LOVE MY DAD (Bonus: OM RENDI)

Posted: October 23, 2014 in Love My Dad the Series

IMG_4995.JPG-Abang Remy Linguini-

Cerita sebelumnya: Bastian dan Steve adalah ayah dan anak yang menjalani hubungan percintaan terlarang. Kisah selengkapnya, silakan lihat seri LOVE MY DAD (1-8).

SEJAK Papa berjanji sama gue bahwa dia tidak akan mencari pria lain untuk berhubungan selain sama gue, anaknya, gue semakin tenang. Tapi kadang ada sedikit rasa khawatir. Toh, dulu Papa tergoda sama Nico, teman baik gue sendiri di sekolah dan diam-diam menggilir kami berdua. Huh! Memang sih, siapa yang enggak akan tergoda sama Papa? pria mapan, masih gagah dan kekar di usianya yang terbilang tak lagi muda, pastilah banyak pria yang mengantri untuk menyerahkan tubuhnya. Walau di tempat kerjanya (pusat kebugaran) banyak pria gay yang mengincar papa, sampai saat ini papa masih bisa meyakinkan gue kalau dia sama sekali tidak tergoda.

Ada teman papa yang bernama Rendi. Dia seusia sama papa, yah, sekitar dua tahun lebih muda. Sudah berkeluarga dan tampaknya papa dan Om Rendi (gue manggil dia begitu), sangat akrab. Gue pernah nyindir papa apakah ada sesuatu yang lebih ‘intim’ di antara mereka? tapi papa bilang mereka hanya berteman. Kebetulan Om Rendi punya hobi yang sama dengan papa. Perkenalan mereka dimulai dari Om Rendi yang meminta Papa menjadi Personal Trainernya (PT). Memang, papa sekarang ini tidak lagi turun langsung sebagai PT, tapi untuk kenalan dekat dan harga yang super selangit, Papa kadang bersedia.

Diam-diam gue mengagumi Om Rendi. Sejak dilatih Papa, badannya yang memang sudah tinggi tegap dan berisi, makin terlihat kering otot-ototnya. Bukan itu saja, ketika memerhatikan dirinya sedang dilatih papa, gue sering mencuri pandang ke arah selangkangannya. Wow… dalam keadaan tidur saja, kontol Om Rendi tidak mampu tersembunyi dengan benar dibalik celana olahraganya. Kadang sempat berkhayal juga, bagaimana rasanya bila gue dan Om Rendi ngeseks. Kalau sudah begitu, gue biasanya langsung coli dan membayangkan adegan mesum di otak.

Suatu malam, saat gue sedang tidur, kudengar pintu kamar terbuka. Tadi Papa sempat bilang, akan hang-out dulu sama Om Rendi di sebuah acara gathering launching sebuah produk alat kesehatan. Gue memang tidak pernah mengunci pintu kamar sebagai antisipasi kalau malam hari papa datang ke kamar untuk ‘minta jatah’. Saat gue hendak bangkit, gue dengar ada suara lain selain suara papa. Oleh sebab itu, gue memutuskan untuk pura-pura tertidur.

“Gila lu meeen.. anak sendiri lo garap?” bisik sebuah suara yang gue kenal milik Om Rendi.

“Ssst.. ssst.. enak bro sensasinya. Anggap aja variasi dari lobang istri lo..” kata Papa.

“Ini gila, man!” bisik Om Rendi lagi tapi lebih keras.

“Gila sih gila! tapi lo juga penasaran kan ngeliat gue ngentotin anak gue sendiri?” tembak papa.

“Gue sih lebih penasaran ngeliat sesama cowok maen, tapi kalo ternyata lo maennya ama anak lo sendiri, ya…” kata Om Rendi.

“Jadi lo batal neh liat gue maen?” tanya Papa.

“Enggak lah, man.. sama aja kayaknya,” kata Om Rendi.

Gue masih pura-pura tidur saat papa menyentuh bahu gue berusaha membangunkan gue.

“Ngg.. Pah?” tanya gue pura-pura heran.

“Steve.. bangun Steve, papa bawa temen nih,” kata papa.

“Hah.. siapa pah? Om.. Om Rendi ya?” tanya gue kembali pura-pura tak tahu.

“Iya. Kamu kenal Om Rendi, kan? malam ini papa mau bantuin dia.. katanya Om Rendi penasaran sama permainan kita,” kata Papa mencoba merayu.

“Ma.. maksud papa?” tanya gue pura-pura nggak ngerti.

“Maksud papa, Om Rendi mau duduk di sini, ngeliat papa ngungkapin rasa sayang papa sama Steve. Steve mau kan?” rayu papa lagi. Khawatir gue nolak.

Yay! mau banget pa! kalau perlu sekalian Om Rendi ngentotin Steve! kata gue dalam hati. Tapi supaya Om Rendi dan papa penasaran, gue pura-pura menyetujuinya setengah hati.

“Ng.. i.. iya Pah..” jawab gue pura-pura ketakutan.

Kemudian papa membuka bajunya. Dia menyuruh Om Rendi duduk di sudut kamar memerhatikan aksi kami berdua. Diciumnya bibir gue. Mungkin karena disaksikan orang lain, Papa menjadi lebih agresif dan bersemangat. Gue kemudian ikut membuka kaus dan membiarkan papa menindih badan gue. Gue menggeliat, mendesah, mengerang setiap kali papa mencumbu bagian tubuh gue. Sesekali gue sengaja mendesah dan mengerang lebih keras untuk menggoda Om Rendi.

Om Rendi masih duduk terdiam di sudut kamar melihat aksi gue dan papa. Tapi gue bisa lihat nafasnya mulai lebih berat. Saat Papa mulai merimming anus gue, desahan gue makin terdengar keras. Badan gue mulai menggelinjang liar.

“Sadis lu men…” gumam Om Rendi takjub melihat keganasan aksi papa.

“Bikin dia rileks bro.. biar masuknya lebih gampang,” kata papa sambil terkekeh.

Kemudian Papa bangkit dan mengambil pelumas yang entah dari mana sudah dia sediakan. Diolesnya pelumas itu pada batang kontolnya yang sudah tegak lurus dan keras. Diangkatnya kaki gue tinggi-tinggi.

Gue memekik cukup kencang. Gue lihat Om Rendi berjengit sedikit mengira gue kesakitan. Setelah memastikan ekspresi wajah gue ternyata malah seperti keenakan, Om Rendi enggak tahan membuka celananya dan mengeluarkan kontolnya yang juga udah tegang. Papa tersenyum melihat Om Rendi mengocok kontolnya. Sementara gue terus mendesah dan mengerang menikmati sodokan kontol Papa dan membuat Om Rendi semakin penasaran.

“Enak banget kayaknya. Anak lo nggak kesakitan?” tanya Om Rendi memastikan.

“Lo liat sendiri Steve keenakan gini masih nanya?” kata Papa sambil terkekeh. Sementara itu pinggulnya terus bergerak maju dan mundur.

Tiba-tiba papa melempar botol pelumas itu pada Om Rendi. “Giliran lo, bro! ayo cobain, gue kasih izin lo ngentot anak gue!”

“Papah!” sahut gue protes. Padahal dalam hati gue berteriak gembira.

“Eng, gue gak yakin men.. blom pernah gue ngentotin pantat, apalagi pantat cowo..” sahut Om Rendi ragu.

“Cobain aja bro! buka baju lo, cepet.. gue pegangin anak gue..” perintah Papa.

Walau masih terlihat tak yakin, Om Rendi menuruti papa membuka baju dan celananya. Kini gue bisa melihat kontolnya yang besar dan melengkung ke atas. Keras dan tegang penuh. Gue berdebar-debar. Kalau benar apa yang Om Rendi bilang bahwa dia belum pernah ngentotin pantat cowok, berarti gue harus kasih servis luar biasa buat dia.

Setelah Om Rendi mengoleskan pelumas pada senjatanya, Papa menyuruhnya mendekati gue sementara itu papa menghentikan gerakannya dan bergeser ke samping badan gue membantu mengangkat kaki gue.

Om Rendi agak lama kesulitan mencari lubang anus gue dan masih ragu bagaimana caranya menusukkannya masuk pada lubang itu. Kelihatan sekali dia tidak terbiasa dengan seks anal. Lama-lama dia memegang batang kontolnya dan memaksanya masuk ke dalam anusku.

“Dorong bro… Ya.. gitu…” kata Papa sambil menyeringai saat melihat gue memekik merasakan kontol baru yang masuk ke dalam pantat selain kontol papa.

“Aaaah… kontol Om Rendi gede banget…” kata gue spontan karena kewalahan menghadapi batang yang agak melengkung ke atas itu.

“Denger man.. anak lo bilang kontol gue lebih gede dari punya elo,” ledek Om Rendi. Gue lihat Papa sedikit kesal, tapi gue suka.

“Aah.. bener men.. pantat anak lo sempit juga…” desis Om Rendi saat kontolnya semakin melesak ke dalam. Gue sengaja mengetatkan otot-otot anus gue supaya Om Rendi merasakan sensasi jepitan terenak untuk seks anal pertamanya.

“Genjot bro.. entotin anak gue…” geram Papa memerintah Om Rendi.

Om Rendi mengikuti saran Papa. Digenjotnya kontolnya semakin cepat. Gue seperti mendapat durian runtuh bisa menikmati tubuh Om Rendi malam ini.

“Ouw shit maaaan..!! uuuh..” gumam Om Rendi keenakan. Dia kemudian menunduk dan mencium bibir gue. Papa kelihatan tidak suka dengan pemandangan itu apalagi gue
membalas ciuman Om Rendi dengan sama bernafsunya. Papa cemburu.

Om Rendi ternyata suka bermain sedikit kasar. Direnggutnya rambutku sambil terus menggenjot kontolnya keluar masuk. “Hmmphh! hmmpph!” geram Om Rendi yang tubuh kekarnya mulai dibasahi keringat.

“Hajar bro.. terus..” kata Papa menyemangati.

Setelah beberapa lama, Om Rendi tampaknya tak berniat gantian dengan papa menggenjot anus gue. Papa yang mengetahui hal itu menghentikan aksi Om Rendi yang terlihat ingin menyelesaikan permainan dengan mengeluarkan spermanya di dalam anus gue.

“Gantian bro.. lo keluarin di mulut Steve aja,” perintah Papa sambil mendorong badan Om Rendi. Dalam hati gue kecewa, Om Rendi batal menyemprotkan spermanya di dalam pantat, tapi bisa ngerasain spermanya di mulut, oke jugalah…

Om Rendi awalnya agak kecewa aksinya dihentikan papa, tapi dia kembali bersemangat saat Papa mengizinkan dirinya mengeluarkan cairan kentalnya di dalam mulut gue. Segera dia beringsut mengambil tisu dan membersihkan seadanya batang kontolnya. Kemudian dia memasukkan kontolnya ke dalam mulut gue sementara papa mulai menggenjot kembali kontolnya pada pantat gue.

“Uuuh… hhh…” desah Om Rendi sambil memegangi kepala gue. Dengan semangat, gue memberikan servis oral terbaik buat Om Rendi. Gue hisap dan jilat kontolnya hingga Om Rendi nyaris mencapai klimaks. Papa menyaksikan perbuatan gue dengan tatapan nanar.

“Gue mau keluar, man!” pekik Om Rendi. Tubuhnya mulai gemetar. Dikeluarkannya batang kontolnya yang sudah basah oleh liurku dan dikocoknya beberapa kali menghadap mulut gue yang terbuka lebar.

“Yes bro.. muncratin di mulut anak gue.. paksa dia telen bro…” geram papa bernafsu.

“OOOHHHH!” erang Om Rendi. Dari kontolnya menembak cairan sperma kental berkali-kali yang sebagian besar masuk tepat ke dalam mulut sementara sebagian kecil menetes di ujung bibir gue. Gue lalu berinisiatif mengulum batang kontol Om Rendi mencoba membersihkan sisa sperma yang ada pada kepalanya. Hal itu membuat Om Rendi merasa ngilu hingga tubuhnya gemetar dan mendesah panjang, “Oh.. uuuuuhh….”

Sementara itu Papa semakin cepat menggenjot pantat gue. Melihat puncak orgasme Om Rendi membuat papa semakin terangsang dan akhirnya dia melengkungkan pinggangnya, mengerang dan kembali mengisi liang anus gue dengan cairan spermanya. Cairan yang berasal dari kontol yang pernah membuat gue dulu. “Arrrgghh…” erangnya.

Papa segera mencabut kontolnya. Melihat gue belum mencapai klimaks, segera dia mengocok batang kontol gue sambil menjilati buah zakar gue. “Aaah.. hh.. terus pah..” gue mendesah. Om Rendi rupanya berinisiatif membantu. Ditundukannya kepalanya dan mulutnya mulai mengulum putingku. Lidah papa pada zakar dan lidah Om Rendi pada puting membuat gue serasa melayang keenakan. Gue mengerang panjang sambil menarik kepala Om Rendi agar terus menggigit puting gue dan mengulumnya sampai gue mencapai klimaks. Dan… “Aaahh….” gue memekik sambil memuncratkan sperma gue tinggi-tinggi hingga membasahi perut dan dada. Enak sekali. Kemudian Papa dan Om Rendi yang terengah-engah menjatuhkan badannya di samping kanan dan kiri badan gue.

“Gila, maaan..! enak banget barusan! Kapan-kapan gue mau lagi bro beginian…” kata Om Rendi.

Papa terkekeh. “Gue sih mau aja, bro. Tapi lu tanya anak gue, mau lagi kagak?”

“Steve mau pah.. siap kapan aja buat papa sama Om Rendi..” kata gue tanpa ragu. Kemudian papa dan Om Rendi tersenyum dan keduanya merangkul badan gue sambil memberikan ciuman di masing-masing pipi kanan dan kiriku. I Love you Dad! I Love you too Om Rendi…

-TAMAT-

Advertisements
Comments
  1. fitra says:

    Akhir nyaa suka bngt di bikin siquel nya giniiiiii, lanjut bg remi, sukaa

  2. blackshappire says:

    waduh kok jadi gini anak turunnya dongxian ma ajudan li?

    welehh….

    boleh ikut gak #lohh

  3. Fahmi says:

    Nico yg ko di telantarin sih Bang Rem? Asik jga tuh si Steve punya mainan baru. Xixixixi.

    I Like..

  4. arif says:

    waaaaks..

    mauuuuuw..

  5. nando says:

    weeee enk bgt si steve dpt maenan bru lbih muda dari ayahnya lagiiiii gw tnggu lnjutannya lainnya

  6. Lorenzo Alfredo says:

    niconya mana bang remy?

  7. Noki Prasetyo says:

    Love it
    Keep good work. ..

  8. Dave_Rose says:

    Ya ampun, enak bgt jadi steve. Jadi pengen deh, punya Papa kaya Steve. Trus, dijadiin sex partner buat temen Papa nya sendiri. Haduh, horny bgt gw!

  9. andre says:

    Lanjutin dong ceritanya bang remi… keren deh

  10. chandra eryando says:

    Mau dong begituan

  11. dikey48 says:

    Wahhhh keren cerita nya, LOVE MY DAD emang keren abis
    Walaupun aku masih baru di blog ini,tapi cerita nya bagus2
    Apa bakal ada lanjutan dari LOVE MY DAD ?

  12. Jeromeh says:

    Uuuuhh.. ini emang kombinasi paling mantap kalo urusannya udah papanya Steve.. Abang Remi pengen liat donk cerita Nico yg suka diboncengin sama Mas Bima.. mereka tetanggaan kan?

  13. yashin says:

    maaf bgt..waktu baca cerita sbelumnya gue masih ok deh,tp ini udah abnormal bgt,,ayah nawari anakny buat disodomi ma temannya malah digilir ma dia,itu udah kterlaluan bgt,,
    siapa sih ni yg buat..

  14. bigman says:

    Mana episode lainnya

  15. john says:

    menunggu creita tentang bapak selanjutnya

  16. Tepha says:

    Kalo sex sedarah gini istilahnya apa yaa?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s