Bercinta dengan Kakak Ipar – Part II (Bagian 6 – TAMAT)

Posted: December 28, 2014 in Cerita Abang Ipar

Brother_ori_2_6AKU membangunkan Shep dengan mengulum penisnya penuh nafsu. Aku tak bisa menahan diri. Aku terbangun sedang memeluk Shep. Dia tidur telentang, satu tangannya menutup matanya sedangkan lengannya yang satu menjadi bantal buat kepalaku. Mulutnya terbuka dan dia mendengkur. Kuangkat kepalaku dari atas dadanya yang berbulu. Aku bisa melihat jelas tonjolan ereksi paginya di balik selimut. Kuangkat selimut itu dan aku tak bisa menahan diri.

Aku bergeser ke dalam selimut dan mengulum penisnya dalam-dalam semampuku ke dalam mulut hingga pangkalnya. Sementara aku mengisap penisnya, kuusap jemariku pada bulu-bulu halus di perut dan dadanya.

Aku tahu Shep sudah bangun dari perubahan napasnya, tapi aku tak menghentikan perbuatanku. Dia mendorong selimut itu sehingga dia bisa melihatku. Aku menatap matanya mesra dan Shep balas menatapku dengan mata setengah tertutup dan mulut yang terbuka.

“Fuck, sayang… kau kelihatan seksi sekali dengan kontol di mulutmu. Oh, Sial.. ya.. hisap terus kontolnya, sayang…”

Aku memejamkan mata dan terus ‘bekerja’ pada selangkangan Shep, membuatnya semakin dekat pada puncak kenikmatan.

“Oh, sial! aku mau keluar!” Shep mendengus sementara tangannya memegangi kepalaku erat-erat.

Aku mengerang saat mulutku dipenuhi oleh pancaran cairan kental. Kutelan setiap tetesnya, lalu kujilati hingga bersih. “Mm,” gumamku. “Nikmat”

“Selamat Natal untukku,” kata Shep sambil tertawa kecil.

Aku merangkak naik mengangkangi tubuhnya dengan kedua lututku di sisi pinggulnya, kemudian aku membungkuk dan menciumnya.

Aku menggosok penisku pada perut Shep yang berbulu itu, ingin keluar juga. “Shep, raba aku,” bisikku pada bibirnya.

Shep meludah pada tangannya dan aku mengangkat tubuhku pada posisi duduk. Dia menggenggam penisku, melumuri batangku dengan liurnya. Kupejamkan mata sambil memegangi tubuhnya sementara tangan Shep naik turun mengocok penisku. Dia memutar, mencengkeram, mengocok penisku dengan irama yang menimbulkan kenikmatan. Tangannya yang lain memainkan putingku membuatku mengerang dan merintih. Aku menikmati kocokan tangan Shep yang terasa sangat nikmat.

“Aku mau keluar,” kataku sambil gemetar. “Shep!” penisku berkedut dan keluarlah spermaku dan memancar hingga dagu dan pipi Shep. Shep terus mengocoknya sampai aku mengeluarkan seluruh isi zakarku dan membasahi dada dan perut Shep.

“Fuck, sayang. Tadi seksi sekali,” katanya sambil menjilat bibirnya.

Aku membungkuk dan menjilati air maniku dari wajah Shep, mengisapnya dan membersihkan dari janggutnya. Aku bergeser ke bawah dan menjilati dada dan perutnya yang berbulu membersihkan sisa-sisa spermaku. Aku duduk kembali pada selangkangannya dan menciumnya pelan dan dalam.

“Tadi itu nikmat sekali,” geramnya.

“Ya,” kataku terengah-engah. “Yang barusan memang hebat. Kita harus bersih-bersih. Lalu kita sarapan dan membuka kado.”

Kami berdua bangun dan mandi bersama, lalu pergi ke dapur. Shep menyuruhku duduk di atas meja.

“Duduklah, sayang. Aku buatkan sarapan sesekali.”

“Oke,” kataku dengan tatapan kurang percaya. “Tolong jangan bikin dapur ini kebakaran.”

“Diam atau aku pukul pantatmu dengan spatula ini.”

Aku tertawa dan duduk kembali sambil memmerhatikan dirinya memasak. Dia membuat telur orak-arik dengan parutan keju dan irisan kentang goreng. Kurang garam sedikit, tapi secara keseluruhan masakan Shep enak. Fakta bahwa Shep membuatnya khusus untukku membuatnya terasa lebih enak.

Setelah kami membersihkan dapur, kami pergi ke ruang tamu. Kunyalakan lampu pada pohon natal dan kami berdua duduk di lantai.

“Selamat Natal, Shep.”

“Selamat Natal, Billy.”

Kami berciuman mesra selama beberapa saat, kemudian kami mengeluarkan kado kami masing-masing dari bawah pohon. Kami berdua bersemangat seperti dua anak kecil. Shep mengambil topi Santa yang tergeletak di atas meja dan memakainya di kepala.

“Ho ho ho,” katanya sambil nyengir.

Aku terbahak-bahak. “Oh tuhan, kau menggemaskan sekali.”

Aku mengambil kamera digitalku dan mengambil beberapa gambar. Dia mengambil kamera itu dan memegangnya lalu mengambil gambar kami berdua beberapa kali. Shep berniat melepas topinya, tapi kucegah. “Jangan, pakailah terus.”

Shep menyipitkan matanya sambil melihatku. “Kau punya fetis terhadap Santa atau apa?”

“Enggak. Cuma kau.”

Shep menggeleng dan kembali duduk di lantai membiarkan topi itu di kepalanya.

Shep sangat ingin alat semir mobil, jadi kubelikan itu bersama dengan seember penuh perlengkapan mencuci mobi. Aku juga membelikan Shep sepasang sepatu bot kerja. Sepatu bot lamanya sudah mulai rusak dan dia benar-benar butuh sepatu baru. Aku juga membelikannya hadiah-hadiah kecil seperti kalender bergambar mobil klasik, beberapa pasang kaus kaki, celana pendek dan kaus dalam.

Saat aku membuka kado pertama dari Shep, aku sudah bisa menebak isinya: DVD yang pernah aku minta. Aku tak tahu apa isi kotak kedua. Ketika kubuka, aku terkejut bahwa Shep memberikan aku iPad. Aku pernah bilang betapa kerennya perangkat itu, tapi tak pernah menyangka Shep akan membelikannya untukku. Harganya terlalu mahal.

“Itu benda yang kau mau, kan?” tanya Shep dengan tatapan penuh harap di wajahnya.

“Ya. Aku… Wow,” kataku. “Terima kasih. Aku menyukainya.”

Kuberikan kecupan sekilas pada pipi Shep. Dia nyengir lalu memberikan hadiah terakhirnya. Kado itu berbentuk kotak kecil dan aku tak tahu isinya apa. Kubuka kotak itu dan melihat sebuah amplop. Shep tampak gugup sambil menggigit bagian bawah bibirnya saat kubuka amplop itu dan mendapati sebuah gambar pada kertas berukuran tiga inci. Di situ tergambar sebuah hati dikelilingi api dengan tulisan “Shep” pada banner yang melintasinya. Walau berbentuk hati, gambar itu terlihat sangat maskulin.

“Itu.. desain gambar,” kata Shep. Suaranya terdengar gugup dan dia membasahi bibirnya yang kering. “Untuk Tato. Temanku yang menggambarnya, dia yang menggambar tato phoenix ku. Kupikir mungkin… kau sepertinya ingin…”

Aku terdiam tak sanggup biacara. Aku teringat saat sedang bercumbu aku pernah bilang hatiku terbakar untuknya. Bahwa dia ingat kata-kataku dan menggambarnya… aku hanya bisa mengangguk setuju dan kulingkarkan lenganku pada lehernya dan membenamkan wajahku pada bahunya.

“Kau Mau?” tanyanya.

“Ya,” aku berbisik sambil mengangguk.

“Baguslah,” bisiknya sambil mengetatkan pelukannya.

Shep terisak di leherku dan lengannya mengusap wajahnya. Aku melihat matanya yang berkaca-kaca dan aliran basah pada pipinya.

Bahwa Shep menjadi sangat emosional ketika aku setuju menggambar tato dengan namanya pada tubuhku menjadikannya hadiah terbaik yang kudapatkan. Aku meraih wahanya dan menciumnya penuh nafsu. Kubuka mulutku dan menciumnya dengan lidahku.

Ciuman kami terganggu oleh dering dan getaran telepon Shep. Dia menarik tubuhnya dengan kecupan terakhir pada bibirku, lalu meraih ponselnya. Dia mengangkatnya dan memperlihatkan foto ibunya di layar. Dia menjawabnya setengah hati “Halo?”

Aku tak bisa mendengar percakapan mereka, tapi Shep membalas dengan ucapan “Selamat Natal juga, Mom… Ya. Kami baik-baik saja… aku akan bilang padanya. Dah.”

Shep menutup ponselnya dan menatapnya beberapa saat. Ketika dia mendongak, wajahnya tersenyum dan matanya sedikit berair. “Mom bilang Selamat Natal.”

Dia mengerjap beberapa kali dan menghela nafas. Aku meraih tangan Shep dan duduk di sofa berdua.

“Dia bilang, dia akan menelepon lagi… ketika tidak ada Dad.”

“Itu bagus,” kataku. “Aku turut bahagia untukmu.”

Shep mengangguk dan meraih tanganku dan mengecupnya. Kami duduk berdua saling berciuman dan bercumbu selama beberapa saat, lalu dengan berat hati kami bangun untuk menyiapkan daging panggang ke dalam oven.

Setelah itu, Shep dan aku kembali ke sofa saling berpelukan. Kami berbaring bersisian sambil saling meraba dan berciuman sampai terdengar bunyi ketukan di pintu. Shep merangkak melewatiku dan bangun. Dia melihat ke bawah dan tampak terlihat jelas tonjola penisnya yang menegang dan memaksanya untuk turun dengan jentikan jari. “Kalem, nak,” gumamnya pada diri sendiri.

Shep memperbaiki letak topi Santa di kepalanya, lalu membuka pintu dengan suara berat dan serak “Selamat Natal! ho ho ho!”

Wilson dan pacarnya Tera berjalan masuk sambil membawa hadiah-hadiah, wadah tertutup dan sebotol anggur. Aku dan Shep memberikan pelukan pada mereka dan ucapan “Selamat Natal”

Aku mengambil botol anggur dan wadah kue serta mengintip ke dalamnya. Pie Apel. Lezat. “Kau membuatnya sendiri?” tanyaku pada Tera.

“Ya. Resep dari nenekku. Cukup mudah membuatnya.”

“Topi bagus,” kata Wilson pada Shep. “Apakah Billy duduk di pangkuanmu dan mengatakan apa yang dia inginkan untuk Natal?”

“Memang benar. Kau mau juga?”

“Tentu saja tidak mau,” kata Wilson sambil tertawa.

Shep menggantung mantel mereka di lemari dan kami duduk di ruang tamu.

Setelah kami bertukar kado, kami berkumpul dan mengobrol. Shep dan Wilson munum bir dan membicarakan pertandingan football dan truk. Aku mencoba mengenal Tera lebih baik saat kami menyeruput eggnog. Tera sangat menyenangkan dan aku bisa mengerti mengapa Wilson tertarik padanya. Tak hanya seksi, tapi dia punya kepribadian kuat dan percaya diri yang sesuai dengan sifat cuek Wilson.

Satu-satunya topik yang tak muncul saat mengobrol adalah orangtua kita dan Wendy. Sampai ponsel Wilson berdering. Dia melihat telepon dan menekan ‘abaikan’ dan memasukkannya lagi ke dalam saku.

“Siapa itu tadi?” tanya Tera.

“Dad menelepon lagi,” katanya. Wilson menatapku. “Kami bertengkar tadi pagi. Beraninya dia bilang aku anak egois. Percaya tidak? Yah, Mom dan Dad dan Wendy bisa merayakan Natal bersama di sana. Aku lebih suka bersama kalian kapan saja.”

Shep dan Wilson bersulang dengan botol bir mereka dan minum.

Kudengar ponselku bergetar dan bunyi dan kutatap Shep lalu Wilsom. Aku bangkit dan mengangkatnya. Ya. Dad yang menelepon.

“Ini Dad,” kataku. “Kau pikir dia…?” suaraku melemah. Aku tak menyelesaikan pertanyaanku. Secercah harapan muncul di dadaku. Walaupun aku bahagia, aku masih berharap bisa kumpul dengan keluargaku. Setelah Ibu Shep menelepon, aku harap orangtuaku juga demikian.

Aku menghela napas dan menjawab. “Halo?”

“Sambungkan aku pada adikmu,” geramnya.

Dan harapan itu musnah begitu saja. Kusodorkan ponselku pada Wilson. “Dad ingin bicara dengan kau.”

Wilson menggeleng. “Tak ada yang ingin kubicarakan dengannya.”

Aku menaruh kembali ponselku ke telinga. “Dia uh… tidak di tempat.”

“Kau bilang pada anak nakal itu kalau dia merusak Natal ibunya. Aku tak tahu apa yang kau bilang padanya, tapi aku tak mau kau terus menyebarkan fitnah kepada anakku–”

Shep mengambil ponselku dan mengakhiri sambungan. Aku menatapnya dan menyadari diriku gemetar.

“Aku mau lihat daging panggannya,” kataku sambil bergegas ke dapur.

Aku bersandar pada kompor dan menutup mataku. Berusaha bernafas dalam dan tenang.

Sepasang tangan besar memelukku. Tangan itu menarik tubuhku hingga bersandar pada sebuah tubuh yang besar dan hangat.

Shep mencium leher dan bahuku. “Kau tak apa, sayang?”

“Aku tak apa. Sesaat tadi kukira…” aku terisak dan mengusap hidungku dengan tangan, lalu melanjutkan. “Kupikir Dad akan meminta maaf.” aku menghela napas dan menggelengkan kepala. “Bodoh benar aku. Yah, aku tak akan biarkan dia merusak hariku.”

Aku berpaling dan Shep dengan lembut memegang wajahku. Dia membungkuk dan menciumku lembut, lalu menarikku dan memelukku sampai aku merasa lebih baik.

***

Aku menyajikan kentang tumbuk dan sekeranjang roti di atas meja. “Oke. Sudah semuanya. Kukira.” aku memeriksa meja dan memastikan semuanya sudah tersaji. Hampir tak ada sisa ruang di atas meja untuk meletakkan piring kita berempat. “Mungkin kita harus taruh makanan di dapur dan makan ala buffet,” kataku sambil menggaruk kepala.

“Duduklah, sayang,” kata Shep. “Semuanya sempurna.” katanya sambil menarik sebuah kursi untukku. Aku duduk dan melihat meja sekali lagi.

“Semuanya tampak bagus, Billy,” kata Wilson. “Lebih baik dari punya Mom.”

Aku tahu Wilson mengatakan itu untuk membuatku merasa lebih baik. Tapi dia berhasil. Hal itu membuat perasaanku jauh lebih baik.

“Aku rasa kita harus mengucap syukur?” kata Tera.

“Tentu,” kata Wilson setuju.

“Silakan, Wilson,” kata Shep.

Wilson berdeham dan mendorong kacamatanya di cuping hidung. Kami berempat bergandengan tangan dan menundukkan kepala.

“Uhh… Umm… Berkatilah kami, ya Tuhan, dan pemberian-Mu ini, yang kita terima dari karunia-Mu melalui Kristus Tuhan kita.”

Kita semua mengucap “Amin,” dan mulai mengisi piring kami dengan makanan.

Aku melihat ke sekeliling pada wajah-wajah bahagia yang duduk di meja kecilku dan tersenyum. Ini adalah keluargaku. Aku bersama orang yang aku cintai, yang balas mencintaiku tanpa syarat .

Aku mengangkat gelas anggur. “Aku hanya ingin bersulang sebentar. Untuk keluarga dan tradisi baru.”

Kita semua bersulang dengan riang dan meneguk anggur kami. Wilson dan Tera berciuman, dan Shep membungkuk dan menciumku.

“Selamat Natal, Billy. Aku mencintaimu.”

“Aku juga mencintaimu, Shep.”

-TAMAT-

Advertisements
Comments
  1. Tsu no YanYan says:

    Happy ending^^/

  2. kenji says:

    suka endingnya..

  3. khasan says:

    Masa endingnya masih bertengkar sama orang tua? Aku pikir belum selesai.

  4. rifki hassan says:

    Ceritanya sangat menyentuh. Terimakasih buat penulis yang sudah menulis dengan sempurna.

  5. rifki hassan says:

    Ceritanya sangat menyentuh. Terimakasih buat penulis yang sudah menulis dengan sempurna.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s