BANG ROSYID DITINGGAL ISTRI – Bagian 10 TAMAT

Posted: November 12, 2014 in Bang Rosyid ditinggal Istri (Series)

Rosyid-ori-10(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Setelah mengetahui istri Rosyid hamil, yang ternyata bukan anaknya, Karim memilih ikut ibu kandungnya ke kota meninggalkan Rosyid. Masalah kembali muncul saat ayah tiri Karim berusaha mendekatinya. Rosyid kemudian menyusul Karim dan malah masuk ke dalam jebakan Pak Arman. Keduanya berusaha meloloskan diri dibantu Ibu Karim namun sayang, Bang Rosyid tertembak dalam sebuah perkelahian.

“BANG ROSYID!” Teriakku.

Sadar telah memakan korban, buru-buru Pak Arman memanfaatkan situasi dengan menodongkan pistolnya ke arah Ibu. Melihat pistol di tangan suaminya, Ibu menjerit ketakutan.

“LEPASKAN SENJATANYA!” teriak seseorang.

Rupanya ada beberapa petugas polisi yang menerobos ke dalam rumah. Melihat petuga polisi yang menodongkan senjata padanya membuat Pak Arman bingung sesaat. Tapi rupanya dia makin kalap. Ketika dia hendak meletuskan pistolnya ke arah Ibu, Polisi itu lebih dulu menembak Pak Arman dan mengenai kakinya.

Pak Arman berteriak kesakitan namun dirinya masih penasaran hendak menembak Ibu. Akibat usahanya itu, Petugas Polisi tanpa ampun menembak kembali Pak Arman. Kali ini tepat pada dadanya hingga pria itu kemudian ambruk.

Ibu berteriak histeris sambil menendang-nendang kakinya di atas lantai. Begitu sadar Pak Arman tak lagi berkutik, aku segera menghambur ke arah Bang Rosyid. Di tengah hiruk-pikuk, aku memanggil-manggil nama Bang Rosyid yang pakaiannya berlumuran darah sambil menangis.

****

Aku benar-benar cemas ketika Bang Rosyid dibawa oleh ambulan ke Rumah Sakit. Kondisinya terlihat payah dan tak sadarkan diri. Aku terus menangis tanpa tahu harus berbuat apa sekarang. Untunglah, aku menelepon nenek dan memberitahu beliau apa yang telah terjadi dan Nenek diantar seorang tetangganya menuju rumah sakit tempatku berada.

“Gimana Rosyid?” tanya nenek.

“Masih belum sadar, nek. Kata Dokter dia harus segera dioperasi,” kataku sambil terisak.

“Terus kenapa Rosyid enggak langsung dioperasi?” tanya nenek.

Aku menggeleng. “Karim juga enggak tahu, nek! katanya lukanya sangat parah. Ada kemungkinan Bang Rosyid justru enggak akan selamat kalau dioperasi…” ujarku lagi.

Nenek memelukku erat. “Udah.. udah.. Karim tenang dulu ya?”

Rupanya tak ada kerabat Bang Rosyid satupun yang bisa dihubungi. Aku tak ingin memperpanjang masalah dengan menelepon Kak Yus karena pasti Bang Rosyid tidak mau hal itu kulakukan. Akhirnya, dengan sedikit berbohong, Nenek mengaku sebagai bibi dari Bang Rosyid dan mengizinkan dokter untuk mengoperasinya.

Seorang dokter muda yang berbicara dengan kami memberitahu bahwa Bang Rosyid sudah sadar dan ingin bertemu denganku. Pendarahannya sudah berhenti dan kondisinya sedang stabil, namun operasi tetap harus dilakukan.

“Kondisinya masih lemah. Dia harus siap untuk operasi, tolong jangan lama-lama, ya?” kata dokter padaku.

Aku mengangguk dan segera masuk ke dalam kamar Bang Rosyid.

Melihat Bang Rosyid terbaring lemah dengan selang oksigen dan perban bernoda darah di dadanya, aku menjadi sangat sedih. Bang Rosyid tampak sangat keletihan berusaha bernafas. Wajahnya pucat. Aku mengusap airmataku. Tak ingin terlihat sedih di hadapan Bang Rosyid.

Aku lalu meraih telapak tangan Bang Rosyid dan menggenggamnya. Bang Rosyid yang memejamkan mata karena tertidur perlahan membuka matanya.

“Rim..?” tanyanya pelan.

“Ssst.. Abang jangan banyak gerak. Abang sebentar lagi harus dioperasi..” kataku berusaha tak menangis.

Tangan Bang Rosyid balas menggenggam tanganku. Ibu jarinya perlahan mengusap punggung tanganku seakan berusaha menenangkanku.

Aku terisak. “Kenapa Bang Rosyid nekad nolong ibu…?”

Kulihat Bang Rosyid tersenyum samar. Dia lalu berusaha mengatakan sesuatu.

“Kalau abang enggak nolongin… berarti abang enggak berterima kasih sama orang yang udah ngelahirin orang yang paling abang sayang…” kata Bang Rosyid pelan.

Aku tak kuasa menahan tangis. Kuciumi tangan Bang Rosyid yang sedikit basah oleh airmataku. Tangannya yang satu diangkatnya dengan susah payah untuk mengusap kepalaku penuh sayang.

“Karim doain abang kembali sehat. Kita pulang ke desa lagi ya bang? Karim enggak bakal pergi jauh dari abang…” kataku parau.

Bang Rosyid mengangguk sambil tersenyum.

Aku meninggalkan kamar Bang Rosyid sambil menangis. Nenek menghiburku dan terus menyuruhku berdoa agar Bang Rosyid diberikan kesembuhan.

Walau hatiku tak bisa tenang, aku berdoa tanpa henti saat Bang Rosyid dioperasi. Syukurlah, operasi Bang Rosyid berjalan lancar. Kondisinya semakin stabil dan akhirnya dia kembali sadar. Nenek dan akulah yang menjaga Bang Rosyid di rumah sakit. Sesekali nenek kembali ke desa membawa pakaian ganti dan makanan. Aku seperti perawat pribadi Bang Rosyid. Aku mengaku sebagai adiknya dan sepertinya seluruh dokter dan perawat mempercayai hal itu.

Peristiwa kematian Pak Arman berbuntut skandal. Seorang Bupati yang belum lama diangkat untuk memimpin daerah namun tewas ditangan Polisi menjadi berita Nasional. Apalagi hal tersebut melibatkan Istrinya sendiri. Ibu ditemani oleh kuasa hukumnya bersepakat untuk tidak menceritakan yang sesungguhnya kepada media.

Di ruang tunggu Rumah Sakit, aku melihat berita di layar televisi yang menceritakan kejadian Ibu dan Suaminya. Ibu terlihat tertunduk memakai kacamata hitam didampingi seorang pengacara terkenal yang sering kulihat mendampingi para pesohor yang sedang menghadapi masalah. Pengacara itu bicara berapi-api bagaimana Ibu menghadapi tindakan kekerasan dalam rumah tangganya dan masalah itu diketahui oleh anaknya hingga diceritakan Pak Arman menjadi kalap.

Entah apa yang mereka katakan. Tapi Ibu sudah membuatku dan Bang Rosyid menyingkir dari kasus ini sehingga dirinyalah yang kini dikejar-kejar oleh wartawan media dan berurusan dengan polisi.

***

Sudah tiga bulan sejak Bang Rosyid keluar dari rumah sakit dan kembali ke desa. Pemberitaan mengenai Ibu dan suaminya lama kelamaan mereda digantikan skandal lain yang lebih heboh. Tinggal di kota mendatangkan masalah bagi ibu. Beliau akhirnya pindah kembali ke rumah nenek. Ibu membantu nenek membangun warungnya dan dia disibukkan oleh toko barunya di kecamatan. Apakah skandal yang menimpa ibu membuatnya dicibir masyarakat? Ternyata tidak. Banyak masyarakat terutama kaum hawa yang bersimpati terhadap ibu yang diberitakan sebagai korban dari kekerasan dalam rumah tangga. Kebanyakan tidak menyangka bahwa suaminya yang politikus gagah dan tampan serta dikagumi wanita ternyata seorang bajingan.
Efeknya? toko ibu menjadi toko yang laris dalam waktu singkat. Kebanyakan pembelinya adalah orang yang mengenal ibu dari pemberitaan di televisi.

Kesehatan Bang Rosyid sudah kembali seperti sediakala dengan perawatan dan perhatian keluarga kami. Kak Yus dan keluarga rupanya sudah tidak mau tahu dengan kondisi Bang Rosyid dan perceraian mereka berjalan dengan mudah. Aku sendiri memilih kuliah di kecamatan dan tinggal bersama ibu di sebuah rumah yang disewanya. Ibu rutin mengunjungi nenek setiap dua hari sekali sedangkan aku hanya kembali ke desa tiap akhir pekan.

“Awas kalau nakal di tempat kuliah!” kata Bang Rosyid suatu hari saat aku mulai berkuliah.

“Abang juga jangan nakal ditinggal Karim, ya! mentang-mentang Karim nggak ada, nanti ngajak orang lain ke saung lagi..” kataku sambil pura-pura marah.

“Enggak lah… tapi.. ada sih anak SMA yang ganteng. Adik kelas kamu kayaknya. Boleh deh abang bawa ke sa- ADUH!” teriak Bang Rosyid saat aku meninju lengannya kesal.

Kemudian Bang Rosyid tertawa terbahak-bahak.

Sebenarnya topik hubungan aku dan Bang Rosyid tidak pernah benar-benar dibahas oleh ibu. Sepertinya dia tidak mau menyinggung masalah itu walau harusnya dia tahu bagaimana kedekatan aku dan Bang Rosyid, apalagi setelah Pak Arman bilang padanya bahwa kami berpacaran. Tapi Ibu tidak pernah membicarakannya. Dan itu membuatku sedikit lega.

Sabtu itu aku sedang ada di rumah. Bang Rosyid seperti biasa bekerja di ladang. Ibu dan Nenek mengawasi pekerja yang sedang merenovasi rumah kami. Tadinya aku akan ke tempat Bang Rosyid untuk melepas rindu sore ini. Tapi aku harus berangkat diam-diam supaya tak menimbulkan banyak pertanyaan dari Ibu.

“Rim?” panggil ibu dari dapur.

“Ya bu?” sahutku. Aku lalu keluar kamar menuju dapur.

“Ibu sama nenek bikin rendang sama sayur nangka… kamu bisa antar ke tempat Rosyid?” tanya ibu.

Aku tercekat. Lama aku terdiam menatap ibu mencoba menyelidiki apa maksud dari perkataannya.

“Rim? mau bantu antar enggak?” tanya Ibu sekali lagi.

Aku gelagapan “I.. iya Bu.. Karim bawa..” kataku.

Kemudian aku mengambil rantang yang diberikan ibu. Sebelum pergi ibu berpesan “Jangan kemaleman ya, Rim..”

Aku mengangguk.

***

Saung Bang Rosyid masih sama seperti pertama kali aku ke sini. Perlahan aku letakkan rantang yang mengeluarkan aroma harum masakan di atas alas bambu. Sore itu angin sejuk berhembus. Mengingatkanku saat aku menumpang belajar di sini menjelang ujian.

“Duaar…!! ada anak kuliahan nyasar!” seru Bang Rosyid sambil memelukku dari belakang dan membuatku terkejut.

“Emang kalau ada anak kuliah nyasar ke sini, mau diapain?” tanyaku tanpa berusaha melepaskan pelukan Bang Rosyid.

“Mau abang perkosa! ahahaha…” gelak Bang Rosyid.

“Boleh bang, tapi awas ya kalau enggak enak!” kataku geli.

“Loh, kok? mau diperkosa malah nawar?” gerutu Bang Rosyid sambil memencet hidungku. Aku berbalik menghadapnya. Sepertinya dia baru selesai mandi di pancuran. Kulitnya terasa dingin dan tampak segar. Bang Rosyid hanya memakai celana pendek selututnya.

“Hmmm.. rendang ya? nenek kamu yang bikin?” tanya Bang Rosyid sambil menggeser rantangan dari ibu.

“Iya Bang,” kataku.

Bang Rosyid dengan semangat membuka rantang dan melihat-lihat isinya dengan antusias. Aku tersenyum melihat tingkahnya. Senyumku mendadak hilang ketika melihat luka bekas operasi akibat tertembak Pak Arman. Dada bidangnya yang kukagumi kini harus tercoreng oleh bekas luka yang kurang sedap dipandang.

Bang Rosyid sepertinya mengerti kegalauanku. “Enggak usah khawatir Rim, malah Abang keliatan keren ada bekas lukanya gini. Orang jadi nggak berani macem-macem sama abang.. hahaha..” ujarnya.

Aku tersenyum sambil mendekatinya. Kutundukkan kepalaku dan dengan lembut kuciumi bekas luka yang memanjang itu.

“Hei.. hei.. kalau gini nanti Abang nggak jadi makan nih. Keburu ngaceng..” gurau Bang Rosyid.

Aku mengabaikan protes Bang Rosyid dan meneruskan cumbuanku dengan mengulum putingnya. Bang Rosyid mendesah pelan.

“Karim duluan yang makan, ya bang?” godaku.

Aku lalu membuka celana pendek Bang Rosyid dan mengeluarkan penisnya. Segera kukulum penisnya itu untuk menyenangkan lelaki pujaanku.

Bang Rosyid mulai mengerang sambil memegangi kepalaku dan menikmati servis oralku hingga penisnya basah. Aku membuka pakaianku dan bangkit. Kupeluk Bang Rosyid yang masih dalam keadaan duduk dan kuturunkan perlahan tubuhku hingga penisnya mulai masuk ke dalam anusku.

“Ooh…” desah Bang Rosyid sambil mencengkeram pinggangku. Kurasakan penisnya yang tegak berdenyut-denyut dan sedikit demi sedikit memasuki lubang pantatku.

“Mmm…. ngh..” gumamku. Aku masih saja kewalahan dengan kerasnya penis Bang Rosyid sampai sekarang, namun aku mencoban rileks demi rasa sayangku padanya.

“Hmmmff…” tubuhku gemetar ketika batang penis Bang Rosyid semakin dalam menusuk anusku. Bang Rosyid melenguh dan mencium bibirku sementara aku terengah mengatur nafas karena sensasi nikmat yang ditimbulkan.

Kurangkul kepala Bang Rosyid dan Bang Rosyid dengan rakus menjilati puting dadaku dan mengulumnya hingga aku semakin mengerang keenakan.

Lalu Bang Rosyid mulai mengangkat tubuhku dengan mencengkeram pinggangku.

“Aaaah…” erangku manja saat Bang Rosyid membuat tubuhku naik turun dan “terpaksa” pasrah menerima batang penisnya yang tegak dan keras itu keluar masuk penisku.

“Engh… nggh… hhmmmfff..” desahku tertahan sambil menggigit bibir keenakan. Bang Rosyid pun melenguh dan menggeram berkali-kali dan terus membuat tubuhku naik turun untuk memuaskan penisnya.

Bang Rosyid lalu melebarkan kedua pahanya. Ditahannya tubuhku agar dia leluasa mulai menghentakkan penisnya berkali-kali dengan cara menggerakkan pinggulnya. Semakin cepat dan semakin cepat…

Aku mengerang semakin keras akibat dihajar oleh tusukan penis Bang Rosyid yang cepat dan sangat bernafsu itu. Tubuh Bang Rosyid mulai berkeringat. Dia ikut melenguh sambil terus menahan pinggangku agar tak bergerak saat penisnya tanpa ampun keluar masuk ke dalam anusku.

“Arrrgh..” erang Bang Rosyid ketika akhirnya dia mencapai klimaks dan menyemburkan isi zakarnya ke dalam anusku. Aku memekik panjang dan ikut mengeluarkan spermaku hingga membasahi perut dan dada bang Rosyid. Kami berdua lalu berbaring sambil terengah-engah. Kuciumi wajah Bang Rosyid sebagai pujian atas kejantanannya. Wajahnya tampak letih namun sangat puas. Dia menatapku mesra sambil mengusap rambutku. Kami berdua lalu berciuman panjang penuh cinta.

Karim sayang Bang Rosyid…

-TAMAT-

Advertisements
Comments
  1. Tsu no YanYan says:

    Waw ibunya merestui tuh… Gimana juga nyawanya udah diselamatkan sama bang Rosyid, bertaruh nyawa buat dia aja mau apa lagi buat anaknya! Pasti udah ngerasa Rosyid adalah orang yg paling tepat untuk menjaga Karim… ciee cieee…

    Happy End!!! Seneeeeeeeng><

    ditunggu karya-karyanya yg lain bang^^/

  2. Alfredo says:

    Jadi iri sama Karim…

  3. Alfredo says:

    Jadi iri sama karim

  4. arif says:

    aaak! aku kecele’..
    kirain panjang endingnya..
    taunya belakangnya ada esek2nya..
    lol.

  5. eka says:

    Lanjuut ke cerita berikutnya, buat para pembaca, ada virgin yg perlu kasih tulus cinta ni, kayak putra yg di menatap bintang di langit luwuk

  6. ruswandi says:

    nmpknya si penulis mw2 cepat2 menyelesaikan cerita ni nmpk di potong2…endingnya ga seru….tp ,,,sy suka cerita ni…..di tunggu crita selanjutnya

  7. Fahmi says:

    Happy Ending >.<…

    Aku iri sama karim, punya pacar ganteng kaya bang rosyid, direstui ibu pula.

  8. dennis says:

    Bang remy kok pendek sih bang ending nya,,,chapter 10 knp ga dibikin part A&B.. over all ak slalu hanyut dlm karya2 bang remy,,,keep writing bang.. ๐Ÿ™‚

  9. duke Kevin says:

    Yatuhaaann dari chapter1 sampe 10 aku menikmati ceritanya. Jadi ngimpi bisa punya pasangan kayak bang rosyid. Hahaha

  10. regular walker says:

    Toko baru ibu di kecamatan gak jual racun tikus kan bang?…siapa tau…kali kali aja….

  11. Aryo Chandra says:

    Lanjutin dong ceritanya seru nihhyh

  12. dhio says:

    Seandainya di dunia ini hubungan kaum gay direstui, mungkin aku sudah menikahi lelaki yg kupuja2 selama ini,
    Hahaah, tapi itu gak bakalan terjadi,

    Salam dri saya ,,
    2B079E20

  13. fariz says:

    bang ceritanya menghanyutkan skali… Andai boleh drestui hub ini pasti q sudah bhagia brsama pasanganku sampai maut memisahkan, tapi nggak mungkn..bikin lg y bang remmy ๐Ÿ™‚

  14. surya says:

    sumpah ini cerita keren banget..
    romatis, dan bkin terharu sama perjuangan cinta mereka ..
    coba aja d dunia nyata ada sebuah cinta sejenis yg kaya mereka ..
    dan coba kalo cerita nya bisa d angkat jadi sebuah flm/drama pasti seru
    hehe

    good luck buat penulis nya..
    terus berkarya bang.. ๐Ÿ˜‰

  15. Noki Prasetyo says:

    Thank so much. .
    Finally happy ending. .
    Even I’m away from Indonesia but I will and still waiting for the new story. ..
    Good jobs…

  16. Om suhar yanto says:

    Cerita ini ga se drama kisahku tpi ada kesamaan dgn hub.ku ma bfku..yaitu ortu ku udh merestui hub.ku ma bfku… ๐Ÿ™‚

  17. tio says:

    Cerita bagus apalagi tokoh bg rosyidnya jd impian bangat.

  18. Yanzi says:

    Hmmm ceritanya panjang tapi seru,dari siang sampai malam bru aq selesai bacanya…..

  19. Yuzalby says:

    Wahhhh bagus ceritanya, perjuangan bang rosyid demi cinta keren abis

  20. shan says:

    Sayangnya karakter Rosyid itu fiktif ya..haha
    Salam :v semangat terus bikin karya bagus. Kalo bisa dibuat film juga bang..
    Hehehe

  21. sagara says:

    “kalau abang gk nolongin..berarti abang gak berterima kasih sama orang yg telah melahirkan orang yg abang sayang”…Sumpah…kata2 itu bwt gw merinding…bikin mata gw berkaca2…andai saja cerita ini nyata….Saluuut banget sama kisah mereka….Congrat ya gan….

  22. i'am ian says:

    Bnr2 kisah cinta yg indah..
    Seandainya kisah cinta Rosyid n Karim bnr2 nyata,pasti bakal jd kisah cinta yg paling indah yg pernah ad ๐Ÿ™‚
    Saluut buat penulisnya,krna udh tulis kisah cinta seindah kisah Rosyid n Karim,jujur gw suka bgt n terharu sama kisah Rosyid n Karim.
    Salam knal buat penulisnya.
    Klo aj pasangan Rosyid n Karim bnr2 ad,gw pengen bgt knal sama Rosyid n Karim (~_~)
    Good luck buat penulisnya..

  23. cindy fitria says:

    Ngiri boy

  24. AttaREXIS says:

    Hadeeeuuhh good idea tpi endingny terlalu esek” –” mnding di buat kyk Untold Husband aj kn bgus

  25. kumbang says:

    Keren ceritanya . dtunggu brkutnya

  26. Deni alfahri says:

    Ceritanya menarik bgus endingnya jga bgs semua coment di sini pada lucu

    Aku aja yg hubungan setahun lebih ingin miliki dia seutuhnya ya hrus tau diri kan gk bisa.
    Tpi ikatan keluarga antara dia hrus di peetahani.

  27. linda says:

    Sumpah nie cerita bagus bnget jd ngayal pengen jadi karim yg di cintai m bng roshyid

  28. khasan says:

    Ga seru ah. Masih krasa Filipinanya. Ga brasa indonesia. Terlalu dramatis. Jadi terkesan lebay. Kaya ga mungkin bgt itu terjadi sama aku.

  29. dewa says:

    Gue mengikuti alur cerita dengan penuh kebaperan, setiap kejadian gue rasain solah2 gue yang merasakan sendiri drama percintaan ini.. Senang sedih nikmat bahagia…. Semua berhasil gue rasain dari cerita ini.. Terus berkarya gan..

  30. adit says:

    Tumben end ingnya happy biasanya sad ending tpi BOLEH DI LANJUTIN DONG CERITANYA PLEASEEE๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™

  31. david ferdinan says:

    Ceritanya bikin penasaran dari 1 samle 10 ceritanya bikin merinding….

  32. Ari_Jeeje says:

    Terharu baca ceritanya . cinta bang roysid n karim kuat amat
    andai aku jd karim pasti bahagia bgt

  33. ari_jeeje says:

    Bahgia banget andai aku jadi karim !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s