Bercinta dengan Kakak Ipar – Part II (Bagian 5)

Posted: December 28, 2014 in Cerita Abang Ipar

Brother_ori_2_5INI benar-benar enak,” erang Shep senang.

Dia memakan segigit besar kue kering berbentuk keping salju berwarna hijau. Semua lampu di ruang tamu dipadamkan, kecuali lampu-lampu yang ada pada pohon Natal. Seluruh ruangan disinari kelip sinar redup lampu-lampu kecil.

Kami duduk bersandar di lantai sambil menyandarkan punggung kami ke sofa dan hanya menatap pohon sambil menyantap kue Natal.

“Mm-hmm,’ gumamku setuju saat aku menelan potongan terakhir kue berbentuk pohon dengan hiasan merah muda buatan Shep. Kuhabiskan susu dalam gelasku dan menaruhnya di meja kopi.

Aku menyandarkan kepalaku pada bahu Shep dan ia mengangkat lengannya dan meletakannya di sekeliling bahuku.

“Kau benar,” katanya pelan.

“Tentang apa?”

“Kita tak butuh siapapun selama kita bersama. Ada di sini denganmu, seperti ini… semua omong kosong lainnya jadi tak berarti. Kau keluargaku sekarang, Billy. Aku merasa menjadi diri sendiri.”

Aku duduk di atas pangkuan Shep. Kupegangi wajahnya yang brewokan itu dengan telapak tanganku, dan kuusap kumisnya dengan kedua ibu jariku hingga janggutnya. Cara dia menatapku mengirimkan desiran pada tulang belakangku dan membuat penisku mengeras.

“Aku menginginkanmu, Shep,” bisikku parau.

“Ingin kau juga.”

Kutekan pantatku pada tonjolan yang menyembul keras di celana pendek Shep.

Aku meraih ujung kaus singlet Shep dan menariknya serta melemparnya ke samping. Kuangkat tubuhku sedikit dan Shep melepas celana boxernya dan menendangnya jauh-jauh. Kuusap jemariku pada tubuhnya yang kekar. Kutelusuri dadanya yang berbulu kemudian menjalar hingga lengannya yang bertato.

“Kau seksi sekali, Shep. Aku sangat mencintaimu.”

Aku berdiri dan perlahan-lahan melepas pakaianku. Shep menatapku yang seakan sedang memamerkan tubuhku padanya. Shep mulai mengurut penisnya perlahan-lahan dengan jemarinya. “Fuck, kau seksi sekali,” geramnya parau.

Aku kembali duduk di pangkuan Shep, mengangkangi dia dengan lututku di kedua sisinya. “Kadang-kadang aku masih belum percaya kau jadi milikku,” bisikku. “Aku sudah lama menginginkamu.”

“Aku tahu,” bisik Shep.

“Aku dulu…” kutelan ludahku dengan gugup, kemudian aku mengaku, “Aku dulu sering beronani dengan membayangkan dirimu. Sejak pertama bertemu kau.”

“Oh, ya? waktu kau masih kuliah?”

“Yeah. Kau sangat baik padaku. Kau tak pernah memperlakukan ku seperti bocah kutubuku. Dan kupikir kau sangat tampan. Masih ingat dulu aku pernah menabrakmu saat kau baru keluar dari kamar mandi?”

Shep mencibir. “Ya. kau lari lalu nabrak badanku.”

“Ya. Waktu itu kau tidak memakai baju. Muka dan tanganku tepat menubruk dadamu yang berbulu. Saat aku di dalam kamar mandi, aku langsung ngocok dan muncrat di toilet. Kakiku lemas dan terantuk pinggiran toilet. Aku jadi pincang dua hari.”

Kudorong naik kacamata pada hidungku dan tersipu sedikit mengingat kenangan memalukan itu. Shep tertawa keras dan kepalanya menggeleng-geleng. “Kupikir kau waktu itu imut sekali,” katanya sambil tersenyum.

“Sunguh?”

“Ya. Tidak secara seksual, sih. Waktu itu aku masih dalam penyangkalan.”

“Kalau sekarang?” tanyaku menggoda. Kubasahi bibirku dengan ujung lidahku.

“Sekarang, cuma mikirin kau atau dengar nama kau saja, kontolku sudah keras.”

Aku tak bisa menahan senyuman bangga sementara kuusap lengan besarnya. “Bagus.”

“Kau suka tatonya?” tanyanya.

“Yah. Keren banget,” kataku sambil menelusuri tato salib besar pada lengan kirinya, lalu tato burung phoenix di lengan kanannya.

Tangan Shep meluncur turun pada punggungku dan meraih pantatku. Dia menangkup dan meremas keduanya. “Aku akan menato tulisan “Kepunyaan Shep Bannister”. Di sini,” katanya sambil menampar keras bokong kiriku.

Aku bergidik dan membiarkan rintihan keluar dari mulutku.

Shep menggeram di tenggorokannya saat dia menggigiti leherku. “Oh, kau suka ya? kau mau ditato seperti itu, kan?”

“Ya,” erangku.

Shep mengulurkan tangan dan mengeluarkan sebotol kecil pelumas dari bawah bantal sofa. Dia menyeringai sambil menggoyangkan alisnya. Dia membuka tutup botolnya dan menuangkan isinya pada jemarinya. Aku mengangkat tubuhku saat jemarinya mulai dia selipkan pada pantatku. Aku menata[nya sayu saat Shep mendorong dua jarinya ke dalam diriku.

Aku mengerang dan mulai menikmati jari-jarinya di dalam anusku. “Aku mencintaimu,” erangku. Kucengkeram bahunya. “Aku menginginkanmu Shep. Sangat menginginkanmu…”

“Aku akan berikan padamu, sayang. Kuberikan kontolku buatmu..”

Shep mendorong tiga jarinya ke dalam anusku, meregangnya untuk membuatku siap. Kulempar kepalau ke belakang sambil mengerang. Dia menarik tangannya keluar dan melumuri seluruh kontolnya dengan pelumas. Aku mencengkeram kontol Shep dan mengocoknya dari atas ke bawah, memilin dan mengocoknya. Kugenggam erat kontolnya sambil mengangkat tubuhku. Kusejajarkan kepala kontol itu tepat pada anusku dan kuturunkan perlahan tubuhku.

Shep mengerang dan meraih pinggangku erat. “Fuck, yeah.”

“Aku suka kontol kau,” erangku. “Besar dan tebal.. uh..”

“Goyang, sayang.. goyang kontolku di pantatmu.”

“Ya tuhan, kau membuatku seperti pelacur,” erangku saat mulai bergerak.

“Kau pelacurku,” geramnya. “Hanya milikku.”

Shep mencengkeram jarinya pada pinggangku. Dia menggeram dan mendengus sambil mendorong batangnya dalam-dalam pada anusku. Kepalaku terlempar ke belakang dan kembali merintih. Menerima semua yang dia berikan padaku.

“Aku milikmu, Shep.”

Shep mulai menggenjot tubuhku. Badannya menampar badanku berkali-kali. Aku mencengkeramnya erat-erat, menahan diriku tetap menyeimbanginya sementara dia mengentotku dengan cepat dan ganas. Perutnya yang berbulu menggosok penisku, membuatku sangat terangsang. Kudorong tubuhku merapat pada tubuh Shep, merintih dan memohon agar Shep meneruskan perbuatannya.

“Hampir keluar… kocok aku, Shep!” kataku sambil meringis. “Kumohon!”

Shep meraih penisku dan menggenggamnya. “Keluarin, sayang. Ayo! keluarin!”

Aku menjerit saat tubuhku serasa meledak. Shep meraung dan mendorong kontolnya dalam-dalam hingga batang itu tenggelam sepenuhnya.

Anusku berkontraksi dengan berirama di sekeliling penis Shep yang tebal dan berdenyut-denyut itu. Saat aku menyemprotkan cairan panas di seluruh dada dan perut kami, penis Shep berdenyut dan memenuhi lorong anusku dengan tembakan demi tembakan cairan sperma kentalnya hingga luber.

Aku merosot ke depan dan menyandarkan kepalaku di bahu Shep sambil mengatur nafas.

Tangan Shep meluncur turun pada punggungku dan meremas bongkahan pantatku. Kurasakan nafasnya terengah-engah pada leherku. “Enak sekali… rasanya aku tak akan pernah puas dengan kau.”

“Syukurlah.”

Aku bersandar pada Shep, dan kami berpelukan sementara kami meredakan diri dari puncak orgasme.

Shep bergeser dan menampar pantatku. “Oke. Bangun. Kita harus mandi. Badanku penuh pejuh.”

“Pintar sekali merusak suasana,” kataku sambil memukul lengannya. “Jangan salahkan aku. Ini semua salahmu.”

Kami berdua tertawa. Saat aku mencoba duduk, air mani Shep mengalir di belakang zakarku hingga ke bagian dalam kakiku. Kuusap dengan lenganku dan menyapukannya pada dadanya yang berkeringat.

“Oh, aku akan membalasmu,” geram Shep.

Dia mencoba untuk menggelitik aku, tapi aku menggeliat sambil melompat. Aku berlari ke sekeliling apartemen sambil tertawa saat dia mengejarku ke kamar mandi. Aku berhasil sampai ke kamar mandi, di situ aku biarkan dia menangkap aku dan menciumku tanpa akhir.

Hidupku tidak pernah sebaik ini.

***

Aku sedang duduk di mejaku sambil membalik-balik berkas ketika ponselku berdering. Aku mengambilnya dan melihat wajah adikku di layar. “Halo?”

“Hai, Billy. Ini Aku. Apa aku mengganggu?”

“Hai, Wilson. Aku masih di tempat kerja, tapi aku punya waktu sebentar. Ada apa?”

Wilson mendesah di telepon. “Aku baru bertengkar dengan Mom.”

“Apa yang terjadi?”

“Aku mengatakan padanya bahwa Tera akan tinggal bersamaku.”

“Benarkah? Tunggu. Itu bagus, kan?”

“Kupikir itu akan membuatnya senang, tapi Mom malah menceramahiku kalau kita seharusnya menikah dulu. Aku bilang padanya kami belum berencana menikah.”

“Yah, kau kan semuanya terbalik. Seharusnya kau menikah dulu baru punya anak.”

Kami berdua tertawa, lalu Wilson berkata, “Hey, setidaknya aku tidak meniduri suami saudari kita sendiri.”

“Mereka sudah resmi bercerai, dasar bandel. Syukurlah. Shep memberitahu orangtuanya mengenai kita, omong-omong. Mereka tidak menerimanya.”

“Aku tidak heran. Mereka tidak pernah kuanggap sebagai orang yang terbuka dan ramah. Hm. Mirip orang tua kita. Wendy begitu kesal dan getir sampai aku heran dia tidak bilang pada Orang tua Shep sebelumnya.”

“Yah. Aku juga bingung. Tapi memang Wendy tak pernah akrab dengan ibu mertuanya.”

“Wendy selalu datang ke rumah hampir setiap hari. Dia memerah simpati dari Mom dan Dad sejadi-jadinya dan Dad meladeninya. ‘Anak gadisnya yang malang’. Itu membuatku muak. Mom pernah kelepasan bilang kalau mereka membayar sewa rumah Wendy.”

Aku menggeleng kepala sambil menghela nafas. “Omong kosong. Shep memberikan cek tunjangan pertamanya pada pengacara. Semua ini menggangguku. Wendy menghasilkan uang yang hampir sama dengan Shep.”

“Aku kenal Wendy, aku yakin dia datang dengan cerita menyedihkan bahwa Shep yang ingin mengakhiri semuanya.”

“Tepat.”

“Aku bertanya pada Mom sampai kapan mereka akan marah padamu.”

“Oh, ya? mereka bilang apa?”

“Dia bilang, aku tak boleh menyebut namamu, terutama di dekat Dad.”

Aku menghela nafas. “Aku tak perlu berharap mereka akan datang.”

“Aku bilang pada mereka selama Mom dan Dad bertingkah begitu penuh kebencian aku tak ingin mereka dekat-dekat dengan anakku. Aku bilang pada Mom aku tak ingin putra atau putriku terpengaruh oleh kebencian semacam itu.”

Aku merasa tercekat dan mataku sedikit berair. “Wow. Trims, Wilson. Itu sangat berarti buatku.”

“Yah, kupikir itu cukup ngena pada Mum. Aku akan memberikan mereka cucu pertama. Kita lihat saja. Omong-omong… apa rencanamu Natal ini?”

“Aku akan membuat acara makan malam untukku dan Shep. Hanya kami berdua.”

“Oh… bolehkah kalau aku bergabung?”

“Tentu saja, Wils. Aku akan senang jika kau menghabiskan liburan Natal dengan kami.”

“Bagus. Bolehkah Tera ikut datang?”

“Tentu saja! Jadi kau tak akan datang ke rumah Mom dan Dad?”

“Tidak. Aku sudah bilang, Billy. Aku tak ingin anakku tumbuh dengan kebencian seperti itu. Aku sungguh-sungguh, dan Tera mendukungku seratus persen.”

“Kalau begitu, sampai ketemu kalian berdua nanti saat Natal. Aku harus pulang. Aku sayang kamu, Wils.”

“Ya, ya. Kau sebaiknya belikan kado yang bagus untukku. Bye.”

Aku memutuskan telepon dan tersenyum sendiri. Aku mematikan komputer dan berkemas pulang.

Saat Shep tiba dari tempat kerja, aku sudah berada di dapur sedang memasak.

“Hey, sayang,” katanya sambil mengecup pipiku.

Sambil menggosok tangannya, Aku cerita tentang percakapanku dengan Wilson.

“Kau tak keberatan?” tanyaku. “Kalau Wilson dan pacarnya datang nanti? aku tahu kita hanya berencana untuk berdua saja.”

“Aku senang mereka datang, Billy. Kau tahu itu.”

Dia memberi kecupan singkat dan tepukan pada pantatku.

****

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s