Archive for October, 2014

Rosyid-ori-9(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Setelah mengetahui istri Rosyid hamil, yang ternyata bukan anaknya, Karim memilih ikut ibu kandungnya ke kota meninggalkan Rosyid. Masalah kembali muncul saat ayah tiri Karim yang  berusaha mendekatinya. Rosyid kemudian menyusul Karim dan keduanya hendak kembali ke Desa. Sayangnya, Rosyid tidak muncul di tempat yang telah dijanjikan.

AKU masih melirik ke atas meja tamu di ruang kerja Pak Arman dan bertanya-tanya mengapa topi berladang milik Bang Rosyid bisa ada di situ. Aku tidak tahu harus bereaksi apa. Sepertinya Pak Arman memang sengaja memancing reaksiku dengan meletakkan benda itu di atas meja.

“Kenapa? Kamu belum jawab pertanyaan saya. Kamu mau ke mana?” Tanya Pak Arman.

Aku mengangkat wajahku berusaha tegar menantangnya. “Karim mau pergi dari rumah ini sama orang yang punya topi itu,” kataku sambil menunjuk topi Bang Rosyid.

Pak Arman menghentikan kegiatannya memeriksa dokumen dan perlahan menutup map yang berada di depannya. Dia lalu bangkit dari kursinya dan tiba-tiba menggebrak meja.

Aku terlonjak karena terkejut dan takut. Pak Arman lalu menghampiriku dan menarik kausku.

“Kalian berdua berani ngentot di rumah saya, hah?” geramnya.

Aku mengetatkan gigiku sambil gemetar. Akan tetapi mataku tetap menantang tatapan mata Pak Arman dengan berani.

“Masuk ke kamar kamu!” perintah Pak Arman.

Aku tidak menggubris perintah Pak Arman dan bertanya balik, “Di mana Bang Rosyid?”

“Kalau kamu masih mau lihat dia hidup, turuti perintah saya. Masuk kamar!” kata Pak Arman.

Aku tak punya pilihan lain selain menurutinya. Saat aku melewati sebuah lorong dan melihat ada troli dorong berisi piring bekas makan, aku mendekati troli itu dan mengambil sebuah pisau dari atasnya.

*** (more…)

Advertisements

IMG_4995.JPG-Abang Remy Linguini-

Cerita sebelumnya: Bastian dan Steve adalah ayah dan anak yang menjalani hubungan percintaan terlarang. Kisah selengkapnya, silakan lihat seri LOVE MY DAD (1-8).

SEJAK Papa berjanji sama gue bahwa dia tidak akan mencari pria lain untuk berhubungan selain sama gue, anaknya, gue semakin tenang. Tapi kadang ada sedikit rasa khawatir. Toh, dulu Papa tergoda sama Nico, teman baik gue sendiri di sekolah dan diam-diam menggilir kami berdua. Huh! Memang sih, siapa yang enggak akan tergoda sama Papa? pria mapan, masih gagah dan kekar di usianya yang terbilang tak lagi muda, pastilah banyak pria yang mengantri untuk menyerahkan tubuhnya. Walau di tempat kerjanya (pusat kebugaran) banyak pria gay yang mengincar papa, sampai saat ini papa masih bisa meyakinkan gue kalau dia sama sekali tidak tergoda.

Ada teman papa yang bernama Rendi. Dia seusia sama papa, yah, sekitar dua tahun lebih muda. Sudah berkeluarga dan tampaknya papa dan Om Rendi (gue manggil dia begitu), sangat akrab. Gue pernah nyindir papa apakah ada sesuatu yang lebih ‘intim’ di antara mereka? tapi papa bilang mereka hanya berteman. Kebetulan Om Rendi punya hobi yang sama dengan papa. Perkenalan mereka dimulai dari Om Rendi yang meminta Papa menjadi Personal Trainernya (PT). Memang, papa sekarang ini tidak lagi turun langsung sebagai PT, tapi untuk kenalan dekat dan harga yang super selangit, Papa kadang bersedia. (more…)

Rosyid-ori-8(Terinspirasi film pinoy bertema gay Walang Kawala)

Cerita sebelumnya: Rosyid yang tinggal sendiri setelah istrinya pergi menjadi TKI diam-diam disukai oleh Karim tetangganya yang baru duduk di kelas tiga SMA. Karim akhirnya bisa mendekati Rosyid. Setelah mengetahui istri Rosyid hamil, yang ternyata bukan anaknya, Karim memilih ikut ibu kandungnya ke kota meninggalkan Rosyid. Masalah kembali muncul saat ayah tiri Karim yang  berusaha mendekatinya.

AKU tak perlu menunggu waktu lama untuk melabrak ibuku sendiri. Rasanya aneh bila semalam dia tidak mengetahui kelakuan suaminya yang diam-diam masuk ke dalam kamarku dan melecehkanku secara seksual.

Pagi itu, saat kami sarapan, aku mencoba beradu pandang dengan Pak Arman, ayah tiriku yang juga seorang Bupati. Anehnya, Pak Arman seolah tak terganggu dengan pandangan mataku yang yang menatapnya lekat-lekat. Setelah dia pergi, aku segera menghampiri ibuku. Rupanya dia seperti menghindariku setelah menyadari aku ingin berbicara dengannya.

“Ibu tahu kalau suami ibu berbuat enggak pantas sama anak ibu sendiri tadi malam?” tanyaku.

“Maksud kamu apa?” tanya ibu. Kedua alisnya tampak bertaut.

“Semalam Pak Arman masuk ke kamar Karim… dia..” aku menarik nafas panjang mencoba mengontrol kemarahanku dan berusaha menjelaskan apa yang terjadi semalam.

“Dia gerayangin badan Karim.. dia paksa Karim ngelayanin nafsu bejat dia..” lanjutku geram.

Anehnya, wajah ibu terlihat biasa saja. Tak ada perubahan mimik pada wajahnya mendengar sesuatu yang seharusnya sangat mengejutkan itu.

“Kalau ini cara kekakan-kanakan kamu supaya bisa kembali ke desa, percuma…” ucap ibu dingin.

“Maksud ibu, Karim ngarang cerita, gitu?” tanyaku tak percaya.

“Jelas sekali kamu belum dewasa dan berkhayal yang enggak-enggak. Pak Arman itu pria baik!” semprot Ibu.

“Memangnya Ibu enggak denger suara dari kamar Karim, hah?” tanyaku.

Ibu menghela nafas. Dia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan membalik badannya.

Aku yang tak puas, kemudian menarik lengan Ibu. Tiba-tiba ibuku memekik kesakitan. Aku heran, padahal aku tak terlalu keras memegang tangannya.

“Lho, ibu? kenapa?” tanyaku.

Kulihat ibu mengelus pergelangan tangannya yang tertutup blus lengan panjang berwarna putih. Ibuku memang hobi berpakaian tertutup sejenis blus lengan panjang sehari-hari. Dia tak menjawab. Kudekati dirinya dan kutarik lengan ibuku dan menggulung blusnya hingga siku.

Aku terkejut melihat lebam biru cukup besar pada lengannya. Terlihat seperti bekas pukulan yang sudah didiamkan beberapa lama. Aku mundur dua langkah dari ibu dan menatap matanya.

“Apa Pak Arman yang bikin ini ke ibu?” tanyaku memastikan. (more…)

1779794_401236140015994_1072261490_nCerita sebelumnya: Dion, seorang pria berkeluarga, memutuskan untuk kembali berpetualang di dunia gay. Pria demi pria ditemui untuk melampiaskan nafsu homoseksualnya yang dia pendam selama berumah tangga. Apa mau dikata, pesona seorang pria bernama Angga membuatnya kembali bermain hati. Sayangnya, permainan terlarang Dion dimanfaatkan Tony sahabatnya sendiri hingga hubungan dengan istrinya menjadi bermasalah. Saat hendak berpaling kepada Angga, Dion mendapati sebuah kejutan.

AKU tak percaya dengan apa yang kulihat saat teman Angga keluar dari kamar mandi. Dia menatapku penuh dendam. Amarah yang sama yang pernah kulihat sebelumnya. Ya! pemuda itu adalah Fadli. Pelacur pria bayaran yang kupakai pertama kali untuk memuaskan nafsuku secara berlebihan dengan menyiksanya.

“Kamu.. kalian saling kenal?” tanyaku pada Angga.

Kulihat Angga memalingkan wajahnya tak berani menatapku. Kepalanya bergerak-gerak sedikit seperti orang yang gugup.

Tak ada satupun dari kedua pemuda itu yang menjawab pertanyaanku. Aku menjadi marah.

“Bangsat kamu Ngga! jadi semua ini udah kamu rencanain, hah?” ujarku gusar. Kudorong tubuh Angga hingga dia terhuyung ke belakang.

“Elo yang Bangsat!” tiba-tiba Fadli meraung dan tinjunya melayang mengenai wajahku.

Aku tak siap terhadap serangan mendadak Fadli hingga tubuhku terjengkang ke atas ranjang. Rahangku terasa perih dan kurasakan darah menetes dari ujung bibirku.

Fadli masih penasaran. Dia kembali menyerangku dan meninju wajahku lagi di atas ranjang. Kali ini aku berhasil menahan pukulan terakhirnya dan mendorongnya hingga Fadli mundur beberapa langkah dariku. (more…)