak percaya.

Rocky mengangguk. Dia menyerahkan ponsel itu dan sebuah nomor tercatat berulang-ulang dihubungi oleh Herlan melalui ponsel tersebut.

“Mau langsung dicek?” tanya Rocky hati-hati.

Ivan menggeleng. Dia ragu untuk menghubungi nomor tersebut. Mungkin saja nomor itu sudah tidak aktif.

“Tau nggak, bro. Ada cara buat cari tahu siapa yang punya nomor itu selain ditelepon. Satu, elu musti tanya operator selulernya, yang kedua, elu bisa cari tahu lewat aplikasi WhatsApp.” ujar Rocky.

“WhatsApp? caranya?” tanya Ivan.

“Elu install aplikasi WhatsApp kan? nah, elu masukin deh tuh nomer. Terus di search. Siapa tahu yang punya nomor udah daftarin ke WhatsApp juga. Minimal dia pasang foto lah, mudah-mudahan sih pasang foto muka, ye? hehehe..” jelas Rocky.

Ivan sebenarnya penasaran. Tapi dia tak ingin gegabah menghubungi satu-satunya petunjuk kematian Herlan yang berupa nomor ponsel itu. Dia tak ingin, siapapun orang itu mengetahui dirinya sedang diselidiki. Kemudian dia mengikuti saran sahabatnya untuk memasukkan nomor ponsel itu ke kontaknya dan mencari tahu lewat WhatsApp.

Ivan menunggu dengan berdebar ketika tombol refresh contact pada aplikasi WhatsApp dia tekan dan ikonnya berputar-putar. Tak lama, muncullah sebuah kontak baru yang dia beri nama “Si Misterius” pada aplikasi itu dan perlahan foto profil pemilik nomor itu muncul. Seorang pria remaja. Agaknya bagi Ivan, Si Misterius tak lagi terlalu misterius ketika dia mengenali orang yang ada pada foto profil itu sebagai Bhayu…

-Bersambung-

Advertisements
Comments
  1. Si Penyuka PRIA says:

    kok cerita bagian 2 nya engga ada Bhayu sama Harrel sih

  2. Lorenzo Alfredo says:

    Amazing…

  3. Anggara says:

    Jadi ruwet masalahnya –“

  4. Harel sama bayu nya mana??

  5. Ray says:

    Wow, ceritanya jadi semakin kompleks
    Semangat buat terus apdet bangrem. Happy new year 🙂

  6. new comers says:

    Keren banget bang remy..

    Tiap hari selalu cek blog ini buat cek update critanya..

  7. Tsu no YanYan says:

    Mas Bima kalah cerdik sama Ivan…

    Bhayu bakal kena masalah lagi><

  8. Horace says:

    agak kebaca plot ceritanya menuju kemana, but, well saya tunggu lanjutannya 🙂

  9. dufei dejavu dua says:

    wowwwww. tambah karakter baru

  10. arif says:

    kirain bakal ada adegan ivan x linda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s