KARTU MEMORI – Season II – Bagian 1

Posted: December 28, 2014 in Kartu Memory - The Series I

kartuuu_ori_II_1By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 1

HARI ini hampir seluruh siswa kelas XII cemas. Ya. Sekarang adalah saat pengumuman hasil Ujian Nasional yang sudah membuat seluruh siswa senior kalang kabut dan ketar-ketir berminggu-minggu untuk melewatinya. Dari tadi banyak siswa sudah menunggu di tempat biasanya papan pengumuman berada. Entah mengapa hasil ujian belum ditempel pihak sekolah di situ sehingga banyak murid merasa keheranan, termasuk Bhayu dan aku.

“Kenapa enggak langsung ditempel di papan ya? lagian papan pengumumannya juga hilang,” kataku heran.

Bhayu mengangkat bahu sambil asyik main game pada ponselnya. Tampaknya dia tak secemas diriku dan siswa lainnya.

“Elo kok tenang banget sih, Bhay?” tanyaku gusar.

“Ya elo juga harusnya tenang aja, sayang… Gue percaya otak gue sendiri, lantas kita juga udah belajar mati-matian dan waktu ujian kayaknya jawaban gue banyak yang bener, kok..” ujar Bhayu santai.

Aku mendengus kurang senang sambil menggoyang-goyangkan lututku dengan gelisah. Walau kagum dengan sifat percaya diri Bhayu, tetap saja aku memikirkan sejuta kemungkinan lain bahwa kami berdua akan gagal lulus ujian paling menakutkan tersebut.

Tiba-tiba terdengar suara nyaring dari pengeras suara dan terdengar seseorang berdeham-deham dan mengatakan satu-dua-tiga. Itu suara kepala sekolah yang meminta seluruh siswa kelas XII berkumpul di lapangan. Siswa yang berkerumun di pinggir-pinggir lapangan dengan langkah berat akhirnya berbaris di lapangan sesuai dengan kelasnya masing-masing. Aku dan Bhayu pun menuruti perintah Pak Kepsek.

“Selamat pagi, anak-anak,” kata Pak Kepsek memulai.

“Bapak tahu, kalian hari ini cemas menunggu pengumuman hasil ujian. Tapi sebelum itu, bapak akan menyampaikan beberapa hal terlebih dahulu,” lanjut Kepsek sambil berdeham sekali dan mengeluarkan lipatan kertas dari saku kemejanya.

“Tahun ini… sayang sekali… tingkat kelulusan sekolah kita tidak mencapai seratus persen seperti tahun lalu…” kata pak Kepsek.

Mendadak semua siswa yang berkumpul di lapangan menjadi cemas. Suara bisik-bisik terdengar di mana-mana.

“Kepada siswa yang lulus ujian, bapak harap kalian tidak meluapkan kegembiraan secara berlebihan. Apalagi sampai coret-coret seragam, konvoi di jalan, dan berbuat keonaran. Mengerti?” lanjut pak Kepsek.

“Mengerti pak…” sahut murid-murid dari tengah lapangan.

“Kabar sedihnya, siswa yang tidak lulus itu dikarenakan dia, salah seorang teman kalian, baru saja mengalami peristiwa yang.. ehm..,” Pak Kepsek berdeham dan menelan ludah sekali dengan gugup. “peristiwa yang tragis dengan keluarganya.. di depan sekolah kita.”

Aku dan Bhayu saling berpandangan. Kami teringat pada Imel yang ayahnya bunuh diri tepat di depan sekolah dengan membiarkan dirinya tertabrak sebuah truk hingga tewas.

Kemudian tampaklah dua orang pesuruh sekolah mendorong papan kayu beroda dengan kertas pengumuman yang tertempel di situ.

“Jadi itu artinya, selain kawan kalian tersebut… selebihnya.. semua LULUS!” sahut pak Kepsek yang disambut jeritan senang siswa yang ada di lapangan sambil melompat-lompat dan bertepuk tangan.

Tanpa dikomando, sebagian siswa berlari menuju papan pengumuman dan mencari tahu nilai mereka masing-masing. Sementara itu, sebagian besar lainnya, entah di mana mereka menyimpannya, sudah mengeluarkan spidol dan mulai mencoret-coret seragam teman-temannya.

“Hei! Hei! Hei! Bapak bilang jangan corat-coret!” teriak Pak Kepsek gusar. Namun seruan itu sama sekali tak digubris para siswa. Akhirnya Pak Kepsek menyerah dan turun dari forum sambil menggelengkan kepalanya.

“Ayok, Bhay!” kataku mengajak Bhayu.

“Udahlah, entar aja.. yang penting kita lulus, kan?” kata Bhayu santai.

“Tapi gue penasaran!” sahutku.

“Penasaran apa nilai gue lebih tinggi dari elo, gitu? Karena elo enggak rela kalau sampai begitu padahal elo yang ngajarin gue sebelum ujian?” tebak Bhayu.

Aku langsung salah tingkah. Bhayu rupanya sudah hapal betul tingkaku. “Elo gitu banget sih, Bhay?” aku bersungut.

Bhayu terbahak. “Mending nanti aja kalau udah sepi. Gue punya hadiah buat elo,” godanya.

“Hadiah apa?”

Sebelum Bhayu sempat menjawab, dirinya sudah dikerubuti teman-teman lain yang memintanya menandatangani seragam mereka masing-masing. Ya. Karena Bhayu siswa populer, tentu saja banyak yang menginginkan kenang-kenangan dari nya, terutama anak cewek. Bahkan tak ragu dari mereka meminta Bhayu tanda-tangan pada bagian dada seragam mereka. Dan Bhayu dengan antusias melayani permintaan itu. Aku menatap Bhayu dari tempat yang agak jauh sambil tersenyum. Kulihat Bhayu terbahak gembira saling mencoret seragam dengan teman-temannya. Aku tak tahan untuk tidak mengingat kejadian yang kita alami beberapa bulan ke belakang. Saat Bhayu masih sangat membenciku, hingga akhirnya menjadi akrab seperti sekarang.

Aku mengusap mataku yang terasa basah. Mulutku tak berhenti tersenyum. Aku bahagia. Bahagia bisa bersama Bhayu, teman yang sangat aku cintai.

***

Ketika Aku akhirnya leluasa mencari tahu nilai total hasil ujiannya, aku tersenyum senang mendapati nilaiku masih lebih bagus dari nilai total Bhayu. Ya. Walau diriku dan Bhayu sudah sangat dekat, siat kompetitifku masih kupertahankan.

“Puas sekarang?” goda Bhayu.

Aku menoleh sambil tersenyum malu. Kami berdua memakai seragam sekolah yang sudah penuh coretan. Coretan di bajuku tak sebanyak coretan spidol pada seragam Bhayu.

“Ayo, kita pergi,” ajak Bhayu sambil memperbaiki letak ransel di punggungnya. Saat itu sekolah sudah sepi walau belum tengah hari. Sebagian besar siswa sudah keluar dari sekolah dan merayakan kelulusan di tempat lain.

“Pulang?” tanyaku.

Bhayu menggeleng. Dia menyuruhku mengikutnya. Rupanya Bhayu mengajakku ke Gang Belakang sekolah. Tempat di mana aku pertama kali mengajak intim Bhayu dengan memberikan seks oral padanya.

“Bhay.. kita kan udah janji enggak akan ke sini lagi sejak kita lihat se…” ujarku khawatir mengingat terakhir kali kami melihat kuntilanak di sini.

“Ssst! biarin aja. Lagian masih siang begini. Gue enggak peduli dia mau liat apa enggak, ini mungkin terakhir kali kita berdua bisa ke tempat ini lagi, kan?” sahut Bhayu.

Aku diam menuruti keinginan Bhayu. Kami berdua duduk di atas tumpukan batu bata dan saling bertatapan.

“Selamat ya, buat kelulusan elo.” kata Bhayu sambil menjabat tanganku.

“Sama-sama, Bhay,” balasku sambil tersenyum.

“Oh iya, kita kan belum saling tanda-tangan di seragam?” kata Bhayu mengingatkan.

Dia lalu memberikan sebuah spidol padaku.

Aku tersenyum sedih melihat seragam Bhayu yang penuh coretan dan tampaknya tak lagi tersisa tempat kosong untuk kububuhkan tanda tangan.

“Ah! lama! sini gue duluan!” hardik Bhayu dengan nada kurang sabar seperti cirikhasnya.

Bhayu lalu merebut spidol dari tanganku. Seharusnya dia bisa membubuhkan tanda tangan di bagian mana saja pada seragamku yang tak terlalu banyak coretannya, tapi tanpa kuduga, dia malah membuka kancing seragamku.

“Eh, eh! mau apa?” tanyaku.

Bhayu tak menjawab. Setelah tiga kancing seragamku terbuka, dia malah mulai menulis pada kaus singlet putihku. Tepat di bagian dada kiriku.

Bhayu sambil tersenyum menggambar sebuah hati dan menuliskan namanya di tengah-tengah hati tersebut.

“Nah. Gue maunya ada di tempat spesial. Di sini…” katanya sambil memegang dadaku setelah mengancingi seragamku kembali.

Bibirku gemetar haru. Aku mengambil spidol dari tangan Bhayu dan mengikutinya menggambar hati pada kaus dalamannya dan membubuhkan namaku di tengahnya.

“Makasih, Rel.. buat tahun yang menyenangkan di SMA..” kata Bhayu.

Aku hanya mengangguk-angguk tak bisa berkata apa-apa. Bhayu kemudian mendekatkan wajahnya ke telingaku. Dia lalu berbisik serius. “Elo harus janji satu hal sama gue..”

“A.. apa itu, Bhay?” tanyaku tak kalah serius.

“Janji… jangan sampai baju dalem elo dicuci nyokap. Ntar nyokaplu tanya-tanya lagi kenapa ada nama cowok di situ…” bisik Bhayu lagi namun akhirnya tak tahan untuk tak tertawa.

“Sialan!” kataku terkekeh sambil memukul bahunya.

Bhayu masih tertawa geli. Dia lalu mengambil sebuah kantung plastik kecil dari dalam ranselnya.

“Dan.. ini yang gue janjiin tadi. Hadiah buat elo,” katanya sambil menyerahkan bungkusan plastik tersebut.

Aku dengan ragu menerimanya. Kubuka perlahan dan mendapati sebuah flashdisk berbentuk bola basket dengan huruf B di tengahnya.

“Gue tau, B itu artinya Basket… tapi bisa juga kan inisial nama gue.. supaya elo inget terus sama gue… ng… soalnya kalo kasih perhiasan, kayak cewek aja.. ng.. KAMU MAU ENGGAK? JANGAN DIEM AJA!” hardik Bhayu tiba-tiba karena merasa gugup.

“Iya Bhay.. gue suka.. makasih ya..” kataku sambil mengecup pipinya.

Tiba-tiba mataku terasa panas dan berair.

“Ih.. kenapa malah nangis? cengeng!” sahut Bhayu.

“Maaf Bhay.. gue malah enggak kepikiran sama sekali… nggak beliin elo kado… enggak bersikap romantis..” kataku sambil mengusap mataku dengan tangan.

Bhayu menghentikan kata-kataku dengan mencium bibirku lembut. Kami berciuman selama beberapa lama. Ciuman penuh kemesraan itu berubah menjadi ciuman penuh nafsu. Aku tahu, saat itu aku akan memberikan hadiah balasan untuk Bhayu.

Kutundukkan kepalaku dan kudekatkan wajahku pada selangkangannya. Kubuka perlahan risleting celananya dan kukeluarkan penis Bhayu yang rupanya sudah mulai menegang itu.

“Nghh…” erang Bhayu pelan saat aku mulai mengulum penisnya masuk ke dalam mulutku. Perlakuan Bhayu yang romantis, hadiah yang dia berikan, membuatnya pantas mendapatkan seks oral terbaik dariku saat itu.

Kuhisap, kukulum dan kujilati dengan sepenuh hati penis Bhayu. Kurasakan tubuh Bhayu menegang, terlonjak sedikit tanda dia menikmati isapanku. Tangannya mengusap-usap punggung dan sesekali meremas rambutku sambil merintih. Nafas Bhayu semakin terdengar berat. Kurasakan pahanya berjengit sedikit dan semakin membuka lebar.

Erangan Bhayu semakin keras, tiba-tiba dia memegangi kepalaku dengan erat dan penisnya mulai berkedut beberapa kali sambil memuntahkan lahar putih kentalnya ke dalam mulutku. Nafasnya terengah-engah. Pahanya menegang dan membuat kakinya sedikit terangkat. Aku berusaha menelan semua sperma Bhayu tanpa tersisa dan membersihkan batang penisnya dengan mulutku. Kudengar nafas Bhayu masih belum stabil. Saat aku bangkit, Bhayu menatapku takjub.

“Ya ampun, Rel.. kalo akibatnya bisa enak begini, tiap bulan gue harus nabung buat beliin elo flashdisk terus..” godanya.

“Sialan!” kataku terkekeh sambil kembali menonjok bahunya. Wajahku terasa memanas. Tiba-tiba Bhayu menatapku tajam. Dia lalu mencium bibirku dengan ganas dan mengangkat badanku. Dihimpitnya tubuhku pada dinding sambil menciumi leherku.

Giliranku yang merintih menikmati cumbuan Bhayu pada leherku. Tangan Bhayu yang satu mulai meraba perutku, bergeser hingga selangkanganku dan menyelipkannya ke balik celanaku sambil berusaha meremas isinya.

“Nggh..” erangku saat Bhayu berhasil menggenggam penisku di balik celana dan mulai meremas dan mengocoknya.

“Bhay.. enak..” gumamku. Bhayu tak menjawab, dia terus menciumi pipi dan leherku sambil terus mengocok penisku yang sudah sangat tegang itu.

“Ngghhh.. Bhay…” desahku saat akhirnya aku mengeluarkan spermaku dan membasahi telapak tangan Bhayu. Nafasku terengah-engah sambil gemetar. Perlahan Bhayu mengeluarkan lengannya dan membersihkannya dengan saputangan handuk yang ada di celananya.

Aku melihat ke bawah dan mendapati bagian depan celanaku terlihat sedikit basah seperti orang yang mengompol.

“Ah.. sekarang gimana caranya gue pulang, nih! gara-gara elo nih, Bhay!” sungutku.

Bhayu terkekeh. “Tutupin aja pake tas sampe parkiran.. nanti kan diboncengin juga gak keliatan..”

Aku cemberut selama beberapa saat, tapi akhirnya tak tahan untuk ikut tertawa bersama Bhayu.

***

Sementara itu, Bima sedang menulis laporan harian di ruangannya di kantor Polisi saat seorang perwira berseragam mengetuk pintunya.

“Siang Pak! Lapor!” kata perwira itu sambil menghormat.

“Siang. Silakan.” kata Bima.

“Nyonya Linda, istri Almarhum Herlan datang pak! beliau hendak mengambil barang peninggalan almarhum suaminya.”

“Suruh dia masuk..” kata Bima.

“Siap!” perwira itu kemudian berlalu. Tak lama seorang wanita cantik berusia awal empat puluhan muncul. Wajahnya masih nampak berduka. Kejadian suaminya bunuh diri di depan sebuah sekolah beberapa bulan lalu rupanya masih membuatnya tampak sedih dan tertekan.

“Silakan duduk ibu Linda…” Kata Bima ramah.

Wanita bernama Linda itu mengangguk lemah dan menuruti Bima untuk duduk di hadapannya.

Bima kemudian bangkit dari meja dan mengambil sebuah kotak dari dalam filing cabinet. Linda melirik kotak itu sesaat nampak enggan melihatnya sambil menghela nafas.

Bima berdeham sekali dan meletakkan kotak itu di atas meja tepat di depan Linda.

“Maaf, kami sudah menahan lama barang-barang almarhum termasuk mobilnya untuk keperluan penyelidikan. Dan.. seperti yang Ibu Linda inginkan untuk tidak melanjutkan kasus ini, maka kami simpulkan bahwa kematian suami ibu adalah murni bunuh diri..” kata Bima.

Linda menarik nafas sambil memejamkan matanya seperti menahan tangis. Tangannya bertaut gelisah.

“Bagaimana kabar anak ibu? dia baik-baik saja?” tanya Bima.

Linda menggeleng gusar. “Anak saya sangat terguncang. Dia bahkan tidak ikut ujian akhir dan tidak lulus sekolah…” gumamnya pelan.

“Saya ikut prihatin..” kata Bima.

Linda mencoba tersenyum dengan susah payah dan mengangguk sekilas.

“Tolong periksa lagi barang-barang ini termasuk kunci mobilnya, kalau semuanya sudah lengkap, Ibu Linda bisa tanda-tangani surat tanda terima ini,” lanjut Bima sambil menyodorkan sebuah kertas formulir.

Linda mengangguk lemah. Tangannya mulai memeriksa isi kotak yang berisi kunci mobil, ponsel, jam tangan, serta cincin perkawinan milik almarhum suaminya.

Wanita itu tak bisa menahan airmatanya melihat cincin kawin milik suaminya. Berkali-kali dia terisak dan membuat Bima menyodorkan kotak tisu dari mejanya kepada Linda.

Linda akhirnya bisa menguasai kembali dirinya. Saat dia menemukan sebuah bungkus plastik bening berisi sobekan kertas, dia mengangkatnya heran.

Bima terperanjat. Dia tak menyangka sobekan kertas berisi gambar seorang pemuda yang sedang bermasturbasi yang ditemukan di tempat kejadian ada di kotak tersebut. Padahal dia berniat tak mengungkit penemuan itu dan memilih untuk menyelidikinya sendiri.

“A.. apa ini? gambar porno? apa ada hubungannya dengan kematian suami saya?” tanya Linda.

“Eh.. itu…” kata Bima sambil berusaha mengambil kembali potongan gambar itu. Linda menampik dari tangan Bima dan berdiri.

“Coba jelaskan pada saya, pak Polisi? apa hubungannya gambar porno ini dengan kematian suami saya?” sahut Linda gusar.

Bima menghela nafas. Dirinya tak tahu bagaimana harus mulai menjelaskan.

-Bersambung-

Advertisements
Comments
  1. Pergantian pov orang pertama menjadi orang ketiga agak mengganggu. Biasanya penulis hanya menggunakan satu pov saja. Mungkin bisa dengan pov org pertama tapi dari tokoh yang berbeda2. Sebab kalau ada pencampuran pov, bisa dibilang ga konsisten. Just my humble opinion ๐Ÿ™‚

  2. Raudhur says:

    Waaah, Mas Bima kembali beraksi! Gyaaa.. eh, itu Mas Bima ga selingkuh sama adeknya… ehm, Bayu ato Herlan yak.. *baca lagi cerita pertama*โ€ฆ hahaha..

    Dilanjutkan kembali cerita detektip2an sensualnya Abang Remy! Semangaat selalu!

  3. Anggara says:

    Akhirnyaa season 2 nya keluar juga.. Semangat bang, di tunggu lanjutannya.

  4. blackshappire says:

    huaaaa baca nih cerita setelah nonton love’s coming, klop

    sama sama romantis pisan euy…

    bang rem, nti ada trisum nya kan? bhayu, harrel ma mas bima? *kedip kedip ke bang remy

  5. Ray says:

    Welcum back, bang Remy. Kumaha damang?
    Setelah lama ngilang, akhirnya muncul lagi. Makasih buat apdetnya. Happy holidays and happy new year ๐Ÿ˜€

  6. dufei dejavu dua says:

    SUKAAAAAAAAAAAAAAAA XD

  7. setyawan says:

    i like this story…
    .bleh q mnta’ numb. buat yg pengrangnya…, q mau txk” dlu sblum q pesen novelx (ad kan?”)

  8. Lorenzo Alfredo says:

    Amazing….

  9. Tsu no YanYan says:

    Kartu Memori Season 2!!><

    Awww menggelitik banget deh hubungan Bhayu-Harrel ini.. Aw aw โ™กโ™ฅ

  10. Bolt says:

    lanjutannya bener2 2015 bah. Hahaha

  11. arif says:

    akankah ada tokoh2 lain yg muncul di season 2 ini..?

    baca baca baca..

  12. aeman says:

    seru nih..kayanya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s