A HUSBAND: UNTOLD STORIES – Chapter 7 Final

Posted: October 17, 2014 in A Husband: Untold Stories

1779794_401236140015994_1072261490_nCerita sebelumnya: Dion, seorang pria berkeluarga, memutuskan untuk kembali berpetualang di dunia gay. Pria demi pria ditemui untuk melampiaskan nafsu homoseksualnya yang dia pendam selama berumah tangga. Apa mau dikata, pesona seorang pria bernama Angga membuatnya kembali bermain hati. Sayangnya, permainan terlarang Dion dimanfaatkan Tony sahabatnya sendiri hingga hubungan dengan istrinya menjadi bermasalah. Saat hendak berpaling kepada Angga, Dion mendapati sebuah kejutan.

AKU tak percaya dengan apa yang kulihat saat teman Angga keluar dari kamar mandi. Dia menatapku penuh dendam. Amarah yang sama yang pernah kulihat sebelumnya. Ya! pemuda itu adalah Fadli. Pelacur pria bayaran yang kupakai pertama kali untuk memuaskan nafsuku secara berlebihan dengan menyiksanya.

“Kamu.. kalian saling kenal?” tanyaku pada Angga.

Kulihat Angga memalingkan wajahnya tak berani menatapku. Kepalanya bergerak-gerak sedikit seperti orang yang gugup.

Tak ada satupun dari kedua pemuda itu yang menjawab pertanyaanku. Aku menjadi marah.

“Bangsat kamu Ngga! jadi semua ini udah kamu rencanain, hah?” ujarku gusar. Kudorong tubuh Angga hingga dia terhuyung ke belakang.

“Elo yang Bangsat!” tiba-tiba Fadli meraung dan tinjunya melayang mengenai wajahku.

Aku tak siap terhadap serangan mendadak Fadli hingga tubuhku terjengkang ke atas ranjang. Rahangku terasa perih dan kurasakan darah menetes dari ujung bibirku.

Fadli masih penasaran. Dia kembali menyerangku dan meninju wajahku lagi di atas ranjang. Kali ini aku berhasil menahan pukulan terakhirnya dan mendorongnya hingga Fadli mundur beberapa langkah dariku.

“Udah Fad! udah!” Angga menghambur menahan Fadli yang mencoba menguasai diri untuk menyerangku kembali.

Usaha Angga menahan Fadli lumayan berhasil mencegahnya untuk menyerangku kembali. Ditambah lagi, suara gedoran pintu mengalihkan perhatian kami bertiga.

“Woy! ada apa di dalam?” teriak seorang pria di luar di antara suara pekikan beberapa perempuan.

Fadli berjalan dengan gusar menuju pintu kamar. Dia lalu membukanya dan langsung berhadapan dengan seorang pria yang penasaran dan dua gadis yang ketakutan.

“Ini bukan urusan elo! mending lo masuk kamar! lo juga perek berdua! gak usah ikut campur!” teriak Fadli.

Pria yang menggedor pintu kamar Angga dan Fadli menurut juga walau terlihat ragu dan masih penasaran.

Angga menghampiriku mencoba mengetahui keadaan lukaku. Tetapi aku menepis tangannya. Rupanya Fadli masih terbakar amarah. Dia lalu mengambil sesuatu dari dalam laci. Sebuah pisau cutter. Melihat itu Angga bereaksi keras.

“Udah, Fad! Lo maen pukul gue masih bisa toleran, tapi kalo elo mau jadi pembunuh, gue enggak segan-segan ambil tindakan!” teriak Angga sambil berdiri menghadang Fadli.

Fadli yang sudah kalap hendak menyakitiku lebih parah, mendorong Angga dan menghunuskan pisaunya ke arahku. Aku sebetulnya ngeri, tapi aku sudah siap kemungkinan terburuk. Terluka parah sampai matipun tak apa-apa. Aku sudah ditinggal oleh istri dan anakku. Kutatap mata Fadli menantangnya untuk melakukan apa yang dia mau.

Hampir saja pisau itu menusuk lenganku saat Fadli menyerangku. Tapi di detik terakhir, Angga mendorong Fadli hingga pisaunya terjatuh. Dengan kekuatan penuh, Angga menendang perut Fadli hingga pemuda itu berteriak kesakitan dan tak bisa bergerak. Ujung pisau Fadli berhasil mengoyak lengan bajuku dan menggoreskan luka yang cukup dalam di baliknya hingga bercucuran darah. Aku meringis kesakitan.

“Cukup Fad! gue enggak mau elo masuk penjara gara-gara matiin orang!” teriak Angga. Sementara itu Fadli masih meringis kesakitan.

“Ayo, Mas.. kita pergi dari sini..” kata Angga.

Aku sebenarnya enggan ditolong Angga karena akupun kini membencinya. Tapi sepertinya tak ada pilihan lain jika aku ingin keluar dari kamar ini hidup-hidup.

“Tahan sebentar..” ujar Angga sambil melilitkan sebuah handuk kecil di sekeliling lukaku akibat pisau Fadli. Dengan sekali tarik, Angga mengikat lukaku kencang-kencang sampai aku mengaduh kesakitan. Dia lalu membantuku berdiri sambil membopongku keluar kamar.

“Kunci.. Mas enggak bisa nyetir kalo kayak gini..” perintah Angga. Aku menurut dan menyerahkan kunci mobilku padanya.

Angga membimbingku masuk ke dalam mobil dengan hati-hati setelah melewati beberapa kamar dengan penghuninya yang berbisik-bisik ingin tahu apa yang terjadi padaku. Setelah Angga menghidupkan mesin mobil, kami pun pergi dari tempat tinggal Angga.

Sepanjang perjalanan aku hanya diam sambil memegangi lenganku yang luka. Untunglah pendarahannya sudah berhenti walau masih terasa sakit.

“Kita ke klinik ya, Mas,” tawar Angga.

“Enggak perlu.” jawabku.

“Luka Mas harus diobati. Kalau enggak mau ke klinik kita cari hotel aja supaya mas sekalian istirahat,” tawar Angga lagi.

“Antar saya ke rumah saja,” aku berkata.

“Maaf.. tapi nanti Mas mau bilang apa sama keluarga Mas?” tanya Angga hati-hati.

“Istri dan anakku sudah pergi dari rumah.” jawabku singkat.

Angga terdiam. Matanya masih lurus menatap jalan sementara aku palingkan wajahku keluar jendela.

“Kamu puas?” tanyaku.

Angga tak menjawab.

“Fadli itu teman aku, Mas. Aku harus nolong dia,” ujar Angga kemudian.

“Suatu hari Fadli datang sambil menangis. Wajahnya terlihat marah. Dia bilang belum pernah merasa sehina itu walaupun pekerjaannya sebagai… escort.”

Aku diam mendengarkan.

“Fadli bilang dia diperlakukan sangat kasar oleh seorang pria. Dia sempat mengambil gambar wallpaper ponsel orang itu saat lengah dan menunjukkannya padaku. Dia menangis marah sambil bersumpah akan membalas sakit hatinya jika sampai dia bertemu orang itu lagi. Lalu aku melihat foto yang dia ambil. Aku kenal orang itu. Dia biasa mampir di cafe aku saat makan siang. Aku tak bilang pada Fadli, tapi reaksi di wajahku tidak bisa membohonginya..”

Aku menghela nafas. Angga sedang menceritakan tentang diriku. Tentang pertemuanku dengan Fadli.

“Fadli langsung memaksaku mengaku kalau aku kenal sama Mas Dion. Dia lalu menangis minta aku supaya…” Angga menghela nafas seakan berat untuk melanjutkan. Aku melirik ke arahnya.

“Supaya aku menjerat Mas Dion. Fadli ingin merekam Mas Dion bermesraan dengan cowok lalu diberikan kepada istri mas..” lanjut Angga.

“Lalu kenapa tidak kalian lakukan dari awal? padahal kita udah ngeseks setelah obrolan intens di cafe..” tanyaku.

“Aku juga enggak nyangka Mas Dion yang biasanya adem jadi agresif ngedeketin aku waktu itu. Aku tidak bilang sama Fadli kalau semudah itu Mas Dion masuk perangkap. Itu sebabnya… aku juga harus menjaga diri dari perasaan dengan cara..”

“Meminta uang?” potongku.

Angga mengangguk.

“Semakin kenal Mas, aku yang awalnya ikut benci dengan perbuatan Mas ke Fadli lama-lama jadi meragukan cerita dia. Perlakuan Mas ke aku sama sekali berbeda dengan yang Fadli ceritakan,” kata Angga.

“Itu karena kamu yang minta. Saya menuruti keinginan kamu karena saya khawatir kamu tidak akan mau berlanjut kalau saya main kasar.” ujarku.

Angga terdiam.

Kami berdua masih terdiam hingga tiba di rumahku. Angga memapahku kembali sampai ke dalam kamar. Perlahan Angga membantuku melepas pakaianku. Aku meringis sedikit ketika kain yang mengikat lukaku dibuka oleh Angga.

“Kotak P3K nya ditaruh di mana, mas?” tanya Angga.

Aku menunjuk sebuah lemari dan Angga membukanya. Dia mengambil beberapa gulung perban, cairan antiseptik, dan obat luka. Dengan telaten dia membersihkan luka-luka yang ada di tubuhku. Dengan cekatan dan rapi, Angga membalut luka akibat tergores pisau Fadli hingga tertutup sempurna.

“Kamu masih belum cerita,” kataku.

“Cerita yang mana, Mas?” tanya Angga sambil merekatkan plester pada gulungan perban.

“Kenapa setelah bertemu berkali-kali, kamu belum juga menjebak saya?”

Angga menghentikan gerakannya.

“Menjebak Mas tidak gampang. Kita harus atur strategi..”

“Bohong!” potongku.

“Kamu sebenarnya enggak tega karena kamu juga ada rasa sama saya, kan?” cecarku.

“Jangan ge-er, mas.. aku enggak punya perasaan apa-apa ke Mas Dion,” ucap Angga.

Dengan gemas aku mengangkat tubuh Angga dan memojokkannya ke dinding. Angga meringis ketika kepalanya membentur dinding.

“Lawan saya sekarang! kalau kamu memang tidak suka saya, lawan saya sekarang!” tantangku sambil mendekatkan mulutku pada bibirnya dan mulai melumatnya dengan penuh amarah.

Angga meringis namun tak ada tanda-tanda perlawanan dari dirinya. Dia pasrah saja saat aku menciumi lehernya dengan kasar. Kemudian aku membalik badannya. Aku yang marah pada Angga membuka paksa celananya dan menurunkannya. Aku menghimpitnya semakin rapat ke dinding dan membuka celana panjangku. Dengan luapan emosi, kubasahi seadanya penisku dengan liur dan tanpa ampun kutusukkan pada anus Angga.

“Ayo lawan saya! lawan!” geramku sambil menghujamkan penisku berkali-kali dengan kasar.

Angga memekik kesakitan. Jari tangannya menggapai-gapai dinding seolah berusaha mencari sebuah pegangan. Kutarik rambutnya dengan kasar. Angga sebenarnya bisa saja menolak perbuatanku. Tapi anehnya tidak dia lakukan. Kulihat air mata meleleh dan wajahnya menahan rasa sakit namun tak ingin melawanku.

Masih dengan perasaan marah yang memuncak, aku menggeram sambil menarik tubuh Angga ke atas ranjang. Sekali lagi aku menindihnya, menahan tubuhnya, dan menghujamkan penisku kembali ke dalam anusnya. Tapi lama kelamaan, kepasrahan Angga membuatku menghentikan penganiayaan itu padanya. Aku menjatuhkan tubuhku ke atas tubuh Angga sambil menangis. Kubenamkan wajahku pada punggungnya dan memeluknya erat-erat sambil terisak. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada diriku. Aku sungguh telah terpikat pada pemuda ini. Aku sungguh ingin memilikinya. Saat tangisku sudah mereda, aku berbicara pada Angga.

“Padahal kalau kamu membalas perasaan saya, semua akan saya lakukan. Termasuk meninggalkan istri dan anak saya sendiri,” kataku datar sambil mengusap perlahan kulit punggung Angga.

Dia terdiam. Tapi kurasakan punggungnya naik dan turun perlahan seiring nafasnya.

“Asal kamu mau bersama saya, Kita pikirkan caranya…”  gumamku.

Angga membalik tubuhnya dan merangkul leherku. Dia mencium bibirku cukup lama. Kemudian dia berkata.

“Kita di atas jalan yang rusak, mas. Walaupun ada di mobil yang sama, perhatian kita akan selalu teralihkan dengan guncangan…”

Angga lalu mengusap dadaku dan lenganku sambil bergumam kembali. “Hmmm… badan yang bakalan bikin aku kangen…”

Aku mencium pipi Angga. Bersiap untuk melakukan penyatuan kembali dengannya. Kali ini dengan lembut.

“Pelan ya, mas..” pinta Angga.

Aku menyanggupi. Kuambil tube pelumas dari laci sebelah ranjangku dan menggunakan isinya untuk tidak lebih menyakiti Angga.

Walau sudah kucoba sepelan mungkin melakukan penetrasi, Angga masih berjengit sedikit. Aku merasa bersalah telah menyakitinya barusan. Angga mengangkat kakinya dan melingkarkannya pada pinggangku. Dia mengeluarkan suara nafas yang berat ketika mengangkat badannya membimbingku dalam penyatuan tubuh kami. Kulihat dia menggigit bibir. Entah nyeri, entah menikmati. Aku tidak tahu.

“Nghh..” erang Angga sambil mengangkat lehernya mencoba mengikuti irama pinggulku yang perlahan bergerak yang membuat penisku menjelajahi kedalaman pantatnya. Angga tampak kepayahan namun gerakannya mengisyaratkan bahwa dirinya menginginkanku. Lidahnya sesekali menjilati dan mengulum putingku sambil mendesah-desah.

Aku melenguh. Pinggulku terus memompa pantat Angga. Nafas Angga terdengar semakin berat. Berkali-kali dirinya meneguk ludah sambil memejamkan mata. Bahunya terguncang-guncang sambil berusaha merapatkan tubuhnya pada tubuhku. Sesekali dia menggumam panjang, melenguh dan menarik rambutku sambil mencium bibirku. Tubuhku mulai berkeringat. Lukaku terasa berdenyut-denyut karena gerakan badanku membuat balutan lukanya melonggar.

“Akhh…” aku memekik ketika sampai puncak. Angga tak lama mendesah panjang. Kurasakan semburan cairan panasnya di antara perutku dan perutnya. Kujatuhkan tubuhku di atas tubuh Angga yang kakinya masih melingkar erat pada pinggangku. Diusap-usapnya punggungku berusaha menenangkanku sambil mengecup pipiku berkali-kali.

“Mas…” ucap Angga.

“Hmm?” jawabku sambil meletakkan daguku pada bahunya dan mencium lehernya lembut.

“Kalau suatu saat ketemu aku, jangan ragu buat nyapa ya… siapa tahu mas sudah enggak marah lagi sama aku…”

Aku terdiam.

“Mas Dion lelaki hebat… Aku minta mas juga bisa jadi suami dan ayah yang hebat…” lanjut Angga.

“Terlambat. Mereka sudah pergi.” ujarku.

“Sssh… masih bisa diperbaiki mas.. berusahalah. ya?” pinta Angga.

Aku memeluk Angga erat sekali. Selanjutnya aku tertidur. Luka di tanganku membuatku demam dan sangat letih. Saat aku terbangun, Angga sudah tak ada di kamarku.

***

Sejak saat itu aku tak bisa lagi menghubungi Angga. Semua nomor ponsel dan kontaknya tak lagi aktif. Pernah aku mendatangi tempat kosnya dan pemiliknya mengatakan baik Angga maupun Fadli sudah tak lagi tinggal di situ. Bagaimana dengan keadaan keluargaku? Tony rupanya membantu meyakinkan istriku bahwa gara-gara dirinyalah aku disangka berselingkuh oleh istriku. Terlebih kondisiku saat itu yang terluka dan aku terpaksa mengatakan bahwa aku diserang perampok, membuat kemarahan istriku melunak.

Aku tak lagi mencari-cari kenikmatan di luar bersama lelaki asing. Tony memastikan dirinya akan selalu mengingatkanku untuk tetap setia pada keluargaku, walau.. dirinya selalu bilang bahwa bersedia melayaniku kapanpun bila aku suatu saat menginginkan percintaan dengan lelaki.

Setahuh telah berlalu. Aku, istri dan anakku sedang berbelanja di sebuah supermarket. Aku yang malas berkeliling, berdiam di suatu tempat dengan kereta belanja besar di tanganku sambil memainkan ponsel.

“Pah.. papah! aku ke tempat mama, ya!” ujar anakku sambil melompat-lompat riang.

“Ya. Jangan sampai ke sasar..” kataku.

“Enggak kok, pah.. tuh.. Mama di sana!” ucapnya lagi sambil menunjuk ke bagian minuman ringan.

Aku tersenyum melihat anakku berlari menyusul mamanya.

Saat aku melihat sekeliling, pandanganku terpaku pada seseorang. Kudorong keretaku mendekati orang itu yang sedang melihat-lihat kopi instan sambil menenteng keranjang belanja.

“Sibuk belanja, nih?” sapaku.

Orang itu melihatku lalu tersenyum. “Iya nih. Sendirian, mas?”

“Enggak. Sama istri dan anak. Tuh, mereka di sana.” jawabku sambil menunjuk ke arah mereka.

“Wah. Seneng ya?” ujarnya sambil berseri.

“Oh, iya.. Saya Dion. Kamu..?” tanyaku sambil mengulurkan tangan.

Dia membalas uluran tanganku dan menjabatnya. “Angga,” ujarnya sambil tersenyum.

-THE END-

Advertisements
Comments
  1. Lorenzo Alfredo says:

    Yahhhh….kok endingnya cuman gitu doank sih bang remy,kurang klimaks endingya

  2. ari says:

    cool,,, the best ending ever,,,, i love this story,,

  3. Ray says:

    Aaaaaaakkkk… Welcum back, Bang Remy :kiss
    Masih sibuk kagak nih? Makasih dah nyempetin buat posting. Akhirnya cerita yang ini tamat juga. Endingnya cakep, tapi kayaknya agak antiklimaks deh. Mas Dion-nya kurang menderita tuh. Harusnya dia di-bdsm dan di gangbang dulu ama Fadli, Angga dan Tony #oops 😀

    Ditunggu kelanjutan cerita Ocid dan Aim ya bang! Semangat ya abang cakep 😀

  4. reza says:

    endingnya terlalu terburu-buru. kayaknya konsentrasi penulis sedang terbagi. antara bang rosyid dan a husband. saya setiap kamis cek blog ini biasanya ada satu cerita baru dari bang rosyid, tapi udah dua minggu ini gak ada, dan malam ini saya iseng buka blog ini, ada cerita ini, dan saya cukup menikmati cerita ini, karena ini juga cerita fav saya. tapi saya merasa cerita ini jika dibuat end terlalu cepat, dan sangat terburu-buru. sehingga membuat ceritanya terasa gantung.
    semoga komentar saya menjadi motivasi, dan penukis gak benci sama saya gara-gara komentar seperti ini. salam.

    • Betul. Awalnya cerita ini mau dibikin belasan episode tapi saya memutuskan untuk di cut off saja supaya bisa move on ke cerita lain. Thanks ya masukannya, thanks juga udah mampir di blog ini. :3

  5. arif says:

    wkwkwk.. kebiasaan deh bang Rem.
    diperbaiki lagi ya skill (atau mood?) bikin endingnya..
    *wink*

    tapi ini endingnya lucuk sih. cuma terlalu singkat aja.

    pertemuan di supermarketnya aku mbayangin mimik mereka tersipu2 njijiki gitu. lol.

  6. arif says:

    ..dan aku akan merindukan young hot daddy yg jadi model cover cerita ini.

  7. andi says:

    bang remy pasti lagi ngemikirin mas iqbal tuh,,, jd endingnya kaya gitu ,,,, kurang bagus sih menurut aku

  8. andre says:

    Bang remi ending nya gantung nih… knp gak di panjangin aja episodenya kan keren hehee….

  9. setidaknya ada kelanjutannya.

  10. Jeromeh says:

    Ending2 model kayak gini biasanya ada bagus ada enggaknya, kalo enggak bagusnya krn kecepetan cut off nya, tp cukup berpesan moral ah, aku nangkepnya meski gay kalo ud punya keluarga tetep harua bertanggung jawab. kalo bagusnya sih biasanya ga menutup kemungkinan mau dibuat sequel.. minimal sekuel mini seri ato cerpen yg masih berhubungan. Ato cerita lain yg nyerempet dua karakter ini.. hehe..

  11. taufik says:

    Bang remi endingnya kurang dpt Bang,, Apa ada seri ke-2 nya Bang ?? Ya cerita tentang dy dgn Tony atau dy balikan lagi sma Angga gitu ?? Di tunggu seri 2 nya yaa Bang Remi

  12. Sakura says:

    Banyak yang ngga suka endingnya ya, tapi aku suka. Menurutku ngga ada yang salah ataupun ngecewain dari ending ini. Ceritanya ngena, kejutannya dapet. Kalau diperpanjang nanti malah jadi bertele-tele.

    Salam dari Fujoshi jatim bang Remy. Terus berkarya.

  13. abep says:

    .uda hmpir staun baru buka lg blog ini skrng .tdinya kcewa sh ,a husban blum d sambung2 eps ny cuma smpe 6 .
    .tpi ya sukur deh klo uda ada lanjutn ny .dan tamat .jdi ga pnasaran lg crita ini .
    .thanks bang remy

  14. koko says:

    Ending nya kaya org amnesia pura pura lupa.. Eps. 7 kurang meyakinkan.. Dalam keadaan yg kritis masi sempat aja ML.. Wkwkw

    Tapi ceritanya lumayan lah..
    Tapi ceritanya. Ter lalu mudah di tebak.. Coba di buat lebih susah lagi dgn alur yg simple tapi ngk bisa di tebak sebelumnya.
    Dari cerita ini kebanyakan terlalu menonjol di org pertama tunggal sedangkan yg lainya hanya sebagai pelengkap saja..

    Tapi good job lah .. Ceritanya.. Wkwk semangat yah..

  15. khasan says:

    Bagus banget. Aku baru tau ada cerita kya gini loh. Byasanya aku tahunya cerita kya gini tuh seks doang. Kata-katanya kasar2 & gak nyastrawi bgt. Sekarang aku malah rasanya pengin trima aja hidup jadi orang sehat. Bacanya kisah2 kya gini rasanya udah cukup bagiku. & udah ilang berahinya. Thanks bang remi.

  16. Surya says:

    Ih. Keren.. hmn nasib angga?
    Pindah aja ke usa. Nikah di sana

  17. jeje says:

    yaah masih penasaran nih sama kelanjutan mas dion sama angga 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s