HEART STATION (Bonus Part A – IQBAL)

Posted: August 28, 2014 in Heart Station

HS-Bonus Part AHEART STATION
By: Abang Remy Linguini

Mungkin ada yang penasaran, novel Heart Station itu ceritanya apa ya? Penulis akan posting di sini, siapa tahu ada yang berminat buat beli novelnya. 😀

Previewnya di sini:
https://binanandthecity.wordpress.com/category/heart-station/

SUKA CERITANYA DAN BERMINAT UNTUK DIKOLEKSI? PENASARAN SAMPAI AKHIR?
Novelnya sampai 10 BAB, bisa dibeli via online di nulisbuku.com
Klik http://nulisbuku.com/books/view_book/1107/heart-station

BONUS PART: IQBAL DAN TAHUN BARU – A

Ada yang penasaran sama Iqbal? Ini bonusnya untuk pembaca. (Tidak ada dalam novel)

Mari aku ceritakan sedikit mengenai Iqbal dan keluarganya. Dilahirkan dengan nama M. Iqbal Ardiansyah pada tahun 1977, dia berayahkan orang Betawi dan ibu dari suku Sunda. Dibesarkan dalam keluarga yang cukup religius, Iqbal sudah terbiasa mendalami pelajaran agama sejak dia kanak-kanak, termasuk kegiatan seninya seperti Marawis yang dia ikuti saat kelas tiga Sekolah Dasar. Anak bungsu dari dua bersaudara ini dari kecil dikenal pendiam, serius, dan agak sinis. Orangtua dan kakak perempuannya yang lima tahun lebih tua pun tidak bisa berbuat apa-apa terhadap sikap Iqbal yang perkataannya terlampau lugas dan hampir tak pernah berbasa-basi kepada sanak keluarga yang lebih tua. Prestasinya di sekolah termasuk biasa saja walau tak pernah terlempar dari peringkat sepuluh besar setiap tahunnya. Tak pernah membuat masalah, tidak pernah juga memperoleh penghargaan atas prestasi di suatu bidang. Yang pasti, dia sangat menyukai sepak bola sejak kecil. Iqbal pernah bilang, dia dulu tak pernah sekalipun melewatkan setiap akhir pekannya tanpa bermain sepak bola sore hari. “Kecuali kalau hujan badai Rem!” ujarnya. Karena aktif bermain sepakbola itulah, Iqbal tumbuh sebagai pemuda yang tinggi dan atletis pada saat memasuki masa remaja. Hanya saja, kulitnya yang seharusnya putih, menjadi legam karena aktifitasnya itu.

Merasa bersalah kepada kakaknya karena hanya dialah yang melanjutkan kuliah, Iqbal makin pendiam saat di kampus. Akibat lebih banyak berpikir dan mengasah kekritisannya karena masuk ke jurusan Ilmu Politik, Iqbal mulai kecanduan rokok. Tapi kebiasaan buruknya mungkin saja diakibatkan oleh ayahnya yang perokok berat itu secara konstan terus menerus melarang Iqbal ikut merokok kecuali dia telah lulus SMA atau sudah memiliki penghasilan sendiri.

Kehidupan asmaranya juga tidak terlalu berwarna. Pernah beberapa kali berpacaran saat SMA dan kuliah, namun tak ada yang berlanjut ke jenjang pernikahan kecuali dengan Andini. Teman satu SMP yang dia temui saat reuni dua tahun sebelum mereka memutuskan untuk menikah. Walaupun bersikap sepertinya sangat cuek dan sinis, tidak begitu halnya saat dia memandang cinta. Dia cuma geleng-geleng kepala tak setuju saat aku mengungkapkan kalimat “I do believe in romance between two guys… tapi gue enggak percaya itu bisa disebut cinta”

“Cinta datang dalam berbagai aspek… kalau pemikiran kita saja udah enggak sama memandang yang kita jalanin, gue heran kenapa kita masih bersama sampai sekarang?” Kata Iqbal.

“Maksud Abang?”

“Iya! elu menganggap kalau yang terjadi sama kita cuma sekadar romansa. Romantic gestures yang bisa elu baca di novel-novel percintaan, sedangkan gue menganggapnya lain.” Jelas Iqbal.

“Yah.. maaf kalo pola pikir kita beda.” kataku.

“Gue tau masalah lu apa Rem. Elu bukannya gak sadar kalau sedang mencintai seseorang… cuma masalahnya elu agak sulit nunjukkinnya.”

Pernyataan Iqbal itu sangat menohok pikiranku. Walau mencoba menyangkal namun apa yang dia katakan itu benar. Aku tak pernah menyalahkan keluargaku. Aku bersyukur dengan apa yang telah Tuhan karuniakan padaku sejak lahir; Keluarga yang sempurna! Tapi itu kadang tidak cukup menghentikanku untuk berpikir bahwa watak dan sifatku terbentuk akibat perlakuan orangtuaku. Terutama mama.

Mama orangnya cukup keras. Saat beliau berumur empat tahun, dia dipisahkan dari orangtua kandungnya untuk diasuh oleh paman dan bibinya yang tidak dikaruniai anak. Dari sebuah kota kecil, Mama dibawa dan dibesarkan di Bandung bersama seorang famili lain yang juga diangkat anak. Bibi dari Mama cukup keras dalam pola asuhnya. Disiplin dan harus patuh pada aturan. Entahlah, kadang aku merasa bahwa mama tidak bisa mengekpresikan kasih sayang kepada anak-anaknya dengan cara membelai, mendongeng, ataupun memeluk. Seperti selalu ada tembok yang menghalangi. Aku menduga karena Mama tidak mendapatkan hal-hal semacam itu dari bibinya. Seringkali juga aku berpikir bahwa di lubuk hati Mama yang paling dalam, beliau memendam pertanyaan yang jawabannya tidak dia dapatkan sampai sekarang. Pertanyaan itu adalah, mengapa dari lima bersaudara harus dia yang dipisahkan dari keluarganya? mengapa bukan kakak atau adik perempuannya? pertanyaan itu tidak akan pernah dia lontarkan. Bahkan aku masih teringat saat nenek kandungku meninggal, mama hanya berduka tanpa meneteskan air mata. Mungkinkah ini karena ikatan ibu-anak yang harusnya kuat, ternyata memudar sejak Mama dipisahkan? aku tidak tahu pasti. Yang jelas, bagi mama, melaksanakan tugas sebagai Ibu, merawat, mengasuh kami, adalah sebuah bukti cinta. Tak perlu lagi dipertanyakan walau sebenarnya seorang anak membutuhkan lebih dari sekadar pengabdian seorang ibu dengan cara memeluk, membelai dan lain sebagainya. Itulah sebabnya pula, pola pikirkupun terbentuk. Buat aku, menyetujui bahwa aku bersama seseorang, bersedia melakukan kontak fisik seksual bersamanya adalah bukti kalau aku sayang padanya.

“Emangnya selama ini gak cukup? what kind of another romantic gestures do you need?” tanyaku pada Iqbal.

“Jangan perlakukan orang lain seperti benda.” kata Iqbal datar.

 

*****

Sepertinya seluruh karyawan di kantor sudah tidak sabar menunggu dimulainya libur panjang di akhir tahun ini. Aku sendiri sudah mulai merasakan hawa malas bekerja sejak tiga hari sebelum Hari Natal tiba. Beberapa rencana sudah muncul di kepala bagaimana caranya menghabiskan liburan panjang yang kalau dihitung-hitung mencapai sebelas hari itu. Mama sudah memintaku agar mengantarnya ke kampung halamannya di Majalengka, namun aku sendiri masih ragu ke sana, sebab biasanya liburan panjang seperti ini nenekku malah tidak berada di rumahnya melainkan berkeliling dari rumah cucu satu ke rumah cucunya yang lain.

“Yah telepon dulu lah… pastiin emak (panggilanku ke nenek) ada di rumah.” kataku saat Mama kembali memintaku mengantarnya ke Majalengka.

Aku juga sebenarnya merasa tidak enak. Sudah lebih dari satu tahun aku belum pernah pergi ke sana lagi. Bahkan saat kakekku meninggal tahun lalu, aku belum pernah berziarah ke makamnya.

Liburan Hari Natal telah tiba. Aku yang sejak awal bulan November tidak lagi ada kontak dengan Iqbal tiba-tiba mendapat SMS darinya untuk yang pertama kali.

“Ass.. liburan ke mana Rem?” tanyanya singkat. Suasana hatiku langsung berubah kesal. Bukan karena SMS dari Iqbal, tapi aku memang agak meradang kalau membaca pesan yang dikirimkan kepadaku diawali oleh kata ‘Ass’ dari siapapun. Memang maksudnya Assalamualaikum, tapi bukankah lebih indah bila kata tersebut disingkat menjadi lebih bermakna seperti ‘Aslm’ atau apalah dibandingkan kata sebelumnya.

 

“Mungkin ke majalengka… BTW, tolong jangan pake Ass lagi deh kalau sms, biasanya juga gak pernah…” balasku kemudian.

“Berapa lama?”

“Gak tau juga, dua-tiga hari mungkin.”

“Tahun baru?”

Pesan teks terakhir itu tidak kubalas dengan pesan teks lagi melainkan aku langsung meneleponnya.

“Tahun baru kayaknya di rumah aja,” kataku langsung saat Iqbal mengangkat teleponnya.

“Enggak ada acara?” tanyanya lagi. Inilah pertama kali aku kembali mendengar suaranya setelah hampir dua bulan tidak bertemu.

Aku terdiam dan berpikir. Memang aku tidak pernah menganggap istimewa malam pergantian tahun, kalau bisa dihitung, hanya beberapa kali saja aku ada acara selama berkali-kali melewati malam tahun baru. Seperti misalnya saat aku masih bekerja di kantor lama, saat semua masih jomblo dan aku berusia dua puluh dua tahun, semua memutuskan membuat acara barbeque di mess kantor. Lalu tahun entah kapan giliran dirumah orangtuaku mengadakan acara barbeque. Selebihnya? bahkan aku tidak ikut menghitung mundur dan sudah tidur sejak jam sepuluh atau sebelas malam, kecuali mungkin saat aku SD dulu, ketika sebuah stasiun TV swasta pertama di Indonesia rajin menayangkan kartun Donal Bebek setiap malam pergantian tahun.

 

“Enggak tahu… mungkin pak RT ada-in acara di rumah…” jawabku pelan. Hmm.. padahal rasanya saat itu ingin sekali bilang kalau aku kangen padanya dan bukannya kalimat itu.

“Gitu ya?”

Aku tidak menanggapi pernyataan Iqbal yang terakhir. Kami terdiam beberapa saat lamanya.

“Ada lagi yang mau diomongin?” tanyaku dingin, walau dalam hati aku ingin bicara dengannya lebih lama.

“Enggak ada…”

“Ya udah… gue tutup ya?”

“Rem…?” panggil Iqbal tepat sebelum aku hendak menutup flip ponselku.

“Yah?”

“Elu benci banget sama gue ya?” tanyanya pelan.

Benci? enggak! gue tuh kangen sama ente! rasanya ingin sekali teriak seperti itu. tapi akhirnya aku meneguk ludah dan berkata, “Terserah apa yang ente rasain aja deh…” ujarku lalu memutuskan sambungan.

 

*****

 

Akhirnya memang aku membatalkan kepergianku ke Majalengka. Alasan pertama, aku yang berencana memotong rambutku ternyata diberikan potongan yang benar-benar salah sehingga potongan rambutku benar-benar sebuah malapetaka. Alasan kedua, nenekku ternyata sedang berada di rumah sepupuku di daerah Subang, dan baru berencana kembali menjelang tahun baru. Praktis liburan kali ini aku tidak kemana-mana. Paling hanya main ke mall atau ke rumah sepupu.

“A! malam tahun baru kemana?” tanya Windy adikku. Saat itu aku sedang berada di rumah orangtua sambil membaca majalah Cosmopolitan Men terbaru.

“Enggak ada acara…” jawabku sambil menggeleng tanpa melepaskan pandangan ke majalah.

“Nih, sebenernya go-ut ada undangan party grand opening skydining di plangi (Plaza Semanggi), tapi go-ut mau jalan-jalan ke Bogor sama Vino..” katanya sambil menyodorkan selembar kertas ke depan wajahku. Vino adalah pacar adikku.

“Ajak temen siapa kek… ntar go-ut yang konfirmasi.”

Aku menatap kertas itu malas-malasan. Mau ajak siapa? lagipula bukannya Jakarta akan sangat-sangat macet menjelang malam pergantian tahun? Belum lagi, motorku yang sudah kuhibahkan pada adikku itu kondisinya masih mengkhawatirkan sejak rusak beberapa bulan lalu. Mungkin jarak dekat tidak masalah, tapi sepertinya motor itu tidak bisa dibawa jauh sampai ke Jakarta dari Bogor. Uh Malas sekali kalau seandainya berkendaraan malah membuatku terjebak di tengah kemacetan.

“Hmm… ajak siapa ya? lagian khawatir ujan..” kataku tak yakin.

“Ya udah! kalo gitu ikut kita aja! temen si Vino bawa mobil tuh buat jalan-jalan di Bogor.”

“Yaaaah… lebih males lagi! berarti go-ut doang dong yang sendirian bin jomblo?! ogah ah!” tolakku.

“Yeeey… siapa bilang? temen si Vino tuh dua-duanya juga jomblo!”

“Oh.. ya udah.. gimana nanti aja deh,” ujarku.

Adikku kemudian berlalu tanpa berkata apa-apa sambil mengangkat bahu. Kemudian ponselku bergetar (akhir-akhir ini kegemaranku adalah mengaktifkan mode getar pada ponsel) rupanya SMS dari Pak RT.

“Rem! malam taun baru di sini ya? kita bakar jagung sama bakar ayam!”

Aku membalasnya dengan pesan yang tidak memberi kepastian bahwa aku bisa menghadirinya. “Iya Boz, mudah-mudahan bisa deh,” jawabku.

Lima belas menit kemudian giliran Iqbal menelepon. Segera aku mencari tempat sepi untuk menjawab panggilannya.

“Halo?”

“Rem… malam tahun baru nanti kemana?” tanyanya.

“Ck..! nanya itu melulu! emang penting banget ya, malam tahun baru tuh?” tanyaku tak sabar.

“Enggak.. kalau enggak ada acara ikutan di RT gue aja, ada barbeque.. lagian Kayla udah kangen tuh pengen ketemu elu,” ujarnya riang.

“Kayla apa bapaknya nih yang kangen?”

“Hm… dua-duanya sih…” jawabnya.

Aku merasa senyumku mengembang mendengar jawabannya, kemudian aku berhasil menguasai diri lagi dan kembali berpura-pura jutek.

“Malam tahun baru yah? hmm.. kalau enggak ke Plaza Semanggi, paling ikut adik ke Bogor… biasa… di Tugu Kujang kan biasanya rame tuh!”

“Ya udah! tahun baruan di Tugu Kujang aja! ntar kita ketemu di sana Rem… baru baliknya elu ikutan bakar-bakar sama gue di rumah.”

“Yeee.. ente pe-de banget! bisa aja gue enggak mau kemana-mana trus malah tidur… lagian gue enggak pake motor.. masih ngadat!”

“Kalau gue sih tetep mau main ke Tugu, Rem! Kayla belum pernah gue ajak ke sana…”

“Ajak aja bang! mudah-mudahan sih enggak ujan,” kataku kemudian lalu menyudahi pembicaraan.

Tawaran yang menggoda. Tapi rasanya aku belum siap bertemu dengan Iqbal dan keluarganya. Setidaknya sampai malam tahun baru nanti…

Advertisements
Comments
  1. Ardi says:

    Boleh tdak iqbalnya dpinjem…kasian djutekin terus ama bg remy…sama ak aja pasti dmanja *kibasrambut

  2. roman says:

    Bang Lingguini, gimana cara beli novelnya? Ada yg dalam bentuk pdf kan? Aku males kalo dikirim ke rumah, enakan ke email aja.

  3. mario says:

    Maaf ya bang remy, kalo boleh bilang, bang remy itu beruntung…

  4. Ray says:

    Kyaaaaaaa…….. #histeris 😀
    Part yang enih, pasti buat gw. Ya kan? Ya kan? Ya kan?
    Iqbal…… Mumumumu #plaaaak

    Ish bang Remy mah, gengsi mulu dipiara
    Piara mah kambing or sapi kek, kan bisa buat kurban, wkwkwk
    Ciyan kan bang Iqbalnya, sini biar ane peyuk duyu :*

    Thanks for the update, can’t wait for the next part 🙂

  5. Galih says:

    Ngak nyambung baca nya bang , ,jd bingung . .enakan kalau langsung di sambung cerita yg 5B . . .

  6. Sparkyu says:

    Suka bgt ma sikap bang Remy. Cuek, acuh tp btuh. Pertahankan ya bang sikapnya…

  7. budi says:

    saya udah beli novel nya.
    tapi saya penasaran…
    ini trakhir nya si remy meninggal ya…???
    ada yang tau gak…???

  8. ryuk says:

    Remy kau orang yg tabah yahh.. salut buat remy ❤

  9. Dani says:

    Kenalin dong sama bang iqbal… 🙂

  10. dhynzafar says:

    Iya asli gak si pda kenyataannya bales lah bang

  11. Andde Andde Lummut Komentator Abal2 Dufei Komentator Ecek2 says:

    nuhun. Dah ketemu part 1-3.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s