HEART STATION (Bonus PART B – IQBAL)

Posted: August 29, 2014 in Heart Station

HS-Ori-PartBHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. πŸ˜€

Previewnya di sini:
https://binanandthecity.wordpress.com/category/heart-station/

SUKA CERITANYA DAN BERMINAT UNTUK DIKOLEKSI? PENASARAN SAMPAI AKHIR?
Novelnya sampai 10 BAB, bisa dibeli via online di nulisbuku.com
Klik http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

BONUS PART: IQBAL DAN TAHUN BARU – B

Ada yang penasaran sama Iqbal? Ini bonusnya untuk pembaca. (Tidak ada dalam novel)

Saat pagi hari tanggal tiga puluh satu, aku memutuskan tidak datang ke Plaza Semanggi melainkan ikut dengan adikku dan rombongan pacarnya pergi jalan-jalan di sekitar Tugu Kujang dengan mobil minibus carry yang sudah agak butut. Kami berangkat selepas maghrib. untunglah, jalur ke arah puncak sudah ditutup sejak jam dua siang tadi, sehingga arus kendaraan di jalan tol menuju kota Bogor masih terbilang lancar. Malam itu cukup cerah walau tetap berawan, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda akan turun hujan seperti malam sebelumnya. Daerah tugu belum terlalu ramai, oleh karena itu kami memutuskan untuk berjalan-jalan dulu di Botani Square Mall, mungkin menonton bioskop pertunjukan terakhir sehingga kita tidak menunggu terlalu lama menjelang detik-detik pergantian tahun.
Rupanya Mall tidak menyelenggarakan sebuah even menjelang tutup tahun. Malahan mereka hendak tutup lebih awal yaitu jam delapan malam. Akhirnya kami berlima langsung menonton di studio XXI dimana semua pertunjukan terakhir juga mereka batalkan.
“Huuh.. tadinya sih kita mau jalan-jalan dulu.. baru nonton film yang jam terakhir tuh!” sungut adikku saat kami semua keluar studio jam sembilan lebih lima belas menit. Masih terlalu lama menuju hitung mundur pergantian tahun, namun sisi-sisi jalan di sekitar pertigaan Tugu Kujang sudah mulai ramai dipenuhi oleh orang-orang.
“Kita kemana dulu nih?” tanya Vino, pacar adikku, kebingungan saat melihat tak ada tempat untuk sekadar duduk.
“KFC aja! dia buka 24 jam.. lagian laper nih…” usulku.
Vino dan adikku akhirnya setuju untuk makan di KFC. Sementara kedua teman Vino menolak ikut dan memilih nongkrong di dekat sebuah warung sate padang. Sebuah SMS masuk, rupanya dari Iqbal. “Rem.. lu jadi ke Tugu? kita udah ada di tugu nih..”
Lalu aku menelepon Iqbal.
“Halo? Bang… gue mau ke KFC sama adik…”
“Oke.. ntar kita susul.. kita juga berdiri deket-deket situ…” kata Iqbal di ujung sana.
“Ya udah.. ketemuan aja di sana…” pungkasku.

*******

Sebenarnya aku juga baru tahu kalau restoran cepat saji KFC yang letaknya tak jauh dari Tugu Kujang di kota Bogor itu sekarang buka 24 jam. Pelataran parkirnya malam itu disesakki motor dan orang-orang yang berniat sama: menunggu pesta kembang api saat pergantian tahun. Di dalam gerai juga suasananya tak kalah ramai. Semua kasir di buka hingga mencapai lima antrian yang mengular panjang pada masing-masing barisan. Aku kemudian memilih untuk mencari tempat duduk terlebih dahulu dan mencari meja yang letaknya agak ke dalam.
Tak lama aku melihat Iqbal dan keluarganya masuk, kepalanya menoleh mencari-cariku. Sebenarnya aku enggan dan sungkan, namun kemudian aku melambaikan tanganku memanggil mereka. Ah, kangen juga melihat Iqbal. Walau sepertinya berat badannya bertambah sekitar satu atau dua kilo, dia masih tetap tampan, apalagi rambutnya baru saja dia potong. Malam itu dia memakai jeans dan kemeja kotak-kotak biru langit yang belum pernah kulihat sebelumnya sambil menggendong Kayla. Gadis kecil itu agak malu-malu saat melihatku, rambutnya yang ikal dan dikuncir dua lebih panjang dari terakhir kulihat dan setelah aku sapa, akhirnya dia mau juga tersenyum padaku. Mbak Dini pun terlihat beda, rambutnya dia pangkas pendek di atas bahu. Sedikit berbasa-basi aku memperkenalkan adikku dan pacarnya kepada mereka.
“Apa kabar Rem? udah lama nih enggak ada beritanya? kemana aja?” sapa Mbak Dini ramah sambil menjabat tanganku.
“Enggak kemana-mana kok Mbak.. cuma lagi sibuk aja di kantor.” jawabku. “Oh iya Mbak? potongan rambut baru nih?” godaku.
“Haha.. iya Rem.. biasa.. pengalaman waktu Kayla.. kalau nanti udah hamil besar agak repot ngurus rambut! jadinya biar dipendekkin aja dari sekarang,” kata Mbak Dini tersenyum sambil membelai-belai rambutnya sendiri.
Mendengar ucapannya, aku baru menyadari Mbak Dini pun terlihat lebih gemuk dan memakai pakaian yang agak longgar.
“Oh… jadi Kayla mau punya adik nih?” ujarku riang.
Mbak Dini tersipu malu.
“Jadi programnya sukses ya?” kataku sambil melirik ke arah Iqbal. Dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain.
“Remy bisa aja…” kata Mbak Dini lagi.
“Ya udah.. kita cari meja dulu ya? biar bang Iqbal aja yang antri. kamu juga mau ngantri kan Rem?” tanya Mbak Dini.
Aku mengangguk. Lalu aku dan Iqbal segera menuju antrian tanpa berbicara sepatah katapun.

Iqbal berdiri tepat dibelakangku.
“Gimana kabar elu Rem?” tanya Iqbal pelan.
Aku menoleh dan menjawab, “Baik-baik aja.. ente sendiri?”
“Baik.. tapi kadang-kadang masih kangen ama elu.”
“Gombal!” ujarku.
Iqbal dan aku kemudian terdiam. Ya Tuhan! antrian di KFC panjang sekali! bisa-bisa kita mengantri sampai setengah jam lebih kalau aku bisa perkirakan.
“Maksud ente apaan sih, ngajak-ngajak ketemuan pas malem tahun baruan gini?” tanyaku sambil bergerak maju perlahan.
“Ya enggak kenapa-napa.. pengen ketemu aja…”
“Udah lah bang… kayaknya kita lebih baik enggak ketemuan aja. itu yang terbaik!”
“Dari mana elu tahu kalau itu yang terbaik?”
Aku menoleh dan memandangnya kesal. “Dan ente rela mengorbankan sebuah keluarga bahagia? kadang gue ngerasa kalau gue tuh cuma ente anggap sebagai variasi aja,” ujarku sepelan mungkin walau aku yakin suara gumaman di kanan-kiri kami bisa menutupi pembicaraan kami.
“Tapi variasi yang asik kan Rem?” tanya Iqbal bercanda sambil nyengir.
“Ck!” aku mendecak kesal dan kembali memandang ke depan.
“Kapan masuk kerja Rem?” tanyanya setelah beberapa lama terdiam.
“Tanggal lima…”
“Masih suka berangkat jam tujuh lima belas?”
“Udah enggak kok, gue berangkat jam tujuh kurang sepuluh… cuma emang gue sengaja enggak mau satu gerbong ama ente…”
“Kok gue gak pernah lihat?” tanya Iqbal.
“Gue kan ahli menyelinap…” kataku sambil tersenyum.
“Kalau begitu tanggal lima nanti kita bareng lagi ya?”
“Ih! siapa yang mau?” tanyaku.
Iqbal kembali terdiam.
“Rambut elu kenapa Rem?” tanya Iqbal tiba-tiba, di luar topik.
“Salah potong! kependekan! jangan ngalihin pembicaraan deh,” ujarku sambil tanpa sadar mengusap kepalaku sendiri.
Iqbal tertawa.
Setelah kami ke meja masing-masing, mau tak mau aku menjadi berpikir. Memandang Iqbal dan keluarganya di meja pojok sana membuat otakku mengajukan pertanyaan: pantaskah aku masuk di tengah kebahagiaan mereka? melihat satu keluarga bahagia yang utuh dan aku seolah membayangkan bahwa seperti fillet, akulah duri yang seharusnya disingkirkan. Menyadari aku memerhatikan keluarganya cukup lama, Iqbal menoleh dan memberikan senyuman padaku. Aku tidak membalas senyumannya dan buru-buru mengalihkan perhatian dengan meminum seven up-ku.

“Siapa sih A? kenal di mana?” tanya Windy, adikku.
“Hah? oh.. kenal di kereta…” jawabku malas-malasan dan adikku tidak lagi melanjutkan pertanyaan.

******

Semakin mendekati detik pergantian tahun, maka sekeliling Tugu Kujang makin dijejali manusia. Malam tahun baru yang indah karena tidak ada tanda-tanda akan turun hujan seperti tahun kemarin rupanya membuat orang-orang berinisiatif untuk keluar rumah malam itu. Jalanan di depan gerai KFC sudah mulai padat oleh kendaraan yang berusaha melewati pertigaan Tugu Kujang tersebut. Begitu juga di halaman parkirnya, hampir-hampir tak menyisakan tempat untuk sekadar duduk.
“Kita mau nongkrong di mana nih?” tanya Vino sepertinya putus asa melihat keramaian di sekitar Tugu Kujang.
“Ke arah sana aja. depan kampus IPB, minimal ada lapangan rumput samping trotoar buat duduk.” usul adikku.
Aku yang tidak bisa memberikan ide yang lebih baik, menuruti kemauan adikku.
“Rem!” panggil seseorang menghentikan langkahku. Rupanya Iqbal yang memanggilku.
“Ya?” tanyaku sambil berbalik.
“Ung.. kita pulang dulu ya? kayaknya Kayla enggak kuat nunggu sampai jam duabelas. Dia udah mulai rewel tuh!” katanya sambil menunjuk pada Mbak Dini yang sedang berusaha menenangkan Kayla yang sedang digendongnya.
Aku memberikan jawaban hanya dengan mengangguk. Iqbal sepertinya hendak mengatakan sesuatu namun mengurungkan niatnya lalu segera berbalik menuju istri dan anaknya.

******

Suasana di luar pelataran kampus IPB rupanya tak kalah ramai. Sudah jam setengah sebelas malam dan orang-orang sudah memenuhi lahan berumput antara trotoar dan jalan raya. Aku, adikku dan Vino memilih duduk di salah satu sudut tak jauh dari terowongan penyebrangan dan melihat ke arah Tugu Kujang. Rupanya banyak orang di sekeliling Tugu sedang mempersiapkan entah apapun pertunjukan saat pergantian tahun tiba.
“A… gout mau nanya sesuatu…” tanya Windy tiba-tiba. Suaranya hampir-hampir tenggelam oleh deru kendaraan dan bunyi terompet.
“Nanya apaan?”
“Mm… A’a mau minta pelangkah apa nanti?” tanya Windy sambil tersenyum.
“Pelangkah?” tanyaku tak mengerti.
Windy kemudian tersenyum penuh arti dan merangkul lengan Vino. “Kita sebenernya udah bilang duluan sama Mama Papa, tapi Windy minta supaya A’a enggak dikasih tahu dulu… biar Windy yang bilang sama A’a kalau kita…. ada rencana nikah bulan April nanti…”
“Beneran?” Tanyaku tak percaya. Adikku hanya mengangguk dan Vino tersenyum.
Lalu aku memeluk adikku dan mengucapkan selamat padanya. Ah! air mata tidak bisa kutahan, jadinya kami berdua sedikit terisak-isak.
“Sori ya A? udah ngeduluin..”
“Apaan sih? enggak apa-apa lagi! perasaan dulu go-ut dah pernah bilang, silakan aja kalau mau nikah duluan.” ujarku sambil mengusap kelopak mataku.
“Makasih ya A?” kata adikku lagi. Aku mengangguk.
Entah karena paru-paru ini sudah dipenuhi polusi dari kendaraan bermotor mengingat kita berdiam tepat di tepi jalan, ataukah semua kejadian malam ini yang begitu tiba-tiba akhirnya membuatku merasa kurang enak badan dan sesak nafas. Aku merasa harus pulang dan pergi dari keramaian. Begitulah yang ada dalam pikiranku saat itu. Aku seperti teringat ketika masih kecil, aku sangat menyukai nasi kepal buatan nenekku yang dia buat dari nasi yang baru matang kemudian diberi sedikit garam… nikmat sekali! tapi kenikmatan itu akan membuatku sesak nafas ketika aku terburu-buru memakannya. Nah! seperti itulah perasaan yang aku rasakan saat itu.
“Win… Vin? Go-ut pulang dulu ya?” ujarku pada mereka.
“Loh? kenapa A? enggak enak badan?” tanya Windy khawatir.
“Enggak tahu nih, tapi kayaknya pengen pulang aja.”
“Naik apa A? tanggung.. pulang bareng kita aja!”
Aku menggeleng, dan sambil tersenyum aku menjawab, “Naik bus aja.. udah ya? go-ut pulang duluan..” aku berkata demikian sambil beranjak diiringi tatapan heran Vino dan adikku.
Setengah berlari aku segera menyeberang jalan dan menuju sebuah bus tiga perempat jurusan Bogor-Pasar Minggu. Pikiranku entah mengapa sangat kalut dan dengan segera aku mencari tempat duduk di pojokan. Sebenarnya aku merasa sangat tidak enak pergi begitu saja, mungkin ini akan membuat adikku bertanya-tanya. Benar saja, ketika Bus sudah melewati Warung Jambu, adikku menelepon.
“A… A’a marah ya sama Windy?” tanyanya.
Aku bingung harus menjawab apa karena sesungguhnya aku tidak marah pada adikku kalau ini hanya masalah siapa yang menikah terlebih dahulu.
“Enggak… enggak… go-ut cuma enggak enak badan aja…” jawabku mencoba meyakinkan adikku kalau aku baik-baik saja.
Ketika aku memutuskan percakapan dengan adikku, kembali aku berpikir. Menikah… setelah kakak perempuanku menikah lima tahun lalu, aku pernah bilang pada adikku kalau dia boleh menyusulku menikah terlebih dahulu kapan saja. Tidak pernah terpikirkan olehku bahwa di hari itu tiba, aku bisa sangat terpengaruh. Siapa yang tak ingin menikah? kalau saja aku bisa menjalani kehidupan ‘normal’ tentu aku akan senang hati menikah terlebih dahulu dibandingkan adikku. Tapi kenyataan tak demikian. Aku berpikir, setelah kedua saudariku menikah, berarti tinggallah aku sendiri. Sendirian yang ditanya-tanya kapan akan segera melepas masa lajang… kapan akan berkeluarga… walau orangtuaku sendiri tidak pernah secara tegas memaksaku untuk cepat-cepat menikah, terlebih lagi karena mereka kini memiliki standar baru kapan seorang cowok menikah sejak mereka mengetahui bahwa Vino pun belum menikah di usianya yang ke tiga puluh satu.
“Jangan terburu-buru Rem, Mama tahu kayaknya kamu belum dewasa… liat aja Vino, dia juga baru siap umur tiga puluh satu… cari aja perempuan yang mau nerima kamu apa adanya…” begitu kata Mama suatu hari.

*****

Aku tiba di rumah orangtuaku dengan perasaan galau satu jam kemudian. Saat aku berada di angkot aku mendengar bunyi-bunyi petasan dan kembang api disulut pertanda awal tahun baru telah tiba. entah apa yang terjadi di Tugu Kujang, aku sendiri tidak tahu. Rupanya keluargaku termasuk kakak perempuanku belum tidur dan masih menonton acara di televisi.
“Loh.. kok pulang duluan?” tanya Mama.
Aku mengangguk dengan wajah muram.
“Enggak enak badan Ma, Remy mau tidur aja.” sahutku sambil berjalan menuju kamar.
Di dalam kamar aku tidak bisa tidur. Aku mendengar adikku datang sekitar jam tiga pagi. Dia berbicara dengan Mama tentang sesuatu yang tidak bisa aku dengar dengan jelas. Saat itu aku merasa kalau aku harus berbicara dengan Iqbal. Oleh karena itu aku menghubungi nomor ponselnya. Aku tidak mau mengambil resiko mengirimkan Iqbal SMS. Bagaimana kalau dia meninggalkan ponselnya itu di rumah dan Mbak Dini membacanya? setidaknya kalau dia melihat panggilan tak terjawab dariku, Mbak Dini tidak akan terlalu curiga.
Setengah jam kemudian Iqbal meneleponku. Dari suara di latar belakangnya tampaknya dia masih berkumpul dengan tetangganya pada acara bakar ayam dan jagung seperti yang dia bilang.
“Sori Rem, handphone gue tadi ditinggal. barusan Dini antar kemari pas dia lihat ada misscall dari elu. Ada apa Rem?”
Aku menarik nafas. “Bang… gue pengen ngomong… berdua.. langsung.”
“Boleh.. kapan?” tanya Iqbal.
“Nanti gue susul ke rumah ente ya? mm.. jam enam? acaranya dekat pos ronda dekat pangkalan ojek kan?” tebakku.
“Iya.. nanti gue temuin elu di sana…”
“Thanks..” kataku.
“Ya…” tutup Iqbal.

*****

Jam setengah enam, aku membangunkan adikku untuk meminjam sepeda motornya yang tadinya adalah motor milikku, namun aku melepasnya untuk adikku saat aku menyerah karena tak bisa merawatnya hingga motor itu akhirnya rusak.
Setengah jam kemudian aku tiba di tempat acara malam tahun baruan Iqbal dan tetangganya diadakan: di pos ronda tak jauh dari pangkalan ojek. Jam enam pagi dan suasana masih sepi. Masih ada sisa-sisa kegiatan barbeque di situ. Beberapa bongkah arang tak terpakai teronggok tak jauh dari panggangan besi yang sudah sangat gosong terbakar. Kemudian aku duduk di sebuah bangku panjang dalam pos ronda sambil melihat arloji. Sudah jam enam lewat lima menit dan aku masih menunggu Iqbal datang.
Tak lama Iqbal pun datang. Dia masih mengenakan T-shirt putih dan celana pendek selutut berwarna krem dan datang dengan memakai sandal jepit. Matanya seperti sangat mengantuk saat aku bisa melihat dengan jelas ketika Iqbal sudah sampai di pos ronda itu. Tadinya aku pikir Iqbal akan langsung duduk di sebelahku saat datang, tetapi rupanya dia malah berjongkok di dekat sisa-sisa pembakaran dan mencari-cari sesuatu. “Udah dari tadi Rem?” tanyanya tanpa menatapku melainkan mengambil sebuah kotak pemanggang seperti yang biasa digunakan oleh tukang sate hanya saja ukurannya lebih kecil.
“Enggak, baru sampe,” jawabku agak kesal karena berharap bisa segera mengutarakan maksudku ingin mengobrol dengannya kalau saja Iqbal duduk lebih dekat.
Kemudian dahinya berkerut sambil memandangi kotak pemanggang yang sudah sangat berjelaga itu, lalu dia melemparnya tepat ke tumpukan sampah sambil bergumam “sudah enggak bisa dipakai lagi.” lalu dia kembali mencari sesuatu dan menemukan sebuah pisau dapur. Kondisinya tak separah kotak pemanggang tadi, dengan tangannya dia berusaha membersihkan bagian pisau yang tertutup jelaga lalu berdiri.
“Pisau dapur di rumah… ketinggalan…” ujarnya menjelaskan. Kemudian Iqbal meletakkan Pisau itu di atas tembok pos ronda dan duduk di sebelahku.
“Kalau ini soal gimana elu mau negasin lagi enggak mau ketemu sama gue, kayaknya gue susah percaya… buktinya elu datang juga ke sini,” sindir Iqbal.
Aku menggeleng lalu berkata, “Bukan… ini soal adik gue. Semalam dia bilang dia mau nikah.”
Iqbal terdiam.
Aku kemudian menarik nafas panjang dan melanjutkan, “Ente tahu kan, kalau gue pernah bilang pengen nikah? gue juga pernah bilang kalau gue iri pengen punya hidup berkeluarga kayak ente?”
Iqbal tidak menjawab.
“Gue ngerasa… semakin gue deket sama ente, semakin jauh juga harapan gue buat menikah dan berkeluarga… gue takut gue terhanyut sama perasaan gue sendiri.”
“Jadi kesimpulannya, gue itu cuma penghambat usaha elu buat menikah, gitu?”
Aku menggeleng, “Bukan cuma ente.. tapi selama gue masih memilih jalan ini, gambaran gue menikah dan berkeluarga di masa depan masih kelihatan blur. Tapi…” aku tidak menyelesaikan kalimatku.
“Tapi kenapa Rem?”
“Tapi…gue juga ngerasa lebih sakit kalau harus jauh dari ente,” ujarku sambil menunduk.
Iqbal menarik nafas kemudian menepuk-nepuk bahuku. Sebenarnya rangkulan dari dia yang kuharapkan, namun akan sangat terlihat janggal oleh orang-orang yang mungkin melihat kami berdua di sini.
“Tau enggak Rem, sebenernya apapun yang elu mau, maksud gue, bentuk hubungan apapun yang elu mau antara kita, gue sih nurut aja.”
Aku diam.
“Bahkan kalau seandainya hubungan kita enggak melibatkan… um.. seks, gue masih mau berteman sama elu. tapi elu selalu aja punya alasan buat ngejauhin gue! kalau dibilang takut, gue juga takut! sama kayak elu! takut sama perasaan gue sendiri, tapi setidaknya kalau gue sama elu, gue lega… karena kita bisa takut sama-sama!”
“Gue enggak punya bayangan ke depannya gimana, tapi walau nanti suatu saat salah satu dari kita sudah enggak ada rasa lagi, gue pengen persahabatan kita masih ada sampai kapan juga. Tapi sampai saat itu tiba, kenapa enggak kita lewatin sama-sama?” tanya Iqbal.
Aku tidak sepenuhnya setuju dengan perkataan Iqbal. Orang yang sudah memiliki kehidupan keluarga yang stabil, pasti akan dengan mudah berkata seperti itu, seolah-olah dia beranggapan, apapun yang terjadi di luar sana, dia selalu bisa kembali pulang ke sangkarnya yang nyaman. Tapi kalau memang harus begitu dan aku bisa selalu bersama dengan Iqbal, bukankan resiko dan pengorbanan yang aku ambil menjadi sepadan?
“Tawarannya masih berlaku?” tanyaku pelan.
“Tawaran yang mana?”
“Berangkat bareng pas masuk kerja.”
Iqbal tersenyum, “Masih… asal elu enggak menghilang dan jadi ahli menyelinap lagi…” katanya.
Aku tertawa kecil.
“Oh iya, Rem?”
“Kenapa Bang?”
“Selamat Tahun Baru ya?” ujarnya.
“Sama-sama… selamat tahun baru juga…” balasku sambil tersenyum.

Advertisements
Comments
  1. sandi says:

    bikin terharu 😦

  2. Ray says:

    Aaaaaakkkkk melting, ceritanya bikin terharu ;’)

    Kedekatan emosional yang sangat indah
    Semoga semua yang terbaik buat Iqbal dan Remy πŸ™‚

  3. andra wijaya says:

    emng sejak kpan remy mnggil iqbal bang??

    ap cmn selingan panggilan aj…???

  4. Galih says:

    “Bang Rosyid ditinggal Istri” ngak diposting ya bang ??

  5. Sparkyu says:

    Hadooo…..hhh bang Remy mah plin plan. Seenggakny jauhin Iqbal dulu kek buat ngetes seberapa bsar cintany ma bang Remy. Klo ginikn kesanny bang Remy yang klihatan bgt cintany ma Iqbal.

  6. raka says:

    Baru beres baca cerita Heart Station dari 1 sampai “yang ini”. Ebuseeet ceritaaanyaaa bang !! ceritanyaaaaaa.haha. ini kisahnyata atau ? Heran deh gw selalu suka sama semuaaa cerita karangan bang remy hehe. salut deh..Tapi Sialan juga sih nih, yang namanya Bang remy..Keq ganja, garain gw “fly” men πŸ˜€ pan gw jadi kecanduan ginih .. Haduuh. eh eh kenalan dong bang. ceritanya pan gue penggemar abang niiih πŸ˜€

  7. altidi says:

    kapan buku gue dateng rem? dah gak SABAR nih.. hahahahaaa..

  8. ardi says:

    Wajib beli novelnya…WAJIIIBBB

    #berfikir keras mau ngumpetin dimana biar ga ktauan ama si emak

  9. D says:

    ga mau bikin adegan seksnya abang ama iqbal kah? hehehe

  10. yashin says:

    hummm si Remi ini kan udah dewasa tp labil ya,trus jg pemikirannya jg gak sdewasa pemikiran nya,,semua orang akan sepaham apapun itu bila ingin merubah sebuah situasi dan pemikiran maka kita harus meninggalkan kondisi atau sesuatu yg lama dan ingin kita tinggal itu..nah ini berharap hidup normal bekeluarga tp masih ngarap ketemu tiap hari ama iqbal org yg slalu buat dia galau..aneh kliatan nih si Remi ABG tua..
    mana Si Iqbal jg pake ngegombal..iqbal itu mnurutku bkn sahabat yg baik klu dia slalu mengumbar perasaan yg slalu buat Remi galau..

  11. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 Dufei Komentator Ecek2 says:

    nuhun. Dah ketemu part 1-3…

  12. kenjiro says:

    Akhirnya Remy ngomong juga. Suka bgt sm endingnya

    πŸ˜€

  13. arda says:

    Suka nih novel….

  14. reinaldy says:

    lanjutannya mana??? 6,7,8 dan 10 penasaran gimana dengan happy endingnya.

  15. tio says:

    Mantap ceritanya. Hampir mirip kisah ane bedanya kita ketemu di kostan dan sama sama bujangan. Bersama selama 8 tahun dan memutuskan untuk masing masing menikah. Sekarang kami py keluarga dan anak dan jadi saudara yg saling mencintai. Sampai saat ini g ada yg tau kalo kami pernah bersama layaknya org pacaran.

  16. Yuzalby says:

    Ahhh terharuu
    Keren critanya

  17. kenji says:

    bagus juga kisah abang…
    abang masih bersama dengan bang iqbal?

  18. salmonella says:

    si iqbal n remy klo di kasihbgambaran artis kaya siapa dagh ????

  19. salmonella says:

    si remy n iqbal kalo dikasih gambaran artis mirip2 kaya siapa ??

  20. raka says:

    Di gramed ada ga?
    Oia kok fanpage nya ilang bang. Knp tuh bg

  21. ary says:

    Mengharukan banget ceritanya.

  22. paulraja96 says:

    Cerita nya bagus romantis gmna gtu.:)

  23. Doni says:

    Di bikin film seru kayanya

  24. Hugo says:

    Bang Remy gue baru baca mau dong novelnya kira kira masih ada ngga

  25. Hugo says:

    Bang Remmy gue baru baca cerita nya Gilak keren banget penuh emosi dan bikin greget
    Btw novelnya masih ada ngga πŸ˜–πŸ˜– gue mau beli

  26. kak Remy
    ini novelnya masih d jual ga?
    aku klik link ga ada lagi bukunya 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s