Archive for December, 2014

kartuuu_ori_II_1By: Abang Remy Linguini

CERITA SEBELUMNYA:

Harrel dan Bhayu awalnya adalah siswa SMA yang saling bermusuhan. Setelah Harrel menyelamatkan Bhayu dalam sebuah peristiwa razia, hubungan mereka lama kelamaan menjadi akrab. Sayangnya, Bhayu terlibat masalah. Dia diperas oleh Om Herlan, ayah pacarnya sendiri yang terobsesi ingin memerkosa Bhayu. Dibantu Harrel, Bhayu akhirnya lolos dari cengkeraman Herlan. Peristiwa tersebut berbuntut pahit. Herlan bunuh diri di hadapan Harrel, Bhayu, dan anak perempuannya di depan sekolah. Masalah kian pelik ketika Mas Bima, tetangga Harrel yang seorang polisi, mencium kejanggalan akan tewasnya Herlan. Apakah hubungan percintaan Bhayu dan Harrel berjalan mulus?

BAGIAN 1

HARI ini hampir seluruh siswa kelas XII cemas. Ya. Sekarang adalah saat pengumuman hasil Ujian Nasional yang sudah membuat seluruh siswa senior kalang kabut dan ketar-ketir berminggu-minggu untuk melewatinya. Dari tadi banyak siswa sudah menunggu di tempat biasanya papan pengumuman berada. Entah mengapa hasil ujian belum ditempel pihak sekolah di situ sehingga banyak murid merasa keheranan, termasuk Bhayu dan aku.

“Kenapa enggak langsung ditempel di papan ya? lagian papan pengumumannya juga hilang,” kataku heran.

Bhayu mengangkat bahu sambil asyik main game pada ponselnya. Tampaknya dia tak secemas diriku dan siswa lainnya.

“Elo kok tenang banget sih, Bhay?” tanyaku gusar. (more…)

Brother_ori_2_6AKU membangunkan Shep dengan mengulum penisnya penuh nafsu. Aku tak bisa menahan diri. Aku terbangun sedang memeluk Shep. Dia tidur telentang, satu tangannya menutup matanya sedangkan lengannya yang satu menjadi bantal buat kepalaku. Mulutnya terbuka dan dia mendengkur. Kuangkat kepalaku dari atas dadanya yang berbulu. Aku bisa melihat jelas tonjolan ereksi paginya di balik selimut. Kuangkat selimut itu dan aku tak bisa menahan diri.

Aku bergeser ke dalam selimut dan mengulum penisnya dalam-dalam semampuku ke dalam mulut hingga pangkalnya. Sementara aku mengisap penisnya, kuusap jemariku pada bulu-bulu halus di perut dan dadanya.

Aku tahu Shep sudah bangun dari perubahan napasnya, tapi aku tak menghentikan perbuatanku. Dia mendorong selimut itu sehingga dia bisa melihatku. Aku menatap matanya mesra dan Shep balas menatapku dengan mata setengah tertutup dan mulut yang terbuka.

“Fuck, sayang… kau kelihatan seksi sekali dengan kontol di mulutmu. Oh, Sial.. ya.. hisap terus kontolnya, sayang…”

Aku memejamkan mata dan terus ‘bekerja’ pada selangkangan Shep, membuatnya semakin dekat pada puncak kenikmatan.

“Oh, sial! aku mau keluar!” Shep mendengus sementara tangannya memegangi kepalaku erat-erat. (more…)

Brother_ori_2_5INI benar-benar enak,” erang Shep senang.

Dia memakan segigit besar kue kering berbentuk keping salju berwarna hijau. Semua lampu di ruang tamu dipadamkan, kecuali lampu-lampu yang ada pada pohon Natal. Seluruh ruangan disinari kelip sinar redup lampu-lampu kecil.

Kami duduk bersandar di lantai sambil menyandarkan punggung kami ke sofa dan hanya menatap pohon sambil menyantap kue Natal.

“Mm-hmm,’ gumamku setuju saat aku menelan potongan terakhir kue berbentuk pohon dengan hiasan merah muda buatan Shep. Kuhabiskan susu dalam gelasku dan menaruhnya di meja kopi.

Aku menyandarkan kepalaku pada bahu Shep dan ia mengangkat lengannya dan meletakannya di sekeliling bahuku.

“Kau benar,” katanya pelan.

“Tentang apa?”

“Kita tak butuh siapapun selama kita bersama. Ada di sini denganmu, seperti ini… semua omong kosong lainnya jadi tak berarti. Kau keluargaku sekarang, Billy. Aku merasa menjadi diri sendiri.”

Aku duduk di atas pangkuan Shep. Kupegangi wajahnya yang brewokan itu dengan telapak tanganku, dan kuusap kumisnya dengan kedua ibu jariku hingga janggutnya. Cara dia menatapku mengirimkan desiran pada tulang belakangku dan membuat penisku mengeras.

“Aku menginginkanmu, Shep,” bisikku parau.

“Ingin kau juga.”

Kutekan pantatku pada tonjolan yang menyembul keras di celana pendek Shep.

Aku meraih ujung kaus singlet Shep dan menariknya serta melemparnya ke samping. Kuangkat tubuhku sedikit dan Shep melepas celana boxernya dan menendangnya jauh-jauh. Kuusap jemariku pada tubuhnya yang kekar. Kutelusuri dadanya yang berbulu kemudian menjalar hingga lengannya yang bertato.

“Kau seksi sekali, Shep. Aku sangat mencintaimu.” (more…)

Brother_ori_04HEY, coba tebak?” tanya Shep.

Aku mengambil sebungkus daging beku dan menutup pintu kulkas. Aku mengawasi Shep yang sedang mencuci tangannya yang penuh oli dengan sabun aroma jeruk kesukaannya. “Apa?”

“Bosku mengundang kita ke rumahnya untuk makan malam Natal.”

“Benarkah?”

“Yeah, kita ngobrol banyak, sambil betulin mobil klasik Torino tahun 70. Cantik sekali, aku dan Mac sudah lama mengerja-”

“Oke, tapi apa katanya?” potongku, sadar bahwa Shep tak akan berhenti bicara bila mengenai mobil klasik.

“Oh, maaf. Kita membahas masalah ‘coming out’. Dia bilang, aku harus memberi waktu pada orangtuaku. Dia bilang juga, butuh 32 tahun untuk orangtuanya sadar bahwa dirinya gay. Aku pikir aku harus memberikan waktu pada orangtuaku sebagai pertimbangan.”

Kuperhatikan Shep yang masih terus menggosok tangannya. “Mm.. aku tak pernah memikirkan sampai sejauh itu. Tapi kurasa itu masuk akal. Kau bilang apa padanya soal undangan makan malam itu?”

“Yeah, dia cukup cerdas ngasih saran soal beginian. Pertamanya sih agak canggung, tapi dia mudah diajak bicara. Kubilang padanya, aku akan bertanya dulu pada kau.”

“Aku sudah memikirkannya. Kurasa kita harus makan malam di rumah, hanya kita berdua. Itu akan jadi tradisi Natal kita pertama.”

Shep membilas tangannya dan menatapku. Dia menarik tisu dan mengangguk sambil mengelap tangannya. “Kau tahu, boleh juga. Kurasa aku suka ide itu.”

Aku menghampirinya dan merangkul pinggang Shep dan terpaksa berjinjit untuk memberinya ciuman.

“Mm,” gumamku di bibirnya. “Kau tinggi sekali.” (more…)