Bercinta dengan Kakak Ipar – Part II (Bagian 4)

Posted: December 28, 2014 in Cerita Abang Ipar

Brother_ori_04HEY, coba tebak?” tanya Shep.

Aku mengambil sebungkus daging beku dan menutup pintu kulkas. Aku mengawasi Shep yang sedang mencuci tangannya yang penuh oli dengan sabun aroma jeruk kesukaannya. “Apa?”

“Bosku mengundang kita ke rumahnya untuk makan malam Natal.”

“Benarkah?”

“Yeah, kita ngobrol banyak, sambil betulin mobil klasik Torino tahun 70. Cantik sekali, aku dan Mac sudah lama mengerja-”

“Oke, tapi apa katanya?” potongku, sadar bahwa Shep tak akan berhenti bicara bila mengenai mobil klasik.

“Oh, maaf. Kita membahas masalah ‘coming out’. Dia bilang, aku harus memberi waktu pada orangtuaku. Dia bilang juga, butuh 32 tahun untuk orangtuanya sadar bahwa dirinya gay. Aku pikir aku harus memberikan waktu pada orangtuaku sebagai pertimbangan.”

Kuperhatikan Shep yang masih terus menggosok tangannya. “Mm.. aku tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Tapi kurasa itu masuk akal. Kau bilang apa padanya soal undangan makan malam itu?”

“Yeah, dia cukup cerdas ngasih saran soal beginian. Pertamanya sih agak canggung, tapi dia mudah diajak bicara. Kubilang padanya, aku akan bertanya dulu pada kau.”

“Aku sudah memikirkannya. Kurasa kita harus makan malam di rumah, hanya kita berdua. Itu akan jadi tradisi Natal kita pertama.”

Shep membilas tangannya dan menatapku. Dia menarik tisu dan mengangguk sambil mengelap tangannya. “Kau tahu, boleh juga. Kurasa aku suka ide itu.”

Aku menghampirinya dan merangkul pinggang Shep dan terpaksa berjinjit untuk memberinya ciuman.

“Mm,” gumamku di bibirnya. “Kau tinggi sekali.”

Shep tersenyum, dan menyusupkan lidahnya ke dalam mulutku. Kepalaku terdorong ke belakang dan kubiarkan dia menciumku dalam-dalam.

Aku melangkah mundur dan meletakkan tanganku di dadanya. “Oke, biarkan aku memasak makan malam sebelum kita terbawa suasana. ”

Setelah kami selesai makan, Shep mencuci piring sementara aku membungkus sisanya untuk bekal makan siang Shep di pagi hari .

“Hei. Kau mau memasang pohon Natal?” Tanyaku.

“Ya,” dia mengangguk. “Boleh juga.”

Aku meraih kunci lemari penyimpanan. Apartemenku memiliki lemari penyimpanan kecil yang terletak di luar balkon. Aku menaruh semua kotak bekas di sana.

Aku membuka pintu balkon dan membuka ruang penyimpanan dan Shep berjalan di belakangku. “Apa yang kau punya di sini?”

“Aku banyak menyimpan sampah di sini” kataku. “Tapi semua dekorasi Natal kutaruh di sini.” Aku menyalakan lampu dan melihat sekeliling . Ruang kecil itu memiliki kotak plastik besar yang saling menumpuk satu sama lain, serta kotak kemasan asli bekas komputer dan printer .

Dekorasi Natal itu untungnya berada paling atas. Aku mengeluarkan tiga wadah plastik merah besar dan mendorongnya kepada Shep . Aku menarik-narik kotak tinggi yang berisikan pohon Natal yang terjepit erat antara dinding dan tumpukan sampah. Shep membantuku menarik kotak dari tempat tersebut . Aku mengunci lemari lalu kami menyeret yang kita butuhkan ke apartemen .

Kami membersihkan tempat di sudut ruang tamu sebelah sofa dan mulai menyiapkan pohon. Aku helaian untaian lampu putih sedangkan Shep tahu urutan cabang-cabang pohon perlu disatukan .

“Mungkin kalau aku menyortir berdasarkan ukuran,” Shep bergumam sendiri saat ia mulai menumpuk cabang-cabang pohon .

“Kurasa aku akan membuat kue Natal,” kataku. “Aku sudah lama tidak membuatnya.”

“Kue kering dengan lapisan gula? ” Tanya Shep. Matanya berbinar

“Ya. Aku punya beberapa cetakan kue Natal tersimpan di gudang. Aku juga punya berapa resep Natal dan alas piring.”

“Kau selalu berhias seperti ini saat Natal?”

“Tidak, dulu iya, tapi beberapa tahun terakhir tidak lagi.”

Shep mengangguk sambil meletakkan hiasa di puncak pohon. Dia mengacak dua lemari merah sampai ia menemukan kantung kedap udara. “Aku menemukan cetakan kuenya. Mungkin kalau kau mulai bikin sekarang, kuenya sudah matang saat kita selesai menghias rumah.”

Aku menertawakan Shep yang sangat bersemangat ingin memakan kue kering. Dia tersenyum mulai memasang cabang-cabang pohon dari yang lebih rendah pada batang utama. Aku mengambil tas berisi cetakan kue dan pergi ke dapur . Aku segera membuat adonan kue dan menuangkannya pada mangkuk, kemudian kututup lalu menaruhnya di lemari es untuk didinginkan.

“Cepat juga,” kata Shep ketika aku kembali. Dia sudah selesai memasang semua cabang pohon dan membengkokkannya hingga bentuknya tampak bagus.

“Adonannya harus didinginkan dulu satu jam,” kataku.

“Oh,” kata Shep dengan kecewa.

“Kau tetap bisa makan kue malam ini. ”

“Asyik.”

“Aku harus membeli lampu hias untuk pohon itu,” kataku sambil mengambil kabel untaian lampu yang sudah rusak.” Mungkin harganya sudah murah setelah Natal.”

“Begini sudah bagus, Billy.”

Shep pindah ke belakang pohon dan aku menyodorkan string lampu dan di antara kami berdua , kita punya mereka luka di sekitar pohon seperti aku ingin mereka .

Aku mengaduk isi kardus dan mencari semua hiasan yang kubutuhkan.Kuletakkan hiasan dengan hati-hati di sekeliling pohon sementara Shep menaruhnya asal-asalan. Saat dia tidak melihat, aku memindahkan hiasan yang dia taruh supaya terlihat lebih teratur.

Aku membiarkan Shep menaruh patung malaikat tepat di puncak pohon lalu kunyalakan lampunya. Pohon Natal itu terlihat sempurna. Cantik sekali. Lampunya menyala putih menerangi hiasan-hiasan yang berwarna biru dan perak.

Shep menyelinap ke belakangku dan melingkarkan lengannya pada dadaku dan mendekapku. Dia mengecup leherku. “Bagus sekali, Billy.”. ”

“Aku pikir juga begitu.”

“Biasanya aku lebih suka lampu warna-warni. Tapi ini sangat cantik. Kau tahu kalau kau menghias pohon Natal mirip seperti saudarimu, kan?”

Aku menusukkan siku lenganku pada perutnya. “Kau ingin berantem ya? tolong tarik kata-kata itu atau kau tak akan kuberi kue.. atau yang lainnya, kalau kau mengerti maksudku.”

Shep tertawa di dekat leherku. “Dia selalu ingin pohonnya tampak sempurna.”

Aku mengeluh dan memutar mataku. “Kita seperti itu karena Mom.”

“Bedanya adalah, Wendy tidak mengijinkan aku menyentuh pohon natal. Bahkan dia mengusirku keluar saat dia menghias pohon. Tapi kau dengan senang hati memindahkan hiasan saat aku tak melihat. Dan aku mencintaimu karena itu.”

Aku tak bisa menahan seringai di wajahku. Kutarik lengan Shep dan kudekatkan pada mulutku lalu menciumnya. Kusandarkan kembali kepalaku dan Shep balas menciumku lembut dan perlahan.

Shep menghentikan ciumannya dan menatap mataku dalam-dalam. Disapukannya bibirnya lalu berbisik dengan suara erotis, “Sudah satu jam…”

Kuputar bola mataku dan tertawa. “Kau punya kebiasaan buruk. Selalu berpikir dengan perutmu.:

“Nggak selalu, kok,” katanya sambil mencium leherku.

Mataku menutup perlahan dan kubiarkan eranganku keluar saat janggutnya menyentuh kulitku yang sensitif. “Kutarik perkataanku. Kau punya dua kebiasaan. Saat kau tak berpikir dengan perut, kau berpikir dengan penismu.”

“Hm. Aku pikir itu pertama kalinya kau mengeluh tentang penisku.”

“Oh, aku tidak mengeluh. Hanya membuat kesimpulan. Aku senang kok dengan penismu.”

Shep mendengus. “Aku akan bilang kau lebih dari ‘senang’ dari caramu melahapnya.”

“Jangan jadi orang menyebalkan.”

Kutekan pantatku pada Shep, membuatnya terduduk di tangga. Aku meninggalkan Shep pergi ke dapur sementara dia masih tertawa. Kupanaskan oven dan kuambil adonan dari kulkas. Kugiling adonan hingga tipis dan memotongnya dengan cetakan kue hingga tak ada lagi adonan yang tersisa.

Sementara kue dipanggang dalam oven, aku membuat beberapa macam taburan sederhana dari campuran gula bubuk dan susu serta berbagai macam pewarna makanan. Setelah kue matang dan didinginkan sebentar, Shep dan aku bersama-sama menghias kue-kue tersebut di meja.

Secara umum, kue hiasan buatanku tampak lucu dan bagus. Sedangkan Shep menghiasnya asal-asalan, namun tetap tampak lucu.

“Kau enggak bisa bikin manusia salju warnanya merah dong, Shep!” Kataku sambil memutar mataku. “Pakai yang putih.”

“Nyebelin banget sih. Ini kue aku. Suka-suka aku dong bikinnya.”

Shep mendorongku dengan pinggulnya nyaris membuatku hilang keseimbangan.

“Hey,” sahutku sambil balas mendorongnya. “Awas ya, dasar pengganggu.”

Dia membungkuk lalu mencium leherku lalu menggunakan giginya untuk menggitnya. Aku bergidik dan menjalar di tulang belakangku sementara dia tersenyum dan menggoyangkan alisnya.

“Kau tahu, sayang, hari ini adalah hari yang paling menyenangkan,” katanya sambil menghias kue kering berbentuk pohon Natal.

Aku menoleh dan menatapnya sambil tersenyum. “Buatku juga.”
Shep membungkuk dan menciumku penuh perasaan. Kubuka mata dan mendesah saat kutatap matanya. Tangannya mengusap bagian depan wajahku dan kurasakan ada sebuah gumpalan besar di ujung hidungku.

Saat Shep mulai bernyanyi ‘Rudolph si Rusa berhidung merah’ dengan nada bariton, aku mengelap adonan kue merah dari hidungku. “Lucu sekali.”

Shep tertawa dan kuoleskan gula-gula pada bibir bawahnya. Sebelum dia sempat menyekanya, aku berjinjit dan menghisap bibirnya dengan mulutku. Dia membalas ciumanku dengan bernafsu sampai kami kehabisan nafas.

“Aku cinta kamu, sayang,” bisiknya sambil menekan bibirku.

“Aku juga mencintaimu.”
***

Advertisements
Comments
  1. arif says:

    lhaa.. update banyaaaak..

  2. Tsu no YanYan says:

    Ahhh so sweet~~~ *meleleh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s